Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 December 2011

Habis Gelap Terbitlah Terang

Bacaan Setahun : 1 Tesalonika 1-3
Nats : ... seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yesaya 9:5)

Bacaan : Yesaya 8:23-9:6

Masa depan yang suram kerap digambarkan seperti sebuah lorong gelap yang terasa tak berujung. Tanpa keyakinan bahwa di ujung lorong itu ada titik terang, sedikit sekali orang yang sanggup bertahan menjalani masa "lorong gelap" ini. Hanya pengharapan bahwa masa depan akan lebih baik dari masa kini yang dapat membangkitkan semangat hidup.

Nubuat Yesaya ini juga hadir dan menjadi harapan: "habis gelap terbitlah terang". Secara ekonomis, bangsa Israel bersukacita karena terlepas dari hukuman Tuhan dan merasakan kegembiraan karena panen yang melimpah. Secara politik, mereka tidak lagi terancam oleh bangsa adikuasa. Namun, sejatinya nubuat ini lebih menunjuk pada masa depan yang lebih gemilang, yaitu ketika Mesias, keturunan Daud, hadir dalam panggung sejarah Israel dan dunia. Dialah yang akan membawa pemulihan. Dan, tidak sekadar pemulihan ekonomi dan politik. Lihat saja gelar-gelar-Nya: Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (ayat 5). Dengan kebesaran-Nya itu, Dia akan menegakkan Kerajaan Allah di bumi ini! Dan, kerajaan-Nya yang kekal akan menghasilkan keadilan, kebenaran, dan kedamaian bagi setiap penduduknya.

Dulu, ketika kita terbelenggu dalam dosa, hidup kita tak punya pengharapan karena ada di bawah bayang-bayang penghukuman Allah yang adil. Namun kini dan kemudian, kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya mematahkan belenggu dosa itu sehingga kita benar-benar dimerdekakan oleh Kristus. Jadi, marilah kita, sebagai orang yang menang, hidup di dalam kebenaran dan membagikan harapan damai sejahtera kepada setiap orang --ENO

WALAU DUNIA MEMBUAT DAMAI SEJAHTERA TERENGGUT
KRISTUS MAMPU MEMBERI PENGHARAPAN DAN SEMANGAT BARU

Sabda.org

05 December 2011

Bukan Tanda Jasa

Bacaan Setahun : Efesus 1-3
Nats : Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan (Keluaran 20:2)

Bacaan : Keluaran 20:1-17

Perikop kali ini adalah tentang Sepuluh Perintah Allah yang menjadi kunci hukum Taurat. Ada banyak peringatan (delapan perintah diawali kata "Jangan"), satu pengingat (hukum tentang hari Sabat), dan satu lagi perintah (untuk menghormati ayah ibu). Dalam perkembangannya, kelompok Farisi membuatnya amat detail hingga mencapai 631 hukum. Sebaliknya, Yesus meringkaskannya menjadi padat dalam dua perintah saja: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Tentu para penerima hukum tersebut (orang Israel dulu dan kita pada masa sekarang) diharapkan untuk memperhatikan dan melakukan perintah-perintah ini. Hasil yang diharapkan adalah kehidupan moral yang terjaga, serta kehidupan rohani yang murni dalam ketaatan kepada Allah. Ini tentu sangat positif. Namun, kita perlu menjaga diri agar tidak terjatuh pada kecenderungan hati yang merasa telah hidup dengan baik sehingga merasa layak mendapat "tanda jasa" dari-Nya.

Sejak awal, ketika hukum Taurat diberikan, Musa telah memberi peringatan kepada umat supaya waspada terhadap mentalitas batin yang merasa telah "berjasa" karena mematuhi perintah Tuhan. Sebaliknya, motivasi benar yang seharusnya kita miliki adalah bahwa kita mematuhi perintah-Nya karena menanggapi karya Allah: "Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (ayat 2). Karena itu, marilah kita membuka hati agar dapat melihat bahwa Allah lebih dulu berkarya luar biasa bagi diri kita. Serta, teruslah meyakini bahwa apa yang kita berikan kepada Allah adalah wujud ungkapan syukur atas kasih-Nya yang tiada terukur --DKL

