Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 October 2009

Kenangan

Mereka mengatakan bahwa kenangan adalah emas
Mungkin itu tidak keliru
Namun kami tidak pernah menginginkan kenangan.
Kami hanya menginginkanmu.

Sejuta kali kami memerlukanmu
Sejuta kali kami telah meneteskan air mata
Bila seandainya Kasih dapat menyelamatkanmu
Engkau tidak pernah mati untuk dunia.

Dalam hidup kami mengasihimu,
Bahkan dalam kematian pun kami masih menyayangimu
Dalam hati kami, engkau mendapatkan tempat yang istimewa
Yang tak dapat diisi oleh siapapun.

Bila air mata dapat membangun sebuah tangga
Dan kepedihan hati dapat membangun jalan,
Kami dapat berjalan ke sorga
Dan membawamu kembali.

Kini rantai keluarga kami telah putus
Dan segala sesuatu sudah berbeda.
Namun bila kelak Tuhan memanggil kami satu demi satu
Rantai itu akan tersambung kembali.

28 October 2009

Anggaplah Sebagai Kebahagiaan

Yakobus 1:12 "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 119:89-150; 1 Yohanes 4; Yehezkiel 46-47

Seorang pendeta memasang tanda di pintunya: Jika Anda bermasalah, masuklah dan ceritakanlah kepada saya masalah itu. Jika Anda tidak bermasalah, masuk dan ceritakanlah kepada saya bagaimana Anda menghindarinya.

Apa yang kita lakukan saat masalah besar datang tanpa pemberitahuan? Yokobus mengatakan agar kita menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian tidak terjadi tanpa sebab. Ia berkata, "sebab kamu tahu, ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:3,4). Dengan adanya pemahaman ini, doa-doa kita kepada Allah akan berubah dari bertanya mengapa menjadi bersyukur atas semua yang telah Dia lakukan dalam hidup kita.

Suatu hari seorang penulis renungan harian Joanne Yoder yang sedang bergumul dengan penyakit kanker dalam tubuhnnya menuliskan pemikirannya dalam surat: Saya telah menyerahkan masa depan saya pada kehendak Allah. Puji Tuhan, tidak ada satu pun, bahkan kanker, dapat menghalangi kehendak-Nya. Saya mungkin memiliki kanker, namun kanker tidak memiliki saya. Hanya Allah yang memiliki saya. Karena itu, saya menghargai doa-doa Anda agar Kristus dimuliakan dalam tubuh saya, entah hidup atau mati.

Seringkali ujian datang dalam hidup ini tanpa diduga. Kita juga tidak bisa menghindari agar tidak mengalaminya. Namun, dengan menyadari bahwa Allah menyertai kita dan ujian-ujian itu hanyalah sebuah media untuk mendewasakan kita, maka kita dapat menganggapnya kebahagiaan.

Anda tidak dapat bertahan bahkan melewati ujian hidup bila Tuhan Yesus tidak tinggal dalam diri Anda.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Hidup Oleh Anugerah

Nama saya Herman Tjahja, berusia 56 tahun. Kalau hingga hari ini saya masih hidup, saya tahu bahwa ini adalah anugerah Tuhan semata-mata, karena menurut dokter sebenarnya saya sudah meninggal pada bulan Agustus 2000, saat koma ketika dioperasi. Pada kesempatan ini saya ingin meyakinkan mujizat Allah yang saya alami, yang saya harap dapat menguatkan iman saudara sekalian.

Pada tahun 1991, diketahui bahwa saya mengidap penyakit jantung (coroner). Saya tidak terlalu merasakan penyakit tersebut dan aktivitas saya berjalan seperti biasa. Pada bulan Juli 2000, dilakukan kateterisasi di RS. Husada. Dari hasil pemeriksaan itu disimpulkan bahwa saya harus dioperasi, sebab bila tidak, kemungkinan hidup saya tinggal 6 bulan saja. Tetapi bila dioperasi, mengingat kondisi jantung saya yang sudah bengkak, kemungkinan berhasil hanya 50%. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya memutuskan untuk dioperasi di Auckland.

