Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 November 2011

Siapakah Andalanmu?

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 21-24
Nats : Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu (Lukas 12:31)

Bacaan : Lukas 12:13-34

Ketamakan dapat melanda siapa saja. Bukan hanya orang yang berkuasa, orang miskin dan tidak memiliki kuasa juga bisa salah menyikapi harta di hidupnya. Ketamakan orang yang berkuasa menimbulkan tindak korupsi, ketamakan orang miskin menghalalkan pencurian. Semua didasari oleh sikap mengandalkan harta, lebih dari mengandalkan Tuhan.

Berlawanan dengan sikap hidup demikian, Tuhan Yesus mengajar orang beriman supaya memercayai pemeliharaan Allah di hidupnya. Tantangan-Nya agar orang menjual segala milik dan memberikan sedekah adalah jawaban radikal supaya orang bisa terlepas dari belenggu harta yang menghalanginya untuk menemukan Kerajaan Allah. Ketamakan manusia yang menimbun harta, akan menyebabkan ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan kecemburuan sosial. Pesan ini tidak hanya berbicara pada zaman itu karena adanya ketimpangan sosial antara orang miskin yang tertindas oleh penjajah, dan kalangan orang kaya yang berkolusi dengan penguasa. Namun, juga berbicara untuk saat ini dan di negeri ini, di mana banyak terjadi kolusi antara para pemegang kuasa dan uang, untuk memperkaya diri.

Hidup yang mengandalkan Tuhan membuahkan sikap hidup mau berbagi. Sebaliknya, hidup yang mengandalkan harta membuat orang tamak dan mementingkan diri sendiri. Tuhan tahu kita memerlukan harta untuk hidup, tetapi harta itu sama sekali tak boleh menjadi andalan. Tuhan Yesus menghendaki agar kita mencari Kerajaan Allah lebih dulu, baru yang lain akan ditambahkan. Tuhan kita tak pernah ingkar janji. Maka, ketika kita mengandalkan pemeliharaan Tuhan, kita tak akan kecewa --ENO

KETAMAKAN ADALAH USAHA MEMPEROLEH BAGIAN HIDUP
YANG MERUSAK HIDUP ITU SENDIRI

Sabda.org

16 November 2011

Derita Membuka Mata

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 18-20
Nats : Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18)

Bacaan : Kisah Para Rasul 7:54-8:4

Dr. George Harley, seorang lulusan dari Universitas London, memberi hidupnya bagi pekerjaan Tuhan di Liberia, Afrika, dengan pengorbanan besar. Dalam lima tahun pertama, tidak ada seorang pun yang mau berobat dan ditolong dokter. Namun suatu hari, anak Dr. Harley meninggal dunia. Sang dokter yang begitu sedih membuat sendiri peti mati dan mengubur anak yang dicintainya. Melihat penderitaan sang dokter, masyarakat desa itu terkejut. Mereka heran bahwa orang kulit putih juga bisa menangis. Air mata sang dokter telah menyentuh hati mereka dan mengubah keadaan. Sebab bagi mereka, itulah tanda bahwa sang dokter memiliki kasih yang mendalam. Mulai dari saat itu, salah satu desa di Liberia disentuh dan dimenangkan bagi Kristus.

Mata rohani orang-orang juga terbuka ketika menyaksikan keberanian Stefanus menghadapi penghakiman massal, yang membuatnya terbunuh sebagai martir. Mereka heran mengapa Stefanus berani membela imannya sedemikian rupa. Itu membuktikan bahwa kepercayaan Stefanus jauh lebih unggul dibandingkan kepercayaan orang-orang lain. Bahkan, penderitaan Stefanus juga membuka mata batin, serta memacu semangat dan kehendak para pengikut Kristus untuk makin gencar dan berani menyebarkan Kabar Baik. Setelah penganiayaan Stefanus, anak-anak Tuhan makin tersebar bahkan sampai keluar dari Yerusalem.

Penderitaan Stefanus dan Dr Harvey, justru menjadi alat di tangan Tuhan untuk mendobrak kerasnya hati manusia. Bukan hanya mata batin para pengikut Kristus, melainkan juga mereka yang masih membutuhkan kasih Kristus --BL

BAHKAN PENDERITAAN ANAK-ANAK ALLAH
DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGENAPI RENCANA BESAR ALLAH

Sabda.org

15 November 2011

Bukan Remisi

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 15-17
Nats : Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! (Mazmur 51:3)

Bacaan : Mazmur 51:1-8

Seorang narapidana memperoleh remisi, antara lain karena ia dianggap berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Kebaikan membuahkan pengurangan hukuman. Anugerah Allah bekerja sebaliknya. Dia mencurahkan anugerah justru karena kita durhaka dan tidak mampu memperbaiki diri dengan kekuatan sendiri.

