Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

12 December 2009

Baby Elephant Sneezes

11 December 2009

Duta Allah Bagi Anak

“Kapan kita harus memperkenalkan Allah kepada anak?”

Kerapkali kita menganggap anak masih terlalu kecil, sehingga belum perlu diajar tentang Allah. Alkitab tidak memberitahu secara detil, tetapi Alkitab berkali-kali mengingatkan orangtua untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak. Lalu, bagaimana memperkenalkan Allah kepada anak? Mari pelajari cara Tuhan memperkenalkan diri kepada umat Israel.

1. Tuhan memeakai peraturan untuk memperkenalkan kekudusan-Nya
Dari banyak pohon yang boleh dimakan buahnya di Eden, ada satu pohon yang tidak boleh dimakan buahnya. Mengapa? Karena peraturan mengenai pohon itu membuat manusia mengenal arti ketaatan dan kekudusan Allah.

Tuhan banyak memberi peraturan kepada manusia, supaya manusia mengenal sifat Allah yang kudus. Kita pun perlu memperkenalkan peraturan kepada anak. Misalnya, sejak kecil mereka diberi peraturan keluarga; boleh menonton televisi pada waktu tertentu dengan siaran tertentu, sehabis bermain harus merapikan mainan, hari Minggu harus ke gereja, dan lain-lain. Selain membentuk pola berkeluarga yang baik, peraturan diberi untuk memperkenalkan kekudusan dan otoritas Allah.

Suatu hari saya mengajarkan suatu semboyan kepada anak saya : “Taat Itu Indah”. Ketika itu saya menyuruhnya tidur siang. Setelah dibujuk akhirnya ia taat. Atas ketaatannya, saya ijinkan ia tidur lebih malam. Kebetulan ayahnya baru pulang dari jauh dan membawa mainan. Jadi, ia punya sedikit waktu untuk bermain dengan mainan barunya. Maka, saya mengingatkannya pada semboyan “Taat Itu Indah”. Kalau saja ia tidak taat, tentu ia tidak menikmati waktu bermain dengan ayahnya. Dan ia belajar konsep “persekutuan dalam ketaatan” dan “perseteruan dalam ketidaktaatan atau dosa”. Ini merupakan konsep dasar kekudusan Allah.

2. Tuhan memakai alat peraga untuk memperkenalkan kasih dan rencana-Nya
Tuhan memberi Adam dan Hawa baju dari kulit binatang untuk mengganti baji dari dedaunan. Alat peraga “kulit binatang” lebih mudah diingat dan dimengerti sebagai ungkapan kasih Allah yang melukiskan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah.

Suatu kali, hujan begitu deras. Anak saya menangis ketakutan karena takut hujan deras itu akan menjadi banjir seperti di zaman Nuh. Saya bersyukur Tuhan memberi pelangi sebagai alat peraga untuk Nuh, juga untuk anak saya. Saya pun menenangkannya, “Tim, kamu ingat pelangi yang Tuhan berikan pada Nuh? Disitu Tuhan berjanji tidak akan memberi banjir sehebat itu lagi. Percayalah, hujan ini pasti reda dan akan ada pelangi.” Dari situ, anak saya belajar tentang janji dan kasih Tuhan.

3. Tuhan memperkenalkan diri melalui sejarah.
Untuk memperkenalkan diri, Tuhan memakai banyak peristiwa dalam sejarah bangsa Israel. Tuhan memilih Abraham dan membawanya ke Kanaan. Memakai Yusuf untuk membawa keluarganya ke Mesir. Memilih Musa untuk membawa orang Israel kembali ke Kanaan. Memilih Daud dan menyampaikan janji tentang Mesias. Dan seterusnya. Tuhan menunjukkan bahwa Dia Allah yang tidak berubah dalam sejarah. Ulangan 6:6-9 adalah amanat agung bagi semua orangtua untuk mempercakapkan berulang-ulang karya keselamatan Allah, sejak dunia dicipta hingga kini.

Kita pun dapat memakai sejarah keluarga kita untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak. Bukankah Tuhan juga banyak menyatakan diri dalam keluarga kita? Dengan mencatat peristiwa penting dalam keluarga, menyusun foto, membuat catatan harian, kita menolong anak belajar tentang kasih Tuhan. Saya punya jurnal khusus tengtang anak-anak saya. Sejak dalam harapan, menjadi janin, lahir, dan bertumbuh, semua saya catat. Saat besar nanti, ia akan melihat besarnya perbuatan Tuhan baginya.

Juga dengan menceritakan perjalanan iman keluarga kita. Bagaimana kita bertobat, bagaimana Tuhan menolong dan menjawab doa-doa kita,

4. Tuhan memperkenalkan diri melalui narasi
Tuhan juga mengajarkan kebenaran melalui perumpamaan. Seorang anak membutuhkan cerita-cerita yang kontekstual dengan hidupnya untuk mengerti prinsip kebenaran dengan lebih mudah. Kepada murid-murid-Nya, Tuhan memberi banyak cerita meski mereka belum mengerti sepenuhnya arti cerita tersebut, sampai pencurahan Roh Kudus.

