Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

27 January 2009

Bernyanyi Atau Merangkak

2 Petrus 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 27; Matius 27; Keluaran 3-4

Kisah ini berlangsung di Amerika ketika seorang pengembara tiba di tepi Sungai Mississipi, ia tidak menemukan jembatan. Untunglah saat itu musim dingin dan permukaan sungai besar itu membeku. Namun, pengembara itu ragu-ragu untuk melintasinya karena ia tidak tahu ketebalan lapisan es itu. Akhirnya, dengan sangat berhati-hati, ia merangkak di atasnya sampai ke bagian tengah.

Saat itulah ia mendengar suara nyanyian di belakangnya. Dengan hati-hati ia menoleh, dan ternyata dari tepi sungai yang berkabut, muncul pengembara lain, mengendarai kereta kuda penuh muatan. Kedua orang itu melintasi lapisan es yang sama, namun sampai ke seberang dengan cara yang berbeda. Mengapa demikian? Yang satu meragukan ketebalan dan kekuatan lapisan es itu; yang lain mengenalinya dengan baik.

Kira-kira seperti itu juga perjalanan iman kita. Kita memiliki obyek atau landasan iman yang sama: Tuhan Yesus Kristus. Namun, taraf pengenalan kita akan Dia berbeda-beda, dan hal itulah yang menentukan perjalanan iman kita masing-masing. Karena itulah firman Tuhan mendorong kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan Dia.

Tanpa pengenalan yang memadai akan Dia, kita memang bisa saja sampai ke seberang. Namun, kita tidak bisa menikmati perjalanan sambil bernyanyi-nyanyi; kita hanya bisa merangkak!

Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita tahu cara terbaik mengerti kehidupan.

Jawaban.com

Egois

Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, “Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu”.

Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.

Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi. Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil. Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.

Tuhan berkata, “Kamu sudah melihat NERAKA”

Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.

Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata “Apa yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka terlihat lebih bergembira?”

Tuhan kemudian menjelaskan, “Sangat sederhana, yang dibutuhkan hanyalah satu sifat baik”

"Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri

26 January 2009

Humor : Wawancara Kerja

Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untuk satu lowongan di kantornya. Setelah membaca seluruh berkas lamaran yang masuk, dia menemukan 4 orang calon yang cocok. Dia memutuskan memanggil ke-4 orang itu dan menanyakan 1 pertanyaan saja. Jawaban mereka akan menjadi penentu apakah akan diterima atau tidak.

Harinya tiba dan ke-4 orang itu sudah duduk rapi di ruangan interview. Si Manager lalau mengajukan 1 pertanyaan: setahu Anda, apa yang bergerak paling cepat?

Kandidat I menjawab, "PIKIRAN. Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang-ancang. Tiba-tiba saja dia sudah ada. Pikiran adalah yang bergerak paling cepat yang saya tahu".

"Jawaban yang sangat bagus", sahut si Manager. "Kalau menurut Anda?", tanyanya ke kandidat II.

"Hm....KEJAPAN MATA! Datangnya tidak bisa diperkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap. Kejapan mata adalah yang bergerak paling cepat kalau menurut saya"

"Bagus sekali! Dan memang ada ungkapan 'sekejap mata' untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi".

Si manager berpaling ke kandidat III, yang kelihatan berpikir keras. "NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang saya ketahui", jawabnya, "Saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang di taman depan langsung saat itu juga menyala"

Si manager terkesan dengan jawaban kandidat III. "Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya", pujinya. Dilirik oleh sang manager, kandidat IV menjawab, "Sudah jelas bahwa yang paling cepat itu adalah MENCRET"

"APA???!!!", seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.

"Oh saya bisa menjelaskannya", kata si kandidat. "Dua hari lalu kan perut saya mendadak mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi sebelum saya sempat BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA atau MENYALAKAN LAMPU, saya sudah berak di celana"

Tentu saja kandidat terakhir yang diterima...

25 January 2009

Encim Tung Khe & Si Pao-Pao

Semua orang memanggil nenek tua itu Encim Tung Khe.  Padahal nama aslinya adalah Oei Lie Cen dan Tung Khe sendiri adalah nama almarhum suaminya, Enchek Tung Khe. ‘Cim Tung Khe masih keliatan sangat sehat di usianya yang ke 74tahun. Padahal dia sudah punya 5orang cucu hasil pernikahan kedua orang anak laki-lakinya yang masing-masihg tinggal bersama keluarganya di luar negri. Ingatannya masih terbilang sangat bagus dan bahkan tak pikun sama sekali. Hanya saja pendengarannya sedikit agak terganggu. Maka dari itu anak sulungnya memberikan dia alat bantu pendengaran yang setiap saat selalu menempel di telinganya.