Daud sangat menyadari hal ini. Ketika berzina dengan Batsyeba, ia sedang berada di puncak kejayaan sebagai raja Israel. Bangsanya mengenalnya sejak ia menjadi pahlawan kecil yang secara mengejutkan menumbangkan raksasa Goliat. Selanjutnya ia memimpin pasukan Israel ke dalam berbagai kemenangan sehingga ia dielu-elukan oleh rakyat. Ketika akhirnya menjadi raja, ia juga mencatat prestasi mengesankan: mengembalikan tabut Allah yang dirampas bangsa Filistin ke Yerusalem, meraih sekian banyak kemenangan militer, dan menunjukkan kebaikan yang tulus kepada Mefiboset.

Namun, saat bertobat dari dosanya, ia tidak mengutip satu pun pencapaian itu sebagai senjata untuk "merayu" Allah agar mengurangi hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Menarik dicatat pula, ia hanya berseru, "ya Allah" bukan "ya Allahku". Ia menyadari betapa parah dosa merusak hubungannya dengan Allah. Maka, ia hanya meminta belas kasihan, kasih setia, dan rahmat Allah Yang Mahabaik. Kebaikannya selama ini tidak berguna untuk meringankan dosa; hanya anugerah Allah yang sanggup mengampuni dan menebusnya.

Anda bergumul dengan suatu pelanggaran, dan merasa harus melakukan perbuatan baik tertentu untuk menebusnya? Berhentilah bergumul seperti itu. Ikutilah teladan pertobatan Daud --ARS

DOSA TIDAK DAPAT DIRINGANKAN OLEH PERBUATAN BAIK
NAMUN DAPAT DIHAPUSKAN OLEH ANUGERAH ALLAH

Sabda.org

14 November 2011

Kisah Dari Negeri Bangladesh

securedownload

Sekelompok kecil orang percaya berjalan menuju bagian dalam hutan-hutan Bangladesh mencari tempat berteduh, beristirahat. Beberapa dari mereka berdarah-darah, lebam dan kelaparan. Banyak dari mereka diserang dan diusir keluarga dari desa-desa mereka. Mereka telah kehilangan segalanya, walaupun demikian mereka menemukan lebih banyak sukacita dan hidup kekal dalam kristus.

Ketika orang-orang percaya yang berani ini melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri, suatu jaringan orang-orang Kristen Bangladesh secara diam-diam mencari mereka dan membawa mereka ke  tempat pengungsian yang aman dimana mereka ke tempat pengungsian yang aman dimana mereka mendapatkan pengobatan, istirahat, kelas Alkitab dan mungkin pelatihan-pelatihan. Setelah beberapa bulan, orang-orang percaya ini akan kembali ke daerah-daerah yang menentang Kekristenan, disegarkan dan siap untuk menjangkau yang terhilang bagi Yesus.

KDP pergi mengunjungi orang-orang Kristen seperti mereka dalam persembunyiannya, untuk menguatkan dan mencari cara baru untuk menolong mereka. Kami mendengar saat mereka menceritakan kisah mereka dan kami dikuatkan saat salah seorang dari mereka mengatakan kepada kami, “Allah membuat kami berani.” Sekarang kami membagikan kisah mereka dengan Anda.

Di Dalam Dekapan Yesus

Kami duduk bersama “Aban” dan “Momina” di kursi plastik putih, sebuah kipas menghembuskan angin di dalam ruangan yang panas mencekik. Anak-anak mereka menunggu dekat mereka, memerhatikan kami dengan mata mereka yang lebar kecoklatan. Aban berbicara dengan suara yang pelan, menceritakan bagaimana ia menemukan Yesus.

Aban mengalami kekosongan yang lama di dalam iman “Agama lainnya”, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan itu sampai suatu hari ketika seorang pemberita kabar sukacita memberikan kepadanya sebuah buku yang berjudul “Domba Yang Hilang.” Buku itu bercerita mengenai bagaimana Allah sang Bapa mencari dombaNya yang hilang, orang-orang “Agama lain”. Gambaran Allah sang Gembala berjalan melalui tempat-tempat yang sepi dan mencari seekor domba yang hilang, terngiang dalam pikiran Aban. Ia dengan sepenuh hati mempersembahkan hidupnya kepada Kristus.

Keluarga besar Aban menghina imannya dan mencapnya “kambing hitam,” yang telah mengotori keputihan atau kesucian dedikasi keluarga pada “Agama lain”. Ketika ditanya mengapa seorang “Agama lain” sebaiknya menjadi Kristen, Aban menjawab, “Sebagai orang Kristen kamu mungkin mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi itu sebanding dengan keselamatan jiwamu.” Selama ia berkhotbah, banyak orang-orang menerima Kristus. Walaupun demikian tidak semua mau mendengarkan Injil – Aban telah diusir keluar dari desa-desa sebanyak 22 kali di waktu yang berbeda.

