Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 August 2009

Jika Tidak Hancur

Kejadian 32:24-25 : "Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 41; 1 Timotius 5; Yesaya 35-36

Karakter dan kepemimpinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan apabila seseorang ingin menjadi pemimpin. Kepemimpinan bukan hanya berbicara hal-hal di luar diri Anda, tetapi juga hal-hal yang ada di dalam diri Anda.

Yakub adalah tokoh nyata di dalam Alkitab yang diajar Tuhan dalam soal karakter. Dari semula Yakub mempunyai pengaruh yang besar. Tidak peduli apa yang dilakukannya atau ke mana ia pergi, ia menggugah segala sesuatu.

Ia adalah orang yang kaya, kuat, berpengaruh, dan diberkati dengan keluarga besar sehingga mengira bahwa dirinya mempunyai segala sesuatu. Tetapi, seorang pemimpin yang mencari jalan dan keuntungannya sendiri tidak dapat menjadi sebuah alat yang efektif dalam tangan Allah. Allah harus menghancurkan Yakub untuk membuatnya berguna.

Dalam proses penghancuran, Yakub yang arti namanya adalah "si penipu" diubah Allah menjadi Israel yang berarti "pahlawan Allah". Dia ingin Yakub memusatkan pelayanan-Nya kepada Allah bukan diri sendiri.

Para pemimpin alami sering perlu dihancurkan. Anggaplah kemampuan alami Anda untuk memimpin sebagai karunia dari Allah, tetapi karakter Anda adalah suatu pemberian kepada Allah. Ingatlah: Setiap kali Anda ditekan kesukaran, Anda sedang dipersiapkan, seperti Yakub, untuk melayani Allah dan memimpin orang lain dengan lebih baik lagi.

Ujian kepemimpinan yang sejati adalah ketika karakter Anda dibentuk dan diubahkan Tuhan. Tidak ada yang lain!

Jawaban.com

Telinga Cacat

Sobat, ada kisah nyata di sebuah daerah di Papua. Sebut saja Boni, layaknya seorang pemuda SMU, dia sedang mencari jati diri dan bergaul dengan banyak kawan, namun dia bergaul dengan teman yang salah. Berantem, begadang dan keluyuran menjadi kebiasaannya setiap harinya. Ayahnya yang seorang tentara sudah sering menghajar dia, namun Boni sudah cukup kebal dengan sabuk kulit dan sepatu tentara yang sering menghantam dirinya.

Beberapa hari ke depan Boni akan menjadi pemuda “dewasa” dengan usianya yang akan menyentuh 17 tahun. Kebiasaan di Papua, merayakan ulang tahun adalah dengan pesta makan-makan. Karena ayahnya adalah tentara level rendah dengan gaji yang minim, akan sangat sulit mengadakan pesta besar bagi dia. Muncul gagasan untuk memanggang seekor babi piaraan ayahnya yang ada di kebun belakang. Dia tahu, bahwa konsekuensi dihajar oleh ayahnya pasti akan terjadi, namun rasa malu di depan teman-teman jika dia tidak dapat merayakan ulang tahun lebih besar. Jadilah dia mencuri satu-satunya babi yang ada di belakang dan menikmati babi itu bersama teman-temannya.

Tiba saat penghukuman, Boni sudah mempersiapkan mental dengan hinaan dan pukulan yang pedas dari ayahnya. Namun di luar dugaan, kali ini ayahnya benar-benar naik pitam. Dia menghajar Boni habis-habisan! Semua pukulan itu masih bisa ditahan oleh Boni, namun tidak dengan tindakan terakhir dari ayahnya. Ayahnya mengiris sebagian dari daun telinga Boni dengan pisau dan menyuruh untuk ditelan! Benar-benar shocking untuk Boni, karena telinganya menjadi cacat seumur hidupnya.