Seingat saya, waktu saya masih kecil tiap lewat di depan rumahnya, saya pasti menyapa dia (meskipun hanya sekedar basa-basi saja..) dan dia pasti akan selalu memanggil dan memberikan kue-kue jajan pasar, ataupun uang 100-500perak. Dia adalah nenek yang paling ramah dan paling disegani disekitaran tempat tinggal saya. Hampir setiap perayaan Idul Fitri dan Imlek dia selalu membagi-bagikan kain baju ataupun dodol ke tetangga-tetangga yang dianggapnya perlu tuk diberi.

Suaminya meninggal tahun 1996 karena sakit diabetes yang sudah menahun menjangkiti tubuhnya. Akhirnya ‘cim Tung Khe memutuskan tuk tinggal sendiri tanpa mau ikut dengan anak-anaknya yang sudah menikah. “..embung ngaganggu rumah tangga barudak…(Enggak mau menggaggu rumah tangga anak-anak)” itu katanya.

Cim Tung Khe selalu mengisi hari-harinya dengan beribadah di gereja. Memang daridulu keluarganya adalah keluarga yang taat beragama. Dirumahnya ia hanya tinggal dengan 2 orang pembantu perempuan dan seekor anjing betina bernama Pao-Pao.

Pao-Pao adalah seekor anjing blasteran Pomerian dan anjing kampung, namun rupa dan bentuknya lebih banyak ke anjing pom. Pao-Pao inilah teman satu-satunya tempat dimana biasanya dia berkeluh kesah dan berbagi cerita hari tuanya.

Setiap pagi ‘cim Tung Khe selalu berjalan keliling dengan Pao-pao sambil menyapa para tentangga yang dia temui. Jalannya tidak jauh, hanya satu atau dua blok saja. Lumayanlah tuk perempuan seumuran dia. Kira-kira jam 6.30an dia selalu menyapu halaman rumahnya ditemani oleh si Pao-Pao yang dengan setia duduk di teras rumah menunggu teman tuanya selesai menyapu. Setelah selesai, biasanya cim Tung Khe selalu terlihat bermain-main sambil menyisir dan merapikan bulu si Pao-Pao sambil sesekali “mengobrol” dengannya. Kadang terdengar alunan lagu-lagu gospel dari dalam rumahnya. Jika sore menjelang, cim Tung Khe selalu terlihat di depan teras rumahnya duduk di kursi goyang sambil ditemani Pao-Pao yang kadang-kadang suka terlihat duduk di pangkuannya cim Tung Khe.

Ada kalanya cim Tung Khe jalan kaki pergi ke gereja yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumahnya dan si Pao-Pao ini ditinggalkan sendirian dirumah, ditemani kedua orang pembantu rumah tangga si encim. Dan kalau hari itu tiba biasanya si Pao-Pao enggak mau masuk rumah dan selalu terlihat diam di teras rumah menunggu si encim pulang. Kalau sudah begini, biasanya anak-anak sekitar yang liat si Pao-Pao lagi diam sendirian pasti langsung menyoraki,”Yee Pao-Pao ceurik….puas-puas…si encim mah keur ulin ka Cina ‘da (Yee Pao-Pao nangis…puas-puas…si encim tuh lagi liburan ke Cina)”. Dan akhirnya memang meneteslah air matanya si Pao-Pao itu. Tapi ketika si ‘cim Tung Khe pulang, Pao-Pao biasanya langsung bergegas menghampiri sahabat tuanya itu sambil melompat-lompat dan mengibaskan ekornya kesana kemari. ‘Cim Tung Khe biasanya tahu kalau sahabatnya itu baru selesai mengangis. Biasanya dia langsung mengelus-ngelus dan menciumi Pao-Pao sampai tenang kembali.

Pada suatu hari, tidak biasanya si encim tak tampak jalan pagi ataupun menyapu halaman rumahnya. Pao-Pao pun tak tampak keluar dari pintu rumah si encim. Tetangga terdekat sebelah rumahnya pun akhirnya bertanya pada salah seorang pembantunya. Pembantunya bilang kalau ‘cim Tung Khe sedang sakit. Akhirnya berita tersebar di sekitar lingkungan tetangga dan hal ini menyebabkan simpati warga yang mengenalnya secara dekat. Maklumlah, nenek tua ini memang sangat akrab sekali dengan pada tetangganya. Saya dan keluarga pun akhirnya menjenguk ‘cim Tung Khe ini.