Walaupun istri Aban yang “Agama lain” untuk sementara menerima iman barunya, tetapi akhirnya istrinya menyerah karena tekanan dari teman-teman dan keluarga untuk kembali kepada “Agama lain” dan menceraikan Aban. Aban tetap setia kepada panggilannya, mengunjungi dari satu desa ke desa yang lain. Ia selalu bertanya kepada setiap orang yang ia temui, “Pernahkah kamu mendengar mengenai Yesus … Seorang yang berkuasa? Kita dapat menemukanNya di dalam kitab suci kita. Jika kamu bersedia, aku akan meneruskan dan menceritakan lebih lagi tentang Dia.” Ia menceritakan pengalaman pribadinya bersama Kristus dan membagikan buku-buku, traktat-traktat dan Alkitab.

Seorang yang menerima buku dari Aban adalah Momina. Sekarang, Momina adalah istri Aban, ia menceritakan kepada kami bagaimana sebagai seorang gadis muda, ia telah memperoleh semua hal yang ia butuhkan: seorang suami, keluarga yang indah dan pekerjaan yang menjanjikan. Aban bertemu dengannya tepat setelah kehidupan bahagianya berantakan.

Aban melihat Momina, sedang menangis di rumah. Sambil meneteskan air mata, Momina berkata kepadanya, “Ayahku sedang sakit dan suamiku menceraikan aku. Bagaimana aku dapat bertahan?” Aban menawarkan kepadanya sebuah Alkitab.

Momina dengan segera menerima Alkitab tersebut, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengikut Kristus. Beberapa anggota keluarga dan teman marah. Mereka mulai menanyakan mengapa keluarganya masih terus memberi “orang murtad ini” tempat untuk tinggal.

Suatu hari ketika Momina bermain-main dengan anak perempuannya yang berumur 8 tahun di teras rumah, saudara laki-lakinya menghampirinya dalam keadaan naik pitam, menyerangnya berkali-kali dengan tongkat bambu yang tebal, mematahkan tulang rusuknya. Anak perempuannya terlempar dari pelukannya saat ia jatuh pingsan. Momina tersentak bangun oleh dinginnya siraman air di wajahnya dan lebih banyak pukulan. Sepupunya memukulinya dengan sebuah tongkat. “Kami mendidikmu,” katanya. “Kamu punya otak dan pikiran. Lalu mengapa kamu pergi dan menjadi orang Kristen? Kamu perempuan jalang.”

Selama satu bulan kemudian saat Momina terbaring memulihkan kondisinya, polisi desa mengunjungi kedua orang tuanya. “Kamu harus melakukan sesuatu mengenai anak perempuan Kristenmu,” kata mereka. “Jika kamu tidak bertindak, kami akan memenjarakanmu dan menyiksamu.” Para tetangga menyarankan kedua orang tuanya untuk meracuni Momina hingga mati.

Menghadapi tekanan dari semua pihak, kedua orang tuanya mengusirnya keluar dari rumah, bersama dengan anak perempuannya dan anak perempuan adobsinya yang berumur 3 tahun. Ketika ia pergi, saudara-saudara  laki-lakinya memperingatkan dia, “Kami tidak mengijinkan kamu kembali lagi ke sini. Jika kamu masih tertahan, kami akan menyerangmu, dan meracunimu dan kamu akan mati.”

Dengan tidak ada seorangpun yang dapat menjadi tempat curahan hatinya, ia meminta Aban jika Aban mau menikahinya dan menjaganya dan kedua anak perempuannya. Aban setuju dan mereka menjadi sebuah keluarga. Allah mulai menganyam dua individu yang terbuang ini menjadi satu permadani yang indah dipandang.

Karena banyak orang tahu bahwa Aban adalah seorang penginjil, mereka terus berpindah dari satu desa ke desa lainnya karena kemarahan orang-orang. Di suatu tempat dimana mereka tinggal, sang tuan tanah mengacungkan golok dan berkata kepada Momina, “Jika kamu tidak pergi, aku akan mencincang tubuhmu dan membuangnya ke selokan.” Kemudian, ketika Momina mengunjungi kedua orang tuanya, orang-orang desa yang marah membakar rumah mereka.

Sekarang Aban, sang gembala sedang mencari domba yang hilang, bepergian ke berbagai desa membagikan Firman Tuhan. Ketika kedua anak perempuan Momina merindukan ayah mereka, Momina menghibur mereka, dengan berkata, “Kita mengasihi Yesus, oleh karena itu ayah kalian pergi memberitakan kepada orang lain untuk mengasihi Yesus.“ Kadang-kadang, Momina berpegian bersama Aban, membawa anak-anak perempuannya. Ketika Aban bersaksi dengan yang pria, Momina bersaksi kepada yang wanita.

securedownload (1) Ketika kami sedang berbicara dengan Aban dan Momina, Momina duduk tidak tenang di kursinya. Ia masih merasakan sakit pada  tulang rusuknya yang retak, yang mana tidak ana pernah pulih setelah penyerangan yang dia alami empat tahun yang lalu. Kami berdoa bersama dengannya, dan ia dalam perawatan seorang dokter Kristen. Kami juga sedang membantu Aban dan Momina membeli sepetak tanah yang mana diatasnya akan didirikan sebuah rumah sederhana. Kedua roang ini, yang sangat menderita karena mengikut Kristus, mempunyai kasih yang tulus bagi mereka yang menyakiti mereka dan hasrat yang membara untuk mempersaksikan injil pada orang-orang di negara mereka. Ketika Momina berkata kepada kami, “Allah membuat kami berani. Yesus telah banyak menderita, maka aku juga perlu menderita di dalam hidup ini.”