BIARLAH SEGALA KETAATAN YANG KITA TUNJUKKAN
MERUPAKAN TANGGAPAN ATAS KASIH TUHAN YANG MENGAGUMKAN

Sabda.org

03 December 2011

Setengah Ketaatan

Bacaan Setahun : Galatia 1-3
Nats : ... aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas (1 Samuel 15:20)

Bacaan : 1 Samuel 15:1-28

Apa akibatnya jika kita tidak melakukan perintah Tuhan dengan segenap hati? Tentu, apa yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di hadapan-Nya. Suatu ketika, Saul menerima perintah Tuhan untuk menyerang Amalek dan membinasakan mereka tanpa terkecuali. Saul pun membunuh semua orang Amalek. Hanya, ia menyisakan satu orang, yaitu raja Agag (ayat 8). Pula, ia membiarkan rakyat "menyelamatkan" kambing domba serta lembu yang terbaik dengan alasan hendak dipersembahkan kepada Tuhan. Apa akibat dari ketaatan Saul yang setengah-setengah ini? Tuhan menolak Saul menjadi raja dan memberikan jabatan itu kepada orang lain. Tidak adilkah Tuhan? Bukankah satu orang saja yang dibiarkan hidup? Apakah artinya satu orang dibandingkan ribuan orang Amalek yang sudah dibunuh Saul? Apakah artinya sebuah "dosa kecil" dibandingkan hal spektakuler yang sudah Saul lakukan untuk membinasakan bangsa Amalek?

Justru di sinilah masalahnya! Ketaatan yang setengah-setengah takkan pernah berkenan di hadapan Tuhan-sebab itu sama dengan ketidaktaatan. Jangan berpikir Tuhan terpesona pada keperkasaan Saul yang telah membinasakan ribuan orang Amalek. Tuhan tidak kenal istilah kompromi. Tuhan menginginkan ketaatan yang total.

Apakah Tuhan berkenan dengan persembahan kita yang sangat banyak, pelayanan kita yang spektakuler dan penuh mukjizat, sementara kita masih menyimpan dosa di hati? Keliru besar kalau kita berpikir bahwa Tuhan akan mengangguk-angguk senang atas jerih lelah kita dalam pelayanan. Taatlah secara total dan tinggalkan dosa sekarang juga --PK

MENAATI TUHAN DENGAN SETENGAH HATI SAMA ARTINYA DENGAN TIDAK MENAATI

Sabda.org

02 December 2011

Takkan Menyerah

Bacaan Setahun : 2 Korintus 11-13
Nats : ... mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring (Markus 2:4)

Bacaan : Markus 2:1-12

Iman dan usaha untuk berbuat sesuatu adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa ada perbuatan yang dilakukan, diragukan bahwa di situ ada iman (Yakobus 2:14-18). Bukankah perbuatan kita merupakan penampakan dari apa yang kita imani?

Sekumpulan orang yang beriman kepada Yesus menyaksikan bagaimana Yesus mengajar dengan kuasa dan mukjizat, serta menyembuhkan orang sakit (Markus 1:21-28). Dari situ, hati mereka tergerak untuk menolong teman sekampung mereka yang sejak kecil lumpuh dan tersisih hidupnya. Mereka beriman Yesus mampu menyembuhkan maka mereka tidak diam saja. Meski banyak rintangan: mungkin rumah si lumpuh jauh, mungkin tubuhnya berat. Ditambah lagi, ketika sampai di tempat Yesus, ternyata rumah itu penuh sesak dan orang-orang tak mau memberi jalan. Namun, sekali lagi iman itu mereka wujudkan dengan usaha yang pantang menyerah. Mereka membuka atap rumah, dengan risiko si empunya rumah marah. Iman yang besar kepada Yesus memampukan mereka mengatasi segala hambatan. Ketika si lumpuh diturunkan, Yesus melihat iman mereka yang mau berusaha itu dan memberi kesembuhan. Iman itu menjadi kenyataan karena anugerah Allah di dalam Kristus, bukan karena kemampuan mereka sendiri.

