Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 May 2008

Ganggulah Aku

Nats : ... sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem ... (2Samuel 11:1)

Bacaan : 2Samuel 11:1-27

Biasanya orang lebih suka berada di tempat yang aman daripada harus berpetualang dan meninggalkan kenyamanan. Begitu juga banyak orang kristiani sudah cukup puas dengan keadaan rohaninya yang "aman-aman" saja. Daripada memulai petualangan rohani yang seru bersama Tuhan, mereka lebih suka memiliki keadaan rohani yang monoton dan datar saja. Sedapat mungkin mereka berharap situasi akan terus stabil, tidak ada gangguan, masalah, ataupun hambatan.

Seorang yang luar biasa bernama Sir Francis Drake, merindukan petualangan rohani bersama Tuhan, sehingga saat keadaan "aman", ia berdoa demikian: "Ganggulah kami Tuhan, ketika kami berpuas diri karena mimpi-mimpi kecil kami menjadi nyata. Ketika kelimpahan harta benda membuat kami kehilangan rasa haus terhadap air kehidupan. Ketika kecintaan pada hidup ini membuat kami berhenti memimpikan kekekalan. Ketika keinginan kami membangun bumi baru meredupkan visi kami akan surga. Ganggulah kami agar berani berpetualang di lautan yang lebih luas, di mana badai akan memperlihatkan kuasa-Mu yang dahsyat!"

Doa di atas sebenarnya ingin menunjukkan betapa bahayanya sebuah tempat di mana kita merasa nyaman di situ. Lihatlah kehidupan Daud ketika jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba. Ia jatuh bukan saat ia ada dalam pelarian atau peperangan yang menegangkan, tetapi justru saat ia santai di istananya yang nyaman.

Hati-hati jika kita sudah cukup puas dengan kekristenan kita selama ini. Daripada puas dengan kehidupan rohani yang biasa-biasa, sebaiknya kita berdoa meminta keberanian untuk mengalami perkara yang lebih besar -PK

KETIKA KITA BERPUAS DIRI DENGAN KEADAAN ROHANI KITA
ITU SAATNYA MEMINTA TUHAN AGAR IA MENGGANGGU KITA


SABDA.org

He Prepares Your Path

Today's Scripture

I will go before you and make the crooked places straight…” (Isaiah 45:2 NKJV)

Today's Word from Joel and Victoria

Do you ever feel like every time you try to move forward in something, you hit a roadblock? Something happens that throws you off course. Be encouraged today because right now in your life, God is going before you. He’s preparing a way. He’s making your crooked places straight. He’s making your rough places smooth. You may be going through a difficult time right now, but it’s not the end. It’s only the beginning. God has equipped you for this journey. You may feel like you’re in a dry season, but don’t look at your circumstances. Look at the promise of God today! If you’ll keep speaking words of faith, God promises that He’ll anoint your head with oil and your cup will run over. That means you’ll be refreshed and anointed to do what He’s called you to do. God is preparing your path and equipping you for the journey. What do you need today to keep moving forward? Start by checking your attitude. Don’t go around complaining and focused on the negative side of things. Put on an attitude of praise and thanksgiving. Thank Him for making your crooked places straight! As you do, you’ll move forward in joy and gladness in the blessed future He has prepared for you!

A Prayer for Today

Lord in heaven, thank You for Your goodness in my life. Thank You for preparing the path for my life and making my crooked places straight. Thank You for restoring my soul and life and for guiding me in everything I do. I submit every area of my life to You today. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

28 May 2008

Menghadapi Kehilangan

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN ?

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The HealingStories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran.

Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.

Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.


Renungan :
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Siapakah Yesus Kristus?