Source:
The Voice Of The Martyrs
Kasih Dalam Perbuatan Edisi Maret – April 2008

Menggantungkan Harapan

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 11-14
Nats : Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" (Lukas 7:13)

Bacaan : Lukas 7:11-17

Ketika suaminya meninggal, wanita ini bertekad menjanda untuk membesarkan anak tunggalnya. Ia berjuang melawan kerasnya hidup, termasuk cercaan serta cibiran tetangga yang mewaspadai para janda. Ia berpikir, "Tak apalah aku susah sekarang. Sebentar lagi anakku dewasa, dan dialah harapan masa tuaku." Namun mendadak, anak tunggalnya itu meninggal. Harapan hidupnya terampas seketika. Sampai ia harus bertanya, "Untuk apa lagi aku hidup?" Di sepanjang jalan desa Nain menuju pemakaman, air matanya telah mengering. Meski orang-orang turut meratapi kepergian putranya, tak ada yang memahami kesedihannya karena kehilangan tempat menggantungkan hidup.

Ketika ia berpapasan dengan Yesus, kesedihan mencekik kerongkongannya. Ia tak lagi mampu mengucap, memohon pertolongan. Apakah hati sang Juru Selamat hanya tergerak jika diminta, dan jika ada iman kepada-Nya? Ketika hidupnya "lumpuh", sang Juru Selamat memahaminya. Dia peduli pada hati yang menjerit tanpa kata. Dengan penuh kasih Dia berkata: "Jangan menangis." Ucapan ini bukan sekadar penghiburan di kala duka. Sebab, Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas maut dan kehidupan. Maka, dengan penuh kuasa Yesus berseru: "Hai anak muda ... bangkitlah" (ayat 14). Yesus bukan hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si janda.

Kepada siapa Anda menggantungkan harapan masa depan? Kepada pasangan hidup, anak-anak, harta, asuransi, atau yang lain? Ingatlah bahwa semua itu bisa mati dan habis. Maka, berharaplah kepada sumber kehidupan, yaitu Yesus, yang selalu mampu dan mau memedulikan kita --SST

TARUHLAH SEGALA HARAPAN HIDUP KITA
PADA DASAR YANG TEGUH DAN TAK TERGOYAHKAN

Sabda.org

11 November 2011

Pesan Yang Membesarkan Hati

“Hidup yang disirami dengan air mata tragedi dan penderitaan seringkali menjadi tanah yang subur untuk pertumbuhan spiritual.”

Seringkali agaknya hidup ini hanya terdiri dari hal-hal yang memprihatinkan. Kita semua pernah mengalami kekecewaan... kematian, penyakit, pengkhianatan, tragedi dan perasaan diri tidak berharga serta keputus asaan. Kadang-kadang, hidup ini begitu keras dan kejam sehingga seringkali kita cenderung untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri.

Aku hanya ingin mengulangi lagi... aku percaya bahwa kita di dunia ini diberi kesempatan untuk bertumbuh secara spiritual. Kita dapat mengalami banyak pertumbuhan pribadi justru karena semua penderitaan, keprihatinan dan kesukaran yang kita harus lalui selama hidup kita di dunia ini.

Ini adalah cara Tuhan untuk memurnikan kita supaya kita lebih memiliki belas kasihan, lebih peduli, lebih mengasihi dan lebih peka akan penderitaan orang lain. Betapapun, bagaimana kita dapat menyeka air mata orang lain, kalau kita tidak pernah menangis sendiri terlebih dahulu?

Kadang kala, kita menemukan diri kita di lembah penderitaan. Hal itu sering dirasakan, bahwa kita selalu dilanda keprihatinan, menderita sengsara dan menghadapi tantangan-tantangan. Namun kita harus berusaha untuk ingat bahwa pupuk yang membantu kita untuk “bertumbuh” justru berada di lembah dan tidak berada di puncak gunung.

Ketika kita berada di dalam ketakutan dan kebingungan, pada akhirnya kita menjadi lebih bijak sehingga kita bertumbuh lebih banyak dari pengalaman. Kita akan lebih mengerti tentang manusia dan kehidupan, menjadi lebih peka sehingga kita pun dapat menikmati hidup ini lebih banyak lagi setelah kita keluar dari saat-saat yang keras dan kejam.

