Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 October 2011

Kisah Dua Kuda

Ada sebuah padang, dengan dua ekor kuda di dalamnya. Dari kejauhan, dua kuda itu seperti kuda pada lazimnya. Tetapi jika Anda menghentikan mobil dan berjalan mendekat, Anda akan menemukan satu hal yang mengagumkan. Saat memperhatikan mata salah satu kuda, akan terlihat bahwa kuda itu buta.

Pemiliknya telah memutuskan untuk tidak membuangnya, tetapi justru membuatkan sebuah rumah yang nyaman untuknya.

Hal berikut ini juga luar biasa

Jika Anda berdiri di dekatnya dan memperhatikan, akan terdengar bunyi suara lonceng. Saat mencari sumber suara itu, Anda akan melihat bahwa itu berasal dari kuda yang lebih kecil di padang rumput itu.

Di lehernya dikalungkan sebuah lonceng kecil. Suaranya akan memberi tanda kepada kuda yang buta arah kuda kecil berada, sehingga bisa mengikutinya. Ketika Anda berdiri dan memperhatikan kedua kuda itu, Anda akan melihat bahwa kuda yang memiliki lonceng selalu menoleh memperhatikan kuda yang buta, dan kuda yang buta akan mendengar suara lonceng dan kemudian berjalan perlahan ke arahnya; percaya bahwa dia tidak akan tersesat.

Saat kuda dengan lonceng kembali ke kandang pada sore hari, dia setiap kali akan selalu berhenti dan menoleh, memastikan bahwa temannya yang buta tidak berjalan terlalu jauh untuk bisa mendengar bunyi loncengnya.

Seperti pemilik dari kedua kuda ini, Tuhan tidak pernah membiarkan kita terbuang hanya karena kita tidak sempurna atau kita sedang menghadapi masalah atau tantangan.

Dia mengawasi kita dan bahkan membawa orang lain ke dalam hidup kita untuk menolong kita saat kita membutuhkannya.

Kadang-kadang kita adalah kuda buta yang dituntun oleh bunyi pelan lonceng dari orang-orang yang ditempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Teman baik selalu seperti itu ... Anda tidak pernah selalu melihat mereka, tapi Anda tahu bahwa mereka selalu ada di sana.

Dengarkanlah lonceng saya dan saya akan mendengarkan lonceng Anda. Dan ingat ... bersikaplah ramah lebih dari biasanya - siapa saja yang Anda temui adalah ibarat pergumulan dalam suatu pertempuran.

God Bless You…

Menulis Dan Memberitakan

Bacaan Setahun : Habakuk 1-3

Nats : Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu (Lukas 1:3)

Bacaan : Lukas 1:1-4

Setiap membuka situs jejaring sosial, kita selalu diperhadapkan pada sebuah kolom di mana kita bisa menulis pesan pendek atau apa saja yang terlintas di benak kita. Beberapa orang menggunakan fasilitas ini dengan bertanggung jawab, tetapi banyak juga yang tidak. Kata-kata yang tidak menyenangkan, kata-kata yang menyerang, kata-kata kotor dan melecehkan, bahkan kata-kata yang melukai orang lain, dengan begitu mudah dapat ditulis dan dipublikasikan segera melalui akun jaringan sosial yang dimiliki. Saking mudahnya menulis, si pelontar tulisan bisa ceroboh tidak memedulikan pengaruhnya bagi orang yang membaca tulisan itu.

Sangat berbeda dengan penulis injil Lukas. Ia sangat peduli bagaimana pemberitaan tentang kehidupan Yesus dapat memengaruhi mereka yang mendengarnya. Injil Lukas ini ditujukan kepada Teofilus, juga kepada kita. Lukas dengan sengaja menyelidiki segala peristiwa dengan saksama dari mulanya, untuk memastikan bahwa semua yang diberitakan adalah kebenaran semata. Lukas juga berusaha membukukannya dengan teratur mungkin agar tidak menimbulkan kebingungan atau pemahaman keliru saat orang membacanya. Buku yang baik akan sangat membantu meluruskan banyak hal.