Apabila kita sedang menghadapi sebuah tugas atau tantangan hidup yang butuh iman dan perjuangan keras, ingatlah kisah ini. Teguhkan iman dengan memandang kebesaran Allah yang sanggup menolong sehingga menguatkan kita untuk berjuang pantang menyerah. Serahkan ketidakberdayaan kita ke alamat yang tepat, yakni Yesus yang mampu membuat iman kita menjadi kenyataan --SST

IMAN MENGARAHKAN MATA KITA KEPADA YESUS YANG HEBAT
AGAR DENGAN IMAN ITU KITA MEMBERI USAHA TERBAIK KITA

Sabda.org

01 December 2011

Rajawali Anak Ayam

Intrapersonal intelejen penting dalam keberhasilan. Bagian dari intrapersonal inteligence adalah self image atau citra diri. Mengapa citra diri penting dan berpengaruh dalam keberhasilan? Karena citra diri mempengaruhi seseorang membawakan dirinya, mempengaruhi bagaimana dia berhubungan dengan orang lain. Dan tentunya mempengaruhi batas tertinggi yang bisa diraih.

Saya berikan kisah ilustrasi. Suatu ketika ada seekor ayam, dia berjalan-jalan di kaki bukit dan menemukan telor. Dia berfikir, wah ada telor ayam tercecer, dia ambil telor itu dan dia erami bersama telornya yang lain. Singkat cerita menetaslah si telor-telor ini termasuk telor yang ia temukan. Dan rupanya telor yang ia temukan itu menetas dan tumbuh menjadi anak yang berbeda, karena sebenarnya telor itu telor rajawali yang jatuh menggelinding dari bukit dan dierami sama si ayam. Walaupun dierami sama si ayam tentu ia tetap menetas sebagai rajawali. Tapi sirajawali ini hidup bersama-sama ayam. Ia punya kakak ayam, cici ayam, punya koko ayam, hidup bersama-sama ayam, makan bersama ayam, punya mama ayam, punya tetangga ayam.

Sirajawali ini tidak merasa bahwa dirinya rajawali. Ia merasa dirinya ayam, karena berbicara bahasa ayam, makan bersama ayam. Tapi ia merasakan hidupnya aneh, kenapa kaki saya, kukunya melengkung tidak seperti ayam yang menapak, ia berlaripun susah sering terpeleset. Lalu ia mulai frustrasi dengan dirinya sendiri kenapa saya begini, ia mulai bertanya pada ibunya ”Mama, mama, saya ini ayam atau bukan? Kok saya kakinya beda.”

Ibunya berkata ”Nak. Aku yang melahirkan kamu, aku yang mengerami kamu, jadi kamu ayam juga. bersyukurlah dengan dirimu, nak. Kamu itu ayam. Maka si rajawali ini melanjutkan hidupnya, dia juga makan dengan susah karena paruhnya bengkok tidak seperti ayam yang lain yang paruhnya runcing. Jalan susah, makan susah, dia frustrasi dengan dirinya, dia bertanya pada ibunya lagi ”Mama saya ini ayam atau bukan sih ma? Kenapa saya ini tidak seperti yang lain.

Ibunya berkata,”Nak kamu memang beda dengan yang lain, tapi aku mencintai kamu apa adanya. Mama mau bilang ya nak, kamu adalah ayam.”

Sirajawali yang hidup bersama ayam ini melanjutkan hidupnya dan ketika dia berlari sayapnya lebih panjang dari yang lain, nabrak-nabrak pagar, ketika yang lain masuk celah yang sempit dengan mudah, dia cukup kesulitan.

Singkat cerita, ibunya sudah tua, hampir mati, maka si rajawali mendatangi si induk ayam ini. Bertanya lagi, ”Ma, mumpung mama masih hidup, mama sudah sakit keras, saya mau nanya, Ma. Katakan sebenarnya jangan ada rahasia di antara kita, saya ini ayam atau bukan sih, Ma?”

Mamanya ambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya lalu dia berkata, ”Nak, Mama jadi ingat, dulu mama menemukan telur, lalu mama erami kamu, jadi kamu ini adalah a..a..a..a petok!” lalu matilah si induk ayam.

