Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 February 2009

Pesan Dari Neraka

Suatu hari, ada seorang pemuda sedang tidur di kamarnya, dan dalam tidur itu dia bermimpi didatangi "Pesan Dari Neraka" berupa sehelai surat yang dikirim oleh sahabatnya. Si pemuda dengan ketakukan serta kebingungan membaca surat itu : Hallo teman, aku sekarang berada di neraka, yang mana sakit sekali. Di mana panas melebihi api waktu di bumi. Aku mengirim surat ini karena aku menganggap aku berada di sini itu semua karena kamu.

Kamu berkata engkau adalah teman dekatku setiap pagi siang dan malam kita bertemu kita bekerja bersama sama, kita belajar bersama sama kita tertawa bersama sama. Padahal kamu tahu mengenai kebenaran kamu tahu bahwa manusia harus lahir baru kamu mengetahui mengenai bahwa Yesus adalah juru selamat manusia tetapi kamu tidak pernah cerita mengenai itu kepadaku.

Kamu tahu bahwa neraka adalah nyata dan benar ada kamu tahu bahwa surga juga nyata dan benar ada dan kamu juga tahu bahwa upah dosa adalah maut yaitu neraka. Tetapi kamu tidak pernah bercerita tentang itu kepada aku. Sekarang aku berada di api siksaan yang mana aku akan tinggal selama-lamanya di sini..

Apakah ini yang kau anggap teman, sahabat? Apakah kau puas sementara aku di neraka, kau berada di surga. Apakah kau puas aku menangis, berteriak, tersiksa, tubuhku yang dihinggapi ulat-ulat, dan api yang panas, aku sungguh kecewa dan menyesal mempunyai teman seperti engkau.

Pemuda itu terbangun dan menangis tak henti hentinya dan dia sadar bahwa itu hanya mimpi malam saja. Kemudian dia berjanji bahwa besok pagi dia akan bersaksi tentang Yesus, surga, neraka dll kepada sahabatnya itu.

Pagi harinya, si pemuda berada di depan pintu rumah sahabatnya. Ayah sahabatnya pun keluar.

"Bisa saya bertemu dengan anak bapak?"

"Nak, bukankah engkau tahu bahwa anak saya telah meninggal tadi malam karena kecelakaan mobil."

19 February 2009

Potongan Kain Permadani

Ketika aku menghadap kepada Penciptaku pada hari pengadilan, aku bertelut bersama dengan jiwa-jiwa lain. Di depan kami terbentang kehidupan, laksana potongan-potongan kain dari sebuah selimut. Seorang malaikat duduk di depan kami masing-masing dan sedang menjahit potongan-potongan kain menjadi sebuah permadani yang merupakan kehidupan kami.

Namun ketika malaikatku mengambil potongan-potongan kain dari tumpukan, aku mengamati betapa compang-camping dan kosong potongan kainku itu. Kain itu dipenuhi oleh lubang-lubang yang besar. Setiap potongan diberi etiket dan merupakan sebagian dari kehidupanku yang penuh kesukaran, kepedihan dan pencobaan yang kuhadapi dalam hidup sehari-hariku. Akupun menyaksikan berbagai penderitaan yang aku harus alami dan ini merupakan lubang-lubang yang paling besar.

Aku memandang di sekitarku. Tidak ada yang memiliki potongan kain seperti milikku. Selain beberapa lubang-lubang kecil, perma-dani milik mereka diwarnai dengan warna-warna yang kaya serta corak yang cerah dari kejayaan duniawi. Aku memandang kehidupanku dan menjadi masgul. Malaikatku menjahit potongan-potongan kainku yang compang–camping menjadi satu, tipis menerawang dan kosong seperti ingin mengikat udara menjadi satu.

Akhirnya tiba saatnya untuk menunjukan masing-masing kehidupannya kepada umum, diangkat, diperiksa terhadap sinar matahari, diselidiki dengan teliti akan kebenarannya. Yang lain berdiri dan masing-masing mengangkat permadaninya untuk memperlihatkan bagaimana hidup mereka sebenarnya.

