Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 May 2008

The Overflow of Your Heart

Today's Scripture

For out of the overflow of the heart the mouth speaks” (Matthew 12:34).

Today's Word from Joel and Victoria

Have you said something recently that you wish you hadn’t? The Bible says that your words reveal what’s going on inside of you. If you go around speaking negative words of defeat, putting others down, and complaining all the time, it’s a sign that you need to refocus your heart and mind. It’s a sign that your “overflow” is polluted. Our bodies work a lot like a computer. What you put on the hard drive of your heart will show up on the monitor of your mouth. The good news is that you can reprogram your mind the same way you can reprogram a computer. The Bible says that our minds are renewed—or reprogrammed—by the Word of God. The more you read and study His Word, the more it will transform you from the inside out. Start today by asking the Lord to reveal anything in your heart that needs changing. Make Him first place in your life. Fill your heart with the good treasure of God’s Word so that blessings come out of your mouth. Let the overflow of your heart be filled with faith and expectancy, and you’ll see God’s hand of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, I humbly come before You and ask that You cleanse my heart and mind of anything that isn’t pleasing to You. Fill me with Your faith, peace, joy, and love so that I can overflow with Your goodness today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan?

Sebuah perenungan dari Yohanes 12:1-8

Yesus tahu hidup-Nya tidak akan lama lagi, karena itu hati-Nya mulai gundah dan gelisah. Bukan kematian yang paling menganggu hati-Nya, melainkan kesakitan, kepedihan, dan kengerian penderitaan yang harus dialami-Nya sebelum kematian itu datang. Sebuah pesta khusus diadakan untuk Yesus di Betania (ayat 2). Ketika kematian begitu dekat, apalagi yang lebih dibutuhkan, selain ungkapan kasih yang sangat besar? Hampir semua teman dekat Yesus hadir di pesta itu. Salah satunya, Maria.

Di pesta itu, "Maria mengambil setengah liter minya narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu" (ayat 3). Saya bayangkan, Maria bukanlah seorang yang kaya raya. Sudah pasti ia harus menabung beberapa waktu lamanya sampai berhasil membeli setengah kati atau setara dengan setengah liter minyak narwastu murni yang mahal harganya. Yudas iskariot manaksir harganya tiga ratus dinar atau setara dengan satu tahun gaji pada zaman itu. Saya tidak tahu persis berapa harga parfum. Jika harga satu botol 1--ml parfum Chanel No. 5 atau Christian Dior sekitar 1 juta rupiah, bisa Anda bayangkan berapa uang yang telah dikeluarkan Maria untuk membeli setengah liter parfum, kira-kira 5 juta rupiah.

Saya yakin, Maria, si gadis desa, tak pernah memakai parfum semahal itu. Namun ia sengaja menabung, menahan diri, supaya bisa membeli dan menyediakannya khusus untuk Yesus. Maria tak memberikan apa yang sudah ada, sebagian kecil atau sebagian besar dari apa yang ada padanya, tetapi ia secara khusus mempersembahkan yang terbaik dan termahal yang dapat ia berika kepada Yesus. Karena itulah, Yesus memuji perbuatan Maria, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan di sebut juga untuk mengingat dia". (Markus 14:9)

Sampai saat ini, Yesus masih menanti-nanti munculnya Maria-Maria, yang mau mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, sehingga baru wangi itu memenuhi seluruh ruangan. Orang-orang yang tahu, kapan harus diam, kapan harus mendengar, kapan harus duduk di bawah kaki Yesus, belajar, mendengar, merenungkan, dan mencerna apa yang diajarkan Yesus. Orang-orang yang tahu, kapan ia harus bangkita, berbuat sesuatu, membawa persembahan yang terindah dan terbaik bagi-Nya, sehingga kata Yesus, "Bau semerbak manyak itu memenuhi seluruh rumah itu". (ayat 3). Apakah Anda orangnya?


Sumber : Sudahkan yang Terbaik Kuberikan?, Koleksi Khotbah Pdt. Eka Darmaputra.

07 May 2008

Usaha Atau Anugerah

Ada seorang anak manusia yang sedang bergumul dengan Sang Penciptanya.

"Tuhan", seru anak manusia itu. "Mengapa Engkau begitu jauh? Mengapa aku Kau buang di bumi ini?"

Tidak ada jawaban.

"Aku ingin bertemu denganMu, ya Allahku." kata anak manusia itu.

