Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 November 2008

Kisah Penuh Kesedihan

Hari itu sebuah mal penuh sesak dengan pengunjung. Tiada seorangpun yang memperhatikan ketika seorang anak kecil itu merangkak di atas lantai. Kelihatannya ia sehat-sehat saja dan tidak menunjukkan bahwa ia takut kepada sekelilingnya. Anak kecil itu kadang-kadang berhenti sejenak untuk beristirahat.

Ia seorang anak perempuan berumur kira-kira 8 sampai 9 tahun. Wajahnya lucu dan aku pun bertanya-tanya apakah aku seharusnya berhenti dan menanyakan apakah ia membutuhkan bantuanku. “Mungkinkah ibunya meninggalkannya seorang diri?” pikirku seraya bergegas untuk pulang.

Ketika aku meninggalkan mal itu, di dalam benakku, aku tak dapat melupakan anak kecil itu. Mungkinkah anak itu membutuhkan pertolonganku? Apakah aku bertindak seolah-olah aku buta?

Pikiran itu tetap menggangguku dan aku memutuskan untuk kembali ke mall itu supaya hatiku yang gelisah menjadi tenang kembali. Mal sudah mulai ditutup. Setelah aku mencari-cari, aku tidak menemukan gadis kecil itu.

Apakah imajinasikulah yang tak terkendalikan dengan berpikir bahwa aku kehilangan kesempatan untuk menolong seorang gadis kecil yang miskin dan tersesat itu?

Aku berusaha meredam hatiku yang gelisah dengan perkiraan bahwa gadis cilik itu pasti dalam keadaan baik-baik saja. Bila tidak, tentunya ia masih berada di mal itu. Dalam menghadapi hari-hari perayaan Paskah, aku menjadi emosional setiap tahun.

Setelah tidak menemukan gadis itu, aku kembali pulang. Sementara perkiraan cuaca memperkirakan akan datangnya badai dari Utara yang membawa kedinginan. Menjelang tengah malam stasiun cuaca mengumumkan bahwa cuacanya menjadi amat dingin dan salju turun dengan amat banyak. Sementara aku berada di tempat tidurku yang hangat.

Di pagi hari aku bangun dan mendapatkan cuaca amat dingin. Dengan cuaca yang tidak mendukung, aku tidak akan ke mana-mana, kecuali keluar sebentar untuk mengambil koran pagi. Dengan didampingi secangkir kopi yang hangat, aku mulai membaca kabar terakhir yang terjadi di kota kita yang kecil. Aku terkejut membaca di halaman pertama di bagian bawah sekali sebuah berita singkat yang berbunyi: “Seorang gadis kecil telah ditemukan meninggal di dalam mal!” Agaknya ia amat kedinginan sehingga tertidur untuk kemudian meninggal dunia karena kedinginan.

Aku tak dapat menyelesaikan membaca berita itu, karena aku menangis tersedu-sedu. Sementara aku dapat tidur nyenyak dan hangat di tempat tidur yang nyaman, seorang gadis kecil telah menjadi kaku kedinginan dalam tidurnya.

Setelah bertahun-tahun kemudian, kejadian itu tetap menghantuiku dalam impian-impianku. Apakah gadis yang ditemukan mati kedinginan itu sama dengan gadis yang pernah kutemui dalam mal itu? Aku tak dapat melupakan gadis itu, betapa aku telah berusaha. Dan kini, bila ada seseorang membutuhkan pertolonganku, aku tidak pernah menolak dan mengabaikannya.

Pelajaran yang kudapatkan dari kejadian ini adalah sesuatu yang menyedihkan namun nyata.

Ingatlah, kesempatan terakhir yang dimiliki seseorang yang membutuhkan pertolongan bisa jadi kamu. Janganlah menolak!

Humor : Berkhotbah Itu Tidak Sukar

Seorang Imam, seorang pendeta Pantekosta dan seorang Rabi bersama melakukan pekerjaan pelayanan sebagai pendeta mahasiswa di sebuah universitas.

Pada suatu hari ada sesorang yang memberi komentar bahwa berkhotbah terhadap manusia itu sebenarnya tidak terlalu sukar. Sebalikya mengkhotbahi seekor beruang merupakan suatu tantangan yang hebat.

