Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 June 2010

Menjual Sisir Pada Biksu

Pertanyaan :
Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul)  -- Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda?

a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)

Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.

Cerita : MENJUAL SISIR PADA BIKSU

Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru. Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat  kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan, jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.

Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.

Tugasnya adalah menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C). Pimpinan pewawancara memberi tugas.

"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."

Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"

Mr. A menjawab: "Hanya SATU."

Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"

Mr. A menjawab: "Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"

Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."

"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung sang Buddha."

Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"

Mr. C menjawab: "SERIBU buah!"

Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran. Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"

Mr. C menjawab : "Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.'  Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!"

MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.

Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akanlemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."

"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegang teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita." - Meredith Grey, Grey's Anatomy - Season 3

Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah
SIKAP kerja yang benar 85%. Semoga sukses !"

Jesus Bless You..

29 June 2010

Belajar Bijak Dari Nelayan

Belajar Bijak Dari Nelayan
Kiriman humor ini dari seorang teman di atas mengajarkan kita beberapa hal ..

Pertama.
Kita tidak boleh sombong . Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang tinggi hati akan direndahkan . Sebaliknya , orang yang rendah hati akan di tinggikan pada waktunya .

Kedua.
Setinggi apa pun pendidikan kita , kita tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi ketrampilan.

Ketiga.
Kita membutuhkan orang lain , tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.

Belajar Bijak Dari Nelayan 2  Belajar Bijak Dari Nelayan 3  Belajar Bijak Dari Nelayan 4

28 June 2010

Jesus Love You

Pernahkah saat kau duduk santai dan  menik  mati hari, dalam seketika kau ingin berbuat sesuatu untuk seseorang? Itu adalah TUHAN yang sedang berbicara denganmu melalui roh kudus-Nya.

Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada org yang disekitarmu yang dapat kau curhati? Itulah saat dimana TUHAN menginginkanmu untuk berbicara pada-Nya.

Pernahkah  saat kau memikirkan seseorang yang sudah lama tak kau temui, dan seketika itu juga kau bertemu dengannya atau menerima telp darinya? Itu adalah kuasa TUhan. Tidak  ada sesuatu yang kebetulan.

Pernahkah kau menerima sesuatu yang tak  terduga, yang tak sanggup kau dapatkan? Itu adalah Tuhan yang  mengetahui keinginan/suara hatimu.

Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, tidak tahu cara memperbaikinya, terluka dan tidak tahu  bagaimana luka itu dapat disembuhkan. .. Itulah saat dimana kita  belajar mempercayakannya kepada BAPA di Surga, dan tidak  mengandalkan kekuatan kita yang terbatas  ini.

Apakah kau pikir e-mail ini tak sengaja terkirim padamu? TIDAK!...ini terjadi karena KASIHNYA kepadamu, sehingga seseorang digerakkan hatinya untuk mengirimkannya kepadamu.

Marilah berdoa...

Dear  God...
Aku tahu bahwa kau  memperhatikan ku. Dan aku sangat bersyukur atas berkat-Mu. Apapun yang  telah aku doakan, Kau-lah yang mengetahui yang terbaik untukku. I  love u Jesus.
Ketika aku melihat  nama2 penerima email ini, dan melihat email ini terkirim juga kepada ku; aku tahu bahwa ada "doa & harapan yang baik" telah dipanjatkan untuk setiap kita sehingga kita hidup dalam kemenangan bersama Tuhan  hari ini....

Bersukacitalah  sahabat.. He Knows the best for you..

Jesus Bless You…

26 June 2010

Priority In Life

* This post contains slideshow. You can download this slideshow please visit.
Server #1 or Server #2

25 June 2010

Weekly Scripture – Matius 21:22

"Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." - Matius 21:22

Perbuatan Baik Akan Kembali Kepada Kita Lagi

The man slowly looked up. This was a woman clearly accustomed to the finer things of life. Her coat was new.
Dengan perlahan-lahan orang itu memandang keatas. Tampak olehnya seorang
wanita yang pasti biasa hidup mewah. Mantel bulunya tampak baru.

