Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 June 2009

Jendela

Pasangan keluarga muda baru saja pindah ke rumah barunya. Pagi berikutnya, saat mereka sarapan, wanita muda pasangan itu melihat tetangganya sedang menjemur cuciannya di rumah sebelah.

“Cuciannya masih belum bersih,” katanya.

“Ibu itu tidak kelihatannya tidak bisa mencuci dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih baik.”

Mendengar komentar itu suaminya hanya diam saja. Setiap pagi pada saat tetangganya menjemur cuciannya, wanita muda itu selalu memberikan komentar yang sama. Satu bulan kemudian, wanita muda itu terkejut karena melihat semua cucian tetangganya dalam keadaan bersih tergantung di tali jemuran, kemudian berkata pada suaminya, “Lihat! Ibu itu akhirnya belajar bagaimana mencuci dengan baik. Siapa ya yang telah mengajarinya?”

Suaminya berkata, “Hari ini saya bangun pagi-pagi dan membersihkan semua kaca jendela rumah kita.”

* * * * * *

Demikian juga kehidupan ini: Saat kita mengamati orang lain itu tergantung dari kebersihan “kaca jendela” tempat kita melihat. Sebelum kita melontarkan kritik, adalah lebih baik kalau kita merenung dahulu dan bertanya pada diri sendiri apakah kita siap melihat hal yang baik lebih dari sekedar mencari sesuatu di dalam diri orang lain untuk kita hakimi.

Wishing you a Happy Sunday… :)

27 June 2009

Sebelum Anda Bercerita Tentang Temanmu…

Seorang cendekiawan di Baghdad pada jaman kuno dikatakan ia orang yang sangat arif.

Pada suatu hari, seorang kawan bertemu dengan orang yang terpelajar ini dan mengatakan, “Apakah Anda sudah mendengar tentang kawan kita?”

“Tunggu sebentar,” jawab orang bijak itu. “Sebelum Anda melanjutkan, bisakah aku menanyakan beberapa hal? Apakah yang hendak Anda katakan sesuatu yang benar?”

“Aku tak tahu,” jawab teman itu.

“Baiklah,” kata orang bijak itu. “Anda mengatakan bahwa tidak tahu. Ijinkan aku menanyakan lebih lanjut.”

“Apakah yang Anda ingin ceritakan tentang sesuatu itu baik?”

Orang itu menjawab, “Tidak!”

Kalau begitu, pertanyaanku yang ketiga adalah, “Apa yang kamu ingin ceritakan itu ada manfaatnya bagiku?”

“Tidak ada,” kata teman itu.

Kemudian orang bijak itu mengatakan, “Bila Anda tidak tahu apakah itu benar, tidak baik dan tak ada manfaatnya untukku, lalu mengapa Anda ingin menceritakannya kepadaku?”

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas adalah sebelum Anda menceritakan sesuatu tentang orang lain, tanyakannya kepada diri Anda, apakah kabar itu dapat melalui ketiga macam ujian itu? Dengan kata lain, “Apakah berita yang ingin kuteruskan itu benar, baik dan manfaatnya untuk orang lain?”

Bila kabar itu dapat melalui tiga macam tes itu maka beritakanlah. Namun, bila tidak, lebih baik menutup mulutmu.

Bila Anda tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik tentang seseorang, maka tutuplah mulutmu!

Steve Goodier

Weekly Scripture – 1 Yohanes 2:15-17

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” - 1 Yohanes 2:15-17

26 June 2009

Sadar Hukum

Mazmur 119:7 : Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 27; Filipi 4; 2 Tawarikh 12-13

Sebagai anak-anak Tuhan yang baik, kita semua harus lulus menjadi “sarjana hukum”. Allah telah menjadikan “hukum” sebagai salah satu pelajaran terpenting yang harus dikuasai oleh umat-Nya. Mengapa pelajaran “hukum” sangat penting bagi orang Kristen? Karena Allah bekerja di dunia berdasarkan hukum yang Ia ciptakan.

Alam semesta dan kehidupan bekerja, bergerak dan diatur berdasarkan hukum. Pada waktu manusia mampu bekerja sesuai dan selaras dengan hukum, maka manusia akan mendapatkan hasil yang efektif. Hukum akan membantu kita menghasilkan hasil selama tindakan kita sesuai dan selaras dengan bunyi hukum tersebut. Hukum diberikan untuk kepentingan dan kebaikan manusia.

