Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 July 2009

Biarkan Tuhan Yang Menilaimu

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang.Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.

JANGAN PEDULIKAN apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan.

Tetapi, percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

(Mother Theresa)

Unbreakable

2 tawarikh 27:6 Yotam menjadi kuat, karena ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Allahnya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 7; Matius 7; 2 Raja-Raja 5-6

Tidak ada seorang pun yang suka jika dirinya disebut lemah. Semua orang ingin menjadi kuat. Waktu kita kuat (memiliki kapasitas yang besar), kita dapat melakukan banyak hal, mulai dari jalan-jalan, angkat-angkat, lompat-lompat, apalagi main futsal. Tapi kalau badan kita lemah (memiliki kapasitas yang kecil), kita tidak bisa melakukan banyak hal yang membutuhkan banyak energi. Bayangkan orang sakit yang terbaring lemah, terkulai dan tak berdaya. Kita tidak mungkin bisa meminta pertolongan kepada orang-orang seperti itu bukan?

Ada berbagai macam cara untuk menjadi kuat. Dalam teks bahasa Inggris (NIV), ayat di atas berbunyi demikian: “Jonathan grew powerful because he walked steadfastly before the LORD his GOD”. Kunci yang membuat Yotam menjadi kuat adalah karena ia berjalan dengan setia terhadap Tuhan, Allahnya. Kesetiaan akan membuat Anda menjadi kuat. Kesetiaan kita terhadap Tuhan dan firman-Nya akan membuat kita menjadi kuat. Ingat, kesetiaan merupakan cara kita menikmati kesetiaan Tuhan di dalam hidup kita.

Yeremia 1:19 mengatakan, “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan”. Kita kuat karena kita melekat (menempel) dengan Tuhan yang kuat, seperti sebatang lidi menempel pada sebatang besi. Itulah arti kata “menyertai”.

Dengan begitu kita, orang-orang yang terus-menerus menempel dengan Tuhan merupakan orang-orang yang tidak dapat dikalahkan. Telah terbukti, banyak orang yang kaya, memiliki popularitas dan kekuasaan, tetapi mudah dikalahkan oleh hawa nafsu, kekecewaan, ketakutan dan keputusasaan. Popularitas, kekayaan dan kekuasaan bersifat sementara. Kita bisa kehilangan segalanya dalam hitungan menit, atau bahkan detik. Namun, kita tidak akan pernah bisa kehilangan Tuhan Yesus kecuali jika kita yang meninggalkan Tuhan.

Seperti apa yang tertulis di dalam Roma 8:35, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”.

Mengandalkan kekuatan sendiri sama halnya dengan membuang air di dalam gelas ketika Anda sedang dahaga. Tanpa Tuhan apapun yang Anda lakukan sia-sia.

Jawaban.com

06 July 2009

Tiap Tetes Berharga

Mazmur 15:5 Yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 6; Matius 6; 2 Raja-Raja 3-4

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu di Hong Kong. Saat itu di setiap penjuru kota di Hong Kong dipenuhi dengan poster-poster bergambar setetes air yang memercik ke sebuah kolam. Di setiap poster yang ada menampilkan kata-kata yang berbunyi, “Hong Kong Menentang Korupsi”. Pesan itu sangat jelas, karena masyarakat Hong Kong tidak mau mengalami kesusahan akibat adanya tindakan korupsi itu. Tidak adanya integritas maupun ketidakjujuran dapat menyebar ke seluruh penjuru kota dan dapat mempengaruhi satu orang setiap waktu. Untuk itulah mereka menentang setiap tindakan yang dapat merugikan masyarakat.

Memang mudah untuk berkompromi dengan hal-hal kecil yang tampaknya tidak membawa pengaruh besar di tengah masyarakat. Kita sering berpikir, “Mengapa saya tidak seperti yang lain, mengubah fakta, merekayasa laporan keuangan, atau mengerjakan proyek pribadi pada jam kerja seperti yang dilakukan orang lain? Mungkin kita berkata, “Saya hanya sebagian kecil dari mereka, bagaikan setetes air di dalam ember!” Tepat! Namun, setiap tetes akan sangat menentukan isi ember itu pada akhirnya.