She looked like she had never missed a meal in her life. His first thought was that she wanted to make fun of him, like so many others had done before.
Kelihatan dia seperti seorang yang tidak pernah kelaparan seumur hidupnya. Sekilas pada benaknya dia terpikir bahwa tentu wanita itu akan mengolok-olok kepadanya seperti yang sering dilakukan banyak mereka sebelumnya."

Leave me alone," he growled... To his amazement,the woman continued standing. She was smiling – her even white teeth displayed in dazzling rows.
“Tinggalkan aku sendirian,” gumamnya dengan marah… Tapi dia merasa heran karena wanita itu tetap berdiri disitu. Dia tersenyum – sehingga sebaris giginya yang putih rata tampak berkilauan.

"Are you hungry?" she asked. "No," he answered sarcastically. "I've just come from dining with the president.. Now go away."
”Apakah anda lapar?” dia bertanya. “Tidak,” jawabnya dengan penuh ejekan. ”Saya baru saja selesai makan malam dengan President USA ... Nah, pergilah kesana.”

The woman's smile became even broader.
Senyman dari wanita itu menjadi lebih lebar.

Suddenly the man felt a gentle hand under his arm."What are you doing, lady?" the man asked angrily. "I said to leave me alone..”
Tiba-tiba orang itu merasa tangan yang lemah lembut mencoba mengangkatnya untuk berdiri. “Nyonya, apa yang kau lakukan?” orang itu bertanya dengan marah. ”Aku sudah bilang, biarkan aku sendirian.”

Just then a policeman came up. "Is there any problem, ma'am?" he asked..
Pada saat itu seorang polisi mendekati. “Ada masalah apa, nyonya?” dia bertanya..

"No problem here, officer," the woman answered... "I'm just trying to get this man to his feet. Will you help me?"
Tidak ada masalah sama sekali, pak,” jawab perempuan itu. “Saya hanya berusaha mengangkat orang ini berdiri pada kakinya. Bolehkah anda menolong
saya?”

The officer scratched his head. "That's old Jack. He's been a fixture around here for a couple of years.. What do you want with him?"
Polisi itu menggaruk-garuk kepalanya.. “Itu adalah si Jack tua. Dia sudah beberapa tahun lamanya bergelandangan disini. Anda mau bikin apa kepadanya?”

"See that cafeteria over there?" she asked. "I'm going to get him something to eat and get him out of the cold for awhile."
“Anda lihat cafeteria itu disana?” dia bertanya. ”Saya mau memberikan makanan kepadanya dan membawa dia menghindar dari hawa yang dingin ini untuk sebentar.”

"Are you crazy, lady?" the homeless man resisted. "I don't want to go in there!" Then he felt strong hands grab his other arm and lift him up.
“Apakah anda sudah gila, nyonya?” orang yang gelandangan itu menolak tanpa bergeming. “Aku tidak mau pergi kesana!” Pada saat itu merasakan tangan-tangan yang kuat memegang lengannya yang sebelah lagi dan mengangkat dia berdiri pada kakinya.

"Let me go, officer. I didn't do anything.."
”Biarkan aku pergi, pak polisi. Aku tidak berbuat salah apa pun..”

“This is a good deal for you, Jack," the officer answered. "Don't blow it”.
“Ini adalah perbuatan baik untukmu, Jack,” jawab polisi itu. “Jangan sia-siakan itu, kawan.”

"Finally, and with some difficulty, the woman and the police officer got Jack into the cafeteria and sat him at a table in a remote corner. It was the middle of the morning, so most of the breakfast crowd had already left and the lunch bunch had not yet arrived.
Akhirnya dan dengan susah payah, wanita dan polisi itu berhasil membawa Jack kedalam cafetaria dan mendudukkan dia disamping meja yang berada disudut. Hari sudah mulai larut, jadi kebanyakan orang yang makan pagi sudah pergi dan mereka langganan untuk makan siang masih belum tiba.

The manager strode across the cafeteria and stood by his table. "What's going on here, officer?" he asked."What is all this, is this man in trouble?"
Manager cafeteria itu berjalan mendekati dan berdiri disamping meja itu. ”Ada apa ini, pak polisi?” dia bertanya.. “Apa artinya ini, apakah orang ini membuat masalah?”