Hal yang penting untuk kita tahu ialah “Waktu kita melakukan suatu tindakan yang melawan hukum, maka hukum itu akan berbalik melawan kita”. Itu sebabnya Alkitab memberi kita perintah untuk mentaati hukum-hukum-Nya dengan setia. Karena pada saat kita melawan hukum, maka hukum itu akan menghancurkan kita. Tetapi sebaliknya, selama kita tidak melawan hukum, hukum tersebut tidak dapat menghancurkan kita. Melainkan hukum itu akan bekerja untuk kita dan membantu kita menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa.

Selama kita tidak melawan hukum gravitasi, kita tidak akan terluka. Selama kita tidak melawan hukum suatu negara, kita tidak akan dipenjara. Selama kita tidak melawan hukum-hukum kehidupan Allah yang terdapat di dalam Alkitab, maka hidup kita akan maksimal, penuh damai sejahtera dan bahagia. Problem terbesar dari sebagian besar masalah manusia ialah “ketaatan”.

Banyak orang yang hidupnya sudah hancur berantakan karena mereka melanggar hukum Allah sejak mereka muda. Beberapa orang terjebak ke dalam lingkaran kehancuran karena tidak tahu apa yang salah dengan hidup mereka. Karena itu, pelajarilah hukum-hukum Allah sejak kita muda. Biarlah hidup kita dituntun oleh-Nya melalui hukum-hukum tersebut sepanjang kita hidup, maka kita akan menikmati hidup yang maksimal hari ini dan hari-hari selanjutnya dalam hidup kita.

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Peer Pressure

Suatu hari aku dan ketiga temanku sepakat untuk coba-coba mempraktekkan sebuah pemikiran baru dari sebuah buku yang kami baca. Di buku itu di tulis, kalau kita dengan yakin, secara bersama-sama mempengaruhi seseorang tentang suatu hal, sekalipun itu adalah hal negatif, maka orang itu akan mempercayainya dengan sendirinya.

Dan orang pertama yang terbersit dalam pikiran kami adalah Joko. Ia adalah seorang primadona kampus. Ganteng, pintar, kaya dan begitu populer. Kebetulan Joko sedang lewat di depan perpustakaan.

Aku menghampirinya dan pura-pura memperhatikan wajahnya. Tiba-tiba aku bilang, “Kok hari ini kamu kelihatan pucat, seperti mau sakit deh.” Joko agak terkejut. Namun ia dengan yakin mengatakan, “Aku baik-baik saja kok. Kamu ini ada-ada saja.”

Orang kedua pun menghampirinya di dalam kamar mandi. Ia juga mengatakan hal yang sama. Kali ini Joko mulai menanggapinya dengan serius. Ia langsung memperhatikan wajahnya di cermin.

Orang ketiga membicarakan hal yang sama kepada Joko di kantin. Joko mulai terlihat was-was. Ia memesan juice jeruk dan meminum sebutir vitamin C yang diyakininya bisa memulihkan kondisinya. Joko benar-benar mulai menanggapi perkataan kami.

Orang keempat pun melakukan hal yang sama ketika bertemu dengan Joko di tempat parkir. Ia melakukannya dengan sangat baik pada bagian, “Vitamin C itu untuk mencegah, bukan mengobati. Sebaiknya kamu periksa deh.” Joko benar-benar menjadi kuatir.

Apa yang terjadi berikutnya? Keesokan harinya Joko tidak masuk dua hari. Ketika masuk, kami menanyakan kabarnya. Joko menjawab dengan yakin, “Kemarin aku benar-benar sakit. Terima kasih ya atas perhatiannya.” Kami tidak bisa menahan tawa. Lalu aku menjelaskan apa yang yang sebenarnya terjadi. Jawaban Joko benar-benar mengejutkan kami. “Lho, kalian ini bagaimana sih? Aku itu benar-benar sakit. Kemarin aku ke dokter dan di opname satu hari. Lalu hari ini saja aku paksakan masuk, padahal kondisinya masih belum sehat betul.”

Perkataan orang-orang disekitar kita bisa membuat kita gagal. Cara mereka berbicara, intensitas dan topiknya, bisa membuatmu meragukan kebenaran. Kamu harus berhati-hati dalam mendengar setiap masukan mereka.