Ketika saya masuk ke dalam kamarnya, rupanya cim Tung Khe sedang terbaring lemah tak berdaya dan ditemani oleh si kecil Pao-Pao yang menunggu si encim sampai-sampai tidak mau makan ataupun minum sama sekali. Begitulah kata dua orang pembantunya. Suhu badan cim Tung Khe tinggi sekali dan itu membuat kami khawatir. Salah seorang tetangga kami akhirnya menghubungi salah seorang anggota keluarganya. Kami tidak bisa menghubungi anak-anaknya Karena mereka berdua tinggal diluar negri dan kami memang tidak tau alamat ataupun contact number nya.

‘Cim Tung Khe pun akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit dan harus segera masuk ke ruangan ICU tuk mendapatkan perawatan intensif.

Malang bagi si kecil Pao-Pao.. jangan kan tuk menemani sahabat tuanya. Bahkan untuk menginjakkan kaki di rumah sakit saja dia tidak diperbolehkan. Selama cim Tung Khe dirumah sakit, Pao-Pao diurus oleh kedua pembantu si encim. Mereka pun tidak bisa selamanya menemani Pao-Pao karena mereka harus bergantian ke rumah sakit menjaga majikannya. Pao-Pao terlihat sangat lesu dan tak bergairah. Setiap hari dia hanya diam termenung didepan rumah si encim, menunggu si encim pulang.

Saya pun tersentuh melihat si Pao-pao ini. Saya akhirnya mencoba tuk membawa dia ke rumah dan diurus semampunya. Badannya sangat kurus dan lemah tak selincah biasanya. Ketika saya tanyakan ke pembantu si encim, rupanya Pao-Pao sudah 2 hari tidak mau makan. Dia hanya mau minum susu sapi saja. Kontan saat itu saya langsung memberinya NUTRI PLUS GEL dan coba merangsangnya dengan dogfood kering yang dibasahkan air rebusan daging babi dicampur dengan nasi putih sedikit. Pao-Pao pun mau makan meskipun porsinya masih sedikit. Tapi setelah selesai makan, dia langsung berlari ke gerbang rumah dan minta tuk dibukakan pintu. Kami tentu saja tidak mengijinkan, karena kami pikir dia akan kabur dari rumah.

Kami tidak memperhatikan dia sampai kira-kira jam 18, rupanya Pao-Pao masih saja duduk didepan pintu minta dibukakan pintu gerbang. Tentu saja kami sekeluarga jadi kaget dibuatnya dan bertanya-tanya, kira-kira apa yang diinginkan si Pao-Pao ini. Akhirnya ayah saya memutuskan tuk membawa dia keluar sambil memasangkan tali di leher Pao-Pao dan mengikuti kemana si Pao-Pao akan menuju. Saya pun mengikutinya berdua bersama Bulldog kesayangan saya.

Pao-Pao rupanya menyeret kami ke rumah si encim. Ketika tali lehernya dibuka dia segera duduk di tempat dia biasa mengunggu si encim pulang. Saat itu saya dan ayah saya sampai terharu melihat kesetiaan seekor anjing kecil yang mungkin bagi sebagian orang dia hanyalah binatang yang tanpa arti.

Keesokan harinya, pagi-pagi pukul 7 saya mengangkat Pao-Pao kembali kerumah tuk disuapi makanan dan memberinya susu khusus tuk Puppies. Setelah itu dia segera pulang dengan sendirinya ke tempat biasa dia duduk menunggu sahabatnya pulang. Dan begitu juga dengan sore hari kira-kira pukul 15. Begitulah setiap harinya selama 4hari dia bolak-balik diangkat kerumah saya dan pulang sendiri kerumahnya.

Di hari keempat si encim dirumah sakit, tiba-tiba saya ditelepon tuk segera membawa Pao-Pao kerumah sakit tempat si encim dirawat. Saya berdua bersama ayah saya segera membawa Pao-Pao ke ruang LIONS CLUBS rumah sakit Imanuel Bandung. Ketika tiba di depan rumah sakit, satpam melarang kami masuk membawa Pao-Pao. Saya pun segera menghubungi teman saya, yang kebetulan menjadi dokter disana. Setelah saya menjelaskan duduk perkaranya, kamipun diijinkan masuk dengan syarat “tidak boleh terlihat” oleh siapapun.