Salah satu perdebatan sengit di dalam bidang theologia adalah yang berkaitan dengan topik Kristologi. Sejak abad permulaan hingga kini, memasuki millenium ketiga, para ahli terus bertanya tentang siapakah Yesus Kristus. Di dalam sejarah hidup manusia, disadari atau tidak, diakui atau tidak, pribadi Yesus Kristus telah menjadi tokoh sentral sepanjang segala abad dan tempat. Seluruh kehidupan Yesus, mulai dari kelahiran, hidup dan karya hingga kematianNya menjadi topik yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Para ahli atau yang merasa dirinya ahli seolah-olah tidak kehabisan energi atau stamina untuk terus menerus mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh Allah, atau sekedar nabi atau manusia biasa yang luar biasa. Itulah sebabnya, banyak diskusi dan seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah diterbitkan. Dalam hal ini kita dapat mengamati dua kelompok besar: ada yang melakukan hal tersebut di atas dengan motivasi dan maksud baik, tetapi tidak sedikit dengan motivasi jelek dan jahat! Sebagai contoh, ada yang disebut dengan gerakan menggali ulang Yesus sejarah atau The quest of the historical Jesus (First quest, second quest, third quest...?). Demikian juga dengan gerakan “The Jesus Seminar” oleh John Dominic Crossan serta Robert Funk dkk yang mencoba menggugat keabsahan pernyataan-pernyata an Yesus di dalam keempat Injil.

Sesungguhnya, jikalau kita jeli dan dengan hati terbuka memperhatikan ke dalam seluruh Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita tidak dapat menyangkali bahwa tokoh Yesus, yaitu Mesias yang dijanjikan itu adalah tokoh yang sangat menonjol. Di dalam Kitab Taurat Musa, Dialah pribadi yang disebut akan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15), yaitu ular yang kemudian disebut sebagai simbol iblis atau setan di dalam kitab Wahyu 20:2; di dalam kitab Mazmur, Dialah pribadi yang disebut raja Daud sebagai Tuhannya yang menderita dan mati, akan tetapi tidak akan selamanya berada di dalam maut tsb (Mzm. 16:8-11). Ayat-ayat tsb telah menjadi dasar yang kuat bagi Rasul Petrus ketika dia memberitakan di hadapan lebih dari 3000 orang tentang Yesus Kristus yang telah bangkit. Di dalam kitab nabi Yesaya, Dia lah hamba Allah yang menderita yang membuat tercengang banyak bangsa-bangsa, dan yang oleh kematianNya, hati Allah dipuaskan dan manusia berdosa beroleh penebusan dan pembenaran (Yes. 52:13-53:12). Jika kita beralih ke Perjanjian Baru, maka kita akan melihat semakin jelas bagaimana keempat penulis Injil menjadikan Yesus sebagai tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka. Markus misalnya dengan jelas dan tegas memulai Injil tsb dengan kalimat: “Inilah permulaan Injil TENTANG YESUS KRISTUS¨. (Markus 1:1). Dokter Lukas juga memberi tahukan bahwa apa yang dia tulis di dalam Injil Lukas, yang disebutnya sebagai bukuku yang pertama¨ adalah tentang segala sesuatu yang DIKERJAKAN DAN DIAJARKAN YESUS SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT (Kis.1:1-2a). Sementara itu, Injil Yohanes dengan sangat tegas dan jelas tanpa memberi sedikit peluang untuk kompromi telah menuliskan bahwa YESUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN di mana di luar Dia hanya ada kebinasaan (Yoh. 14:6). Kita tidak punya cukup ruang untuk menjelaskan bagaimana Yesus Kristus sedemikian dipuji dan disembah di dalam seluruh surat-surat para rasul, baik oleh Rasul Paulus, Petrus, Yohanes, dll. Tetapi ada satu pernyataan Rasul Paulus yang sangat jelas berkaitan dengan sentralitas Yesus tsb. Hal itu kita baca di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose: Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasehati... untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol.1:29).