Dalam Mazmur 15:1 Daud bertanya, “Tuhan, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?” Jawabannya terdapat dalam ayat 2 dan 5, yang menggambarkan seseorang yang terhormat, yang memiliki hubungan akrab dengan Allah. Perhatikan bagaimana orang tersebut berperilaku, bekerja dan berkata-kata: tidak bercela, adil dan benar (ayat 2). Camkanlah bahwa orang yang berintegritas tidak akan menyebarkan fitnah atau menerima suap (ayat 3,5). Seperti keteguhan orang itu: “Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya” (ayat 5).

Apakah artinya bagi keluarga Anda, lingkungan Anda, bahkan kota Anda, bila Anda hidup dengan integritas yang sesuai dengan pimpinan Allah? Mari kita melakukannya! Tiap tetes berharga.

Sesungguhnya setiap karya Anda mungkin bagaikan setetes air tapi tetesan air itulah yang akan mewarnai dunia ini dengan kebenaran.

Jawaban.com

Keep The Faith

Slideshow ini juga bisa di download di Group RumahRenungan.

05 July 2009

Bahagia Adalah Suatu Pilihan!

John C Maxwell suatu ketika pernah diminta menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya Margaret diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya suatu ketika sang istri Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan? (Kalau satu arah mah namanya khotbah.)

Di sesi tanya jawab itu setelah beberapa pertanyaan seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan pertanyaan ibu itu seperti ini “Miss Margaret apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab “Tidak”.

Seluruh ruangan langsung terkejut. “Tidak”, katanya sekali lagi, “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia”. Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang ga malunya Maxwell saat itu.) Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Malu ui!

Kemudian lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi mabuk-mabukan main serong. Ia setia selalu memenuhi kebutuhan saya baik jasmani maupun rohani. Tapi tetap dia tidak bisa membuatku bahagia..”

Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”

Dengan kata lain maksud dari Margaret adalah tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan tidak pernah punya perasaan minder selalu percaya diri kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak bukan faktor luar.

Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia namun ia bahagia..

Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu seberapa cantik istrimu atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak.

04 July 2009

Tidak Bisa atau Tidak Mau?

1 Yohanes 5:3 - Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 4; Matius 4; 2 Tawarikh 20-21

Ketika tiba saatnya untuk mengungkapkan perasaan kita, hanya sedikit dari kita yang lebih jujur dari anak-anak. Seorang ayah mengalami kesulitan untuk membuat anaknya patuh kepadanya. Ketika anak itu ditanya mengapa ia tidak mentaati ayahnya, ia menjawab, "Ayah, saya tidak ingin melakukannya!"

Sebagai orang Kristen, banyak di antara kita tidak sejujur anak itu. Kita sering mengungkapkan banyak alasan saat tidak taat pada kehendak Allah, padahal alasan yang sebenarnya karena kita tidak ingin melakukannya.

Ada seorang teman yang menikah dengan orang Jerman dan harus meninggalkan Indonesia untuk ikut dengan isterinya. Ketika keluarga mereka tinggal di Berlin Barat, teman saya mulai mengabaikan kebiasaan membaca Alkitab dan berdoa. Alasannya ia tidak punya waktu untuk itu. Ketika akhirnya mereka pindah ke Swiss dan pada kenyataannya waktu yang dimilikinya lebih banyak, ternyata untuk membaca Alkitab dan berdoa secara teratur pun tetap tidak dilakukannya.

