Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 November 2008

36 Stress Reducers

1. Pray
2. Go to bed on time.
3. Get up on time so you can start the day unrushed.
4. Say No to projects that won't fit into your time schedule or that will compromise your mental health.
5. Delegate tasks to capable others.
6. Simplify and unclutter your life.
7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)
8. Allow extra time to do things and to get to places.
9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.
10. Take one day at a time.
11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you to do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.
12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.
13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.,
14. K.M.S. (Keep Mouth Shut.) This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.
15. Do something for the Kid in You everyday.
16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.
17. Get enough exercise.
18. Eat right.
19. Get organized so everything has its place.
20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.
21. Write thoughts and inspirations down.
22. Everyday, find time to be alone.
23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until its time to go to bed to try and pray.
24. Make friends with Godly people.
25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.
26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you, Jesus!"
27. Laugh.
28. Laugh some more!
29. Take your work seriously, but yourself, not at all.
30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).
31. Be kind to unkind people (they probably need it the most).
32. Sit on your ego.
33. Talk less; listen more.
34. Slow down.
35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.
36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before.

** GOD HAS A WAY OF TURNING THINGS AROUND FOR YOU**

Penyambukan

Di suatu sekolah terdapat sebuah kelas yang tidak pernah dapat dikendalikan oleh guru siapapun. Pada tahun ajaran ini dua sampai tiga guru keluar dari sekolah karena tak sanggup mengendalikan murid-murid yang tak mengenal disiplin itu. Seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi mendengar tentang kelas itu dan kemudian melamar pekerjaan di sekolah yang bersangkutan.

Kepala sekolah bertanya kepada pemuda itu, ”Apakah Anda sadar akan tugas Anda? Tidak ada seorang gurupun yang dapat menangani kelas itu. Anda melamar pekerjaan itu untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak?”

Setelah beberapa saat berdoa di dalam keheningan, pemuda itu menatap wajah kepala sekolah dan berkata, ”Pak, dengan ijin Bapak, aku menerima pekerjaan dan tantangan ini. Berilah aku waktu untuk percobaan.”

Esok harinya, pemuda itu berdiri di depan kelas tersebut. Ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Anak-anak sekalian. Aku datang hari ini untuk memimpin kelas ini. Namun aku sadar, bahwa aku membutuhkan bantuanmu.”

Seorang anak yang bertubuh besar, Tom, si Raksasa, berbisik kepada teman-temannya di belakang kelas, ”Aku tak memerlukan bantuan kalian. Aku dengan mudah dapat mengalahkan burung kecil itu seorang diri.”

Guru muda itu mengatakan kepada anak-anak di kelasnya, bila mereka berada di dalam kelas, merekapun harus mempunyai peraturan untuk dipatuhi. Namun, ia tambahkan, ia memerlukan para murid untuk membuat peraturannya sendiri dan ia nanti akan membuat daftar peraturannya di atas papan tulis.

Ini sesuatu yang berbeda, pikir murid-murid!

Seorang murid menyarankan, ”TIDAK MENCURI”

Lain lagi berseru, ”HENDAKNYA KITA MASUK KELAS TEPAT PADA WAKTUNYA”

Tidak lama kemudian mereka memiliki 10 peraturan di papan tulis. Kemudian guru muda itu menanyakan, “Hukuman apakah harus diterapkan, bila peraturan itu dilanggar? Pasalnya, peraturan itu tak berguna tanpa penegakannya!“ katanya. Seorang murid menyarankan, bila peraturan itu dilanggar, mereka harus menerima 10 cambukan dengan sebatang cambuk di punggungnya dengan baju dilepas.

Gurunya mengira bahwa ini agak terlalu keras. Karenanya ia menanyakan murid-muridnya apakah mereka sanggup untuk menjalani hukuman itu. Mereka semua setuju. Segala sesuatu berjalan baik untuk dua hari lamanya. Kemudian si raksasa Tom datang sekolah dengan marah. Ia menyatakan, seseorang telah mencuri makan siangnya. Setelah berbicara dengan semua muridnya, mereka mendapatkan bahwa si Jimmy kecil telah mencuri makan siang si raksasa, Tom!Pasalnya, seorang murid melihat Jimmy memakan makanan siang milik Tom! Guru memanggil Jimmy di depan kelas. Jimmy kecil mengaku telah mengambil makanan siang si Tom besar.