Sobat, ketika Boni sudah bekerja di Jawa dan mengikuti sebuah retreat, kejadian ini masih membekas jelas di dalam hatinya. Ketika sesi Hati Bapa, susah baginya untuk bisa mengerti seberapa lembut hati Bapa. Namun ketika dilayani secara pribadi, tumpah semua isi hatinya. Dia bisa menangis lega. Sebuah komitmen untuk mengasihi Bapa di Surga timbul di hatinya. Namun tidak berhenti sampai di sana , dia pun berkomitmen untuk mengasihi bapa-nya yang di dunia. Boni menelpon ayahnya yang sekarang tua dan berkata “Ayah, aku mengasihimu”.

Sobat, luka masa lalu memang tidak bisa dihapus, namun luka itu bisa disembuhkan. Berdoa kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita dan ambil tindakan untuk memaafkan orang yang melukai hati kita, terlebih jika itu orang tua kita sendiri. GOD Bless!

09 August 2009

Perempuan Kanaan Yang Percaya

“Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru : “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” – Matius 15:22

Persoalan mengenai sesroang yang kerasukan roh jahat bukanlah hal yang mudah untuk disembuhkan, kekuatan manusia tidaklah sebanding dengan kekuatan roh jahat, dalam arti Iblis atau Setan bukanlah tandingan manusia. Perempuan Kanaan ini tahu bahwa hanya lewat kuasa Yesus maka anaknya yang kerasukan roh jahat dapat disembuhkan. Itu sebabnya ia berusaha untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus walaupun perjumpaan ini dilatarbelakangi dengan latar belakang budaya yang berbeda. Dalam perspektif orang Yahudi, perempuan Kanaan ini tidak layak untuk dikasihani karena orang Kanaan adalah bangsa yang kafir yang tidak mengenal Yahwe atau Tuhan yang mereka sembah. Tetapi cara pandang Yesus dalam pelayanan berbeda dengan cara pandang orang Yahudi. Dengan meresponi persoalan perempuan Kanaan ini, Yesus membalikkan paradigma pelayanan orang Yahudi yang eksklusif dengan memberi perhatian terhadap persoalan yang dialami perempuan Kanaan ini.

Meskipun diawal cerita ini seperti seruan dari perempuan Kanaan ini tidak ditanggapi oleh Yesus. Yesus tidak menanggapi bukan berarti Ia tidak peduli terhadap apa yang dialami oleh perempuan ini, sebaliknya Ia ingin melihat reaksi iman dari perempuan Kanaan ini. Ayat 25 dikatakan, “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata : Tuhan, tolonglah aku”.

Salah satu kunci megapa perempuan ini mendapat respon dari Yesus adalah, karena ia datang sambil merendahkan diri dengan menyembah Yesus sebagai tanda ia menempatkan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhan. Respon kerendahan hati dari perempuan Kanaan ini membuat persoalannya dapat terselesaikan. Itu sebabnya Yesus berkata kepada perempuan Kanaan ini: “Hai ibu, besarlah imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”

Sama seperti perempuan Kanaan ini yang datang kepada Yesus demikian juga dengan kita, adakalanya kita datang dihadapan Tuhan dengan membawa persoalan kita dihadapan-Nya, mungkin kita sudah lama meminta dan berseru dihadapan-Nya namun sepertinya persoalan kita belum juga terjawab oleh Tuhan, dan bukan berarti ketika menjawab karena Ia ingin melihat respon iman kita, apakah sikap kita dihadapan-Nya mencerminkan diri kita sebagai seorang hamba yang merendahkan diri dihadapan-Nya. Seperti kata firman : “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, maka Aku akan mendengar dari sorga serta memulihkan mereka.”

Kehidupan iman percaya kita tidak hanya sebata kita berseru dan memohon kepada Tuhan tetapi respon kerendahan hati kita dihadapan-Nya dengan menyembah Dia akan menentukan kita memperoleh jawaban dari apa yang kita inginkan dari-Nya.