Tibalah giliranku. Malaikatku memandangku dan memberi tanda agar aku berdiri. Aku menundukan mataku ke arah lantai oleh karena merasa malu. Aku tak pernah menikmati kekayaan dunia. Aku telah mengalami kasih dan sukacita dalam hidupku. Namun, di samping itu, akupun mengalami pencobaan akan sakit penyakit dan kematian serta tuduhan-tuduhan yang palsu yang sangat menyakitkan. Seringkali aku harus memulai lagi dari permulaan. Aku seringkali harus bergumul dengan pencobaan untuk menyerah saja, namun entah bagaimana aku masih dapat mengumpulkan sisa kekuatan untuk mencoba lagi. Aku telah melewatkan malam demi malam yang sunyi-senyap di lututku dalam doa, memohon akan bimbingan dan pertolongan dalam hidupku. Aku seringkali dipermalukan oleh yang kujalani dengan tabah dan penuh kepedihan: Setiap kali aku menyerahkannya kepada Bapa surgawi dengan pengharapan bahwa aku tidak menjadi lebur dan larut di bawah penghukuman dari mereka yang dengan tidak adil menghakimiku.

Dan kini, aku harus menghadapi kebenaran. Hidupku ialah seperti itu, dan aku harus menerima sesuai dengan kenyataan. Aku berdiri dengan pelan dan mengangkat kombinasi potongan-potongan kainku yang menggambarkan kehidupanku terhadap sinar matahari. Suatu keheningan yang amat terasa memenuhi ruang itu. Aku melirik sekitarku dan semua orang memandangku dengan mata terbelalak.

Kemudian, aku mengamati permadaniku di depanku. Sinar matahari memenuhi lubang-lubang dan membentuk sebuah gambaran, Wajah dari Kristus. Kemudian Tuhanku berdiri di depanku dengan penuh kasih-sayang dan kehangatan dari dalam mata-Nya. Ia bersabda, ”Setiap kali engkau memberikan hidupmu kepada-Ku, maka itu menjadi hidup-Ku, penderitaan-Ku dan pergumulan-Ku, Setiap titik cahaya dalam hidupmu, bila engkau bersedia untuk meniadakan yang lain dan membiarkan Aku menyinarinya, maka terdapat lebih banyak dari diri-Ku dari pada dirimu.”

18 February 2009

You Are Here – Hillsong London

Tuduhan Palsu Terhadap Hamba Tuhan

Salah satu kisah yang amat menyedihkan serta menakutkan yang pernah kudengar adalah menyangkut seorang Penginjil yang masih muda. Ia baru berumur 21 tahun, semangat pelayanan terhadap Tuhan berapi-api, sangat bagus khotbahnya dan sangat sukses dalam memenangkan jiwa orang. Dia dicari-cari oleh banyak jemaat lokal. Ia telah berkhotbah di pelbagai KKR besar dan tidak mengherankan bahwa dalam KKR nasional, ia akan menjadi pembicara yang utamanya.

Meskipun ia belum tamat dari sekolah Alkitab, ia merupakan seorang pemuda yang menjadi anak-asuh dari evangelis inter-national Sammy Tippit yang amat terkenal, karena pemuda ini amat disukai dan bijak. Walaupun ia belum mempunyai seorang pacar wanita yang tetap, ia biasa berkencan di sekolah Alkitab. Secara rohani, ia seorang pemuda yang matang dan hati-hati. Namun, kadang-kadang, ia bisa terlalu naif dan lugu.

Pada malam pertama dari KKR itu, ia menjadi ketua bagian Pelayanan Konseling dalam suatu ruangan yang besar di belakang ruang studi pendeta. Seorang gadis yang cantik bertanya kepadanya apakah ia dapat berbicara secara pribadi dengan dia. Ia berusaha untuk menyerah-kan hal ini kepada rekan lainnya. Namun, ketika gadis itu agak memaksa, ia mengatakan bahwa ia harus menunggu sampai ia selesai dengan yang lain. Ketika pertemuan selesai satu jam kemudian dan semua konselor sudah pulang, ia berada sendirian dengan gadis itu.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba gadis itu keluar dari kamar seraya berteriak, “Dia mengganggu saya! Ia ingin memperkosa -ku!!”

Malam itu juga pendeta tuan rumah disertai beberapa hamba Tuhan yang merencanakan KKR itu berkumpul menghadapkan pengkhotbah muda itu dengan si gadis dan meminta klarifikasi. Ia dengan tegas menolak tuduhan gadis itu, namun ia tidak mempunyai seorang saksipun. Gadis itu sendiri agaknya mempunyai nama baik di dalam jemaat dan tidak ada alasan apapun untuk tidak mempercayai pernyataannya.

