Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 November 2009

Kemanakah Tujuan Hidup Anda?

Filipi 3:14 - "dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Bacaan Kitab Setahun : Mazmur 145; Wahyu 1; Zakharia 11-12

Seorang pemuda dari desa berniat mengunjungi kerabatnya yang ada di Jakarta. Dengan membawa uang secukupnya, pergilah ia ke ibukota Indonesia tersebut menggunakan bis antar kota. Sesampainya di terminal bus terakhir, turunlah pemuda itu. Alangkah kagetnya ia ketika melihat keramaian yang ada di pemberhentian bus tersebut. Berbeda sekali dengan di daerahnya.

Merasa sudah sampai di kota, dalam pikirannya ia akan dapat dengan mudah menemukan kerabatnya tersebut. Namun, dugaannya itu salah. Setiap orang yang ditanya pemuda tersebut, selalu menjawab, "memangnya alamatnya dimana?" tentu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab karena ia sendiri tidak tahu alamatnya dimana.

Begitulah gambaran orang-orang yang percaya saat ini. Banyak dari kita merasa sudah yakin tujuan akhir hidup kita tanpa perlu mengeceknya lagi. Padahal walaupun keselamatan itu sudah kita terima dari Tuhan bukan berarti kita seenaknya berjalan di dalam hidup ini. Ada kalanya Anda harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri Anda sendiri, "kemanakah tujuan hidupku? Apakah aku berjalan ke arah yang salah?" Ini bukanlah pertanyaan ketidakpastian atau keraguan-raguan, tetapi ini adalah pertanyaan refleksi tentang hari-hari yang telah Anda lalui selama ini.

Ketika Anda telah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dan ternyata menyadari bahwa memang Anda sedang salah arah, segeralah berbalik dari jalan itu dan akuilah dosa-dosa Anda kepada Kristus dan mohonlah pengampunan dari-Nya. Mintalah kepada-Nya agar Dia memimpin dan memberikan petunjuk kemanakah Anda harus melangkah. Jadikan Tuhan sebagai Tuhan atas hidup Anda maka Anda pasti akan berada di jalan kebahagiaan bersama Dia dan kini menuju ke kehidupan yang kekal penuh kemuliaan.

Hidup bergaul karib dengan Tuhan adalah keputusan paling tepat agar Anda tidak keliru melangkah di dunia ini.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama.

Jawaban.com

Penantian Sang Ayah

Tersebutlah seorang ayah yang mempunyai anak. Ayah ini sangat menyayangi anaknya. Di suatu weekend, si ayah mengajak anaknya untuk pergi ke pasar malam. Mereka pulang sangat larut. Di tengah jalan, si anak melepas seat beltnya karena merasa tidak nyaman. Si ayah sudah menyuruhnya memasang kembali, namun si anak tidak menurut.

Benar saja, di sebuah tikungan, sebuah mobil lain melaju kencang tak terkendali. Ternyata pengemudinya mabuk. Tabrakan tak terhindarkan. Si ayah selamat, namun si anak terpental keluar. Kepalanya membentur aspal, dan menderita gegar otak yang cukup parah. Setelah berapa lama mendekam di rumah sakit, akhirnya si anak siuman. Namun ia tidak dapat melihat dan mendengar apapun. Buta tuli. Si ayah dengan sedih, hanya bisa memeluk erat anaknya, karena ia tahu hanya sentuhan dan pelukan yang bisa anaknya rasakan.

Begitulah kehidupan sang ayah dan anaknya yang buta-tuli ini. Dia senantiasa menjaga anaknya. Suatu saat si anak kepanasan dan minta es, si ayah diam saja. Sebab ia melihat anaknya sedang demam, dan es akan memperparah demam anaknya. Di suatu musim dingin, si anak memaksa berjalan ke tempat yang hangat, namun si ayah menarik keras sampai melukai tangan si anak, karena ternyata tempat ‘hangat’ tersebut tidak jauh dari sebuah gedung yang terbakar hebat.

Suatu kali anaknya kesal karena ayahnya membuang liontin kesukaannya. Si anak sangat marah, namun sang ayah hanya bisa menghela nafas. Komunikasinya terbatas. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa liontin yang tajam itu sudah berkarat, namun apa daya si anak tidak dapat mendengar, hanya dapat merasakan. Ia hanya bisa berharap anaknya sepenuhnya percaya kalau papanya hanya melakukan yang terbaik untuk anaknya.

Saat-saat paling bahagia si ayah adalah saat dia mendengar anaknya mengutarakan perasaannya, isi hatinya. Saat anaknya mendiamkan dia, dia merasa tersiksa, namun ia senantiasa berada disamping anaknya, setia menjaganya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap, kalau suatu saat Tuhan boleh memberi mujizat. Setiap hari jam 4 pagi, dia bangun untuk mendoakan kesembuhan anaknya. Setiap hari.

Beberapa tahun berlalu. Di suatu pagi yang cerah, sayup-sayup bunyi kicauan burung membangunkan si anak. Ternyata pendengarannya pulih! Anak itu berteriak kegirangan, sampai mengejutkan si ayah yg tertidur di sampingnya. Kemudian disusul oleh pengelihatannya. Ternyata Tuhan telah mengabulkan doa sang ayah. Melihat rambut ayahnya yang telah memutih dan tangan sang ayah yg telah mengeras penuh luka, si anak memeluk erat sang ayah, sambil berkata.

Ayah, terima kasih ya, selama ini engkau telah setia menjagaku.

22 November 2009

Humor : Burung Garuda

Seorang murid Sekolah Minggu yang mempunyai sifat kritis bertanya kepada gurunya,

Murid : “Pak, mengapa lambang negara kita burung garuda?”

Guru : “Karena sesuai dengan hari kemerdekaan kita, 17 Agustus 1945, 17 adalah jumlah bulu di sayap, 08 (Agustus) adalah jumlah bulu di ekor, dan 45 adalah jumlah bulu yang berada di leher.”

Murid : “Lalu mengapa negara kita merdeka tanggal 17 Agustus bukan tanggal yang lain, tanggal 02 Januari misalnya?”

Guru : “Hmmm, kalau kita merdeka tanggal 02 Januari, berarti lambang negara kita bukan lagi burung garuda melainkan capung, dengan dua sayap dan satu ekor.”

Murid : “...?”

21 November 2009

Humor : Bertengkar

Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja. Kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi, sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, “Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya.”

Tetapi istrinya menjawab, “Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun.”

“Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!” balas si suami dengan suara tinggi.

Si istri tak mau kalah dan dengan kasar ia menyembur, “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut, main bentak. Emangnya aku budakmu, apa?”

Mereka pun bertengkar panjang lebar sambil mempertahankan argumentasi masing-masing, siapa yang seharusnya menutup pintu.

Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “Sudah, sudah, aku capek. Gini aja: kita saling diam, tidur, dan siapa yang duluan ngomong, diayang harus menutup pintu.”

Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego besar ini.

Saat itulah para perampok beraksi.

Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh amarah, “Lelaki guooobloook! Kamu ini gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih aja diam kuaayak bangkeee!”

Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan bahagia, “Haaa, aku menang! Sekarang, kamu turun! Tutup pintunya!”

Bukan Kebetulan

Yeremia 29:11 - "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 143; Yohanes 20; Zakharia 7-8

Suatu hari ketika saya sedang berjalan kaki menuju ke rumah, di tengah perjalanan tersebut saya bertemu teman sebangku sewaktu SMP. Pertemuan itu sungguh mengagetkan karena kami berdua sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak lulus dari SMP. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup singkat itu, teman saya berkata seperti ini sesaat sebelum berpisah, "wah kebetulan banget bisa ketemuan disini, kapan-kapan ketemuan sama teman yang lebih banyak lagi yuk." Saya pun hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Saat melanjutkan langkah ke rumah, pikiran saya sedikit terganggu karena perkataan terakhir teman saya itu. Timbul dalam pikiran saya waktu itu sebuah pertanyaan, "Apakah benar bahwa pertemuan saya tadi merupakan sebuah kebetulan?" Jawaban akan hal ini cukup lama saya temukan bahkan sampai berminggu-minggu. Hingga suatu pagi ketika sedang membaca Alkitab, mata saya tertuju pada Yeremia 29:11 yang menuliskan bahwa Allah telah merancangkan segala sesuatu yang ada pada manusia dan rancangan tersebut adalah rancangan damai sejahtera. Berdasarkan ayat tersebut, berarti Allah telah mengatur kehidupan manusia dan tidak ada sesuatu di dunia ini yang terjadi tanpa diketahui-Nya.

Kita seringkali kaget ketika bertemu atau berhadapan dengan hal yang tidak diperkirakan sebelumnya, namun tidak dengan Allah. Dia adalah Tuhan yang Maha besar dan Maha Tahu. Bahkan lebih dahsyatnya lagi, Dia sudah memiliki rancangan bagi setiap kehidupan manusia.

Apakah hari-hari ini Anda merasa bahwa Allah telah salah menempatkan Anda sehingga pekerjaan dan pelayanan menjadi berjalan di tempat? Anda menganggap bahwa rancangan-Nya keliru. Bila ini adalah sikap yang Anda ambil menghadapi situasi tersebut maka meminta ampunlah kepada-Nya. Ingat, bahwa Allah tidak tidak akan membuat Anda celaka atau jatuh ke dalam dosa, akan tetapi justru Anda sedang dibawa menggenapi tujuan-Nya di dalam hidup Anda. Jadi, bersyukurlah dimana Tuhan telah menaruhkan Anda saat ini dan percaya bahwa semuanya terjadi bukan karena kebetulan.

Allah sudah mengetahui segala sesuatu dalam hidup manusia sebelum kita sendiri mengetahuinya.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Roma 8:28

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28

20 November 2009

Belum Terlambat

Galatia 6:10a : "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 142; Yohanes 19; Zakharia 4-6

Dalam kehidupan ini, hampir setiap manusia pasti pernah menyesal dan keadaan itu tidaklah menyenangkan. Bagi seorang suami yang meninggalkan anak istrinya berpuluh-puluh tahun, ketika dia sadar bahwa perbuatannya salah maka rasa penyesalan timbul dan akan terus menghantui dirinya. Begitu pun dengan seorang dokter yang terlambat datang ke rumah pasiennya yang menyebabkan si pasien meninggal sebelum dia diperiksa olehnya. Hati dokter itu pasti tidak akan tenang dan akan terus teringat dengan peristiwa sedih tersebut.

Kesalahan di masa lalu seringkali terbawa hingga kepada kehidupan di masa kini. Rasa penyesalan yang dalam karena tidak dapat berbuat hal baik membuat seseorang lupa dengan keadaanya saat ini. Ia tidak ingat bahwa saat satu orang pasien meninggal, masih ada pasien-pasien lain yang membutuhkan bantuannya dan menunggu untuk disembuhkan. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa sesal, lebih baik kita melakukan apa yang dapat kita lakukan.

Rasul Paulus menulis surat kepada Jemaat Galatia yang berisi nasihat agar mereka berbuat baik kepada semua orang selagi waktu masih ada. Ia mengingatkan orang-orang percaya di sana jangan menunggu waktu bila ingin membantu mereka yang dalam kesusahan. Dan perkataan itu masih berlaku sampai hari ini.

Tentu Anda mempunyai teman-teman dekat yang belum mengenal Tuhan, saksikan iman Anda sebelum terlambat. Tentu ada orang-orang menderita yang membutuhkan perhatian, ulurkan kasih dan perhatian Anda sebelum terlambat. Marilah kita gunakan kesempatan yang masih ada untuk melakukan kebaikan, agar kita tidak menyesal setelah kesempatan itu hilang. Maukah Anda berbuat baik selama belum terlambat?

Tak ada kata telat bagi mereka yang ingin berubah menjadi baik dan memberkati orang lain.

Sumber: Untaian kata-kata bijak: Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

Lupakah Anda?

Saya kenal seorang teman yang membenci bosnya karena bosnya itu tidak pernah memberinya kenaikan gaji. Ia pulang ke rumahnya dari kantor dengan kemarahan pada bosnya. Dan, karena tak mampu mengontrol kejengkelannya sewaktu-waktu, ia melemparkan kemarahan itu pada istri dan anak perempuannya. Ia ke tempat tidur tapi tidak dapat tidur karena sementara itu ia merencanakan cara-cara membunuh bosnya. Pagi hari ia bangun dengan keputusan untuk mendamprat bosnya; kemudian ia duduk di kursinya dan mengubur kemarahannya untuk sementara waktu.

Akan datang saatnya ketika Anda datang ke tempat tidur dan membanting bantal. Anda sama sekali sendirian dengan pikiran-pikiran Anda sendiri, aset-aset Anda dan kekurangan-kekurangan Anda. Kemudian tanyakan pada diri Anda apa yang Anda lupa lakukan selama hari yang telah berlalu tadi.

Apakah Anda lupa tersenyum, setidak-tidaknya sekali sehari?

Apakah anda lupa untuk memuji seseorang atas perbuatan baiknya? Atas kata-kata baik yang ia ucapkan?

Lupakan bahwa Anda dapat bahagia, bahwa Anda dapat membiasakan kebahagiaan?

Apakah Anda melupakan kemarahan, kekesalan, perasaan-perasaan negatif ini yangmenjauhkan Anda dari diri Anda dan membuat Anda menjadi kerdil dari sesungguhnya?

Lupakah Anda dilahirkan untuk sukses dalam hidup?

Apakah Anda lupa bahwa Anda memiliki aset-aset dalam diri Anda yang Tuhan Anda berikan?

Apakah Anda lupa bahwa Anda bermartabat karena anda diciptakan sebagai Citra Allah?

Apakah Anda lupa untuk bersikap tulus?

Apakah Anda lupa untuk memahami kebutuhan orang lain?

Apakah Anda lupa untuk berbelaskasihan ?

Apakah Anda lupa untuk percaya diri?

Apakah Anda lupa untuk menerima diri Anda apapun Anda dan tidak mencoba menjadi orang lain?

Apakah yang Anda lupakan hari ini?

Pikirkanlah satu hal yang tidak Anda ingin lupakan besok. Ini akan membuat Anda relaks danlebih baik. Adakanlah pemeriksaan terhadap diri Anda setiap hari. Hal ini menyumbangkan citra diri Anda dan memberi Anda kedamaian pikirin untuk meraih cita-cita esok hari. Lakukan sesuatu yang berarti buat diri anda sendiri maupun orang lain dan Anda akan menpunyai makna buat hidup orang lain.

19 November 2009

Chance

Lainie's career flourished after her move to California. She loved her job, the mild weather, and the circle of close friends she acquired. At 35 years of age, Lainie was content with everything in her life, except the deafening tick of her biological clock!
Lainie's last few birthdays had been dreaded reminders that she was still single and childless. Being the product of a large family, five siblings to be exact, she yearned to have a child of her own. She worried, she stewed, and studied her financial situation. Once sure she could handle all aspects of being a single mother, she discussed the situation with close friends, as well as her mother. After a bit more deliberation, she opted to go for it. As if by design, her first attempt at invitro fertilization was successful. Lainie was thrilled!
The first 27 weeks of Lainie's pregnancy were perfect and each day her excitement soared. At 28 weeks things changed in a heartbeat; the situation became critical and she was terrified. When preeclampsia reared its ugly head, an emergency C-section was the only option. Moreover, it came with no promise of survival for Mother or child. Lainie had already named her unborn son, Chance, and she prayed to God for just that a chance of survival for her child.
Weighing in at 1 pound and 15 ounces, the premature baby boy had been aptly named, for he was given a 50-50 chance of making it through his first night. Should he survive, he faced the probability of numerous health problems: mental retardation, cerebral palsy, blindness, and cystic fibrosis, to name only a few. The doctors were straightforward and not encouraging.
Lainie remained in intensive care for 10 anxiety-ridden days while her tiny son struggled to live. She held him for the first time when he was one week old. After three months in Neonatal Intensive Care, an overjoyed, yet fearful Mother took her still-fragile infant home. Lainie's mother traveled from Kansas to aid her youngest daughter and brand new grandson.
Due to chronic lung disease in premature babies, Chance would not be a daycare candidate for 2 years and Lainie was forced to make several major decisions. She left California and moved into her mother's roomy home in Kansas. Mom was more than willing to provide the emotional support Lainie needed and to help care for her young grandson.
Lainie was unable to continue her established career path in Kansas. Instead, her employment took the route of temporary jobs. Chance's therapy sessions and endless doctor appointments required her schedule to be flexible.
At 18 months of age Chance lags behind developmentally for a child his age, but he makes progress daily. It appears he has avoided all of the possible maladies that once loomed in his future. Furthermore, Chance dodged two additional obstacles that were thrown in his path those being, kidney and heart surgery. Both issues resolved themselves with no logical or scientific explanation! Since birth, it seems Chance has been cradled in God's loving hands.
When I last visited Chance, his bright eyes danced and he giggled while giving grandma high fives one after the other. In addition, the smile that graced grandma's proud face was priceless.
Despite all adjustments and challenges encountered, Chance fills Lainie's life with love, light, and joy daily. With mountains of love, a multitude of prayers, and the grace of God, chances are that Chance will lead a completely normal life..
(Kathleene S. Baker)

18 November 2009

Heavens

Mengapa Ya Tuhan?

Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 140; Yohanes 17; Hagai 1-2

Pada suatu hari ada seorang petani yang terkenal begitu rajin dibandingkan dengan teman-temannya. Saat musim tanam tiba, pergilah ia ke sawah untuk menanam padi. Cuaca yang sangat mendukung dan pikiran untuk mendapat keuntungan yang besar menambah semangatnya untuk terus bekerja. Hingga tibalah satu pekan sebelum musim panen. Tanpa diduga hujan turun dengan lebatnya selama beberapa hari dan tak kunjung reda yang membuat padi-padi yang sudah ditanamnya sudah terendam air. Hancur sudah impiannya untuk memperoleh hasil panen yang besar. Petani tersebut yang sudah kecewa lalu berteriak, "apa kesalahanku Tuhan sehingga aku mengalami kerugian seperti?"

Orang selalu mengajukan pertanyaan "mengapa" bila sedang menghadapi ketidakberuntungan dan kesukaran. Pertanyaan ini penting karena menunjuk pada kenyataan bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan. Namun, bukan berarti kita berhak untuk mengatakan "mengapa" setiap kali datang kepada Tuhan.

Kisah Ayub dalam Alkitab adalah contoh nyata bagaimana karena selalu bertanya tentang kata yang satu ini, hukuman Tuhan datang kepada-Nya. Sering kali Allah menyembunyikan alasan/jawaban untuk diri-Nya sendiri. Bahkan Allah menyembunyikannya jauh melampaui pengertian dan kemampuan kita dengan maksud untuk memperkuat iman kita dan agar kita sepenuhnya bersandar kepada-Nya.

Percayalah kepada Allah dengan penuh ketaatan dalam segala situasi dan kondisi. Jangan ragukan perkataan-Nya dan ketahui sudah banyak hal-hal besar menanti bila Anda setia.

Bersungut-sungut adalah penghalang Anda untuk menerima berkat Allah yang luar biasa.

Sumber: Untaian Kata-kata Bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com