Sumber : Warta Duta Injil Kerajaan edisi 21 Juni 2009

08 August 2009

Kasih Mengadakan Perubahan

I Korintus 13:7-8 : "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 39; 1 Timotius 3; Yesaya 31-32

Kasih tidak akan pernah gagal. Tiada yang berhasil tanpa itu dan tiada kegagalan yang dapat terjadi dengan itu. Bila Anda hidup oleh kasih, Anda tidak dapat gagal.

Dibutuhkan iman untuk percaya bahwa kasih takkan gagal. Pikiran duniawi tidak dapat memahami itu karena manusia duniawi dan lingkungannya diperintah oleh keserakahan.

Tetapi bila Anda menerapkan kasih oleh iman dan menolak untuk mencari kepentingan diri sendiri, maka Anda membiarkan Bapa bertindak untuk kepentingan Anda. Selama Anda tinggal dalam kasih, Allah Bapa akan mengusahakan kepentingan Anda, Dia memastikan Bahwa Anda berhasil. Berjalan dalam kasih adalah keuntungan besar bagi Anda!

Kasih Agape ialah jenis kuasa yang baru. Itu menjadikan Anda penguasa dari setiap keadaan. Tiada senjata yang akan berhasil melawan Anda. Bahkan tiada seorang pun mempunyai kuasa untuk menyakiti perasaan Anda karena Anda tidak diperintah oleh perasaan, melainkan oleh kasih Tuhan. Anda mengasihi seperti Dia mengasihi.

Kasih sanggup mengadakan perubahan menyeluruh dan mendasar. Jika Anda sepenuhnya memahami kasih Tuhan, Anda mungkin akan saling bersaing, Anda masing-masing berusaha semakin mengasihi sesama. Dan pastilah setiap orang akan muncul dari persaingan itu sebagai pemenang! Karena kasih itu sesungguhnya adalah satu-satunya rahasia pasti yang mengantar pada keberhasilan Anda.

Kasih sejati bukanlah hanya menguasai perasaan, tetapi juga kehidupan yang Anda jalani hari demi hari di dunia ini

Jawaban.com

Weekly Scripture – Kolose 3:16

"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu." - Kolose 3:16

Prajurit Kristus Yang Tidak Pernah Menyerah

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” – 2 Timotius 2:3-4

Paulus menulis surat kepada Timotius anak rohaninya yang sangat dikasihinya agar tetap kuat di dalam pelayanannya, tidak menyerah terhadap tekanan-tekanan yang ada di dalam pelayanan dan kehidupannya, seperti seorang prajurit yang sedang berjuang untuk suatu tujuan walaupun harus menderita.

Suatu ketika dalam sebuah acara talkshow di tayangan televisi Amerika Serikat yang dipandu oleh Oprah Winfrey dengan para prajurit Amerika yang cacat karena tugas berperang di Irak. Oprah menanyakan perasaan prajurit-prajurit tersebut yang masih muda tetapi harus mengorbankan hidup mereka sampai cacat dalam tugas pertempuran di Irak. Yang luar biasa adalah sikap para prajurit yang diwawancara itu menunjukkan sikpa mental yang tidak menyerah dan menyesali apa yang telah mereka alami. Bahkan beberapa prajurit yang cacat dan sedang menjalani terapi dengan menggunakan kaki palsu, tetap semangat untuk terus berjuang dan bergabung kembali dengan kesatuannya setelah sembuh.

Aa lagi seorang prajurit muda yang seluruh tubuhnya mengalami luka bakar sehingga wajahnya yang tampah berubah seperti “monster” yang menakutkan karena truk berisi bahan bakar yang akan diantarnya ke markas tentara Amerika di Irak meledak. Tetapi yang luar biasa adalah prajurit tersebut tidak menyesal apa yang terjadi dan tidak sedih dengan kondisi tubuhnya yang rusak. Bahkan dengan semangat dia mengatakan bahwa jika setelah sembuh, ia akan bergabung kembali lagi dan bertugas.

