Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 February 2008

Tetap Percaya Walau Goyah

Mazmur 13

Seorang hamba Tuhan pernah berpesan agar jangan pernah mengandalkan perasaan karena perasaan berubah-ubah sesuai situasi. Sebaliknya, kita harus berpegang teguh dalam iman kepada fakta bahwa Tuhan penuh kasih dan setia. Namun tidak dapat disangkal bahwa perasaan seringkali begitu mendominasi sebagian anak Tuhan sehingga fakta-fakta iman kabur bahkan menghilang.

Itulah yang dialami pemazmur. Perasaan kuat yang mendominasi dirinya adalah Tuhan melupakan dan mengabaikan dirinya sama sekali. Sampai empat kali ia berseru kepada Tuhan, "Berapa lama lagi?" (ayat 2-3). Tuhan seakan membisu, tidak peduli dan masa bodoh kepadanya. Perasaan-perasaan yang bukan sesaat atau sementara, tetapi yang terus-menerus dirasakannya secara manusiawi membawanya pada depresi dan bahaya kehilangan iman. Kata "goyah" yang dipakai di ayat 5 kurang kuat untuk menggambarkan goncangan bak gempa bumi atau tsunami yang membongkar hancurkan segala sesuatu sampai ke dasarnya. Perasaan tertekan itu makin kuat ditambah cemoohan para musuh dan sorak-sorai para lawan yang melihat si pemazmur tanpa daya dan sedikit lagi hancur (ayat 3b, 5).

Namun justru dalam kegoncangan dahsyat seperti itu, iman pemazmur bangkit. Bukankah seruan "putus asa" yang ditujukan kepada Tuhan merupakan tanda iman yang pantang menyerah apalagi mati (ayat 4)? Kepastian iman bukan lahir dari kekuatan mental ataupun berpikir positif, melainkan anugerah dari Tuhan sendiri yang kasih setia-Nya tidak pernah berakhir dalam menjawab umat-Nya (ayat 6).

Saat putus asa melanda hidup Anda karena merasa Tuhan tidak kunjung menjawab, saat itulah Anda perlu berseru seperti pemazmur. Ingat segala kebaikan Tuhan pada masa lampau. Tolaklah segala hasutan Iblis bahwa Tuhan sudah melupakan Anda. Lawanlah godaan untuk berpaling pada alternatif lain. Yakinlah bahwa Tuhan akan membuat Anda bersorak karena penyelamatan-Nya berlanjut!

Saatnya Untuk Menari

Julie MeyerKunjungan Julie Meyer: Julie Meyer adalah pemimpin puji-pujian pada International House of Prayer / Rumah Doa Internasional, di Kota Kansas sejak tahun 1999.

Tuhan datang padaku dan berkata, "Ku-mau engkau bertemu sahabat-sahabat-Ku." Saya bersukacita dan berpikir bahwa akan bertemu Yesaya, Yeremia, Petrus, Zacharia, Musa. Dia memegang tanganku dan kamipun terangkat terbang ke liling langit, seperti film Karton loop to loop. Saya tak takut walaupun berada sangat tinggi dari tanah. Kami berkeliling dan dapat kurasakan terpaan angin lembut di-wajahku. Dapat kurasakan tangan-Nya memegang tanganku dan sangat tinggi dari permukaan tanah dan senang merasakan angin pada wajahku. Saya tak takut, dan terus memegang tangan-Nya. Tiba-tiba kulihat wajah-Nya berubah. Dia menatap sesuatu pada bumi dan kamipun mulai menurun. Ku-pandangi Dia, pada wajah-Nya dan dapat kulihat mata-Nya, wajah yang penuh kepastian. (Yesaya 50:7 Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu)

Kuterus berpikir bahwa kami tak akan menabrak tanah, tetapi kulihat wajah-Nya dan ada ketentuan pasti di wajah itu dan kurasakan sesuatu yang mengerikan muncul padaku, walaupun tangan-Nya kupegang. Kami tetap terbang menuju ke-bumi dengan kepala tertuju ke-tanah dan Dia terlihat seperti tak akan berbalik. Tiba-tiba kami menabrak dan masuk terus kedalam tanah. Kurasakan gumpalan. Seperti menonton filem aksi. Dapat kudengar suara meledak disekeliling kami seperti suara saat berdiri disamping pesawat roket yang siap meluncur. Sangat mengekak-kan. Kami masuk tembus kebumi dan wajah Tuhan tak pernah menoleh kekanan atau kekiri; sangat pasti, kedepan. Dapat kulihat dengan mataku saat mendekat kebumi,menabrak tanah dan ledakan itu saat kami melaluinya. Dapat kulihat bumi, batu, air, api yang bernyala dan kurasakan seperti tersengat dan kulit-ku seperti terbakar. Saya sungguh merasakan batu-batu dan bumi yang merobek kulitku seolah-olah terjadi pada-ku. Dapat kurasakan kesakitan yang sangat dalam mimpiku.

Starving ChildrenTiba-tiba kami menembus keluar bumi dan berada ditempat lain. Saya berdiri disana dan kulihat tubuhku yang terkelupas, kulitku terkelupas, dan sangat menderita karenanya, tetapi semuanya itu bukan tentang saya. Yesus memandangku, dekat pada wajahku, mata dengan mata, dan Dia berkata, "Ku-mau engkau bertemu teman-teman-Ku." Saya menangis kesakitan. Dan berpikir pasti Dia akan mengerti betapa sakit kulitku yang terluka dan terkelupas, tetapi Dia tidak melakukannya. Ku-lihat sekelilingku dan kulihat tempat yang ramai. Saya tak pernah berada disana sebelumnya, namun kutahu tempat itu India. Bau yang menyebalkan dan banyak orang dimana-mana ,saya mengikuti Tuhan. Dia tak menoleh pada-ku. Seolah-olah IA mau ku-rasakan kesakitan dan luka pada kulitku. Banyak anak-anak yang kulihat disana-sini.

Ada anak-anak perempuan cantik ter-kurung dan Tuhan sertai mereka masing-masing. Dia hanya berdiri disana bersama mereka. Mereka di-lupakan dunia merekalah yang Tuhan sebutkan sahabat-sahabat-Nya. Kulihat anak-anak kecil terbaring ditanah dengan lalat-lalat pada kulitnya, dan kulihat mereka meninggal saat dikehidupan yang keji ini dan saat terbangun, Tuhan-pun ada disana, bagi tiap-tiap mereka, Dia ada disana. TAK SATU-PUN dari mereka yang terlupakan dimata-Nya, tak satupun.

Sedih kulihat, bersamaan dengan rasa sakit di-tubuhku, membuatku menangis. Tuhan berdiri dihadapanku, kupikir pasti Ia mengenaiku saat ini, Ia pasti melihat penderitaan-ku, namun Ia berkata, "Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku." Saya tak sanggup. Berada disana melihat anak-anak meninggal, ibu-ibu yang menarik nafas terakhir, penyakit-penyakit menyebar, dan anak-anak perempuan kecil dijual dan Tuhan terus menerus berkata, "Sampai hatimu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku. Engkau tak mengenal-Ku”. Lalu saya tenggelam dalam tangisan, kejutan terjadi, Tuhan memandang wajahku, mata bertemu mata lalu berbisik, "Saatnya untuk menari." Ia berbicara seperti itulah senjata rahasia-Nya, Menari…

Tuhan menari, kaki-Nya dihentakkan. Kaki sempurnah yang menyatakan luka-luka kematian dan kehidupan sedang menari dengan ritmenya, detak suku-suku, Kaki-Nya menghentak ketidak-adilan. Tarian yang sangat dasyat dan hentakkan kaki yang pernah kusaksikan. Menonton Tuhan sendiri, bekas luka oleh pengasihan menari diatas ketidak adilan atas sahabat-sahabat-Nya. Ia berkata, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat menjadi dua, kau tak kenal sahabat-sahabat-Ku. kau tak mengenal-Ku."

Aborted BabiesLalu tanganku dipegang dan kami pergi menuju pusat bumi, kurasakan sakit pada kulitku dan kulit yang terkelupas serta daging yang tersayat dari tulangku dan suara ledakkan saat kami melalui bumi. Tiba-tiba kami berada di ruangan Dokter di RS. Awal Pikiran-ku adalah sakit tubuhku. Kurasa seperti tak ada kulit pada tulangku, seperti semuanya terkelupas. Dia berkata, "Ku-mau kau temui sahabat-sahabat-Ku." Ku-lihat tempat sampah terisi bayi-bayi mungil. Dapat kulihat kepala dan tangan dan kaki-kaki mungil mengisi tempat-tempat sampah. Beberapa masih hidup dan bergerak, kulitnya terbakar, beberapa kepala diantara mereka hancur, beberapa lagi utuh, mata terbuka dan menatap. Saya terkejut. Tuhan menatap-ku dan berkata, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat seperti dagingmu, kau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku, inilah sahabat-sahabat-Ku. Mereka-lah sahabat-sahabat-Ku." Saya melihat saat bayi dipegang melalui kakinya dan dibuang pada tempat sampah, bayi utuh. Dapat kurasakan pikiran Tuhan.

"Oh kesunyian di bumi, mereka terlihat seperti dilupakan. ENGKAU TAK DILUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN! ENGKAU TAK TERLUPAKAN!”

Sunyi di bumi, namun suara mereka terdengar di telingah sang Bapa, Allah Maha Tinggi. Jeritan-nya tak terhenti dikoridor Surga. Terdengar pagi dan malam, malam dan pagi, tangisan mereka MENARIK PERHATIAN SURGA. SELURUH PERHATIAN TERTUJU PADA MEREKA, telinga ALLAH MAHA TINGGI. Saya menjerit. "KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU. KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU Engle! KAU TAK MELAKUKAN INI UNTUK GAGAL, LOU!"Ku-lihat di-koridor Surga dan bahwa nama Lou Engle dikenal. Lou kenal sahabat-sahabat Tuhan. Ku-dengar tangisan bayi-bayi terus-menerus melalui koridor Surga, terlihat hening di bumi, yang terlupakan oleh bumi, namun tangisan mereka mendapat telingah Bapa dan pagi dan malam serta malam dan pagi menangis bagi keadilan di bumi, menangis bagi keadilan mereka yang telah mengambil kehidupan-nya. Namun diseberang sana MEREKA BERSUARA!! Pagi dan malam serta malam dan pagi menangis akan keadilan di bumi dan MEREKA mendapat TELINGA SANG BAPA! Dan lagi, Tuhan memandangi-ku dan berkata, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat seperti daging-mu saat ini, kau tak mengenal Sahabat-sahabat-Ku,kau tak mengenal-Ku."

Saya menangis lalu Tuhan memandangku, dekat di-wajah-ku, dan berbisik, "Saatnya untuk menari." Dia memulai "Tarian Baru" dengan kaki yang sempurna yang telah menapak bagian bumi tertinggi, sekarang kaki-kaki tersebut menari dan berdetak, tepat diantara Klinik pengguguran bayi. Sangat dasyat. Di-saat saya sangat terluka Tuhan akan berkata, "Saatnya untuk menari. Saatnya untuk berperang, menari ialah berperang." Dia mendetak-kan kaki, dengan ritme baru, detak-kan kaki-Nya. Bukan dua langka, hanya mendetak-kan kaki pengadilan akan ketidak-adilan, dengan kaki-Nya sendiri Ia Berkata, "Hanya nantikan saja hingga seluruh bumi bergabung dengan-Ku dalam tarian ini, beberapa telah bergabung dengan-Ku dan Aku membuka undangan namun engkau hanya menari saat hati-mu sangat terluka dan tersayat."

Lalu Ia datang pada-ku dan berkata, "Aku-mau engkau bertemu beberapa dari sahabat-sahabat-Ku." Dan kami-pun pergi melewati pertengahan bumi, lagi-lagi. Saya hampir tak dapat berdiri. Hati-ku hancur. Kulit-ku tersayat. Kulihat kebawah dan terlihat seperti kejatuhan Bom disampingku. Kami berjalan dijalan yang sangat ramai. Dia berjalan didepan-ku sedang saya dalam kesakitan yang sangat, ingin sekali agar Ia berjalan perlahan, namun bukan mengenai-ku. Dia mau saya merasakan penderitaan, sebab Ia mau hati-ku MENGENAL penderitaan, memeluknya dan memilikinya sebagai milik-ku. Dia menunggu-ku berjalan disamping-Nya. Tempat ini Israel. Saat yang lain kulihat Dia menyondong pada seseorang, seolah-olah berkata, "Hello" atau "Syalom". Dia tak berbicara, Hanya menyondongkan kepala. Dia memandang mata mereka dan menyondongkan kepala-Nya dan kulihat orang yang didatangi-Nya, mata mereka membesar. Ku-lihat juga hati mereka dan ku-lihat nyala terang. hanya sesaat, Yesus membuka hati mereka dan mereka dapat MELIHAT DIA, sebagai Yesus, Mesias. Saya dapat melihat kedalam mereka saat kami berjalan dijalan Yerusalem disaat dimana tiba-tiba mata hati mereka Dibuka oleh Tuhan dan nyala terang mulai bersinar dalam hati mereka.

Beberapa orang diantara mereka ku-tahu mempunyai wewenang, Pemimpin-pemimpin Yahudi dalam golongan Yahudi Rabbi-Rabbi. Dapat ku-lihat sejenak Tuhan membuka mata mereka; Ku-lihat Tuhan menampakkan diri-Nya. Dia menampakkan diri-Nya kepada beberapa Rabbi-Rabbi di daerah itu, dan hanya dalam sekejap, Api penglihatan ini mulai membakar hati mereka, dalam sekejap mata hati mereka terbuka. (Masmur 102:17 Bila Tuhan sudah membangun Zion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.)

Kami mengikuti Rabbi-Rabbi ini kekamar atas mereka dan saya melihat mereka jatuh berlutut dan menangis, “Ini merubah SEMUANYA. Ini merubah SEMUANYA.” Saya dapat melihat Tuhan berdiri dan meniup api dalam hati mereka dan sedikit demi sedikit mulai menyala tak terkendali. Saya melihat api dalam hati mereka menjadi seperti 'Api yang menutup kulit mereka." Ku-lihat api ini terus menyala hingga hari yang ditentukan tiba saat Rabbi-Rabbi ini tak dapat menahan lagi dan mereka akan berteriak di atas gunung-gunung, "Yeshua adalah Mesias.. YESHUA ADALAH MESIAS!" Saya sebenarnya sedang berpikir bagaimana kami berdoa dalam kumpulan doa kami di Kota Kansas, bahwa Tuhan Yesus akan muncul, dalam kemuliaan-Nya. Dia sungguh,sungguh mulia.

Wailing WallSaya menoleh dan saat pertama kali kupandang wajah Yesus dan air mata yang jatuh di pipi-Nya dan ku-dengar IA berkata, "Oh Yerusalem, Oh Yerusalem." Kurasakan dihatiku belas kasihan dan cinta yang dimiliki-Nya bagi Israel. Dan kurasakan sakit hati kekasih itu ketika tak ada yang mencinati-Nya sebagaimana Cinta-Nya pada Israel dan Ia memandang-ku, dan berkat lagi, "Sampai hati-mu terluka dan tersayat, sama seperti kulit-mu, engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku. Engkau tak mengenal-Ku." Dalam hatiku Kurasakan cinta-Nya yang mendalam bagi Israel. Seperti Yakub mencintai Rahel, Elkana mencintai Hannah, namun belas kasih-Nya menyeluruh lebih dari cinta alami. Saya menangis dan air mataku membasahi luka didaging-ku, walaupun demikian saya tak dapat berhenti saat saya berpikir bahwa saya tak sanggup lagi, dan terjatuh di lantai, Dia berbisik, "Saatnya untuk menari."

Tiba-tiba kami berada di tembok duka dan Tuhan memulai lagi, hentakkan kaki, menghentak, ritme ini, tarian ini dengan kaki sempurnah-Nya, tak pernah kulihat sebelumnya. Selalu terjadi pada saat saya merasa terluka dan berduka Tuhan akan berkata, "Saatnya untuk menari." Saya dapat merasakan kehadiran Kuasa dan Kuasa tarian ini, menari karena ketidak-adilan. Oh alangkah indah-nya menyaksikan saat Anak Allah menari dengan kaki sempurna berputar dan berdansa atas ketidak-adilan. Yesus terus mengatakan, "Saatnya untuk menari.Saatnya untuk menari." ada tarian baru yang muncul, yang muncul pada saat kita menyembah-Nya dan hati kita bagi bumi yang hina ini, bagi mereka yang terlupakan, namun yang disebut Tuhan sahabat-sahabat-Nya dan saat hati kita sungguh hancur, SAAT ITULAH saat menari. Oh alangkah indahnya saat RAJA segala raja, Hakim seluruh bumi dan kaki sempurnah yang berbekas luka pengasihan, mulai berdansa dan menghentak-kan ketidak-adilan.Sebuah tarian bermakna. Hentakkan kaki bermakna! Saatnya menari. Dan kutahu dalam mimpi-ku dimana kami berjalan di Yerusalem, terus keatas puncak tembok duka, dimana Ia memulai tarian-Nya. Saya tahu bahwa Ia telah menampakkan diri-Nya pada, Orang-orang penting dalam golongan Yahudi, bahkan Rabi tertinggi dalam golongan Yahudi, ditengah-tengah tarian-Nya, kulihat mata mereka terbuka. Dapat kulihat kedalam hati. hati mereka mulai bergejolak. Kulihat Tuhan menaruh dalam hati mereka, "pengenalan" bahwa Dia-lah Mesias itu. Saatnya telah pasti ketika Rabi-Rabi tertinggi ditentukan di bumi, waktu Tuhan – Dia akan mengaduk hati mereka dan hati mereka akan bergejolak dan mereka berlari ketempat tertinggi di Yerusalem dan berseruh keseluruh Yerusalem, Yeshua adalah Mesiash. Yeshua ADALAH MESIAS!

Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama Tuhan. Saat ini, mereka menyembunyikan-Nya dan menanyakan diri mereka sendiri jika hal itu sungguh-sungguh terjadi. Telah ditentukan saatnya dan hari-hari ke-depan, Dia sedang menampakkan diri-Nya dan membuka mata hati manusia dan menyalakan api dalam tulang-tulang itu. Kulihat Rabi-Rabi ini melonjak dengan Firman Tuhan, menyatakkan penampakkan-Nya. Sedang terjadi. Saatnya telah ditentukan. Sedang terjadi hari ini.

Yeremiah 20:9 Tetapi apabila Aku berpikir, "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan Firman lagi demi nama-Nya,"maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti menyala-nyala,terkurung dalam tulang-tulangku.

Kemudian, Tuhan berkata lagi, "Sampai hatimu tersayat dua dan hatimu terbelah dua, seperti dagingmu,engkau tak mengenal sahabat-sahabat-Ku."

The Window

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour a day to drain the fluids from his lungs. His bed was next to the room's only window. The other man had to spend all his time flat on his back.

The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation. And every afternoon when the man in the bed next to the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window.

The man in the other bed would live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the outside world. The window overlooked a park with a lovely lake, the man had said. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Lovers walked arm in arm amid flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance. As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene.

One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man could not hear the band, he could see it in his mind's eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words. Unexpectedly, an alien thought entered his head: Why should hehave all the pleasure of seeing everything while I never get to see anything? It didn't seem fair. As the thought fermented, the man felt ashamed at first. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He began to brood and found himself unable to sleep. He should be by that window - and that thought now controlled his life.

Late one night, as he lay staring at the ceiling, the man by the window began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room, he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running. In less than five minutes, the coughing and choking stopped, along with the sound of breathing. Now, there was only silence--deathly silence.

The following morning, the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendant to take it away--no words, no fuss. As soon as it seemed appropriate, the man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone.

Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall.

Sahabat Sejati

Pada suatu hari di sebuah kota, tinggallah dua orang bersahabat. Mereka bersahabat sudah dari sejak kecil. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, bermain bersama, saling mengerti dan saling memahami satu dengan yang lain. Pendeknya mereka bersahabat sangat baik dan semua masalah diselesaikan mereka berdua baik-baik.

Pada suatu hari, ketika mereka sudah dewasa, keduanya memiliki pasangan hidup dengan lelaki yang sama-sama disukai oleh mereka berdua. Sahabat yang satu sangat mencintai lelaki itu namun sahabat yang lain tidak mengetahui bahwa sahabatnya telah lebih dahulu jatuh cinta dan akhirnya mereka bertengkar mulut dan pertengkaran mulut itu berakhir pada suatu perpecahan. Singkat cerita mereka tidak lagi bersahabat.

Kemudian setelah beberapa tahun salah satu dari sahabatnya sakit keras dan ginjalnya tidak berfungsi lagi serta harus menjalani cuci darah. Sedangkan dia adalah orang yang kurang mampu. Kemudian teman-teman dari gerejanya datang membantu, mereka turut prihatin dengan keadaannya dan mereka memberitahukan keadaannya pada sahabatnya. Sahabatnya masih dongkol, kesal dan marah namun sahabat ini sedih melihat keadaan sahabatnya yang terbaring sakit dan akhirnya sahabat ini memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya untuk sahabatnya yang sedang sakit ini. Akhirnya sahabat yang sakit ini lama kelamaan pulih dan sembuh dari sakitnya. Sahabat yang sakit ini pada suatu hari berkata kepada sahabatnya, "Sahabatku, maafkan aku selama ini, aku sudah membuatmu berduka, aku bukan sahabat yang baik buatmu." Lalu kemudian sahabatnya berkata kepada sahabatnya yang sakit, "Sudahlah, tidak usah dipikirkan masalah lalu, biar bagaimanapun aku tetap adalah sahabatmu dan kita akan tetap bersahabat sampai mati."

Setiap orang di dunia ini tentunya menginginkan seseorang sahabat yang bisa menjadi sahabat yang baik baginya. Seseorang dalam hidupnya membutuhkan penghargaan dan kasih dari sahabatnya. Namun, tidak semua orang bisa menjadi sahabat sejati. Amsal 17:17 mengemukakan tentang ciri-ciri seorang sahabat sejati yaitu menaruh kasih setiap waktu, baik suka maupun duka, dan bisa menjadi seorang saudara dalam kesukaran (bisa memahami dan ikut berempati dengan kesusahan sahabatnya).

Tidak ada orang bisa menjadi sahabat sejati, namun Alkitab memberikan contoh sahabat yang baik yaitu antara Daud dan Yonatan yang tetap mengasihi dalam suka maupun duka dan tetap menjadi sahabat dalam keadaan terjepit sekalipun. Inilah contoh sahabat yang cukup baik menurut Alkitab. Namun kalau kita perhatikan, berbeda dengan sahabat-sahabat Ayub pada saat kesusahan Ayub, mereka meninggalkan Ayub dan menyalahkan Ayub bukan menghibur dan menguatkan Ayub. Demikian juga dengan sahabat dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15) , sahabat-sahabatnya meninggalkannya saat dia berada dalam kesusahan bukan menghibur dan menguatkannya.

Namun kita mempunyai sahabat yang baik seperti Tuhan, tidak ada satu manusiapun yang menjadi sahabat yang baik bagi sahabatnya akan tetapi Tuhan ketika kita dalam suka dan duka dia adalah sahabat kita, tempat kita mengadu, tempat kita bersandar (Amsal 17:17; Yohanes 15:15). Amin!


Ditulis Oleh : Margareth Linandi

Berkorban Itu Indah

Musim hujan sudah berlangsung dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa kabar daun hijau", katanya.Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?”, tanya daun hijau. “Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?”, kata ulat kecil.

“Tentu… tentu… mendekatlah kemari.” Daun hijau berpikir, ”Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlobang2. Tapi tak apalah.”

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana-sini namun ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah,disapu orang dan dibakar.


Renungan :
Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang2 yang masih mempunyai ”hati” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban,diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan suatu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai “daun hijau”. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan2 baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukaciti tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? Jadi ulat kecil yang menerima kabaikan orang atau manjadi “daun hijau” yang senang memberi?

Ingatkah kita pada perempuan miskin yang di tengah ketidakpunyaannya justru ia memberi semua yang dipunyainya? Ingatkah kita akan ”lebih baik memberi daripada menerima”?

Sudahkah pernah anda rasakan kesenangan yang “daun hijau” rasakan pada saat ia memberi daunnya untuk si ulat kecil? Bisakah anda bedakan rasa yang akan anda rasakan bila: anda punya, maka anda memberi dan anda tidak punya, tetapi anda memberi??

Anda punya dan memberi, itu sudah biasa, sudah umumnya, sudah tidak heran, tapi anda tidak punya, justru anda memberi lebih itu luar biasa, itu sungguh aneh bagi orang, itulah KASIH.

Prayer

The prayer:

Father, I ask You to bless my friends, relatives and those that I care deeply for, who are reading this right now. Show them a new revelation of Your love and power.

Holy Spirit, I ask You to minister to their spirit at this very moment. Where there is pain, give them Your peace and mercy. Where there is self-doubt, release a renewed confidence through Your grace. Where there are needs, I ask you to fulfill their needs. Bless their homes, families, finances, their goings and their comings. In Jesus' precious name.

Amen.

Choose Peace

Today's Scripture

“Strive to live in peace with everybody and pursue that consecration and holiness without which no one will [ever] see the Lord” (Hebrews 12:14).

Today's Word from Joel and Victoria

Holiness is so important to God. The Bible says that holiness is the key to seeing the Lord. When you obey the Word of God and allow Him to work in your life, you are pursuing holiness. You will see the Lord working in your life. Notice this verse starts by saying that we should live at peace with the people around us. When we have peace in our lives, in our homes, and in our relationships, it opens the door for God to work. But when we have strife, bitterness, anger or resentment in our relationships, it blocks God’s blessing. Remember, when it comes to disagreements in relationships, it doesn’t always matter who is right, it matters what is right. And choosing peace is right. Is there someone in your life today that you need to restore peace with? A simple act of kindness, a note or small gift, can open the door for restoration in your relationships. Step out today and let the peace create a foundation for the blessing God has in store for you!

A Prayer for Today

Father in Heaven, today I open my heart to You. I choose Your way of peace. Show me how to live at peace with the people in my life so that I can honor You in everything I do. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

27 February 2008

Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Humor: Persembahan

Pada saat kotak persembahan diedarkan, ia dengan segera membuka dompetnya dan memasukkan seribu rupiah ke dalam kotak persembahan itu.

Tiba-tiba, seorang bapak yang duduk dibelakangnya menepuk pundaknya dan memberikan uang 100 ribu kepada remaja itu. Remaja
itu tersenyum, memasukkan uang 100 ribu itu ke dalam kotak persembahan, dan menatap sekilas dengan rasa kagum pada bapak yang sangat pemurah itu.

Tak lama kemudian Bapak dibelakangnya kembali menepuk pundaknya dan dia mendengar bisikan dari arah belakang,

"Nak, uang 100 ribu itu tadi jatuh dari dompetmu."

Aborsi Pada Pandangan Tuhan Yesus

Dari bukunya Surga itu nyata, Choo Thomas menjelaskan apa yang didengar-nya dari Yesus Kristus selama di Surga

SETELAH BERJALAN MELEWATI jembatan emas bercahaya, Tuhan membimbing-ku pada sebuah tempat dimana ada bayi-bayi kecil dan bayi-bayi mungil—banyak diantaranya terlihat seperti baru dilahirkan—mereka di-pelihara. Ruangan yang sangat besar, seperti sebuah gudang, tak mewah atau indah. Di-penuhi dengan bayi-bayi mungil yang telanjang dan terbaring berdekatan satu dengan yang lainnya. “Mengapa banyak sekali bayi-bayi mungil disini?” saya bertanya,

Bayi-bayi mungil dari ibu-ibu yang tak menginginkan-nya. Aku akan Jaga bayi-bayi-nya!Tuhan menjawab-ku.

“Apa yang akan Engkau lakukan terhadap mereka, Tuhan?”

Jika ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat mengambil bayi-bayi mereka kembali.

“Apa yang terjadi jika ibu-ibu mereka tidak diselamatkan? Apakah yang akan Kau lakukan?”

Ibu-ibu lain akan memiliki mereka saat semua anak-anak-ku masuk kedalam Kerajaan.

Lalu saya mengerti bahwa bayi-bayi mungil ini telah di gugurkan dari rahim-rahim ibu-nya, lalu saya menangis. Yesus berteriak, “Aku tidak suka Aborsi!” Suara-Nya dan kelakuaan-Nya bertambah sukar dan marah, saya sadari, setelah itu dan disana, bahwa ini-lah pesan yang segera akan saya bagikan pada siapa saja yang mau mendengarkannya.

Tuhan tidak menyukai Aborsi. Hal itu adalah salah satu dosa terburuk kepada-Nya. Yesus-lah yang mengatakan, Biarkan-lah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan melarang mereka;sebab mereka-lah yang empunya Kerajaan Allah(Markus 10:14). Yesus mencintai anak-anak kecil, dan dapat kulihat belas kasihan yang lembut pada Bayi-bayi Aborsi yang mungil ini sebagaimana saya melihat dan mendengarkan-Nya.”
(Akhir kutipan)

Mem-Fiolasikan pengadilan-Nya, Mem-profokasikan Murka-Nya, Tuhan telah memberikan peringatan setelah peringatan! Anda harus berpegang pada apa yang benar, dan menolak apa yang salah!

Keep the Truth

Today's Scripture

“Guard and keep [with the greatest care] the precious and excellently adapted [Truth]…”

Today's Word from Joel and Victoria

The Truth of God’s Word is a precious treasure entrusted to us. It empowers us to overcome every obstacle. It’s important to keep this Truth in your heart and establish it in your life. How do you establish the Word in your life? When you make a habit of praying and reading God’s Word it becomes more and more alive to you. When you choose to obey it, you are guarding and keeping the Truth. For example, the Bible says that love covers an offense. When you choose to walk in love even when someone has offended you, you are guarding the Truth. When you choose God’s way, instead of the world’s way, you are guarding the truth. Society has so many different ideas of what is right and acceptable. We have to always choose God’s way. And when you choose God’s way, you get God’s results! God’s results include a blessed and happy life. Start today by asking the Lord to show you His Truth by the power of His Spirit. As you keep the precious Truth of God’s Word, you will be empowered to live the life of victory the Lord has in store for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your Truth which sets me free. I invite you to search my heart and mind today and lead me in Your ways. I bless You today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries