Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 August 2008

Pengucapan Syukur Yang Sejati

Ditrich Bonhoeffer, seorang pendeta Jerman telah dipenjarakan dalam tahun 1943 untuk oposisi politiknya dan sebagai seorang Kristen di jaman rezim Nazi. Hukumannya telah dilaksanakan dua tahun kemudian. Pada hari pelaksanaan hukumannya, ia memimpin sebuah kebaktian untuk orang-orang tawanan lainnya. Salah seorang dari tawanan itu, seorang opsir tentara kerajaan Inggris, menceritakan kisah ini :

“Bonhoeffer agaknya selalu menyebarkan suatu suasana kebahagiaan dan kesukacitaan akan peristiwa bahkan yang paling kecil sekalipun dan suatu rasa syukur yang dalam akan faktanya bahwa mereka masih hidup. Ia merupakan salah seorang sedikit yang pernah saya jumpai dan yang menganggap Allah itu begitu nyata dan senantiasa begitu dekat dengan dirinya.

Nah, pada hari Minggu, tanggal 8 April 1945, pendeta Bonhoeffer memimpin sebuah ibadah kecil dan ia telah berbicara kepada kami semua dengan cara yang menyentuh hati kami dengan amat mendalam. Ia dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan jiwa dari keadaan kami sebagai tawanan.

Baru saja ia menyelesaikan doanya, ketika pintu terbuka dan dua orang dalam pakaian preman masuk. Mereka mengatakan, “Tawanan Bonhoeffer, ikutilah kami!” Bagi para tawanan tidak lain, ini berarti : Tiang Penggantungan! Kami semua menyatakan selamat berpisah kepadanya. Ia memanggil aku sendiri dan berkata, “Inilah akhir dari segala-galanya, namun bagiku, inilah permulaan dari kehidupan!” Esok harinya, ia digantung sampai mati di Flossenburg.

Keluar dari penderitaan lahirlah ekspresi terbesar dari pengucapan syukur dan kiranya dalam pasca ancaman serta serangan-serangan teroris, avian-flu dan antrax, keadaan ekonomi yang masih semrawut, kecelakaan pesawat terbang, kita bahkan mempunyai lebih banyak alasan lagi untuk bersyukur dan merayakan hari ucapan syukur.

0 comments:

Post a Comment