Singkat cerita kami berhasil masuk ke kamar 94, menemui cim Tung Khe. Dia terlihat sangat lesu dan menyedihkan sekali. Tampak pula kedua anak dan kedua menantunya yang menjaga bergiliran.

Pao-Pao terlihat senang sekali bisa menemui sahabat tuanya itu. Ekornya dikibaskan kesana kemari dan dia menjilati wajah si encim ketika saya mengangkatnya ke pangkuan si encim. Begitu pula dengan si encim. Senyum kecil terlihat di wajah lemas cim Tung Khe ini.

Sampai kira-kira 1 jam Pao-Pao menjenguk sahabat nya itu, dia tetap menolak tuk digendong. Tangan saya sempat nyaris jadi sabetan giginya. Padahal sebelumnya Pao-Pao tidak pernah menggigit orang sama sekali. Si encim pun bilang ke sahabatnya itu dengan bahasa mandarin. Kira-kira beginilah artinya, ”..Pao-Pao cepat pulang! Sebentar lagi saya juga akan pulang!”.

Pao-Pao pun mau saya angkat pulang kerumah saya. Dan ketika tiba dirumah, dia segera berlari ke rumah si encim yang jaraknya kira-kira 50 meter dari rumah saya, lalu seperti biasanya dia menunggu si encim di pojok biasa sampai pagi menjelang.

Malamnya, dihari yang sama waktu Pao-Pao menjenguk sahabat tuanya, saya mendapat kabar dari tetangga kalau cim Tung Khe telah benar-benar “pulang”. Kami sekeluarga sebenarnya tidak begitu kaget dengan kejadian ini karena kami memang sudah punya firasat tak enak.

Keesokan paginya saya seperti biasanya menjemput Pao-Pao kecil tuk diberi makan. Kata tetangga sebelah rumahnya si encim, Pao-Pao sepanjang malam melolong tanpa henti. Suaranya seperti tangisan yang menyayat hati. Begitulah kata tetangga sebelah rumahnya. Seperti biasanya saya segera membawa Pao-Pao kerumah tuk disuapi. Namun seperti biasanya pula, setiap selesai makan dan minum, dia langsung pulang menunggu si encim di pojok rumahnya.

Kini telah 2 bulan setelah hari pemakaman ‘cim Tung Khe. Saya dan keluarga masih mengurus Pao-Pao. Namun rupanya Pao-Pao ini tidak pernah menganggap rumah kami ini adalah rumahnya juga. Sampai sekarang dia masih saja selalu diam menunggu di depan rumah ‘cim Tung Khe. Padahal rumah itu telah kosong tak berpenghuni dan telah tertempel papan bertuliskan “DIJUAL”.

Teman-teman, ini adalah benar-benar kisah nyata yang terjadi di kehidupan kita. Pao-Pao telah saya adopsi dan saya paksa tuk tinggal disini berteman dengan bulldog-bulldog dan Collie supaya dia bisa belajar melupakan sahabatnya, meski saya tahu bahwa hal itu sangatlah mustahil. Soalnya sampai sekarang dia masih suka kabur ke rumah lamanya….

DOGs ARE ABSOLUTELY A TRUE FRIEND…..

24 January 2009

Weekly Scripture – Amsal 14:30

"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." - Amsal 14:30

Sepotong Kue

23 January 2009

Stay Foolish Stay Hungry

Pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.

Hari ini akan saya ceritakan tiga kisah dalam hidup saya.

Cerita pertama saya.
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?

Mereka menjawab, "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya –yang hanya pegawai rendahan– habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh : Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami –Macintosh– satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?

Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.

Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya. Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari.

Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar."

Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri, "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu –semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.

Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna.

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.

Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma –yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.

Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Tetaplah Lapar. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.

Tuhan Memberkati!

22 January 2009

Hanya Tuhan

Dia duduk tertunduk. Perutnya kembung, tetapi tak ada keluhan dari mulutnya. Hanya matanya yang menyiratkan rasa sakit yang dideritanya. Dia, seorang dokter yang cukup ternama dan disegani di kota ini. Aku menatapnya dengan perasaan terharu. Dia sedang memasuki tahap kritis saat kanker mulai menggerogoti paru-parunya. Aku pikir, sebagai seorang dokter, dia tentu menyadari bagaimana perkembangan penyakitnya saat itu.