Lalu guru itu bertanya kepadanya, ”Kamu tahu hukumannya?”

Jimmy kecil mengangguk. ”Kalau begitu, bukalah jaketmu,” kata guru.

Anak kecil itu datang dengan mengenakan jaket yang terlalu besar. Ia mengatakan kepada guru, bahwa ia bersedia untuk dihukum, tetapi tolong jangan suruh membuka jaketnya.

Namun guru mengingatkan Jimmy kecil akan peraturan dan hukumannya dan mengatakan lagi untuk membuka jaketnya serta menerima hukumannya seperti seorang jantan. Anak yang malang itu mulai membuka jaket tuanya. Setelah ia melakukannya, guru melihat bahwa ia tidak memakai baju di balik jaketnya. Bahkan lebih parah lagi, ia mengamati sebuah tubuh yang lemah dan kurus kering tersembunyi di balik jaket tua itu. Pak guru bertanya, mengapa ia ke sekolah tidak mengenakan baju?

Jimmy kecil menjawab, ”Ayahku sudah meninggal dan ibuku amat miskin. Aku hanya memiliki sepotong baju saja dan hari ini ibuku menyucinya. Aku mengenakan jaket saudara tuaku untuk menghangatkan badan.”

Guru muda itu memandang punggung yang kurus kering dengan tulang-tulang punggungnya yang menonjol. Ia bertanya-tanya, bagaimana ia tega untuk mencambuk punggung yang lemah bahkan tanpa baju itu?

Namun, ia tahu bahwa ia harus menjalankan hukuman itu, karena jika tidak, murid-murid tak akan mau mematuhi peraturan kelasnya. Maka, kemudian ia berancang-ancang untuk mencambuk si Jimmy kecil.

Pada saat itulah, Tom, si raksasa berdiri dan maju kedepan. Ia bertanya, ”Apa ada peraturan yang melarang untuk saya menerima hukumannya sebagai ganti si Jimmy kecil?”

Sang guru berdiam sejenak dan kemudian setuju.

Dengan demikian, Tom, si raksasa membuka bajunya dan membungkuk menutupi punggung Jimmy. Dengan bimbang sang guru mulai mencambuk Tom di punggungnya yang lebar.

Entah karena apa, setelah lima cambukan, cambuk patah menjadi dua. Guru muda itu menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya dan menangis. Ia mendengar suara ribut dan mendapati seluruh kelas ikut menangis. Jimmy kecil berbalik kepada Tom dan merangkulnya serta memohon maaf untuk perbuatan mencuri makan siangnya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mencintai si Tom, raksasa bahkan ia bersedia untuk dicambuk sebagai gantinya.

Yesus Kristus telah menerima cambukan sebagai ganti kita serta mengucurkan DarahNya yang amat berharga di atas kayu salib, supaya Anda dan saya memperoleh kehidupan yang kekal di dalam kemuliaan-Nya dengan Dia.

Sebenarnya kita sungguh tidak layak untuk sebuah harga yang telah dibayarkan guna menebus kita. Namun semua itu terjadi karena KasihNya yang tak ada taranya terhadap kita.

Ayam & Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan.

"Kuek! Kuek!"

"Dengar", kata si istri, "itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan, itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!' , bebek itu 'kuek! Kuek!' itu bebek, Sayang,' kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue…bek, kamu…kamu…"

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hamper menangis, "Tapi itu ayam…"

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa ia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek?"

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

"If you start judging people you will be having no time to love them....."

19 November 2008

Apakita Kita Bersama Bapa Hari Ini?

Berapa sering dalam hari-hari ini, kita menjadi sangat sibuk dengan kerjaan, dengan mainan baru dan kawan baru. Ke toko buku melihat buku-buku baru dan film-film baru tayang di bioskop. Seberapa sering kita meninggalkan Bapa, Putra maupun Roh Kudus di rumah, tepat di saat menutup lembar-lembar renungan harian, untuk hal-hal tadi.