25 June 2009

Tawar Hati

2 Korintus 4:1-2 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 26; Filipi 3; 2 Tawarikh 10-11

Banyak orang yang menjadi tawar hati (discouraged) dalam menghadapi kesulitan hidup. Kitab Amsal berkata bahwa bila kita tawar hati pada masa kesesakan, maka kecillah kekuatan kita. Tawar hati menghasilkan konsekuensi yang buruk:

Tawar hati memadamkan rasa antusias. Orang yang tawar hati akan kehilangan antusias terhadap hidupnya. Bila seseorang merasa antusias dengan pekerjaannya, maka ia akan menikmati apa yang dikerjakannya walaupun pekerjaannya berat dan melelahkan. Tetapi, bila rasa antusias itu hilang, maka pekerjaan atau hidupnya akan menjadi satu beban yang berat.

Tawar hati menurunkan kepercayaan diri. Tawar hati lambat laun menurunkan kreativitas dan produktivitas hidup kita, sehingga kita merasa bahwa hidup kita tidak seefektif yang kita inginkan. Akibatnya, kita mulai kehilangan rasa percaya diri.

Tawar hati menimbulkan keputusasaan. Tawar hati membunuh pengharapan yang ada dalam diri kita. Tanpa pengharapan, tidak seorang pun dapat hidup dan berfungsi dengan baik. Orang yang tidak dapat memiliki pengharapan dapat bernafas, tetapi emosi dan jiwanya mengalami proses kematian.

Singkirkan tawar hati dari hidup Anda, karena tidak ada seorang pun yang bisa mencapai kesuksesan bila ia memiliki hati yang tawar. Tawar hati hanya akan membawa Anda kepada kehancuran hidup, dan mematikan potensi besar yang tersimpan di dalam diri Anda.

Tawar hati adalah senjata ampuh yang dipakai iblis untuk mematikan potensi yang Tuhan berikan dalam hidup Anda.

Jawaban.com

Saya Belajar

Saya belajar apa yang saya anggap terbaik, bukan tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dariNya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya.

Saya belajar seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens 4 a reasons.

Saya belajar bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.

Saya belajar walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.

Saya belajar jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain, karena masing-masing kita berbeda.

Saya belajar bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.

Saya belajar bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan kita.

Saya belajar bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Saya belajar bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....

Saya belajar jangan menilai orang dari penampilannya saja, itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.

Saya belajar di saat susah lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.

Saya belajar bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya...

Saya belajar bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar hanya karena 2 orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai & setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, Mencintai & saling setia.

Saya belajar bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan & melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi... selanjutnya terserah mereka

24 June 2009

Target, Target dan Targett!!!

Wahyu 3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 25; Filipi 2; 1 Raja-Raja 13-14

Dalam kehidupan dunia kerja saat ini, tidak ada yang memiliki pekerjaan tanpa target. Semua bonus, penilaian efektivitas kerja, peningkatan jenjang karier, bahkan sampai besarnya gaji pokok yang diterima seorang karyawan seringkali dilihat dari pencapaiannya akan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Ketika saya masih bekerja di bank, setiap hari hal yang saya lakukan hanyalah mengejar target, target dan target. Karena dari sanalah insentif saya akan diperhitungkan. Jika sampai tidak mencapai target, tidak hanya saya yang akan mendapatkan penghasilan minimum di bulan itu, tapi saya juga akan dianggap menghampat pencapaian target tim secara keseluruhan karena secara tim perusahaan pun menetapkan targetnya tersendiri. Jadi setiap orang dalam departemen kami saling berhubungan sebagai tim, dan tidak bisa bekerja sendiri.

Saya teringat ketika target terasa sudah sangat menyesakkan karena sulitnya hal yang harus kami lakukan, pemimpin saya pada saat itu mengumpulkan kami sebagai satu tim dan menggambarkan tim kami sebagai sebuah pensil. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengerti jika kalian merasa target kita sepertinya sulit untuk dicapai. Tapi tidak ada yang kita tidak bisa bila kita mengerjakannya bersama-sama. Bayangkanlah tim kita sebagai sebuah pensil, dan target itu bagaikan seutas tali yang diikat di pensil ini. Apa yang akan terjadi bila pensil ini diikat oleh tali yang longgar? Pensil itu tentu akan jatuh bukan? Tapi kalau pensil ini diikat tali dengan kuat, semakin kuat ikatannya, semakin stabil dan fleksibel pensil ini. Kita bisa membawa pensil ini pergi ke manapun dengan seutas tali ini, sepanjang ikatannya kuat.

