Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

14 August 2009

Tetaplah Berlatih, Tetaplah Berlari

Ibrani 12:1-2 : "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 45; 2 Timotius 3; Yesaya 43-44

Kita tidak dapat memimpin siapa pun lebih jauh dibanding yang telah kita lalui sendiri. Terlalu sering kita khawatir tentang hasilnya sehingga kita mencoba jalan pintas atas protes tersebut. Tidak ada jalan pintas jika integritas terlibat. Akhirnya kebenaran akan selalu tersingkap.

Suatu waktu, ada seorang konsultan yang sedang mengikuti wawancara tentang quality control. Konsultan ini begitu percaya diri dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Pada satu pertanyaan terakhir yang diberikan pewawancara kepadanya ia ditanyakan mengenai pengalamannya di dalam bidang quality control. Berikut jawaban yang diberikan oleh konsultan, "Dalam quality control, kita tidak peduli tentang produknya. Kita peduli tentang prosesnya. Jika prosesnya benar, produknya dijamin." Hal yang sama berlaku di dalam integritas; integritas menjamin kepercayaan.

Pada bidang olahraga dikenal prinsip "Bermainlah seperti kamu berlatih". Prinsip ini sangat penting untuk diketahui dan juga dijalankan oleh para pemimpin. Mengapa? Karena ini berbicara tentang dirinya (si pemimpin) dan kepercayaan yang akan ia terima dari orang lain.

Saat Anda ingin mempertahankan kepercayaan dari orang lain dengan disertai integritas maka kepercayaan itu akan tetap Anda terima. Tetapi, bila Anda mempertahankan hal itu tanpa integritas maka dengan cepat kepercayaan itu akan hilang.

Hasil luar biasa selalu datang dari persiapan yang luar biasa juga!!

Jawaban.com

Semut & Belalang

Seorang ibu dari seorang anak berumur 9 tahun, Mark, menerima telepon siang hari itu. Telepon dari guru sekolah anak laki-lakinya. "Ny. Smith, sesuatu yang tidak biasa terjadi hari ini di kelas anakmu. Anak laki-lakimu mengerjakan sesuatu yang sangat mengejutkan, jadi saya berpikir, anda seharusnya segera tahu tentang hal ini."

Sang ibu gelisah dan gugup ketika menerima telepon. "Apa yang terjadi?", sang Ibu bertanya-tanya.

Guru itu meneruskan, "Saya telah mengajar selama bertahun-tahun dan belum pernah terjadi sesuatu seperti ini hingga sekarang. Pagi ini saya mengajar pelajaran 'Menulis Kreatif'. Seperti biasanya, saya bercerita tentang Semut dan Belalang. Semut bekerja keras selama musim panas dan mengumpulkan banyak persediaan makanan. Tetapi belalang bermain selama musim panas dan tidak bekerja. Kemudian musim dingin datang. Belalang mulai kelaparan karena tidak memiliki makanan. Jadi dia melompat ke rumah semut dan mulai mengemis. 'Semut, tolonglah saya, kamu memiliki banyak makanan, berilah saya makanan.' Nah anak-anak, tugas kalian adalah menulis akhir cerita tersebut."

Anak laki-lakimu, Mark, mengangkat tangan. "Guru, bolehkan saya menggambar?"

"Tentu saja, Mark, kalau kamu suka, kamu boleh menggambar. Tetapi pertama-tama kamu harus menulis akhir cerita itu dulu."

Kertas-kertas dikumpulkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan murid menulis bahwa Semut membagi makanannya selama musim dingin dan baik semut maupun Belalang bertahan hidup. Seperti biasanya, beberapa anak menulis, Semut itu berkata, "Tidak, Belalang. Kamu seharusnya bekerja selama musim panas dan tidak bermain-main. Sekarang, saya hanya memiliki cukup makanan untuk diri saya sendiri." Jadi Semut itu hidup dan belalang meninggal.