Dan saat tiba di rumah sore harinya, kita lupa untuk menyapaNya dan langsung ngeloyor untuk memeriksa e-mail yang baru masuk. Dan saat Dia berbisik ingin mengobrol, rasa kantuk lebih kuat dari segalanya, tempat tidur menjadi lokasi yang paling menarik untuk bertengger. Obrolan denganNya hanya sekedar rutinitas, dengan sekali-kali terkantuk-kantuk dan tidak menghiraukan kata-kataNya. Ucapan bibir hanyalah kata-kata berulang tanpa arti.

Dan keesokan harinya semua terulang kembali. Tapi adakah Dia meninggalkan kita? Tidak. Sebab saat kita sibuk Ia mengerti pikiran kita, Ia tahu apakah kita sedang duduk atau berdiri, bahkan Ia memeriksa saat kita tidur (Mazmur 139) Bahkan segala jalan kita Ia MAKLUMI (Mazmur 139:3)

Itu sebabnya saat hati gundah gulana–saat yang paling tepat untuk ‘baru’ mengingat Dia Ia ada. Ia dengar tangismu.Dia mengikuti kemanapun kita pergi (Mazmur 139:9-12). Bahkan sekalipun kita ingin menjadikan terang disekeliling kita dengan kegelapan oleh ulah dan kebandelan kita, Dia tidak akan membiarkannya.

Tapi sampai kapan kita mau menunggu Dia berbicara pada kita. Kapan kita berbicara padanya. Menyerahkan semuanya padaNya? Apakah sampai saat di mana seperti Pengantin Pria menolak mengenal 10 wanita bodoh, seperti dalam perumpamaan Yesus?

Adakah kita mau berseru pada Tuhan, seperti Daud berseru, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:24). Pernahkan kita bertanya, apa yang telah aku lakukan bagi Tuhan? Adakah aku cukup menyenangkan hatiNya? Atau adakah aku menyedihkanNya hari ini?

Burung Pipit

Hawa udara di Manhattan cukup dingin namun di dalam kedai kopi Starbucks yang terletak dekat Broadway hawanya hangat. Cuaca di akhir November di kota New-York masih dibilang belum terlalu dingin kalau dibandingkan dengan cuaca di akhir Desember atau Januari. Walaupun demikian, inilah cukup untuk mendorong banyak orang masuk ke dalam kedai kopi yang hangat itu.

Untuk seorang musikus, menurut orang, Starbucks ini mempunyai lokasi yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Uang yang dapat dikumpulan oleh para pengamen dapat mencapai jumlah yang amat banyak, asalkan Anda dapat menunjukkan kebolehan bermain musik dengan baik.

Kami pada saat itu sedang menyanyikan lagu-lagu pop dari tahun 40 sampai 90-an. Di tengah-tengah permainan dan nyanyian “If You Don’t Know Me by Now” aku mengamati seorang wanita yang sedang duduk di kursi sofa dekat aku berada mengikuti irama dengan gerakan tubuhnya dan menyanyi bersama kami. Setelah lagunya selesai, dia menghampiri aku. Ia mengatakan, “Aku meminta maaf bahwa aku telah ikut menyanyi. Aku harap aku tidak mengganggumu”.

“Tidak,” jawabku. “Kami selalu senang bila hadirin ikut menyanyi. Apakah Anda selanjutnya mau menyanyi lagi dengan kami?” Aku senang ketika ia menerima undangan kami. “Anda memilih,” kataku. “Anda mau memilih bernyanyi apa?”
Ia menjawab: “Apa…apa Anda mengetahui lagu puji-pujian?”

Lagu puji-pujian? Wanita ini tidak tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Sejak kecil aku sudah mengenal lagu puji-pujian. Bahkan sebelum aku dilahirkan, aku sudah pergi ke gereja. Kemudian aku memandang tamu kami tersebut dengan suatu pandangan yang beda. ”Sebutkanlah lagunya,” kataku. “Aku tak tahu. Ada begitu banyak yang bagus. Anda saja yang memilih”, kata wanita itu.