Hari ini, kita diajak meneladani penulis Injil Lukas dalam menulis dan memublikasikan sebuah tulisan; baik itu tulisan yang sangat pendek atau tulisan yang panjang. Ingatlah bahwa setiap tulisan yang kita publikasikan, pasti akan memengaruhi orang lain. Marilah kita memastikan kebenaran berita yang akan kita sampaikan dan memilih cara penyampaian yang tepat; agar siapa pun yang membaca, dikuatkan iman dan pengenalannya kepada Kristus --SL

KATA-KATA BAIK YANG DITULIS DENGAN CARA BAIK
MENGHASILKAN PENGENALAN KEPADA SANG MAHABAIK

Sabda.org

06 October 2011

Sarang Semut

Bacaan Setahun : Nahum 1-3

Nats : Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya (Ayub 1:21)

Bacaan : Ayub 1:1-22

Suatu kali ketika pindah rumah, saya menemukan sebuah sarang semut di salah satu lemari dapur di rumah tersebut. Sebuah gundukan sarang semut yang sudah sangat besar. Saya pun mengambil obat anti serangga. Tak butuh waktu lama beberapa menit saja sarang dan koloni semut yang mungkin sudah dibangun selama berbulan-bulan itu hancur berantakan.

Apa yang terjadi pada sarang dan koloni semut itu kurang lebih sama dengan yang pernah dialami oleh Ayub. Awalnya, kehidupan Ayub sangatlah sukses. Ia adalah "... yang terkaya dari semua orang di sebelah timur" (ayat 3). Ia juga memiliki keluarga besar yang baik. Akan tetapi, suatu hari Allah mengizinkan seluruh kesuksesan tersebut diambil dari hidupnya. Segala hal yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, tiba-tiba lenyap habis dalam satu hari saja.

Inilah realitas tentang betapa rapuhnya kesuksesan manusia. Segala keberhasilan yang dibangun selama bertahun-tahun, dapat lenyap begitu saja. Karena itu, bodohlah kalau kita menjadi sombong hanya karena saat ini kita merasa lebih berhasil daripada orang lain. Lebih bodoh lagi, kalau kita menggantikan Allah dengan kesuksesan kita. Sebab itu, hendaklah kita menggantungkan hidup hanya kepada Sang Pemberi segala keberhasilan tersebut. Lepaskan keterikatan pada segala keberhasilan kita. Agar kita menjadi pribadi yang tetap kuat berpegang kepada Tuhan dalam segala kondisi. Bahkan apabila kesuksesan tersebut diizinkan Tuhan hilang dari hidup kita seperti Ayub, kita dapat tetap berkata bahwa Tuhan berdaulat atas apa pun yang kita punya --ALS

BETAPA RAPUHNYA KESUKSESAN MANUSIA
MAKA JANGAN SANDARKAN HIDUP KITA PADANYA

Sabda.org

05 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (III)

Oleh David Wilkerson

Di sini terdapat sebuah gambaran tentang rencana Iblis terhadap hamba Tuhan yang setia.

Dalam masa pencobaan dan penggodaan, Iblis datang kepada kita untuk menyampaikan dusta-dusta yang sama: “Sekarang kamu sudah dikepung dan tak ada jalan keluar.”

Hamba-hamba Tuhan yang lebih besar dari pada kamu telah menyerah dalam keadaan yang tidak lebih jelek daripada yang kamu sedang hadapi sekarang ini. Kini, giliranmu untuk menyerah. Kamu gagal total! Ada sesuatu yang tidak beres antara hubunganmu dengan Tuhan dan Tuhan amat tak berkenan terhadapmu.”

Di tengah-tengah pencobaannya, Hizkia mengakui ketidak berdayaannya. Raja menjadi sadar bahwa ia tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan suara-suara yang terus mengganggu dan mengamuk di dalam dirinya, suara-suara yang membuat ia berputus asa, mengancam dan penuh kebohongan.

Ia tahu bahwa ia tak dapat membebaskan diri sendiri dari pergumulan ini, sehingga ia mencari pertolongan dari Tuhan. Dan Tuhan menjawabnya dengan mengirim Yesaya kepada Hizkia dengan pesan, “Tuhan telah mendengar seruanmu. Kini, katakanlah kepada Iblis di pintu gerbangmu, “Kamulah yang akan jatuh. Seperti juga kamu datang ke sini, demikian pula kamu akan pergi.””

