Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 December 2009

Tidak Ada Yang Sempurna

Kisah seorang istri dari pasangan muda yang baru hidup bersama 1 tahun. Suatu malam, ketika sang suami sudah tertidur lelap disampingnya, sang istri masih terjaga. Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati.

Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama. Sang istri pun kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak pada sang suami. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf.

Dengan sabarnya membujuk Sang istri untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, “MENGAPA KAU MENIKAHIKU, MAS?”

Sang suamipun menghela nafas, tersenyum dan menjawab, “Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayangku... tapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup. Yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi , dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga?? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?”

Terhenyak sang istri mendengarnya, suatu penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah “diberi kesempatan” untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa. hingga air mata haru pun tak terasa menetes.

Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya, sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.

“Pasangan hidup kita adalah memang yang terbaik. Tak perlu menghabiskan waktu dan energi untuk selalu memikirkan kekurangannya yang ada, karena tidak akan pernah kau dapatkan pasangan yang SEMPURNA sesuai dengan keinginanmu. Bila ingin suatu cinta lebih indah, bahagia dan abadi, berikan hatimu, untuk mengisi yang kurang dan mengurangi yang berlebihan atas apa yang ada pada diri kalian berdua.."

Berikan juga waktumu untuk pasanganmu ...
Agar pasanganmu merasakan bahwa kamu selalu ada untuknya.

Good luck friends.

07 December 2009

Permohonan Natal Gadis Kecil

Gadis Cilik yang Berani Memohon Ketika Amy Hagadorn berjalan melewati sebuah sudut di lorong dekat kelasnya, ia berpapasan dengan seorang anak laki-laki jangkung siswa kelas lima yang berlari dari arah berlawanan.

"Pakai matamu, Bodoh," maki anak laki-laki itu, setelah berhasil berkelit dari murid kelas tiga bertubuh kecil yang hampir ditabraknya. Kemudian, dengan mimik mengejek, anak laki-laki itu memegang kaki kanannya dan berjalan menirukan cara berjalan Amy yang pincang. Amy memejamkan matanya beberapa saat. Abaikan saja dia, katanya dalam hati sambil berjalan lagi menuju ke kelasnya. Akan tetapi, sampai jam pelajaran terakhir hari itu Amy masih memikirkan ejekan anak laki-laki jangkung itu. Dan, ia bukan satu-satunya orang yang mengganggunya.

Sejak Amy mulai duduk di kelas tiga, ada saja anak yang mengganggunya setiap hari, mengejek cara bicaranya atau cara berjalannya. Kadang-kadang, walaupun di dalam kelas yang penuh dengan anak-anak, ejekan-ejekan itu membuatnya merasa sendirian. Di meja makan malam itu, Amy tidak bicara. Karena tahu ada yang tidak beres di sekolah, Patti Hagadorn dengan senang hati berbagi kabar menggembirakan dengan putrinya.

"Di sebuah stasion radio ada lomba membuat permohonan Natal," kata sang ibu. "Coba tulis surat kepada Santa Klaus, siapa tahu kau memenangkan hadiahnya. Kupikir setiap anak yang mempunyai rambut pirang bergelombang di meja ini harus ikut."

Amy tertawa, lalu ia mengambil pensil dan kertas. "Dear Santa Klaus," tulisnya sebagai pembuka. Ketika Amy sedang asyik membuat suratnya yang paling baik, semua anggota keluarga mencoba menebak permohonannya kepada Santa Klaus. Adik Amy, Jamie, dan ibunya sama-sama menebak bahwa yang paling mungkin diminta oleh Amy adalah boneka Barbie setinggi satu meter. Ayah Amy menebak bahwa putrinya meminta sebuah buku bergambar. Akan tetapi, Amy tidak bersedia mengungkapkan permohonan Natal-nya yang rahasia.

Di stasiun radio WJLT di Fort Wayne, Indiana, suat-surat yang datang untuk mengikuti lomba Permohonan Natal tumpah seperti air bah. Para karyawan stasiun radio dengan senang hati membaca bermacam-macam hadiah yang diinginkan oleh anak-anak laki-laki dan perempuan dari seluruh kota untuk perayaan Natal. Ketika surat Amy tiba di stasium radio itu, manajer Lee Tobin membacanya dengan cermat.