“Baiklah,” jawabku. “Bagaimana dengan ’His Eye is on the Sparrow’?” Teman wanitaku tiba-tiba terdiam serta memalingkan mukanya. Kemudian ia mengarahkan mukanya kepada aku lagi dan berkata, ”Ya, marilah kita nyanyikan lagu itu.”

Ia meletakkan dompetnya, mengencangkan jaketnya dan memandang ke tengah-tengah kedai itu dan mulai menyanyi,” Why should I be discouraged? Why should the shadows come?

Semua tamu dalam kedai itu seakan-akan terpaku. Bahkan suara dari mesin cappuccino berhenti dan semua pelayan berhenti melayani. Lagu itu berakhir dengan ”I sing because I am happy. I sing because I am free For His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

Ketika kalimat terakhir selesai dinyanyikan, suara tepuk tangan tambah lama tambah gemuruh dan menderu, seakan-akan mengalahkan suara penonton di Carnegie Hall yang penuh.. Dengan rasa malu, wanita itu mencoba berseru untuk mengatasi gemuruh tepuk tangan itu, “O, kembalilah lagi ke kopimu! Aku datang di sini tidak untuk mengadakan konser, melainkan ingin minum kopi seperti kalian!”

Namun sambutan terus berlanjut. Aku merangkul kawanku yang baru. “Itu bagus sekali!”

“Nah, lucu bahwa Anda justru memilih pujian yang satu itu, “ katanya.

“Mengapa?” tanyaku.

“Ah…”, ia berkata dengan ragu-ragu, ”itulah lagu kesayangan puteriku.”

“Benar?!” seruku.

“Ya!”, kata wanita itu, lalu memegang kedua tanganku. Pada saat itu, tepuk tangan sudah menjadi kurang dan semua orang berbalik lagi menikmati kopinya seperti biasa.

“Ia baru 16 tahun. Ia meninggal dunia minggu yang lalu.”

Aku mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan, ”Anda baik-baik saja?”

Ia tersenyum dan melalui matanya basah, ia memegang erat kedua tanganku, “Aku baik-baik saja. Aku akan tetap percaya kepada Tuhan dan menyanyikan puji-pujian-Nya, dan segala sesuatu akan baik-baik saja” Ia mengambil tasnya, memberiku kartu namanya dan pergi keluar dari kedai itu.

Apakah merupakan sesuatu yang kebetulan bahwa aku menyanyi di kedai kopi itu dan pada malam bulan November itu? Apakah suatu kebetulan bahwa wanita itu masuk ke dalam kedai kopi tersebut? Kebetulan bahwa dari semua lagu-lagu, aku justru memilih lagu yang menjadi kesenangan dari anaknya yang baru meninggal minggu yang lalu? Aku tidak dapat percaya!

Tuhan telah merencanakan pertemuan sepanjang sejarah manusia dari sejak semula. Dan karena itu tidak terlalu sukar untuk membayangkan hal itupun terjadi di kedai kopi di pusat Manhattan dengan mengubah suatu perhimpunan biasa menjadi suatu kebangunan rohani. Aku kira, itu merupakan suatu peringatan, bila kita tetap percaya kepadaNya dan menyanyikan puji-pujianNya, segala sesuatu akan tetap OK!

18 November 2008

Kepada Anakku

Hanya untuk pagi ini, aku akan tersenyum bila aku melihat wajahmu dan aku tertawa, bila aku merasa seperti mau menangis. Hanya untuk pagi ini, aku membiarkan kamu untuk memilih apa yang kamu ingin kenakan dan tersenyum serta mengatakan, alangkah sempurna kelihatannya. Hanya untuk pagi ini, aku tidak mencuci pakaian, melainkan menjemput dan membawamu ke taman untuk bermain.