Hal ini saya ceritakan kepada salah seorang sahabat saya (yang sekarang saya tahu berjamaat di GBI Rehobot). Ketika ia tahu bahwa saya akan berangkat ke Auckland untuk dioperasi by-pass jantung ia datang berkunjung ke rumah saya pada hari Kamis tanggal 20 Juli 2000. Kami berbincang mengenai firman Tuhan selama + 2 jam, kemudian berdoa bersama.

Melalui pertemuan itu, saya dingatkan beberapa hal antar lain :
1. Bagaimanapun, pada akhirnya, ujung dari kehidupan ini adalah kematian. Masalahnya adalah apakah kita sudah mempersiapkan diri menghadapi kematian itu atau belum.
2. Tuhan Yesus berkata : "I am the way ....."

Berdasarkan ucapan ini, saya percaya Ia adalah jalan bagi saya untuk menuju kematian tubuh, memasuki kehidupan kekal dan sekaligus Ia pun adalah jalan bagi saya untuk menyelesaikan persoalan yang saya hadapi.

Iman saya dikuatkan, hati saya dipenuhi damai sejahtera dan dengan penyerahan penuh kepada Tuhan, keesokan harinya (21 Juli) saya berangkat ke Auckland. Tiba saatnya pada hari yang telah ditentukan Jum'at tanggal 25 Agustus 2000, saya dioperasi di RS. Greenlane - Auckland. Operasi tersebut diperkirakan akan tuntas dalam waktu 6 jam. Tetapi apa yang terjadi kemudian, tidaklah seperti perkiraan sebelumnya.

Berikut ini saya ceritakan apa yang saya alami dan informasi yang saya peroleh kemudian :
- Jum'at, 25 Agustus 2000
Saya mulai dioperasi pada sore hari, dan selanjutnya saya tidak sadarkan diri (koma).
- Selasa, 29 Agustus 2000
Saya merasa bahwa saya sudah mati. Saya melihat istri bagaikan siluet yang tidak dapat dipegang. Saya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Lalu saya berpikir : "Oh........ memang orang mati tidak bisa berhubungan dengan orang yang masih hidup".

Pada saat saya dalam keadaan koma, ternyata grafik monitor otak saya sudah hampir rata. Melalui Manager Rest Home tempat dimana istri saya bekerja, tim dokter melaporkan bahwa saya tidak mempunyai harapan untuk hidup dan sekiranya hidup, daya pemikiran saya sudah rusak dan tidak akan ingat apa-apa lagi. Selanjutnya Manager tersebut menanyakan dimana saya akan dimakamkan dan kapan anak-anak saya yang di Indonesia akan tiba di Auckland. Beberapa staff dari Rest Home tersebut mendatangi istri saya dan menyampaikan ucapan bela sungkawa atas kematian saya.

Dengan kenyataan bahwa saya tidak ada harapan hidup, tim dokter menyatakan akan mencabut alat stimulasi jantung. Istri saya kemudian meminta dengan sangat untuk diperpanjang 1 hari. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, akhirnya tim dokter mengabulkan permintaan istri saya. Sementara saya terbaring koma tanpa harapan hidup, istri saya bersama saudara-saudara seiman lain dan para sahabat berdoa buat saya.

- Rabu, 30 Agustus 2000
Menjelang dicabutnya alat stimulasi jantung yang terpasang pada tubuh saya, terjadi sesuatu kejutan karena pada monitor terlihat adanya aktivitas pada otak lagi. Saat itu memang saya sempat sadar sesaat, tetapi kemudian tak sadarkan diri lagi. Melihat adanya perubahan grafik pada monitor tersebut, kemudian tim dokter menangguhkan pencopotan alat stimulasi jantung tersebut.