Akhirnya mereka bersepakat untuk mengadakan suatu eksperimen. Mereka akan pergi ke dalam hutan untuk menemukan seekor beruang liar, mengkhotbahinya dan berusaha untuk menjadikan dia seekor beruang yang bertobat.

Seminggu kemudian mereka berkumpul lagi untuk memperbincangkan pengalaman mereka

Romo Flannery, yang lengannya berada di dalam kain gendongan dan berjalan dengan sebuah tongkat ketiak serta mempunyai bagian-bagian dari tubuhnya yang penuh verban, mendapat giliran pertama:

“Nah,” katanya, “aku pergi ke hutan untuk mencari seekor beruang. Setelah aku menemukannya, aku mulai membaca dari buku Katekismus. Nah, ternyata beruang itu sama sekali tidak senang dan mulai menampar aku. Jadi aku secepatnya mengambil air suciku dan memercikinya dan, Ibu Tuhan yang suci, beruang itu menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Minggu depan uskup akan datang untuk memberikan komuninya yang pertama.”

Pendeta Billy Bob mulai dengan kesaksiannya. Ia berada di dalam sebuah kursi roda dengan lengan dan kedua kaki di dalam cetakan gips sedang ia diberi infus untuk membantu pernapasannya.

Dengan caranya yang lantang, ia bercerita, “Nah, saudara-saudaraku seiman, aku pergi ke hutan dan menemukan beruangku. Kemudian aku mulai membaca dari Alkitab! Namun, agaknya beruang itu tidak begitu senang terhadap aku. Dengan demikian aku memegangnya dan kamipun mulai bergulat. Kami bergulat sambil menggelundung turun bukit sampai kami tiba di sebuah anak sungai. Akupun secepatnya menenggelamkan kepalanya dan membaptis jiwanya yang berbulu itu. Dan seperti Anda mengatakan tadi, ia menjadi lemah-lembut seperti seekor domba. Nah, kami kemudian menghabiskan harinya dengan bersama memuji dan memuliakan Yesus.”

Kemudian mereka berdua mengunjungi Rabi yang berada di ICU sebuah rumah sakit. Seluruh badannya berada di cetakan gips dan ia sedang memakai berbagai infus di tubuhnya. Keadaannya cukup parah dan mengkhawatirkan.

Dengan susah payah ia mengenali teman-temannya dan berkata dengan suara yang lemah, “Setelah aku tinjau kembali, agaknya sunatan bukanlah cara yang terbaik untuk membuat seekor beruang bertobat.”

From An Angel

Dear Mommy,
I am in Heaven now, sitting on God’s lap.
He loves me and cries with me;
for my heart has been broken.
I so wanted to be your little girl.
I don’t quite understand what has happened.
I was so excited when I began realizing my existence.

I was in a dark, yet comfortable place.
I saw I had fingers and toes.
I was pretty far along in my developing,
yet not near ready to leave my surroundings.
I spent most of my time thinking or sleeping.
Even from my earliest day,
I felt a special bonding between you and me.

Sometimes I heard you crying and I cried with you.
Sometimes you would yell or scream, then cry.
I heard Daddy yelling back.
I was sad, and hoped you would be better soon.
I wondered why you cried so much.
One day you cried almost all of the day.
I hurt for you.
I couldn’t imagine why you were so unhappy.

That same day, the most horrible thing happened.
A very mean monster came
into that warm, comfortable lace I was in.
I was so scared, I began screaming,
but there was no sound.
I guess they had you all pinned down
because you never once tried to help me.
Maybe you never heard me.

The monster got closer and closer
as I was screaming and screaming,
“Mommy, Mommy, help me, please; Mommy, help me.”
Complete terror is all I felt.
I screamed and screamed
until I thought I couldn’t anymore.

Then the monster started ripping my arm off.
It hurt so bad; the pain I can never explain.
It didn’t stop.
Oh, how I begged it to stop.
I screamed in horror as it ripped my leg off.
Though I was in such complete pain,
I realize I was dying.
I knew I would never see your face,
or hear you say how much you love me.
I wanted to make all your tears go away.
I had so many plans to make you happy.
Now, I couldn’t; all my dreams were shattered.
Though I was in utter pain and horror,
I felt the pain of my heart breaking, above all.