Pengajaran Alkitab yang sedemikian jelas dan tegas membuat manusia pada zaman ini pun mau tidak mau harus mengambil sikap terhadap Yesus, karena Yesus tetap sebagai tokoh sentral, bukan hanya dulu di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi juga hingga sekarang, bahkan pada “dunia” yang akan datang. Barangkali ada yang bertanya: “Dari mana kita mengetahui hal itu padahal kita belum tiba pada masa yang akan dating”? Sebenarnya, hal itu kita ketahui bukan karena kita telah melihat “dunia” yang akan datang, akan tetapi itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab Wahyu, di mana dia melihat seluruh penghuni surga bersembah sujud kepadaNya. Penulis kitab Wahyu menulis tentang Dia: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” (Wahyu 5:13) Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah, apa pun latar belakang suku, budaya, agama dan kebangsaannya, tidak boleh bersikap netral dan acuh tak acuh kepada Tuhan Yesus. Dialah yang disebut di dalam kitab Wahyu sebagai Sang Anak Domba Allah yang telah menyerahkan nyawaNya untuk menebus mereka “dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Wahyu 5:9b). Selanjutnya kita membaca bahwa atas pengorbanan Yesus yang sedemikian besar, maka seluruh umat yang percaya dari segala abad dan tempat, baik yang di bumi dan di surga menyerukan dengan segenap hatinya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya (Wahyu 5:9a). Menarik sekali mengamati penglihatan surgawi yang digambarkan oleh Yohanes tsb. Terlihat dengan sangat jelas bahwa hanya Yesus yang layak membuka kitab termeterai tsb. Tidak ada pribadi lain, baik yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi yang dapat membuka gulungan kitab itu (Wahyu 5:3).

Ada hal lain lagi yang penting dituliskan di sini. Kita mengamati suatu kenyataan yang barangkali tidak mengenakkan untuk dikemukakan, yaitu bahwa dari sejak kitab pertama, Kejadian 1 sampai dengan kitab terakhir, Wahyu, nampak dengan jelas bahwa kehadiran Mesias (Perjanjian Lama) atau Yesus (Perjanjian Baru) juga telah mengakibatkan manusia terpecah ke dalam dua kutub. Pengkutuban itu sedemikian rupa, sehingga kelihatannya kedua kelompok tsb tidak mungkin bersatu secara sungguh-sungguh, kecuali dengan jalan kompromi. Ketika Yesus hidup di dunia ini, manusia pada zaman itu, tidak bisa tidak, ditantang untuk menentukan sikap terhadap diri dan FirmanNya. Ada orang yang percaya dan menerimaNya, karena itu memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Ada juga yang tetap tidak percaya dan menolakNya, karena itu mengalami kebinasaan kekal (Yoh.3:18; Yoh.8:24; baca juga I Kor.1:18 dan I Ptr. 2:6-7).

Jadi, sekali lagi, semua manusia harus mengambil sikap yang tegas kepada Yesus. Beragama saja tidak cukup. Mengaku pengikut Yesus pun tidak cukup. Semua umat ciptaan Allah harus secara penuh kesadaran mengevaluasi relasi hidupnya dengan Yesus. Hal itu sungguh penting, karenana hal itu berkait dengan hidup kekalnya. Artinya, sikap kepada Yesus tidak sekedar mempengaruhi kehidupan kita kini dan di sini. Beriman kepada Yesus bukan sekedar mempengaruhi kehidupan kita agar semakin layak dalam arti jasmani karena doa-doa kita terjawab, atau karena relasi kita dengan sesama seiman menjadi semakin baik yang mengakibatkan taraf kehidupan kita semakin meningkat. Orang percaya kepadaNya mengalami hal yang jauh lebih besar dari semua itu. Alkitab membicarakan konsekuensi yang bersifat kekal. HIDUP KEKAL BAGI YANG PERCAYA DAN MENERIMANYA ATAU KEBINASAAN KEKAL BAGI YANG MENOLAKNYA.

Suatu kali, Prof. Ravi Zacharia apologet Kristen yang sangat terkenal itu pernah bersaksi: "Saya dulu bukan orang Kristen, juga tidak belajar Alkitab. Saya lama menekuni ajaran agama lama saya dan mengajarkan filsafat. Tetapi di dalam anugerahNya Dia menyelamatkan saya. Saya bertobat menjadi pengikut Yesus. Apa yang saya alami? Apakah saya lebih kaya? Tidak! Apakah itu akan membuat saya lebih bermoral dan berpendidikan? Lebih dari situ. Pengalaman yang jauh lebih penting dan tak ternilai adalah karena saya berpindah dari maut kepada hidup, dari kebinasaan kekal kepada kehidupan yang kekal bersamaNya" (ICIE di Amsterdam, 10 Juli 1988). Itulah penegasan Alkitab yang diimani oleh Ravi. Itulah juga yang harus kita imani dan amini dengan segenap hati. Semoga iman dan pemahaman seperti ini membawa kita kepada sikap hormat dan penyembahan yang lebih baik kepadaNya. Dengan demikian kita senantiasa hidup dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.