Pada Grafik pada monitor otak saya menunjukkan kondisi yang semakin baik dan secara perlahan akhirnya saya sadarkan diri. Pada sore harinya saya sadar penuh dengan pemikiran yang baik, daya ingatan yang jernih seperti sebelum dioperasi . Praise the Lord!!

Melalui pengalaman saya yang luar biasa ini, tim dokter, Manager Rest Home dan beberapa staff yang sebelumnya menganggap bahwa agama dan doa itu hanya "rubbish" menyatakan dan percaya bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah "MIRACLE" yang bisa terjadi oleh kuasa DOA.

Demikian kesaksian saya, kiranya bisa menguatkan dan menambah iman saudara sekalian. Terima kasih dan syukur kepada Tuhan yang telah mengerjakan mujizat ini dalam hidup saya dan terima kasih kepada saudara serta sahabat yang telah mendoakan saya. Semua biarlah terjadi hanya untuk kemuliaan Tuhan saja.

Syalom,
Herman Tjahja

27 October 2009

Apa Yang Tuhan Kehendaki

Apakah anda ingin mendapatkan apa yang anda kehendaki, bila anda merindukannya?
Apakah anda berdoa dan menanti dengan segera suatu jawaban?
Dan bila tidak memperoleh suatu jawaban secara langsung,
Apakah anda merasa dilupakan oleh Tuhan?

+++

Nah, doa yang dilakukan dengan cara ini
Sebenarnya sama sekali bukan doa,
Karena anda tak dapat datang kepada Tuhan dengan tergesa-gesa
Dan kemudian berharap mendapat jawaban akan doa anda dengan segera

+++

Doa bukanlah dimaksudkan untuk memperoleh
Keinginan kita yang bersifat egois,
Karena Tuhan dalam kearifan-Nya menolak
Hal-hal yang kita inginkan secara salah

+++

Dan janganlah berdoa untuk bebas dari masalah
Atau berdoa agar kiranya pencobaan dalam hidup kita dapat kita lewati,
Sebaliknya berdoalah untuk mendapatkan kekuatan dan keberanian
Dalam menghadapi saat-saat yang tergelap dan tidak menangis…
Bila Tuhan tidak ada di sana, ketika anda memanggilNya,
Dan seakan-akan menutup telinga menghadapi doa anda
Dan justru saat anda benar-benar memerlukan-Nya
Ia seakan-akan meninggalkan anda dalam keputus asaan

+++

Sadarlah! Anda sama sekali tak mengerti akan
Alasan dan tujuan dari doa.
Yang benar adalah agar kita tetap bahagia bahwa
Tuhan senantiasa mendekap kita dengan aman

+++

Dan Tuhan hanya menjawab permohonan kita
Bila Ia tahu, bahwa apa yang kita inginkan adalah untuk memenuhi suatu kebutuhan,
Dan bila selalu kehendakku menjadi kehendakNya
Maka tidak ada doa yang Tuhan tidak pedulikan.

26 October 2009

Kehidupan Adalah Kisah Cinta

Matius 6:33 - "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 118; 1 Yohanes 2; Yehezkiel 42-43

Tahukah Anda bahwa diri Anda begitu penting bagi Allah? Dia membutuhkan Anda untuk menjadi alat kemuliaan-Nya di dunia ini yang semakin hari semakin hancur dengan keinginannya. Dunia yang sedang sekarat ini menantikan orang-orang yang bisa memberikan jawaban atas permasalahan mereka dan semuanya itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengenal Allah.

Seringkali kita terlalu memusingkan bagaimana menjadi seorang Kristen yang baik dihadapan orang lain. Padahal sebagai anak-anakNya, kehidupan bersama dengan Allah yang seharusnya menjadi prioritas setiap kita. Itu adalah kerinduan-Nya.

