Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 January 2008

You Can Choose to Be Happy

I recall a few years back, I felt depressed.

I had a million problems! I had conflicts to deal with, a few storms in my Catholic community, plus a number of personal trials as well. To top it all, my dandruff was getting worse and my pimples are erupting again.

I prayed, “Lord, are you sure you want me to continue preaching and writing? I know I’m good-looking (depression has a way of making me hallucinate), but shouldn’t You have picked someone much holier and wiser and more loving?"

As I poured out my grief before God, and as I felt His tender comfort, a crazy question popped in my mind: “Bo, give me five reasons why you should be happy today.”

“Happy? Lord, how can I be happy at a time like this?”

But the question remained lodged in my brain, and I couldn’t give it up.

“Well,” I mumbled, “my five reasons for being happy are lovely Lily, sexy Sylvia, pretty Pamella, terrific Tanya, and gorgeous Grace.” (I was still single at that time, so I could make jokes like these.) Fearing that lighting may strike me anytime, I decided to become serious.

“First reason, Lord: You. We have a great relationship. You love me so much, and uh, I love You sometimes. What a God! Second, I have a beautiful family. Dad’s old and Mom’s (bleep!), yet we’re still together… Third, despite of it all, I have a great Catholic group. Fourth, I’ve got a fantastic job as preacher, writer, helping the poor… Can it be better than this? And fifth, I’m in love with this one girl. (Not five!) Pretty, sweet, loving, honest, and insane enough to go out on dates with me.”

And before I realized it, my “lousy feelings” left me and I felt happy!

You know, it worked so well, even to this day, I’ve decided to do this daily. Before I go to bed, I recall five things that happened during that day which I want to be thankful for.

It could be small stuff like, “Today, I watched the sunset,”; or “A little kid put her arms around me today and that felt so good”; or “My wife and I ate at Macdonald’s ‘cuz that was all I could afford but felt t’was a candlelight dinner in Shangrila.”

Because of this practice, the way I see life has changed. Because from the moment I wake up, my antennas are up—looking for the five things I’m going to be thankful for. I’m no longer focused on the bad things that happen, but on God’s great blessings each day.

Happiness is a choice.

You and I have everything that we need for happiness. Happiness isn’t “out there” but something that’s deep within us.

We choose to be happy. We choose to make our lives great.

What will you choose?

By Bo Sanchez

02 January 2008

Video Kesaksian Ali Makrus

Marilah kita melihat video kesaksian dengan hati yang terbuka. Kami tidak pernah memaksakan orang untuk berpindah agama. Karena agama adalah kepercayaan, dan kepercayaan terhadap suatu agama tidak muncul begitu saja karena melalui suatu proses yang panjang dan tidak mungkin untuk dipaksakan meskipun alasannya untuk menyelamatkan orang itu supaya masuk Surga karena kepercayaan memang tidak dapat dipaksakan. Terima kasih.

Tuhan Memberkati!



Part 1


Part 2


Part 3


Part 4


Part 5


Part 6


Part 7


Part 8

*Mengeluh*

Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat.

"Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!", "Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan "job-des" gue", "Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu".

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya. Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu BERSYUKUR.

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Try it now:

1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan
lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

"Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."

P.S.:
Saya bersyukur karena Anda telah membaca email ini dan saya akan
lebih bersyukur lagi jika Anda mengirimkan email ini ke rekan-rekan Anda sehingga Anda juga dapat bersyukur karena telah membuat orang lain bersyukur.

Open Windows

“Bring all the tithes (the whole tenth of your income) into the storehouse, that there may be food in My house, and prove Me now by it, says the Lord of hosts, if I will not open the windows of heaven for you and pour you out a blessing, that there shall not be room enough to receive it” (Malachi 3:10 AMP).

God wants to open the windows of heaven and pour out blessings on you today! But you have to do your part first. Your part is to be a faithful tither and to be obedient to the Lord with your finances. See, we are all stewards over the resources God has given us. When we are good and faithful stewards, the Lord entrusts us with more of His resources. He opens the windows of heaven. Have you ever thought about what kind of blessing would be so great that there would not be room enough to receive it? It may be hard to comprehend, but that’s what God’s Word promises. Be a giver today. Be a tither. Prove the Lord and get ready to watch Him move mightily on your behalf! Begin to thank Him today for His faithfulness and blessing in your life. Look for ways the Lord will pour out His abundant blessing. As you obey and believe, you’ll see the hand of God move on your behalf, and you will live the abundant life He has in store for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for choosing to bless me. Thank You for opening the windows of heaven in my life. I choose to be obedient to Your Word. I choose to be a giver. I choose to be a faithful steward of Your resources. In Jesus’ Name. Amen.

From :
joelosteen.com

Mengubah Sudut Pandang

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur Dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, Dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.


