Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 June 2008

Set Your Thoughts

Today's Scripture

“Set your minds and keep them set on what is above, the higher things, not on the things that are on earth” (Colossians 3:2).

Today's Word from Joel and Victoria

Faith is simply seeing what God sees. It’s choosing God’s way, even when things look differently in the natural. When you set your thoughts on higher things, you are looking at life through your eyes of faith and seeing what God sees. For example, you may have a financial need today, but when you look higher, you see God’s promise to supply all your needs according to His riches in glory. You may have sickness in your body today, but when you look higher, you see that Jesus paid for your sickness and diseases. You may feel lonely today, but when you look higher, you see that God has promised to never leave you nor forsake you. As you study the Word of God, you are setting your thoughts on higher things. As you set your thoughts on higher things, your faith will become stronger, and you will begin to see those things become reality in your life. You’ll see God’s hand of blessing, and you will live the abundant life He has prepared for you.

A Prayer for Today

Father in heaven, I choose to set my thoughts on higher things. I choose to focus on Your ways, knowing that You have a good plan for my life. I bless Your holy Name, today and always. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

20 June 2008

Nicholas, Jovita dan David

Mungkin gak ya ada yang ngelakuin hal seperti cerita di bawah ini .. Hm .. suatu alasan yang sederhana untuk melakukan suatu hal yang kalo di bayangin susah ..

Thx Min buat inspirasinya ..

 

Sebelumnya mohon maaf bila ada kesamaan nama.. (^_^) Mereka adalah teman-teman MK saya. Mereka masih sangat muda sekali, saat ini mereka duduk di bangku SD Kelas 6 dan SMP kelas 2. Saya sangat terinspirasi oleh semangat mereka dan kasih mereka akan Tuhan.

Seperti biasa di hari sabtu sekitar tujuh anak menunggu jemputan untuk menghadiri kebaktian youth di gereja. Kebaktian dimulai pk 17.00 WIB tapi mulai pk 15.30 mereka sudah stand by di tempat seperti biasa, yaitu di Kp. Utri. Sambil menunggu mereka bercanda dan bermain-main kecil. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, salah satu anak mulai tidak sabar menunggu. Dia mengambil Handphonenya dan mengirim SMS ke saya.

"Koh, ni jemputannya kok ga dateng2? Temen2 dah pada mau pulang nih."

Saat itu saya sedang istirahat setelah pulang dari kantor.

"Ya ditunggu bentar lagi yah.." balas saya.

Tak lama kemudian sekitar pk 16.30, dia sms lagi.

"Koh, kok lama banget.. Anak2 dah ga betah nih, pada meh pulang."

Membaca SMS itu saya langsung mengkonfirmasi ke koordinator jemputan. Ternyata ada sedikit masalah dengan bisnya sehingga jemputan agak terlambat. Segera saya langsung meneruskan ke anak-anak agar tetap menunggu karena jemputan memang terlambat karena ada sedikit masalah teknis. Namun sekitar 4 anak termasuk yang mengirim SMS tidak sabar lagi menunggu dan mereka kembali pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pk 17.00, ketiga anak yang tersisa masih bertahan menunggu. Mereka adalah Nicholas, Jovita dan David. Mereka saling memandang dan bertanya-tanya.

"Gimana nih?", salah satu anak menimpali.

"Jalan aja yuk? Dulu waktu mau pergi MK kan kita juga pernah jalan kaki."

Kemudian ada yang menjawab, "Ya wes to."

Singkatnya mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki dari Kp. Utri menuju ke Marina. Saat itu saya sudah berada di kebaktian, sambil mengikuti kebaktian saya melihat ke sekeliling, siapa tahu ada anak yang tetap bertahan menunggu jemputan dan hadir di kebaktian. "Mungkin mereka duduk agak jauh dari sini, atau mereka tidak hadir semua" gumam saya setelah saya melihat sekeliling dan tidak menemukan anak-anak.

Setelah kebaktian berakhir.. Saya bertemu dengan Nicholas, Jovita dan David. Saya dikagetkan dengan perkataan Jovita.

"Koh, Kita anterke pulang loh, tadi kita bertiga jalan kaki."