Tetapi anak laki-lakimu mengakhiri cerita dengan cara yang sangat berbeda. Dia menulis, "Jadi Semut itu memberikan semua dari makanannya kepada Belalang; Belalang melalui musim dingin itu dan hidup. Tetapi sang Semut meninggal."

Di dasar halaman, Mark menggambar tiga salib. "DIA memberikan segalanya untuk kita supaya kita beroleh hidup"

13 August 2009

Cara Mengatasi Kritik

Amsal 15:5 : "Orang Bodoh menolak didikan Ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 44; 2 Timotius 2; Yesaya 41-42

Dalam wawancara di satu stasiun televisi di Amerika Serikat, Dr. Robert A. Cook yang adalah rektor King's College di New York, menceritakan pengalamannya pada tahun awal-awal pelayanannya. Saat itu ia banyak sekali menerima kritik baik itu dari para sesama rekan sejawatnya, juga dari beberapa hamba Tuan bahkan dari orang-orang awam sekalipun. Dan oleh karena itu ia kemudian meminta nasihat dari seorang pendeta yang juga temannya, yaitu Harry A. Ironside.

Dr.Cook menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Pendeta Ironside, dan bertanya apa yang harus ia perbuat menghadapi berbagai kritik tajam yang menyerang dirinya. Pendeta Ironside memberi tanggapan yang sederhana namun berbobot, "Bob, kalau sekiranya kritik yang disampaikan kepadamu itu benar, terimalah dengan lapang dada!Tetapi kalu itu tidak benar, lupakanlah!"

Anda mungkin tidak dapat menghindar dari ejekan-ejekan menyakitkan yang meluncur dengan cepat dari orang-orang yang tidak senang kepada Anda. Namun, ketika serangan melalui kata-kata tesebut dilontarkan kepada Anda, adalah sesuatu yang baik untuk menganalisanya. Jika itu benar, ambillah langkah-langkah untuk memperbaiki situasi. Namun, jika hal itu tidak lah benar, yang perlu Anda lakukan adalah melupakannya.

Raja Daud semasa hidupnya juga mengalami kritikan dari orang lain dan ia adalah salah satu contoh baik dalam mengatasi kritik terhadapnya. Ketika ia berperang dengan Goliat, banyak kritikan tajam yang intinya meragukan kemampuan yang ia miliki. Tetapi, satu hal baik yang ia lakukan ketika itu, yakni ia melupakan kritikan yang tidak benar tersebut dan dalam akhir kisah ia menjadi pemenangnya.

Apakah saat ini Anda sedang menghadapi kritik? Atau tuduhan? Jikalau yang dikatakan orang tersebut benar, lakukan perbaikan dengan segera. Akan tetapi, bila itu hanyalah sebuah tuduhan-tuduhan tidak berdasar, janganlah mengingat-ingatnya. Itulah cara mengatasi kritik yang paling sederhana sekaligus juga yang paling ampuh.

Jangan takut akan kritik jika Anda benar, jangan sepelekan kritik jika Anda salah

Jawaban.com

Apakah Tuhan Masih Berbicara Kepada Kita?

Seorang anak muda pergi ke sebuah tempat Pemahaman Alkitab (PA) yang diadakan pada setiap hari Rabu.  Di sana sang Pendeta membawakan tema mengenai mendengarkan Tuhan dan mentaati perintah-Nya.  Si anak muda, sambil menyimak kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya “Apakah Tuhan masih berbicara kepada kita?”.

Setelah kelas PA selesai, dia pergi bersama dengan beberapa temannya ke sebuah kedai kopi untuk mendiskusikan kata-kata Pendeta tadi sambil makan kue dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing.  Hal yang hampir sering mereka lakukan setelah PA selesai.  Mereka saling memberikan kesaksian bahwa Tuhan telah memimpin hidup mereka dengan cara yang berbeda-beda.

Setelah hampir jam 10 malam, mereka keluar dari kedai tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing. Sang anak muda pun mengendarai mobilnya pulang.  Di dalam mobil dia berdoa, “Tuhan, kalau Engkau masih suka berbicara kepada kami, berbicaralah kepadaku, aku akan mendengar, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk mentaatinya”.