I wanted more than anything; to be your daughter.
No use now, for I was dying a painful death.
I could only imagine that terrible things
they had done to me.
I wanted to tell you that I love you before I was gone,
but I didn’t know the words you could understand.
And soon no longer I had the breath to say them;
I was dead.

I felt myself rising.
I was being carried by a huge angle
into a big, beautiful lace.
I was still crying, but the physical pain was gone.
The angle took me to Jesus and set me on His lap.
He said that He loved me, and He was my Father.
Then I was happy.
I asked Him what the thing was that killed me.
He answered, “Abortion. I am sorry, my child;
for I know how it feels.”

I don’t know what abortion is;
I guess that’s the name of the monster.

I’m writing to say that I love you,
and to tell you how much I wanted to be your little girl.
I’d tried very hard to live.
I wanted to live.
I had the will, but I couldn’t;
the monster was too powerful.
It sucked my arms and legs off and finally got all of me.
It was impossible to live.
I just wanted you to know how I tried to stay with you.
I didn’t want to die.

Also, Mommy,
please watch out for that abortion monster.

Mommy,
I love you and I wouldn’t hate for you
to go through the kind of pain I did.
Please be careful.

Love,
Your baby girl

This was written by a 16 year old girl on the horror of abortion from the baby’s point of view. It is touching and may sway some minds to become pro-life. We must do all we can to stop abortion!!!

15 November 2008

Humor : Saat Menikah

Cowok : Akhirnya..Aku sudah menunggu ini sejak lama...

Cewek : Andai aku meninggalkanmu, relakah kamu?

Cowok : Tentu tidak!!!Jangan lagi berpikiran seperti itu!

Cewek : Bukankah kau sangat mencintaiku?

Cowok : Tentu! Selamanya akan tetap begitu...

Cewek : Mungkinkah kau akan selingkuh?

Cowok : Tidak! Aku tak mau melakukan itu

Cewek : ... Aku ngin berada dalam pelukanmu

Cowok : Ya..

Cewek : Sayangku...

10 tahun kmudian baca dialog dr bawah ke atas.. :)

Kesaksian Intan

Saya terlahir dari keluarga non-kristen fanatik. Dari kecil pun terdidik dengan ajarannya. Saat usia saya 12 tahun, nenek saya yang biasa menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Kemudian saya ikut keluarga yang beragama Kristiani. Saya yang masih lugu, belum tahu mana yang terbaik dalam hidup saya kemudian menerima Yesus karena permintaan keluarga.

Setelah saya menerima Yesus, saya bertumbuh di dalam Dia, sampai akhirnya saya masuk pelayanan dan benar-benar mengerti arti kehadiran Yesus dalam hidup saya. Saya sungguh-sungguh mencintai Yesus.

Di perjalanan pelayanan saya dalam Tuhan, saya dihadapkan pada sebuah kenyataan, bahwa saya merindukan Ayah kandung saya, yang sejak kecil tidak pernah saya ketahui rupanya. Reatret Juli 1995, di tengah malam saya berdoa, saya sebaris kata: "Tuhan, saya kangen Papa."  Kata-kata yang telah saya simpan dalam dendam menahun. Saya benci pada Papa, tapi saya juga merindukannya. Perubahaan yang sangat drastis dalam kehidupan saya.

Tiga bulan kemudian keajaiban terjadi dalam hidup saya. Saya bertemu papa kandung saya yang selama 16 tahun telah meninggalkan saya dan mama saya. Sungguh hal yang tidak masuk di akal. Karena saya bertemu dia langsung dan segera mengetahui bahwa dia adalah papa saya.

Kehidupan saya pun berubah. Papa menarik kami kembali ke non-kristen. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Di tengah-tengah pelayanan saya dengan Tuhan saya diberikan pilihan yang sulit. Saya ingin tetap bersama Yesus, tapi saya tidak mau kehilangan keluarga yang baru saya temukan. Saya meninggalkan Tuhan.

Setahun kemudian, Papa meninggalkan kami lagi. Ia menikah lagi. Rasa sakit itu teramat sangat. Tahun-tahun berjalan dengan kehampaan, itu yang saya lalui. Berulangkali saya ingin ke gereja, tapi mama selalu menahan saya. Saya tidak tega melihat kesetiaan mama pada papa, akhirnya saya mengalah.