Kita harus dapat mengalami kesedihan supaya kita dapat menghargai suka cita dalam arti yang sebenarnya. Hidup mempunyai cara untuk menyeimbangkan kesengsaraan dengan suka cita, kekecewaan dengan harapan, serta kekosongan dengan makna sejati.

pennyparker.com

Ada Saatnya Menyerah

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 1-4
Nats : Beginilah firman TUHAN kepadaku: "Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!" (Yeremia 27:2)

Bacaan : Yeremia 27

Yos memukul tengkuk lelaki itu hingga pingsan. Ia terpaksa melakukannya karena pria itu terus meronta dan menyulitkan saat hendak ditolong dalam proses evakuasi di laut. Ketika ia dibuat tak berdaya, Yos bisa merangkul leher pria itu dan berenang membawanya ke pantai.

Bacaan hari ini secara mencengangkan menceritakan bahwa ada saat untuk menyerah, untuk menaklukkan diri kepada orang yang mungkin bukan sahabat kita, bahkan merupakan musuh yang akan mengambil hak kita. Tentu sepanjang hal itu dikehendaki Tuhan. Gandar kayu di tengkuk Yeremia adalah gambarannya. Yeremia diminta memberi tahu raja-raja tetangga bahwa seluruh negeri telah diserahkan ke tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan mereka harus takluk kepadanya agar tidak mati oleh pedang, kelaparan, penyakit. Ini pun berlaku bagi Yehuda yang saat itu diperintah Raja Zedekia. Ini perintah yang sulit dan tak menyenangkan untuk dilakukan, terutama oleh bangsa yang "tegar tengkuk".

Mungkin ada saat kita bertanya; mengapa Tuhan menaruh kita di posisi tidak berdaya, mengapa Tuhan seolah-olah melukai ego kita dan tidak membiarkan kita bangkit. Belajar dari kisah evakuasi laut yang dilakukan Yos, ada saatnya ketidakberdayaan itu membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang lebih besar. Sayangnya dalam lanjutan bacaan ini, kerajaan Yehuda tidak mau menyerah hingga mereka berakhir di ujung pedang dan pembuangan di Babel.

Kita mungkin diizinkan Tuhan untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Tuhan juga sedang tanpa daya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Tuhan, kita bisa belajar menyerah pada kehendak Tuhan tanpa takut dan ragu --SL

TUHAN TIDAK SEDANG TINGGAL DIAM SAAT DIA MEMINTA KITA UNTUK MENYERAH

Sabda.org

10 November 2011

Apa yang tidak kamu pikirkan, itulah yang Tuhan berikan

Menjadi guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Tidak! Bahkan saya tidak punya cita-cita apapun. Hanya ibulah yang mendorong kami anak-anaknya yang berjumlah 6 orang kelak harus dapat bekerja mencari nafkah sendiri, tidak bergantung pada suami. Ibuku seorang janda yang tidak mempunyai keahlian apapun, bahkan bekerja di sawah peninggalan ayah.

Kami hidup bergantung pada pensiun ayah yang kecil dan hasil sawah serta pekarangan. Itulah sebabnya Ibu menyuruh saya melanjutkan sekolah di SGA setelah saya selesai SMP karena biayanya lebih murah dari pada sekolah SAA dimana kakak saya bersekolah dan saya juga sudah diterima di sana.

Belajar 3 tahun di SGA saya jalani dengan hati yang senang dan nilai-nilai saya juga baik, tetapi saya tidak membayangkan akan menjadi guru. Pokoknya saya hanya senang bersekolah. sampai akhirnya saya lulus dan mendaftarkan ke perguruan tinggi di IKIP dan mengambil jurusan sejarah antropologi (SA) karena saya senang pelajaran sejarah. Masih teringat saat mendaftaran, ada mahasiswa petugas pendaftaran bertanya-tanya, ”Mbak, kok tidak masuk jurusan bahasa Inggris?”. Saya jawab, ”Tidak, saya tidak senang”. Padahal nilai bahasa Inggris saya 8, sedangkan nilai sejarah hanya 7.

Sampai akhirnya saya lulus tes dan diterima. Lalu masalahnya timbul, yaitu untuk bisa masuk harus membayar saat itu (tahun 1964) Rp 15.000,00. Itu jumlah yang banyak. Untuk biaya sekolah kakak, kami sudah menjual rumah, untuk biaya sekolah adik kami sudah menjual sebidang sawah dan untuk membelikan tanah yang ditempati kakak satunya lagi ayah sudah menjual sebidang sawah juga. Saya tidak tega bila keluarga mau menjual sawah lagi, di tambah dengan ingatan biaya hidup dan kuliah di kota, akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan studi di IKIP sejarah tersebut. Sungguh itu berat sekali rasanya. bertahun –tahun saya merasa sedih akan hal itu.lalu saya mendapat alternatif untuk melanjutkan sekolah di PGSLP dan mendapat ikatan dinas. Jadi biayanya ringan, bahkan saya dapat membantu meringankan beban ibu yang masih harus menghidupi 4 orang adik-adik saya.