Wah, ibunya belum selesai bicara sudah mati. Si anak ini bingung, nemu telor, lalu dierami, kamu ini a..a..a. apa ya? Ayamlah masa anjing..yah sudahlah memang saya ayam. Maka si rajawali ini hidup sebagai ayam, menilai dirinya ayam, hidup susah bersama ayam. Lalu singkat cerita rajawali itu mati, di kuburannya dipasang ada nisan “Telah mati seekor ayam”.

Betapa banyak orang sebenarnya punya kemampuan lebih, tapi hidup susah, cari makan susah, frustrasi dengan dirinya sendiri karena tidak mengenal jati dirinya sendiri. Dia tidak mengenal hidupnya sendiri, jati dirinya, kemampuan dirinya. Kenapa? karena lingkungan. Rajawali yang hidup bersama ayam, dia menjadi hidup seperti ayam. Orang belajar jati diri sering kadang-kadang mengadopsi dari orang lain. Orang menyerap self image atau gambar diri dari orangtua, dari teman, karena itu orang sering mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik.
Orang lain mengatakan, bila ingin tahu siapa dia? Lihat empat orang terdekatnya, maka itulah dia. Orang bergaul dengan maling jadi maling, orang bergaul dengan pemalas, jadi pemalas. Orang bergaul dengan orang optimis jadi optomis, orang bergaul dengan yang rajin jadi rajin. Karena dalam hal membangun gambar diri sesorang memang tidak bisa dihindari orang menyerap gambar-gambar diri yang ada dilingkungannya. Bapaknya memukul ibunya, maka si anak akan memukul adiknya, dia akan memukul istrinya nanti kalau dia nanti menikah. Lingkungannya kasar dia akan menyerap nilai-nilai kasar, dan gambar diri kasar. Karena itu penting sekali kita membangun keluarga dengan nilai-nilai, value-value yang baik, karena itu akan menjadi nilai-nilai dan value-value pada anak kita.

Kita punya keyakinan yang bagus, optimis, hidup benar, maka anak-anak kita juga akan seperti itu. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita membangun sebuah generasi baru dengan nilai-nilai yang baik. Inilah saatnya kita juga menentukan dan mengawasi lingkungan anak-anak kita, sampai dia besar dan dewasa dan bisa mengambil keputusan untuk menentukan lingkungannya sendiri. Tapi tetap orang tua boleh mengarahkan anak-anaknya untuk mengambil lingkungan yang positif. Karena lingkungan akan mempengaruhi seseorang menentukan, menilai dan membangun gambar dirinya.

Salam Sukses

Janganlah Mengecewakan TUHAN

ALLAH: Para malaikat, apakah kalian tahu, apa yang Aku sedang pikirkan?

MALAIKAT: Apa yang sedang Engkau pikirkan, Tuhan?

ALLAH: Orang-orang percaya agaknya lupa kuasa apa yang tersedia bagi mereka sedangkan si Iblis senantiasa menipu mereka!

MALAIKAT: TUHAN, apa yang sebenarnya Engkau maksudkan?

ALLAH: Aku telah menciptakan anak-anak-Ku sedemikian rupa sehingga ketika dunia sedang duduk, mereka berdiri dan bila dunia itu berdiri, anak-anak-Ku berdiri dengan menonjol, dan apabila dunia menonjol, anak-anak-Ku harus lebih menonjol lagi. Dan apabila si Iblis menantang dunia untuk mengetahui siapakah yang lebih menonjol, anak-anak-Kulah yang akan merupakan norma untuk dipergunakan!

YESUS KRISTUS: Orang-orang percaya pun melupakan Firman yang terdapat di Efesus 1:3

ALLAH: Tolong dibaca!

MALAIKAT: TERPUJILAH ALLAH DAN BAPA TUHAN KITA YESUS KRISTUS YANG DALAM KRISTUS TELAH MENGARUNIAKAN KEPADA KITA SEGALA BERKAT ROHANI DI DALAM SORGA.

MALAIKAT: Kini apa yang hendak kita lakukan, karena akhir zaman sudah amat dekat?

ROH KUDUS: Kehadiran-Ku masih di antara manusia dan Aku akan mengajar dan mengingatkan orang-orang percaya akan segala sesuatu yang Kita telah perbincangkan. Akupun akan pastikan untuk meneruskan pesan ini!