Bahwa waktunya tidak lagi panjang. Bahwa saatnya sudah hampir tiba. Usianya memang masih muda. Belum memasuki tahun yang ke 60. Tetapi apa yang dapat dilakukan lagi? Mungkin sering kita bertanya-tanya, dimanakah Tuhan saat itu? Mengapakah semua permohonan seakan membentur dinding tebal ketakmampuan manusia sendiri? Dan saat dia amat berharap terjadi suatu keajaiban dalam imannya yang demikian teguh, keajaiban itu ternyata tidak juga datang. Dan pada akhirnya dia pun menyerah. Menjelang siang, di hari minggu yang mendung, dia pun meninggal.

Dimanakah Tuhan saat kita demikian membutuhkan Dia? Dimanakah Dia saat kita menyandarkan seluruh harapan kita padaNya? Apakah segala doa dan permohonan itu hanya lewat sia-sia saja? Ah, ternyata tidak. Maka saat terakhir kali aku menemuinya, saat maut belum mengakhiri perjalanan hidupnya, dia berkata, “Keberadaan Tuhan, bagiku, tidak hanya ada saat kita disembuhkanNya. Keberadaan Tuhan juga nampak saat kita didera penyakit. Ya, dalam sakit atau sehat, Tuhan selalu hadir. Sebab, bukankah penyakit juga adalah suatu keajaiban. Betapa segala akal dan pengetahuan kita sering tak berdaya melawannya. Maka adalah salah jika kita hanya dapat melihat keberadaanNya saat kita disembuhkan. Dalam segala pengetahuan yang telah kupelajari, aku tahu betapa terbatasnya kemampuan kita untuk mengobati. Terbatas sekali.”

Maka saat mengikuti misa requiem untuknya, menyaksikan betapa banyaknya yang ikut hadir memenuhi gereja, aku pun sadar bahwa dalam hidup ini, kita sungguh manusia yang rapuh. Namun dalam kerapuhan itu, kita tetap dapat berbuat sesuatu. Karena dalam segala kelemahan badan ini, kita toh tetap dapat menampakkan kekuatan Tuhan dengan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Hidup tidak pernah sia-sia, betapa dalam pun penderitaan yang kita alami. Hidup tak usah dikeluhkan walaupun segala doa-doa permohonan kita seakan ditampik. Sebab Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Tuhan selalu tahu.

Dan hujan jatuh rintik saat peti jenasahnya diturunkan ke dalam tanah. Hujan jatuh rintik. Di sini, di pekuburan ini, berakhirlah hidup seorang dokter yang baik. Dengan iringan ratusan pelayat dari berbagai kalangan, dan agama, nampaklah betapa satunya keberadaan kita sebagai manusia di dunia ini dalam laku perbuatan yang baik. Dan aku percaya bahwa, seperti kalimat indah ini, suatu ratap tangis kedukaan di dunia ini boleh jadi merupakan suatu pesta pora kelahiran di dalam surga. Dia, yang pergi meninggalkan kita semua telah lahir kembali dalam dunianya yang baru. Dunia kekal di surga.

Doa-doa telah usai dipanjatkan. Tubuhnya pun telah menyatu dengan tanah berlumpur yang dibasahi oleh gerimis. Gerimis yang tetap jatuh rintik. Aku tertunduk di depan nisannya sambil berdoa. Berdoa untuk hidupnya selama di dunia ini. Dan berdoa pula untuk hidupku yang masih di dunia ini. Apa yang akan terjadi kelak, hanya Tuhan yang tahu. Hanya Tuhan. Maka biarlah semuanya terjadi menurut kehendakNya.

Jadilah kehendakNya diatas bumi seperti di dalam surga.....

21 January 2009

Keajaiban Jalan-Nya

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 21; Matius 21; Kejadian 41-42

Martunis, demikian nama anak kecil yang berasal dari Aceh ini. Ia berhasil meraih cita-citanya bertemu bintang sepak bola asal Portugal seperti: Louis Vigo, Christian Ronaldo, Morentes, dan sebagainya. Hal itu terjadi setelah bocah yang kehilangan dua kakak serta ibunya itu melakukan aksi heroiknya bertahan 19 hari bergulat dengan maut karena tsunami. Bertahan hidup dari mie instant dan air mineral yang terbawa ke lautan, ia ditemukan setengah mati dan tubuhnya mulai dirubungi lalat. Namun semua penderitaan itu terbayar karena baju yang dikenakannya saat itu. Ketika mengalami peristiwa naas itu, ia mengenakan seragam kesebelasan Portugal berwarna merah-hijau.