Pada akhirnya ketika ia membuka Alkitab, ayat yang dibacanya adalah 1 Yohanes 5:3 yang berbunyi, "Inilah Inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perinyah-Nya." Setelah membaca ayat tersebut, ia pun menyesali sikapnya yang telah lama mengabaikan Tuhan. Dia mengatakan bahwa pada saat itu Tuhan memenuhi hatinya yang hampa dengan kasih pengampunan-Nya. Sejak saat itu, membaca Alkitab dan berdoa menjadi kegemarannya. Kasihnya kepada Tuhan yang telah diperbaharui membuat dirinya dan keluarganya ingin melakukan kehendak-Nya lebih daripada melakukan kehendaknya sendiri.

Apakah Anda mengetahui kehendak Allah bagi Anda? Apakah Anda mengasihi-Nya dan ingin melakukan kehendak-Nya?

Sikap hati yang mengasihi Allah adalah inti dari ketaatan Anda terhadap segala perintah-Nya.

Jawaban.com

Weekly Scripture - Roma 8-28

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28

Aku Datang Lagi

Seorang pendeta memasuki gerejanya di suatu siang dan memutuskan untuk berhenti sebentar di altar untuk melihat siapa saja yang datang untuk berdoa. Tidak lama kemudian, pintu belakang terbuka, seorang tua masuk melalui deretan bangku-bangku gereja. Sang pendeta mengerutkan dahi ketika melihat bahwa orang tersebut sepertinya tidak bercukur beberapa hari.

Kemejanya sudah lusuh, dan mantelnya sudah tua dan sobek-sobek. Orang itu belutut, menundukkan kepalanya, kemudian berdiri dan berjalan keluar. Hari-hari berikutnya, setiap siang pria itu datang, setiap saat berlutut hanya sebentar dengan tempat makan siang di pangkuannya. Sang pendeta mulai curiga, perampokan adalah ketakutan terbesarnya. Dia memutuskan untuk menghentikan pria itu dan menanyainya, “Apa yang kau lakukan disini?”

Pria tua itu menjawab, dia bekerja di sebuah pabrik. Waktu makan siang hanya setengah jam. Waktu makan siang adalah saat doa baginya, saat untuk menemukan tenaga dan kekuatan.

“Anda lihat, saya hanya tinggal sebentar, karena pabrik sangat jauh. Saat saya disini, berlutut dan berbicara pada Tuhan, Inilah yang kukatakan, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka-citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus.. Ini Jim, datang hari ini.”

Sang pendeta, merasa malu, berkata pada Jim bahwa itu baik. Dia berkata pada pria itu bahwa ia boleh datang dan berdoa kapan saja. Waktunya pergi, Jim tersenyum dan berkata “terimakasih”, Ia cepat-cepat keluar. Sang pendeta berlutut di depan altar. Hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Hatinya yang dingin mencair, dihangatkan oleh kasih, dan ia bertemu dengan Yesus disana.

Saat airmatanya mengalir, ia mengulangi doa Jim tua, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus..Ini aku, datang hari ini.”

Beberapa hari kemudian, pendeta tersebut melihat bahwa pak tua Jim tidak datang. Setelah beberapa hari tanpa kedatangan Jim, ia mulai khawatir. Ia pergi ke pabrik, ia bertanya tentang Jim dan diberitahu bahwa Jim sakit. Staff rumah sakit merasa khawatir, tapi ia menenangkan mereka. Minggu ketika Jim bersama mereka, ia membawa perubahan di bangsalnya. Senyumnya menularkan kebahagiaan ke semua orang. Ia mengubah orang-orang.

Kepala suster tidak bisa mengerti mengapa Jim begitu bahagia, padahal tidak ada kiriman bunga, telepon, maupun kiriman kartu-kartu ucapan, tidak ada seorangpun yang menjenguknya. Pendeta itu duduk di samping tempat tidurnya, dia menyampaikan kata-kata suster itu. Tidak ada teman datang untuk menunjukkan perhatian. Dia tidak memiliki tempat.

Pak tua Jim terkejut, dengan senyum bijaksanan ia berkata, “Suster itu salah, dia tidak pernah tau, setiap hari di siang hari, Dia disini, mendekatiku dan berkata, “Aku datang lagi hanya untuk mengatakan padamu, Jim, betapa bersuka-citanya Aku sejak Aku menemukan persahabatan ini dan Aku menghapus dosamu. Aku selalu suka mendengar doamu, Aku memikirkanmu setiap hari, jadi Jim, ini Yesus datang hari ini.”