Anak-anakk belum dapat memahami banyak hal tentang Tuhan. Namun, mereka dapat menyimpan kebenaran mengenai Allah, melalui cerita Alkitab yang kita sampaikan secara rutin setiap hari. Cerita punya kekuatan besar. Pada waktunya, cerita-cerita itu terhubung dengan segala konsep yang tertanam oleh pertolongan Roh Kudus. Maka, anak akan memahami cerita itu dan relevansinya dengan hidup mereka.

Ketika menceritakan kitab Raja-raja kepada anak saya, saya pikir ia akan bosan. Kisah-kisahnya hampir sama. Raja yang menyembah berhala, dihukum Tuhan. Raja yang menhingkirkan berhala, menyenangkan Tuhan. Ternyata itu melekat di pikiran mereka. Ketika saya menjelaskan tentang film serta mainan yang “tidak sehat”, ia lebih mudah menangkap karena sudah tahu konsep “mendukakan dan menyukakan Tuhan”.

Kisah perjalanan bangsa Israel dipada gurun adalah kisah yang sangat kuat. Melalui kisah-kisah itu, anak-anak belajar mengenal atribut Allah Yang Mahakudus, Mahategas, tetapi juga Mahamurah dan penuh kasih karunia kepada umat pilihan-Nya. Selain itu, anak-anak belajar tidak mengeluh dan menuntut, melainkan TAAT dan PERCAYA. Kisah ini bukan hanya saya sampaikan ketika saat teduh, melainkan juga dalam aktivitas sehari-hari, sebelum tidur, saat makan, dalam setiap kesempatan.

5. Tuhan memperkenalkan diri melalui Amsal dan Mazmur
Tuhan adalah pakar pendidikan yang hebat. Dia tahu metode terbaik untuk melekatkan kebenaran dalam pikiran. Amsal dan Mazmur adalah metode paling jitu dalam memorisasi. Anak-anak juga membutuhkan Amsal dan Mazmur. Banyak kebenaran penting dapat diingat melalui sajak dan lagu rohani. Jadi, sangat perlu kita mengajarkannya. Memperkenalkan musik dan pujian adalah cari paling murah untuk memperkenalkan Allah kepada anak segala usia, termasuk janin dalam kandungan. Tuhan mencipta manusia sebagai makhluk musikal, sehingga bayi pun dapat bereaksi terhadap musik.

Nama anak kedua saya adalah Tadeus (dari kata Thaddaeus : penuh pujian bagi Allah). Ketika baru lahir, ia selalu menangis menjelang senja. Tak ada yang dapat menenangkannya selain musik. Demikian juga saat ia marah, gelisah, atau sakit. Rumah saya pun “penuh musik”. Dan heran, seorang bayi bisa serius memperhatikan setiap nada yang ia dengar, kemudian tertidur tenang. Dalam buku Teach the Child to Read dikatakan bahwa seorang bayi yang selalu dibacakan cerita oleh ibunya, akan selalu berharap dibacakan buku. Bukan karena ceritanya, tetapi karena ia senang mendengar nada suara ibunya. Jadi, membacakan Mazmur kepada bayi juga merupakan kebiasaan yang baik. Sekarang, saat sudah berusia 9 tahun, Tadeus tetap suka dibacakan buku bahkan Alkitab bahasa Yunani (walau tidak mengerti). Ia pun mulai mengarang lagu pujian kepada Allah. Ia bertumbuh menjadi anak yang sangat mudah memuji Tuhan.

6. Tuhan memperkenalkan diri melalui manusia
Tuhan mengenal kebutuhan manusia akan hal konkret. Jadi, Dia mengutus para nabi, memilih bangsa Israel, dan akhirnya hadir dalam diri Yesus Kristus. Anak-anak pun perlu contoh konkret sifat Allah, dari manusia yang dapat dilihatnya. Dan, manusia yang paling dekat dengan anak adalah orangtua. Hubungan anak dengan orangtua sangat memengaruhi konsepnya tentang Allah. Ada orang yang terus merasa bersalah karena waktu kecil selalu dihukum. Maka, ia mengenal Allah sebagai Allah yang kudus, tapi diktator. Contohnya, Martin Luther. Ia butuh pergumulan panjang untuk memahami anugerah keselamatan Allah. Perlakuan ayah dan gurunya yang keras membuatnya berpikir dosanya tak dapat diampuni. Hanya oleh anugerah Tuhan dan pencerahan Roh Kudus, ia mulai mengerti anugerah dan kasih Allah melalui pembacaan surat Roma.

Banyak orangtua ingin membuat anak mereka taat dengan berkata : “Nanti Tuhan marah kalau kami begini!” Tanpa disadari, orangtua memakai nama Tuhan untuk kepentingan sendiri dan merusak konsep anak tentang Allah. Bukankah Allah tidak akan marah kalay anak kita tidak mau makan, memukul adik karena iri hati, atau merebut mainan yang ia sukai? Dia sangat mengerti pergumulan anak-anak. Di lain pihak, kita perlu hati-hati mewakili sifat Tuhan ketika mendidik anak.

