Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 June 2008

Menentukan Prioritas

Suatu siang di masa lalu, saat aku tengah berlibur di rumah kakek, aku menghampiri beliau yang sedang melukis di atas kanvas.

"Apa yang kakek dapat dari melukis?"

Kakek berbalik dan menatapku, lalu mengambil satu kanvas kosong berukuran kecil.

"Katakan apa yang ingin kau gambar?"

Aku berpikir sejenak.

"Sekuntum bunga."

Kakek mengambil pensil dan mulai membuat sketsa. Sekuntum bunga.

"Nah, berikanlah warna."

Aku mengambil kuas dan palet kakek, lalu mulai mewarnai. Pertama kelopaknya, lalu tangkai, daun, dan terakhir aku memberi warna latar belakangnya.

"Sudah selesai." kataku bangga sambil melihat-lihat hasil karyaku.

"Bagaimana hasilnya menurutmu?" tanya kakek.

"Bagus."

"Kurang rapi pada tepi gambar bunga." kata kakek.

"Itu karena sulit mewarnai latar belakang dengan tepat tanpa menyentuh gambar bunganya." kilahku.

Kakek tersenyum.

"Apa yang kau dapat?"

Aku melihat padanya. Apa yang kudapat?

"Tentu saja sebuah lukisan gambar bunga." jawabku.

"Kau memusatkan perhatianmu pada bunga, menganggapnya yang terpenting, kemudian memilih melakukan hal-hal tidak penting - seperti memberi latar belakang - setelahnya. Jika kau membalik sudut pandangmu, dengan memberi warna latar dulu baru mewarnai bunganya, maka cat tepian bungamu tidak akan rusak seperti sekarang."

"Seringkali dalam hidup kita terlalu memusatkan diri pada hal-hal yang kita anggap penting dan mengabaikan yang lainnya. Padahal untuk menjadikan hal yang kita anggap penting ini berjalan sempurna, perlu hal-hal sepele yang harus dilakukan lebih dahulu dengan perhatian yang sama baiknya."

Ada banyak pelukis hebat yang memilih menyelesaikan objek utamanya baru mengurus latarnya, aku tahu.

Namun pelajaran yang kudapat hari itu bukanlah tentang mana yang seharusnya lebih dulu - mewarnai objek utama atau mewarnai latarnya.

Yang kudapat adalah, bagaimana menentukan prioritas dalam hidup kita.

Seorang pelari atletik memandang pita garis finish sebagai tujuan besar dalam hidupnya. Namun ada hal lain seperti sepatu yang nyaman, dengan tali yang terikat sempurna yang harus dikerjakan lebih dulu agar dia bisa berlari di lintasannya.

"Untuk menjadikan hal yang kita anggap penting ini berjalan sempurna, perlu hal-hal sepele yang harus dilakukan lebih dahulu dengan perhatian yang sama baiknya."

0 comments:

Post a Comment