"This lady brought this man in here to be fed,"the policeman answered.
Nyonya ini telah membawa orang ini untuk diberikan makan disini,” jawab polisi itu.

"Not in here!" the manager replied angrily. "Having a person like that here is bad for business."
”Tidak ditempat ini!” jawab manager itu dengan marah. ”Membiarkan orang seperti ini berada disini akan membawa malapetaka kepada dagang kami.”

Old Jack smiled a toothless grin. "See, lady. I told you so. Now if you'll let me go. I didn't want to come here in the first place."
Jack tua tersenyum menyeringai dengan giginya yang ompong. “Kau lihat itu, nyonya. Saya kan sudah katakan. Nah, sekarang biarkanlah akau bergi. Saya memang dari semula tidak mau datang kemari.

The woman turned to the cafeteria manager and smiled."Sir, are you familiar with Eddy and Associates,the banking firm down the street?"
Wanita itu berpaling kepada manager cafeteria itu sambil tersenyum. “Pak, kenalkah anda kepada Eddy and Associates, perusahaan perbankan yang ada disudut jalan itu?”

"Of course I am," the manager answered impatiently. "They hold their weekly meetings in one of my banquet rooms.."
“Tentu saja aku kenal mereka, setiap minggu mereka mengadakan pertemuan rutin mereka di salah satu ruangan pesta VIP ku untuk santap malam.

"And do you make a goodly amount of money providing food at these weekly meetings?"
“Dan anda mendapat keuntungan yang lumayan menyediakan makanan untuk pertemuan mingguan ini?”

"What business is that of yours?"
Apakah urusanmu dengan hal itu?”

“I, sir, am Penelope Eddy, president and CEO of the company."
”Saya, Pak, adalah Penelope Eddy, President dan CEO dari perusahaan itu.”

"Oh.."
”Oh..”

The woman smiled again.. "I thought that might make a difference."
Wanita itu tersenyum lagi..”Saya memang berpikir bahwa itu mungkin bisa membuat perubahan dalam sikap anda.”

She glanced at the cop who was busy stifling a laugh."Would you like to join us in a cup of coffee and a meal, officer?"
Dia melirik kepada polisi yang sedang berusaha menyembunyikan tertawanya. “Pak polisi, apakah anda mau ikut serta dengan kami menikmati secangkir kopi dan sarapan?”

"No thanks, ma'am," the officer replied. "I'm on duty."
“Oh, tidak, terima kasih, nyonya,” jawab polisi itu. “Saya sedang dalam tugas.”

"Then, perhaps, a cup of coffee to go?"
"Yes, ma'am.. That would be very nice."
“Nah, kalau begitu, mungkin secangkir kopi untuk ada bawa pergi?”
“Baiklah, nyonya.. Itu sangat baik, terima kasih.”

The cafeteria manager turned on his heel.. "I'll get your coffee for you right away, officer."
Manager cafeteria itu langsung berbalik dan berkata..”Saya akan mengambil kopinya untuk anda, pak polisi.”

The officer watched him walk away... "You certainly put him in his place," he said.
Polisi itu memandang manager itu berjalan pergi.. ”Anda sudah menyadarkan dia akan posisinya dengan baik,” katanya.

"That was not my intent... Believe it or not, I have a reason for all this."
Itu bukanlah tujuan saya sebenarnya… Tapi anda percaya atau tidak saya mempunyai alasan untuk melakukan semua ini.”

She sat down at the table across from her amazed dinner guest. She stared at him intently.
Dia duduk dipinggir meja diseberang tamunya yang melongo keheranan. Tamunya itu sekarang menerawang mukanya dengan penuh perhatian.

"Jack, do you remember me?"
”Jack, apakah anda masih ingat kepada saya?”

Old Jack searched her face with his old, rheumy eyes. “I think so -- I mean you do look familiar."
Si Jack tua memandang wajah wanita itu dengan matanya yang mulai lamur dan berkaca-kaca dengan linangan air mata. “Saya rasa begitu – maksud saya, wajah anda memang kelihatan saya kenal.”