YESUS KRISTUS: Aku pun akan tetap mengetengahi mereka dan menggantikan mereka dalam kelemahannya.

ALLAH: Aku akan memastikan bahwa Aku akan memberikan apa yang mereka minta dari Aku, mencari-Ku dan berusaha untuk mendapatkan Aku, berkat-berkat yang telah Aku janjikan melalui Anak-Ku, Yesus Kristus akan dilimpahkan kepada semua orang yang menyadari bahwa Aku, Yehova, senantiasa bersedia untuk memberkati mereka!

Bukan sebagai akibat dari sesuatu yang khusus mereka telah lakukan, melainkan karena AKU MENGASIHI MEREKA!

IBLIS (Sedang diam-diam memasang telinga di balik pintu): Kalian mendengar sendiri! Aku akan mengerahkan lebih banyak pasukan Iblis lagi untuk memastikan bahwa orang-orang percaya tidak sering berdoa lagi serta tidak banyak membaca Alkitab dan kurang menyebarkan Injil…

Kini Anda mendengar sendiri apa yang menjadi rencana Iblis. Buktikanlah bahwa Ibils salah dan tunjukkanlah kuat kuasa yang Anda miliki dalam Kristus Yesus.

Sebagai orang percaya, berdoalah lebih banyak lagi, bacalah Alkitab lebih sering lagi dan bersukalah dalam menyebarkan Kabar Baik kepada dunia! Hendaknya Anda tidak mengecewakan Tuhan!

Kiriman: Ev. Andreas Christanday

Mengejar Ekor

Bacaan Setahun : 2 Korintus 8-10
Nats : Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian ... juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan ... (1 Raja-raja 3:12-13)

Bacaan : 1 Raja-raja 3:4-14

Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekor, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya?

Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. Padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti.

Mari simak lagi, bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo (ayat 10). Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain (ayat 9). Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambahkan hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya (ayat 13). Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberinya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya --AW

HIDUP KITA DI DUNIA INI TERBATAS ADANYA MAKA TENTUKAN TARGET YANG BENAR DAN KEKAL NILAINYA

Sabda.org

30 November 2011

Rest In Peace

Bacaan Setahun : 2 Korintus 4-7
Nats : Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul? (1 Samuel 28:15)

Bacaan : 1 Samuel 28

Rest In Peace (Beristirahat Dalam Damai) seolah-olah tak berlaku di Haiti. Setahun sudah gempa berkekuatan 7 SR memporak-porandakan negeri itu. Namun di Leogane, kota yang terdekat dengan episentrum gempa, kompleks pemakaman umum masih berantakan dan tak terurus. Batu-batu nisan bergeser dan rusak, liang lahat dan peti jenazah menganga, tulang-tulang dan kain pembungkus mayat berserakan. "Saya tidak bahagia, yang sudah meninggal pun tak bahagia, " tutur Pierre, warga setempat yang sedang memperbaiki makam ayahnya.

Namun, yang mengusik orang mati tidak hanya gempa, tetapi juga manusia yang masih hidup. Waktu itu Saul kebingungan karena terjepit dalam perang melawan Filistin. Ia sadar Allah sudah undur darinya dan tak mau menjawabnya lagi. Bukan Allah meninggalkan Saul, tetapi Saul yang meninggalkan Allah dan mengikuti maunya sendiri (ayat 18). Fatalnya, Saul mendatangi para pemanggil arwah dan roh peramal (ayat 3), yang menajiskan dan dibenci Tuhan (Ulangan 18:10-12). Saul meminta mereka memanggil roh Samuel yang sudah mati, sebab ia hendak meminta petunjuk (ayat 8-15). Benarkah itu roh Samuel yang muncul? Entahlah, sebab iblis pun mampu menyamar sebagai malaikat (2 Korintus 11:14). Yang jelas, Saul terkutuk karena ini.