Pertama-tama saya memilih jurusan bahasa Indonesia, karena saya suka sekali membaca buku-buku sastra. Waktu masih di SD dan SMP, waktu libur saya habiskan untuk mencari pinjaman buku-buku bacaan. Setelah 1 minggu di jurusan B Indonesia, saya merasa tidak betah suasananya. Kebetulan ada mahasiswa jurusan B Inggris yang juga tidak cocok di sana, jadilah kami bertukar jurusan. Walhasil, saya masuk jurusan B. Inggris dan belajar selama 2 tahun. Padahal dulu saya tidak mau masuk jurusan B. Inggris karena tidak senang. Tahun 1966 saya lulus dengan nilai yang baik dan kemudian diterima mengajar di sebuah SLTP negeri sebagai tenaga honorer. Saat itu transportasi belum semudah sekarang, saya harus naik kereta api atau bersepeda sejauh kurang lebih 20 km, lalu saya merasa capek dan kebetulan ada teman yang mengajar di sebuah SLTP Yayasan Kristen yang membutuhkan guru B. Inggris. Jadilah saya tinggalkan SLTP Negeri tadi yang sudah menyuruh saya mengumpulkan berkas – berkas pengangkatan pegawai negeri itu dan memulai mengajar di SLTP Yayasan Kristen di sebuah kota kecamatan sebagai guru tetap yayasan.

Bulan-bulan pertama mengajar, saya merasa sulit menyesuaikan diri dan keadaan keluarga kami yang tidak harmonis serta beban ekonomi yang berat membuat saya mengalami depresi dan tidak mempunyai keinginan apapun. Saya bahkan tidak masuk mengajar selama 3 bulan. Tetapi herannya, pimpinan sekolah dan pengurus yayasan tidak mengeluarkan saya, bahkan waktu saya masuk kembali gaji saya masih tetap diberikan. Saya berterima kasih sekali akan hal itu. Tetapi lagi-lagi saya mengalami depresi di tahun berikutnya. Kemudian setelah sembuh saya mengikuti katekisasi dan dibaptis pada 24 Desember 1968; itu terjadi 40 tahun yang lalu.

Kemudian kehidupan menjadi menyenangkan dan saya mengalami hari-hari mengajar di SLTP Kristen dengan penuh semangat. Sekolah mengalami kemajuan pesat dan menjadi sekolah favorit di kota kecamatan tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah mendirikan sekolah-sekolah negeri sehingga sekolah-sekolah swasta mengalami kemunduran. Disamping itu di dalam intern sekolah sendiri banyak terjadi intrik-intrik sehingga suasana belajar mengajar menjadi tidak menyenangkan. Suasana kekristenan tidak dapat dirasakan di sekolah. Dan saya berusaha mencari tempat bekerja yang lain. Tetapi semuanya sia-sia saja.

Saya sudah putus asa dan tidak mempunyai bayangan pindah kemana bila sekolah tutup. Tetapi lagi-lagi saya merasakan Tuhan bekerja untuk saya. SLTP Negeri di dekat meminta saya mengajar di sana dan itu adalah hal yang tidak menjadi aangan-angan saya karena SLTP tersebut menjadi saingan SLTP Kristen tempat saya mengajar. Jadilah saya pindah ke SLTP Negeri itu karena SLPT Kristen sudah tidak dapat dipertahankan lagi. “Apa yang tidak terpikirkan oleh saya, itulah yang Tuhan berikan”. Bertahun-tahun saya mencari tempat pindah mengajar tidak berhasil, tetapi Tuhan menyediakannya buat saya. Dan demikianlah saya menghabiskan hari-hari mengajar saya di SLTP Negeri tersebut dengan senang dan saya satu-satunya pengajar yang beragama Kristen di sekolah tersebut sehingga saya berpikir memang Tuhan menempatkan saya di sekolah tersebut dengan tujuan tertentu.

Kini saya sudah pensiun tetapi saya boleh merasa bersyukur karena banyak anak-anak SMP maupun SMA yang datang untuk les B. Inggris di rumah. Tuhan sendiri yang memilihkan apa yang harus saya pelajari sehingga semuanya itu berguna bagi kehidupan saya. Saya tidak perlu khawatir akan kehidupan saya, karena saya tahu Tuhan merencanakan yang terbaik untuk hidup saya.

Sukartinah Joko Susmono Hadi
GKJ Palihan
Kragon II, Palihan, Temon, Kulon Progo, Yogyakarta, 55654

Akhir Sebuah Kisah

Bacaan Setahun : Yohanes 19-21
Nats : Kemudian matilah ia pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, kemudian naik rajalah Salomo, anaknya, menggantikan dia (1 Tawarikh 29:28)

Bacaan : 1 Tawarikh 29:21-30

Semua kisah tentu ada akhirnya. Ada yang berakhir dengan bahagia, tetapi banyak juga yang berakhir sedih, bahkan tragis. Kalau kita diminta untuk memilih, tentu kita akan memilih kisah yang berakhir bahagia, apalagi kalau itu kisah hidup kita sendiri. Bahkan, ada gurauan bahwa kalau bisa kita mengalami masa kecil yang indah, masa muda yang nikmat dan bahagia, lalu di masa tua tinggal menikmati kekayaan dan menunggu masuk surga. Tentu ini tidak realistis.