03 July 2009

10 Kebenaran

Siapa kita sekarang adalah hasil dari masa lalu. Semua kita punya bekas luka dan cacat dari perkataan dan tindakan orang lain maupun dari kesalahan dan kegagalan kita. Tetapi sebagai anak Tuhan, ini bukanlah akhir cerita.

Roh Tuhan memakai firman-Nya untuk membentuk ulang kita menjadi ciptaan yang baru. Bekas luka dari masa lalu menjadi batu loncatan untuk kedewasaan rohani, pegang 10 prinsip dari Firman tuhan yang ditulis oleh Ed Young dan ijinkan Tuhan membentuk ulang paradigma tentang dirimu.

10. Aku diciptakan. Karena kita buatan Allah… Efesus 2:10

9. Aku disiplin. Kita tahu bahwa Ia telah memilihmu… 1 Timotius 1:4

8. Aku dijaga. Menjagaku seperti biji mata-Mu… Mazmur 17:8

7. Aku tak berkekurangan. Kuasanya memberikan semua yang kubutuhkan di dalam hidup ini… 2 Petrus 1:3

6. Aku berkemenangan. Dalam semuanya ini, kita lebih dari pemenang… Roma 8:37

5. Aku dipanggil. Tuhan memiliki rancangan dan kasih karunia… 2 Timotius 1:9

4. Aku diampuni. Tidak ada lagi tuduhan… Roma 8:1

3. Aku dibebaskan. Kebenaran akan membebaskanku… Yohanes 8:32

2. Aku dicintai. Aku dicintai dengan kasih yang tak berakhir… Yeremia 31:3

1. Aku diterima. Galatia 4:5

Kamu bisa menulis sepuluh hal di atas secarik kertas dan menempelkannya di meja belajar atau lemari bajumu. Setiap saat, perbaharui paradigma mengenai dirimu melalui Firman Tuhan itu. Kamu akan mengenal dirimu dari cara pandang Allah. Kegagalan bukanlah sebuah pilihan. Kegagalan bukan juga sebuah akhir. Kegagalan menjadi momen untuk mengenal Allah dan bangkit bersama dengan-Nya.

02 July 2009

Belajar Dari Semut

Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya utk menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah ia di bawah sebuah pohon yang rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. “Anakku apa yang sedang engkau lihat?” tanya sang ayah.

“Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?”, tanya Salomo kepada ayahnya.

“Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi”, Jawab Daud.

“Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini”, sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.

“Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidak akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja”, jawab Raja Daud.

“Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?”, tanya Raja.

“Entah ayah, mungkin sampai nanti sore”, jawab Salomo.

“Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?”, sambung Raja Daud.

“Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja”, Salomo mencoba mengajukan argumennya.

“Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisanya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja”, jawab Raja Daud.

“Anakku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut”, sambung Raja Daud.

“Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert”, Pinta Salomo.

“Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi.”

“Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi.”

“Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut.”, sambung Sang Daud.

Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo, “Anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti.”

Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.

01 July 2009

Jon

Selasa siang itu Jon mengajakku untuk ‘ngopi' di kedai kopi yang biasa kami datangi. Jon baru bangun tidurnya kayaknya, karena pekerjaan Jon sebagai pembersih kantor (janitor) yang dilakukan pada malam hari. Maka pagi harinya dia harus tidur. Baru siang ini dia sempat bertemu denganku. Aku mengenal Jon sekitar setahun yang lalu. Jon berasal dari Filipina, maka dia dapat bergaul denganku. Mungkin kebiasaan atau kebudayaan kami masih mirip dari Asia Tenggara.