Aku tahu dari nenek moyangku, bahwa Engkau bertahta di atas langit".

"Aku akan berusaha melintasi langit itu, agar aku bisa bertemu denganMu!" Lalu ia membuat sepasang sayap besar yang terbuat dari kerangka kayu, dilapisi oleh bulu-bulu burung elang yang besar, diikat secara tersusun rapi, layaknya sayap seekor burung.

Setelah beberapa bulan mengerjakan sayap ini, dan selesai, ia membawa sayap buatannya ke puncak tebing yang paling tinggi, memasang sayap tersebut ke tubuhnya, dan mengepak-ngepakan sayapnya, layaknya seekor burung.

Ia melompat dan berhasil terbang di udara! Ia berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku akan kembali ke rumahMu."

Setelah beberapa jam anak manusia itu mengepakkan sayap buatannya, ia menjadi lelah.

Angin berhembus lebih kencang dan merusakkan sayap buatannya. Ia jatuh dari langit, tanpa daya.

Sebelum ia terhempas ke bumi, ia sempat berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku. Namun aku gagal. Aku tak bisa bertemu denganMu. Maafkan aku yang sombong ini, Ya Tuhanku."

Tiba-tiba dalam hatinya ada suara, "AnakKu, Kuterima permohonan maafmu. sekarang engkau tahu bahwa semua usahamu sia-sia.

Aku mau supaya engkau percaya sepenuhnya padaKu."

Ia menjawab, "Ya Tuhan, sekarang aku percayakan hidupku.

Aku berserah penuh kepadaMu." Lalu terdengar suara seperti benda jatuh dari langit.

Sang anak manusia telah mati.

Tubuhnya memang mati, tetapi jiwa dan rohnya tidak.

Ia segera keluar dari tubuhnya yang sudah menjadi mayat, dan melayang ke udara, kembali ke pangkuan Bapa di Sorga.

Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus, banyak orang mengira bahwa kita dapat kembali ke sorga dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan tujuan bahwa Allah akan melupakan dosa kita yang besar itu, dan melihat 'jasa' yang kita lakukan. Ketahuilah, bahwa usaha manusia itu sia-sia, dan hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan kita. Dan Ia telah menyelamatkan kita dengan menebus kita dari dosa-dosa dan pelanggaran kita, Ia cuma minta supaya kita percaya kepadaNya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu:

Jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 1:8-9)

Tuhan Yesus memberkati

Kalau Terpaksa, Aku Mati

Hari pertama setiap bulan adalah hari yang ditetapkan oleh Jepang, penjajah kami, sebagai hari pemujaan dewa matahari. Seluruh rakyat diperintahkan untuk beramai-ramai pergi ke kuil. Di sekolah putri Kristen, tempat aku mengajar musik, semua murid dipanggil untuk berkumpul di halaman. Kepala sekolah menyuruh para guru berkeliling ke kelas-kelas dan kamar-kamar kecil, mencari kalau-kalau ada murid yang bersembunyi untuk menghindari perintah memuja dewa. Ingin menangis rasanya aku memandang keributan di halaman itu. Aku berlutut dengan hati hancur, berdoa kepada Yesus. Tiba-tiba terdengar langkah sepatu mendekati pintu, lalu suara yang keras dan kukenal.

"Nona Ahn! Engkau di situ?" Itu kepala sekolah. Ia khusus datang untuk mencariku. Dengan tenang aku berdiri lalu membuka pintu. Ia memandangku dengan tajam, penuh kemarahan.

"Hari ini adalah hari pertama bulan ini."

Seperti aku tak tahu saja.

"Kita harus membawa murid-murid ke kuil di atas bukit. Ingat?"

Mata kami bertemu dan berperang diam-diam.

"Engkau bukan satu-satunya orang percaya," lanjutnya dengan suara tegang.

"Sekolah ini sekolah Kristen. Sebagian besar murid adalah anak Kristen. Semua guru adalah Kristen. Bahkan saya sendiri juga Kristen!"

Aku tetap diam.

"Pikirlah, nona Ahn. Adakah orang Kristen yang ingin menyembah berhala dan dewa-dewa? Kita semua membenci hal itu. Tetapi kita akan dianiaya bila melawan. Jika kita menolak perintah mereka, sekolah ini akan ditutup!"