"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak Ada seorangpun di rumah ibu. Tak Ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika Kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana Kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja Dan digaji tinggi
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

I Am What God Says I Am

Have the words and opinions of other people caused you to water down your dreams? One of the most important things you can learn is that other people don’t set the limits for your life. Other people don’t have to believe in you in order for your dreams to come to pass. There will always be critics and naysayers. The negative voices come at everyone. But other people don’t determine your destiny, you do.

The Apostle Paul says in Romans 3:3, “What if they don’t believe? Will their lack of faith make the faith of God of no effect?” This verse is saying, “It doesn’t matter if other people don’t believe. Their unbelief is not going to keep me from believing in my dreams.” When God puts a promise in your heart, it’s not up to other people to bring it to pass, it’s up to you! You don’t need everyone to validate you. You don’t need to get confirmation from all your friends. You have to follow the voice of God for yourself and allow Him to order your steps. God sees the hidden treasures that you’ve had buried on the inside of you. He wants to bring those treasures out and make your dreams reality!

As you stir your faith up and water those seeds they will take root, and you will accomplish things that you never even thought possible! It doesn’t matter what negative things have been spoken over you in the past, God’s blessing is greater than any curse! Begin to speak words of life and faith over yourself. As you get rid of those old, defeated thoughts, and replace them with what God says about you, you will rise higher and live the abundant life God has in store for you!

29 December 2007

Surat Dari Yesus

Untuk semua,

Seperti yang kamu tahu, kita semakin mendekati hari ulang tahun-Ku. Setiap tahun ada perayaan kehormatan-Ku dan Aku kira tahun ini akan sama.

Selama masa ini banyak orang berbelanja kado, banyak pengumuman di radio, iklan-iklan TV, dan di setiap bagian di dunia semua orang membicarakan ulang tahun-Ku semakin dekat.

Saya sangat senang mengetahuinya, setidaknya setiap tahun sekali, orang-orang memikirkan Aku.

Seperti yang kita tahu, perayaan ulang tahun-Ku sudah di mulai beberapa tahun yang lalu.

Pertama-pertama orang-orang nampak mengerti dan sangat berterima kasih untuk semua yang Aku lakukan untuk mereka, tetapi kali ini, tidak seorangpun tahu alasan perayaan.

Keluarga dan teman-teman bersama-sama dan bersenang-senang, tetapi mereka tidak tahu arti perayaan. Aku ingat tahun lalu ada perayaan kehormatan untuk Aku. Meja makan malam penuh dengan makanan lezat, kue-kue kering, buah-buahan, kacang-kacangan, coklat. Dekorasinya indah sekali dan ada sangat banyak sekali kado-kado yang terbungkus.

Bagaimanapun, apakah kamu tahu sesuatu? Aku tidak di undang.

Aku adalah tamu kehormatan dan mereka tidak ingat untuk mengimi Aku undangan.

Pestanya untuk Aku, tetapi ketika hari itu datang, Aku di tinggal diluar, mereka menutup pintu untuk saya dan Aku ingin bersama mereka dan berbagi meja dengan saya.

Sebenarnya, hal itu tidak mengejutkanku karena beberapa tahun yang lalu mereka menutup pintu buat Aku. Sejak aku tidak di undang, Aku memutuskan untuk masuk ke pesta tanpa suara. Aku berdiri di sudut ruangan.

Mereka semua minum, ada beberapa yang mabuk dan menceritakan humor dan menertawakannya. Mereka sangat bersenang-senang.

Puncaknya, orang gemuk besar ini berpakaian merah dengan janggut putih yang panjang masuk ke ruangan berteriak “Ho-Ho-Ho!” Dia kelihatannya mabuk. Dia duduk di sofa dan semua anak-anak kecil berlari menuju kepadanya, dengan berkata: “Sinterklas, Sinterklas” seperti pesta kehormatan ini untuk dia!

Pada tengah malam orang-orang saling berpelukan, Aku membuka tanganku untuk menunggu seseorang memeluk-Ku dan kamu tahu .. tidak seorangpun memeluk-Ku.

Tiba-tiba mereka mulai bertukar kado. Mereka membuka kado satu per satu dengan pengharapan yang besar. Ketika semua terbuka, Aku melihat jika, mungkin, ada yang buat Aku. Apa yang kamu rasakan jika di hari ulang tahunmu semua orang bertukar kado dan kamu tidak mendapatkan satupun?

Aku kemudian mengerti bahwa Aku tidak di butuhkan di pesta dan aku pergi diam-diam.

Setiap tahun bertambah buruk. Orang-orang hanya ingat kado, pesta, makan dan minum, dan tidak seorangpun yang ingat Aku.