Kalau bukan gara-gara kostum ‘palsu' timnas Portugal nomor 10-nya Rui Costa yang dia pakai sewaktu ditemukan, dia tidak bakal dilihat Christian Ronaldo di TV. Dan berarti dia kemudian tidak akan diberikan rumah oleh Luis Felipe Scolari, pelatih timnas Portugal. Dia tidak akan dikasih sumbangan uang sekitar 460 juta oleh federasi sepak bola Portugal. Dia tidak akan memiliki kostum timnas asli bernomor punggung 1 dengan nama Martunis, lengkap dengan tanda tangan semua pemain timnas Portugal mulai dari Ronaldo (Manchester United), Figo (Real Madrid), Deco (Barcelona) sampai Paulo Ferreira (Chelsea).

Dia tidak akan digandeng oleh Luis Figo ke tengah lapangan sebelum pertandingan kualifikasi Portugal vs Slowakia, bersalaman dengan Presiden FIFA Sepp Blatter, dan menyaksikan pertandingan yang dimenangkan oleh Portugal 2-0 dari tribun kehormatan, duduk di sampingnya Manuel Rui Costa, pemain favoritnya! Sekembalinya dari Portugal, anak Sarbini itu tersenyum gembira sambil berkata bahwa dirinya nanti akan menjadi pemain sepak bola nasional.

Kita kadang kurang memahami, berkat apa yang Tuhan sediakan di balik kesusahan yang kita alami. Paulus meyakinkan para orang beriman di Roma saat mereka mengalami kejadian tak menyenangkan - pasti ada kehendak Tuhan yang baik bagi kita yang mengasihi-Nya.

Kita diingatkan, sebagai anak-Nya kita hidup dalam anugerah dan keajaiban kasih-Nya yang penuh kejutan. Jika sepanjang hari ini ada kejadian yang kurang begitu menyenangkan, marilah kita bertahan dalam kehendak-Nya sehingga kita dapat menanggungnya.

Di balik badai kehidupan yang sulit tersimpan kejutan yang mencengangkan.

Jawaban.com

Humor : Krisis Pernikahan

Sepasang suami istri baru saja bertengkar selama beberapa waktu. Setelah hati dan kepala mulai dingin, si istri menghampiri suaminya yang sedang melihat-lihat surat kawin mereka,

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Si suami mencoba menyembunyikan dokumen yang ada di tangannya dan berkata,

"Aku tidak melakukan apa-apa."

Si istri yang telah melihat dokumen itu, sangat kecewa.

"Tidak melakukan apa-apa? Aku melihatmu membaca surat kawin kita. Mengapa kamu berbohong! Kamu sudah mengamati surat kawin itu, dari atas sampai bawah, dibolak-balik lagi! Untuk apa itu?"

Merasa kesal, si suami berkata, "Baiklah jika kamu ingin tahu. Dari tadi aku sedang mencari tanggal kadaluarsa surat kawin ini!"

20 January 2009

Tawaran Menggiurkan

Daniel 1:8 - Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 20; Matius 20; Kejadian 39-40

Daniel masih remaja ketika diperhadapkan pada sebuah keputusan penting. Ia ditawari mengikuti pelatihan untuk sebuah posisi yag penting dan amat menjanjikan. Sebagai bagian dari kelompok elit yang bertugas melayani raja, pasti ia akan mendapatkan fasilitas istimewa. Namun Daniel sadar, untuk meraih kesempatan yang menggiurkan itu ia harus mengkompromikan hubungannya dengan Tuhan. Ia mesti melanggar perintah Tuhan. Akankah ia mengikuti sistem yang ada atau ia mengambil resiko untuk tetap mengambil jalan Tuhan apapun yang terjadi?

Rupanya Daniel cukup cerdas melihat ke depan dan menyadari apa yang penting. Ia sadar bahwa saat kehidupannya berakhir, yang penting bukanlah apa yang dipikirkan teman-teman, orang di sekitarnya atau bahkan rajanya sendiri tentang dirinya. Ia tahu bahwa yang terpenting adalah apa yang dipikirkan oleh Sang Pencipta tentang dirinya. Jadi, ia memilih untuk menahan hasratnya akan kedudukan dan memastikan bahwa ia memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.

Dalam taraf yang berbeda, kita masing-masing pernah menghadapi pilihan serupa: menyenangkan manusia atau menyenangkan Tuhan. Mari kita belajar dari Daniel dan mengambil keputusan bukan berdasarkan kepentingan sementara, melainkan berdasarkan perspektif Tuhan yang kekal.

Kekuatan terbesar adalah kuasa untuk memilih. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu, tapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Jawaban.com