Hanya untuk pagi ini, aku tinggalkan gerabah dalam bak cuci dan membiarkan kamu mengajarku bagaimana bermain bersama dengan teka-teki. Hanya untuk sore ini, aku akan mencabut hubungan telepon dan mematikan komputer dan kemudian bersamamu duduk di kebun belakang meniup gelembung sabun. Hanya untuk sore ini, aku tidak akan berteriak, bahkan tidak mengomel sedikitpun bila kamu berteriak dan menangis untuk boleh membeli es cream dan aku akan membelikanmu bila penjualnya lewat rumah. Hanya untuk sore ini, aku mengijinkanmu untuk membantuku membuat kue dan membiarkanmu mengerjakan sendiri. Hanya untuk sore ini, kita akan pergi ke McDonald untuk makan malam bersama, supaya kamu mendapatkan barang mainan sebagai hadiah.

Hanya untuk malam ini, aku akan memelukmu dan menceritakan kisah kelahiranmu dan betapa sayangnya aku kepadamu. Hanya untuk malam ini, aku memperkenankanmu bermain di dalam bak mandi dan aku tidak akan marah. Hanya untuk malam ini, aku membiarkan kamu pergi tidur agak malam, sehingga kita dapat duduk di teras dan menghitung bintang-bintang di angkasa. Hanya untuk malam ini, aku akan memanjakanmu selama berjam-jam, dan aku rela tidak mengikuti acara TV favoritku. Hanya untuk malam ini, bila aku mengusap-usap rambutmu selama kamu berdoa, aku akan bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan hadiah yang terbesar yang pernah Ia berikan.

Aku akan ingat para ibu dan ayah yang sedang mencari anak-anaknya yang hilang, para ibu dan ayah yang mengunjungi makam anak-anak mereka ketimbang kamar tidurnya, para ibu dan ayah yang berada di rumah sakit menyaksikan penderitaan anak-anaknya yang tak semestinya sehingga membuat mereka menjerit-jerit bahwa mereka di dalam hati tidak tahan lebih lama lagi.

Dan bila aku menciummu selamat tidur, aku akan mendekapmu lebih erat dan lebih lama lagi. Pada saat itulah, aku amat bersyukur kepada Tuhan, dan aku tidak akan meminta apa-apa lagi, kecuali satu hari lagi……

Humor : Obat Tidur

Seorang lelaki yang terlihat begitu pucat dan lesu memeriksakan dirinya ke seorang dokter.

"Dokter, semua tetanggaku mempunyai anjing dan anjing-anjing itu menyalak siang dan malam, membuat aku tidak bisa tidur," kata lelaki itu.

"Oh, aku punya kabar baik untukmu," kata si dokter sambil menyodorkan beberapa botol pil. "Ini beberapa contoh obat tidur yang bagus. Beberapa masalahmu tadi pasti bisa terselesaikan. "

"Bagus!" kata laki-laki itu, "Aku akan mencoba apapun. Berikan aku yang paling bagus, Dok!"

Beberapa minggu kemudian si lelaki itu kembali. Wajahnya terlihat lebih berantakan dan pucat dari kunjungan pertamanya ke dokter itu.

"Dok, resep Anda tidak berhasil. Aku malah menjadi lebih lelah dari sebelumnya!"

"Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu," kata sang dokter sambil menggeleng-gelengka n kepalanya.

"Obat yang aku berikan pada Anda itu adalah obat tidur yang paling kuat yang dijual di seluruh apotik di negara ini!"

"Mungkin itu memang benar," jawab lelaki itu, "tetapi aku masih saja tidak tidur sepanjang malam untuk memancing anjing-anjing datang padaku.

Pada saat aku bisa menangkap satu anjing, ternyata sangat sulit untuk memaksa dia menelan obat tidur itu, Dok!"

Do Something!

Sewaktu liburan, suatu hari aku berjalan menyusuri pantai. Ketika sedang berjalan, aku melihat sesosok tubuh manusia bergerak seperti seorang penari. Aku tersenyum dan bertanya dalam hati siapakah orang itu.

Kemudian aku mempercepat langkahku untuk mengejar bayangan tersebut. Setelah mendekat aku melihat seorang laki-laki muda dan orang itu ternyata tidak sedang menari, tetapi sedang membungkuk ke pasir, mengambil sesuatu dan dengan senang hati melemparkannya ke laut.

Setelah lebih dekat lagi, aku berseru, “Selamat Pagi! Apa yang sedang anda lakukan?"

Anak muda itu berhenti, melihat kepadaku dan menjawab, “Melempar bintang laut.”