Selama perjalanan pulang, dia mendadak mempunyai ide yang aneh untuk membeli satu galon susu.  Dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Tuhan, Engkaukah itu?". 

Tetapi dia tidak mendengar jawaban apapun dan dia tetap berjalan pulang.  Akan tetapi keinginan untuk membeli satu galon susu tersebut terus ada di kepalanya.  Kemudian si anak muda ini berpikir mengenai Samuel yang tidak mengenali suara Tuhan and bagaimana Samuel berlari ketakutan menghampiri Eli. 

"Baik Tuhan, kalau ini Engkau, aku akan membeli susu tersebut", pikirnya ini bukan merupakan hal yang sulit untuk suatu tes ketaatan and susu ini masih bisa dipakai untuk hal lain.  Dia kemudian berhenti, membeli satu galon susu dan kembali menyetir menuju rumah.

Pada saat melewati sebuah perempatan yang menuju ke Seventh Street, dia merasa bahwa dia harus berbelok ke jalan tersebut.  "Tidak mungkin" pikirnya dan dia terus menyetir melewati perempatan tersebut.  Akan tetapi, kembali pikiran itu ada di kepalanya dan dia merasa bahwa dia harus berputar arah untuk kembali ke Seventh Street.  Akhirnya pada perempatan berikutnya, dia memutar mobilnya dan menuju Seventh Street. 

Setengah bercanda dia berteriak "Baik Tuhan, aku taat".  Dia berjalan beberapa saat sebelum dia merasa bahwa dia harus berhenti.  Dia berhenti dan memperhatikan sekelilingnya.  Dia berada di suatu daerah pertokoan yang agak lumayan, tidak kumuh tapi juga bukan daerah yang mahal.  Sudah tidak ada kegiatan sama sekali dan semua rumah di sana sudah gelap yang sepertinya semua orang sudah berada di tempat tidur.            

Kembali dia merasakan sesuatu di dalam hatinya "Pergi dan berikan susu ini ke rumah yang ada di seberang jalan". 

Si anak muda melihat ke rumah tersebut.  Rumah tersebut sudah gelap dan tampaknya si pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur.  Dia kembali duduk di mobilnya dan berkata "Tuhan, ini kelewatan, orang di dalam rumah tersebut sedang tidur dan kalau aku membangunkan mereka, mereka pasti marah dan aku akan terlihat seperti orang bodoh".                                        

Akan tetapi kembali dia merasa bahwa dia harus memberikan susu ini.  Akhirnya dia membuka pintu mobilnya "Baik Tuhan, apabila ini Engkau, aku akan pergi ke rumah itu dan memberikan susu ini kepada mereka.  Apabila Engkau memang ingin melihat aku seperti orang bodoh, tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang yang taat.  Pasti hal ini akan ada manfaatnya, akan tetapi jika aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, aku akan pergi dari sini".

Dia membuka pintu mobilnya dan menekan bel di depan pintu.  Dia mendengar ada ribut-ribut di dalam rumah dan ada teriakan laki-laki "Siapa di situ? Apa maumu?". 

Kemudian pintu terbuka sebelum si anak muda tersebut dapat pergi menghindar.  Lelaki tersebut berdiri dengan celana jeans dan kaos oblong, sepertinya dia baru bangun dari tempat tidur.  Dia tampak tidak senang melihat orang asing di depan pintu rumahnya.  Si anak muda memberikan susu tersebut "Ini saya membawa susu". 

Laki-laki tersebut segera mengambil susu tersebut dan sambil membawa susu tersebut ke dalam rumah dia berteriak dalam bahasa Spanyol.  Kemudian seorang wanita menghampiri dan membawa susu tersebut ke dapur.  Laki-laki tersebut mengikutinya sambil menggendong seorang bayi.  Bayi tersebut sedang menangis.  Air mata mengalir di muka lelaki tersebut.  Lelaki tersebut berkata sambil setengah menangis "Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan dan kami sudah tidak punya uang lagi bahkan tidak ada uang untuk membeli susu untuk bayi kami.  Kami meminta Tuhan untuk menunjukkan bagaimana caranya kami dapat mendapatkan susu untuk bayi kami". 