"I'm a little older perhaps," she said.
"Maybe I've even filled out more than in my younger days when you worked here, and I came through that very door, cold and hungry.”
“Mungkin aku sekarang kelihatan lebih tua,” dia berkata.
“Mungkin usiaku sudah lebih dari dua kali lipat sejak masa mudaku ketika engkau bekerja disini, dan aku berjalan masuk melalui pintu, sedang kedinginan dan lapar.”

"Ma'am?" the officer said questioningly. He couldn't believe that such a magnificently turned out woman could ever have been hungry.
“Bagaimana, nyonya?” polisi itu bertanya keheranan. Dia tidak bisa percaya bahwa seorang wanita yang begitu cemerlang tampangnya pernah mengalami lapar...”

"I was just out of college," the woman began.
"I had come to the city looking for a job, but I couldn't find anything. Finally I was down to my last few cents and had been kicked out of my apartment... I walked the streets for days. It was February and I was cold and nearly starving. I saw this place and walked in on the off chance that I could get something to eat.."
“Saya baru saja tamat dari Perguruan Tinggi,” wanita itu memulai kisahnya.
“Saya sudah datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan apa pun. Akhirnya uangku sisa beberapa sen saja, dan saya telah diusir dari apartmentku. .. Saya berjalan kesana kemari gelandangan dijalan untuk beberapa hari. Saat itu bulan Pebruari dan saya sedang sangat kedinginan dan hampir mati kelaparan. Saya melihat tempat ini dan berjalan masuk dengan harapan mudah-mudahan bisa memperoleh sesuatu yang dapat kumakan.”

Jack lit up with a smile. "Now I remember," he said. "I was behind the serving counter. You came up and asked me if you could work for something to eat. I said that it was against company policy."
Si Jack mulai tersenyum wajahnya. “Sekarang saya ingat,” dia berkata. “Saya waktu itu berdiri dibalik meja sana sedang melayani langganan. Anda mendekati saya dan bertanya kalau anda bisa melakukan apa saja dengan upah sesuatu untuk dimakan. Saya berkata bahwa itu adalah melawan peraturan dari perusahaan ini.

"I know," the woman continued. "Then you made me the biggest roast beef sandwich that I had ever seen, gave me a cup of coffee, and told me to go over to a corner table and enjoy it. I was afraid that you would get into trouble. Then, when I looked over and saw you put the price of my food in the cash register, I knew then that everything would be all right..."
“Saya tahu,” wanita itu melanjutkan. “Kemudian anda membuatkan saya sandwich roast beef yang paling besar yang pernah saya lihat seumur hidup, dan memberikan saya secangkir kopi, dan menyuruh saya untuk pergi duduk disatu sudut cafeteria ini dan menikmatinya. Saya takut waktu itu anda akan mengalami kesusahan karena saya. Kemudian saya melihat anda memasukkan uang dan mencetak harga makanan saya itu di mesin hitung, dan saya tahu bahwa semuanya beres.

"So you started your own business?" Old Jack said.
Jadi anda memulaikan perusahaan anda sendiri?” kata si Jack tua.. 

"I got a job that very afternoon. I worked my way up.
Saya mendapat pekerjaan pada sore hari itu juga. Saya mulai bekerja dari
bawah dan makin meningkat.

Eventually I started my own business that, with the help of God, prospered.." She opened her purse and pulled out a business card.
Akhirnya saya mulaikan perusahaan saya sendiri, dan dengan pertolongan Tuhan, saya berhasil..” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama.

"When you are finished here, I want you to pay a visit to a Mr.Lyons. He's the personnel director of my company. I'll go talk to him now and I'm certain he'll find something for you to do around the office."
“Sehabis anda makan, saya mau anda pergi menemui Mr.Lyons. Dia adalah direktur personil dari perusahaan saya. Saya akan berbicara dengan dia sekarang, dan saya merasa pasti bahwa dia akan menemukan suatu pekerjaan yang anda dapa lakukan dikantor.”