Aku tahu. Hal itu sangat mengganggu pikiranku. Jepang yang menjajah Korea, melawan Allah dan menghina Yesus. Setiap orang yang menolak untuk menyembah dewa mereka, entah dia seorang penginjil, pendeta atau diaken, akan disiksa. Aku mengerti, bahwa kepala sekolah ingin bertanggung jawab atas keselamatan para guru dan murid. Tetapi apakah ia lupa sabda Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup?"

Aniaya itu bukannya baru mulai. Di Korea, sudah sejak lama banyak orang Kristen dibunuh karena mempertahankan kemurnian iman mereka. Aku mengerti mengapa kepala sekolah memaksa kami pergi ke kuil, tetapi aku tidak dapat mengerti bagaimana ia dapat sampai kepada keputusan seperti itu, melawan Allah dan bersekutu dengan berhala.

"Engkau tahu kesusahan apa yang akan dialami sekolah ini jika engkau menolak," ia berkata dengan nada benci.

"Tetapi engkau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri."

"Jika anda menghendaki aku pergi ke bukit itu, baiklah," kataku sambil melangkah keluar ruang musikku yang tenang, menuruni tangga didepan dia.

"Dan ingat, engkau harus menyembah disitu, nona Ahn," serunya. Aku tidak menjawab. Anak-anak memandangi aku dengan bingung dan cemas. Rupanya mereka tidak mengharap aku mengalah terhadap perintah kepala sekolah. kami lalu berbaris menuju bukit. Bisik-bisik terdengar di belakangku.

"Bila nona Ahn juga pergi, pasti Tuhan akan melindungi kita!"

"Kepala sekolah kita sungguh berkuasa! Ia berhasil menyuruh nona Ahn pergi ke bukit!"

"Pasti nona Ahn takut kepada polisi."

Aku memandang ke langit, pikiranku melayang kepada Daniel. Keadaan kami di Korea mirip dengan keadaan Daniel, dipaksa menyembah patung. Jepang membangun kuil-kuil di semua kota dan desa, bahkan memaksa penduduk menaruh kuil kecil di rumah mereka, di sekolah-sekolah, juga di kantor-kantor. Yang terburuk adalah, didalam Gereja pun harus ditaruh kuil kecil.

Sebelum kebaktian dimulai, setiap orang yang hadir harus membungkuk di depan kuil kecil itu. Polisi selalu mengawasi setiap kebaktian. Para pendeta menjadi sasaran khusus. Jika mereka menentang peraturan itu, mereka akan diseret ke kantor polisi dan disiksa. Tidak sampai disitu saja. Jatah makanan untuk keluarga mereka pun dikurangi, sehingga keluarga mereka kelaparan. Karena itu tidak heran kalau orang Korea umumnya membenci Jepang dan menyebut mereka setan.

Mungkin aku lebih mengenal orang Jepang daripada kebanyakan orang Korea yang lain. Ibuku seorang Kristen yang saleh dan ia ingin aku masuk sekolah misi. Tetapi ayahku yang belum Kristen, menyekolahkan aku di sekolah negeri dan disitulah aku memperoleh pendidikan Jepang. Ayah juga menolak ketika ibu mengusulkan agar setelah lulus dari sekolah menengah, aku masuk sekolah Kristen di Amerika.

"Ia tak akan berhasil dalam hidup bila tidak belajar secara Jepang," kata Ayah.

"Ia harus melanjutkan sekolah di Jepang."

Begitulah, setelah lulus di Jepang, aku kembali ke Korea. Hidup kelihatannya memang lebih mudah. Segera aku mendapatkan pekerjaan, mengajar di suatu sekolah negeri untuk wanita. Tetapi kepala sekolahnya sombong dan angkuh, sebab itu aku mengajar di sekolah misi.

Kemudian Jepang mulai memaksakan penyembahan dewa-dewa. Mula-mula aku berhasil menolak dengan berbagai alasan, tetapi aku sadar bahwa keadaan ini tidak dapat kupertahankan terus. Perang antara Tiongkok dan Jepang berkobar hebat, dan suatu semangat keagamaan yang baru berkobar di antara para pemimpin Jepang. Mereka telah bertekad untuk memaksa semua orang Korea, terutama yang Kristen, bersujud di depan dewa-dewa mereka.

Dalam perjalanan ke bukit itu aku mengingat kembali kata-kata Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Nebukatnezar, raja Babilonia. "Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:18).

