Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

24 October 2009

Humor : Katakan Saja

Ada suatu malam seorang Gembala Sidang diundang oleh salah anggota jemaat untuk makan malam bersama dengan keluarganya.

Setelah selesai makan malam dan ketika makanan pencuci mulut (buah- buahan) sedang dihidangkan, tiba-tiba anak laki-laki dari keluarga tersebut yang baru berumur tujuh tahun terlihat hendak membisikkan sesuatu kepada ibunya.

"Nak, tidaklah sopan berbisik-bisik di depan tamu yang sedang menikmati makan malam, katakan saja, tidak perlu berbisik-bisik," kata ibunya.

Setelah mendapat ijin dari ibunya, anak laki-laki itu langsung berkata, "Mama..., Pak Pendeta makannya banyak ya..."

Sahabat Sejati

Ibrani 13:1 - “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Hari – hari ini Tuhan mengingatkan kepada saya mengenai persahabatan. Tuhan memberikan kata sahabat sejati. Kenapa sahabat sejati? Karena hari-hari ini persahabatan semakin memudar dan ada beberapa orang yang memanfaatkan persahabatan itu. Kita bisa mempelajari persahabatan sejati antara Daud dan Yonatan. Bila kita membaca 1 Samuel 18:1-5, kita akan melihat bahwa hubungan persahabatan antara Daud dan Yonatan itu begitu lekat sekali sehingga di Alkitab berkata berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud.

Kita tahu sekarang bahwa persahabatan saat ini mulai memudar, kasih manusia di hari-hari terakhir ini semakin dingin. Firman Tuhan sudah memberikan tanda bahwa di akhir jaman ini kasih manusia akan semakin dingin. Matius 24:12 berkata, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang semakin dingin.”

Bagaimana caranya untuk menjaga agar kasih kita terhadap saudara-saudara seiman kita tidak semakin pudar atau dingin. Marilah kita mempelajari ada 4 Nilai yang harus kita miliki dalam persahabatan ini :

1. Sehati (Matius 18 : 19 – 20)
Didalam Matius 18 : 19 – 20 ini mengatakan : “Dan lagi Aku berkata kepadamu : Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka.

Jumlah dalam persahabatan tidak hanya dua orang saja melainkan bisa lebih dari dua orang. Jika kita ingin persahabatan kita langgeng maka kita harus memenuhi syarat persahabatan. Syarat itu adalah kesehatian dan kesepakatan. Kesepakatan diambil dari kata sepakat, bahasa asli kata sepakat adalah sumphoneo. Sumphoneo mempunyai arti harmonis, bersamaan, kompak, setuju. Dari kata ini kita mendapatkan kata Simfoni, simfoni bisa kita dapatkan dalam paduan suara. Paduan suara yang simfoni akan menghasilkan suara yang indah. Simfoni yang indah dilantunkan oleh sebuah orkestra, tidak berasal dari alat musik dan suara yang seragam. Bila kita mendengarkan suara terompet yang melengking tinggi, sementara suara cello bergumam rendah sedangkan suara piano timbul tenggelam disela-sela iringan biola, namun mereka semua kompak melantunkan lagu dikunci yang sama.

Kesatuan atau Unity bukan berarti kita seragam atau uniform. Coba kita bayangkan bila semua pemain orkestra adalah pemain biola yang memainkan nada yang sama dan pada ketukan yang sama maka akan membosankan padahal bukan memainkan nada yang sama. Betapa membosankan bukan!

Saat ini saya ingin membagikan kesaksian hidup saya mengenai persahabatan; ketika saya kuliah di Salatiga, saya mempunyai teman sekaligus sahabat. Dia bernama Arman Harijanto, dia kuliah di Fakultas Ekonomi UKSW sedangkan saya kuliah di Fakultas Pertanian UKSW. Saya dan Arman bertemu di GBI Pondok Daud Salatiga, kami melayani disana bersama-sama. Arman melayani di Departemen Misi sedangkan saya melayani di Departemen Profetik. Arman adalah seorang yang mempunyai tipe karakter Sanguin Kolerik, sedangkan saya adalah seorang Melankolis Plegmatis. Saya adalah seorang yang tidak suka mencari masalah, pembawaan saya adalah tenang sedangkan Arman adalah seorang yang cepat, pemikir, pemimpin dan keras kepala. Dari perbedaan karakter ini kita bisa bersama-sama dan melayani Tuhan bersama. Kita bisa sehati dan mempunyai persahabatan yang melekat.