“Apa yang sesungguhnya terjadi dalam ruang itu?” tanya hamba Tuhan. Pemuda itu menjawab, “Bila aku menceritakan kepadamu, itu berarti bahwa saya menuduh seseorang di belakangnya, sama seperti hal itu terjadi pada diriku saat ini. Aku hanya minta, agar aku boleh dihadapkan kepada orang yang menuduh aku”

Para pendeta setuju bahwa mereka akan meminta gadis itu untuk dikonfrontasikan dengan pemuda yang bersangkutan dengan disaksikan oleh semua hamba Tuhan yang hadir dalam KKR itu. Dua malam kemudian, gadis itu datang dengan disertai kedua orang tuanya dalam pertemuan yang amat pribadi. Pemimpin para hamba Tuhan bertanya kepada gadis itu, apakah ia mau mengulangi lagi pernyataan tentang apa yang terjadi di dalam kamar itu. “Ia sudah menceritakan segala sesuatu apa yang terjadi,” kata ayahnya dengan geram, sedangkan ibunya mengamininya sambil melirik kepada pemuda itu.

“Nah, maukah Anda menceritakan versimu tentang apa yang terjadi di dalam kamar itu, nak?”, tanya hamba Tuhan kepada pemuda itu.

“Tidak, pak”, menjawab pemuda itu. “Itu tidak ada gunanya. Hanya dia dan saya mengetahui kebenarannya dan aku tak dapat membela diriku sendiri. Hanya aku ingin mengatakan kepadanya, Cindy, Anda tahu apa yang terjadi dan apa yang tak terjadi dalam kamar itu. Bila Anda tidak mengatakan kebenarannya, aku akan dicap sebagai seseorang yang munafik dan aku tidak pernah dapat berkhotbah lagi. Hal ini akan merusak reputasiku, reputasi jemaat ini bahkan eksistensi Tuhan. Bila aku memang berbuat seperti apa yang Anda katakan, aku layak menerimanya, namun kita berdua mengetahui, bahwa hal itu tidak benar. Aku memintamu dengan sungguh-sungguh dan di dalam nama Kristus, untuk menyatakan kebenarannya.”

Sesuatu keheningan yang amat dalam meliputi pertemuan itu, ketika para hamba Tuhan dan kedua orang tuanya menyaksikan bagaimana wajah gadis itu berubah dan akhirnya air matanya menetes dengan deras dari wajahnya. “Aku berdusta,” katanya dengan tenang, “Aku meminta maaf. Aku berdusta. Ia sama sekali tidak pernah menggangguku, sebaliknya akulah yang menggodanya. Dan ketika ia menolakku, aku begitu malu dan gusar, sehingga aku mengarang cerita itu. Aku mohon maaf!”

Jerry Jenkins, Hedges, 1989 - Higherpraise.com

17 February 2009

Ketika Kamu Mengira Aku Tak Melihat

Sebuah pesan buat setiap orangtua untuk dibaca, karena anak-anak Anda mengamati dan melakukan seperti yang Anda perbuat, dan tidak seperti apa yang Anda katakan.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau menggantung lukisanku yang pertama di almari es, dan aku langsung ingin melukis sebuah lukisan lagi.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau memberikan makan kepada seekor kucing yang tersesat dan aku telah belajar bahwa ramah terhadap binatang itu sesuatu yang baik.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau membuat kue kesukaanku dan aku belajar bahwa sesuatu yang sepele dapat menjadi sesuatu yang penting di dalam hidup ini.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku mendengar Engkau berdoa dan akupun tahu bahwa ada Tuhan kepada siapa aku selalu dapat berbicara dan belajar untuk mempercayai-Nya.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau membuatkan makanan untuk seorang kawan yang sedang sakit dan aku belajar kita semua seharusnya saling menolong dan peduli.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku merasakan ciumanmu selamat tidur dan aku merasa bahwa aku dikasihi dan merasa aman.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bagaimana Engkau mengurus rumah tangga berikut semua yang berada di dalamnya dan aku belajar bahwa kita harus mengelola apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita.

Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bagaimana engkau melakukan tanggung jawabmu, kendati tubuhmu kurang sehat dan aku belajar, harus bertanggung jawab bila aku kelak dewasa.

Ketika engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan engkau mengeluarkan air mata dan aku belajar bahwa kadang-kadang ada sesuatu yang menyakiti kita, namun tidak mengapa bila kita harus menangis.

Ketika engkau mengira aku tidak melihat, aku memandangmu dan ingin mengatakan, “Terima kasih untuk segala sesuatu yang aku telah melihat ketika engkau mengira aku tidak memperhatikannya.

Setiap dari kita -sebagai orangtua, kakek, nenek kawan- mempengaruhi hidup seorang anak!

