Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 November 2009

Artikel Untuk Natal

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim kesamuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Waktu Yang Berharga

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.

Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.

Ia bahkan tak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah. Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, “Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi.”

Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.

“Halo?”, suara ibunya membangunkannya.

“Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu”, kata Jack

“Tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku”

“Oh tidak, Jack,” kata ibunya,

“Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”

“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini.” kata Jack.

Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser. Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey… Jack terdiam sejenak.

“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Jack.

Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya.

“Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’.”

Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya. Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu,

Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki

Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,

Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser

“Yang ia hargai dariku adalah… waktuku.” serunya perlahan.

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya untuk membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan.

“Mengapa?” tanya Janet, sekertarisnya.

“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Jack

“dan Janet, terima kasih untuk waktumu.”

…………

Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali : Perkataan dan Waktu.

Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu yang lain. Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka?

08 November 2009

Humor : Memancing

Dua orang sedang duduk sambil memancing di tepi danau sepanjang hari di musim dingin yang membeku. Yang seorang tidak beruntung sama sekali dan yang lainnya sedang menangkap ikan sebesar kepalan tangan. Orang yang tidak beruntung tadi bertanya kepada orang yang satunya tentang bagaimana rahasianya memancing selalu sukses.

“Mmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm... mm,” jawab orang di sebelahnya.

“Maaf, tapi kamu berkata apa?”

“Mmmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm.. mm”, jawab pemancing yang sukses itu sekali lagi.

“Aku betul-betul minta maaf, tapi aku tetap tidak mengerti ucapanmu.” Orang tadi kemudian memuntahkan sesuatu ke telapak tangannya sendiri dan berkata perlahan-lahan, “Kamu harus menjaga cacing umpanmu tetap hangat.”

07 November 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Humor : Salah Membangunkan

Seorang penumpang naik pesawat terbang dari Jakarta-Surabaya. Ia berpesan kepada salah seorang pramugari agar membangunkannya bila pesawat sudah mendarat di Surabaya. Tetapi penumpang itu baru bangun ketika pesawat sudah jauh sampai di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Tak pelak orang itu amat marah dan memanggil pramugari yang tadi diberi pesan untuk meminta suatu penjelasan. Pramugari itu dengan takut dan gagap memohon maaf sementara penumpang tadi dengan memendam kemarahan turun dari pesawat.

“Ya ampun, betapa gusarnya orang itu”, komentar seorang pramugari lain kepada koleganya yang sedang sial itu.

Kata pramugari tadi, “kamu kira dia marah, kamu’kan tidak tahu orang yang aku bangunkan dan turun di Surabaya tadi!” Ternyata…?!

06 November 2009

Biarkanlah Aku Memberi

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup
Namun, sementara aku masih hidup, Tuhan, biarkanlah aku memberi penghiburan kepada seseorang yang sedang membutuhkan
Entah melalui senyuman, anggukan kepala, tindakan atau sepatah kata keramahan

Dan biarkanlah aku berbuat apa yang mampu kulakukan
Untuk meringankan beban sesamaku
Aku hanya ingin berbuat bagianku
Untuk sekedar meringankan jiwa yang lelah dan putus harapan

Untuk mengubah kerutan dahi menjadi senyuman lagi
Sehingga hidupku tidak sia-sia
Aku tak peduli berapa lama aku masih berada di dunia
Asalkan aku dapat memberi…dan memberi…dan memberi

BJ. Morbitzer

05 November 2009

Ingin Membagikan Artikel Bertema Natal?

Shalom,

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim ke samuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Bazaar Dana Peduli Indonesia

Bazaar Dana Peduli Indonesia


Hari / Tanggal : Minggu 15 Nov 2009
Jam                 : 14.00 - 17.00
Tempat           : Gedung Gratia
                         Jln. Dr. Sudarsono 32
                         Cirebon.

Jika ada yang mau mampir ke Cirebon, jangan lupa berkunjung ke Bazaar.. :)

JBU all…

Keagungan Dan Kesederhanaan

Impresario konser, Sol Hurok pernah menyatakan bahwa Marian Anderson, bukan saja sudah menjadi besar, tetapi di samping itu ia memiliki sifat rendah hati. Ia mengatakan,” Beberapa tahun lalu seorang wartawan mengadakan wawancara dengan Marian dan bertanya kepadanya untuk menyebut saat-saat yang besar dan tak terlupakan dalam seluruh hidupnya.

Pada saat itu, aku berada di kamar riasnya dan aku ingin tahu apa jawabnya. Aku tahu bahwa ia telah mengalami begitu banyak saat besar dalam hidupnya. Misalnya, saat Toscanini memujinya, bahwa ia mempunyai suara yang terindah di seluruh negeri.

Selanjutnya, konser pribadi yang ia persembahkan di White House untuk keluarga Roosevelt dan Ratu serta Raja dari Inggris. Kemudian, ketika ia menerima penghargaan Bok Award sejumlah $10.000, sebagai seorang yang berprestasi bagi kota kelahirannya, Philadelphia.

Dan di atas semua itu, ketika hari Paskah di Washington, saat ia berdiri di bawah patung Lincoln dan menyanyi untuk hadirin sebanyak 75.000 orang, termasuk anggota Kabinet, para hakim dari Mahkamah Agung dan sebagian besar dari anggota Perwakilan Rakyat.

Dari saat-saat yang besar itu, ia hendak memilih yang mana?

“Tidak ada yang ia pilih di antara saat-saat yang telah membesarkan namanya”, kata Hurok.

“Nona Anderson menjawab kepada wartawan itu bahwa saat yang paling besar dalam hidupnya adalah, pada hari dia pulang rumah dan mengatakan kepada ibunya bahwa mulai hari ini, ia tidak perlu mencuci pakaiannya sendiri.”

04 November 2009

Book Of Job

03 November 2009

Kutu Dalam Botol

Pernahkah anda menonton sirkus kutu? Kutu-kutu yang kecil itupun dapat dilatih untuk melakukan sesuatu yang sama seperti apa yang dapat dilakukan oleh binatang-binatang besar dalam suatu sirkus. Mereka pun dapat melakukan hal-hal yang lucu yang membuat penonton tertawa.

Namun, ada sesuatu yang menarik tentang cara bagaimana kutu-kutu itu dilatih. Bila anda memasukkan beberapa kutu di dalam satu botol dan kemudian menutup rapat botol itu, maka kutu-kutu itu berusaha untuk lari. Mereka akan meloncat-loncat beberapa kali sehingga sering mereka membentur ke tutup botol. Di dalam waktu yang amat cepat, mereka dapat mengukur jarak ketinggian dari tutup botol itu dengan tepat. Dalam usaha selanjutnya untuk keluar dari botol itu, mereka akan meloncat mendekati tutup botolnya, namun tidak pernah membenturkan dirinya ke tutup botol itu.

Nah, setelah itu, sesuatu yang amat menarik dapat kita lakukan. Kita dapat melepaskan penutup botol itu sehingga botol tetap terbuka, namun anehnya, kutu-kutu itu tetap terus meloncat-loncat hanya tetap tidak melebihi dari ketinggian tutup botol yang sudah tidak ada lagi itu.

Mereka yakin, setelah mereka beberapa kali membentur ke penutup itu, mereka tidak berani lagi meloncat lebih tinggi lagi karena khawatir membentur tutup botol yang sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Kejadian yang luar biasa ini sesungguhnya sama dengan manusia yang pernah mengalami kegagalan beberapa kali dalam hidup mereka dan setelah itu mengira bahkan yakin bahwa mereka tidak mampu untuk mencapai ketinggian puncak sukses yang pernah mereka capai sebelumnya.

Seperti juga kutu-kutu itu, mereka pun mengurangi ketinggian cita-cita mereka sampai kepada suatu tingkat yang “aman”, namun seperti juga kutu-kutu itu, mereka tetap terperangkap di dalam botol itu tanpa dapat keluar.

Lebih baik kalau kita menjadi seperti seorang tikus. Bila seekor tikus membentur kepada suatu penghalang, ia berbelok dan dengan segera menuju ke arah yang lain, sehingga pada akhirnya berhasil mencapai cita-citanya yang tertinggi.

Kita pun dapat melakukannya bila kita tetap mengarahkan visi kita terhadap tujuan kita yang utama.