Demikian juga dengan target. Semakin ketat target yang harus kita capai, semakin tinggi dan semakin fleksibel tim kita untuk menghadapi target-target berikutnya. Setiap target akan membuat kita semakin handal dan profesional. Kedisiplinan akan lahir dari pencapaian kita akan target. Jadi, jangan pernah menyerah karena keberhasilan dan kemenangan sudah menanti di depan kita," ujarnya kala itu.

Saat ini, meskipun saya sudah bekerja di perusahaan lain, bila target pekerjaan begitu menekan saya, saya selalu teringat akan perkataan pemimpin saya saat itu. Dan semangat pun kembali bangkit. Demikian juga ketika saya melihat kepada kehidupan manusia. Seringkali kita menjalaninya hanya seperti air yang mengalir, terjadilah apa yang harus terjadi. Padahal Tuhan merindukan agar kita menjadi pemenang, penakluk dan pejuang kebenaran. Kita tidak bisa membiarkan hidup kita berjalan apa adanya, karena target kehidupan yang harus kita jalani dalam setiap detik, setiap menit kehidupan kita adalah memperjuangkan kebenaran firman Tuhan itu nyata melalui hidup kita.

Hidup tanpa target bagaikan prajurit yang menguasai semua tekhnik berperang tapi tidak pernah terjun ke medan perang. Ia tidak akan pernah menyandang gelar pahlawan ataupun pejuang sejati. Potensinya yang sejati sebagai seorang prajurit tidak akan keluar bila ia tidak terlatih di dalam peperangan yang sesungguhnya.

Jadilah penakluk dalam kehidupan, raih kemenangan dan jangan biarkan hidup Anda mengalir apa adanya.

Telur Columbus

Sepulang Columbus dari perjalanannya yang fenomenal “menemukan” benua Amerika, berbagai penghargaan dan penghormatan datang melimpahinya. Namanya tenar dan perjalanannya menjadi pembicaraan di mana-mana. Walaupun banyak orang yang mengakui pekerjaannya sebagai sebuah prestasi, ternyata tidak semua orang dapat mengapresiasi dan menerima penghargaan yang diberikan atas kepeloporan Columbus. Apapun motif yang ada di benaknya, mereka senantiasa mencela Columbus.

“Ah, kalau cuma melakukan perjalanan seperti itu aku juga bisa, cuma aku saja yang nggak mau,” kata mereka.

Mendengar kata-kata miring yang ditujukan kepadanya, Columbus mendatangi mereka sambil membawa sebutir telur. Katanya, “Kalau kamu memang bisa melakukan seperti yang aku lakukan, sekarang tolong kamu buat supaya telur ini dapat berdiri tegak pada ujungnya.”

Mendapat tantangan Columbus, orang-orang itu satu persatu mencoba memberdirikan telur itu. Semua mencoba dan semua gagal karena telur itu selalu terguling setiap dicoba untuk diletakkan pada posisi berdiri. Setelah berulang-ulang mencoba dan gagal, akhirnya mereka menyerah.

“Kalau kalian menyerah, maka aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana membuat telur itu dapat berdiri di meja,” kata Columbus. Maka diambilnya telur itu, lalu diletakkannya dengan keras di meja sehingga bagian bawahnya retak. Dan telur itupun dapat berdiri di atas meja.

Melihat telur dapat berdiri di meja tapi dilakukan dengan cara seperti itu, orang-orang kemudian protes. “Kalau caranya seperti itu, kami semua juga dapat membuat telur itu berdiri di atas meja.”

“Kalau kamu dapat melakukan seperti yang aku lakukan, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi..?”

***

Kalau tidak berhati-hati menjalani keseharian, kita bisa jatuh pada sikap seperti orang-orang yang mencela Columbus; meremehkan sebuah prestasi hanya karena menganggap diri kita bisa melakukan hal yang sama. Yang kadang kita lupa dan sering abaikan, “merasa bisa” dan “terbukti bisa” adalah dua hal yang berbeda.