16 February 2009

Jembatan Terbesar

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 47; Kisah Para Rasul 19; Imamat 4-5

Kelihatannya tidak bisa dipercaya bahwa jembatan alam terbesar di dunia ini benar-benar ada karena proses alami selama jutaan tahun, tetapi itulah kenyataannya. Jembatan alam terbesar ini pertama kali terlihat tahun 1909 oleh para penjelajah di selatan negara bagian Utah, AS. Jembatan itu dijadikan monumen nasional. Monumen alam itu dijuluki Jembatan Pelangi, dengan bentangan jembatan berupa bebatuan. Jembatan ini merupakan jembatan alam terbesar, terbentuk selama jutaan tahun ketika Sungai Bridge mengukir jalannya melalui batuan pasir yang lembut, dan akhirnya menuju Danau Powell yang tidak jauh dari situ.

Oleh karena dosa, hubungan antara Allah dan manusia terputus. Dosa telah menciptakan jurang menganga yang tak terseberangi. Hal itu digambarkan dengan jelas oleh perumpamaan Lazarus dan orang kaya. Orang kaya itu memohon bapa Abraham agar Lazarus mengulurkan tangan untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering.

Namun kita bersyukur, dosa yang telah menciptakan jurang menganga dan tak terseberangi oleh manusia itu akhirnya dapat kita seberangi melalui jembatan yang tidak lain jelmaan Allah sendiri, Tuhan Yesus. Marilah kita senantiasa bersyukur atas karunia keselamatan dalam Tuhan Yesus.

Tuhan tidak menuntut kita sempurna. Tuhan hanya menghendaki roh yang mau diajar, segera mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Jawaban.com

Elang, Kelelawar, Lebah

  • Elang.
    Bila Anda menempatkan seekor elang dalam satu sangkar berukuran 1.80 x 2.40 m2 sedangkan atasnya sama sekali terbuka, burung itu, walaupun mampu terbang, akan tetap tinggal sebagai burung dalam kurungan. Pasalnya adalah bahwa seekor elang kalau akan mulai terbang dari atas tanah, ia akan berlari dulu sejauh 3.00 sampai 5.00 meter, sebelum ia terbang ke angkasa.
    Tanpa ruang untuk berlari, yang memang menjadi kebiasaannya, ia bahkan tidak akan berusaha sedikitpun untuk terbang, melainkan tetap menjadi tawanan seumur hidupnya dalam suatu sangkar tanpa tutup di atasnya.
  • Kelelawar.
    Kelelawar yang biasa berterbangan kian-kemari di malam hari. Ia merupakan seekor binatang cekatan dan gesit. Namun iapun tak dapat terbang dari suatu permukaan yang rata. Bila ia ditempatkan di lantai atau tanah yang datar, satu-satunya yang ia dapat lakukan adalah menyeret kakinya bila bergerak, sama sekali tak berdaya, dan mungkin juga mengalami kesakitan, sampai ia mencapai suatu tempat dengan ketinggian di mana ia dapat take-off ke udara dengan cepat.
  • Lebah.
    Seekor tawon besar, bila di masukkan dalam sebuah gelas minum yang terbuka dari atas, akan selalu berada di tempat yang sama sampai dia mati, kecuali bila dikeluarkan dari tempat itu. Ia tidak pernah menyadari bahwa bagian atas yang terbuka itu merupakan jalan keluar menuju kebebasan. Sebaliknya, ia selalu mencari jalan keluarnya melalui bagian samping, dekat dengan alasnya. Ia selalu berusaha untuk mencari jalan keluar yang tak pernah ada, sehingga ia akhirnya menghancurkan diri sendiri.

Manusia di dalam banyak hal, manusia seperti elang, kelelawar atau lebah. Kita senantiasa bergumul dengan masalah-masalah dan keputus-asaan kita, dan tidak pernah sadar bahwa apa yang kita perlukan adalah hanya menengadah ke atas.

Sumber : Ellen Klinke

15 February 2009

Humor : Pramugari Baru

Seorang kapten penerbang sedang menerima lamaran kerja seorang pramugari. Baginya sudah djelas bahwa pramugari itu belum pernah melakukan banyak perjalanan. Bahkan iapun mengaku bahwa baru pertama kali ia menginap di luar rumahnya.!

Nah, dengan demikian kapten penerbang itu menunjukan pramugari itu tempat-tempat yang terbaik bagi para pramugari untuk belanja, makan dan tempat menginap.

Esok harinya, ketika penerbang sedang mempersiapkan anak buahnya untuk memulai tugas rutinnya, ia diberi tahu bahwa pramugari yang baru tidak muncul. Karena ia tahu, di mana pramugari itu menginap beserta nomor kamarnya, ia menelponnya dan menanyakan mengapa ia tidak datang bekerja.