Hidup Daud dapat dikatakan sukses. Ia sukses menjadi raja yang kaya raya dan penuh kemuliaan. Anaknya, Salomo raja yang akan terkenal karena hikmatnya akan menggantikannya sebagai raja. Daud, raja sekaligus prajurit sejati, wafat saat usianya sudah tua dan meninggalkan banyak kesan: karyanya, hikmatnya, kesalehannya, doa-doanya. Memang ada raja Israel lain yang lebih makmur dan lebih lama memerintah daripada Daud, tetapi tak ada raja yang lebih saleh darinya. Hingga ia bahkan dihubungkan dengan Mesias yang dijanjikan. Ya, Yesus bahkan juga disebut sebagai Anak Daud.

Ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, apakah yang kita ingin agar diingat orang-orang mengenai kita? Keberhasilan atau kegagalan kita? Apakah perjalanan hidup dan iman yang telah kita perjuangkan bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang kita tinggalkan? Kiranya bukan sekadar akhir bahagia yang kita inginkan terjadi di hidup kita, melainkan hidup yang telah selesai melaksanakan rancangan Allah bagi kita. Bahwa melalui hidup kita, banyak orang dapat merasakan kasih Tuhan. Melalui hidup kita, nama Kristus dimuliakan --ENO

HIDUP YANG SUKSES BUKAN SEKADAR MEMENUHI CITA-CITA PRIBADI
MELAINKAN JUGA MEMENUHI CITA-CITA TUHAN MENCIPTAKAN KITA

Sabda.org

09 November 2011

Kentucky Fried Chicken

Harlan dilahirkan pada tanggal 9 September 1890 dalam keadaan yang susah di suatu tempat yang sederhana di Henryville, Indiana. Ayahnya bekerja di tambang batu bara Kentucky untuk dapat menghidupi sebuah keluarga yang terdiri dari tujuh jiwa. Ketika Harlan berusia enam tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan pakaian. Dengan demikian Harlan yang adalah anak tertua mendapat tugas mengawasi adik-adiknya yang berjumlah lima orang dan memasakkan mereka.

Ketika ibunya menikah lagi Harlan ternyata tidak cocok dengan ayah tririnya sehingga ia memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia dua belas tahun. Selama dua puluh lima tahun setelah itu ia hidup dengan mencari pekerjaan lepas pekerjaan tanpa kenal lelah, juga pernah gagal berulang kali. Dengan bimbingan dan pendidikan yang sangat terbatas ia berusaha menghidupi dirinya sedapat mungkin. Ia pernah bekerja sebagai seorang pembantu petani, juga sebagai konduktor trem kota, pernah masuk dinas militer Amerika di Kuba. Ia pernah bekerja sebagai murid seorang pandai besi, seorang penjaja keliling barang-barang, seorang kapten di sebuah kapal tambang. Seorang agen asuransi dan pernah menjadi manajer dari perusahaan Standard Oil. Selain itu ia juga belajar ilmu hukum melalui korespondensi. Ditengah-tengah keberhasilannya mencari nafkah, ia menikah pada usia delapan belas tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan.

Kemudian ia menemukan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Pada tahun 1930 ditengah zaman krisis ia bekerja sebagai manajer di sebuah bengkel di Kentucky. Sebagai sambilannya ia buka warung makan. Ia jual bensin tetapi juga jual masakan dan sekaligus menjalankan kas register. Dan itu semua menjadi keberhasilannya. Mungkin inilah hasil dari pelatihannya di dapur ketika masih kanak-kanak saat ia harus mengawasi adik-adiknya dan memasakkan mereka. Apapun alasannya semua pelanggan di warung makannya menyukai ayam goreng buatan Harlan.

Kolonel Sanders mulai keliling Negara Amerika untuk mendemontrasikan kepada para pemilik restoran masakan ayam goreng dengan cara yang khas dan dengan citarasa yang agak pedas. Dengan harga lima sen untuk satu ekor ayam yang digorengnya, ia mengajarkan resep itu kepada setiap orang yang mau belajar dari dia. Dengan demikian konsep waralaba telah lahir sejak itu. Pada tahun 1952 waralaba yang pertama diberikan pertama kali kepada sebuah restoran di Utah. Ada seorang yang cerdik memberi gagasan agar masakan ayam goreng Sanders di beri nama “Kentucky Fried Chicken“ dengan logo seorang kolonel dengan seragam serba putih.

Ketika tahun 1955 di mana segala sesuatu kelihatannya berjalan lancar tiba-tiba ada pembangunan sebuah jalan raya antar Negara bagian yang melewati Kentucky bagian Timur sampai ke kota kecil Corbin. Sejak itu motel dan restoran milik kolonel Sanders terpaksa tutup untuk beberapa lama. Setelah peresmian jalan tersebut, ia menjual semua asetnya untuk melunasi hutang-hutangnya. Kolonel Sanders pada usia enam puluh dua tahun justru jatuh miskin akibat dari tergusurnya tempat restorannya.