Ada sebagian orang yang sudah mengaku diri anak Tuhan, rajin ke gereja, tetapi masih percaya ramalan, hari baik, atau minta petunjuk "orang pintar" ketika hendak punya acara. Lebih konyol lagi, ada yang meminta rezeki di kuburan nenek moyang. Jika tak segera bertobat, mereka bisa seperti Saul; semula dipilih Allah menjadi raja Israel, tetapi kemudian ditolak Tuhan dan binasa --SST

SEHEBAT APA PUN MANUSIA, SUATU HARI IA AKAN MATI
MAKA ANDALKAN SAJA TUHAN, YANG TAK PERNAH MATI

Sabda.org

29 November 2011

Sebuah Perjalanan Spiritual yang Indah

Aku ingin membagikan pengalamanku kepada Anda tentang perjalanan hidup rohani kami (isteriku dan aku) saat berjalan bersama Tuhan. Bagaimana Tuhan kita adalah Tuhan yang Luar Biasa.

Dimulai pada bulan Februari tahun 2008, putri tertua kami yang berumur 8 tahun (bernama Angela) diketahui menderita penyakit kanker ganas (MPNST). Lalu kami pergi ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa harus dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dari perut puteri kami. Akhirnya pada bulan Maret dilakukanlah pembedahan itu, namun dokter tidak dapat mengangkat kanker itu karena kanker itu telah menyebar ke lever, pankreas, ginjal, limpa, dan aorta.

Singkatnya, selama hampir 9 bulan, dia telah menghabiskan waktunya berada di rumah sakit dan tidak pernah mengeluh kesakitan sedikitpun terhadap penyakitnya. Bahkan Prof. Dr. Sumantri, yang merawat Angela mengatakan, “Dengan jenis penyakit kanker seperti ini, dia seharusnya merasa kesakitan, namun dia sama sekali tidak merasakan itu, jadi ini merupakan sebuah keajaiban.”

Sedikit mengingat pada bulan Mei 2008, dalam perjalanan dari rumah sakit ke rumah kami, Angela mengatakan bahwa suatu hari saat dia meninggal, dia ingin dikuburkan disamping makam kakeknya (ayahku). Dan pada tanggal 6 September, Angela menulis untuk ibunya seperti ini: “Kepada mama tercinta, terima kasih banyak untuk kasih, kebaikan, sehingga aku dapat menikmati hidupku. Jangan bersedih jika aku meninggal, Ma, karena aku meninggal untuk pergi ke surga.”

Pada tanggal 15 Oktober, di rumah sakit, Angela berkata kepadaku, “Pa, aku lelah sekali, aku ingin pulang dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di surga.” Saat aku mendengar hal itu air mataku mengalir di pipiku. Pada tanggal 17 Oktober, pukul 04.30 saat berdoa bersama, Angela berdoa: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan hidupku pada-Mu dan aku telah siap untuk berjumpa dengan-Mu.”

Tanggal 17 Oktober, sekitar pukul 16.25, Angela berkata kepada ketiga orang perawat yang merawatnya, “Suster, Tuhan Yesus menunjukkan kepadaku tiga ruangan”, dan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Angela, minta pada Yesus ruangan yang terbaik untukmu.” dan Angela menjawab, “Ya, Tuhan Yesus memberiku kamar terbaik buatku yaitu kamar ke-3.” (Pada saat itu isteriku dan aku sedang berdoa dan memuji Tuhan di samping tempat tidur Angela) Setelah itu Angela memanggil pamannya yang baru saja tiba, “Om Totok..”, dan kemudian, Totok duduk di sebelah kiri tempat tidurnya dan memegang tangan Angela, dan berkata pada Angela, “Ya, Angela”. Tiba-tiba Angela menjawab kepada Paman Totok, “Ini waktunya, Om”. “Waktu apa, Angela?”, kata Totok kepada Angela. Angela berkata kepada Totok lagi, “Sekarang waktunya untuk pergi ke surga, Om.” Saat aku mendengar Angela berkata seperti itu pada pamannya, aku meminta kepada semua orang yang berada di ruangan itu untuk berlutut berdoa dan aku memimpin doa itu. Pada pukul 16.30 tepat Angela telah berpulang kepada Bapa di surga. Dan betapa Tuhan begitu baiknya.