Istrinya kemudian berteriak "Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat dengan membawa ........, hei apakah kamu seorang malaikat?"

Anak muda tersebut kemudian mengambil dompetnya dan memberikan semua uangnya ke tangan lelaki tersebut.  Dia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dan air matanya mengalir membasahi pipinya.  Dia yakin sekarang kalau Tuhan masih menjawab doa.

12 August 2009

Jangan Mengabaikan Berkat

II Korintus 4:17 : "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 43; 2 Timotius 1; Yesaya 39-40

Suatu hari saya pernah mengalami suatu masalah yang menurut saya berat. Ketika berada dalam situasi tersebut, iman saya goyah dan mulai mempertanyakan Tuhan di dalam hidup saya. Seingat saya, tidak pernah ada kata-kata berkat yang keluar dari mulut saya ketika itu.

Fokus saya terhadap masalah yang sedang dihadapi membiaskan kasih karunia yang sebenarnya telah Dia berikan dalam kehidupan saya. Begitu halnya yang mungkin saat ini sedang terjadi dalam hidup Anda. Anda tidak dapat melihat segala hal yang baik dari peristiwa yang menurut Anda ‘buruk" tersebut.

Tuhan yang Anda dan saya sembah adalah Allah yang hidup. Dia tahu kondisi dan kekuatan kita terhadap masalah/penderitaan tersebut. Dia adalah Tuhan setia dan tidak perlu diragukan lagi janji-janjiNya.

Ketika Roh Kudus memberikan pengertian di dalam diri Paulus mengenai penderitaan yang harus dialami orang-orang percaya, ia tahu bahwa yang akan dialami itu adalah perkara ringan. Tidak satu pun kegentaran menghinggap dalam diri Paulus. Mengapa ia bisa seperti itu? Jawabannya ialah karena Paulus tidak berfokus kepada masalah/ penderitaan yang dialaminya, tetapi kepada firman Tuhan yakni berkat yang melimpah ketika kita setia mengikuti-Nya.

Jika Anda telah menderita dalam masa yang sulit belakangan ini, sadarlah akan berkat-berkat di sekeliling Anda. Anda akan jauh lebih berhasil mengatasi masalah-masalah jika Anda memuliakan Tuhan untuk pemecahan yang telah disediakan-Nya. Oleh karena itu, palingkan mata Anda dari kesukaran dan arahkan pandangan ke sekitar Anda maka Anda pun dengan segera meneriakkan kemenangan.

Masalah dan berkat adalah satu paket yang Tuhan berikan dalam kehidupan orang-orang percaya. Keduanya tidak dapat terpisahkan!!

Jawaban.com

Kata Bermakna

* Slideshow ini dapat di download, klik “Menu” kemudian klik nama filenya dan “Save as..”.

11 August 2009

Namanya Juga Anak Muda

Tubuhnya yang kecil serta wajahnya yang naif, tak dapat menyembunyikan usianya yang memang baru belasan. Tepatnya, 16 tahun. Bagi saya, "anak" ini mewakili generasi sebayanya. Mungkin tak semuanya, namun paling sedikitnya sebagian dari mereka.

Pagi itu ia -- sebut saja namanya “Irene” -- datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati digereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar “anak” ini. Ia pernah jadi “anak didik” saya.

“Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?”, tanya saya.

“Saya sudah hamil empat bulan,pak”, jawabnya.

“Hamil? Empat bulan?”

“Ya, pak”.

“Apa yang terjadi? Dengan siapa?”

Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ‘berkhotbah’. Bla bla bla. Sangat penasaran. Akhirnya saya bertanya, “Apa kamu tidak menyesal?”.

“Menyesal sih menyesal,pak”.

“Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?”

“Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya 'kan masih pengen sekolah, pak”.

“Itu artinya kamu tidak menyesal karena dosa yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?”, tanya saya - wah, gemasnya!