Hizkia hamper saja jatuh karena tipu muslihat musuh. Nyatanya adalah, bila kita melawan dusta Iblis – bila, dalam masa kritis ini kita tidak datang kepada Tuhan dalam iman dan doa, bila kita tidak menggunakan kekuatan yang datang dari janji Tuhan untuk membebaskan kita – Iblis akan menjatuhkan kita dalam kebimbangan akan iman kita dan memperhebat serangannya.

Hizkia mendapat keberanian dari pesan Tuhan yang ia telah terima dan ia dapat mengatakan kepada Semacherib dengan tegas, “Raja Iblis, kamu tidak menghujatku, melainkan kamu berdusta terhadap Tuhan sendiri. Tuhanku akan membebaskan aku dan karena kamu menghujat Tuhan, kamu menghadapi kutukan-Nya!”

Alkitab menyatakan bahwa dengan kekuatan supernatural telah membebaskan Hizkia dan Yuda di malam itu: “Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!” (2Raj 19:35)

Sejak salib Kristus, anak-anak Tuhan bahkan memperoleh janji-janji yang jauh lebih baik daripada apa yang diterima oleh raja Hizkia

Di dalam buku-buku yang pertama dari Alkitab, Tuhan secara ajaib menyelamatkan Nuh, Lot, Daud, Hizkia, Daniel dan tiga orang anak Israel, Musa, Yosua, Israel, Yusuf dan banyak orang lainnya.
Mengenai anak-anak Tuhan sekarang ini, darah Kristus telah membebaskan kita dari dosa, kehancuran dan lain-lainnya. “Ia telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.” (Gal 1:4)
Orang-orang percaya pada masa kini tidak hanya berdiri di atas janji, melainkan juga atas darah yang dicurahkan oleh Yesus Kristus. Dan dalam darah itu kita memperoleh kemenangan atas setiap dosa, penggodaan dan peperangan yang kita selalu hadapi.

Mungkin anda telah menerima sepucuk surat dari Iblis. Aku bertanya kepadamu: Percayakah Anda bahwa Tuhan dapat mengetahui terlebih dahulu dan oleh karenanya mengantisipasi setiap pencobaanmu? Setiap tindakanmu yang bodoh? Setiap kebimbanganmu dan ketakutanmu? Jika memang demikian, anda mendapatkan contoh dari Daud di depanmu yang telah berdoa, “Orang yang sial ini menangis dan Tuhan telah melepaskannya.” Maukah Anda berbuat seperti itu?

Ingatlah, bila anda mau berdoa, bahkan dalam keheningan… bila anda menolak untuk menjadi takut akan serangan-serangan Iblis dan berlindung di dalam iman… maka Anda pada suatu hari akan bangun sebagai seorang pemenang.
Tuhan sendiri yang akan menghadapi musuh Anda dan Ia akan mengerjakan rencana-Nya untuk melepaskan Anda.

Selesai..

Mengapa Atau Siapa

Bacaan Setahun : Mikha 4-7

Nats : Perempuan yang Kautempatkan di sisi-Ku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan (Kejadian 3:12))

Bacaan : Kejadian 3:9-14

Ketika sesuatu berjalan tak seperti yang diharapkan, semuanya menjadi salah, atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami manusia adalah mencari seseorang yang bisa disalahkan. Bahkan sejak dari Taman Eden. Ketika dosa terjadi, Adam menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular. Apabila seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi di luar kekuasaannya.

Kita akan lebih cepat berkembang apabila tak punya kebiasaan melimpahkan kesalahan ke orang lain. Ketika Anda gagal, pikirkan mengapa Anda gagal, bukan siapa yang salah. Pandang situasi dengan objektif supaya lain kali kita bisa lebih baik. Bob Biehl menganjurkan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan: 1. Pelajaran apa yang saya petik?; 2. Apakah saya berterima kasih atas pengalaman ini?; 3. Siapa lagi yang telah gagal seperti ini sebelumnya, dan bagaimana orang itu bisa menolong saya?; 4. Apakah saya gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena diri sendiri?; 5. Apa saya benar-benar gagal, atau saya mengejar standar yang terlalu tinggi?