Aku akan senang Natal ini kamu mengijinkan Aku untuk masuk dalam hidupmu.

Aku akan senang kalau kamu mengenali kenyataan bahwa hampir 2000 tahun yang lalu Aku datang ke dunia ini untuk memberikan hidup-Ku untukmu, di kayu salib, untuk menyelamatkanmu.

Sekarang, Aku hanya ingin kamu percayai ini dengan seluruh hatimu.

Aku ingin membagikan sesuatu buat kamu. Karena aku tidak di undang di pesta mereka berkali-kali, Aku akan mengadakan perayaan sendiri, pesta yang megah yang tidak pernah di bayangkan orang, pesta yang spektakuler. Aku masih menyusunnya.

Sekarang Aku mengirimkan banyak sekali undangan dan mengundang kamu. Aku ingin tahu jika kamu mau hadir dan Aku akan melakukan reservasi untuk kamu dan menulis namamu dengan kertas emas di buku tamu besarku.

Hanya orang-orang yang terdaftar di buku tamu yang akan di undang di pesta.

Yang tidak memesan, akan di tinggal di luar. Siap-siaplah karena ketika semuanya siap kamu akan menjadi bagian di pesta-Ku

Sampai ketemu lagi. Aku mencintaimu!

Yesus

28 December 2007

Bukan Pilihan

Akan di putar sebuah film di Trans7.
Tanggal : 29 Desember 2007
Jam : 16.30 - 17.30 WIB
Judul : Bukan Pilihan
Pemain : Darius Sinathrya, Marsha Timothy, Frans Mohede.

Saksikan bersama keluarga & sahabat kalian.

Mimpi Terindah - Percakapan Dengan TUHAN

Aku : "Zzzzz Zzzzz Zzzzz......"

TUHAN : "Bangun !!!"

Aku : "Hmmm.... siapa ya ?"

Tuhan : "AKU ??? AKU TUHAN. AKU dengar di doamu, kau ingin bicara langsung dengan-KU, maka doamu KU-kabulkan."

Aku (tertegun) : "Oh, aku tidak menyangka doaku dikabulkan,. Lalu kita ada di mana ?"

TUHAN : "Di dalam mimpimu, ini media paling mudah untuk berbicara."

AKU (tertegun) : "Ooooh..."

TUHAN : "KU-dengar di doamu, kau ingin mengajukan pertanyaan kepada KU. AKU ingin mendengarnya sekarang."

Aku : "Benar. Bisakah sekarang kumulai ?"

Tuhan : "Tentu."

Aku : "TUHAN, tahukah ENGKAU bahwa dunia yg KAU ciptakan ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang percaya dianiaya. Orang benar menderita. Itu tidak adil TUHAN !"

TUHAN : "Menurutmu, apakah adil, ketika AKU mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosamu??"

Aku : "Kalau begitu, semua orang benar harus menderita di dunia, begitu ?"

TUHAN : "Apakah penderitaan itu selamanya ? Mengapa ketika menderita manusia selalu bertanya "mengapa harus aku?". Tetapi, ketika senang, mereka tidak pernah bertanya, "mengapa harus aku ?"

Aku : "Kalau begitu, mengapa banyak orang jahat hidup senang ?"

TUHAN : "Kau yakin ?"

Aku : "Ya... walaupun tidak semua ..."

Tuhan : "Kalau begitu, cobalah jadi jahat, dan lihatlah, seberapa lama kau akan senang, kau bisa membuktikannya sendiri."

Aku : "Hidup ini terlalu rumit untuk dijalani, mengapa KAU selalu mendatangkan cobaan dan masalah?"

TUHAN: "Masalah KU-datangkan bukan untuk disesali dan dikeluhi, tapi untuk diselesaikan. Cobaan KU-datangkan untuk menunjukkan adanya diri-KU, dan perlunya berserah pada-KU."

Aku : "Tapi, setiap masalah datang, Aku selalu berdoa meminta jalan keluar. Tetapi, kadang KAU tidak memberinya ? Mengapa ?"

TUHAN : "Mengapa ? Pertanyaan bagus! Mengapa setiap firman yang KU-perintahkan padamu, kau tidak pernah melakukannya atau selalu menunda-nunda ? Sebelum engkau menuai, menaburlah terlebih dahulu."

Aku : "Mengapa manusia tidak pernah puas terhadap dirinya ?"

TUHAN : "Manusia tidak akan menyadari betapa berharganya sesuatu, sampai mereka kehilangan semuanya.

Aku : "Karena itulah TUHAN, mengapa penyesalan selalu datang terlambat? Itu menyebalkan..."

TUHAN : "Kalau belum terlambat, bukan penyesalan namanya. Kalau belum menyesal, manusia tidak akan pernah tahu dimana letak kesalahannya."