“Yah, namanya juga anak muda, pak,” jawabnya. Enteng sekali.

SAYA setuju dengan Barclay yan gmengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah “seks pra-nikah” ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini-- dengan lambat, tapi pasti -- kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang “normal”. Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.

Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.

Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis, “Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya”.

Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan. Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, “Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri”.

Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah “kediaman” yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court. Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena kediamannya itulah, ia mati.

APA yang disebut sebagai “revolusi seks”, juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya “tabu-tabu” - tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah “revolusi” ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap. Dalam salah satu refleksi kita yang terdahulu saya telah menyinggung, bagaimana orang modern cenderung memisahkan “seks” dari “pernikahan”. “Seks pra-nikah” adalah salah satu wujudnya.

Menurut Barclay, ada tiga alasan yang paling kerap dikemukakan orang, guna membenarkan kegiatan seksual yang dilakukan sebelum -- atau di luar --perkawinan.

Pertama, adalah ANTISIPASI. Ini adalah kegiatan seksual yang dilakukan oleh sepasang anak manusia yang saling mencinta. Begitu rupa, sehingga mereka merasa yakin dan pasti, bahwa pada suatu saat mereka akan menikah. “Mengantisipasi” pernikahan mereka yang pasti itulah, mereka tanpa ragu melakukan hubungan seks. “Apasalahnya? Kami toh pasti akan menikah”.

Tindakan yang mereka lakukan itu, mungkin secara esensial memang belum dapat dikategorikan sebagai “zinah”. Motivasi mereka pun boleh jadi memang tulus. Namun, toh ada dua hal yang perlu dikemukakan.

(a) mereka mengatakan, bahwa untuk mengekspresikan cinta kasih mereka yang murni itulah, mereka melakukan hubungan seks. Pertanyaan saya adalah, mengapa tidak sebaliknya? Mengapa mereka tidak mengekspresikannya, justru dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum mereka benar-benar suami-istri? Bukankah salah satu ekspresi cinta yang sejati. adalah kesanggupan mengendalikan diri?

(b), apa sih yang betul-betul pasti di dunia ini? Dari mana mereka bisa begitu yakin, bahwa mereka pasti akan menikah - pada satu hari? Dalam hidup ini, anak-anakku, tak ada yang 100% pasti. Buktinya amat banyak. Tidak bijaklah mengantisipasi sesuatu, yang di luar daya kita untuk mengantisipasinya!

ARGUMENTASI kedua, saya sebut saja, SIMULASI. Atau “coba dulu baru beli”. Kata mereka, “Membeli baju atau sepatu saja 'kan perlu mencoba dahulu. Apa lagi mau menikah. Sebab itu “mencoba” itu perlu, agar orang mengetahui dengan pasti, bahwa memang dialah orangnya, dengan siapa ia akan menghabiskan seluruh sisa umurnya. Caranya? Dengan “hidup bersama” dulu. Hidup bersama dijadikan simulasi atau tiruan hidup perkawinan yang sesungguhnya.

Argumentasi ini sepintas lalu terkesan masuk akal. Tapi sebenarnya ia mengandung salah-perkiraan yang fundamental! Salah besarlah, orang yang menyangka bahwa hidup perkawinan itu dapat disimulasikan. “Hidup bersama” tidak pernah mungkin menggambarkan hidup perkawinan yang sesungguhnya. Dalam kaitan ini, Barclay mengemukakan sebuah analogi yang menarik. Tentang seorang yang memutuskan, untuk beberapa bulan hidup di daerah kumuh bersama-sama dengan orang-orang miskin. Dengan jalan itu, ia berharap bisa mengalami secara langsung dan pribadi, bagaimana rasanya jadi orang melarat itu.

Maksud yang mulia! Tapi salah perhitungan. Tinggal di daerah kumuh memang dapat memberikan banyak pengalaman berharga. Tapi tetap tidak mungkin membuat orang benar-benar mengetahui bagaimana sih rasanya jadi orang melarat itu. Mengapa? Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar. Si relawan bisa setiap saat meninggalkan situasi kemiskinan itu. Pengalamannya dapat menjadi bagaikan petualangan dan ekskursi yang romantis, seperti ketika orang berlibur dengan berkemah di hutan. Tidak enak, tapi nikmat. Sedang orang-orang miskin itu? Mereka tidak punya pilihan lain. Seumur hidup mereka, mereka sudah terperangkap oleh ke melaratan mereka. Dan ini melahirkan dua sikap, bahkan mentalitas, yang berbeda!

Intinya adalah, “perkawinan” tidak pernah dapat dieksperimenkan. Sebab perkawinan adalah sebuah “komitmen”. Orang tidak dapat mengeskperimenkan komitmen. Yang mungkin hanyalah, “menerima” atau “menolak”. Tidak ada peluang untuk “coba-coba”.

KETIGA, adalah alasan yang mengatakan bahwa ESENSI adalah segala-galanya. Perkawinan itu lebih daripada sekadar secarik kertas atau sebuah seremoni. Esensi sebuah perkawinan adalah komitmen untuk membangun relasi. Inilah yang terpenting, dengan atau tanpa perkawinan. Dengan atau tanpa formalitas. Argumentasi yang jitu, bukan? Esensi dan kualitas tentu saja memang lebih utama ketimbang bungkus luarnya. Tapi apakah itu berarti, formalitas tidak ada nilainya? Kenyataan menunjukkan, walaupun formalitas bukan segala-galanya, tapi orang memerlukannya. Sebuah “kontrak kerja”, misalnya, memang tidak menjamin adanya komitmen yang tulus dari kedua belah pihak. Tapi paling sedikit ia memberi “pegangan”. Orang bisa melakukan tindakan hukum bila itu dilanggar.

Yang saya khawatirkan adalah, orang yang mengatakan bahwa “komitmen, bukan formalitas yang penting”, sebenarnya adalah orang yang menolak komitmen. Orang yang mengatakan bahwa formalitas pernikahan tidak penting -- sebab hanya cinta kasih, relasi dan komitmen-lah yang penting -- sering adalah orang yang menolak untuk memberi komitmen resmi.

Mereka masuk dari pintu depan, tapi diam-diam menyiapkan “pintu darurat” di belakang. Agar sewaktu-waktu mereka bisa melarikan diri dari komitmen dan relasi, yang selalu mereka katakan paling penting itu. Dan melarikan diri dengan mudah, tanpa direpotkan oleh tetek-bengek formalitas, seperti mengurus surat cerai dan sebagainya. Nah, ketahuan belangnya, bukan?

Oleh Pdt. Eka Darmaputera

Gunakan Hak-Hak Anda!

Yesaya 53:5 : "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 42; 1 Timotius 6; Yesaya 37-38

Yesus datang ke dunia dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban untuk dosa demi menebus kembali segala sesuatu yang dihilangkan oleh Adam. Dia datang untuk membinasakan semua perbuatan iblis, termasuk sakit penyakit.

Begitu Anda menerima Dia sebagai Tuhan atas hidup Anda, semua hak biasa dan istimewa yang pada mulanya direncanakan Tuhan untuk Anda miliki (hak-hak terhadap seperti persekutuan dengan Tuhan, kesehatan, dan kemakmuran) dipulihkan. Tetapi, Andalah yang harus menggunakan hak-hak itu.

Iblis adalah pelanggar hukum dan walaupun Yesus telah menghilangkan wewenang iblis di bumi, walaupun dia tidak mempunyai hak hukum untuk membunuh atau mencuri dari anak-anak Tuhan, dia tetap akan melakukannya selama Anda membiarkannya berhasil meloloskan diri.

Anda harus memaksakan kekalahannya dengan mengucapkan firman Tuhan dalam iman. Bertindaklah sesuai dengan firman-Nya sekarang. Tuntutlah agar segala penyakit meninggalkan Anda dalam nama Yesus. Kemudian tolaklah untuk mundur dari tuntuan yang Anda ucapkan. Lawanlah iblis dengan segala sesuatu yang Anda miliki. Dia mungkin akan memerangi Anda beberapa waktu lamanya, tetapi lambat laun dia pasti akan lari meninggalkan Anda.

Untuk membuktikan bahwa Anda memiliki otoritasnya Tuhan, tidak ada cara lain yakni Anda harus mempraktikkan otoritas tersebut dalam kehidupan Anda

Jawaban.com

My Dad Is A Rising Star

Her hair was up in a pony tail, her favorite dress tied with a bow. Today was Daddy’s Day at school, and she couldn’t wait to go. But her mommy tried to tell her, that she probably should stay home. Why the kids might not understand, if she went to school alone.

But she was not afraid, she knew just what to say. What to tell her classmates of why he wasn’t there today. But still her mother worried, for her to face this day alone. And that was why once again, she tried to keep her daughter home. But the little girl went to school, eager to tell them all. About a dad she never sees, a dad who never calls.

There were daddies along the wall in back, for everyone to meet. Children squirming impatiently, anxious in their seats. One by one the teacher called, a student from the class. To introduce their daddy, as seconds slowly passed. At last the teacher called h er name, every child turned to stare. Each of them was searching, for a man who wasn’t there.

“Where’s her daddy at?”, she heard a boy call out.

“She probably doesn’t have one,” another student dared to shout. And from somewhere near the back, she heard a daddy say, “Looks like another deadbeat dad, too busy to waste his day.”

The words did not offend her,as she smiled up at her Mom. And looked back at her teacher, who told her to go on. And with hands behind her back, slowly she began to speak. And out from the mouth of a child, came words incredibly unique.

“My Daddy couldn’t be here, because he lives so far away. But I know he wishes he could be, since this is such a special day. And though you cannot meet him, I wanted you to know. All about my daddy, and how much he loves me so. He loved to tell me stories, he taught me to ride my bike. He surprised me w ith pink roses, and taught me to fly a kite. We used to share fudge sundaes, and ice cream in a cone. And though you cannot see him, I’m not standing here alone. ‘Cause my daddy’s always with me, even though we are apart. I know because he told me, he’ll forever be in my heart”

With that, her little hand reached up, and lay across her chest. Feeling her own heartbeat, beneath her favorite dress. And from somewhere in the crowd of dads, her mother stood in tears. Proudly watching her daughter, who was wise beyond her years. For she stood up for the love of a man not in her life. Doing what was best for her, doing what was right.

And when she dropped her hand back down, staring straight into the crowd. She finished with a voice so soft, but its message clear and loud.

“I love my daddy very much, he’s my shining star. And if he could, he’d be here, but heaven’s just too far. You see he was a fireman and died just this past year. When airplanes hit the towers and taught Americans to fear. But sometimes when I close my eyes, it’s like he never went away.”

And then she closed her eyes, and saw him there that day. And to her mother’s amazement, she witnessed with surprise. A room full of daddies and children, all starting to close their eyes. Who knows what they saw before them, who knows what they felt inside. Perhaps for merely a second, they saw him at her side.

“I know you’re with me Daddy,” to the silence she called out. And what happened next made believers, of those once filled with doubt. Not one in that room could explain it, for each of their eyes had been closed. But there on the desk beside her, was a fragrant long-stemmed pink rose. And a child was blessed, if only for a moment, by the love of her shining bright star. And given the gift of believing, that heaven is never too far.

10 August 2009

Jika Tidak Hancur

Kejadian 32:24-25 : "Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 41; 1 Timotius 5; Yesaya 35-36

Karakter dan kepemimpinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan apabila seseorang ingin menjadi pemimpin. Kepemimpinan bukan hanya berbicara hal-hal di luar diri Anda, tetapi juga hal-hal yang ada di dalam diri Anda.

Yakub adalah tokoh nyata di dalam Alkitab yang diajar Tuhan dalam soal karakter. Dari semula Yakub mempunyai pengaruh yang besar. Tidak peduli apa yang dilakukannya atau ke mana ia pergi, ia menggugah segala sesuatu.

Ia adalah orang yang kaya, kuat, berpengaruh, dan diberkati dengan keluarga besar sehingga mengira bahwa dirinya mempunyai segala sesuatu. Tetapi, seorang pemimpin yang mencari jalan dan keuntungannya sendiri tidak dapat menjadi sebuah alat yang efektif dalam tangan Allah. Allah harus menghancurkan Yakub untuk membuatnya berguna.

Dalam proses penghancuran, Yakub yang arti namanya adalah "si penipu" diubah Allah menjadi Israel yang berarti "pahlawan Allah". Dia ingin Yakub memusatkan pelayanan-Nya kepada Allah bukan diri sendiri.

Para pemimpin alami sering perlu dihancurkan. Anggaplah kemampuan alami Anda untuk memimpin sebagai karunia dari Allah, tetapi karakter Anda adalah suatu pemberian kepada Allah. Ingatlah: Setiap kali Anda ditekan kesukaran, Anda sedang dipersiapkan, seperti Yakub, untuk melayani Allah dan memimpin orang lain dengan lebih baik lagi.

Ujian kepemimpinan yang sejati adalah ketika karakter Anda dibentuk dan diubahkan Tuhan. Tidak ada yang lain!

Jawaban.com

Telinga Cacat

Sobat, ada kisah nyata di sebuah daerah di Papua. Sebut saja Boni, layaknya seorang pemuda SMU, dia sedang mencari jati diri dan bergaul dengan banyak kawan, namun dia bergaul dengan teman yang salah. Berantem, begadang dan keluyuran menjadi kebiasaannya setiap harinya. Ayahnya yang seorang tentara sudah sering menghajar dia, namun Boni sudah cukup kebal dengan sabuk kulit dan sepatu tentara yang sering menghantam dirinya.

Beberapa hari ke depan Boni akan menjadi pemuda “dewasa” dengan usianya yang akan menyentuh 17 tahun. Kebiasaan di Papua, merayakan ulang tahun adalah dengan pesta makan-makan. Karena ayahnya adalah tentara level rendah dengan gaji yang minim, akan sangat sulit mengadakan pesta besar bagi dia. Muncul gagasan untuk memanggang seekor babi piaraan ayahnya yang ada di kebun belakang. Dia tahu, bahwa konsekuensi dihajar oleh ayahnya pasti akan terjadi, namun rasa malu di depan teman-teman jika dia tidak dapat merayakan ulang tahun lebih besar. Jadilah dia mencuri satu-satunya babi yang ada di belakang dan menikmati babi itu bersama teman-temannya.

Tiba saat penghukuman, Boni sudah mempersiapkan mental dengan hinaan dan pukulan yang pedas dari ayahnya. Namun di luar dugaan, kali ini ayahnya benar-benar naik pitam. Dia menghajar Boni habis-habisan! Semua pukulan itu masih bisa ditahan oleh Boni, namun tidak dengan tindakan terakhir dari ayahnya. Ayahnya mengiris sebagian dari daun telinga Boni dengan pisau dan menyuruh untuk ditelan! Benar-benar shocking untuk Boni, karena telinganya menjadi cacat seumur hidupnya.

Sobat, ketika Boni sudah bekerja di Jawa dan mengikuti sebuah retreat, kejadian ini masih membekas jelas di dalam hatinya. Ketika sesi Hati Bapa, susah baginya untuk bisa mengerti seberapa lembut hati Bapa. Namun ketika dilayani secara pribadi, tumpah semua isi hatinya. Dia bisa menangis lega. Sebuah komitmen untuk mengasihi Bapa di Surga timbul di hatinya. Namun tidak berhenti sampai di sana , dia pun berkomitmen untuk mengasihi bapa-nya yang di dunia. Boni menelpon ayahnya yang sekarang tua dan berkata “Ayah, aku mengasihimu”.

Sobat, luka masa lalu memang tidak bisa dihapus, namun luka itu bisa disembuhkan. Berdoa kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita dan ambil tindakan untuk memaafkan orang yang melukai hati kita, terlebih jika itu orang tua kita sendiri. GOD Bless!