Pramugari itu menjawab dengan disertai tangisan bahwa ia tidak dapat keluar dari kamarnya. Kaptennya bertanya, ”Mengapa kamu tidak bisa keluar dari kamarmu?”

Anak perempuan itu menjawab sambil menangis, “Ada tiga pintu dalam kamarnya. Yang satu adalah pintu kamar mandi. Yang kedua adalah pintu almari dan yang ketiga ada tandanya: Jangan Menganggu!” (Don’t disturb)

14 February 2009

Kasih : Kuasa Pendorong

Yohanes 15:12-13 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 45; Kisah Para Rasul 17; Keluaran 39-40

Kasih. Itulah perintah pertama dan terutama yang diberikan Yesus kepada kita. Namun terlampau banyak orang percaya yang lalai untuk mematuhinya. Saya sedang membicarakan orang percaya yang dapat mengutip ayat dengan lancarnya bahkan mungkin menyebut nama Yesus 35 atau 40 kali sehari, namun mereka kasar dan tidak peka terhadap kebutuhan dari teman-teman dan keluarga mereka. Mereka sedemikian sibuk ‘melayani Tuhan' sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk melayani orang lain. Pertengkaran menjadi bagian dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Anda mungkin telah diselamatkan 45 tahun; Anda mungkin berkata-kata dengan bahasa roh sepanjang hari; tetapi jika Anda menyimpan perselisihan di hati Anda dan Anda tidak hidup menurut perintah kasih, maka hal-hal rohani merupakan kebodohan bagi Anda.

Bila Anda hidup seperti itu, nama Yesus tidak akan ada artinya bagi Anda. Iman takkan berhasil karena Alkitab menyatakan bahwa iman bekerja oleh kasih. Malah sebenarnya, tiada karunia Roh yang akan bekerja jika Anda tidak mempunyai kasih (lihat 1 Korintus 13).

Maukah Anda melihat kuasa Tuhan yang luar biasa disalurkan melalui hidup Anda? Kalau demikian, mulailah hidup dengan berjalan atas perintah kasih itu. Mulailah mengasihi orang-orang di sekitar Anda.

Kasih adalah kuasa pendorong. Kuasa Tuhan takkan bekerja tanpa kasih. Itulah sebabnya kita menyaksikan sedemikian banyak kegagalan kuasa atau kelemahan dalam Tubuh Kristus. Mulai hari ini, Anda dan saya dapat mengubah kegagalan itu. Kita yang memutuskan dan mengijinkan agar firman Tuhan tinggal dengan limpahnya dalam diri setiap kita. Kita dapat menetapkan hati kita untuk terus memelihara perintah Yesus dan menyebut nama-Nya dengan keyakinan dan penuh kuasa. Dan terutama sekali kita dapat mulai saling mengasihi.

Sesudah itu kita benar-benar akan menyaksikan kuasa Tuhan mulai mengalir.

Ketika Anda memutuskan untuk hidup dalam kasih, iman dan pengharapan akan senantiasa bangkit dalam hidup Anda.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Matius 6:7

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. - Matius 6:7

Humor: Mati Mendadak

Sebuah kelompok belajar Alkitab sedang mendiskusikan kemungkinan untuk mati mendadak.

"Kita semua pasti mati suatu hari nanti," kata pemimpin diskusi, "dan tak satu pun dari kita tahu kapan itu terjadi, tapi jika seandainya tahu, kita pasti akan benar-benar menyiapkan diri sebelum saat itu terjadi." Semua orang menganggukkan kepala tanda setuju.

"Apa yang kamu lakukan jika kamu tahu kamu hanya punya empat minggu sebelum mati, sebelum dihakimi?" tanya pemimpin diskusi.

"Selama empat minggu itu, aku akan menginjili orang-orang belum percaya yang ada di komunitasku, " kata seorang pria.

"Mulia sekali," kata si pemimpin. Semua orang pun setuju.

"Selama empat minggu, aku akan mengabdikan sisa hidupku untuk melayani keluarga, gereja, dan teman-temanku dengan lebih sungguh-sungguh", kata seorang wanita dengan antusias.

"Bagus sekali!" kata si pemimpin. Semua orang pun setuju.

Seorang pria di bagian belakang akhirnya berkata dengan keras. "Selama empat minggu itu, aku akan berkeliling Amerika dengan ibu mertuaku."

Semua orang bingung. "Mengapa kamu ingin melakukan hal itu?" tanya si pemimpin.

"Karena," kata pria itu tersenyum menyindir, "saat itu akan menjadi empat minggu terlama dalam hidupku."