Aku bertanya, “Kenapa anda melakukan itu?”

Anak muda itu menjawab, “Matahari akan segera meninggi dan air akan surut. Jika saya tidak melakukannya, mereka akan mati.”

“Tapi anak muda, tidakkah anda sadar bahwa sepanjang pantai ini dipenuhi bintang laut?? 24 jam pun anda menghabiskan waktu, tidak mungkin anda lempar sepersejuta pun dari seluruh jumlah bintang laut disepanjang pantai ini. Anda tidak mungkin membuat perbedaan!”

Anak muda itu mendengarkan dengan sopan, kemudian dia membungkuk, mengambil bintang laut lainnya dan melemparnya ke laut, melewati gelombang yang menggemuruh, dan dia sebut, “pasti ada perbedaan untuk yang satu itu”.

Jawabannya mengejutkanku, dan aku kecewa bahkan tidak tahu bagaimana harus menjawab anak muda itu. Yang saya pikir hanya, anak muda ini mengerjakan hal yang sia-sia, pahlawan kesiangan. Saat itu berbalik dan berjalan menelusuri pantai.

Sepanjang hari ketika aku menikmati liburanku, bayangan anak muda itu tetap menghantui pikiranku. Aku mencoba untuk mengabaikannya, tapi bayangan itu tetap muncul. Akhirnya, pada sore harinya aku sadar bahwa aku telah melupakan hakekat penting dari tindakan anak muda tersebut. Anak muda tersebut tidak memilih menjadi pengamat yang pasif di alam semesta ini, tetapi menjadi pelaku yang membuat suatu perbedaan - do something! Aku merasa malu.

Aku kembali ke hotel, malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Ketika pagi menjelang, aku terjaga dan merasa harus melakukan sesuatu. Lalu aku bangun dan mengenakan pakaianku. Dan bersama anak muda itu, aku menghabiskan pagi itu melempar bintang-bintang laut. Anda lihat, tindakan anak muda itu mewakili sesuatu yang khusus dalam setiap diri kita.

Kita semua dikarunia kemampuan untuk membuat perbedaan. Dan jika kita seperti anak muda itu, sadar akan karunia itu, kita akan mendapat kekuatan melalui visi kita untuk membentuk dunia. Dan itulah tantangan anda, dan itulah tantangan saya.

Kita masing-masing harus menemukan bintang laut kita. Dan bila kita melempar bintang laut kita dengan baik dan bijaksana, saya yakin abad 21 akan menjadi tempat yang sangat luar biasa. Visi dengan tindakan dapat mengubah dunia, demikian ceritanya.

17 November 2008

Kisah Penuh Kesedihan

Hari itu sebuah mal penuh sesak dengan pengunjung. Tiada seorangpun yang memperhatikan ketika seorang anak kecil itu merangkak di atas lantai. Kelihatannya ia sehat-sehat saja dan tidak menunjukkan bahwa ia takut kepada sekelilingnya. Anak kecil itu kadang-kadang berhenti sejenak untuk beristirahat.

Ia seorang anak perempuan berumur kira-kira 8 sampai 9 tahun. Wajahnya lucu dan aku pun bertanya-tanya apakah aku seharusnya berhenti dan menanyakan apakah ia membutuhkan bantuanku. “Mungkinkah ibunya meninggalkannya seorang diri?” pikirku seraya bergegas untuk pulang.

Ketika aku meninggalkan mal itu, di dalam benakku, aku tak dapat melupakan anak kecil itu. Mungkinkah anak itu membutuhkan pertolonganku? Apakah aku bertindak seolah-olah aku buta?

Pikiran itu tetap menggangguku dan aku memutuskan untuk kembali ke mall itu supaya hatiku yang gelisah menjadi tenang kembali. Mal sudah mulai ditutup. Setelah aku mencari-cari, aku tidak menemukan gadis kecil itu.

Apakah imajinasikulah yang tak terkendalikan dengan berpikir bahwa aku kehilangan kesempatan untuk menolong seorang gadis kecil yang miskin dan tersesat itu?