She smiled. "I think he might even find the funds to give you a little advance so that you can buy some clothes and get a place to live until you get on your feet. If you ever need anything, my door is always open to you."
Dia tersenyum. “Saya pikir dia juga akan memberikan kepada anda sedikit uang panjar supaya anda bisa membeli pakaian dan mendapat tempat tinggal sampai anda bisa mandiri. Kalau anda memerlukan apa saja dikemudian hari, pintu rumah saya selalu terbuka bagi anda.

There were tears in the old man's eyes. "How can I ever thank you?" he asked.
Air mata berlinang-linang diwajah orang tua itu. ”Bagaimana saya akan bisa berterima kasih secukupnya kepada anda?” dia bertanya.

"Don't thank me," the woman answered. "To God goes the glory. He led me to you."
“Jangan berterima kasih kepadaku,” jawab wanita itu. “Bagi Allah segala kemuliaan. Dialah yang telah menuntun saya kepada anda,”

Outside the cafeteria, the officer and the woman paused at the entrance before going their separate ways.."Thank you for your help officer," she said.
Diluar cafeteria itu, polisi dan wanita itu berdiri sekejap didepan pintu sebelum mereka berpisah…” Terima kasih untuk pertolongan anda, pak polisi” dia berkata.

"On the contrary, Ms. Eddy," he answered. "Thank you. I saw a miracle today, something that I will never forget, And thank you for the coffee."
“Sebaliknya , Ny .. Eddy,” dia menjawab. “Terima kasih kepada anda. Saya menyaksikan sebuah mujizat hari ini, sesuatu yang saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.. Dan terima kasih untuk kopi itu.

Have a Wonderful Day. May God Bless You always and don't forget that when you "cast your bread upon the waters," you never know how it will be returned to you. God is so big He can cover the whole world with his Love and so small He can curl up inside your heart..
Semoga anda menghadapi hari yang gemilang. Kiranya Tuhan memberkati anda selalu dan jangan pernah lupa bahwa kalau anda “menaburkan roti anda diatas air,” anda tidak tahu bagaimana itu akan kembali kepada anda kemudian. Tuhan itu begitu besar sehingga dia dapat menutupi seluruh bumi ini dengan kasihNya, dan sebaliknya Dia begitu kecil sehingga bisa masuk dan bersemayam didalam hatimu.

Jesus Bless You All!!

08 June 2010

Bunga Cantik Dalam Pot Retak

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu. Suatu petang di musim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu.

Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini.

Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...! Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.”

Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. “Aku rasa mungkin karena wajahku. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi...."

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku, “Oh aku bisa kok tidur di kursi goyang di luar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.”

Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda. Aku masuk ke dalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan.

“Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.”

Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ke tubuhnya yang kecil ini..

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya di kamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal di sini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."

Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak-anak anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak-anak tampaknya tidak terganggu."

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi-pagi jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh-oleh, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun-tahun ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman-kiriman dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh-oleh itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang.

"Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!"

Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru-baru ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman-tanaman bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, "Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam di dalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya di taman."

Ia pastilah terheran-heran sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu di surga.

"Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu."

Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, di dalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." - 1 Samuel 16:7b

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau peduli.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

"Your failure is not a reason for GOD to stop loving you"

27 May 2010

The Devil & The Duck

There was a little boy visiting his grandparents on their farm.
Seorang anak laki2 mengunjungi kakek nenek nya di pertaniannya.
image
He was given a slingshot to play with out in the woods.
Dia diberi sebuah ketapel untuk bermain di hutan.

He practiced in the woods; but he could never hit the target..
Dia berlatih di hutan, tapi tidak pernah bisa mengenai sasaran.

Getting a little discouraged, he headed back for dinner.
Karena putus asa, dia pulang untuk makan malam.

As he was walking back he saw Grandma's pet duck.
Dalam perjalanan pulang dia melihat bebek peliharaan neneknya.
image

Just out of impulse, he let the slingshot fly, hit the duck square in the head and killed it. He was shocked and grieved!
Secara reflek, dia menggunakan katapel tsb, mengenai bebek itu tepat di kepala dan bebek itu mati. Dia sangat kaget dan bersedih.