"HAAAAHHH??? Jalan kaki???", respon saya.

Mereka bertiga baru saja sampai di gereja, kira-kira pukul 18.45 berarti mereka ikut kebaktian hanya 15 menit. Singkatnya saya antar mereka bertiga ke rumahnya dengan bantuan teman saya. Tidak tega melihat mereka kecapaian saya traktir mereka makan. Diperjalanan saya terheran-heran dengan keputusan mereka untuk berjalan kaki dari kp. Utri menuju ke Marina (menurut teman kantor saya jaraknya sekitar 8 km). Wooww... I'm so amazed by them.. Kalau saya di posisi mereka, belum tentu saya akan ambil keputusan seperti mereka.

Beberapa hari setelah itu saya tanyakan ke mereka, apa yang buat mereka mau jalan kaki.

"Yah, karena pingin ke gereja aja.."

Just simple reason, for doing a radical action. Belakangan mereka juga cerita bagaimana Jovita sempat digodain sebanyak 3 kali oleh anak-anak nakal di tengah jalan, namun mereka tetap meneruskan perjalanan yang melelahkan tersebut. Kaki mereka juga sedikit lecet-lecet karena perjalanan yang cukup jauh itu. Wow.. Amazing.. sungguh tindakan yang luar biasa. Hanya untuk bertemu dengan Tuhan di gereja, mereka yang masih berumur sekitar 12 hingga 15 tahun itu mau berjalan sejauh 8 Km??? Kita yang sudah dewasa saja terkadang malas ke gereja ketika turun hujan, meski ada kendaraan. Mari kita belajar dari mereka..

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."

Sumber : Abraham's Seed

Milikilah Mimpi Besar

Waktu saya masih kecil, saya selalu ingin menjadi penyanyi terkenal nantinya. Lalu saya membayangkan menjadi presiden. Lalu saat saya berusia 21 tahun, teman saya mengajak saya dan yang lain menulis daftar 25 hal yang ingin kami lakukan dalam hidup kami. Saya telah memimpikan masa depan sejak lama. Tapi anehnya, saat sekarang "masa depan" itu di sini, saya hampir tidak bisa mengingat sebagian besar hal-hal yang saya tulis dalam daftar itu. Hmmm... saya masih ingat sebagian: membeli dan mendekor ulang sebuah rumah tua, memulai bisnis saya sendiri, dan menulis buku. Yang terakhir ini masih melekat dalam diri saya, sesuatu yang sangat ingin saya lakukan. Saya tidak yakin bahwa saya mampu menulis sebuah buku, karena saya kurang tekun dan saya juga tidak tahu darimana idenya. Apa yang harus saya tulis sepanjang 200 halaman? Tapi saya tetap menyimpan keinginan itu.

Saya pikir ada banyak orang yang membuat daftar seperti itu, berisi hal-hal seperti: tour ke Eropa, menemukan sesuatu yang berguna bagi dunia, mendaki gunung-gunung tertinggi, membuka restoran, dan sebagainya. Apa impian Anda? Apakah Anda pernah berada di suatu kelas, gereja, berjalan kaki, atau saat teduh Anda dan mendapatkan pimpinanNya untuk mengejar sesuatu? Pernahkah Anda mendapatkan suatu kesan yang mengatakan pada Anda "untuk inilah aku diciptakan"?

Impian adalah motivator yang sangat kuat. Mereka mendorong kita mengambil resiko, melewati batasan-batasan, dan untuk terus mencoba ketika kita gagal. Kegagalan bukanlah bagian kecil dalam proses meraih impian. Tapi Anda harus mengijinkannya membentuk Anda. Seperti Yusuf, seorang pemimpi yang setia dari Perjanjian Lama, saya mempunyai banyak hal yang harus saya pelajari sebelum satupun dari mimpi-mimpi saya mulai menjadi nyata:

"Dengarkan mimpi saya," kata Yusuf kepada saudara-saudaranya dan menceritakan mimpinya yang mengatakan bahwa suatu hari nanti dia akan memimpin mereka semua. Dapat ditebak, mereka tidak senang dengan mimpinya, mereka mencoba membunuhnya. Hanya dalam kesempatan yang tiba-tiba akhirnya dia dijual sebagai budak. Yusuf akhirnya melayani di rumah Potifar. Saat Anda sudah mengetahui akhir ceritanya, sangat mudah untuk melewatkan bagian ini:

Yusuf adalah anak favorit dari Yakub yang kaya raya. Dia pasti sudah mendengar Yakub bercerita tentang Tuhan yang pernah berkata bahwa keluarga mereka akan menjadi suatu bangsa yang besar. Saya membayangkan Yakub berkata dengan bangga kepada Yusuf, "Anak kesayanganku, kamu akan menjadi bapa dari bangsa yang besar ini." Dan sekarang Yusuf dalam tawanan, jauh dari ayah yang sangat menyayanginya, dipaksa untuk bekerja di daerah asing. Dia punya hak dan banyak kesempatan untuk menjadi marah, kepahitan dan mendendam. Dia tidak tahu apakah dia akan bisa keluar dari rumah Potifar. Dia mungkin mengira dirinya tidak akan bisa betemu lagi dengan teman-teman atau keluarganya lagi. Sejauh pemikirannya, hidupnya yang lalu itu sudah berakhir, namun dia tetap setia (Kejadian 39:2-23).

Tentu saja, menjadi seorang tahanan bukanlah impian Yusuf, tapi adalah sebuah tugas dimana Yusuf belajar untuk setia. Sementara berada di penjara, Yusuf mengartikan mimpi juru minuman, mengatakan bahwa dia akan dibebaskan dan dikembalikan pangkatnya. Juru minuman itu berjanji akan mengingat Yusuf, tapi dia tidak menepati janjinya. Itu bisa saja terjadi, Anda bisa saja tetap setia dan masih mempunyai teman atau rekan kerja yang gagal melakukan bagian mereka. 2 tahun berlalu sementara Yusuf masih setia melayani di penjara. Tidak lama setelah itu, Firaun bermimpi dan tidak ada seorangpun bisa mengartikannya, dan juru minuman itu baru mengingat Yusuf. Tuhan memberikan arti mimpi itu pada Yusuf dan karena itu Firaun mengangkat dia menjadi orang kedua di kerajaannya. Ini adalah pemutarbalikan posisi yang hampir tidak bisa dipercaya untuk seseorang yang pernah berada di penjara. Tapi ini juga bukan impian Yusuf. Meskipun dia telah mempunyai jabatan tinggi, kekayaan, dan kehormatan, itu bukanlah rencana terakhir Tuhan.

Ini adalah kunci yang perlu diingat karena jabatan, kekayaan, dan kehormatan dapat menjadi gangguan besar selagi kita sedang mengikuti impian yang sudah Tuhan berikan. Ingatlah bahwa tanpa ujian karakter yang dihadapinya setiap hari, dan yang berhasil dilaluinya dengan respon yang benar, Yusuf mungkin tidak akan banyak berguna bagi Firaun, bagi bangsa Israel, maupun bagi Mesias masa mendatang.

Setialah dalam Hal-hal Kecil

Anda sedang berada di mana dalam proses mencapai impian Anda? Akan jauh lebih baik kalau saja kita bisa mengetahui bahwa saat-saat pengalaman penolakan yang menyakitkan ini, kegagalan yang memalukan itu, tugas yang membosankan dan tidak ada akhirnya, dan prestasi yang tidak diakui itu adalah bagian-bagian dari rencana besar Tuhan. Tapi kita tidak bisa. Pada saat hal-hal itu terjadi, itu sama sekali tidak terasa sebagai persiapan untuk sesuatu yang besar. Itu hanya terasa kejam. Yang bisa kita lakukan adalah menngikuti teladan Yusuf: tetap bermimpi dan tetap setia dalam hal-hal kecil.

Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus memuji orang yang menerima 2 talenta dan juga orang yang menerima 5 talenta. Keduanya sama-sama berusaha untuk melipatgandakan apa yang telah diberikan kepada mereka, dan tentang mereka tuan mereka berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Kesetiaan hari ini dalam apapun yang harus Anda kerjakan adalah bagian dari proses yang Tuhan ingin Anda jalani. Apa yang Anda lakukan dengan tanggung jawab yang kecil akan mempengaruhi berapa banyak lagi tanggung jawab yang akan Anda terima. Ini berlaku untuk segala hal yang menjadi tanggung jawab Anda sekarang. Jika Anda melakukan setiap tanggung jawab dengan setia memenuhi kebutuhan dan bekerja seolah-olah untuk Tuhan sendiri, Dia akan setia menuntun Anda kepada langkah berikutnya untuk mewujudkan impian yang telah Dia letakkan dalam diri Anda.

Ada saat-saat dimana dulu saya masih belajar bagaimana menulis secara profesional, penolakan-penolakan dari penerbit kadang membuat saya menjauh dari keyboard komputer tanpa berpikir untuk kembali. Menulis itu kerja keras. Mendengar bahwa apa yang Anda tulis tidak cukup bagus itu menyakitkan. Dalam masa-masa itu saya harus memutuskan: menyerah untuk mengejar sesuatu yang lebih mudah atau terus maju. Tapi setiap kali saya kembali ke komputer saya, menekan tombol delete, dan memulai kembali, hasilnya lebih baik dari sebelumnya. Kerja keras dan ketekunan itu layak dilakukan... Impian saya dulu untuk menulis buku? Akhirnya itu tercapai, 16 tahun kemudian... Setialah dalam hal-hal kecil dan hal-hal besar akan mengikuti!

Sumber : jawaban.com

Contentment (Kepuasan)

Aku berkata, lebih baik puas dengan sedikit yang kamu miliki. Kalau tidak, engkau akan selalu berjuang untuk mendapatkan lebih banyak, dan itu bagaikan mengejar angin.

—Pengkothbah 4:6

Dalam mengevaluasi hidup Anda, bobot ukuran Tuhan sangatlah berbeda dengan ukuran Anda. Dengan melihat melalui mataNya, hal-hal yang paling kecil dapat membawa sukacita terdalam bagi Anda. Ketika Anda menerima hidup Anda sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, Anda dapat berhenti memperjuangkan apa yang mungkin terjadi atau ‘seharusnya’ terjadi. Anda dapat merasakan berkat kepuasan bahwa untuk saat ini, hidup Anda adalah tempat awal yang sempurna untuk langkah berikutnya dalam perjalanan Anda.

 

Aku sudah belajar menjadi puas dengan apapun yang kumiliki.

—Filipi 4:11

Miliki apa yang Anda inginkan, atau inginkan apa yang Anda miliki. Sungguh menakjubkan melihat perbedaan yang ada jika susunan kata-kata yang sederhana ini dibalik. Sungguh suatu karunia untuk mengalami perasaan cukup itu, untuk tidak selalu memikirkan yang lebih banyak, untuk mempercayai bahwa Tuhan telah memberikan apa yang sungguh Anda butuhkan. Jika Anda memfokuskan hari ini pada segi-segi kehidupan Anda dan menyadari apa yang telah Tuhan lakukan bagi Anda pada setiap seginya, panjatkanlah suatu doa syukur. Tariklah nafas, dan biarkan momen ini menjadi penuh dengan sendirinya.

Everyday Blessings © Rebecca Currington, 2008

Masih Ada Sisa

Nats : Mulai saat itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (Yohanes 6:66)

Bacaan : Yesaya 10:20-27

Setiap orang pasti pernah kehilangan. Entah barang, harta, rumah, kesempatan, atau bahkan orang yang dicintai. Pengalaman kehilangan bisa melumpuhkan semangat hidup, bahkan mematikan pengharapan kita. Tengoklah betapa banyak orang yang putus asa akibat pahitnya pengalaman kehilangan.

Alkitab mencatat bahwa Allah pernah mengalami kehilangan umat yang dikasihi-Nya, karena berturut-turut mereka beralih kesetiaan. Jumlah orang yang percaya menurun secara bertahap. Israel menolak-Nya. Yehuda meninggalkan-Nya. Jumlah umat yang setia terus menipis. Namun, Dia tak pernah berhenti berkarya! Alih-alih memikirkan yang hilang, Dia memikirkan yang tersisa. Dia bekerja melalui mereka. Namanya "sisa Israel". Yesaya sedang menggemakan penghayatan iman yang dinamai Teologi Sisa.