Orang yang menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka takkan pernah mengatasinya. Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Allah, kita harus terus memperbaiki diri. Kita tak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan kita dan belajar dari kesalahan. Bukankah Allah tak pernah menolak mengampuni saat kita bersalah? Mengapa kita tidak berani mengaku dengan jujur? --PK

SAAT ANDA BERBUAT KESALAHAN DAN GAGAL
TANYAKAN MENGAPA, BUKAN SIAPA

Sabda.org

04 October 2011

Karena Iman

Bacaan Setahun : Mikha 1-3
Nats : Karena iman, runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya (Ibrani 11:30)
Bacaan : Yosua 6:2-5
Alkitab kerap menegaskan kepada pembacanya bahwa jalan-jalan Allah "sungguh tak terselami" (Roma 11:33) oleh pikiran manusia. Kisah kejatuhan Yerikho (Yosua 6:2-5) adalah satu contohnya. Mengapa Allah tidak langsung saja meruntuhkan tembok kota itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat? Mengapa harus disuruh-Nya orang Israel mengelilingi kota itu sampai tujuh hari? Apa sulitnya Allah meruntuhkan Yerikho setelah dikelilingi bangsa Israel dalam satu hari saja?
Sebagai jawabannya, Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel. Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya. Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya? Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur. Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi "karena iman".
Saat ini, barangkali Allah tengah membuat Anda melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran. Anda yakin Allah ingin Anda mencapai hal itu, tetapi Anda bertanya-tanya mengapa Anda harus melalui waktu yang demikian panjang. Kuatkan hati dengan becermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho. Allah ingin Anda bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, Anda berhasil mencapai sasaran itu "karena iman" --SAT
WAKTU KERAP MENJADI GURU TERBAIK
YANG DIBERIKAN ALLAH UNTUK MELATIH IMAN KITA
Sabda.org

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (II)

Oleh David Wilkerson

Rasul Petrus memberikan pengertian yang beda tentang pembebasan dari Tuhan.

Rasul Petrus menulis tentang dua kejadian yang merupakan musibah besar dari Alkitab: Nabi Nuh dan air bah serta penghancuran dari Sodom dan Gomora. Bila Anda memikirkan akan hal itu, bagaimanakah Anda menggambarkannya?

Yang pertama termasuk jeritan-jeritan yang menyeramkan dari mereka yang tenggelam, ketika Tuhan membalas kekerasan dari generasi Nuh. Ketika air bah yang mengerikan terus naik melampaui atap-atap rumah, pohon-pohon dan puncak bukit, orang-orang sedang berpegang teguh pada setangkai pohon, kayu terapung dan segala sesuatu, namun semuanya sia-sia.

Dalam pemandangan yang lain, kita hanya dapat membayangkan bagaimana api belerang yang dahsyat itu meluluh lantakkan dua buah kota.

Ketika penghakiman Tuhan yang amat dahsyat dijatuhkan, orang-orang menjerit dalam ketakutan ketika mereka mati bergelimpangan dalam jumlah yang besar.

Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa kedua kejadian itu merupakan penghakiman dari Tuhan. Namun, merupakan kenyataan bahwa kedua musibah yang menyeramkan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan anak-anak Tuhan. Kalau begitu, apakah ini berarti bahwa musibah yang sungguh menakutkan itu merupakan penghukuman terhadap para orang berdosa? Yang benar adalah bahwa kejadian itu merupakan tanda-tanda contoh kepada umat manusia dalam setiap generasi disertai peringatan Tuhan. “Aku ingin memberitahukan kalian bahwa Aku akan memperlakukan dengan amat keras segala bentuk kejahatan dan dosa.”

Di dalam hal ini, rasul Petrus mengatakan, “Bila Tuhan tidak menyelamatkan dunia yang tua, namun sebaliknya menyelamatkan nabi Nuh… mengirim air bah melanda bumi dari manusia yang tak mengenal Tuhan; mengubah kota Sodom dan Gomora menjadi abu… sebagai contoh kepada mereka yang setelah kejadian itu, masih tetap ingin hidup tanpa Tuhan; dan menyelamatkan Lot… maka Tuhan tahu bagaiamana menyelamatkan mereka yang takut akan Tuhan dari semua penggodaan.”

03 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu

Oleh David Wilkerson

Dalam suatu seremoni yang serba rahasia yang diciptakan oleh Tuhan, nabi Samuel mengurapi Daud menjadi raja dari Israel. Samuel mengatakan kepada anak muda yang takut akan Tuhan ini, “Kamu telah diurapi oleh Tuhan untuk memerintah bangsa ini” Namun, bagi Daud, hal ini merupakan jalan yang amat panjang sebelum ia mencapai tahta kerajaan.