Ternyata tak ada batas waktu kapan memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kita dapat memperkenalkan Tuhan dengan cara sederhana dan mudah dimengerti anak, bahkan sejak mereka masih sangat muda!

Sumber : Renungan Harian Edisi Oktober 2009

10 December 2009

Kasih Pasti Lemah Lembut

Sebentar lagi, Panurata mau ulang tahun. Jerawati bingung mau memberi hadiah istimewa untuk Panurata.

“Duh duh, siang-siang begini kok sudah melamun, Neng!”, tanya Panurata memecah kesunyian siang itu, lewat depan rumahnya. Jerawati sedang duduk di teras sambil memegang buku. “Yeee...ngapain usil banget sih, aku mau melamun atau tidak, emang penting buatmu?”, sahut Jerawati dengan bibirnya yang merah plus manyun.

“Kesempatan nih”, batin Panurata, "Yeee… dikomentari begitu sudah marah nih yeee… Omong-omong nih, aku duduk sini ya, boleh kan?”, rayu Panurata.

Jerawati cuma menjawab, “Ehmmm… emang aku buka kantor perizinan duduk apa, kok tanya boleh apa nggak! Kamu mau duduk di kursi ya silakan, mau berdiri juga terserah, mau melantai, terima kasih, aku jadi nggak susah ngepel lagi!”

Panurata langsung tertawa ngikik."Ha ha ha ha ha......ternyata ternyata...dirimu juthek begitu masih sempet melawak ya....Thanks ya...aku duduk di lantai aja deh...!!"

Kata Jerawati, "Bagus gitu dong, sekali kali gitu, pria duduk di bawah, perempuan duduk di atas!!"

Panurata menimpali, "Itu namanya balas dendam, iya kan..emang penting ya duduk di atas atau di lantai?"

Jerawati mulai esmosi, "Yeee...ya pentinglah.. .biar jelas identitasnya. ..duduk di atas itu orang terhormat, duduk di lantai itu orang terhormat juga...tapi. ..!!"

Panurata dengan tenangnya menyahut, "Yeee...ikut ikutan nih buat kalimat nggak selesai...! Tapi apa coba....Duduk di lantai itu terhormat..tapi lebih terhormat orang yang duduk di atas gitu kan maksudnya... ?"

Sambil tersenyum Jerawati mengiyakan, "Nah tuh dah tahu.....tanya lagi...! Huuu...jadi sadar diri dong, kalau dirimu itu lebih rendah daripada diriku!"

Panurata lalu kelihatan cemberut, "Jeng, tega nian....dirimu bilang begitu? Apakah kata kata itu keluar dari hatimu sejujurnya?"

Jerawati terdiam mendengarkan pertanyaan gugatan Panurata, batinnya, "Aku sebenarnya tidak mau mengatakan begitu, tapi rasanya kalau nggak mengatakan diriku lebih tinggi statusku, dia kurang ajar!"

Panurata lalu melanjutkan, "Jeng, kalau memang kata kata itu benar dari hati kecilmu, aku hanya bisa bilang, terima kasih atas kejujuranmu!"

Jerawati hanya terdiam mendengarkan kata kata Panurata. Jerawati mulai gelisah, "Aku tidak sebenarnya tidak berniat untuk sekejam itu merendahkan Panurata, tapi kenapa aku tidak bisa mengatasi ini!"

Panurata terdiam, merasa diri tidak berharga lagi di depan Jerawati. Panurata lalu pamit pulang.. "Jeng, aku pulang ya...!" Jerawati berdiri tanpa kata, hanya menganggukkan kepala, saat Panurata pulang, dan membiarkan Panurata pulang tanpa di antar sampai pintu gerbang. Saat itu jam sudah menunjukkan jam 20.00.

Sekitar jam 22.00, Judesanti menelpon Jerawati, "Jeng, apa kabar?" Jerawati kaget setengah mati, dikira Panurata yang telp. "Tumben, telp aku! katanya!" Judesanti pun menyahut, "Aku pingin nge-check nih, ringtoneku sudah bisa online apa belum. Coba ya kamu telp ke HPku, nanti dengerin ya ringtonenya. .bagus lho..Jerawati penuh semangat check ringtone HP Judesanti. Jerawati semangat karena dia selalu bersaing dengan Judesanti soal ringtone itu. Jari jempol kanan Jerawati langsung pencet "keypad" HP Nokianya. Tidak lama kemudian terdengarlah ringtone, "Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan, Kasih pasti murah hati, Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan"

Tidak lama kemudian, Jerawati kaget namun juga terharu, "Dhuuuh....nyesel aku...sudah melukai hati sahabatku, Panurata!"

Tanpa terasa air matanya pun mengalir di pipinya. Judesanti telp lagi, "Gimana, bagus kan?"

Jerawati menjawab sambil terbata bata, "Iya bagus, Neng! Makasih banyak ya...!"