Yohanes melaporkan tentang ribuan pengikut Yesus yang pergi sesudah mendengar firman keras yang menantang iman. Tersisa hanya 12 murid! Namun, Yesus tidak kecewa atau putus harap. Dia tetap bekerja dengan sisa komposisi 12 murid itu, yang kelak justru menjadi fondasi Gereja di seluruh dunia.

Jika Anda sedang mengalami kehilangan, jangan berfokus pada yang telah hilang atau pergi, melainkan pada yang masih ada. Tidak berarti semua itu tidak penting, namun bukankah hidup harus terus berjalan? Hari esok harus kita songsong dengan tetap maju dan berkarya dengan apa yang "tersisa". Sekecil apa pun itu. Waktu, kesempatan, kekuatan, keluarga, teman, sedikit uang ... apa saja yang masih ada pada kita. Hargai, syukuri, dan melangkahlah dengannya! —PAD

SAAT KEHILANGAN, BERFOKUSLAH PADA APA YANG MASIH ADA
AGAR JANGAN SEMUA HILANG, TERUTAMA PENGHARAPAN

SABDA.org

Fix Your Mind

Today's Scripture

“Whatever is true, whatever is honest, whatever is just, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is kind, if there is any virtue, if there is anything worthy of praise, think on these things” (Philippians 4:8).

Today's Word from Joel and Victoria

What you think about determines the quality and direction of your life. Naturally, people who think positive, uplifting thoughts have happier, healthier, longer lives. They are less stressed, more vibrant and enjoy better sleep. That’s why the scripture encourages us to think on good things—things that are true, noble and lovely. Some translations say to “fix your mind” on them. When you fix your mind on noble things, you close the door to the negative voices and open your heart to allow God to work in your life. Choose today to fix your mind on good things. Do whatever you need to in order to keep those good thoughts before you. Write them on note cards and put them in a place where you can see them. Confess God’s promises over your life and declare His blessing on a daily basis. As you fix your mind on the goodness of God, you will rise higher in every area of your life. You will be filled with His peace and victory, and you’ll see every dream and desire in your heart come to pass.

A Prayer for Today

Father in heaven, I choose to fix my mind on noble things. I choose thoughts of peace and victory. Fill my heart with Your goodness that I may glorify You in everything I do. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

19 June 2008

Humor : Nyampe

Pada suatu hari ada pasien yang mengeluh ke dokter.

Pasien :"(dengan memegang pipinya)Dok saya ingin minta , gigi saya yang sebelah kiri agar dicabut"

Dokter :"Mari saya cabut "

Kemudian si Dokter mencabut giginya si Pasien.Tiba- tiba...

Pasien :"Loh dok,kok yang sebelah kanan?kan yang sakit kan yang sebelah kiri

Dokter :"Tenang saja, nanti juga nyampe kok"

Pasien :"?????????"

Cerdas Atau Rajin?

Suatu siang dalam liburanku di rumah kakek, aku menghampirinya dan bertanya,

"Menurut Kakek lebih hebat yang mana, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"

Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati kaca mata plusnya yang tebal.

"Apa itu cerdas?" tanyanya.

"Pandai berpikir." jawabku.

Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"

"Suka bekerja." jawabku lagi.

"Kemarilah."

Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang menyimpan selaksa kebijaksanaan.

"Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah kakek?"

"Mobil."

"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?"

"Mm... Roda."

"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?"

Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok."

"Mengapa demikian?"

"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan semua ini dengan pertanyaanku tadi.

Kakek tersenyum.

"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya, pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan.

'Kemudi' adalah 'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus berbelok, ke kanan, atau ke kiri."

"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.

"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.

"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat melaju." sahutku ragu-ragu.

"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti alur jalan yang berliku?"

Aku memandang kakek.

"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."

Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"

Aku menggeleng.

"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek.

"Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku.

"Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya menjadi cerdas, atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain. Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata. Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia."

Kakek menatapku dengan bijak.

"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi rajin?"

"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas senyumnya.