Aku : "Memang benar. Tapi, penyesalan selalu mendatangkan penderitaan."

TUHAN : "Ketika penyesalan datang, manusia diberi 2 pilihan. Pertama, segera bangkit dan meninggalkan duka-citanya. Itu membuat manusia makin kuat dan terasah. Kedua, berkata : "Aku tidak kuat, beban ini terlalu berat untuk dijalani". itu mendatangkan penderitaan."

Aku : "Perlukah aku memelihara doa dan waktu untuk-MU setiap harinya ?"

Tuhan : "Perlukah AKU mejagamu dan mengawasimu setiap harinya ?"

Aku : "TUHAN, seringkali aku sudah berusaha dan berusaha, tapi selau gagal ! Mengapa?"

TUHAN : "Berapa kali kau mencoba ?"

Aku : "Katakanlah 10 kali."

TUHAN : "Bagus. Kalau begitu kau sudah mengetahui 10 cara yg tidak berhasil. Jangan samakan kegagalan dengan pengalaman. Manusia tidak pernah gagal, sampai dia berhenti berusaha."

Aku : "Tapi, semua itu terlalu beresiko TUHAN. Setiap usaha mempunyai resiko."

TUHAN : "Sesungguhnya, ketika kau takut mengambil satu resiko, kau telah mengambil resiko yang tersisa, yaitu kau tidak akan pernah berhasil !"

Aku : "Kalau begitu, bagaimana cara mendapat kesenangan hidup ?"

TUHAN : "Cintailah dirimu sendiri, dan senantiasa bersyukur. Hidup ini sebenarnya indah. Jika masalah datang, jangan biarkan masalah menguasai dirimu, tetapi belajarlah menguasai masalah. Ah, waktu kita habis, kau sudah harus bangun pagi..."

Aku : "Kapan kita bisa berbicara seperti ini lagi ?"

Tuhan : "Kapanpun. Sebenarnya jarak Kita hanya dipisahkan oleh doa."

Aku : "Oke, terima kasih TUHAN atas pembicaraan yg indah ini."

TUHAN : "Sama-sama."

Aku pun terbangun dari mimpiku......

TUHAN Memberkati

He is the Healer

“He heals the brokenhearted and binds up their wounds” (Psalm 147:3).

Today's Word from Joel and Victoria

Aren’t you glad that God is a healer! It doesn’t matter what is “broken” in your life today, God’s nature is to bring you complete healing. Do you need healing in your body? Your mind? Heart? Finances? Relationships? God is your healer. Notice what the Psalmist says in this verse: He binds up their wounds. In the natural, if you have a broken arm, it doesn’t just heal over night. The doctor makes a cast to hold it in place and protect it. He binds up your wound. In the spiritual realm, God does the same thing. He wraps Himself around your brokenness and protects the wounded area until it is strong enough to function properly again. The Bible also says that He is a restorer. That means that when He does a work of healing in our lives, He makes us better than we were before. If you’re going through the healing process today, know this: it may take longer than you planned, but God is binding up your wound. He is protecting you and healing you. He will bring you out better and stronger than you were before. He will take you to a place of complete healing so that you can live the life of victory He has in store for you.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for being my healer. Thank You for restoring every area of my life. I give You everything that I am today. Use me for Your glory. In Jesus’ Name. Amen.

Taken from : www.joelosteen.com

Setiap Harimu Adalah Hari Istimewa

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra "Ini, ......", dia berkata, "Bukan bungkusan yang asing lagi". Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam sutra serta kotaknya. "Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena menurut dia, hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa.

Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan hadiah didekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman. Istrinya baru saja meninggal.
Dia menoleh padaku dan berkata : "JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA, SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH KESEMPATAN YANG ISTIMEWA !"

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja.

Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemanapun aku menginginkannya. Kata-kata "Suatu hari ." dan Satu saat nanti ....."sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku
apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya, ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya. Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Aku suka berpikir bahwa dia mungkin pergi makan Martabak Spesial, makanan favoritnya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan aku sesali jika tak aku lakukan, jika aku tahu waktu sudah dekat.

Aku akan menyesalinya, karena aku tidak akan lebih
lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui, juga surat-surat yang ingin aku tulis Suatu hari nanti". Aku akan menyesal ! dan merasa sedih, karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku dan teman2ku. Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan, setiap pagi, aku berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.

Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena
seseorang peduli padamu, dan karena mungkin ada seseorang yang kamu pedulikan. Jika kamu terlalu sibuk untuk mengirimkan pesan ini kepada orang lain dan kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mengirimkannya "Suatu saat nanti", ingatlah bahwa "Suatu saat" itu sangat jauh ....... Dan mungkin tidak akan pernah datang.