Aku berusaha meredam hatiku yang gelisah dengan perkiraan bahwa gadis cilik itu pasti dalam keadaan baik-baik saja. Bila tidak, tentunya ia masih berada di mal itu. Dalam menghadapi hari-hari perayaan Paskah, aku menjadi emosional setiap tahun.

Setelah tidak menemukan gadis itu, aku kembali pulang. Sementara perkiraan cuaca memperkirakan akan datangnya badai dari Utara yang membawa kedinginan. Menjelang tengah malam stasiun cuaca mengumumkan bahwa cuacanya menjadi amat dingin dan salju turun dengan amat banyak. Sementara aku berada di tempat tidurku yang hangat.

Di pagi hari aku bangun dan mendapatkan cuaca amat dingin. Dengan cuaca yang tidak mendukung, aku tidak akan ke mana-mana, kecuali keluar sebentar untuk mengambil koran pagi. Dengan didampingi secangkir kopi yang hangat, aku mulai membaca kabar terakhir yang terjadi di kota kita yang kecil. Aku terkejut membaca di halaman pertama di bagian bawah sekali sebuah berita singkat yang berbunyi: “Seorang gadis kecil telah ditemukan meninggal di dalam mal!” Agaknya ia amat kedinginan sehingga tertidur untuk kemudian meninggal dunia karena kedinginan.

Aku tak dapat menyelesaikan membaca berita itu, karena aku menangis tersedu-sedu. Sementara aku dapat tidur nyenyak dan hangat di tempat tidur yang nyaman, seorang gadis kecil telah menjadi kaku kedinginan dalam tidurnya.

Setelah bertahun-tahun kemudian, kejadian itu tetap menghantuiku dalam impian-impianku. Apakah gadis yang ditemukan mati kedinginan itu sama dengan gadis yang pernah kutemui dalam mal itu? Aku tak dapat melupakan gadis itu, betapa aku telah berusaha. Dan kini, bila ada seseorang membutuhkan pertolonganku, aku tidak pernah menolak dan mengabaikannya.

Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah sesuatu yang menyedihkan namun nyata.

Ingatlah, kesempatan terakhir yang dimiliki seseorang yang membutuhkan pertolongan bisa jadi kamu. Janganlah menolak!

Humor : Berkhotbah Itu Tidak Sukar

Seorang Imam, seorang pendeta Pantekosta dan seorang Rabi bersama melakukan pekerjaan pelayanan sebagai pendeta mahasiswa di sebuah universitas.

Pada suatu hari ada sesorang yang memberi komentar bahwa berkhotbah terhadap manusia itu sebenarnya tidak terlalu sukar. Sebalikya mengkhotbahi seekor beruang merupakan suatu tantangan yang hebat.

Akhirnya mereka bersepakat untuk mengadakan suatu eksperimen. Mereka akan pergi ke dalam hutan untuk menemukan seekor beruang liar, mengkhotbahinya dan berusaha untuk menjadikan dia seekor beruang yang bertobat.

Seminggu kemudian mereka berkumpul lagi untuk memperbincangkan pengalaman mereka

Romo Flannery, yang lengannya berada di dalam kain gendongan dan berjalan dengan sebuah tongkat ketiak serta mempunyai bagian-bagian dari tubuhnya yang penuh verban, mendapat giliran pertama:

“Nah,” katanya, “aku pergi ke hutan untuk mencari seekor beruang. Setelah aku menemukannya, aku mulai membaca dari buku Katekismus. Nah, ternyata beruang itu sama sekali tidak senang dan mulai menampar aku. Jadi aku secepatnya mengambil air suciku dan memercikinya dan, Ibu Tuhan yang suci, beruang itu menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Minggu depan uskup akan datang untuk memberikan komuninya yang pertama.”

Pendeta Billy Bob mulai dengan kesaksiannya. Ia berada di dalam sebuah kursi roda dengan lengan dan kedua kaki di dalam cetakan gips sedang ia diberi infus untuk membantu pernapasannya.