Saudara-saudara Tuhan sangat menyukai dengan kesehatian, bila Tuhan mendengarkan lagu-lagu merdu dari orkestra kesehatian maka Tuhan akan menyuruh para malaikat memenuhi tempat dimana ada kesehatian itu dengan berkat. Tempat bisa berarti rumah tangga kita, keluarga kita, komunitas kita dan kota kita (Mazmur 133:1-3).

Saat ini kita akan membahas bagaimana caranya untuk menjaga kesehatian kita dengan sahabat kita. Ada 3 cara untuk membuat kita sehati atau sepakat, yaitu :

• Secara Roh
Didalam persahabatan kita, yang membuat kita melekat dengan sahabat kita adalah dengan saling mendoakan. Tanpa saling mendoakan kita tidak akan pernah bisa sehati. Jika kita bertemu dengan saudara seiman atau sahabat kita kita harus saling mendoakan, mendoakan bukan hanya di rumah masing-masing.

Kesaksian saya mengenai persahabatan saya bisa sehati dengan Edy, kita saling medoakan baik itu di dalam doa pribadi kita dan kita juga menyediakan waktu untuk bertemu dan berdoa bersama. Ketika Edy mengalami masalah yang cukup berat, didalam hati saya ada sesuatu yang mengganjal dan berat rasanya, Tuhan memberikan arahan untuk saya berdoa bersama dengan Edy. Kemudian setelah berdoa Edy mulai cerita masalahnya dan masalah itu bisa selesai.

• Secara Jiwa
Untuk menyatukan jiwa kita adalah dengan kesaksian kita (sharring), usahakan ada kontak dengan saudara seiman baik itu melalui telepon, sms atau bertemu langsung.

Kesaksian : waktu saya kuliah saya mempunyai sahabat-sahabat yang melekat sekali dan kami sehati. Sahabat-sahabat saya adalah Arman, Budiono, Edy walaupun periode tahun yang berbeda, namun satu kesamaannya yaitu kita bisa melakukan pertemuan yang rutin untuk sharring. Kami tidak pernah bisa melupakan persahabatan kita. Melalui pertemuan sharring ini persahabatan kita semakin sehati dan melekat. Sharring membuat jiwa kita semakin berpadu.

• Secara Jasmani
Dalam persahabatan pastilah kita akan bertemu secara periodik dan didalam pertemuan itu kita bisa melakukan aktifitas seperti makan bersama, jalan–jalan, bermain bersama. Didalam pertemuan itu kita bisa ekspresikan kasih kita, ekspresi kasih bisa melalui kata-kata, sentuhan, perhatian. Jika sahabat kita merayakan sesuatu yang spesial, kita bisa memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian kita.

Kesaksian saya : ketika arman, budiono atau edy ulang tahun pastilah saya akan memberikan kejutan kecil sebagai bentuk perhatian saya demikian juga sebaliknya. Melalui pertemuan dan ekspresi kasih maka persahabatan kita semakin sehati.

2. Kasih (Amsal 17 : 17)
Persahabatan sejati tidak bisa terwujud jikalau dasarnya tidak ada kasih. Persahabatan yang ideal adalah dibangun diatas kasih yang memberi dan rela berkorban dan tidak mengharapkan balasan.

Yohanes 15:13 berkata : Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya. 1 Yohanes 3 : 16, Demikianlah kita mengetahui kasih Kristus yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita ; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Tuhan sudah mengajarkan kita bahwa dalam setiap hubungan persahabatan kita harus didasari oleh KASIH. Tuhan Yesus sudah memberikan teladan didalam kehidupannya.