Sumber : www.reformata. com (Tabloid Reformata bulan Juni 2005)


Oleh : Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.

Untukmu

Dahaga

Nats : "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air" (Yohanes 4:15)

Bacaan : Yohanes 4:13-19

Ketika Glynn Wolfe meninggal di usia ke-88, tak seorang pun mencarinya. Setelah ditunggu sekian minggu, akhirnya pemerintah mengubur jenazahnya di kuburan tanpa nama. Ironisnya, Glynn pernah tercatat di Guinness Book of Records sebagai pemegang rekor pria yang paling banyak menikah. Ia telah 29 kali menikah dan 29 kali bercerai juga, karena tidak puas dengan pernikahannya. Ia meninggalkan banyak istri yang masih hidup, banyak anak, cucu, bahkan buyut. Namun, tak seorang pun sudi menemaninya sampai ia meninggal.

Seperti Glynn, banyak orang haus akan cinta kasih lalu berusaha mencarinya di tempat yang salah. Mereka mengira bahwa dengan menemukan "orang yang tepat", hidup akan terpuaskan. Padahal, tidak ada orang yang tepat. Itu juga yang dialami oleh perempuan Samaria yang sudah punyai lima suami (ayat 18). Ia masih mencari pria lain, karena haus cinta. Tak seorang pun dapat mengisi kesepian hidupnya. Tak ada pria sempurna yang dapat menyenangkan dirinya dalam segala hal. Ia ibarat orang yang kehausan lalu berusaha meminum air laut. Dahaganya bukan hilang, ia malah makin haus! Yesus menyatakan bahwa yang dibutuhkan perempuan itu adalah "air hidup" (ayat 14,15). Hanya kehadiran Allah yang dapat mengusir kesepiannya. Hanya kasih Allah yang bisa mengisi ruang kosong dalam hatinya.

Jika kasih Allah telah memenuhi hati, kita akan mengalami kepuasan hidup. Akibatnya, kita tidak lagi sibuk mencari orang yang tepat. Sebaliknya, kita akan berusaha menjadi orang yang tepat bagi orang lain. Tak lagi menjadi seorang pengemis kasih, tetapi menjadi penyalur kasih -JTI

KASIH SEJATI TIDAK MENCARI ORANG YANG TEPAT
TETAPI BELAJAR MENJADI ORANG YANG TEPAT


SABDA.org

Give Generously

Today's Scripture

“…the righteous give generously” (Psalm 37:21).

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know that when you give to others in need, the Bible says it’s like giving directly to God Himself? When you step out and bless other people, you are honoring and blessing the Lord. The scripture tells us to give our best, to give generously. In other words, stretch yourself. Go out of your way. It may be uncomfortable to walk over and pay for someone’s gas, but that’s being generous. I encourage you today, look for ways to give generously and meet the needs of others. Remember, people have many different types of needs. There may be someone who needs some encouragement. Give generously when you give that encouragement. There may be someone in your life who just needs a friend. They need some quality time. Give generously of your time and pour into that person. As you give generously to others, God will multiply the seeds you’ve sown, and you’ll live in blessing all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, I come to You today, giving all that I have to You. Open my eyes to the needs around me and show me how to be a blessing to others. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

27 May 2008

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan. Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia."

Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang. Ia pun membiarkannya berlalu.

Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranyapun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.

Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapat kan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar anak-Nya dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita.


Berpikirlah sederhana!

When We Have to Choice

Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik, ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan, karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu.

Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.

Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.

Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.

Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.

Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka.

Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya, "Apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?", jawab orang itu "tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu", lalu tanya prajurit itu lagi, "seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya?, sedangkan waktumu sangat terbatas", jawab orang itu lagi "tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis".

Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya

"Hai orang kaya apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?" ,jawab orang kaya itu "bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah keuntunganku".

Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu

"Mengapa engkau diam disini?, tidakkah engkau memilih emas-emas itu? atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?", mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi "atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?", orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi, "Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?", sambil menatap prajurit, orang itu menjawab, "Tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu, berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu",


"lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu" tanya prajutit itu lagi.

"Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting" jawabnya lugu.

Prajurit ini semakin penasaran "mengapa bisa begitu?", "bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya,karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas tuan" prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya "lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah saya ambil", "tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?" tanya prajurit lagi, "Saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini dengan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yang murni", tak lama lagi lonceng istana berbunyi,tanda berakhir sudah kegiatan mereka.

Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata, "Wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja", kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya.

Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal "Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya.

Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya".

Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya, dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.


Dikutip dari : Kumpulan Sharing dan Cerpen Judul Asli : When We Have to Choice

Kenali Yang Benar

Nats : Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:31,32)

Bacaan : Yohanes 8:30-36

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus menyiratkan bahwa ada dua macam murid; yang benar-benar murid dan yang semu. Dalam era informatika global seperti sekarang ini, kita pasti akan dibanjiri oleh berbagai informasi dan pengajaran. Repotnya, jika tidak memiliki penyaring yang baik, kita dapat menjadi tong sampah. Padahal seharusnya setiap murid Tuhan mengutamakan air susu yang murni dan yang rohani, yang akan menjamin pertumbuhan iman dan membentenginya dari pengajaran-pengajaran yang menyesatkan (1 Petrus 2:2,3).

Kita belajar bahwa murid-murid di Galatia terlalu cepat berpaling dari Injil yang benar kepada "injil yang lain" (Galatia 1:6-10). Jadi, mari kita memerhatikan peringatan Paulus tersebut dengan saksama. Terlebih Rasul Paulus juga mengingatkan kita bahwa akan muncul pengajar-pengajar palsu, "serigala berbulu domba" yang menyusup ke dalam persekutuan orang-orang percaya. Parahnya, pengajar-pengajar palsu semacam itu bisa muncul dari antara kita sendiri (Kisah Para Rasul 20:29,30).

Betapa pentingnya bagi kita untuk mengadakan waktu khusus secara tetap dan teratur -- sebagaimana halnya kita harus makan setiap hari -- agar kita tetap sehat dan bertumbuh secara rohani. Hanya dengan semakin mengenal firman Tuhan secara benar, kita akan mudah membedakan yang palsu dari yang benar. Kita juga akan dimerdekakan sehingga kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam angin pengajaran yang merupakan permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Efesus 4:14,15) -CC

KENALILAH YANG BENAR MAKA KITA AKAN MUDAH MENGHINDARI
YANG KELIRU DAN MENYESATKAN


SABDA.org

God’s Representative

Today's Scripture

We are Christ’s Ambassadors…” (II Corinthians 5:20).

Today's Word from Joel and Victoria

As believers in Jesus, we are His ambassadors or representatives in the earth. In the natural, an ambassador is privileged. They are a diplomat with the highest rank. They walk in the authority of the name of the one who sent them. The ambassador makes decisions and solves problems, but their primary role is to promote diplomatic relationships. As God’s ambassadors in the earth, we walk in His power and authority. We are to promote relationship with Him. The Bible also calls us “ministers of reconciliation” in the earth. That means that we are to share the message of the gospel—that man’s relationship to God has been reconciled through Jesus Christ. When you see yourself as God’s ambassador, it will change the way you think and act. It will change the way you approach people. Remember, you are a representative of Almighty God. Look for ways to promote relationship with Him. Show kindness because His kindness leads people to change. Speak words of healing that will draw people to Him. As you fulfill your role as an ambassador of God, He will honor your faithfulness and pour out His blessing upon you all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me as Your ambassador. Help me to fully understand the authority You’ve given. Show me ways to promote relationship with You and build Your kingdom in the earth. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries