Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

02 February 2008

Kisah Sang Bocah

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa, paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan! Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ......?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami. Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta....Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut, ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ...'

"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ...."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ..kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut didepan Gereja.
Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan.apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran... Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya ?"
Ayah Andy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu ...

"Apa yang dia katakan?"

"Dia berkata kepada puteraku.." Ujar sang Ayah
"Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."

Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita didalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa. kecuali dengan Tuhan."

Salam damai Kristus selalu,

He Will Save You

Today's Scripture

“…Surely this is our God; we trusted in Him, and He saved us” (Isaiah 25:9).

Today's Word from Joel and Victoria

Isn’t it good to know that you can trust God today? He is faithful, and He will save you! Save you from what? He’ll save you from anything that you need to be saved from! First and foremost, He’ll save you from the bondage of sin and death and give you eternal life. He’ll save you from fear. He’ll save you from the bondage of debt. He’ll save you from sickness and disease. When you open your heart to trust the Father by obeying His Word, the Bible says that He will save you from all the snares, or traps, of the enemy. If there’s something in your life that you need deliverance from, begin to declare that you trust God to save you. Sing a song of worship and declare His victory in your life today. As you step out and trust Him, He will bring His deliverance to you, and you will move forward into the life of freedom and victory the Lord has in store for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, today I choose to trust You. I know You are a faithful Deliverer. I cast all of my cares on You because I know You care for me. Thank You for saving me! In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

01 February 2008

Running Over

Today's Scripture

“Give, and it will be given to you. A good measure, pressed down, shaken together and running over, will be poured into your lap” (Luke 6:38).

Today's Word from Joel and Victoria

God is a god of abundance! He wants to pour out His abundance on you until you are so full that you are running over with God’s goodness. And notice how this verse starts. It says, “Give, and it will be given to you.” Your giving sets the blessing of God into motion in your life. Giving is like a seed. When you plant an apple seed, it doesn’t just grow a single fruit. That one seed grows a tree that grows an abundance of apples. That’s what happens when you obey God in your giving. You get an abundant harvest in return. And when the blessing is “running over”, you have so much that you have to give more, and the cycle just keeps repeating itself! Is there something the Lord is telling you to give today? It can be financial or material. What do you have in your hand that you can bless someone else with? Take a step today and set the blessing of God into motion in your life. Open the door for His blessing to be running over in your life today!

A Prayer for Today

Father in Heaven, I receive Your Word into my heart today. Thank You for choosing to bless me so that I can be a blessing to others. Show me ways to bless others and teach me to receive all You have for me. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Sejarah Hari Valentine

Di berbagai belahan dunia, orang beramai-ramai mengamini bahwa tanggal 14 Februari adalah hari Velentine. Di Indonesia pun, para warganya turut menyambut gembira datangnya hari kasih sayang ini, meskipun sebenarnya mereka tak tahu pasti mengapa harus ikut merayakan hari tersebut.

Bukankah untuk menunjukkan rasa sayang kita terhadap teman, kekasih ataupun keluarga kita tak perlu menunggu datangnya tanggal 14 februari, kita bisa menunjukkannya setiap hari. Kita juga tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli coklat, bunga dan pernak-pernik lainnya untuk menunjukkan rasa sayang kita, cukup dengan perhatian yang tulus.

Terlepas dari itu semua, marilah kita kupas secara detail keistimewaan hari Valentine yang kedatangannya selalu membuat dunia menjadi serba merah muda. Beberapa para ahli mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan St. Valentine. Ia adalah seorang pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya.

Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksaan 'undian cinta'. Legenda juga mengatakan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : "Dari Valentinemu".

Sementara itu sebuah cerita lain mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi Valentine.

Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar surat cinta dan St. Valentine menjadi idola para pecinta. Datangnya tanggal itu ditandai dengan pengiriman puisi cinta dan hadiah sederhana, semisal bunga. Sering juga untuk merayakan hari kasih sayang ini dilakukan acara pertemuan besar atau bahkan permainan bola.

Di AS, Miss Esther Howland tercatat sebagai orang pertama yang mengirimkan kartu valentine pertama. Acara Valentine mulai dirayakan besar-besaran semenjak tahun 1800 dan pada perkembangannya, kini acara ini menjadi sebuah ajang bisnis yang menguntungkan.

Perlahan semarak hari kasih sayang ini merebak keluar dan menular pada masyarakat di seluruh dunia dibumbui dengan versi sentimentak tentang makna valentine itu sendiri. Bahkan anak-anak kecil pun tertular dengan wabah ini, mereka saling berkirim kartu dengan teman-temannya di sekolah untuk menunjukkan rasa sayang mereka.

Sejarah Hari Valentine

Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan 'Feast of Lupercalia.'

Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.

Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Dibawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.

Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.

Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut.

Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.

Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.

Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini bertepuk sebelah tangan. Para pria enggan terlibat dalam perang. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Hal ini membuat Claudius sangat marah, ia pun segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Ia berfikir bahwa jika pria tak menikah, mereka akan dengan sennag hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Para pasangan muda menganggap keputusan ini sangat tidak manusiawi. Karena menganggap ini adalah ide aneh, St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini diketahui kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tak bergeming dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin, tanpa bunga, tanpa kidung pernikahan.

Hingga suatu malam, ia tertangkap basah memberkati sebuah pasangan. Pasangan itu berhasil melarikan diri, namun malang ia tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis mati. Bukannya dihina, ia malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri penjaga penjara. Sang ayah mengijinkannya untuk mengunjungi St. Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Di hari saat ia dipenggal,14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama ia dipenjara. Diakhir pesan itu, ia menuliskan : "Dengan Cinta dari Valentinemu."

Pesan itulah yang kemudian merubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Tradisi Valentine

-- Selama beberapa tahun di Inggris, banyak anak kecil di dandani layaknya anak dewasa pada hari Valentine. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi.

-- Di Wales, para pemuda akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya pada hari kasih sayang itu. Bentuk hati dan kunci adalah hiasan paling favorit untuk diukir di atas sendok kayu tersebut.

-- Pada jaman Romawi kuno, para gadis menuliskan namanya di kertas dan memasukkan ke dalam botol. lalu para pria akan mengambil sah satu kertas tersebut untuk melihat siapakan yang akan menjadi pasangan mereka dalam festifal tersebut.

-- Di Negara yang sama, para gadis akan menerima hadiah berupa busana dari para pria. Jika ia menerima hadiah tersebut, ini pertanda ia bersedia dinikahi pria tersebut.

-- Beberapa orang meyakini bahwa jika mereka melihat robin melayang di udara saat hari Valentine, ini berarti ia akan menikah dengan seorang pelaut. Sementara jika seorang wanita melihat burung pipit, maka mereka akan menikah dengan seorang pria miskin. Namun mereka akan hidup bahagia. Sementara jika mereka melihat burung gereja maka mereka akan menikah dengan jutawan.

-- Sebuah kursi cinta adalah kursi yang lebar. Awalnya kursi ini dibuat untuk tempat duduk seorang wanita (jaman dahulu wanita mengenakan busana yang sangat lebar). Belakangan kursi cinta dibuat untuk tempat duduk dua orang. dengan cara ini sepasang kekasih bisa duduk berdampingan.

-- Pikirkan lima atau enam nama pria (jika anda wanita) atau lima atau enam nama wanita (jika anda pria) yang ingin anda nikahi. Lalu putralah setangkai apel sambil menyebut nama tersebut satu persatu. Anda akan menikah dengan nama yang anda sebut saat tangkai tersebut lepas dari buahnya.

-- Petiklah sekuntum bungan dandelion yang tengah mengembang. Tiuplah putik-putik pada bunga tersebut, lalu hitunglah putik yang tersisa. Itu adalah jumlah anak yang akan anda miliki setelah menikah.

-- Jika anda memotong sebuah apel pada tengahnya dan menghitung jumlah biji di dalamnya, ini juga bisa menunjukkan jumlah anak yang akan anda miliki setelah menikah.

31 January 2008

My Best Friend

Bila Dia memanggilmu lebih dahulu,
Mohonlah pada-Nya apakah dapat membawa seorang sahabat.

Bila usiamu sampai seratus tahun,
Aku ingin hidup seratus tahun kurang 1 hari,
Jadi aku tak akan merasa hidup tanpamu disisiku.

Persahabatan sejati layaknya arti kesehatan,
Nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.

Sahabat sejati akan tetap bersama kita,
ketika kita merasa seisi dunia meninggalkan kita.

Ayahku selalu berkata,
Bila kamu memiliki banyak sahabat sejati,
maka kamu akan memiliki kehidupan yang indah.

Jika seluruh sahabatku melompat ke suatu jurang,
Aku tak akan mengikuti mereka,
Aku akan berada di dasar jurang untuk menangkap mereka.

Aku akan membimbingmu
Dan kau akan membimbingku
Begitu sebaliknya

Persahabatan adalah satu jiwa
Dalam dua raga.

Jangan kamu berjalan di depanku,
Aku tak dapat mengikutimu.
Jangan kamu berada di belakangku,
aku tak bisa memimpinmu.
Berjalanlah disampingku,
jadilah temanku.

Teman mendengarkan apa yang aku katakan,
Sahabat sejati akan mendengar apa yang tidak kamu katakan.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu dalam hatimu,
dan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.

Kita semua memiliki peran yang berbeda dalam hidup ini,
Tapi tak menjadi soal dimana posisi kita akan memiliki arti,
sekecil apapun peran itu.

Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.

Orang asing adalah teman yang menunggu apa yang akan terjadi,
Sahabat sejati seperti penganan dalam mangkuk kehidupan.

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian II

Setelah gempa bumi terjadi di Jogja dan sekitarnya, seluruh jaringan komunikasi mati total. Handphone tidak berfungsi sama sekali. Aku yang baru saja sembuh tidak dapat menghubungi Event Organizer (EO)ku. Kami tidak tahu apakah besok pesta pernikahan yang “once in a life time” dapat tetap berlangsung atau tidak, atau menjadi seperti apa.

Sabtu siang, beberapa saudara ada yang berhasil menelpon, itupun hanya menanyakan : apakah pemberkatan dan resepsi pernikahan kami akan tetap berjalan. Kami hanya bisa berucap, “Ya, ya!” dengan iman.

Sabtu malam itu tanggal 27 Mei 2006, sesuai jadwal Pak Jeffry S. Tjandra datang dari Jakarta untuk mengisi acara dan sekaligus menjadi MC di acara pernikahan kami. Ternyata bandara Adi Sucipto, Jogja, ditutup. Semua penerbangan ke Jogja dibatalkan, karena bandaranya terkena gempa, tidak dapat dipakai untuk mendarat ataupun lepas landas. Sebagai gantinya, semua penerbangan ke Jogja dialihkan ke Solo dan Semarang. Sebagian tamu-tamu luar kota yang akan datang dan sudah membeli tiket terpaksa dibatalkan.

Namun Pak Jeffry S. Tjandra tetap konsisten. Beliau tetap datang walaupun harus lewat Semarang dan kemudian naik bis ke Jogja. Pada Sabtu malam itu kota Jogja gelap gulita karena semua jaringan listrik dipadamkan PLN.

Ya, Tuhan! Malam itu aku dan (calon) suamiku hanya berlutut, menangis dan berdoa. Kami hanya pasrah. Tuhan, kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya mau ikut jalan Tuhan. Bila Tuhan tidak mengizinkan kami menikah besok, Minggu 28 Mei 2006, kami hanya bisa pasrah dan ikut semua rencana-Nya. Tetapi kami percaya Tuhan pasti memberi yang terindah untuk anak-anak yang mengasihi-Nya.

Sabtu malam jam 11 akhirnya kami mengadakan meeting dengan EO untuk membahas dan merevisi ulang semua rencana pernikahan kami untuk keesokannya. Ketika meeting itu saya hanya bisa menangis dan menangis. Entahlah apa yang akan terjadi esok hari.

Meeting selesai pada pukul 3 dini hari, karena begitu banyak hal yang harus kami bicarakan. Jam 4 subuh aku sudah harus pergi ke Salon. Bisa dikatakan beberapa minggu ini kami kurang tidur terus karena harus mengurus pernikahan. Padahal kalau mengingat kondisiku yang baru sembuh dari sakit, seharusnya aku harus banyak istirahat. Tapi kenyataannya kondisinya tidak memungkinkan, mau bagaimana lagi?

Jam 4.30 subuh aku datang ke Salon dengan mata sembab. Pada saat di-make-up pun aku tak kuasa menahan air mataku yang jatuh terus menerus mengalir membasahi pipiku. Dalam hati aku hanya berharap satu hal: jika pemberkatan di gereja dan Catatan Sipil bisa berjalan lancar saja, aku sudah sangat senang karena aku pikir, itulah moment sakralku saat aku diberkati oleh Tuhan dalam pernikahan kudus ini.

Puji Tuhan, semua pendukung acara pernikahanku bisa melaksanakan kewajibannya dan akhirnya kami bisa melewati pemberkatan di Gereja dan acara di Catatan Sipil. Oh, saat itu aku sudah sangat lega dan bersyukur kepada Tuhan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada saat resepsi sore harinya karena Jogjakarta masih dalam kondisi pasca gempa yang mencekam, dimana aliran listrik dan air masih belum berfungsi.

Pada saat acara “Pai Ciu”(salah satu rangkaian acara dalam adat Tionghoa), kami sangat bergembira karena pada saat dikumpulkan ternyata cukup banyak saudara-saudara kami yang datang meskipun di tengah-tengan suasana gempa. Kami sangat bersyukur karena mereka masih tetap mau datang. Setelah Pai Ciu selesai, mereka diarahkan masuk ke dalam Ballroom sambil menunggu acara dimulai. Saat itu kami bertanya kepada EO, kira-kira berapa meja yang telah terisi? Oh, Tuhan! Ternyata baru 10 % dari total meja undangan.

Oh, Tuhan! Di dalam pikiran kami sudah terbayang meja-meja bakal kosong. Tetapi kami sangat memahami mereka yang tak dapat datang, karena mereka mungkin masih trauma akibat gempa kemarin. Mungkin diantara mereka ada yang sudah pergi mengungsi keluar dari Jogja.

Kami kembali pasrah. Namun di dalam hati ini kami sudah sangat sangat bersyukur: di tengah bencana melanda Jogja sekalipun acara pemberkatan pernikahan kami di Gereja dan di Catatan Sipil boleh berjalan dengan lancar.

Satu jam kemudian kami ditelpon oleh pihak Event Organizer (EO) agar mempelai siap-siap untuk turun dari kamar hotel dan memasuki Ballroom. Dengan perasaan berdebar-debar kami bertanya kepada EO berapa jumlah meja undangan yang sudah terisi? Oh, puji Tuhan, 90% terisi, suatu jumlah yang sangat tidak kami bayangkan sebelumnya.

Bahkan Tuhan masih menyatakan mukjizat-Nya. Sepuluh menit setelah mempelai memasuki Ballroom, pihak Hotel harus menyediakan dua meja tambahan. Jumlah undangan yang fantastis dan benar-benar di luar perkiraan kami! Jika kita mau berserah, berharap dan percaya kepada-Nya, mukjizat itu nyata!

Keesokan hari setelah acara pernikahan, kami dikabari bahwa visa tour ke Eropa sudah keluar, padahal sebelumnya tour ini sempat di-cancel karena jumlah peserta kurang. Kami harus berangkat besok lusa. Di saat itu kami berdoa, ”Tuhan kalau memang kami boleh berangkat bulan madu, biarlah aku diberi kesehatan selama tour ini.”

Kami menikmati perjalanan bulan madu ke Eropa dan kami pulang dari Eropa dengan selamat. Bahkan Tuhan menyatakan mukjizat-Nya sekali lagi. Setelah pulang dari Eropa aku baru menyadari bahwa aku telat mens. Ya, ternyata aku positif hamil. Oh, betapa bahagianya!

Terima kasih, Tuhan! Terima kasih untuk semua hal yang boleh kami jalani bersama Engkau! Kami percaya kesaksian ini dapat menguatkan semua orang yang membacanya, untuk kemuliaan Tuhan. (Selesai)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.1

(Kisah nyata campur tangan Tuhan Yesus terhadap sepasang calon mempelai) - Bagian I

“Kami menikah sehari sebelum gempa menimpa Jogja tetapi Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita yang sungguh-sungguh mengasihi Dia. Tuhan Menunjukkan Kemurahan Hati-Nya lewat peristiwa yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang sejarah kehidupan kami”

Namaku Silvia dan suamiku Andri. Kami baru saja menikah, 28 Mei 2006 yang lalu. Tapi sebelum menikah, kami melalui banyak ujian yang datang. Semoga kesaksian ini, bisa menguatkan banyak orang dan mendatangkan kebaikan bagi Pembaca.

Ujian aku alami, datang pertama kali pada saat 2 minggu sebelum pernikahan. Adik kandungku masuk Rumah Sakit, ya adikku menderita demam berdarah (DB) pada saat 2 minggu menjelang pernikahanku. O, Tuhan betapa shocknya aku saat itu, karena selain memikirkan kondisi adikku, aku juga memikirkan kondisi kesehatan kedua orangtuaku tentunya. Karena menjelang pernikahan putrinya, tentu orangtuaku termasuk orang yang sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahanku, ternyata kesibukan orang tua masih harus ditambah dengan masuknya adikku ke rumah sakit, yang tentunya membuat beban pikiran mereka semakin bertambah. Aku sangat mengkuatirkan kondisi orang tuaku, terutama papaku, karena beliau pernah operasi jantung koroner. Tentunya bagi penderita penyakit jantung, beliau tidak boleh dibebani pikiran yang terlalu berat, juga kondisi fisiknya harus tetap dijaga.

O, Tuhan saat itu aku hanya bisa terus berharap agar adik bisa secepatnya sembuh. Tapi ternyata yang terjadi kondisi adikku semakin parah, trombositnya drop terus sampai tinggal 7 ribu, padahal untuk jumlah trombosit orang normal berkisar antara 150-200 ribu. Walaupun sudah diobati dengan obat paling canggih dan paling mahal sekalipun tidak bisa menahan dropnya trombosit adikku. Sampai-sampai dokter yang menangani adikku berkata, kalau kondisinya nge-drop terus, dan kondisi fisik pasien tidak kuat, maka darah akan keluar dari hidung, telinga, dan mulut karena semua pembuluh darahnya bisa pecah dan kalau hal itu sampai terjadi dokter akan angkat tangan karena tidak mampu membantu lagi. O, Tuhan sekali lagi hati kecilku menjerit, tapi satu hal yang pasti, aku percaya kalau mukjizat Tuhan masih terjadi hingga saat ini. Dan aku percaya pertolongan Tuhan pasti akan terjadi tepat pada waktu-Nya.

Akhirnya benar, waktu yang ditunggu-tunggu tiba, beberapa hari kemudian kondisi semakin membaik, adikku berangsur-angsur sembuh, dan lima hari menjelang pernikahanku, adikku bahkan sudah boleh pulang dari Rumah Sakit. Ya, aku sangat bersyukur sekali, walaupun adikku pulang lima hari sebelum aku menikah. Waktu yang sangat mepet tentunya bagi aku sekeluarga untuk kembali mempersiapkan hal-hal yang belum sempat kami urus berkaitan dengan pernikahanku.

Pagi harinya, saat adikku pulang dari rumah sakit, kami sangat senang, oh betapa leganya kita saat itu… Tetapi ternyata itu masih belum cukup Tuhan masih ingin menguji imanku, malam harinya, gantian aku yang menderita sakit, bayangkan, aku yang akan menikah lima hari lagi menderita sakit dengan gejala yang sama seperti adikku, yaitu demam berdarah. O, Tuhan begitu beratnya ujianku saat itu, rasanya aku udah dipangkas habis, aku ingin menjerit, aku sampai tidak punya daya upaya untuk melakukan apapun lagi.

Semua saudara-saudaraku yang mengetahui keadaanku saat itu juga mengatakan hal yang sama, bahwa aku bisa terkena DB atau typus. Pada saat aku cek ke dokter, dokter juga belum bisa memastikan penyebab demam yang mencapai 40° Celcius. Dokter hanya menyarankan aku untuk cek darah lagi 7-10 hari setelah demamku. O, Tuhan, padahal lima hari lagi besok Minggu adalah peristiwa penting dalam kehidupanku, hari yang kutunggu-tunggu dalam sejarah kehidupan, AKU AKAN MENIKAH!!!!

Aku dan calon suamiku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa, kita hanya yakin satu hal, bahwa mukjizat pasti akan terjadi hingga hari ini!! Kami sangat yakin dan mengimani hal itu!!

Ternyata demamku masih belum juga turun, padahal sudah begitu banyak obat dari dokter ataupun obat chinese yang kuminum. Tuhan, aku percaya, aku hanya mengandalkan Engkau dalam setiap perkara yang terjadi. Pada saat seperti ini aku teringat perkataan Jeffry S. Tjandra waktu aku dan calon suamiku menghadiri KKR-nya, dia berkata : “Dalam segala perkara yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan pasti punya rencana yang terindah jika kita mau berserah kepada kehendak-Nya dan percaya kepada-Nya, karena sehelai rambutpun jatuh atas seijin rencana-Nya.” Kita juga percaya bahwa ujian yang boleh terjadi atas kehidupan kita tidak akan melebihi kekuatan kita.

Keesokan harinya, Kamis, demamku masih belum juga sembuh, begitu pula dengan keesokan harinya lagi, tapi satu hal dalam hatiku muncul keyakinan bahwa apapun penyakitku ini Tuhan pasti berikan mukjizat untukku, aku dan (calon) suamiku punya iman kalau nanti pada hari Sabtu aku PASTI SUDAH SEMBUH, dan hari Minggunya pernikahanku pasti akan tetap berlangsung dan berjalan dengan lancar.

Benar, Tuhan menunjukkan MUKJIZATNYA kembali, pada hari Sabtu dini hari tgl. 27 Mei itu aku merasa kondisi tubuhku membaik, bahkan demamku sudah berangsur-angsur hilang. Oh, Praise The Lord, Thanks God ucapku, namun … ternyata Tuhan punya rencana lain yang tidak pernah kami pikirkan akan terjadi. Sabtu pagi itu, pada tanggal 27 Mei 2006, di Jogjakarta terjadi gempa dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan skala 6,2 Richter, yang menewaskan sekian puluh ribu jiwa, meluluh-lantakkan banyak bangunan, gedung dan sebagainya. Membuat hatiku benar-benar shock, Tuhan, apa salahku, dari kecil aku dan calon suamiku bukan orang nakal, bukan orang jahat. Kami juga dari keluarga baik-baik, tapi kenapa kami harus melalui semuanya ini disaat menanti detik-detik menjelang pernikahan… Oh, Tuhan, hatiku hancur saat itu, dan berteriak,”Kenapa Tuhan …. Kenapa …!!??” Kamarku rusak cukup parah, tapi aku masih bisa bersyukur karena aku tidak terluka sedikitpun, padahal aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat tidurku saat gempa terjadi, karena aku sudah sangat-sangat pasrah atas semua yang terjadi, sampai-sampai aku berkata kepada Tuhan jika Tuhan mau ambil aku sekarang, aku siap dan aku tidak akan pernah menyalahkan Tuhan.

Pada saat itu keadaan di Jogja, semua orang panik, takut, ditambah dengan isu tsunami, semua orang tumplek-blek di jalan, yang Utara mau ke Selatan, yang Selatan mau ke Utara, jalan raya macet, di mana-mana terjadi kecelakaan, orang-orang berhamburan di jalan tanpa tahu harus ke mana, semua rumah sakit penuh, begitu penuhnya sampai begitu banyak pasien hanya tergeletak di aspal, karena kurangnya tenaga medis dibandingkan dengan begitu banyaknya korban saat itu

Tuhan kenapa semua ini harus terjadi pada saat satu hari menjelang pernikahanku, bayangkan hanya tinggal satu hari, tinggal besoknya kami menikah.

(bersambung)

* Pernikahan Dalam Suasana Gempa Bumi Bag.2

Kristen Garam & Kristen Semut

Bagi orang Kristen, lambang identitas imannya yang paling utama, tak pelak lagi, adalah salib. Memang ada juga sih lambang-lambang kekristenan yang lain, tapi dibandingkan dengan salib, oh jauh! Sebut saja misalnya ikan dan roti. Atau dua huruf Yunani: Alpha dan Omega, serta Chi dan Rho.

Toh menurut Yesus, lambang orang Kristen yang paling sentral mestinya adalah garam. “Kamu adalah garam dunia,” begitu Ia bersabda.

Inilah raison d’etre atau alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini. Seperti alasan pokok adanya sebuah rumah sakit adalah untuk melayani pasien, dan alasan pokok adanya sebuah sekolah adalah untuk belajar-mengajar, alasan pokok keberadaan orang Kristen di dunia ini adalah untuk menjadi “garam dunia”.

Anda gagal menjadi “garam dunia”, otomatis gagal pula Anda sebagai pengikut Kristus. Lebih mengerikan lagi, kata Yesus, akhir nasib Anda tidak akan lebih baik dari pada seonggok sampah!. “Jika garam itu menjadi tawar,” kata-Nya, “dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya, selain dibuang dan diinjak orang!”

“Kamu adalah garam dunia.” Mendengar ini, saya maklum, bila Anda merasa sedikit kecewa. Paling sedikit, tidak berbunga-bunga. Sebuah lambang seharusnya diharapkan mampu membangkitkan rasa bangga pada yang memakainya, dan sekaligus perasaan respek pada yang melihatnya.

Oleh alasan ini, selalu dipilih kiasan-kiasan yang memberi kesan megah, gagah, agung, dan wah. Misalnya: garuda, rajawali, singa, bunga, beruang, naga. Tidak heran, di Bekasi baru-baru ini terjadi kontroversi hebat, ketika ada gagasan menjadikan ikan lele sebagai lambang kota. Lebih tak terbayangkan lagi, bila yang diusulkan adalah lipan, cacing atau kecoa. Atau, garam!

Garam tidak memenuhi kriteria yang lazim itu, apalagi bagi benak orang-orang moderen.
Apanya dari garam yang megah, yang gagah, yang indah, dan mulia? Di pedalaman Papua, konon, garam memang aduhai berharganya. Tapi di Jakarta?

Jadi, mengapa Yesus memilihnya? Mengapa Yesus memilih sebuah kiasan yang tidak membanggakan (garam), untuk melukiskan sesuatu yang amat membanggakan (menjadi pengikut Kristus)?

Jawabnya adalah karena Ia hendak dengan menekankan betapa kebanggaan seorang pengikut Kristus itu tidak terletak pada hal-hal yang eksternal. Tidak terutama ditentukan oleh hal-hal yang kasat mata. Kebanggaan duniawi memang bertumpu pada faktor-faktor eksternal. Memiliki menara yang “tertinggi”, atau umat yang “terbanyak”, serta “ter-ter” lain, sejenis yang tercatat di museum rekornya Jaya Suprana. Kemegahan eksternal memang mempesona, namun juga sering memperdaya.

Kiasan “garam” diharapkan mampu memelihara “kesadaran fungsional”, sekali pun mungkin tidak bisa memberikan “kebanggaan eksternal”. Di mana bedanya?

Kebanggaan karena berhasil membuat lumpia Semarang yang terpanjang, atau mpek-mpek Palembang yang terbesar di dunia, adalah kebanggaan eksternal. Sementara itu, kebanggaan karena berhasil membuat kue singkong yang termurah, tersehat, dan terlezat sedunia , adalah kebanggaan fungsional.

Kebanggaan karena berhasil meng”kristen”kan sebanyak mungkin orang adalah kebanggaan eksternal. Akan tetapi, kebanggaan karena berhasil membuat orang banyak se”kristen” mungkin adalah kebanggaan fungsional.

“Kebanggaan garam” adalah kebanggaan fungsional. Parameternya adalah apakah produk akhirnya berfungsi maksimal bagi sebanyak mungkin orang? Atau cuma hebat dan cocok untuk pamer serta “jago-jagoan” doang? Jelas sekali yang Yesus kehendaki ialah, agar kita menjadi “Kristen kualitas” – bukan “kuantitas”.

Untuk menjadi “Kristen kuantitas”, jalannya relatif lebih mudah. Anda cukup membangun gedung atau mengumpulkan massa. Anda tetapkan sendiri. Namun, untuk menjadi “Kristen kualitas”, sungguh berbeda.

Di sini, seperti kata Petrus, kemurnian Anda hanya bisa diperoleh dan mesti “diuji melalui api”. Lagi pula yang menentukan kualitas Anda adalah orang lain, dunia ini. Dan berdasarkan kriteria mereka. Artinya, menurut mereka, cukup “asin”kah Anda?

Sebab itu, bila orang kristen mencari kebanggaan pada yang kuantitatif dan fisikal semata, ia sungguh salah alamat! Anda bisa menjadi “garam dunia”, tanpa semua yang gemerlapan. Ibu Teresa, misalnya. Sebaliknya, Anda bisa mempunyai semua yang gemerlapan, tanpa pernah menjadi “garam dunia.” Paus-Paus abad pertengahan, misalnya.

Bahkan menjadi “garam” pun belum jaminan. Sebab bukan “garam “-nya yang penting, tapi “asin”nya! Buat apa jadi garam kalau tidak asin? Apa gunanya jadi “patung garam” seperti istri Lot? Atau jadi “garam salon” yang tersimpan rapi di almari? Kata Yesus, “Tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.”

Siapakah yang dimaksud oleh Yesus “garam yang tidak asin” itu? Tidak lain adalah orang Kristen yang cuma ada –mungkin besar, mungkin berkembang pesat- tapi tidak fungsional. Maksud saya, dunia tidak merasakan dampak dan makna positif apa-apa dari kehadirannya. Karena itu juga tidak akan berduka, sekiranya gereja tiba-tiba tiada. Ada atau tidak ada gereja, tidak berarti apa-apa.

Ingatlah bahwa Yesus tidak cuma mengatakan, “Kamu adalah garam”, tapi “Kamu adalah garam dunia.” Garam bagi dunia! Gereja yang hidup cuma buat dirinya sendiri, barangkali memang “garam”. Tapi garam yang tawar. Tidak berguna.

“Kamu adalah garam dunia.” Kiasan ini tidak terlalu ber “gengsi.” Tidak salah, namun tidak pula benar seluruhnya. Sebab pada waktu Yesus mengatakannya, Ia justru bermaksud mengangkat hati murid-murid-Nya. Yesus bermaksud meyakinkan mereka, betapa di balik kesederhanaan mereka, mereka tidak perlu merasa rendah diri. Pakaian mereka sederhana. Status sosial mereka sederhana. Latar belakang pendidikan mereka sederhana. Tapi mereka adalah “garam dunia”!

Artinya, betapa dunia membutuhkan mereka! Betapa hidup tidak lengkap, bahkan tak terbayangkan, tanpa kehadiran mereka! Bagaikan soto membutuhkan garam! Tambahan pula, pada zaman Yesus, “garam” punya nilai simbolis yang tinggi sekali di pandangan masyarakat!. Sampai-sampai orang Yunani menyebutnya “theion,” atau “yang ilahi”. Karena berasal dari air laut dan sinar matahari –dua benda yang dipercaya sebagai benda-benda yang paling murni di alam ini- garam juga dihubungkan dengan kemurnian. Garam melambangkan sesuatu yang tidak tercampur maupun tercemar.

Orang Kristen hidup di tengah-tengah dunia yang standar kualitasnya terus menurun dengan ajeg. Fasilitas membaik, tapi kualitas menurun. Ini berlaku untuk semua bidang kehidupan. Tapi Yesus mengamanatkan, orang Kristen mesti mempertahankan standar kemurniannya! Jangan ikut-ikutan merosot atau melorot! Jadilah bak oasis di padang gurun! Jadilah “komunitas percontohan,” di tengah-tengah dunia yang dahaga akan keteladanan! Jangan tercampur dan tercemar!

Lebih dari sekadar mempertahankan kemurnian, orang Kristen juga harus berfungsi sebagai pencegah kebusukan. Proses pembusukan dunia ini memang tak terhindarkan. Jalannya sudah harus begitu. Bahwa segala sesuatu akan berujung pada katastrofi total. Namun, prosesnya dapat diperlambat agar pintu tobat lebih lama terbuka.

Salah satu fungsi “garam” yang terpenting, di samping menjadi penyedap, adalah menjadi pengawet. Sebab itu, tidak ada ironi yang lebih besar daripada ketika orang-orang Kristen juga ikut-ikutan membusuk, bahkan ikut-ikutan membusukkan!

Apakah Anda mencium bau busuk itu? Saya tidak cuma menciumnya, tapi juga melihatnya dengan jelas. Di dalam maupun di luar gereja! Ini harus diamputasi cepat-cepat, agar pembusukan tidak menjalar ke seluruh tubuh.

“Kamu adalah garam dunia.” Bagi Yesus, status yang tinggi tidak ditentukan oleh penampakannya, melainkan oleh kemanfaatannya. Ini dilukiskan dengan indah sekali oleh “garam”, Untuk mengasinkan sesuatu, tidak diperlukan garam yang besar dan banyak. Sebab itu, kecil atau sedikitnya kita tidak dapat dijadikan dalih untuk ketidakmampuan kita berfungsi. Lihatlah garam!

Namun, ada persoalan serius, yaitu bahwa untuk mengasihi, garam yang sedikit itu harus melarut. Padahal, kecenderungan insaniah kita sebaliknya. Kita berambisi semakin lama semakin besar. Apakah ada jalan tengah? Sayang sekali, tidak.

Anda tahu apa bedanya “Kristen semut” dan “Kristen garam”? Semut senang berkerumun di tempat yang nyaman. Di mana ada gula, di situ ada semut. Garam? O, garam mesti siap diterjunkan di mana saja ia diperlukan. Biasanya di tempat-tempat yang tidak manis. Di situ, ia diminta rela memberikan semuanya, termasuk memberikan dirinya – melarut.

Menjadi “Kristen semut” tentu jauh lebih nikmat. Tentu! Tapi sayang sekali, Yesus tidak mengatakan bahwa kita adalah “semut”. Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia.”


Dikutip dari : MlMm-13

Chosen to Be Holy

Today's Scripture

“For He chose us in Him before the creation of the world to be holy and blameless in His sight” (Ephesians 1:4).

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know that God had a plan for you before the foundation of the earth? He created you to be holy and blameless in His sight. Why did He do that? He chose you to be His ambassador, or representative, on the earth. God created you to reflect His glory. He created you to reflect His character, His righteousness, His holiness. Think about that for a moment. Part of your purpose on this earth is to be a representative for the King of kings and the Lord of lords. Let that sink in deeply on the inside of you. Knowing that should make you want to walk a little differently. It should make you want to talk differently. That should make you think a little more carefully about where you go and what you choose to do with your time. Are you representing God’s holiness today? Remember, what God’s called you to do, He’s equipped you to do. If there are things in your life that aren’t holy, God wants to empower you to overcome those things. Receive His strength and might today so that you can walk in holiness and live the abundant life He has for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing me today. I ask You to search my heart and remove anything that is displeasing in Your sight. I accept Your holiness today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

30 January 2008

Humor: Sepuluh Ribu atau Dua Puluh Ribu

Rumah Tomi dipenuhi oleh kerabatnya yang datang untuk makan malam merayakan Natal. Kakek memanggil Tomi yang berusia enam tahun dan mulai bertanya tentang sekolah, cewek, dan apa pun yang terpikir olehnya. Setelah beberapa saat, si kakek melihat bahwa Tomi sudah mulai bosan. Jadi, ia mengeluarkan dua lembar uang kertas untuk membuat Tomi tertarik -- lembaran sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Ia menunjukkan dua lembar uang itu dan menyuruh Tomi memilih salah satunya. Tomi pun memilih yang sepuluh ribu.

Si kakek agak terkejut dan kecewa dengan keputusan Tomi tersebut. Ia kemudian mengeluarkan uang sepuluh ribuan lagi dan menyuruh Tomi untuk memilih lagi. Dan Tomi pun kembali memilih yang sepuluh ribu. Si kakek sekali lagi terkejut dan kecewa.

Ia membawa Tomi kepada salah satu pamannya dan menunjukkan betapa bodohnya Tomi -- memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu. Demikian terus dilakukan si kakek. Ia menunjukkan kebodohan Tomi itu kepada sejumlah kerabat. Jika ditotal, si kakek telah menyuruh Tomi untuk memilih sepuluh ribu atau dua puluh ribu itu sebanyak lima belas kali.

Beberapa jam kemudian, setelah seluruh kerabat pulang, sang ayah yang mengetahui kebodohan Tomi itu menghampiri Tomi dan menanyakan mengapa ia memilih sepuluh ribu daripada dua puluh ribu.

Dengan tersenyum lebar, Tomi menjawab, "Jika aku memilih dua puluh ribu dari sejak awal, aku tidak akan mendapatkan 150 ribu!"

Waktuku Adalah Hari Ini

Waktuku adalah hari ini. Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan kritik. Akan kuhargai setiap detik, menit, dan jam, karena tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang terbuang percuma.

Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan tentang apa yang akan terjadi esok. Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan terjadi.

Hari ini aku belajar lagi untuk mengubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan karya. Kutinggalkan angan-angan yang selalu menyatakan: “Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah.” Jikalau keadaan tetap sama, dengan kemurahan-Nya aku tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata: “Aku tidak punya waktu”. Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku akan tiba. Akan kulakukan yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai besok karena esok belum tentu ada.

Tuhan memberkati kita hari ini. Pergunakan waktu yang ada untuk memuliakan Dia.


Dikutip dari :
50 Cerita Bijak Tentang Makna Kehidupan
oleh Yustinus Sumantri Hp., SJ.