Dia ingin Anda tahu bahwa setiap hari ketika Anda berdoa kepada-Nya atau berjalan dalam iman saat sedang dalam kesulitan, itu semua bagi-Nya adalah suatu kehidupan penuh kisah cinta; kehidupan yang tidak akan dapat dirasakan ketika kita jauh dari-Nya.

Pada saat Anda bersekutu dengan Allah maka segala sesuatu yang Anda minta di dunia ini akan Anda dapatkan. Kesembuhan, kekuatan, sukacita, bahkan kekayaan akan Anda peroleh saat hati Allah terpaut kepada Anda dan begitu juga hati Anda kepada Alllah.

Jadikan Allah sebagai prioritas utama di dalam hidup Anda maka lihatlah hidup Anda tidak akan pernah sama lagi.

Sumber: God Calling; Penerbit Pionir Jaya

Jawaban.com

A Dream Cannot Be Sold

Jehdi and Hassan were two merchants who were very close friends. Jehdi was a cheerful person, almost frivolous, whereas Hassan was very serious, perhaps too cautious and careful. But an unbreakable bond of friendship tied them together and this made their journey for business happy, for they never had any dispute.

One time they started together toward the city of Touria. They arrived at the outskirts of a forest where the big trees, moist rocks and cool shade invited them to take a well-deserved rest. Within a minute Jehdi fell asleep. Hassan looked at his friend with a sigh and told himself, "He sleeps peacefully in nature, as if he were in his own house. I am afraid of someone robbing me. Even though the thief might get very little, I am too apprehensive and I prefer to be cautious. After all, one never knows what might happen".

Hassan was ruminating over his anxiety when suddenly he saw a wasp coming out of Jehdi's left nostril. Its enigmatic dance surprised him. It flew toward a single pine tree standing on a rock, circled the tree 3 times, and then returned to the sleeping Jehdi and disappeared into his right nostril.

Just at that moment Jehdi woke up, sat up laughing and said, "Hassan, you will never believe me. I just had a marvelous dream. Just imagine that there is big pine tree standing on a high rock, exactly like the one you see there. A wasp droned around the trunk and its wings buzzed as if to say, "You must dig in this place, you must dig in this place!" I started digging and I found a big pot full of gold coins. I have never in my life seen so much money...!"

"Yes, truly it is a strange dream," replied Hassan. "If I were in your place, I would have dug around the pine tree there."

"My poor friend, how na?ve you are. I would never take a dream seriously. It is so hot here, to dig would be torture! Please, let us continue our journey.."

But Hassan insisted, "Jehdi, a dream like this surely has a meaning. If you do not want to dig, I will try instead. Do you know what I propose to you? Sell your dream to me."

Jehdi began laughing loudly. "This is a good piece of business for me! How much will you pay?"

"You have said that there is a big pile of gold coins. I am your friend and I do not want to wrong you. You tell me how much you estimate to be the price of your dream."

After a brief discussion, they agreed to the sum of 300 coins.

"Never have I made such a business deal. So much money for a simple dream of no value. How gullible you are, Hassan!"

The 2 friends then went under the pine tree which the wasp had shown in the dream. Jehdi was amused to see Hassan perspiring profusely and breaking his back with the shovel. He continued on until the shovel made a dull sound as if it had struck something hard.

What a surprise for the 2 merchants when they uncovered an earthen pot full of gold coins! Before breaking it, Hassan noted an inscription near the handle: "the first of seven."

"The first of 7. That means there should be 6 more pots buried," Jehdi understood, starting to regret the deal he had concluded too quickly.

This time both of them dug with energy and, sure enough, they found the 6 pots, one after another, each one filled to the brim with gold coins. Hassan built a huge inn in the city and named it The Bulging Pot. He lived as a rich and satisfied man until his death. Jehdi often came to visit him and greeted his friend with the words, "Well, Hassan, how are you? I have come to see what has happened to my dream." And the 2 comrades patted each other on the back laughing. But every time Jehdi returned home sadder, for he knew that he could never buy back his dream.