Kasih bisa diwujudkan dalam persahabatan kita dengan cara saling memperhatikan, kita belajar untuk memperhatikan kebutuhan dari sahabat-sahabat kita. Memang benar kasih akan lebih terasa bila diungkapkan melalui tindakan tetapi pada saat tertentu perlu juga dikatakan, masalah kapan harus melakukannya diperlukan hikmat. Oleh sebab itu mintalah kepada Tuhan agar kasih yang kita sampaikan dapat dirasakan sebagai berkat dan sahabat kita tidak salah terima.

3. Saling Membagi
Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa hidup sendirian, kita membutuhkan sahabat – sahabat kita untuk melengkapi kehidupan kita. Langkah pertama dalam saling melengkapi adalah saling membagi hidup kita.

Saling membagi bukan hanya melingkupi hal materi saja melainkan kita bisa saling membagi suka maupun duka dengan sahabat-sahabat kita termasuk dengan membagi perasaan kita. Saling membagi bisa diartikan saling mengemukakan masalah yang dihadapi oleh kita kepada sahabat-sahabat kita sehingga kita bisa saling mendoakan dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah kita.

4. Setia (Amsal 18 : 24)
Kesetiaan adalah hal yang sangat penting dalam persahabatan. Kesetiaan perlu dijaga sehingga persahabatan kita tetap langgeng. Kalau kita melihat saat ini banyak orang sudah kehilangan akan kesetiaannya. Orang – orang banyak meninggalkan pasangannya, keluarganya, sahabatnya.

Persahabatan kita seringkali retak karena adanya masalah dan hilangnya kesetiaan dari sahabat – sahabat kita. Untuk menjaga kesetiaan kita harus mengambil contoh dari kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu setia kepada kita walaupun kita tidak setia terhadap Dia. (II Timotius 2 : 11 – 13) Kesetiaan berarti memberikan dukungan, semangat, kasih dengan tiada putus-putusnya. Kesetiaan kepada persahabatan adalah salah satu yang harus dipegang dalam hidup persahabatan kita. Kesetiaan kita bisa ambil dari salah satu buah roh.

Kesaksian persahabatan saya dengan Ko Jahja Soemitro, kita mulai dekat ketika kita bersama-sama dalam pelayanan ke Madura, saat itu kita satu kamar, sehingga kita bisa saling share dalam perjalanan pelayanan tersebut. Setelah pulang dari Madura, persahabatan kita tetap berlanjut. Ko Jahja saya anggap sebagai kakak saya, kami saling memperhatikan dari hal-hal yang terkecil, walaupun kita hanya bertemu di gereja, kita tetap menjaga hubungan melalui telepon. Koh Jahja bilang : “Van, walaupun kamu anak tunggal, kamu tidak egois, malahan kamu bisa membagikan kasihmu kepada saya dan orang-orang lain. Saya melihat kamu setia memperhatikan dan karakter kesetiaan ada padamu.”

Kesaksian yang kedua, saya mempunyai sahabat-sahabat seperti Arman dan Budiono. Kami bertiga merupakan orang yang dari latar belakang keluarga yang berbeda, karakter kami berbeda dan kami bisa saling memperhatikan. Sampai pada saat akhir kuliah dan mereka hendak pergi meninggalkan kota Salatiga, mereka memberikan peneguhan mengenai kesetiaan yang dilihat dan didapat dari kehidupan saya.

Secara manusia memang susah untuk hidup dalam kesetiaan, namun saya mau belajar untuk setia. Walaupun dalam persahabatan ada orang-orang yang mau memecah belah persahabatan kita. Yang harus kita pegang adalah kita harus tetap setia dan jangan pernah sakit hati.

Persahabatan yang dibangun hendaknya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rohani kita. Kita harus bisa jadi teladan bagi sahabat-sahabat kita dan saling menjaga.

Cirebon, 20 Oktober 2009

Oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Weekly Scripture – 1 Korintus 12:6

“Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” – 1 Korintus 12:6

23 October 2009

Mikroskop Atau Teleskop

I Korintus 13:7 - "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 36-37

Apakah Anda mengingat masa di waktu sekolah ketika pertama melihat menggunakan sebuah mikroskop? Benda-benda yang sangat kecil seperti mikroorganisme atau biji tanaman pasti akan Anda lihat besar ketika menggunakan benda tersebut.

Nah, mari bandingkan mikroskop dengan alat yang biasa manusia gunakan untuk melihat bintang atau benda-benda di angkasa, yakni teleskop. Sistem kerja benda ini sangat berbeda dengan mikroskop. Bila dengan mikroskop seseorang dapat melihat sesuatu yang sangat kecil terlihat besar, teleskop membuat sesuatu yang tampaknya jauh menjadi lebih dekat.

Apakah Anda menyadari bahwa setiap hari dalam kehidupan ini orang-orang sedang menggunakan kedua benda ini, yakni sebuah mikroskop dan sebuah teleskop, tergantung keadaan. Dan mungkin salah satu diantaranya adalah kita sendiri.

Kita dapat begitu cepat memakai sebuah mikroskop untuk melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, sedangkan di sisi lain ketika kita melakukan kesalahan, kita menggunakan sebuah teleskop yang menyebabkan kesalahan kita sepertinya begitu kecil.

Dalam Lukas 6:41-42, Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya dengan kata-kata seperti ini, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" dengan bahasa yang lebih sederhana, "Bagaimana seseorang bisa menasihati orang lain akan kesalahannya bila orang tersebut tidak bisa melihat kesalahan yang dalam dirinya sendiri?" jawabannya pastilah tidak bisa.

Oleh karena itu, Allah meminta kita menjadi orang seperti di Mikha 6:8, yakni "untuk bertindak adil dan mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Jika kita melihat ini secara serius, kita akan berhenti menggunakan mikroskop untuk memeriksa kehidupan orang lain dan malah memperluas rahmat serta kasih kepada mereka dengan melihat mereka melalui teleskop. Dengan teleskop, kita akan memandang orang lain dengan adil, penuh belas kasihan dan rendah hati seperti yang Yesus lakukan.

Jadi, apakah yang Anda pilih saat ini untuk melihat lingkungan sekitar, sebuah mikroskop ataukah sebuah teleskop?

Hati yang penuh dengan kasih adalah bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sejati.

Sumber: Saduran Artikel Devotional ‘Microscope or Telescope’ oleh Leah Adams

Jawaban.com

A Piece of My Heart

One day a young man was standing in the middle of the town proclaiming that he had the mostbeautiful heart in the whole valley. A large crowd gathered and they all admired his heart for it wasperfect. There was not a mark or a flaw in it. Yes, they all agreed it truly was the most beautiful heart they had ever seen. The young man was very proud and boasted more loudly about hisbeautiful heart.

Suddenly, an old man appeared at the front of the crowd and said "Why, your heart is not nearly as beautiful as mine." The crowd and the young man looked at the old man's heart. It was beating strongly, but it was full of scars. It had places where pieces had been removed and other pieces put in, but they didn't fit quite right and there were several jagged edges. In fact, in some places there were deep gouges where whole pieces were missing. The people stared -- how can he say his heart is more beautiful, they thought? The young manlooked at the old man's heart and saw its state and laughed.

"You must be joking," he said.

"Compare your heart with mine. Mine is perfect and yours is a mess of scars and tears."

"Yes," said the old man, "yours is perfect looking but I would never trade with you. You see, every scar represents a person to whom I have given my love - I tear out a piece of my heart and give it to them, and often they give me a piece of their heart which fits into the empty place in my heart, but because the pieces aren't exact, I have some rough edges, which I cherish, because they remind me of the love we shared."

"Sometimes I have given pieces of my heart away, and the other person hasn't returned a piece of his heart to me. These are the empty gouges -- giving love, is taking a chance. Although these gouges are painful, they stay open, reminding me of the love I have for these people too, and I hope someday they may return and fill the space I have waiting. So now do you see what true beauty is?"

The young man stood silently with tears running down his cheeks. He walked up to the old man, reached into his perfect young and beautiful heart and ripped a piece out. He offered it to the old man with trembling hands. The old man took his offering, placed it in his heart and then took a piece from his old scarred heart and placed it in the wound in the young man's heart. It fit, but not perfectly, as there were some jagged edges. The young man looked at his heart, not perfectanymore but more beautiful than ever, since love from the old man's heart flowed into his.

22 October 2009

Artikel Untuk Natal

Shalom,

Bulan Desember tak terasa sudah hampir tiba, dan perayaan Natal pun semakin dekat. Banyak acara-acara di televisi yang menayangkan acara-acara seputar Natal dan event-event off air lainnya.

Untuk menyambut datangnya Natal di bulan Desember nanti yang sudah semakin dekat. Rumahrenungan.com ingin menampilkan selama bulan Desember artikel-artikel yang berbau Natal, jadi siapa saja yang mempunyai cerita, artikel, tips, kesaksian, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Natal dan ingin menampilkan di Rumahrenungan.com, kami membuka kesempatan itu mulai dari hari ini, dan kirim ke samuel@rumahrenungan.com, karena kami butuh banyak artikel Natal untuk di tampilkan selama bulan Desember nanti. Setiap cerita yang masuk akan kami proses terlebih dahulu dan kemudian akan kami tampilkan. Jika artikel tersebut mempunyai sumber, cantumkan juga sumbernya.

Kami tunggu kiriman artikel dari Anda semua. Terima kasih

Tuhan Yesus Memberkati…

Samuel MS
+ Moderator +

The Secret Of Happiness

The old man shuffled slowly into the restaurant. With head tilted, and shoulders bent forward, he leaned on his trusty cane with each unhurried step.

His tattered cloth jacket, patched trousers, worn out shoes, and warm personality made him stand out from the usual Saturday morning breakfast crowd. Unforgettable were his pale blue eyes that sparkled like diamonds, large rosy cheeks, and thin lips held in a tight, steady smile.

He stopped, turned with his whole body, and winked at a little girl seated by the door. She flashed a big grin right back at him. A young waitress named Mary watched him shuffle toward a table by the window.

Mary ran over to him, and said, "Here, Sir. Let me give you a hand with that chair."

Without saying a word, he smiled and nodded a thank you. She pulled the chair away from the table. Steadying him with one arm, she helped him move in front of the chair, and get comfortably seated. Then she scooted the table up close to him, and leaned his cane against the table where he could reach it.

In a soft, clear voice he said, "Thank you, Miss. And bless you for your kind gestures."

"You're welcome, Sir." She replied.

"And my name is Mary. I'll be back in a moment, and if you need anything at all in the mean time, just wave at me!"

After he had finished a hearty meal of pancakes, bacon, and hot lemon tea, Mary brought him the change from his ticket. He left it lay. She helped him up from his chair, and out from behind the table. She handed him his cane, and walked with him to the front door.

Holding the door open for him, she said, "Come back and see us, Sir!"

He turned with his whole body, winked a smile, and nodded a thank you. "You are very kind." he said softly.

When Mary went to clean his table, she almost fainted. Under his plate she found a business card and a note scribbled on a napkin. Under the napkin was a one hundred dollar bill.

The note on the napkin read...

"Dear Mary, I respect you very much, and you respect yourself too. It shows by the way you treat others. You have found the secret of happiness. Your kind gestures will shine through those who meet you."

The man she had waited on was the owner of the restaurat where she worked. This was the first time that she, or any of his employees had ever seen him in person. (Steve Brunkhorst)

Mencoba, Apa Salahnya?

Markus 5:34 - "Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 114; 2 Petrus 1; Yehezkiel 33-35

Suatu ketika seorang guru berkata kepada muridnya seperti ini, "Ayo kerjakan. Jangan takut gagal bila belum mencobanya." Tidak tahu apakah perkataan itu benar-benar dari hatinya, tetapi kata-kata tersebut berhasil membuat muridnya untuk mengerjakan soal mata pelajaran yang ia berikan walaupun hasilnya masih salah.

Sang guru tidak mempersoalkan hasil yang didapat oleh anak didiknya benar atau salah. Baginya keinginan untuk berusaha memecahkan soal yang ia berikan adalah sebuah langkah yang tepat daripada mendengar muridnya tersebut berkata, "saya tidak bisa pak". Demikian juga sebenarnya yang Allah inginkan dalam kehidupan kita.

Seringkali kita pasrah dengan keadaan yang menyesakkan kehidupan kita. Tanpa melakukan apapun, kita sudah berkata kepada Tuhan "saya sudah tidak sanggup" atau "masalah ini begitu berat, pasti saya tidak bisa keluar dari hal ini". Semua pikiran dan kata-kata negatif keluar hingga diri kita dikuasai dan akhirnya kita pun kalah.

Rancangan-Nya bagi setiap kita adalah menjadi pemenang dan itu tidaklah berubah sampai sekarang ini dan karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah buktinya. Namun, semuanya ini tidak akan terjadi dalam kehidupan kita bila kita tidak mengambil langkah untuk mempercayai firman Tuhan.

Gunakan iman Anda dan mulai berjalanlah selangkah demi selangkah dalam janji perkataan-Nya. Ketika Anda melakukan hal itu, kemenangan yang sudah Tuhan janjikan tersebut akan Anda raih.

Ketakutan adalah cara termudah yang iblis pakai untuk membuat Anda tidak berjalan dalam rancangan indah Tuhan.

Jawaban.com

21 October 2009

Second Album “Harmony” from The Priests

Second album “Harmony” from The Priests. Enjoy the sneak peak : Amazing Grace or please visit The Priests for further informations.

Inspiring For A Better Tomorrow

Biarkan Mimpi Anda Tetap Hidup

Efesus 3:20-21 - "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 113; 1 Petrus 5; Yehezkiel 31-32

Ada seorang yang pernah berkata kepada saya, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini awalnya dari mimpi. Entah dia mengambil perkataan dari orang lain atau tidak, tetapi kata-kata ini sungguh-sungguh membuat saya berpikir, "apakah mimpi memang mempunyai kekuatan sehebat itu?"

Awalnya, saya kurang percaya dengan mimpi karena bagi saya yang memiliki prinsip ‘hidup itu seperti air mengalir', mimpi adalah sebuah lelucon yang Tuhan berikan agar menyenangkan manusia. Saya yakin bahwa tanpa mimpi manusia dapat sukses dan bahagia. Tetapi, itu dulu sebelum saya mengenal Tuhan.

Pertobatan saya membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan yang saya jalani. Saya mulai memiliki mimpi seperti apa ke depan saya nanti. Saya mendoakan mimpi-mimpi saya itu dan satu persatu mimpi tersebut mulai digenapi. Dan sejujurnya saya pun kaget melihat itu terjadi.

Saya percaya itulah luar biasanya Allah. Dia memberikan harapan kepada manusia dari sebuah mimpi. Walaupun tidak semua mimpi itu terwujud, tetapi Dia memberikan sebuah gambaran bahwa hari esok itu luar biasa bagi kehidupan kita.

Mungkin diantara Anda ada yang saat ini memiliki kenangan buruk dengan yang namanya ‘mimpi' karena melihat bahwa tidak ada satu pun dari mimpi-mimpi Anda itu yang digenapi, namun janganlah menguburnya. Biarkan mimpi-mimpi itu terus ada dan hidup dalam kehidupan Anda dan taruhkan itu ke dalam tangan Tuhan. Percayalah, akan segera tiba waktunya penggenapan hal-hal itu dalam kehidupan Anda jika Anda tetap setia berjalan dalam rancangan-Nya.

Memiliki impian bukanlah kesalahan, tetapi sebuah anugerah dari Tuhan kepada setiap manusia.

Jawaban.com