Waktu yang terberat bagi kami adalah saat 1,5 bulan sebelum Angela meninggal. Saudara dan saudari, dari perjalanan rohani kami berjalan bersama Tuhan melalui berkat khusus yang kami terima (isteriku dan aku), kami belajar banyak hal dari Tuhan.

Aku berharap bahwa pengalaman pribadiku berjalan bersama Tuhan dapat membawa berkat bagi Anda semua. Doaku, semoga Tuhan memberkati dan melindungi Anda sekalian.

Terima kasih.

salam dalam Kasih Tuhan,
Zefanya Adi Walujo
Sri Edy Hernani

Tidak Untuk Diulang Kembali!

Roma 6 : 1 - 14

Salah satu pengajaran yang sering diabaikan oleh gereja-gereja Tuhan dan orang-orang percaya zaman ini adalah tentang hidup menderita bagi Kristus. Orang Kristen lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, sukacita, bahagia, hidup sukses. Adalah baik kalau sebagai bukti kasih dan kesetiaan kita kepada Allah maka hidup kita menjadi berhasil dan diberkati Tuhan. Tetapi jangan lupa bahwa jauh sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia berkali-kali berbicara tentang kesengsaraan dan kematian-Nya untuk menebus dosa manusia bukan agar kita sukses dan kaya. Sukses, kaya, bahagia adalah akibat dari hidup kita yang senantiasa berpaut kepada Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: “..Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5) Menjadi pengikut Kristus jangan cuma mengharap berkat dan sukses belaka, tetapi ketahuilah bahwa Ia telah rela menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2.Kor 8 : 9). Kita menjadi kaya karena ada yang mau berkorban untuk kita, bukan kita menjadi pengikut Kristus agar menjadi orang kaya. Kaya dalam hidup menurut Tuhan Yesus bukan cuma kaya materi. Kalau hanya itu, maka kekayaan itu sia-sia tidak bisa kita bawa mati. Dalam rangka Paskah kita diminta untuk kembali mengenang penderitaan Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya.

Paulus dalam Surat Roma ini sedang menegur orang-orang percaya yang lebih suka berbuat dosa dari pada berbuat benar. Menurut pendapat mereka, makin banyak berdosa, makin besar juga kasih karunia Allah. Oleh sebab itu berdosalah terus karena Allah tidak kekurangan untuk senantiasa memberi pengampunan. Paulus mau mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus tidak semudah yang kita bayangkan. Apalagi membayangkan bahwa dengan menjadi Kristen maka berkat-berkat Tuhan akan melimpah-limpah.

  1. Menjadi pengikut Kristus akan semakin indah bilamana kita mau membayar harganya.
    Harga penebusan atas dosa-dosa kita terlalu mahal untuk dinilai dengan uang. Bagaimana mungkin orang yang tidak berdosa mau mati menggantikan orang berdosa. Bukankah sesungguhnya kita telah berhutang untuk karya Kristus yang agung itu? Saat kita lahir, kita telah berhutang kepada ibu yang mengandung dan melahirkan kita, bidan/dokter yang menolong persalinan ibu kita, belum orang-orang lain yang ikut repot ketika kita masih bayi.
    Juga ketika kita mati, kita berhutang kebaikan kepada orang-orang yang merawat jenazah kita dan sampai menguburkannya. Yang lebih besar dari pada itu ialah pada saat kita hidup di dunia ini, kita telah berhutang kepada Kristus yang ketika kita hidup, Ia telah memanggil kita untuk percaya. Dan oleh karenanya kita beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Berhutang kepada Kristus, harga inilah yang harus kita bayar. Apa yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan ketika kita masih sehat, kuat, hidup berkecukupan? Berpikirlah setiap hari bahwa kita “berhutang” kepada Tuhan dan berusahalah membayar harganya.
  2. Kematian Kristus membuka jalan ke surga dan semua permasalahan kita di dunia.
    Ada jalan baru untuk menggantikan jalan lama yang sudah tidak mungkin untuk dilalui lagi. Zaman ini orang suka mencari jalan alternatif, artinya jalan yang masih mungkin untuk dilalui. Dan itu mungkin jalan sempit, bergelombang, berbatu-batu dan tidak nyaman. Tetapi demi sampai tujuan maka terpaksa ditempuh juga. Tuhan tidak menawarkan jalan alternatif tetapi jalan melalui Diri-Nya sendiri. ( Yoh 14:6 ) Jalan, Kebenaran dan Hidup.
    Paulus menggambarkan jalan baru yang dibuat Yesus itu seperti ini: …jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia (ay.8). Dengan demikian kita diajak mengubah paradigma dengan jalan baru yang dibuat Yesus. Bukan mencari jalan alternatif yang lain.