Prajurit-prajurit yang mengalami cacat dan luka dalam medan pertempuran tidak pernah membiarkan diri mereka berlama-lama berada di bawah trauma atau keputusasaan. Sebagai prajurit Kristus yang sejati, kita juga harus memiliki sikap pengabdian dan ketaatan kepada Panglima dan Negara Ilahi kita, yaitu Yesus Kristus dan Kerajaan Sorgawi yang tidak pernah tergoncangkan, sebab ada tujuan Ilahi yang ingin kita rebut dalam medan peperangan kita ti dunia melawan kuas-kuasa dan roh-roh kegelapan serta keinginan daging kita.

Prajurit Kristus sejati harus siap menghadapi kekecewaan dan penolakan dari orang lain, bahkan mungkin dari orang-orang terdekat. Prajurit Kristus sejatu harus siap menderita dan bahkan mungkin melepaskan hak dan kenyamanan untuk mencapai kemenangan di dalam pertempurannya, sebab harus ada harga yang kita bayar untuk memperoleh kemenangan-kemenangan dalam hidup kita. Mungkin waktu kita, perasaan kita, kenyamanan yang membuat rohani kita tertidur bahkan mati. Ayat 4 mengatakan bahwa seorang prajurit yang sedang berjuang untuk mencapai kemenangan dalam tujuan Ilahi yang ingin dicapainya, maka ia tidak boleh memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, agar ia berkenan kepada komandannya. Oleh sebab itu fokus kita haruss pada tujuan Ilahi kita yaitu Kerajaan Allah. Ketika kita mengalami penolakan, disakiti, dimusuhi tanpa alasan yang jelas, disepelekan, jangan pernah menyerah, sebab Yesus Kristus, sang komandan kita juga sudah mengalami hal yang sama bahkan sampai mati di kayu salib untuk menanggung setiap dosa kita. Prajurit Kristus yang sejati tidak akan pernah berhenti untuk melayani dalam kondisi apapun yang dia alami, dia tidak akan tenggelam dalam kekecewaan yang terus menerus atas apa yang terjadi dalam hidupnya, bahkan akan terus mengucap syukur atas anugrah dan kasih Tuhan.

Warta Duta Injil Kerajaan tanggal 21 Juni 2009

Humor : Ikan Mas

Lani : “Eh, Lin! Tau nggak, Aku punya 200 ekor ikan Mas, lho!”

Lina : “Oh ya?! Dimana kamu taruh ikan sebanyak itu, kamu kan nggak punya kolam ikan atau akuarium?”

Lani : “Ssst, aku taruh di bak mandiku.”

Lina : “Lho, kalau kamu mandi, gimana donk?”

Lani : “Tenang aja deh, semua ikan itu sudah aku tutup matanya.”

07 August 2009

Jangan Didik Anakmu

Jangan didik anakmu laki-laki bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki, untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan. Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan.

Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng. Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya.

Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah, sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan, bagaimana menjadi cantik. Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan, bagaimana untuk menyenangkan laki-laki. Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan.

Jangan larang anakmu perempuan, jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat. Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda.

Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang, karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan

Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini. Isilah rumahmu dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan, bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan.

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan keindahan menikmati mentari pagi, kehangatan rasa ketika menggenggam pasir, kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga. Dan merdunya suara tetes-tetes hujan.

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah, gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu. Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang. Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu.

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan pancarkan rasa ingin terus belajar. Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca. Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku.

Jika kau ingin anakmu penuh kasih, tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama. Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu, engkau adalah teladan yang utama, tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat, jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan, hiduplah demikian!