"Santa Klaus yang Baik, Nama saya Amy. Saya berusia sembilan tahun. Saya mempunyai masalah di sekolah. Dapatkah Anda menolong saya, Santa? Anak-anak menertawakan saya karena cara berjalan saya, cara berlari saya, dan cara bicara saya. Saya menderita cerebral palsy. Saya hanya meminta satu hari saja yang dapat saya lewati tanpa ada orang menertawai atau mengejek saya. Sayang selalu, Amy.”

Hati Lee terasa nyeri ketika membaca surat itu: Ia tahu cerebral palsy adalah kelainan otot yang tampak aneh bagi teman-teman sekolah Amy. Menurutnya ada baiknya bila semua orang di Fort Wayne mendengar tentang gadis cilik dengan permohonan Natalnya yang tidak lazim. Pak Tobin menelepon sebuat koran setempat. Keesokan harinya, foto Amy dan suratnya kepada Santa mengisi halaman depan The News Sentinel. Kisah itu menyebar dengan cepat. Surat kabar, stasiun radio, dan televisi di seluruh negeri memberitakan kisah gadis cilik di Fort Wayne, Indiana, yang hanya mengajukan sebuah permohonan sederhana, namun baginya merupakan hadiah Natal paling istimewa-satu hari tanpa ejekan. Tiba-tiba, tukang pos menjadi langganan di rumah keluarga Hagadorn. Amplop berbagai ukuran yang dialamatkan kepada Amy datang setiap hari dari anak-anak dan orang dewasa dari seluruh negeri, berisi kartu-kartu ucapan selamat berlibur dan kata-kata penghiburan.

Selama masa Natal yang sibuk itu, lebih dari dua ribu orang dari seluruh dunia mengirimkan surat persahabatan dan dukungan kepada Amy. Sebagian penulis surat itu cacat; sebagian pernah menjadi sasaran ejekan ketika kanak-kanak, tetapi tiap penulis mempunyai sebuah pesan khusus bagi Amy. Lewat kartu-kartu dan surat-surat dari orang-orang asing itu, Amy merasakan sebuah dunia penuh dengan orang-orang yang betul-betul saling peduli. Ia sadar tidak ada ejekan dalam bentuk apa pun yang akan pernah membuatnya merasa kesepian. Banyak orang berterima kasih kepada Amy atas keberaniannya mengungkapkan isi hati. Yang lain mendorongnya bertahan terhadap ejekan-ejekan dan tetap tampil dengan tengadah.

Lynn, seorang siswi kelas enam dari Texas, mengirim pesan sebagai berikut: Aku senang menjadi temanmu, dan bila kau mau mengunjungi aku, kita dapat bersenang-senang. Tidak seorang pun akan mengejek kita, karena kalau mereka demikian, kita tidak usah mendengarkan. Permohonan Amy untuk menikmati satu hari khusus tanpa ada yang mengganggu terpenuhi di sekolahnya, South Wayne Elementary School. Selain itu, setiap orang di sekolah memberikan sebuah bonus tambahan. Guru dan murid berdiskusi tentang bagaimana perasaan orang yang diejek. Tahun itu, walikota Fort Wayne secara resmi menyatakan 21 Desember sebagai Hari Amy Jo Hagadorn untuk seluruh kota. Walikota menerangkan bahwa dengan keberanian mengajukan permohonan seperti itu, Amy mengajarkan sebuah pelajaran universal. "Siapa pun," kata walikota, "ingin dan berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan hangat."

06 December 2009

Humor : Tuhan Masih Bayi

Aming baru saja mengikuti perayaan Natal di kantornya.Sebagai pesan Natal, Aming diingatkan untuk hiduppasrah dan berserah diri kepada Yang Maha Esa. Dalamkisah Natal itu diceritakan mengenai zaman dimanaYesus baru dilahirkan, dan raja yang berkuasa saat itu: Raja Herodes - yang memang terkenal kejam – geram mendengar kelahiran 'Raja di atas segala Raja' yang memang sudah dinubuatkan dan memerintahkan untuk membunuh semua anak yang berumur 2 tahun.

Ditanyakan, “Apakah kita akan marah dan goyah imannya jika kita adalah salah satu dari orang tua yang masuk dalam daftar pembantaian itu?”

Sang pendeta, bertanya 3 hal, "Tahukah Tuhan bahwa peristiwa kejam ini akan terjadi?", "Mampukah Tuhan mencegah hal ini terjadi?" dan yang terakhir, "Baikkah Tuhan kepada UmatNya?".

Inti dari berita Natal yang didapat Aming adalah sebagai manusia kita seringkali mengedepankan kemauan kita di atas yang lain, sehingga kita kurang pasrah dan menerima jika ada kejadian buruk yang menimpa kita.

Sepulangnya di rumah, dengan semangat Aming ingin berbagi cerita ini kepada istrinya yang tercinta. "Kenapa Malaikat Tuhan tidak mampir sebentar memperingati orang tua yang memiliki anak berumur <2 tahun, padahal Malaikat Tuhan memperingati Jusuf, Maria dan orang-orang Majus"

"Iya, padahal kan bisa saja dia sambil lewat kasih tau yang lain yah Ming?", kata istrinya setuju.

"Kalau begitu, kamu akan marah tidak jika seandainya hal ini menimpa kita?"

"Ya maraahh dong!!!"

"Nah, inilah say, padahal menurut kamu Tuhan tahu tidak hal ini akan terjadi?", tanya Aming

"Ya tahu dong, malah sudah ada nubuatnya ratusan tahun sebelum kejadian ini ada"

"Tuhan sanggup gak kalau misalnya dia mencegah hal ini terjadi?"

"Harusnya sanggup, orang nabi Nuh saja bisa diselamatkan dengan cara yang ajaib"

"Tuhan baik gak sama kita?"

"Baik, buktinya bunga di taman saja di berikan baju dengan warna yang cerah, apalagi kita?"

"Lalu kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi kepada orang tua yang anaknya dibunuh?", tanya Aming sambil mengharapkan istrinya yang tercinta tidak bisa menjawab.

"Yaa...."

"Kamu tahu tidak alasannya?", tanya Aming lagi dengan sok tahu

"Yaa, karena Tuhannya kan masih bayi!"

".... ??!!"

05 December 2009

Humor : Tuhan Masih Bisa Mendengar

Jimmi dan Bill, usia 6 dan 10 tahun, tinggal bersama nenek mereka selama seminggu saat orang tuanya ke luar kota. Saat itu beberapa hari menjelang Natal, dan anak-anak bersiap-siap tidur. Nenek mereka ada di ruang sebelah dan menunggu mereka sampai tidur sehingga ia bisa mematikan lampu kamar mereka.

Jimmi berdoa dan kemudian menyelimuti dirinya sendiri. Bill, masih bersujud, terus berdoa memohon banyak hadiah Natal. Saat dia berdoa, suaranya semakin lantang, dan ia mengulang-ulang doanya. Merasa terganggu, Jimmi bangun dan mengeluh, "Hei, kamu ngga perlu berdoa keras-keras seperti itu; Tuhan itu ngga tuli!"

Kemudian dengan ketus Bill menjawab, "Tuhan memang tidak tuli tapi nenek di sebelah kan sudah terganggu pendengarannya!".

04 December 2009

Ajari Anak-anak Arti Natal Yang Sebenarnya

Saya sedang bersiap-siap untuk tidur ketika terdengar suara berisik di ruang tamu. Saya membuka pintu kamar Dan saya amat terkejut, sinterklas tiba-tiba muncul dari balik pohon natal. Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya malahan saya pikir saya melihat air Mata disudut matanya.

“Apa yang sedang anda lakukan?”, saya bertanya.

“Saya datang untuk mengingatkan kamu. AJARILAH ANAK-ANAK!” kata Sinterklas.

Saya menjadi bingung apa yang dimaksudkannya? Kemudian dengan satu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata, “Ajarilah anak-anak! Ajarilah mereka arti natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini telah dilupakan oleh banyak anak”.

Sinterklas merogoh kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini. “Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah keatas, mengingatkan Kita bahwa segala pikiran Kita di masa Natal hanya terarah pada surga.”

Kemudian ia memasukan tangannya kedalam tas dan mengeluarkan sebuah BINTANG cemerlang. “Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia, Dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya.”

Ia memasukkan tangannya lagi kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebatang LILIN. “Ajarilah anak-anak bahwa kristus adalah terang dunia, Dan ketika Kita melihat terang lilin, Kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan”

Sekali lagi ia memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah LINGKARAN lalu memasangnya di pohon natal, “Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran melambangkan Cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti. Cinta adalah kasih sayang yang terus-menerus tidak hanya saat Natal, tetapi sepanjang tahun.”

Kemudian dari tasnya ia mengeluarkan hiasan SINTERKLAS. “Ajarilah anak-anak bahwa saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati Dan segala niat baik yang Kita rasakan sepanjang bulan Desember.”

Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah HADIAH dan berkata, “Ajarilah anak-anak bahwa Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memeberikan anaknya yang tunggal....”

“Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah anak-anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus Dan mempersembahkan emas, kemenyan Dan mur. Hendaklah Kita memberi dengan semangat yang sama dengan para majus.”

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk tongkat dan menggantungkannya di pohon Natal. “Ajarilah anak-anak bahwa batangan permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi meninggalkan kawanannya Dan tersesat maka gembala datang Dan menuntun mereka kembali. Batang permen ini mengingatkan Kita bahwa Kita adalah penjaga saudara-saudara Kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi meninggalkan geraja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja. Selayaknyalah Kita berdaya supaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik Dan menuntun mereka pulang kerumah.”

Ia memasukan tangannya lagi kedalam tas dan mengeluarkan sebuah boneka MALAIKAT. “Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di surga Dan damai di bumi bagi manusia.” Sama seperti para malaikat di Betlehem, Kita patut mewartakan kabar gembira tersebut kepada keluarga Dan teman-teman: Immanuel - Tuhan beserta Kita!

Sekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya Dan saya melihat matanya telah bersinar kembali. Ia berkata, “Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal yang sebenarnya. Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya - Immanuel -Tuhan beserta Kita”. Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa - Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya Dan anak-anak saya - suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya - Dan arti kedatangan Yesus ke dunia. Dan saya tahu, bagi saya Dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang terindah - karena IMMANUEL ~ Tuhan beserta Kita!

Is Santa Clause Real?

image Is Santa Claus Real? This is a question that is on most children's lips at some point in their childhood. What will you tell your child what they ask if Santa Claus is real?

Of course Santa was a real person. He was St Nicholas, the patron saint of giving. St Nicholas was born in 300 AD. He was a holy man, being brought up in a monastery after being orphaned at an early age. He remained within the monastery and rose to the position of bishop. He obtained his reputation for giving because there are many tales of him giving gifts to the poor and needy and in particular children.

Over the years the European community have embraced to concept of St Nick and customised it to make it their own. Because of this Santa's appearance sometimes changes, his cloak may be described as different colours but his 'Giving' nature remains the same.

It is sometimes considered that Christmas festivities which do not include the nativity misconstrued the meaning of Christmas. However, St Nicholas was a religious man and lived his life according to the holy scriptures of the time and it's because of this that Santa and the Nativity hold parallels.

The birth of Jesus Christ itself depicts God giving mankind his only son, and the prospect of the gift of eternal life. Additionally the three wise men also came bearing gifts for the baby Jesus.

Although St Nicholas lived many years ago, he still lives on. He lives because he is a major part of Christmas and we all keep Santa alive, and he lives in us every year that we give one another a gift at Christmas time. So when your child asks you if Santa Claus is real, say - Yes.

03 December 2009

Ekspresi

Filipi 2:30 - "Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 5; Wahyu 11; Nehemia 1-3

Manusia diciptakan Allah mempunyai ekspresi. Sedih, senang, setiap kondisi yang kita rasakan selagi masih ada di dunia ini selalu terungkap dari sikap yang kita tunjukkan di luar. Bahkan orang introvert sekalipun pasti berekspresi.

Ada beberapa cara orang mengungkapkan perasaan atau gagasannya. Dan untuk itu biasanya terkait dengan seni, maka ada orang yang dapat mengekspresikan perasaannya, namun ada yang mengalami kesulitan. Pada umumnya orang yang memiliki jiwa seni akan lebih mudah mengekspresikan perasaan atau gagasannya.

Edward Shank, seorang pemahat terkenal di Pennsylvania, Amerika Serikat telah menggunakan 360 kilogram mentega merk Land O'Lakes untuk membuat patung berbentuk polisi pemadam kebakaran dan seorang prajurit yang memegang bendera Amerika. Patung itu dipersembahkan dalam rangka mengekspresikan rasa belasungkawanya kepada para korban saat peristiwa tragedi 11 September 2001 yang menghancurkan dua gedung WTC akibat serangan teroris. Edward memahat patung mentega itu di dalam ruangan yang sangat dingin agar mentega itu tidak mencair. Ada-ada saja cara orang mengungkapkan perasaannya, bukan?

Kemampuan seni apa pun dapat menjadi media untuk mengungkapkan perasaan. Lalu perasaan itu akan mendorong untuk mengeluarkan gagasan-gagasan. Kadangkala ada gagasan yang biasa saja, namun ada juga yang spektakuler. Namun, yang jelas pernahkah Anda mencoba untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan Anda lewat kemampuan seni yang Anda miliki?

Dalam menjalin hubungan antara kita dengan Allah, berekspresi adalah sebuah hal yang mutlak. Allah ingin melihat wajah kita bersukacita ketika menaikkan ucapan syukur karena kebaikan-kebaikan dan pertolongan yang telah Dia lakukan dalam hidup kita, atau pun menangis ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya. Pertanyaannya, sudahkah Anda melakukannya? Buktikan dengan ekspresi Anda saat mengatakan Anda mengasihi dan menghormati Allah karena dengan itulah Dia mengetahui ketulusan cinta Anda kepada-Nya.

Apapun yang Anda rasakan dan alami, berekspresilah karena itu adalah anugerah Allah yang diberikan bagi setiap manusia.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

Pagi Hari Saat Natal

Seorang pastor paroki. Di akhir tahun ia merasa capai setelah melewati setahun yang keras dan sulit dengan sejuta problema. Hari ini adalah hari Natal. Walau kepalanya agak pening ia memaksa diri bangun dari tidur. Kepalanya hampa. Ketika membaca bacaan Injil di pagi Natal ini, segalanya tak membantu. Tak ada inspirasi yang meneguhkan hidup. Kisah tentang tiga raja dari Timur, tentang Maria, tentang Betlehem, tentang bayi Yesus dalam palungan, tentang para gembala dan malaikat?

"Huh...sudah bertahun-tahun saya mendengar semuanya ini. Tak ada yang baru. Setiap tahun saya telah banyak berkotbah tentang ini. Sekarang lagi-lagi harus berbicara tentang kisah yang sama." Dengan tenaga lesu si pastor paroki bangun dan dengan sedikit malas menyiapkan diri untuk perayaan kebaktian Natal.

“Natal?? Huh...”, si pastor paroki sekali lagi menghembuskan napas keluhannya. Apa arti sebuah Natal yang sudah diwarnai bisnis duniawi? Di mana-mana lagu natal diputar, di jalan raya penuh terpasang iklan dengan lukisan Santa Klaus. Sudah berapa kali saya berbicara tentang makna sebuah natal? Dan apakah saya masih harus berteriak lagi tentang makna natal padahal tak seorang pun rela menggubris kata-kataku? Bukankah saya telah gila? Saya berbicara tentang cinta, tentang perdamaian, tapi lihat… Kebencian dan permusuhan tetap saja menjadi santapan sedap berita koran dan televisi.

Sebelum si pastor paroki itu selesai membenah diri, sepasang muda-mudi berdiri dan mengetuk pintu pastoran. "Aku Joseph. Dan ini Maria." Kata lelaki yang berdiri di depan pintu itu sambil melirik ke arah wanita yang sudah hamil tua dan siap melahirkan yang berdiri di sampingnya. Wanita itu begitu kurus, keringat mengucur walau di luar udara terasa amat dingin. Pastor paroki memperhatikan mereka satu-persatu, lalu menggumam, "Engkau Joseph, dan itu Maria. Dan siapakah saya ini? Apakah kamu berpikir bahwa aku ini keledai untuk ditunggang Maria???"

Oh...pasangan yang malang. Keduanya kini harus menerima luapan amarah yang terpendam lama di bathin si pastor itu. Bom yang dijaga baik itu kini meledak juga. Sayangnya...ia meledak justru di pagi hari Natal.

Namun ketika melihat si gadis yang gemetar seluruh tubuh sambil tangannya memeluk kuat bantal yang dibawanya, sang pastorpun tergerak hatinya. Kemarahannya mereda, dan dengan cepat ia menghantar gadis itu ke rumah sakit. Dan di pagi natal yang dingin. Sang pastor melihat seorang bayi dilahirkan. Iapun melihat seorang ibu yang kesakitan. Suatu kehidupan baru yang menuntut pengorbanan.

Dalam kotbahnya sang pastor berkata, "Hari ini saya melihat seorang bayi dilahirkan. Dan saya memahami apa arti sebuah Natal. Aku melihat kepedihan dan ketakutan sang ibu. Dan aku melihat betapa sang ibu amat mencintai bayi yang baru dilahirkan itu. Kini aku mengerti cinta yang diberikan Tuhan kepada kita manusia, cinta yang terukir oleh darah, oleh keringat, oleh air mata. Inilah sebuah Natal. Tuhan datang dalam dingin, dalam bentuk seorang bayi lemah, hanya untuk mengatakan bahwa Ia adalah Emmanuel, bahwa Ia mencintai kita selamanya." Kata sang pastor seakan mengulangi lagi apa yang biasa dikotbahkannya pada pagi hari Natal. Bedanya, kali ini ia lebih berbicara kepada dirinya sendiri.

Christmas Ice Breaking Party Games

Ice breaking party games are a brilliant way for a group of people to get to know each other, get over shyness, and generally 'break the ice' and therefore make way for festive fun. Icebreaker games are designed so that there are no winners or losers. The main aim of the game is to have fun as a group, so that there are no isolate persons. It also encourages the group to communicate and overcome shyness.

Here are three ice breaker games you could try at your children's Christmas party...

Christmas Tree
The group sits in a ring with the host or play leader in the centre.

The host labels the children with one of the following (making sure there is a minimum of 2 of each) Star, Bauble, Tinsel, Angel, Snowflake

The host now calls out one object. For example - Snowflake. All the snowflakes must now jump up and exchange positions with other snowflakes, the game continues in this way with the host calling out different objects and the children exchanging places with objects of the same kind.

If 'Christmas Tree' is called out, all of the children must jump up and exchange places with other objects.

This game is fast and furious and energetic and usually very well received by older and younger children alike. It breaks the ice by mixing the children up and sitting them next to new people.

Christmas Theme Chinese Whispers
An old game that can be given a Christmas twist, simply divide the children into two teams and arrange them to sit in two lines.

Have ready some (previously made) cards with festive sentences written on them, but make sure that the sentences are out of the ordinary.

For Example - Rudolf likes Christmas pudding on Mondays, but Prancer likes plum pudding on Mondays and Christmas pudding on Wednesdays.

To begin the game, give the two children at the front of the lines the festive sentence to read.

The children then have to whisper the sentence to one another until it has passed up the line. Remember: Each child my only whisper the sentence once, they may not repeat it.

Finally, when the message gets to the last child in the line, this child has to say the message out aloud for everyone to hear.

There aren't any winners or losers, its just lots of fun listening to garbled messages. If you have only a few children don't divide them into teams.

Christmas Pictionary
Preparing the game - Have 20 cards with a Christmas item written on each. For example: Christmas Fairy, Roast Turkey, Holly and Ivy, Santa's Sleigh, Christmas Trimmings, Christmas present label...

How to play
Divide the children in to two teams. Each team takes it in turns to play rounds. To play a round, one child in the team must be chosen to be the drawer for that round (The drawer changes for each round played) The drawer takes a card from the top of the pile and reads it without speaking.

The drawer then has tree minutes to draw what was written on the card. However, the drawer must write letters or words and they must not speak.

The rest of the drawer�s team must try to guess what was written on the card from the drawings, all within the tree minutes. A point is awarded each time a team guesses correctly (word for word) what was written on the card.

The first team to collect 4 points is the winning team.

This game can be difficult for younger children.

Ice breaker games help to introduce the children at the party to one another. Once everyone has had a chance to speak to a few new people, it paves the way for more party fun and everyone will have a great time.

02 December 2009

Mengasihi Sesama

Matius 22:39 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 4; Wahyu 10; Ezra 9-10

Sebuah badan sosial di Amerika Serikat yang bernama Yayasan Carnegie mendapati bahwa agar dapat meraih keberhasilan dalam pekerjaan, maka kemampuan dalam membangun hubungan lebih penting daripada pengetahuan. Penelitian ulang oleh yayasan itu menunjukkan bahwa hanya lima belas persen dari kesuksesan seseorang ditentukan oleh pengetahuan dan ketrampilan teknis tentang pekerjaannya, namun sebesar delapan puluh lima persen lagi ditentukan sikap pribadi dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Alkitab memerintahkan kita untuk "ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Efesus 4:32). Sesungguhnya, Alkitab menyatakan agar kita mengasihi "sesama" kita seperti diri sendiri (Matius 22:39). Dan sesama kita tidak hanya orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita, tetapi setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.

Jadi, bersikap sopan, perhatian, dan peduli kepada sesama adalah prinsip rohani yang mendasar. Itu juga merupakan pedoman yang terpenting dalam mendapatkan hubungan yang menyenangkan dan membahagiakan. Sesungguhnya, hal itu pun merupakan kunci emas meraih keberhasilan kerja.

Tujuan kita meneladani semangat Kristus untuk sesama, semata-mata didasari oleh keinginan untuk taat kepada Allah dan bukan hanya keinginan untuk berhasil dalam pekerjaan. Lebih dari itu, tugas utama kita sebagai orang percaya adalah untuk mewujudkan dan mempraktikkan karakter yang mengasihi sesama seperti Tuhan kita.

Mereka yang mengasihi Allah pasti mengasihi sesamanya.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Donkey Special Secret

image Donkeys are very special animals. Most people have enjoyed a donkey ride at the seaside, zoo or farm at one time or another as a child, a tradition started during the Victorian times. How could anyone resist those cute sad faces, and those extraordinary long eyelashes? But donkeys are special for another reason.

If you are familiar with the story of the nativity you will know that Mary and Joseph had to travel from Nazareth to Bethlehem to be counted, a journey of around 95 kilometres. This was no small distance back in those days when there weren't any motorised vehicles. Additionally the journey was over a hilly terrain, which made the long journey even harder.

Poor Mary was heavily pregnant and the prospect of such a journey must have been daunting. It's little wonder then that she rode a donkey on this long journey.

A special thing happened to the little donkey as it carried it's precious load. As the donkey carried Mary and the unborn Son of God, a mark of the crucifix appeared on the donkey's back. The top of the cross starting on the donkey's neck and running down his spine. The shorter line of the cross ran along the donkey's shoulder blades. The sign of the crucifix was given as a reward to the little donkey for the hard work it had endured, getting pregnant Mary safely to Bethlehem. (see the photographs of Donkeys too see their special marks)

To this day the little donkey is honoured for what he did for God, and all the donkeys bear the sign of the crucifix on their backs. You don't usually see the cross because donkeys at the beach are usually wearing saddles, so small children can ride them. Maybe this is why donkeys look so sad, because their special mark is hidden.