Judesanti heran, "Lhoh kok, jadi menangis, kenapa?"

Jawab Jerawati, "Iya aku terharu, ringtonemu pas banget mengingatkan aku! Aku lagi ada masalah! Mungkin ringtone ini bisa jadi jawabannya!"

Judesanti lalu menggoda, "Ehemmm, habis bertengkar ya?”

Sahut Jerawati, "Iya sih, makasih ya, aku mau minta maaf ama seseorang!"

Judesanti malah penasaran, "Aduh seseorang, someone special ya?"

Jerawati lalu mulai senyum, "Iya"

Judesanti lalu menimpali, "Uhuy, boleh dong, tapi martabak special, pakai telur n daging cincang atau?"

Jerawati, "Ah ada ada saja, someone special kok disamakan martabak special, ehmm… Thanks ya, San!"

Judesanti pun memaklumi, "Iya deh, selamat ya!"

Jerawati pun pamitan, "Iya sama sama, San, bye!!"

Esok pagi pagi, menjelang hari Rabu, tidak biasanya Jerawati pergi ke toko, sekitar jam 8 mampir sebentar di rumah Panurata. "Thok thok thok...!!"

Jerawati mengetuk pintu. "Iya, sebentar.." teriak Panurata dari dalam rumah. Jerawati langsung menyapa saat pintu dibuka, "Mas, sehat kan?" Panurata masih terkejut, "Iya ya aku sehat, kenapa kok tumben, Jeng. Ada apa? Bukankah aku ini orang rendahan, Jeng kan orang yang tinggi statusnya, nggak pantes kan ke sini. Akang yang mestinya ke rumah Jeng!"

Jerawati tersenyum, "Iya, aku mau mencabut kata kata itu kemarin, aku salah, sudah melukai hatimu dan merendahkan dirimu. Aku mau minta maaf pagi ini. Boleh kan?"

Panurata masih terperangah, "Iya Jeng, Akang memaafkan. Makasih banyak ya!"

Jerawati lalu menyahut, "Iya mulai sekarang, aku tidak akan lagi menganggapmu rendah, Akang tetap sama sederajat denganku! Semalam aku dengar ringtone bagus, seperti ini, (sambil Jerawati menyanyi), " Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan, Kasih pasti murah hati, Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan"

Panurata tak kuasa menahan rasa harunya juga, "Iya Jeng, makasih ya, suaramu bagus!"

Jerawati menimpali, "Hari ini, hari ulang tahunmu kan?" Panurata menganggukkan kepala, "Iya, dan kehadiranmu menjadi hadiah yang terindah dan mengejutkan buatku di pagi ini!"

Jerawati tersipu malu malu, sambil menepuk bahu dan menyalami tangan Panurata, Jerawati berucap, "Selamat ulang tahun ya Mas! Syukurlah kehadiranku menjadi hadiah untukmu."

Panurata lalu membalas, "Iya makasih ya Jeng, makasih banyak, hatiku jadi tenang, karena apa adanya diriku akhirnya kamu mau menerima"

Jerawatipun berujar, "Iya Mas, sama sama! Aku tidak akan mengulangi lagi kok, juga pada orang lain!"

Panurata lalu menyahut lagi, "Jeng, tapi boleh nggak aku minta satu lagi hadiah?"

Dengan senyum, Jerawati menyahut, "Iya boleh, pastinya gitu! Mau minta hadiah apa lagii?"

Dengan gaya tenang, dan sok bijak, menawar, "Boleh nggak kalau dirimu penting buatku?"

Jerawati lalu membalas, "Iya boleh, dong, kamu penting buatku, tapi kalau suatu saat aku tidak penting buatmu, jangan memaksakan dirimu ya!”

Panurata berujar, "Aku tetap memperlakukan dirimu penting buatku, biar aku bisa tetap minta dimasakin rujak cingur he he he!"

Jerawati mengiyakan, "Ehmm begitu, boleh boleh, aku siap deh masakin buat tetangga istimewa tapi jangan lupa ya honornya…!"

Panurata pun tersenyum, "Iya boleh, honor gratis apa honor uang neh?"

Sahut Jerawati, "Maksud loe???"

Jam sudah menunjukkan jam 9.30 pagi. Jerawati lalu pamit untuk pergi ke toko, "Okey deh, aku pulang dulu ya, makasih banyak!"

Panurata pun menyahut, "Sama sama Jeng, jangan kapok ya main lagi"

Jerawati diantar Panurata ke depan pintu gerbang halaman rumahnya! Panurata pun tersenyum lega, batinnya "Untung ada Judesanti dan ada ringtone Kasih itu Judesanti itu galak tapi ternyata malah tanpa disengaja bisa mencairkan kebekuanku dengan Jerawati. Coba kalau nggak ada Judesanti ya”

Panurata lalu pergi beres-beres rumah, karena hari ini ada banyak teman temannya mau datang untuk merayakan ulang tahunnya.

09 December 2009

Ibu… Ibu…

Aku lahir dari perut ibu..