In a panic, he hid the dead duck in the wood pile; only to see his sister watching! Sally had seen it all, but she said nothing.
Dalam kepanikannya, dia menyembunyikan bangkai bebek di tonggak batas hutan; hanya saudara perempuannya yang melihatnya! Sally melihat semuanya,   tapi dia tdk mengatakan apa2...
image
After lunch the next day Grandma said, 'Sally, let's wash the dishes'.
Keesokan harinya setelah makan siang, neneknya berkata kepada Sally, 'Sally,tolong cucikan piring'.

But Sally said, 'Grandma, Johnny told me he wanted to help in the kitchen.'
Tapi Sally berkata, ' Nek, Johnny bilang dia ingin membantu di dapur'

Then she whispered to him, "Remember the duck?'
Kemudian dia berbisik kepada Johnny, ' Ingat bebek itu?'

So Johnny did the dishes.
Maka, Johnny yang mencuci piring.

Later that day, Grandpa asked if the children wanted to go fishing and Grandma said, 'I'm sorry but I need Sally to help make supper.'
Hari berikutnya, kakek bertanya apakah anak-anak mau ikut memancing, tetapi nenek berkata, 'Wah sayang sekali tapi saya perlu Sally untuk membantu menyiapkan makan malam'.

Sally just smiled and said, 'well that's all right because Johnny told me he wanted to help?
Sally hanya tersenyum dan berkata, ' Hm...tidak apa2 karena Johnny bilang akan membantu nenek'.

She whispered again, 'Remember the duck?' So Sally went fishing and Johnny stayed to help.
Sally berbisik lagi kepada Johnny, 'Ingat bebek itu?' Maka Sally pergi memancing dan Johnny tinggal untuk membantu nenek.
 
After several days of Johnny doing both his chores and Sally's; he finally couldn't stand it any longer.
Stelah bbrp hari Johnny dikerjain Sally, akhirnya engga tahan lagi.

He came to Grandma and confessed that he had killed the duck.
Dia menemui neneknya dan mengaku bhw dia telah membunuh bebek nya.

Grandma knelt down, gave him a hug and said, 'Sweetheart, I know. You see, I was st andi ng at the window and I saw the whole thing, but because I love you, I forgave you. I was just wondering how long you would let Sally make a slave of you.'
Neneknya berlutut, memeluknya dan berkata, SAYANG, SAYA SUDAH TAHU.  TAHUKAH KAU, SAYA SEDANG BERDIRI DI JENDELA DAN SAYA MELIHAT SEMUANYA, TAPI KARENA SAYA MENGASIHI KAMU, SAYA MEMAAFKAN KAMU.. SAYA HANYA SEDANG BERPIKIR BERAPA LAMA KAMU AKAN MEMBIARKAN SALLY MEMPERBUDAKMU.

----------

Thought for the day and every day thereafter:
Whatever is in your past, whatever you have done...? And the devil keeps throwing it up in your face (lying, cheating, debt, fear, bad habits, hatred, anger, bitterness, etc.)....whatever it is....You need to know that:
God was st andi ng at the window and He saw the whole thing.
Makna dari cerita ini :
Apapun yg terjadi di masa lalu, apapun yg telah kamu perbuat..dan iblis terus mengingatkannya kembali kepadamu (kebohongan, penipuan, hutang, ketakutan, kebiasaan buruk, kebencian, amarah, kepahitan dll) apapun itu..KAMU PERLU TAHU BAHWA..
TUHAN SEDANG BERADA DI JENDELA DAN DIA MELIHAT SEMUANYA...)

He has seen your whole life... He wants you to know that He loves you and that you are forgiven. He's just wondering how long you will let the devil make a slave of you.
Dia telah melihat seluruh hidupmu. Dia ingin kamu mengetahui bhw Dia mengasihimu dan bahwa kamu telah diampuni. Dia hanya sedang berpikir berapa lama kamu akan membiarkan dirimu diperbudak oleh si iblis.

The great thing about God is that when you ask for forgiveness;
Hal yg terindah tentang TUHAN adalah ketika kamu meminta pengampunan..

He not only forgives you, but He forgets.
Dia tdk hanya mengampuni kamu, tapi dia melupakannya..

It is by God's grace and mercy that we are saved.
Oleh karunia dan rasa sayang kita telah diselamatkan.