Hidup Dengan Prioritas

Yohanes 17:4 : "Aku telah mempermuliakan Engkau di Bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 38; 1 Timotius 2; Yesaya 29-30

Saat Petrus masih seorang nelayan muda di Galilea, tak seorang pun akan berpikir bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin yang penuh semangat dari sebuah gerakan dunia. Lagi pula, ia hampir tidak mempunyai pendidikan dan mungkin akan bahagia hidup seumur hidupnya sebagai orang yang tidak terkenal. Tetapi, Allah mempunyai sesuatu yang lain baginya, dan saat Petrus bertemu Yesus, prioritas-prioritasnya mulai hidup.

Seperti banyak pemimpin, Petrus harus belajar bagaimana mendahulukan hal-hal yang lebih penting. Firman Tuhan menyatakan banyak tentang ketidakkonsistenan tingkah laku dan keputusannya yang tidak rasional. Tetapi semakin banyak waktu yang dihabiskan Petrus bersama Yesus, semakin banyak ia belajar tentang perbedaan antara kegiatan saja dan keberhasilan.

Seperti Petrus, para pemimpin besar disaring melalui banyak hal yang menuntut waktu mereka, dan mereka mengerti bukan saja apa yang perlu dilakukan lebih dahulu, tetapi juga apa yang tidak perlu dilakukan sama sekali. Itu dimulai dengan suatu kerinduan untuk menjadi yang utama. Jika Anda memusatkan perhatian kerinduan Anda pada apa yang paling penting, kepemimpinan Anda naik ke tingkat-tingkat yang baru.

Orang lain akan mengenal Anda dari prioritas-prioritas hidup yang Anda pilih. Apakah pilihan tersebut sudah mencerminkan Yesus yang tinggal di dalam Anda?

Jawaban.com

06 August 2009

Cara Tuhan

Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.

Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.

Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.

Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.

Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.

Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.

Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?

Kadang, dalam keputusasaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.

Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.

Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.

Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.

Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.

Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.

Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun.. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.

Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit.. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.

Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar.

Warm Regards,
-Limmy Hernywati Liunardy-

Nikmatilah Kemenangan

I Korintus 15:7 : "Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus,Tuhan kita"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 37; 1 Timotius 1; Yesaya 27-28

Pemenang! Lebih dari penakluk! Itulah yang disebutkan tentang jati diri kita. Saya tahu Anda telah sering mendengar itu sebelumnya, tetapi hari ini saya ingin Anda membiarkan kenyataan itu benar-benar tertanam dalam diri Anda. Saya ingin Anda meluangkan waktu merenungkan tentang arti sesungguhnya dari ungkapan itu.

Kamus menerangkan bahwa kemenangan (victory) berarti "keunggulan akhir dan lengkap dalam pertempuran atau perang, keberhasilan dalam pertandingan atau perjuangan dengan melibatkan kekalahan dari seorang lawan atau mengatasi tindakan rintangan.'

Menaklukkan berarti "menguasai dalam persaingan atau perjuangan, menangani, menindas, menang atas, mengatasi, mendapat keunggulan, menumpas, mengalahkan."

Setelah memahami sungguh-sungguh definisi itu dalam pikiran Anda, Anda akan sadar bahwa dalam Yesus, Anda telah memperoleh lebih dari sekedar karcis untuk masuk ke surga. Anda telah mendapatkan hal terbaik dari dunia tempat tinggal Anda tinggal sekarang. Melalui Dia, Anda telah mengatasinya, menekannya, dan menang atasnya.

Tidaklah mengherankan jika 1 Korintus 15:57 berseru, "Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!"

Mengapa Anda tidak berseru juga? Serukan syukur kepada Tuhan hari ini karena telah menjadikan Anda seorang pemenang. Pujilah Dia bahwa Anda bergabung dengan Tokoh yang telah menaklukkan dunia, daging, dan iblis. Sorakkan Haleluya dan nikmatilah kemenangan!

Kemenangan adalah milik Anda dan itu Tuhan sudah anugerahkan untuk Anda !!

Jawaban.com