Sebelum janji akan pengurapannya terwujud, hamba Tuhan yang penuh pengabdian dan setia ini akan menghadapi banyak pencobaan dan ujian.

Hanya beberapa waktu kemudian, kita melihat bagaimana Daud terburu-buru melalui bukit-bukit dan jalan-jalan untuk menghindari raja Saul.yang telah bersumpah untuk membunuhnya.

Betapa sahajalah bagi seorang yang takut dan setia terhadap Tuhan seperti Daud ini. Di sini kita melihat seorang hamba yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan baru saja diurapi, sedang berlari-lari untuk menyelamatkan nyawanya, diburu-buru, tanpa pertolongan, tanpa rumah dan seorang diri.

Pikiran Daud satu-satunya adalah, “Aku harus keluar dari negeri ini secapatnya. Bila tidak, aku akan mati.”

Ia berlari ke batas negeri yang terdekat, yaitu kota Gath di negeri Filistin, yang dikuasai oleh raja Abimelekh. Ketika ia mendekati benteng musuh itu, ia berusaha untuk melewatinya sebagai seorang pejalan yang biasa dengan harapan bahwa ia tidak akan dikenali. Namun penjaga-penjaga itu saling berbisik, “Bukankah orang itu Daud yang telah membunuh Goliath kita? Bukankah bangsa Israel memujinya dengan nyanyian bahwa ia mampu untuk membunuh sepuluh ribu orang Filistin? Kelihatannya kita sedang akan memperoleh hadiah yang besar. Biarlah kita menangkap dan membawanya ke istana dan mempersembahkannya kepada raja kita.”

Daud sadar bahwa jiwanya berada di dalam bahaya karena musuh mereka, orang Filistin akan menuduhnya sebagai seorang teroris. Kemungkinan besar ia akan dipukuli sampai mati dan akan dijadikan semacam pertunjukkan serta diarak dari kota yang satu ke kota yang lain. Alkitab mengungkapkan, “Daud…menjadi takut sekali terhadap raja Abimelekh” (1Sam 21:12)

A Living Dog Is Better Than A Dead Lion

Hari ini Firman Tuhan secara khusus memberi perhatian kepada dua jenis binatang yang sangat berlawanan dalam hidup masyarakat Yahudi di zaman Perjanjian Lama yaitu : Anjing dan singa. Pengkotbah 9:4 berbunyi, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Ada perbedaan sangat besar antara dua hewan yang disebutkan dalam ayat ini. Bagi banyak orang di masa sekarang ini, anjing adalah :

  • Binatang peliharaan (pets) yang sangat akrab dengan manusia.
  • Binatang yang sangat bermanfaat bagi manusia : Menjaga rumah, menuntun orang buta, melacak narkoba yang tersembunyi, membantu dalam berburu, dsb.
  • Binatang yang bisa dijadikan sumber gizi yang lezat.

Bagi masyarakat Yahudi, anjing dipandang rendah sebagai hewan najis yang tidak berhak diberi penghargaan apapun. Sesuatu yang buruk dan hina selalu dikaitkan dengan anjing.

  • Goliath marah karena Daud memandang dirinya seperti anjing. (1 Samuel 17:43)
  • Para penyesat atau guru ajaran sesat disebut sebagai anjing (Filipi 3:2)
  • Orang non-Jews acap kali dihina dengan sebutan anjing (Matius 15:26)

Sebaliknya, singa dipandang sebagai hewan yang gagah, mulia dan patut mendapat penghargaan tinggi, lambang dari kududukan dan kekuasaan :

  • Orang benar dilambangkan bagaikan singa. (Amsal 28:1)
  • Singa muda menggeram gambaran Tuhan yang berperang. (Yesaya 31:4)
  • Yesus diberi predikat singa dari Yehuda. (Wahyu 5:5)

Perpaduan antara dua binatang yang sangat berlawanan dalam Pengkhotbah 9:4 memberikan sebuah pelajaran rohani yang sangat aktuil untuk kita semua yang hidup di akhir zaman. Kalau ayat ini diterjemahkan secara bebas untuk dunia modern sekarang ini, bunyinya adalah sbb :

  • Seorang tukang becak yang masih hidup lebih baik dari jendral bintang lima yang sudah mati.
  • Seorang pemuda buta huruf di desa terpencil lebih baik dari profesor terkenal yang mati.
  • Seorang pengemis yang masih hidup lebih baik dari konglomerat yang sudah jadi mayat.

