Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

02 January 2009

Empati

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.

Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan. Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati, “Siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu?”. Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan. Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.

Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun. Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang. Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran. Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga.

By: Andy F Noya

01 January 2009

Humor : Berdoa

"Apakah engkau berdoa tadi malam, nak?" tanya seorang pendeta kepada seorang anak Sekolah Minggu.

"Tentu saja, Pak Pendeta," jawab anak itu dengan lantang.

"Dan apakah kamu juga selalu berdoa di pagi hari?"

"Ah, ya enggak donk Pak," katanya spontan, "Karena hanya sewaktu-waktu saja saya menjadi seorang penakut."

Yesus Adalah Yang Terbaik

“Tetapi Kristus datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang sudah ada” – Ibrani 9:11

Hidup ini dipenuhi hal-hal baik. Bagi saya, alam adalah salah satunya. Beberapa hal yang bisa menghanyutkan jiwa saya adalah kilau matahari terbenam atau tetes embun yang berkilau disinari matahari di atas daun bunga mawar. Saya baru saja merekam gambar sisi bawah sayap kupu-kupu ungu berbintik merah. Bintik kecil berwarna merah bata yang cerah dengan latar belakang warna nila membuat saya terpesona. Dan baru minggu ini saya merekam gambar sebuah keajaiban, ulat peterseli sepanjang lima sentimeter berwarna hijau cerah sedang memulai proses menjadi kupu-kupu hitam dengan ekor bercabang yang indah. Pemazmur melukiskannya dengan baik, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:1)

Salah satu dari hal-hal baik lainnya yang saya miliki adalah seni dalam beragam bentuknya, termasuk musik. Saya begitu terhanyut saat mendengarkan oratorio Back dan paduan suara Afrika yang riang yang diharmonisasikan sebagai suara latar dari lagu pujian Afrika favorit saya, “Tidak ada yang seperti Yesus.”

Musik mengundang saya untuk terbang melampaui suara dan nada untuk selaras dengan Allah ketika lagu saya berpadu dengan lagu surga, “Anak Domba yang disembelih itu layak.” Ada hal-hal yang bisa menggembirakan hati saya seperti misalnya musik.

Alam dan seni membuat saya gembira. Semuanya itu adalah hal-hal baik. Saya juga mengambil begitu banyak inspirasi dan filosofi, ilmu pengetahuan, sejarah, dan dunia pemikiran. Semua itu adalah “hal-hal yang baik yang sudah ada”. Saya mengucap syukur kepada Allah untuk semua itu. Semua itu membantu saya menyembah Yesus Kristus, Pemberi hal-hal baik itu.

Dikutip dari : Focus on Jesus, Donal R Jacobs, Gloria Graffa 2008

31 December 2008

Kaleidoskop 2008

"Tetapi jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segera perintah Allah" - Matius 19:17

Menjelang akhir tahun 2008 ini, hal baik apa saja yang sudah dan juga akan kita lakukan supaya meninggalkan kesan yang penuh makna? Acara-acara televisi selalu penuh dengan tayangan dan liputan tentang apa saja, kejadian dan peristiwa yang terjadi selama setahun. Tentu saja hal yang baik dan buruk. Sekaranglah saatnya kita mulai mendokumentasikan apa saja yang perlu disimpan dalam file bersejarah dan berharga bagi perjalanan hidup kita.

Satu hal yang terkesan klise namun ini penting bagi hidup kita yaitu membuat resolusi. Ketika kita bisa melihat hal-hal yang baik dan buruk di tahun ini, mencatat setiap achievement dan losing, kita juga bisa mulai menyusun goals atau tujuan untuk tahun yang akan datang. Membuat daftar hal-hal apa saja yang harus di tinggalkan, diperbaiki dan diperbarui. Hal-hal baru yang menjadi target dan purchase kita di masa datang, penting untuk menuliskannya dengan jelas.

"Forget the mistake that you have made, but don't forget the lesson you learned" (Lupakan kesalahan yang telah dibuat tetapi jangan lupakan pelajaran yang didapat). Ambillah waktu yang tenang dan rileks sejenak, apapun hasilnya kita patut bersyukur atas semuanya. Nats perenungan hari ini membawa kita pada tujuan hidup yang akan kita jalani selanjutnya. Untuk masuk dalam hidup dan semua kebaikan, berkat, kelimpahan, dan damai sejahtera dengan menuruti perintah Allah. Tuhan rindu memberkati kehidupan kita, hanya saja seringkali Dia terlalu lama menunggu ketaatan dan kesiapan kita.