Mereka memutuskan untuk lebih baik mati dalam nyala api daripada melawan Allah. Aku juga demikian. Dengan pertolongan Tuhan aku tidak akan pernah membungkuk di depan berhala Jepang, sekalipun Tuhan tidak melepaskan aku dari cengkeramannya. Aku telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Aku hanya dapat bersujud kepada Allah, Tuhan dan Juruselamatku.

Sambil berjalan aku berdoa.

"Hari ini, di atas bukit ini, di tengah kerumunan banyak orang, aku akan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Ini akan kulakukan demi kekudusan namaMu."

Hatiku diliputi kedamaian. Ingin sekali aku menyanyi. Hatiku lapang, seluas samudera. Awan yang berarak seakan-akan bersahabat denganku. Kehidupan masa mudaku tidak akan kujalani untuk kepentinganku sendiri. Aku akan mempersembahkannya kepada Tuhan dan memberi kesaksian tentang dia.

"Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu," kuulangi pasal 10 dari Injil Yohanes dengan bersuara, "dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. Bapaku, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." (ayat 27-29)

Telah banyak orang berkumpul di depan kuil, sebelum kami sampai disitu. Belasan sekolah dengan murid-murid yang berbaris rapi, tegak seperti patung, tak berani bergerak ataupun berbisik. Kami datang paling akhir.

Semua menengok kearah kami, terutama polisi-polisi Jepang yang tak ramah itu. Aku seperti anak kecil disitu, takut bersuara, takut kepada polisi-polisi itu. Hatiku berat, aku mencoba berdoa, tetapi doaku lemah sekali. Kupejamkan mataku sambil mengumamkan doa Bapa Kami tiga kali. Kurasakan keberanian dan kekuatanku mulai timbul.

"Bapa," doaku. "Aku sangat lemah! Tetapi aku ini dombaMu, aku akan taat mengikuti Engkau. Bapa, peliharalah aku."

"Perhatian!" Sebuah suara keras mengatasi gumam orang-orang yang berhimpun di situ. segera semua berdiri tegak baris demi baris. Kami sudah terbiasa patuh kepada aba-aba seperti itu, sebab lebih dari 37 tahun lamanya kami telah dijajah oleh Jepang.

"Hormat kepada Amaterasu Omikami (Dewa Matahari)!"

Lalu kami harus membungkukkan badan dalam-dalam ke arah matahari. Ya, semua membungkuk. Hanya aku yang tetap tegak memandang ke langit. Menit-menit sebelumnya, hatiku terasa berat dan penuh ketakutan, tetapi kini semua itu lenyap. Aku sangat tenang. Hati nuraniku berbisik, "Engkau telah memenuhi kewajibanmu."

Ketika kemudian aku berjalan pulang di belakang barisan murid-murid, sekali lagi aku berbicara kepada Yesus. "Semua sudah selesai, Tuhan. Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan. Selanjutnya segala sesuatu kuserahkan kepadaMu. Satu-satunya jalan yang dapat kutempuh sekarang ialah mendengarkan dan mengikuti perintahMu."

Pikiranku seperti seorang Jendral yang baru saja mengumumkan perang. Tetapi ketika tiba kembali ke sekolah, hatiku diliputi awan gelap. Aku tidak takut mati, tetapi aku ngeri membayangkan siksaan. Akan tahankah aku? Bagaimana seandainya aku, karena disiksa, tak tahan, lalu berbalik menyangkal Tuhan?

Memikirkan semua ini membuat aku lemas.

Tetapi tidak, aku tak boleh mundur. Aku telah maju dan meniup terompet perang. Aku seorang berdosa dan sangat lemah, tetapi aku harus berjuang.

"Jangan gelisah hatimu," kata Yesus kepadaku.

"Percayalah kepada Allah, percayalah kepadaKu. Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim piatu. Damai sejahtera Kutinggalkan kepadamu. Dama sejahteraKu Kuberikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:1,18,27)

Seberkas cahaya menguak kegelapan hatiku. Awan biru tersenyum manis, menggemakan nyanyian:

Dengan tenaga yang fana
Niscaya kita kalah.
Pahlawan kita Dialah
Yang diurapi Allah.


Siapa NamaNya?
Sang Kristus mulia.
Tuhanmu yang Esa,
Panglima semesta...
Niscaya Ia jaya!


Martin Luther
(Terjemahan Yamuger)

Martin Luther. Terbayang dibenakku hebatnya perjuangan yang ia lakukan bagi Tuhan dan kebenaranNya. Ia seorang sarjana yang berwibawa. Tetapi aku?