02 October 2011

Dipanggil & Diutus

Bacaan Setahun : Yunus 1-4
Nats : Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus" (Keluaran 4:13)

Bacaan : Keluaran 3:1-4:17

Jika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani, dengan berbicara langsung dan memberi penglihatan, bagaimana kira-kira tanggapan orang itu? Mestinya, ia takkan ragu lagi mengorbankan hidupnya menjalani panggilan itu, meski penuh tantangan, bukan? Namun, lihatlah Musa. Secara ajaib Tuhan menampakkan diri di Gunung Horeb dan memanggil Musa untuk membebaskan Israel. Musa takut, gentar, dan terpesona ketika berhadapan dengan Tuhan (ayat 6). Namun, Musa menolak panggilan itu. Mengapa?

Pertama, Musa tidak yakin Israel masih mengenal Allahnya dan percaya Allah masih peduli. Kedua, Musa tak yakin Israel percaya ia berjumpa Allah yang mengutusnya. Ketiga, Musa tak yakin mampu memimpin Israel yang "tegar tengkuk". Perasaan tak mampu menghalanginya melihat kuasa Allah yang bisa bekerja melaluinya. Keempat, Musa tak ingin zona nyamannya kembali terusik demi membebaskan Israel yang tak tahu balas budi (lihat Keluaran 2:11-22). Namun, dengan sabar Tuhan meneguhkan panggilan-Nya; memberi kuasa kepada Musa untuk berkata-kata dan melakukan banyak mukjizat; bukti bahwa Tuhanlah yang mengutus dan menyertainya.

Apakah Anda sedang bergumul menjawab sebuah undangan pelayanan? Mungkin pelayanan itu menuntut pengorbanan waktu, tenaga, perasaan. Tak mendatangkan keuntungan materi, malah sebaliknya. Tak mendatangkan gengsi, sebab hanya memperhatikan mereka yang kecil dan terpinggirkan. Relakah Anda meresponsnya? Ingatlah bahwa Allah telah melayani Anda lebih dulu dengan memberikan Yesus Kristus mati di kayu salib menjadi tebusan bagi hidup Anda yang berdosa. Apakah balasan Anda kepada-Nya? --SST

TUHAN TELAH MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI KITA
MAKA, APAKAH YANG PANTAS KITA TAHANKAN TERHADAP-NYA?

Sabda.org

01 October 2011

Memberi & Menerima

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan paradoks. Dan salah satu paradoks yang terbesar adalah bagaimana “Memberi” merupakan katalisator dari “Menerima”

Dengan lain kata, tindakan untuk Memberi, sebenarnya mengesahkan bahwa kita terbuka untuk Menerima.

Karena Memberi dan Menerima merupakan satu bagian yang sama dari suatu lingkaran yang lebih besar. Dan dalam lingkaran ini, kita secara alami akan Menerima lebih banyak dari apa yang kita pernah Memberi.

Adalah suatu kebenaran bahwa alam semesta ini selalu menyediakan untuk kita segala sesuatu yang berkelimpahan untuk dapat kita Berikan. Dan semakin hal itu menjadi suatu kegemaran dan suatu kebiasaan untuk Memberi, semakin besar kepastian bahwa kita akan Menerima.

Pernahkah setangkai bunga kekurangan cahaya surya untuk mengubah sinarnya menjadi segala sesuatu yang memberi hidup?

Pernahkah seekor lebah kekurangan serbuk sari untuk mengubahnya menjadi madu yang manis?

Namun, lebah tidak membawa serbuk sari dari bunga yang satu ke bunga yang lain dengan tujuan lain dari pada apa yang dilakukannya selama ini.

Dan bunga tidak memberikan serbuk sarinya kepada lebah ataupun bau harumnya kepada udara untuk tujuan yang lain pula.

Melainkan, baik lebah maupun bunga melakukan apa yang mereka sudah terbiasa dan wajar melakukannya, dan dengan demikian mereka menciptakan suatu ritme yang berkesinambungan.