Kamipun ngobrol ‘ngalor ngidul' sambil tidak lupa menyeruput kopi kami. Aku mengenal Jon di gereja. Meski Jon tidak melayani tetapi dia sering datang ke gereja hampir setiap Minggu. Dia datang bersama dengan istri dan anaknya. Jon rupanya seseorang yang bukan pandai bergaul. Tetapi sebagai entah bagaimana kami berdua bisa ‘cocok'. Kami tidak merasa kaku untuk bercakap-cakap. Dan kebetulan kami juga suka minum kopi. Kadang jika pada bulan tua, Jon tidak mempunyai uang untuk jajan, aku membelikan dia segelas kopi. Dan kamipun ngobrol sambil ‘ngopi'.

Sejak Selasa siang pertemuanku di kedai kopi itu, sampai dua minggu ini aku belum bertemu lagi dengan Jon. Pada hari Minggu dia juga tak tampak di gereja. Aku bertanya kepada diaken gereja. Mereka tidak tahu akan kabar tentang Jon, tetapi mereka akan mengunjungi Jon dalam minggu ini.

Keesokkan hari, sebelum berangkat pergi bekerja aku membeli surat kabar pagi. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah foto kecil di halaman depan sebelah kiri surat kabar. Itu adalah foto Jon. Bibirku terasa panas tersengat oleh kopi yang kuminum. Jon masuk surat kabar. Jon mendapatkan hadiah undian 5 juta dollar. Aku tidak memperhatikan berita utama, tetapi aku cepat membaca kisah Jon yang memenangkan undian. Wah, 5 juta dollar bukan jumlah yang sedikit, pikirku. Aku pun turut senang kalau Jon mendapat uang 5 juta dollar. Tapi mengapa harus lewat undian, tanya dalam hatiku.

Apakah Jon yang kukenal di gereja itu seorang Kristen? Karena kukira orang Kristen tidak boleh membeli undian atau lotre. Pikiranku melayang, wah, bagaimana ya rasanya kalau aku memenangkan hadiah 5 juta dollar. Apa yang akan aku perbuat ? Kadang aku berpikir betapa enaknya mengantongi uang sebanyak itu dan setelah itu aku tidak perlu bekerja keras lagi. Aku mendepositokan uang itu dan makan bunganya. Aku hanya bekerja melayani Tuhan. Aahh ... pikiranku mulai berkhayal tidak keruan.

Seminggu kemudian aku bertemu dengan Jon kembali dengan tidak sengaja. Karena kami sekeluarga diundang menghadiri ulang tahun dari teman sekolah putriku. Pertemuanku yang tak sengaja itu membuatku gembira melihat Jon. Dan penampilan Jon tampak beda sekali. Dia memakai jas hitam yang keren serasi dengan sepatu pestanya, rambutnya yang mengkilat disisir dengan rapi, tampak kalung emas mengalungi lehernya, cincin emas terpasang di jari tangan kanannya.

Aku takkan mengenali Jon kalau kami bertemu di jalan. Dia sungguh beda. Aku merasa senang melihat penampilannya. Berbeda sekali ketika kami berdua sering minum kopi. Jon hanya mengenakan kaos oblong yang sederhana, sepatu olahraga dan topi hitamnya.

Jon melihat ke arahku. Aku pun menyapanya. Ke mana saja selama ini, aku bertanya. Dia tertawa lebar. Dan menjabat tanganku dengan percaya diri. Ternyata dia ke Disneyland bersama keluarganya selama 12 hari. Lihat nggak fotonya di surat kabar kemarin, tanyanya. Oh ya tentu dong. Aku pun mengucapkan selamat padanya. Dia hanya beruntung (lucky) katanya. Setelah itu dia berbicara dengan seorang pengusaha kayu di ujung ruangan. Aku hanya melihat, Jon memang tidak luput dari gejala kejiwaan OKM (Orang Kaya Mendadak). Dia menjadi bintang besar hari itu.