Rick Warren menulis, "Musuh besar kesuksesan hari esok adalah kesuksesan hari ini". Demikian juga Eleanor Roosevelt mengatakan bahwa masa depan adalah milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpi mereka. Mulailah menyusun kaleidoskop Anda dan menjadikannya sebuah "Historical file and precious moment", dan persiapkan resolusi Anda untuk memulai kesuksesan hari depan. Selamat datang tahun 2009!.

Sumber : Renungan Harian Spirit

30 December 2008

Kapur

Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang lalu di USC ( University of Southern California ). Disana ada seseorang professor filosofi yang mengaku atheis. Tujuan utamanya selama kelas semester adalah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada

Para mahasiswanya selalu takut untuk berargumentasi dengan dia karena logikanya yang sangat masuk akal. Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorangpun berani menentangnya. Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya.

Di akhir tiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata dihadapan 300 orang mahasiswanya, “Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri !!”

Selama 20 tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri. Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan professor tersebut selanjutnya.

Ia akan berkata, “Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya.“

Dan setiap tahun, professor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri. Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri pada kelas professor tersebut.             

Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas professor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan professor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap. Akhirnya hari terakhir itu tiba.

Professor tersebut berkata, “Bila ada diantara Anda yang masih percaya pada Tuhan, silahkan berdiri.”

Professor dan 300 orang mahasiswanya terkejut melihat seorang mahasiswa muda berdiri dibagian belakang kelas. Professor tersebut berteriak, “Anda bodoh!!! Bila Tuhan benar-benar ada Ia akan mampu mencegah kapur ini pecah saat menyentuh lantai ”

Ia bersiap melepaskan kapur yang dipegangnya. Tapi saat ia melepaskannya, kapur tersebut terlepas dari jarinya dan masuk ke lengan bajunya, meluncur terus ke celananya melewati kakinya hingga ke sepatunya. Saat menyentuh lantai kapur tersebut tidak pecah. Kesombongan professor luluh saat ia melihat kapur tersebut. Ia menatap mahasiswa muda tadi dan segera lari dari ruangan kuliah. Mahasiswa yang berdiri tadi, berjalan ke depan kelas dan berbagi iman tentang Yesus selama 30 menit. 300 mahasiswa bertahan dan mendengarkan saat ia menceritakan kasih Tuhan untuk mereka dan Kuasanya melalui Yesus.

29 December 2008

Pengorbanan

Aku bekerja di sebuah gereja di pinggiran kota kami yang kecil. Seorang anak muda bernama Tommy Ghessing selalu termenung dari waktu ke waktu. Aku tidak tahu penyebab cacatnya, mungkin kerusakan otak karena kecelakaan atau karena stroke, tetapi ia mengalami kesulitan untuk berbicara atau berjalan. Walaupun begitu, ia selalu melakukan sesuatu untuk orang lain.

Natal kali ini, aku dan resepsionisku merasa kewalahan dengan pekerjaan kami berdua. Kami baru saja kedatangan seorang gembala baru dan lagi di saat Natal, di gereja pasti banyak pekerjaan tambahan untuk dilakukan oleh para staf di kantor dan di rumah, karena resepsionisku memiliki tiga orang anak remaja. Semakin lama rasanya semakin sulit untuk tetap fokus pada arti Natal yang sesungguhnya.

Tapi, Tommy menolong kami untuk kembali memahami arti Natal. Ada sebuah kelompok sel untuk orang cacat di kota kami dan Tommy tahu kalau tidak ada orang yang melakukan sesuatu yang khusus untuk mereka pada saat Natal. Dia mencoba sendiri untuk membuat Natal yang spesial untuk mereka. Bagaimana caranya?