Bila dahaga, yang susukan aku… Ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku… Ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku… Ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut… Ibu
Bila bangun tidur, aku cari… Ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang… Ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati… Ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah… Ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya… Ibu
Bila nakal, yang memarahi aku… Ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma… Ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah… Ibu
Bila takut, yang menenangkan aku… Ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk… Ibu

Aku selalu teringatkan… Ibu
Bila sedih, aku mesti telepon… Ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu… Ibu
Bila marah, aku suka meluahkannya pada… Ibu
Bila takut, aku selalu panggil… "Ibuuuuu!"
Bila sakit, orang paling risau adalah… Ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga… Ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku… Ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau… Ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni… Ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku… Ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu memberi bekal… Ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku… Ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku… Ibu
Yang selalu memuji aku… Ibu
Yang selalu menasihati aku… Ibu
Bila ingin menikah. Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan… Ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri....
Bila senang, aku cari… pasanganku
Bila sedih, aku cari… Ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada… pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada… Ibu
Bila bahagia, aku peluk erat… pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat… Ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa… pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah… Ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu... ibu ingat aku
Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
Entah kapan... aku ingin telepon ibu
Selalu... aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:
“Kalau kau sudah selesai berkerja.... masih ingatkah kau pada ibu? Tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.

Berderai air mata jika kita mendengarnya. Tapi kalau ibu sudah tiada… “IBUUUU… RINDU IBU… RINDU SEKALI…”

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya...... .
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya.....
dan akhir sekali berapa banyak yang mendoakan Ibu nya......

I love you, Mom!

08 December 2009

Tidak Ada Yang Sempurna

Kisah seorang istri dari pasangan muda yang baru hidup bersama 1 tahun. Suatu malam, ketika sang suami sudah tertidur lelap disampingnya, sang istri masih terjaga. Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati.

Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama. Sang istri pun kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak pada sang suami. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf.

Dengan sabarnya membujuk Sang istri untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, “MENGAPA KAU MENIKAHIKU, MAS?”

Sang suamipun menghela nafas, tersenyum dan menjawab, “Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayangku... tapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup. Yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi , dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga?? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?”

Terhenyak sang istri mendengarnya, suatu penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah “diberi kesempatan” untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa. hingga air mata haru pun tak terasa menetes.

Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya, sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.

“Pasangan hidup kita adalah memang yang terbaik. Tak perlu menghabiskan waktu dan energi untuk selalu memikirkan kekurangannya yang ada, karena tidak akan pernah kau dapatkan pasangan yang SEMPURNA sesuai dengan keinginanmu. Bila ingin suatu cinta lebih indah, bahagia dan abadi, berikan hatimu, untuk mengisi yang kurang dan mengurangi yang berlebihan atas apa yang ada pada diri kalian berdua.."

Berikan juga waktumu untuk pasanganmu ...
Agar pasanganmu merasakan bahwa kamu selalu ada untuknya.

Good luck friends.

07 December 2009

Permohonan Natal Gadis Kecil

Gadis Cilik yang Berani Memohon Ketika Amy Hagadorn berjalan melewati sebuah sudut di lorong dekat kelasnya, ia berpapasan dengan seorang anak laki-laki jangkung siswa kelas lima yang berlari dari arah berlawanan.

"Pakai matamu, Bodoh," maki anak laki-laki itu, setelah berhasil berkelit dari murid kelas tiga bertubuh kecil yang hampir ditabraknya. Kemudian, dengan mimik mengejek, anak laki-laki itu memegang kaki kanannya dan berjalan menirukan cara berjalan Amy yang pincang. Amy memejamkan matanya beberapa saat. Abaikan saja dia, katanya dalam hati sambil berjalan lagi menuju ke kelasnya. Akan tetapi, sampai jam pelajaran terakhir hari itu Amy masih memikirkan ejekan anak laki-laki jangkung itu. Dan, ia bukan satu-satunya orang yang mengganggunya.

Sejak Amy mulai duduk di kelas tiga, ada saja anak yang mengganggunya setiap hari, mengejek cara bicaranya atau cara berjalannya. Kadang-kadang, walaupun di dalam kelas yang penuh dengan anak-anak, ejekan-ejekan itu membuatnya merasa sendirian. Di meja makan malam itu, Amy tidak bicara. Karena tahu ada yang tidak beres di sekolah, Patti Hagadorn dengan senang hati berbagi kabar menggembirakan dengan putrinya.

"Di sebuah stasion radio ada lomba membuat permohonan Natal," kata sang ibu. "Coba tulis surat kepada Santa Klaus, siapa tahu kau memenangkan hadiahnya. Kupikir setiap anak yang mempunyai rambut pirang bergelombang di meja ini harus ikut."

Amy tertawa, lalu ia mengambil pensil dan kertas. "Dear Santa Klaus," tulisnya sebagai pembuka. Ketika Amy sedang asyik membuat suratnya yang paling baik, semua anggota keluarga mencoba menebak permohonannya kepada Santa Klaus. Adik Amy, Jamie, dan ibunya sama-sama menebak bahwa yang paling mungkin diminta oleh Amy adalah boneka Barbie setinggi satu meter. Ayah Amy menebak bahwa putrinya meminta sebuah buku bergambar. Akan tetapi, Amy tidak bersedia mengungkapkan permohonan Natal-nya yang rahasia.

Di stasiun radio WJLT di Fort Wayne, Indiana, suat-surat yang datang untuk mengikuti lomba Permohonan Natal tumpah seperti air bah. Para karyawan stasiun radio dengan senang hati membaca bermacam-macam hadiah yang diinginkan oleh anak-anak laki-laki dan perempuan dari seluruh kota untuk perayaan Natal. Ketika surat Amy tiba di stasium radio itu, manajer Lee Tobin membacanya dengan cermat.

"Santa Klaus yang Baik, Nama saya Amy. Saya berusia sembilan tahun. Saya mempunyai masalah di sekolah. Dapatkah Anda menolong saya, Santa? Anak-anak menertawakan saya karena cara berjalan saya, cara berlari saya, dan cara bicara saya. Saya menderita cerebral palsy. Saya hanya meminta satu hari saja yang dapat saya lewati tanpa ada orang menertawai atau mengejek saya. Sayang selalu, Amy.”

Hati Lee terasa nyeri ketika membaca surat itu: Ia tahu cerebral palsy adalah kelainan otot yang tampak aneh bagi teman-teman sekolah Amy. Menurutnya ada baiknya bila semua orang di Fort Wayne mendengar tentang gadis cilik dengan permohonan Natalnya yang tidak lazim. Pak Tobin menelepon sebuat koran setempat. Keesokan harinya, foto Amy dan suratnya kepada Santa mengisi halaman depan The News Sentinel. Kisah itu menyebar dengan cepat. Surat kabar, stasiun radio, dan televisi di seluruh negeri memberitakan kisah gadis cilik di Fort Wayne, Indiana, yang hanya mengajukan sebuah permohonan sederhana, namun baginya merupakan hadiah Natal paling istimewa-satu hari tanpa ejekan. Tiba-tiba, tukang pos menjadi langganan di rumah keluarga Hagadorn. Amplop berbagai ukuran yang dialamatkan kepada Amy datang setiap hari dari anak-anak dan orang dewasa dari seluruh negeri, berisi kartu-kartu ucapan selamat berlibur dan kata-kata penghiburan.

Selama masa Natal yang sibuk itu, lebih dari dua ribu orang dari seluruh dunia mengirimkan surat persahabatan dan dukungan kepada Amy. Sebagian penulis surat itu cacat; sebagian pernah menjadi sasaran ejekan ketika kanak-kanak, tetapi tiap penulis mempunyai sebuah pesan khusus bagi Amy. Lewat kartu-kartu dan surat-surat dari orang-orang asing itu, Amy merasakan sebuah dunia penuh dengan orang-orang yang betul-betul saling peduli. Ia sadar tidak ada ejekan dalam bentuk apa pun yang akan pernah membuatnya merasa kesepian. Banyak orang berterima kasih kepada Amy atas keberaniannya mengungkapkan isi hati. Yang lain mendorongnya bertahan terhadap ejekan-ejekan dan tetap tampil dengan tengadah.

Lynn, seorang siswi kelas enam dari Texas, mengirim pesan sebagai berikut: Aku senang menjadi temanmu, dan bila kau mau mengunjungi aku, kita dapat bersenang-senang. Tidak seorang pun akan mengejek kita, karena kalau mereka demikian, kita tidak usah mendengarkan. Permohonan Amy untuk menikmati satu hari khusus tanpa ada yang mengganggu terpenuhi di sekolahnya, South Wayne Elementary School. Selain itu, setiap orang di sekolah memberikan sebuah bonus tambahan. Guru dan murid berdiskusi tentang bagaimana perasaan orang yang diejek. Tahun itu, walikota Fort Wayne secara resmi menyatakan 21 Desember sebagai Hari Amy Jo Hagadorn untuk seluruh kota. Walikota menerangkan bahwa dengan keberanian mengajukan permohonan seperti itu, Amy mengajarkan sebuah pelajaran universal. "Siapa pun," kata walikota, "ingin dan berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan hangat."

06 December 2009

Humor : Tuhan Masih Bayi

Aming baru saja mengikuti perayaan Natal di kantornya.Sebagai pesan Natal, Aming diingatkan untuk hiduppasrah dan berserah diri kepada Yang Maha Esa. Dalamkisah Natal itu diceritakan mengenai zaman dimanaYesus baru dilahirkan, dan raja yang berkuasa saat itu: Raja Herodes - yang memang terkenal kejam – geram mendengar kelahiran 'Raja di atas segala Raja' yang memang sudah dinubuatkan dan memerintahkan untuk membunuh semua anak yang berumur 2 tahun.

Ditanyakan, “Apakah kita akan marah dan goyah imannya jika kita adalah salah satu dari orang tua yang masuk dalam daftar pembantaian itu?”

Sang pendeta, bertanya 3 hal, "Tahukah Tuhan bahwa peristiwa kejam ini akan terjadi?", "Mampukah Tuhan mencegah hal ini terjadi?" dan yang terakhir, "Baikkah Tuhan kepada UmatNya?".

Inti dari berita Natal yang didapat Aming adalah sebagai manusia kita seringkali mengedepankan kemauan kita di atas yang lain, sehingga kita kurang pasrah dan menerima jika ada kejadian buruk yang menimpa kita.

Sepulangnya di rumah, dengan semangat Aming ingin berbagi cerita ini kepada istrinya yang tercinta. "Kenapa Malaikat Tuhan tidak mampir sebentar memperingati orang tua yang memiliki anak berumur <2 tahun, padahal Malaikat Tuhan memperingati Jusuf, Maria dan orang-orang Majus"

"Iya, padahal kan bisa saja dia sambil lewat kasih tau yang lain yah Ming?", kata istrinya setuju.

"Kalau begitu, kamu akan marah tidak jika seandainya hal ini menimpa kita?"

"Ya maraahh dong!!!"

"Nah, inilah say, padahal menurut kamu Tuhan tahu tidak hal ini akan terjadi?", tanya Aming

"Ya tahu dong, malah sudah ada nubuatnya ratusan tahun sebelum kejadian ini ada"

"Tuhan sanggup gak kalau misalnya dia mencegah hal ini terjadi?"

"Harusnya sanggup, orang nabi Nuh saja bisa diselamatkan dengan cara yang ajaib"

"Tuhan baik gak sama kita?"

"Baik, buktinya bunga di taman saja di berikan baju dengan warna yang cerah, apalagi kita?"

"Lalu kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi kepada orang tua yang anaknya dibunuh?", tanya Aming sambil mengharapkan istrinya yang tercinta tidak bisa menjawab.

"Yaa...."

"Kamu tahu tidak alasannya?", tanya Aming lagi dengan sok tahu

"Yaa, karena Tuhannya kan masih bayi!"

".... ??!!"

05 December 2009

Humor : Tuhan Masih Bisa Mendengar

Jimmi dan Bill, usia 6 dan 10 tahun, tinggal bersama nenek mereka selama seminggu saat orang tuanya ke luar kota. Saat itu beberapa hari menjelang Natal, dan anak-anak bersiap-siap tidur. Nenek mereka ada di ruang sebelah dan menunggu mereka sampai tidur sehingga ia bisa mematikan lampu kamar mereka.

Jimmi berdoa dan kemudian menyelimuti dirinya sendiri. Bill, masih bersujud, terus berdoa memohon banyak hadiah Natal. Saat dia berdoa, suaranya semakin lantang, dan ia mengulang-ulang doanya. Merasa terganggu, Jimmi bangun dan mengeluh, "Hei, kamu ngga perlu berdoa keras-keras seperti itu; Tuhan itu ngga tuli!"

Kemudian dengan ketus Bill menjawab, "Tuhan memang tidak tuli tapi nenek di sebelah kan sudah terganggu pendengarannya!".

04 December 2009

Ajari Anak-anak Arti Natal Yang Sebenarnya

Saya sedang bersiap-siap untuk tidur ketika terdengar suara berisik di ruang tamu. Saya membuka pintu kamar Dan saya amat terkejut, sinterklas tiba-tiba muncul dari balik pohon natal. Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya malahan saya pikir saya melihat air Mata disudut matanya.

“Apa yang sedang anda lakukan?”, saya bertanya.

“Saya datang untuk mengingatkan kamu. AJARILAH ANAK-ANAK!” kata Sinterklas.

Saya menjadi bingung apa yang dimaksudkannya? Kemudian dengan satu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata, “Ajarilah anak-anak! Ajarilah mereka arti natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini telah dilupakan oleh banyak anak”.

Sinterklas merogoh kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini. “Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah keatas, mengingatkan Kita bahwa segala pikiran Kita di masa Natal hanya terarah pada surga.”

Kemudian ia memasukan tangannya kedalam tas dan mengeluarkan sebuah BINTANG cemerlang. “Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia, Dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya.”

Ia memasukkan tangannya lagi kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebatang LILIN. “Ajarilah anak-anak bahwa kristus adalah terang dunia, Dan ketika Kita melihat terang lilin, Kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan”

Sekali lagi ia memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah LINGKARAN lalu memasangnya di pohon natal, “Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran melambangkan Cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti. Cinta adalah kasih sayang yang terus-menerus tidak hanya saat Natal, tetapi sepanjang tahun.”

Kemudian dari tasnya ia mengeluarkan hiasan SINTERKLAS. “Ajarilah anak-anak bahwa saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati Dan segala niat baik yang Kita rasakan sepanjang bulan Desember.”

Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah HADIAH dan berkata, “Ajarilah anak-anak bahwa Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memeberikan anaknya yang tunggal....”

“Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah anak-anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus Dan mempersembahkan emas, kemenyan Dan mur. Hendaklah Kita memberi dengan semangat yang sama dengan para majus.”

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk tongkat dan menggantungkannya di pohon Natal. “Ajarilah anak-anak bahwa batangan permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi meninggalkan kawanannya Dan tersesat maka gembala datang Dan menuntun mereka kembali. Batang permen ini mengingatkan Kita bahwa Kita adalah penjaga saudara-saudara Kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi meninggalkan geraja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja. Selayaknyalah Kita berdaya supaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik Dan menuntun mereka pulang kerumah.”

Ia memasukan tangannya lagi kedalam tas dan mengeluarkan sebuah boneka MALAIKAT. “Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di surga Dan damai di bumi bagi manusia.” Sama seperti para malaikat di Betlehem, Kita patut mewartakan kabar gembira tersebut kepada keluarga Dan teman-teman: Immanuel - Tuhan beserta Kita!

Sekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya Dan saya melihat matanya telah bersinar kembali. Ia berkata, “Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal yang sebenarnya. Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya - Immanuel -Tuhan beserta Kita”. Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa - Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya Dan anak-anak saya - suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya - Dan arti kedatangan Yesus ke dunia. Dan saya tahu, bagi saya Dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang terindah - karena IMMANUEL ~ Tuhan beserta Kita!

Is Santa Clause Real?

image Is Santa Claus Real? This is a question that is on most children's lips at some point in their childhood. What will you tell your child what they ask if Santa Claus is real?

Of course Santa was a real person. He was St Nicholas, the patron saint of giving. St Nicholas was born in 300 AD. He was a holy man, being brought up in a monastery after being orphaned at an early age. He remained within the monastery and rose to the position of bishop. He obtained his reputation for giving because there are many tales of him giving gifts to the poor and needy and in particular children.

Over the years the European community have embraced to concept of St Nick and customised it to make it their own. Because of this Santa's appearance sometimes changes, his cloak may be described as different colours but his 'Giving' nature remains the same.

It is sometimes considered that Christmas festivities which do not include the nativity misconstrued the meaning of Christmas. However, St Nicholas was a religious man and lived his life according to the holy scriptures of the time and it's because of this that Santa and the Nativity hold parallels.

The birth of Jesus Christ itself depicts God giving mankind his only son, and the prospect of the gift of eternal life. Additionally the three wise men also came bearing gifts for the baby Jesus.

Although St Nicholas lived many years ago, he still lives on. He lives because he is a major part of Christmas and we all keep Santa alive, and he lives in us every year that we give one another a gift at Christmas time. So when your child asks you if Santa Claus is real, say - Yes.

03 December 2009

Ekspresi

Filipi 2:30 - "Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 5; Wahyu 11; Nehemia 1-3

Manusia diciptakan Allah mempunyai ekspresi. Sedih, senang, setiap kondisi yang kita rasakan selagi masih ada di dunia ini selalu terungkap dari sikap yang kita tunjukkan di luar. Bahkan orang introvert sekalipun pasti berekspresi.

Ada beberapa cara orang mengungkapkan perasaan atau gagasannya. Dan untuk itu biasanya terkait dengan seni, maka ada orang yang dapat mengekspresikan perasaannya, namun ada yang mengalami kesulitan. Pada umumnya orang yang memiliki jiwa seni akan lebih mudah mengekspresikan perasaan atau gagasannya.

Edward Shank, seorang pemahat terkenal di Pennsylvania, Amerika Serikat telah menggunakan 360 kilogram mentega merk Land O'Lakes untuk membuat patung berbentuk polisi pemadam kebakaran dan seorang prajurit yang memegang bendera Amerika. Patung itu dipersembahkan dalam rangka mengekspresikan rasa belasungkawanya kepada para korban saat peristiwa tragedi 11 September 2001 yang menghancurkan dua gedung WTC akibat serangan teroris. Edward memahat patung mentega itu di dalam ruangan yang sangat dingin agar mentega itu tidak mencair. Ada-ada saja cara orang mengungkapkan perasaannya, bukan?

Kemampuan seni apa pun dapat menjadi media untuk mengungkapkan perasaan. Lalu perasaan itu akan mendorong untuk mengeluarkan gagasan-gagasan. Kadangkala ada gagasan yang biasa saja, namun ada juga yang spektakuler. Namun, yang jelas pernahkah Anda mencoba untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan Anda lewat kemampuan seni yang Anda miliki?

Dalam menjalin hubungan antara kita dengan Allah, berekspresi adalah sebuah hal yang mutlak. Allah ingin melihat wajah kita bersukacita ketika menaikkan ucapan syukur karena kebaikan-kebaikan dan pertolongan yang telah Dia lakukan dalam hidup kita, atau pun menangis ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya. Pertanyaannya, sudahkah Anda melakukannya? Buktikan dengan ekspresi Anda saat mengatakan Anda mengasihi dan menghormati Allah karena dengan itulah Dia mengetahui ketulusan cinta Anda kepada-Nya.

Apapun yang Anda rasakan dan alami, berekspresilah karena itu adalah anugerah Allah yang diberikan bagi setiap manusia.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com