Beberapa bulan telah berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jon di gereja. Hari-hariku yang biasa ‘ngopi dan ngobrol' bersama Jon. Sekarang kuisi dengan ‘ngopi dan membaca buku' di kedai kopi yang sama pula. Jon tidak pernah datang lagi untuk ‘ngopi'. Dia mungkin sedang terbang berkeliling dunia. Sibuk membuat daftar beli. Aku dengar dia berencana membeli rumah mewah dengan enam kamar. Membeli mobil baru untuk dirinya sendiri dan istrinya. Membeli vila mewah untuk berlibur. Jon ingin membeli ini ... membeli itu .... Entah dimana sekarang Jon berada.

Hmmm ... terasa nikmat kopi yang baru kuhirup. Selintas aku memikirkan peristiwa Jon temanku itu. Bukankah aku kadang berdoa kepada Tuhan, betapa indahnya hidupku jika aku menyimpan sejumlah uang yang cukup banyak di bank. Aku tidak perlu kuatir lagi kalau suatu hari aku nanti dipecat dari pekerjaanku. Aku dapat memberi uang belanja yang lebih pada istriku dan mengajaknya berbelanja di pusat perbelanjaan yang mewah. Aku dapat membelikan mainan kepada anakku setiap waktu. Aku tidak perlu harus bangun tidur jam enam pagi setiap hari untuk berangkat kerja.

Apakah hidupku yang demikian akan membahagiakan diriku? Aku akan merasa senang? Istriku akan bahagia? Keluargaku akan harmonis? Apakah hal itu saja yang kucari dalam hidup ini? Uang atau harta yang akan memuaskan hatiku? Sering kudengar, seberapa banyak uangmu atau hartamu yang kau peroleh, hal itu tidak akan pernah memuaskan hatimu.

Aku teringat dengan ayat Alkitab yang mengatakan, celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh pernghiburan. Lukas 6:24. Apakah salah kalau aku kaya? Bukankah kalau aku kaya aku dapat melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang ?

Tapi aku juga teringat dengan cerita Alkitab anak muda yang kaya, yang pada akhirnya Tuhan Yesus berkata, "sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalama Kerajaan Surga." Ah... aku teringat peristiwa Jon. Memang benar, jika aku berada di posisi Jon, apakah aku masih dapat mengasihi Tuhan lebih dari mengasihi uangku ? Bukankah Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya mengenai ornag muda yang kaya itu karena, orang muda itu tidak dapat meninggalkan uangnya. Hatinya telah direbut oleh uangnya, oleh keindahan material dunia yang dibeli dengan uangnya. Sehingga dia lebih mengasihi uangnya daripada Tuhan.

Kadang aku juga curiga, apakah aku berpikir demikian karena mungkin aku mempunyai perasaan iri hati kepada Jon ? Ah, tidak. Aku hanya membayangkan kalau diriku sekaya Jon sekarang ini. Apakah aku masih mengasihi Tuhan? Apakah aku dapat menggunakan uang itu untuk pekerjaan Tuhan, atau itu hanya lamunanku. Karena seringkali manusia berjanji, ‘aku ingin melayani Tuhan, aku ingin membiayai pekerjaan Tuhan dengan uangku', tetapi pada waktunya ketika uang ada ditangan, manusia mempunyai seribu satu alasan untuk tidak menepati janjinya.

Bisa jadi bukan? Jika Tuhan tidak memberikan berkatNya (uang) padaku, karena Dia tahu aku bakal lemah, melupakan Tuhan, meninggalkan Tuhan, ketika aku menerima berkat itu. Bukankah lebih baik aku dalam keadaan seperti ini yang tidak kekurangan maupun tidak berkelebihan tetapi aku masih mengasihi Tuhan dengan tulus. Keadaanku yang senantiasa membuatku tersadar akan berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidupku setiap hari.

Aku hanya kehilangan Jon. Kehilangan waktu kami mengobrol. Kehilangan rasa persahabatan kami. Entah kapan aku dapat bertemu dengan Jon kembali. Semoga Jon masih tetap mengutamakan Tuhan dalam hidupnya yang telah berubah itu.