Tommy sendiri berjalan sendiri dari pintu ke pintu dan mengumpulkan sumbangan untuk mereka. Tommy dengan segala keterbatasannya dan kesulitannya untuk berbicara, menghabiskan seharian untuk mempersiapkan Natal terbaik yang belum pernah terbayangkan oleh orang-orang seharian untuk mempersiapkan Natal terbaik yang belum pernah terbayangkan oleh orang-orang ini. Pengorbanannya adalah seperti kasih Kristus untuk semua orang dan juga menyadarkan kami, apa arti Natal sesungguhnya. Bukan melulu tentang pemberian yang mahal tetapi pemberian dari dirimu sendiri.

Natal tidak selalu tentang pohon Natal, makan malam mewah, kado-kado yang mahal atau bersama-sama orang pergi ke gereja. Natal bisa berarti pemberian sembunyi-sembunyi untuk orang yang tak dikenal, tanpa mengharapkan balasan, itu juga yang dilakukan Yesus dan menjadi penyebab musim ini ada. Ia datang dan memberi tanpa mengharapkan apa-apa. Jadikan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan seperti yang Yesus lakukan. Seperti yang Tommi lakukan, dengan caramu sendiri.

28 December 2008

Humor : Tunjangan

Seorang wanita yang melamar pekerjaan ingin tahu tentang tunjangan dari perusahaan yang dia lamar. Manajer personalia memberitahunya bahwa ia akan mendapat asuransi kesehatan dan jiwa, namun biayanya dipotongkan dari gajinya.

Si wanita bilang, "Perusahaanku yang terakhir memfasilitasiku dengan asuransi kesehatan, lima tahun gaji untuk asuransi jiwa, juga cuti sebulan, dan mereka tidak memotong gajiku untuk hal-hal itu."

"Lalu mengapa Anda keluar dari perusahaan Anda?" tanya si manajer personalia.

Wanita itu mengangkat bahunya dan berkata, "Perusahaan itu bangkrut."

Kartun

ATT38939526 ATT38939519 ATT38939520 ATT38939521 ATT38939522 ATT38939523 ATT38939524 ATT38939525

27 December 2008

Sepatu

Suatu hari seorang Bapak tua hendak menumpang bis di Orchard Road. Pada saat ia menginjakkan kaki kirinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dari kakinya dan jatuh ke jalan. Lalu pintu segera menutup secara otomatis dan bis mulai bergerak, sehingga ia tidak sempat memungut sepatu yang terjatuh tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk di dalam bis itu melihat kejadian itu merasa heran. Ia lalu memberanikan diri dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku tadi melihat apa yang anda lakukan, Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelahnya juga?”.

Si Bapak tua menjawab, “Supaya siapapun menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.” Anak muda itu terperanjat.

Si Bapak melanjutkan, “Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya. Satu sepatu hilang dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagiku. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkannya.”

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kamu bisa melihat bagaimana paradigma Bapak itu merupakan sesuatu yang berbeda dan melawan arus dunia. Jim Elliot, seorang misionaris pernah berkata, “He is no fool who gives what he can’t keep to gain what he can’t lose.” (Bukahlah suatu kebodohan untuk menyerahkan apa yang tidak bisa dipertahankan demi mendapatkan apa yang tidak bisa hilang).

Renungan :
Kita boleh saja mempertahankan sesuatu yang menjadi hak kita, tetapi ada seseorang yang sudah menyerahkan hak-Nya sebagai Anak Allah dan datang ke dunia, mati di atas kayu salib untuk kita. Ia tidak mempertahankan sesuatu yang sebenarnya adalah milik-Nya.

26 December 2008

Fun : Creativeness in photography

image016 image018 image020 image025 image001 image006 image009 image014 image021 image022 image023 image024 image002 image003 image004 image005 image007 image008 image010 image011 image013 image015 image017 image019

Lebih Dari Nafasku

Bapa pegang tanganku
Aku rindu saat teduh bersama-Mu
Dekap aku dalam hangat naungan-Mu
Bawa hidupku pada-Mu
Masuk dalam altar-Mu yang kudus

Bapa pegang tangaku
Aku rindu tinggal di dalam hati-Mu
Engkau terang yang membuatku melihat
Melihat jauh ke dalam keb’naran-Mu Bapa

Lebih dari nafasku Bapa
Kuperlukan kasih-Mu Bapa
Berjalan disamping-Mu Bapa seumur hidupku

Lebih dari nafasku Bapa
Kuperlukan kasih-Mu Bapa
Peganglah tanganku ya Bapa untuk selamanya