Pada saat ia menerima cek dari Social Security untuk pertama kalinya sebesar $ 105, ia merasa terhina karena terdaftar sebagai orang miskin. Sejak itu ia bersumpah untuk tidak mau menyerah kalah. Ditemani oleh istri keduanya ia mengolah pelbagai macam bumbu untuk masakan ayam goreng lalu memasukkan dalam kantong-kantong untuk dijual. Ia berkeliling ke semua negeri dengan alat pressure-cooker-nya. Dalam waktu lima tahun sudah ada empat ratus rumah makan yang menjual ayam goreng dengan bumbu yang dibuatnya. Pada tahun 1964 sudah bertambah menjadi enam ratus gerai.

Pada tahun itu sang Kolonel berumur tujuh puluh lima tahun. Ada sekelompok investor menawar Kentucky sebesar dua juta US dolar untuk waralaba. Sang Kolonel setuju lalu menjualnya dengan catatan logo tetap dipertahankan. Perusahaan itu berganti tangan beberapa kali sejak 1964, namun sampai hari ini lebih dari satu milyar masakan KFC telah terjual di delapan puluh Negara setiap tahun
Sanders adalah orang yang telah menghabiskan sebagian hidupnya yang terbaik dengan tanpa kenal lelah menghadapi tantangan dan halangan. Ia berhasil mengatasinya dan mencapai sukses pada usianya yang ke enam puluh lima tahun.

Ada beberapa alasan mengapa kisah Harlan Sanders ini layak di hargai dan diceriterakan. Memang ini bukan kisah rohani di mana ada seorang yang bertobat lalu diselamatkan dalam usia lanjut.
Pertama, kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup ini memang berat, kejam dan sukar. Kita mungkin lupa akan kisah di Taman Eden, dimana Allah mengutuk bumi ini karena dosa Adam dan Hawa : “….. dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri…. akan menjadi makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah….. (Kej 3:17-19)

Kedua, hidup ini penuh dengan rintangan. Ini sedikit berbeda dengan “Keras”. Keras berarti sukar untuk dimulai; susah untuk mencari jalan yang benar. Harlan mengalami dalam hidupnya. Rintangan berarti setelah kita menemukan jalan akan ada lubang-lubang dan kesukaran-kesukaran yang tersembunyi, bahaya-bahaya yang mengancam di sepanjang perjalanan hidup kita. Bila kekerasan hidup mengakibatkan kelelahan, maka “rintangan“ mengakibatkan hilangnya harapan, bahkan putus asa.

Ketiga, yaitu tidak pernah terlambat. Harlan Sanders menemukan sukses ketika sudah berusia lanjut. Dengan demikian benarlah apa yang di katakan dalam Alkitab : ”Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal 6 : 7)

“Walking in Your own shoes”
Dr Robert A.Schuller.

Pengharapan

Bacaan Setahun : Yohanes 15-18
Nats : Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera (Roma 15:13)

Bacaan : Roma 15:1-13

Pada 5 Agustus 2010, tambang emas dan tembaga di Copiapo, Cile, runtuh. Sebanyak 33 penambang terperangkap. Regu penyelamat yang mencari mereka, nyaris putus asa. Namun, 17 hari kemudian, diketahui bahwa mereka masih hidup walau terperangkap di dalam tambang sedalam 700 meter. Dan, mereka harus sabar menanti hingga 7 minggu, sebelum mesin bor berhasil menembus lubang tempat mereka berlindung.

Ya, manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan, 4 hari tanpa minum, 4 menit tanpa bernapas. Namun, manusia tak mampu hidup bahkan selama 4 detik saja, jika ia tak punya semangat dan harapan. Itu sebabnya di tengah impitan dan tahap awal aniaya terhadap jemaat Roma, Paulus menasihati agar setiap orang percaya bergantung kepada Allah sumber pengharapan, sukacita, damai sejahtera. Di tengah tekanan sekalipun, Dia sanggup memberi kekuatan dan pengharapan (ayat 13). Maka, yang kuat dapat menolong yang lemah dan lelah. Dengan kerukunan yang demikian, orang-orang beriman itu memuliakan Allah (ayat 1-6).

Ketika dunia menganggap 33 penambang Cile itu pahlawan, dengan keras Henriques salah satu dari mereka menolaknya. Katanya, "Kita bukan pahlawan, dan jika ada pahlawan, itu adalah semangat yang diberikan Tuhan, yang membuat kami bertahan". Ternyata, semasa di dalam tambang ia membacakan sejumlah ayat Alkitab kepada teman-temannya, untuk menjaga semangat mereka.

Mari jalani hidup ini dengan penuh semangat. Apalagi untuk melakukan tugas sebagai saksi Kristus: memberkati dan menolong banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam keputusasaan --SST

HIDUP DIBERI AGAR DIJALANI DENGAN PENUH ARTI
MAKA TUHAN MENYALAKAN SEMANGAT AGA KITA MENJADI BERKAT

Sabda.org