Padahal, memuji dan menghargai dengan tulus kepeloporan orang lain justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian kualitas pribadi seseorang.(Sumardiono)

23 June 2009

Tulang Rusuk

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?

Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. Ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku!

Ada tertulis, “Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah..

“Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu… Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara..

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, ditempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas..

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.

Dara tersenyum manis, lalu berlalu.

“Good bye....”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

22 June 2009

Kepercayaan

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” – Ibrani 10:35

Kepercayaan berarti kepastian pikiran, keyakinan yang teguh, bisa diandalkan, bisa dipercayai. Kali ini kita akan mempelajari bersama sejumlah alasan mengapa kepercayaan bisa melemah dan bagaimana mencegah terjadinya kejatuhan.

1. Mengijinkan orang lain untuk memanipulasi Anda.
Kalau ini terjadi larilah menghindar seperti yang dilakukan Yusuf. “… Yusuf… lari keluar.” - Kej 39:13. Ambil langkah, menghindar dan pusatkan diri Anda dalam Kristus saja – motivasi datang dari dalam – dorongan semangat, kekuatan, atau keberanian datang dari luar – manipulasi datang dari musuh.

2. Menjadi terlalu lelah (kelelahan)
Kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan Anda merasa tertekan, kosong, kesepian, kehilangan kekuatan dan tidak berdaya jadi istirahatlah, tidurlah seperti yang dilakukan Elia, “… sesudah itu ia berbaring dan tidur…” – 1 Raj 19:5. Kadang-kadang berbaring dan tidur merupakan hal paling rohani yang dapat Anda lakukan.

3. Membanding-bandingkan
Membanding-bandingkan akan membawa Anda pada dosa untuk mengingini, seperti yang dilakukan oleh Daud, “…tampak kepadanya…seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.” – 2 Samuel 11:2 atau kritikan seperti yang dilakukan oleh Harun dan Miriam, “…sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bilangan 12:2).

4. Meragukan
Tomas tidak dapat melihat jadi dia meragukan - Yohanes 20:25

5. Membuat perencanaan sendiri untuk melakukan sesuatu
Jangan merespon seperti yang dilakukan Sara terhadap apa yang Allah firmankan ketika ia berkata, “…hampiri hambaku itu (Hagar); mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” (Kejadian 16:2) kalau itu yang Anda lakukan Anda akan menutup atau sama saja menyingkirkan, membuang pemberian terbaik yang Allah sedang persiapkan untuk diberikan kepada Anda. Terimalah rencana Allah untuk kehidupan Anda dan nantikanlah Dia untuk mewujudkannya. Meskipun visi itu lama penggenapannya… belajarlah untuk menanti dengan sabar.

6. Mengikuti dari kejauhan
Seperti Petrus (Markus 14:66-72). Dekatkanlah diri Anda senantiasa pada Allah dan terimalah keyakinan, keteguhan, kepercayaan yang datang karena pengenalan yang semakin mendalam akan kasih-Nya.

7. Mengikuti atau menyesuaikan diri dengan orang banyak
Seperti yang dilakukan oleh Yudas. Jadilah orang yang berbeda, Anda adalah unik berdasarkan rancangan Allah. Meskipun menghadapi 450 orang yang tidak benar, Elia (satu orang saja) bersama Allah, menjadi mayoritas demikian juga dengan Anda.

8. Fokus yang bercabang atau terbagi-bagi
Keyakinan, keteguhan, kepercayaan, ketahanan akan lenyap kalau fokus Anda bercabang atau terbagi-bagi. Satu komitmen yang terarah akan menjadikan keyakinan, keteguhan, kepercayaan atau ketahanan Anda tidak tergoyahkan. Karena itu jaga dan peliharalah persekutuan Anda dengan Bapa dan dengan keyakinan yang kuat tidak tergoyahkan itu menangkan pertandingan.

Keyakinan tidak akan direnggut dengan satu hempasan begitu saja, musuh akan menggerusnya sedikit demi sedikit sampai lenyap. Jalan keluarnya adalah tetap mengandalkan pada karya Salib yang telah diselesaikan oleh Yesus, dengan demikian saja keyakinan serta kepercayaan Anda akan menjadi semakin kuat dan membumbung tinggi.

Yogyakarta, 7 April 2008
Paulus Trimanto Wibowo