Aku hanyalah wanita muda yang tak dikenal, lemah, tanpa kekuasaan. Lalu aku ingat rasul Paulus.

Pasti ia pun mengalami saat-saat pergumulan seperti aku kini. Aku menimba kekuatan dari apa yang ditulisnya: "Karena jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Korintus 12:10)

"O, Bapa," aku berdoa, "kuatkanlah aku!"

He Places the Solitary in Families

Today's Scripture

“He places the solitary in families” (Psalm 68:6).

Today's Word from Joel and Victoria

Most everyone goes through times in life when they feel a little lonely or wonder where they belong. God designed family to always be a place of love and acceptance. Maybe you didn’t come from an environment like that, or maybe you’ve been away from your family. Maybe they are no longer around. God still desires to meet that need for family. The Bible says that He is the Father to the fatherless, and He places the solitary in families. God wants to give you a circle of people you can trust who will embrace and accept you. If you need family today, ask God to meet that need and show you where you belong. Or maybe you are the one who can open your home and heart to someone who is alone. The point is God loves family. He designed family for a purpose. Jesus said in Matthew 12 that those who do God’s will are His family. When you are part of the family of God, you are never alone! He promises to never leave you or forsake you. He promises to fill you with His peace and joy so that you can live as an overcomer all the days of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for showing me Your design for family. Thank You for accepting and embracing me always. Show me how I can reach out and be an example of family in someone else’s life. In Jesus’ Name. Amen.


Source : Joel Osteen Ministries

Menguasai Diri

Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Para prajurit yang tidak ingin menjadi jenderal, bukan prajurit yang baik. Atlet yang tidak ingin menjadi juara adalah atlet yang buruk," demikianlah bunyi salah satu tulisan penyemangat yang digantung di sebuah ruang pelatihan olahraga di Beijing, Cina. Untuk menyiapkan diri menghadapi pesta olahraga Olimpiade 2008 ini, para atlet Cina telah menjalani latihan keras sejak 6 tahun yang lalu. Selain itu, mereka punya sebuah lagu penyemangat yang berbunyi, "Laki-laki (berhati) baja tidak menangis. Kami mau menjadi pahlawan. Menjadi pemenang. Meraih emas!"

Bacaan kita hari ini juga berbicara tentang pertandingan. Paulus menulis bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya ada satu yang mendapat hadiah. Jadi, Paulus menasihati kita agar menguasai diri dalam segala hal, bukan untuk mengejar hadiah yang sementara, melainkan mahkota yang abadi (ayat 25). Setiap anak Tuhan yang mau menjadi pemenang, tidak boleh berlari tanpa tujuan, tidak boleh menjadi petinju yang sembarangan memukul (ayat 26). Ini berarti, anak Tuhan jangan sampai hidup sembarangan, tanpa perencanaan, tanpa tujuan.

Apakah cita-cita Anda? Jawabannya bisa apa saja, terserah Anda. Namun, yang penting adalah merencanakan dan menyiapkan diri untuk meraih cita-cita Anda mulai dari sekarang. Nasihat Paulus di atas patut kita terapkan mulai hari ini, melalui beberapa langkah. Langkah pertama : kenalilah diri Anda. Langkah kedua : latihlah. Langkah selanjutnya : kuasailah! Mulailah melangkah dari langkah pertama! -CHA

BERMAINLAH SEBAIK-BAIKNYA
MAKA GOL AKAN TERCIPTA SENDIRI-PELE

SABDA.org

Death Of Jesus

06 May 2008

Pentingnya Keanggotaan Gereja Lokal

Apa bedanya menjadi anggota gereja dengan menjadi anggota organisasi macam klub olah raga atau hipermarket tertentu?

Perbedaannya terletak pada pemahaman tentang gereja. Gereja bukan sekedar organisasi, melainkan sebuah "organisme". Sesuatu yang hidup. Itu sebabnya dalam Alkitab metafora gereja bukan benda mati, melainkan benda hidup, tubuh. Setiap anggota, akan "hidup" dalam arti berfungsi dan memenuhi "tujuannya" kalau melekat pada tubuh. Sebaliknya, anggota yang terlepas dari tubuh, tidak akan berfungsi.

Berbeda dengan organisasi macam klub olahraga atau hipermarket. Dengan masuk menjadi anggotanya, betul, kita bisa mendapat "keuntungan" tertentu. Namun kalaupun tidak, kita tidak menjadi "tidak hidup" atau tidak "berfungsi".

Rick Warren dalam bukunya, The Purpose Driven Life (Diterbitkan oleh Gandum Mas, 2005) , mengatkan, "Jika sebuah organ dipisahkan dari tubuhnya, ia akan melemah dan mati. Organ itu tidak bisa hidup dari dirinya sendiri, demikian juga Anda. Terpisah dan terpotong dari "sumber" hidup berupa gereja lokal, kehidupan rohani Anda akan melemah dan akhirnya mati. Karena itu, gejala pertama dari kemunduran rohani biasanya adalah tidak teratur menghadiri kebaktian ibadah dan pertemuan umat percaya lainnya.

Hal serupa dikatakan Joshua Harris di bukunya, Stop Dating the Church! (Diterbitan oleh Gloria Graffa, 2007), "Setiap orang kristiani dipanggil untuk terikat secara mendalam dengan sebuah gereja. Mengapa? Karena gereja merupakan kunci utama dari kesehatan dan pertumbuhan rohani orang kristiani."

Dengan begitu, kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi percaya, tetapi juga untuk menjadi anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:27).

Menjadi anggota sebuah komunitas sebetulnya juga sudah menjadi "kodrat" manusia (Kejadian 2:18). Johann G. Herder, filsuf penyair dari Eropa, mengatakan bahwa manusia memiliki the idea of longing. Kebutuhan untuk masuk dalam sebuah kelompok.


Dasar Biblis

Sebetulnya tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung dan tegas mengayakan bahwa kita harus jadi anggota gereja lokal. Keanggotaan gereja pada zaman Perjanjian Baru bisa dibilang lebih merupakan keanggotaan "teologis" daripada "organisatoris". Kalau Anda sudah percaya kepada Kristus, kita satu keluarga, tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, budak atau orang merdeka, pria dan wanita.

Bisa dimengerti, karena orang kristiani ketika itu belum banyak. Pula gereja belum seaneka ragam sekarang. Di satu kota jemaat hanya satu; Jemaat Korintus, Jemaat Filipi, dan sebagainya. Memang terjadi juga perpecahan di kalangan jemaat, seperti di Jemaat Korintus, tetapi tidak lantas membuat orang memisahkan diri dan membangun gereja baru di lain tempat seperti kerap terjadi di zaman sekarang : kecewa dengan gereja yang ada, lalu bikin gereja baru.

Namun, secara tidak langsung hal penting dari keanggotaan gereja lokal bisa di lihat, misalnya dengan penyebutan jemaat Filip, Korintus, Efesus, dan sebagainya. Bahkan setiap kali kata ekklesia atau kuriake (artinya : gereja) disebut dalam Alkitab, selalu menunjuk pada jemaat lokal tertentu.

Di samping itu, gereja adalah gagasan Tuhan bukan sekedar rancangan atau program yang di bikin oleh manusia (Matius 16:18). Kalau gereja itu prakarsa Tuhan, kita tidak boleh menganggap sepele hal keanggotaan gereja ini.


Dasar Praktis
Secara praktis pentingnya keanggotaan gereja lokal berkenaan dengan identitas, tanggung jawab, dan komitmen kita :

  1. Identitas : gereja seumpama sebuah keluarga. Tidak masuk keanggotaan sebuah gereja, ibarat kita tidak punya keluarga, domba tanpa kawanan.
  2. Tanggung Jawab : bedanya antara pacaran engan menikah adalah pada tangguh jawab. Menikah bukan hanya menerima yang baik, melainkan juga yang buruk. Dengan menjadi anggota, kita akan lebih memiliki rasa tanggung jawab.
  3. Komitmen : bukan hanya yang tertulis (menjadi anggota gereja ada janji-janji yang diucapkan); melainkan juga secara tidak tertulis (ada semacam "ikatan spiritual").

Kesimpulan :
  1. Keanggotaan gereja menunjukkan kita adalah orang-orang yang percaya (Yohanes 13:35). Perhatikan kata "saling" dalam ayat tersebut. Menunjukkan keterhisaban dalam satu kelompok. Dalam Perjanjian Baru lebih dari 50 kali kata "saling" atau "satu dengan yang lain" ditulis, "Kita bersatu dalam Kristus untuk memberi kesaksian kepada dunia ini. Kesaksian kristiani bukan sekedar individualis, melainkan juga kolektif. Karena itu kita butuh orang lain.
  2. Keanggotaan gereja membantu kita mengembangkan otot-otot rohani; kita tidak akan bertumbuh maksimal secara rohani kalau hanya menjadi "penonton yang pasif" atau "kutu loncat". (Efesus 4:16)
  3. Tubuh Kristus membutuhkan setiap kita, setiap kita memiliki peran yang unik dalam gereja, itulah yang disebut "pelayanan". Untuk itu Tuhan telah telah memberikan karunia-karunia rohani (1 Korintus 12:7). Perhatikan kata "church". Dua gabungan huruf CH. CH tidak ada artinya tanpa UR (you are).
  4. Dengan terikat pada sebuah gereja kita pun lebih dimungkinan untuk berperan serta dalam meneruskan misi Tuhan Yesus di dunia. Misi Tuhan Yesus tidak berakhir dengan kenaikan-NYA ke Surga, tetapi diteruskan oleh gereja. (Efesus 2:10)
  5. Keterikatan dengan sebuah gereja akan membantu menjaga kita dari kemunduran. Tidak ada yang bebas dari pencobaan. Siapa pun bisa jatuh ke dalam dosa. Kita diberi tanggung jawab sebagai pribadi untuk saling menjaga (Ibrani 3:13).

Sumber :
  • Rick Warren, The Purpose Driven Life, Kehidupan yang Digerakkan Oleh Tujuan, Gandum Mas, 2005.
  • Joshua Harris, Stop Dating the Church!, Menghentikan Kebiasaan Berpindah-pindah Gereja dan MEnjadi JEmaat yang Berkomitmen, Gloria Graffa, 2007
  • Renungan Harian Edisi Mei, 2008.

Misteri Alkitab

This is pretty strange how it worked out this way. Even if you are not religious, you should read this.

Cukup mencengangkan bgm mungkin semua ini bisa terjadi. Walau Anda tidak cukup religius tetap harus baca ini.


Q: What is the shortest chapter in the Bible?
A: Psalm 117

Tanya: Apa Bab yg paling pendek di Alkitab ?
JWB: Mazmur 117

117:1. Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
117:2 Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!


Q: What is the longest chapter in the Bible?
A: Psalm 119

Tanya: Apa Bab terpanjang di Alkitab ?
Jwb: Mazmur 119, ada 176 ayat


Facts: There are 594 chapters before Psalms 118. There are 594 chapters after Psalms 118. Add these numbers up and you get 1188.

Fakta : Ada 594 Bab sebelum Mazmur 118 dan ada 594 Bab lagi setelah Mazmur 118. Jumlahkan angka-angka ini (594+594) dan Anda mendapatkan 1188


Q: What is the centre verse in the Bible?
A: Psalm 118:8

Tanya: Ayat mana yang merupakan titik tengah di Alkitab ?
Jwb: Mazmur 118:8

118:8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia.


Does this verse say something significant about God's perfect will for our lives? The next time someone says they would like to find God's perfect will for their lives and that they want to be in the centre of His will, just send them to the centre of His Word!

Apakah ayat2 tersebut tidak mencerminkan kesempurnaan kehendak TUHAN untuk hidup kita? Lalu orang sering kali berkata mereka selalu ingin mencari kehendak TUHAN untuk hidup mereka, dan bahwa mereka ingin berada di dalam kehendakNya, bacakanlah titik tengah dari FirmanNya!


Psalms 118:8 (NKJV)
"It is better to trust in the LORD than to put confidence in man."

Now isn't that odd how this worked out… or was God in the centre of it? Before sending this, I said a prayer for you. Have you got a minute — 60 seconds for God? All you do is simply say a small prayer for the person who sent you this to you.

Mazmur 118:8 :
“Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia”.

Nah, mengherankan bukan, bagaimana hal itu bisa terjadi. Atau memang TUHAN yang melakukan? Sebelum mengirim ini, aku berdoa untukmu. Punyakah semenit untuk TUHAN? Anda hanya perlu hal sederhana, ucapkan doa kecil untuk orang yang mengirimkan ini.


"Father God, bless my friend in whatever it is that you know he or she may be needing this day! May their life be full of your peace, prosperity, and power as they seek to have a closer relationship with You. Amen."

Bapa, berkati temanku, dalam keadaan apapun, cukupkahlah keperluan mereka akan hari ini, penuhilah hidup mereka oleh damai-sejahteraMu, dan kuasaMu sebagaimana mereka selalu rindu berada di dekat Mu. Amin.


Send it to other people. Within hours, they have prayed for you, and you caused many people pray to God for other people. Then sit back and watch the power of God at work in your life for doing the thing that you know He loves.

Kirimkan ke teman, dalam beberapa jam teman kamu telah berdoa untukmu dan Anda telah membuat banyak orang berdoa utk orang lain, lalu nantikan Kuasa TUHAN bekerja dalam hidupmu untuk melakukan sesuatu sesuai dg kehendakNya.


When things get tough, always remember, faith doesn't get you around trouble, it gets you through it!

"When you relinquish the desire to control your future, you obtain happiness."

Dalam berbagai hal kuatlah, dan ingatlah, Iman tidak mendatangkan masalah, iman membuatmu dapat mengatasi masalah!

“Bila Anda tidak kuatir akan masa depan, maka Anda akan merasa bahagia.”


May God bless you!
TUHAN memberkati !

The Power of Two

Today's Scripture

“Two are better than one… If one falls down, his friend can help him up” (Ecclesiastes 4:9-10).

Today's Word from Joel and Victoria

God likes two together. The Bible says in Matthew 18 that there is power when two or more pray in agreement. One can put a thousand to flight, but two can put ten thousand to flight! Where there are two or more gathered in His name, God is there. And just like Jesus sent the disciples out in pairs of two to fulfill their mission, God will send a friend or partner to come along side you to help you fulfill your life’s mission. You may not see that special friend or partner right now; but remember, you are never alone because you and God are a majority. Why don’t you step out and be that friend that someone needs today. Is there someone in your life that you can reach out to and offer encouragement and support? Can you be that friend that helps someone when they fall? Sometimes a simple phone call or note of encouragement is all it takes. Be willing to support your friends. Get behind their dreams and encourage them to press forward. As you sow those seeds of hope and faith, God will bring people in your life to encourage you, too, and you’ll move forward in victory all the days of your life.

A Prayer for Today

Father God, thank You for the privilege to come before Your throne. Thank You for empowering me by Your Spirit. I ask that You show me ways to be a blessing and encouragement to the people around me. In Jesus’ Name. Amen.

Source : Joel Osteen Ministries

Tetaplah Berpaut

Bacaan : Yesaya 40:27-31

Puisi terkenal berjudul Foot Prints berkisah tentang seseorang yang tengah berjalan bersama Tuhan di sebuah pantai. Ketika menoleh ke belakang, ia melihat dua pasang jejak kaki; sepasang jejak kakinya, sepasang lagi jejak kaki Tuhan. Lalu ia menemukan, pada masa-masa berat dalam hidupnya, ternyata jejak kaki itu hanya tinggal sepasang. Ia pun memprotes, "Tuhan, pada masa-masa berat dalam hidupku, mengapa Engkau justru meninggalkan aku?" Tuhan menjawab, "Aku tidak pernah meninggalkanmu. Jejak kaki itu hanya sepasang karena Aku sedang menggendong kamu."

Umat Israel dalam bacaan kita juga tengah mengalami masa-masa yang berat. Mereka harus kehilangan tanah air dan hidup sebagai bangsa "buangan" di negeri asing. Begitu berat rasanya hidup yang mesti dijalani hingga mereka merasa, "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku" (ayat 27). Namun, benarkah Tuhan telah meninggalkan mereka? Tidak. Tuhan tidak pernah berhenti memerhatikan mereka (ayat 28); juga memberi kekuatan dan semangat (ayat 29). Kuncinya: tidak bersandar pada kekuatan sendiri (ayat 30), dan tetap berpaut kepada-Nya (ayat 31).

Jadi, apabila hidup kita menjadi sulit; beban hidup menekan hebat, kesusahan terus menghantam, dan kita seolah-olah berjalan di lorong gelap tak berujung, janganlah berkecil hati. Tetaplah berpaut kepada-Nya. Kasih-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anak kandungnya (Yesaya 49:15). Benar, Dia tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tidak akan pernah mengecewakan. Pasti -AYA

TUHAN TIDAK MENJANJIKAN JALAN HIDUP YANG MULUS
TETAPI DIA MENJANJIKAN KEKUATAN

SABDA.org