Go ahead and make the difference in someone's life today.
Berjalanlah terus dan buatlah suatu perubahan pada hidup seseorang hari ini.

Share this with a friend and always remember:
Teruskan ini kepada seorang sahabat dan selalu ingat :

God is at the window!
Tuhan itu ada di jendela !

When Jesus died on the cross; he was thinking of you!
Ketika Yesus mati di kayu salib, dia memikirkan kamu.
image

26 May 2010

God's Boxes

I have in my hands two boxes,
Which God gave me to hold.
He said, "Put all your sorrows in the black box,
And all your joys in the gold."
image image
I heeded His words, and in the two boxes,
Both my joys and sorrows I stored,
But though the gold became heavier each day,
The black was as light as before.

With curiosity, I opened the black,
I wanted to find out why,
And I saw, in the base of the box, a hole,
Which my sorrows had fallen out by.

I showed the hole to God, and mused,
"I wonder where my sorrows could be!"
He smiled a gentle smile and said,
"My child, they're all here with me.."

I asked God, why He gave me the boxes,
Why the gold and the black with the hole?
"My child, the gold is for you to count your blessings,
The black is for you to let go."

25 May 2010

Surat Dari Tuhan

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapatKu atau bersyukur kepadaKu atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
Aku kembali menanti.
Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk. Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepadaKu, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaKu dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya. Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan. Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKu.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama
kemudian.
Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu.
Baiklah… engkau bangun kembali dan kembali. Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu.
Semoga harimu menyenangkan.
Bapamu,
ALLAH MAHA KUDUS
P.S. : Apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang lain?

24 May 2010

Namaku Tek Tan Nio

image* Setiap satu minggu sekali, dengan menggunakan tongkat penyangga, Tek Tan Nio berkeliling Pasar Bogor untuk menjual keripik dan makanan ringan lainnya untuk membiayai hidup ia dan mamanya.

”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja..”


Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat.

Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun.

Lembaran Kisah Hidupku
Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat -red) di sampingnya.

Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin.

Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku.

Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali.

imageimage

Ket:
- Cobaan datang silih berganti dalam kehidupan Tek Tan Nio, namun tidak membuat dia merasa putus asa. Sebaliknya, dia menjadi semakin bersemangat untuk terus melanjutkan kehidupannya. (atas) 
- Tek Tan Nio tidak ingin dirinya dikasihani. Walaupun kakinya mengalami pengeroposan tulang, namun ia tetap semangat berjuang untuk bisa membahagiakan Tek Cui Nio (85), mamanya. (bawah)

Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku.

Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank.

Darimana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang.

Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah.

Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu -red) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris...

image image005

Ket:
- Untuk mengurangi rasa nyeri dilututnya, Tek Tan Nio memberikan perban di lututnya sebelum pergi keluar rumah. (atas)
- Setiap bulannya, Tek Tan Nio mendapatkan penghasilan sebesar lebih kurang 500..000 rupiah yang hanya cukup untuk makan sehari-hari ia dan mamanya. (bawah)

Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa.

Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini.

Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan. Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku. Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku.

Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat (kurang lebih lima kali berganti baju setiap harinya, karena basah -red). Sebenarnya dokter sudah melarang untuk terlalu sering berjalan, tapi kalau aku tidak berjualan siapa yang akan memberi makan mama? Cuma ini yang bisa saya lakukan untuk berbakti sama mama.

image image

Ket:
- Tidak hanya pengeroposan tulang, Tek Tan Nio juga mengalami pembengkakkan jantung yang membuat ia selalu berkeringat. Dalam satu hari, dia bisa berganti baju hingga lima kali karena keringatnya yang berlebih. (kiri)
- Betapa besar bakti seorang anak kepada ibunya dapat kita contoh dari sikap Tek Tan Nio yang sangat mencintai ibunya yang berumur 85 tahun, dan tengah sakit-sakitan. (kanan)

Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari kata cukup.

Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung.

Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan Tzu Chi. Karena ada Tzu Chi yang mendukung, rasanya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.

Thanks

Djun

Save a Tree. Don't Print this email unless It's necessary.