25 October 2009

Train Switcher Interview

Joe arrived early to the train switching yard where trains are routed and set on different tracks.

Tom, the Train Switching Manager starts the interview and asks, “What would you do if two trains are on the same track coming towards each other?”

Joe answers, “I’ll go over and pull the switching lever and get one train on another track so they can pass safely.”

“Ok,” Tom says, “What would you do if the switch handle is broken off?”

Joe, “Well I would get the piece of steel over there by the shed and jamb it in the switch and use that as the lever.”

“Ok good!”

Tom asked again, “What would you do if the switch lever is broken?”

“Well, I would pick up the phone and call the main office and get them to switch it from there!”

“Ok, very good!”

Tom asked again, “What would you do if no one answers the phone? Well, then I would call my cousin Vinny at the fire department and tell him to get down here right away.”

Tom asking, “What good would that be?”

“Well, he’s never seen two trains collide.”

24 October 2009

Humor : Katakan Saja

Ada suatu malam seorang Gembala Sidang diundang oleh salah anggota jemaat untuk makan malam bersama dengan keluarganya.

Setelah selesai makan malam dan ketika makanan pencuci mulut (buah- buahan) sedang dihidangkan, tiba-tiba anak laki-laki dari keluarga tersebut yang baru berumur tujuh tahun terlihat hendak membisikkan sesuatu kepada ibunya.

"Nak, tidaklah sopan berbisik-bisik di depan tamu yang sedang menikmati makan malam, katakan saja, tidak perlu berbisik-bisik," kata ibunya.

Setelah mendapat ijin dari ibunya, anak laki-laki itu langsung berkata, "Mama..., Pak Pendeta makannya banyak ya..."

Sahabat Sejati

Ibrani 13:1 - “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Hari – hari ini Tuhan mengingatkan kepada saya mengenai persahabatan. Tuhan memberikan kata sahabat sejati. Kenapa sahabat sejati? Karena hari-hari ini persahabatan semakin memudar dan ada beberapa orang yang memanfaatkan persahabatan itu. Kita bisa mempelajari persahabatan sejati antara Daud dan Yonatan. Bila kita membaca 1 Samuel 18:1-5, kita akan melihat bahwa hubungan persahabatan antara Daud dan Yonatan itu begitu lekat sekali sehingga di Alkitab berkata berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud.

Kita tahu sekarang bahwa persahabatan saat ini mulai memudar, kasih manusia di hari-hari terakhir ini semakin dingin. Firman Tuhan sudah memberikan tanda bahwa di akhir jaman ini kasih manusia akan semakin dingin. Matius 24:12 berkata, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang semakin dingin.”

Bagaimana caranya untuk menjaga agar kasih kita terhadap saudara-saudara seiman kita tidak semakin pudar atau dingin. Marilah kita mempelajari ada 4 Nilai yang harus kita miliki dalam persahabatan ini :

1. Sehati (Matius 18 : 19 – 20)
Didalam Matius 18 : 19 – 20 ini mengatakan : “Dan lagi Aku berkata kepadamu : Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka.

Jumlah dalam persahabatan tidak hanya dua orang saja melainkan bisa lebih dari dua orang. Jika kita ingin persahabatan kita langgeng maka kita harus memenuhi syarat persahabatan. Syarat itu adalah kesehatian dan kesepakatan. Kesepakatan diambil dari kata sepakat, bahasa asli kata sepakat adalah sumphoneo. Sumphoneo mempunyai arti harmonis, bersamaan, kompak, setuju. Dari kata ini kita mendapatkan kata Simfoni, simfoni bisa kita dapatkan dalam paduan suara. Paduan suara yang simfoni akan menghasilkan suara yang indah. Simfoni yang indah dilantunkan oleh sebuah orkestra, tidak berasal dari alat musik dan suara yang seragam. Bila kita mendengarkan suara terompet yang melengking tinggi, sementara suara cello bergumam rendah sedangkan suara piano timbul tenggelam disela-sela iringan biola, namun mereka semua kompak melantunkan lagu dikunci yang sama.

Kesatuan atau Unity bukan berarti kita seragam atau uniform. Coba kita bayangkan bila semua pemain orkestra adalah pemain biola yang memainkan nada yang sama dan pada ketukan yang sama maka akan membosankan padahal bukan memainkan nada yang sama. Betapa membosankan bukan!

Saat ini saya ingin membagikan kesaksian hidup saya mengenai persahabatan; ketika saya kuliah di Salatiga, saya mempunyai teman sekaligus sahabat. Dia bernama Arman Harijanto, dia kuliah di Fakultas Ekonomi UKSW sedangkan saya kuliah di Fakultas Pertanian UKSW. Saya dan Arman bertemu di GBI Pondok Daud Salatiga, kami melayani disana bersama-sama. Arman melayani di Departemen Misi sedangkan saya melayani di Departemen Profetik. Arman adalah seorang yang mempunyai tipe karakter Sanguin Kolerik, sedangkan saya adalah seorang Melankolis Plegmatis. Saya adalah seorang yang tidak suka mencari masalah, pembawaan saya adalah tenang sedangkan Arman adalah seorang yang cepat, pemikir, pemimpin dan keras kepala. Dari perbedaan karakter ini kita bisa bersama-sama dan melayani Tuhan bersama. Kita bisa sehati dan mempunyai persahabatan yang melekat.

Saudara-saudara Tuhan sangat menyukai dengan kesehatian, bila Tuhan mendengarkan lagu-lagu merdu dari orkestra kesehatian maka Tuhan akan menyuruh para malaikat memenuhi tempat dimana ada kesehatian itu dengan berkat. Tempat bisa berarti rumah tangga kita, keluarga kita, komunitas kita dan kota kita (Mazmur 133:1-3).

Saat ini kita akan membahas bagaimana caranya untuk menjaga kesehatian kita dengan sahabat kita. Ada 3 cara untuk membuat kita sehati atau sepakat, yaitu :

• Secara Roh
Didalam persahabatan kita, yang membuat kita melekat dengan sahabat kita adalah dengan saling mendoakan. Tanpa saling mendoakan kita tidak akan pernah bisa sehati. Jika kita bertemu dengan saudara seiman atau sahabat kita kita harus saling mendoakan, mendoakan bukan hanya di rumah masing-masing.

Kesaksian saya mengenai persahabatan saya bisa sehati dengan Edy, kita saling medoakan baik itu di dalam doa pribadi kita dan kita juga menyediakan waktu untuk bertemu dan berdoa bersama. Ketika Edy mengalami masalah yang cukup berat, didalam hati saya ada sesuatu yang mengganjal dan berat rasanya, Tuhan memberikan arahan untuk saya berdoa bersama dengan Edy. Kemudian setelah berdoa Edy mulai cerita masalahnya dan masalah itu bisa selesai.

• Secara Jiwa
Untuk menyatukan jiwa kita adalah dengan kesaksian kita (sharring), usahakan ada kontak dengan saudara seiman baik itu melalui telepon, sms atau bertemu langsung.

Kesaksian : waktu saya kuliah saya mempunyai sahabat-sahabat yang melekat sekali dan kami sehati. Sahabat-sahabat saya adalah Arman, Budiono, Edy walaupun periode tahun yang berbeda, namun satu kesamaannya yaitu kita bisa melakukan pertemuan yang rutin untuk sharring. Kami tidak pernah bisa melupakan persahabatan kita. Melalui pertemuan sharring ini persahabatan kita semakin sehati dan melekat. Sharring membuat jiwa kita semakin berpadu.

• Secara Jasmani
Dalam persahabatan pastilah kita akan bertemu secara periodik dan didalam pertemuan itu kita bisa melakukan aktifitas seperti makan bersama, jalan–jalan, bermain bersama. Didalam pertemuan itu kita bisa ekspresikan kasih kita, ekspresi kasih bisa melalui kata-kata, sentuhan, perhatian. Jika sahabat kita merayakan sesuatu yang spesial, kita bisa memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian kita.

Kesaksian saya : ketika arman, budiono atau edy ulang tahun pastilah saya akan memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian saya demikian juga sebaliknya. Melalui pertemuan dan ekspresi kasih maka persahabatan kita semakin sehati.

2. Kasih (Amsal 17 : 17)
Persahabatan sejati tidak bisa terwujud jikalau dasarnya tidak ada kasih. Persahabatan yang ideal adalah dibangun diatas kasih yang memberi dan rela berkorban dan tidak mengharapkan balasan.

Yohanes 15:13 berkata : Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya. 1 Yohanes 3 : 16, Demikianlah kita mengetahui kasih Kristus yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita ; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Tuhan sudah mengajarkan kita bahwa dalam setiap hubungan persahabatan kita harus didasari oleh KASIH. Tuhan Yesus sudah memberikan teladan didalam kehidupannya.

Kasih bisa diwujudkan dalam persahabatan kita dengan cara saling memperhatikan, kita belajar untuk memperhatikan kebutuhan dari sahabat-sahabat kita. Memang benar kasih akan lebih terasa bila diungkapkan melalui tindakan tetapi pada saat tertentu perlu juga dikatakan, masalah kapan harus melakukannya diperlukan hikmat. Oleh sebab itu mintalah kepada Tuhan agar kasih yang kita sampaikan dapat dirasakan sebagai berkat dan sahabat kita tidak salah terima.

3. Saling Membagi
Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa hidup sendirian, kita membutuhkan sahabat – sahabat kita untuk melengkapi kehidupan kita. Langkah pertama dalam saling melengkapi adalah saling membagi hidup kita.

Saling membagi bukan hanya melingkupi hal materi saja melainkan kita bisa saling membagi suka maupun duka dengan sahabat-sahabat kita termasuk dengan membagi perasaan kita. Saling membagi bisa diartikan saling mengemukakan masalah yang dihadapi oleh kita kepada sahabat-sahabat kita sehingga kita bisa saling mendoakan dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah kita.

4. Setia (Amsal 18 : 24)
Kesetiaan adalah hal yang sangat penting dalam persahabatan. Kesetiaan perlu dijaga sehingga persahabatan kita tetap langgeng. Kalau kita melihat saat ini banyak orang sudah kehilangan akan kesetiaannya. Orang – orang banyak meninggalkan pasangannya, keluarganya, sahabatnya.

Persahabatan kita seringkali retak karena adanya masalah dan hilangnya kesetiaan dari sahabat – sahabat kita. Untuk menjaga kesetiaan kita harus mengambil contoh dari kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu setia kepada kita walaupun kita tidak setia terhadap Dia. (II Timotius 2 : 11 – 13) Kesetiaan berarti memberikan dukungan, semangat, kasih dengan tiada putus-putusnya. Kesetiaan kepada persahabatan adalah salah satu yang harus dipegang dalam hidup persahabatan kita. Kesetiaan kita bisa ambil dari salah satu buah roh.

Kesaksian persahabatan saya dengan Ko Jahja Soemitro, kita mulai dekat ketika kita bersama-sama dalam pelayanan ke Madura, saat itu kita satu kamar, sehingga kita bisa saling share dalam perjalanan pelayanan tersebut. Setelah pulang dari Madura, persahabatan kita tetap berlanjut. Ko Jahja saya anggap sebagai kakak saya, kami saling memperhatikan dari hal-hal yang terkecil, walaupun kita hanya bertemu di gereja, kita tetap menjaga hubungan melalui telepon. Koh Jahja bilang : “Van, walaupun kamu anak tunggal, kamu tidak egois, malahan kamu bisa membagikan kasihmu kepada saya dan orang-orang lain. Saya melihat kamu setia memperhatikan dan karakter kesetiaan ada padamu.”

Kesaksian yang kedua, saya mempunyai sahabat-sahabat seperti Arman dan Budiono. Kami bertiga merupakan orang yang dari latar belakang keluarga yang berbeda, karakter kami berbeda dan kami bisa saling memperhatikan. Sampai pada saat akhir kuliah dan mereka hendak pergi meninggalkan kota Salatiga, mereka memberikan peneguhan mengenai kesetiaan yang dilihat dan didapat dari kehidupan saya.

Secara manusia memang susah untuk hidup dalam kesetiaan, namun saya mau belajar untuk setia. Walaupun dalam persahabatan ada orang-orang yang mau memecah belah persahabatan kita. Yang harus kita pegang adalah kita harus tetap setia dan jangan pernah sakit hati.

Persahabatan yang dibangun hendaknya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rohani kita. Kita harus bisa jadi teladan bagi sahabat-sahabat kita dan saling menjaga.

Cirebon, 20 Oktober 2009

Oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Weekly Scripture – 1 Korintus 12:6

“Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” – 1 Korintus 12:6

23 October 2009

Mikroskop Atau Teleskop

I Korintus 13:7 - "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 36-37

Apakah Anda mengingat masa di waktu sekolah ketika pertama melihat menggunakan sebuah mikroskop? Benda-benda yang sangat kecil seperti mikroorganisme atau biji tanaman pasti akan Anda lihat besar ketika menggunakan benda tersebut.

Nah, mari bandingkan mikroskop dengan alat yang biasa manusia gunakan untuk melihat bintang atau benda-benda di angkasa, yakni teleskop. Sistem kerja benda ini sangat berbeda dengan mikroskop. Bila dengan mikroskop seseorang dapat melihat sesuatu yang sangat kecil terlihat besar, teleskop membuat sesuatu yang tampaknya jauh menjadi lebih dekat.

Apakah Anda menyadari bahwa setiap hari dalam kehidupan ini orang-orang sedang menggunakan kedua benda ini, yakni sebuah mikroskop dan sebuah teleskop, tergantung keadaan. Dan mungkin salah satu diantaranya adalah kita sendiri.

Kita dapat begitu cepat memakai sebuah mikroskop untuk melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, sedangkan di sisi lain ketika kita melakukan kesalahan, kita menggunakan sebuah teleskop yang menyebabkan kesalahan kita sepertinya begitu kecil.

Dalam Lukas 6:41-42, Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya dengan kata-kata seperti ini, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" dengan bahasa yang lebih sederhana, "Bagaimana seseorang bisa menasihati orang lain akan kesalahannya bila orang tersebut tidak bisa melihat kesalahan yang dalam dirinya sendiri?" jawabannya pastilah tidak bisa.

Oleh karena itu, Allah meminta kita menjadi orang seperti di Mikha 6:8, yakni "untuk bertindak adil dan mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Jika kita melihat ini secara serius, kita akan berhenti menggunakan mikroskop untuk memeriksa kehidupan orang lain dan malah memperluas rahmat serta kasih kepada mereka dengan melihat mereka melalui teleskop. Dengan teleskop, kita akan memandang orang lain dengan adil, penuh belas kasihan dan rendah hati seperti yang Yesus lakukan.

Jadi, apakah yang Anda pilih saat ini untuk melihat lingkungan sekitar, sebuah mikroskop ataukah sebuah teleskop?

Hati yang penuh dengan kasih adalah bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sejati.

Sumber: Saduran Artikel Devotional ‘Microscope or Telescope’ oleh Leah Adams

Jawaban.com