    Adalah sangat memprihatinkan bahwa dalam tiga tahun terakhir (tahun 2005-2008) di negeri kita telah tercatat ada 50 ribu orang bunuh diri belum termasuk yang mati karena obat-obat terlarang / narkoba yang setiap tahunnya menelan jiwa 50 ribu orang banyaknya di negeri ini. Kemana kita akan membawa permasalahan hidup yang semakin hari semakin berat ini? Ada jalan yang ditawarkan Tuhan tetapi tidak semua orang mempercayainya bahwa jalan itu benar-benar memberi solusi atas segala problem hidup kita di dunia ini. Jalan itu juga bisa membawa kita untuk mengalami suasana surga dalam rangka menghadapi beban-beban hidup yang berat di dunia ini .

    Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa Kristus benar-benar tidak mati, tetapi Ia hidup dan tetap hidup untuk menampung dan memberi solusi atas semua permasalahan manusia di dunia ini.

    Percayalah kepada Jalan Tuhan di saat jalan-jalan di dunia ini tertutup untuk semua permasalahan hidup kita. Bagi Anda masih ada harapan untuk hidup.

  3. Tinggalkan semua yang dosa dan katakan: ”TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ”
    Diatas bukit Golgota ada tiga salib berdiri di sana, tetapi masing-masing berbeda kisahnya. Salib di kiri Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati dalam dosa ( died in sin) Penjahat ini tidak mau bertobat dan bahkan menghina Yesus ( Luk 23: 39). Orang ini mati dalam dosanya.

    Salib di kanan Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati terhadap dosa (died to sin). Penjahat ini menggunakan waktunya yang singkat untuk bertobat sebelum ia mati. (Luk 23: 42). Ia mati dengan tersenyum karena janji Tuhan Yesus bahwa hari ini juga ia akan bersama-sama masuk ke Firdaus.

    Salib yang ditengah adalah salib Tuhan Yesus. Ia telah mati untuk manusia-manusia yang berdosa (died for sinners). Pilatus yang mengadili Yesus tidak mendapati kesalahan Yesus sedikitpun. (Yoh 18:38)

    Kesengsaraan kita telah dipikul-Nya dan kita diminta untuk “jangan kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa “ (ayat 13) Oleh sebab itu tinggalkan semua dosa dan katakan “TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ” Ibarat orang sakit yang sudah sembuh dan pulih, masakan kita mau sakit lagi dan terus sakit. Berarti tidak ada niat untuk sembuh dan memperbaiki diri.

Pengorbanan Tuhan Yesus cukup satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9: 12). Sungguh amat berdosa jikalau kita menodainya dengan berkali-kali melakukan pelanggaran dosa.

Mulai saat ini pikirkanlah ini: Apa yang dapat aku lakukan untuk membalas kasih Tuhan yang telah menyelamatkan aku? Aku percaya bahwa di dalam Dia ada jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semua pergumulanku di dunia ini. Dan aku berjanji untuk tidak mengulang lagi semua perbuatan dosa yang membuat Tuhan menangis melihat aku.

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH BAGAIKAN BAB BARU YANG MASUK DALAM LEMBARAN-LEMBARAN BUKU LAMA HIDUP KITA.
LEBIH MENARIK DAN MEMBUAT HIDUP INI LEBIH HIDUP KEMBALI.

Pdt.Andreas Gunawan Pr.

Gizi Bagi Jiwa

Bacaan Setahun : 2 Korintus 1-3
Nats : Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup" (Kejadian 46:30)

Bacaan : Kejadian 46:28-30

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, "Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?" Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, "Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup ..." (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan "memberi gizi" bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu "pahit" sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan "nutrisi" atau "gizi" pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri --DKL

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA
KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA

Sabda.org