Transform Your Thinking

Today's Scripture

“Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewing of your mind” (Romans 12:2).

Today's Word from Joel and Victoria

You life will move in the direction of your most dominant thoughts. You can choose to think according the world’s system or according to God’s system. The world’s system says to “look out for number one,” to do whatever you can to get ahead and make yourself happy. But in God’s system, you find happiness and blessing by serving and putting others first. God doesn’t want us to have an attitude that is self-centered, or jealous, or greedy. He knows that those thoughts end in destruction. God wants us to live a blessed and prosperous life. That’s why the scripture tells us to renew our minds, or transform our thinking. We have to make sure our thoughts are the same as God’s thoughts. Just like a computer, whatever you allow into your mind is what will come out in your attitude and actions. The more you meditate on God’s Word, the more you will transform your thinking to be like God’s thinking. Choose today to focus on the Word of God and allow your mind to be renewed. As you focus on God’s thoughts, you will see your actions become more like Him, and you will see His hand of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, I submit to You all that I am. I ask that You renew my mind by the Word of God so that my thoughts are Your thoughts. Transform me into Your image. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

Hidup Bersama Dalam ...

Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks perumahan di Jati Bening. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar 60-an. Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.

Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar.

Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan.

Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam. Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya. Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.

Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli masi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.

Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan.

Mereka selalu bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun. Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap sama. Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan di saat susah.

Jika Anda berkunjung ke Bekasi, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek Jati Bening Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana. Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari (mungkin sekitar 11.00, karena saya pernah ke kantor jam 11.00, mereka sudah tidak ada). Jujur, nasi kuning mereka sangat standar & tidak selengkap gerobak nasi kuning lain di sekeliling mereka. Namun, cinta kasih mereka membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka tetap saling menguatkan.

Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Mungkinkah kita bisa seperti mereka?

Semoga Tuhan melimpahkan rahmat buat kita semua.

Amien :)

Blessing In Disguise

Nats : Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya (1 Raja-raja 17:15)

Bacaan : 1 Raja-raja 17:7-24

Suatu malam, seorang wanita kulit hitam setengah baya bertahan di tepi jalan tol Alabama dalam guyuran hujan. Mobilnya mogok. Ia berusaha mencari tumpangan. Beruntung seorang pemuda bule berhenti dan membawanya ke pangkalan taksi. Walau tergesa, wanita tadi tak lupa menanyakan alamat si pemuda.

Tujuh hari kemudian, si pemuda mendapat kiriman televisi berwarna besar yang sangat mahal, dengan catatan: "Terima kasih telah menolong saya di jalan tol malam itu. Hujan tak hanya membasahi baju saya, tetapi juga jiwa saya. Untung Anda datang. Jadi, saya masih sempat hadir di sisi suami saya yang sekarat ... hingga wafat. Tuhan memberkati Anda karena tidak mementingkan diri sendiri"—Tertanda: Ny. Nat King Cole (istri penyanyi jazz terkenal tahun 1960-an).

Walaupun kecil, karya kemanusiaan tetaplah menggetarkan hati. Sang janda Sarfat hidup hanya bersama anak perempuannya, di zaman yang sulit karena kemarau panjang dan bencana kelaparan. Ia hanya memiliki sedikit minyak dan segenggam tepung yang tinggal sekali dimasak (ayat 12). Namun karena memercayai Allah, ia mau menolong Elia yang kesulitan. Allah pun memberkati tepung dan minyaknya hingga bencana kelaparan berlalu. Dan bukan cuma berkat jasmani! Ketika putri tunggalnya mati, Tuhan, melalui Elia, membangkitkannya (ayat 22).

Tuhan dapat memakai siapa pun untuk memberkati —- seperti janda miskin di Sarfat yang menjadi saluran berkat bagi Elia. Dan, Tuhan menyediakan berkat tersembunyi bagi setiap hati yang tersentuh akan derita sesamanya. Anda rindu dipakai menjadi jalan berkat-Nya bagi sesama yang membutuhkan? Bertindaklah! —SST

TUHAN TIDAK MEMAKAI ORANG YANG MERASA MAMPU
TUHAN MEMAKAI ORANG YANG TAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

SABDA.org