Dengan caranya yang lantang, ia bercerita, “Nah, saudara-saudaraku seiman, aku pergi ke hutan dan menemukan beruangku. Kemudian aku mulai membaca dari Alkitab! Namun, agaknya beruang itu tidak begitu senang terhadap aku. Dengan demikian aku memegangnya dan kamipun mulai bergulat. Kami bergulat sambil menggelundung turun bukit sampai kami tiba di sebuah anak sungai. Akupun secepatnya menenggelamkan kepalanya dan membaptis jiwanya yang berbulu itu. Dan seperti Anda mengatakan tadi, ia menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Nah, kami kemudian menghabiskan harinya dengan bersama memuji dan memuliakan Yesus.”

Kemudian mereka berdua mengunjungi Rabi yang berada di ICU sebuah rumah sakit. Seluruh badannya berada di cetakan gips dan ia sedang memakai berbagai infus di tubuhnya. Keadaannya cukup parah dan mengkhawatirkan.

Dengan susah payah ia mengenali teman-temannya dan berkata dengan suara yang lemah, “Setelah aku tinjau kembali, agaknya sunatan bukanlah cara yang terbaik untuk membuat seekor beruang bertobat.”

From An Angel

Dear Mommy,
I am in Heaven now, sitting on God’s lap.
He loves me and cries with me;
for my heart has been broken.
I so wanted to be your little girl.
I don’t quite understand what has happened.
I was so excited when I began realizing my existence.

I was in a dark, yet comfortable place.
I saw I had fingers and toes.
I was pretty far along in my developing,
yet not near ready to leave my surroundings.
I spent most of my time thinking or sleeping.
Even from my earliest day,
I felt a special bonding between you and me.

Sometimes I heard you crying and I cried with you.
Sometimes you would yell or scream, then cry.
I heard Daddy yelling back.
I was sad, and hoped you would be better soon.
I wondered why you cried so much.
One day you cried almost all of the day.
I hurt for you.
I couldn’t imagine why you were so unhappy.

That same day, the most horrible thing happened.
A very mean monster came
into that warm, comfortable lace I was in.
I was so scared, I began screaming,
but there was no sound.
I guess they had you all pinned down
because you never once tried to help me.
Maybe you never heard me.

The monster got closer and closer
as I was screaming and screaming,
“Mommy, Mommy, help me, please; Mommy, help me.”
Complete terror is all I felt.
I screamed and screamed
until I thought I couldn’t anymore.

Then the monster started ripping my arm off.
It hurt so bad; the pain I can never explain.
It didn’t stop.
Oh, how I begged it to stop.
I screamed in horror as it ripped my leg off.
Though I was in such complete pain,
I realize I was dying.
I knew I would never see your face,
or hear you say how much you love me.
I wanted to make all your tears go away.
I had so many plans to make you happy.
Now, I couldn’t; all my dreams were shattered.
Though I was in utter pain and horror,
I felt the pain of my heart breaking, above all.

I wanted more than anything; to be your daughter.
No use now, for I was dying a painful death.
I could only imagine that terrible things
they had done to me.
I wanted to tell you that I love you before I was gone,
but I didn’t know the words you could understand.
And soon no longer I had the breath to say them;
I was dead.

I felt myself rising.
I was being carried by a huge angle
into a big, beautiful lace.
I was still crying, but the physical pain was gone.
The angle took me to Jesus and set me on His lap.
He said that He loved me, and He was my Father.
Then I was happy.
I asked Him what the thing was that killed me.
He answered, “Abortion. I am sorry, my child;
for I know how it feels.”

I don’t know what abortion is;
I guess that’s the name of the monster.

I’m writing to say that I love you,
and to tell you how much I wanted to be your little girl.
I’d tried very hard to live.
I wanted to live.
I had the will, but I couldn’t;
the monster was too powerful.
It sucked my arms and legs off and finally got all of me.
It was impossible to live.
I just wanted you to know how I tried to stay with you.
I didn’t want to die.

Also, Mommy,
please watch out for that abortion monster.

Mommy,
I love you and I wouldn’t hate for you
to go through the kind of pain I did.
Please be careful.

Love,
Your baby girl

This was written by a 16 year old girl on the horror of abortion from the baby’s point of view. It is touching and may sway some minds to become pro-life. We must do all we can to stop abortion!!!