Lima tahun hidup dalam kehampaan, hingga suatu hari saya sadar saya harus membenahi diri saya. Yang saya perlukan bukan hanya Bapa duniawi tapi juga Bapa surgawi. Akhir tahun 2000, saya pergi ke gereja, berdoa,"Saya ingin pulang, Tuhan." Saya tahu yang saya butuh kan adalah Tuhan Yesus, Dia lebih segalanya buat saya. Saya bisa hidup tanpa Papa, tapi tidak tanpa Tuhan.

Namun, hati saya kembali diuji oleh Tuhan. Ketika saya memilih kembali kepada Tuhan, mama tidak setuju, dengan alasan yang sangat menyakitkan, "Nanti kalau mami mati ngga ada yang doa'in." Sungguh kata-kata itu mengiris hati saya berkeping-keping. Saya seperti di persimpangan jalan. Di hadapkan pada pilihan berat. Saya tidak mau kehilangan Tuhan, tidak juga ingin kehilangan mama saya. Karena hanya dia yang saya miliki, karena saya anak tunggal. Saya down dengan dilema ini. Saya harus menyembunyikan identitas saya sebagai kristiani dari orang-orang di sekeliling saya. Saya juga harus bertengkar setiap kali dengan mama saya bila saya ke gereja atau melihat saya membaca alkitab.

Namun kali ini saya benar-benar kuat. Hari itu saya curhat dengan manager di salah satu divisi di perusahaan saya. Saya sharing setiap hari. Dia yang membantu yang bangkit dan terus berjalan bersama Yesus. Sejak hari itu, saya mantap dengan kekristenan saya. Saya yakin Tuhan yang telah memilih saya. Hingga saat ini saya bisa di sini menceritakan semua kisah saya ini. Saya benar-benar merasakan tangan Tuhan bekerja dalam hidup saya.

Usia saya 22 tahun. Sekarang saya bekerja sebagai sekretaris direktur di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Kehidupan saya mapan di dalam Tuhan, dan terlebih penting, mama saya sudah tidak pernah memarahi saya bila saya ke gereja. Jalan saya semakin mudah, saya yakin, suatu hari mama saya akan kembali kepada Yesus, semua ini dibantu juga dengan doa teman-teman yang membaca kesaksian ini.

Seperti yang tertulis "Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu dan memuliakan Bapamu yang di surga"

Saya mengucap syukur untuk kasih dan penyertaan Tuhan kepada saya. Lewat kesaksian ini saya ingin menyampaikan kepada teman-teman yang serupa kisahnya dengan saya, untuk tetap berjalan di dalam Tuhan, karena pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan biasa. Karena Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan coba'an yang melebihi kekuatan kita. Kita hanya diuji, seberapa besar, kasih kita kepada Tuhan, dan memberi pengertian kepada kita, betapa besar kasih Tuhan dalam hidup kita. Itu tidak berkesudahan.

Oleh: Intan (Jakarta) - 15 September 2001

Diterjemahkan oleh: Hilmy

Struktur Dalam Doa

Bagi orang Kristen, doa memang bukan sebuah upacara atau sekadar liturgi, tapi merupakan sebuah komunikasi dengan Allah yang bisa terjadi secara spontan. Untuk lebih mengenal makna doa, struktur dalam berdoa dapat dijabarkan sbb :

  1. Waktu
    Pilih waktu yang paling baik yang Anda dedikasikan untuk berdoa

  2. Tempat
    Pilih tempat yang terbebas dari gangguan

  3. Fakta mendasar
    Jangan berfokus pada masalah Anda, tapi fokuskan pada kebenaran firman Tuhan yaitu bahwa :
    - Tuhan (selalu) mengasihi Anda (1 Yohanes 4:10-11)
    - Tuhan telah mengutus Ysus untuk menjadi Juru Selamat kita (Yohanes 3:16)
    - Yesus telah mati dan bangkit, mengalahkan dosa dan maut (1 Kor 15:20-26)
    - Yesus berjanji akan tetap bersama kita dan karena itu Ia mengirimkan Roh Kudus (Yohanes 14:16,26;16:7)
    - Yesus terus menjadi Perantara kita di surga (Ibrani 7:25)
    - Yesus akan datang kembali ke dunia (Mat 16:27; 25:34)

  4. Pertanyaan
    Dalam doa, cobalah cari tahu maksud dan tujuan Tuhan melalui pengalaman, renungan, dan isi Alkitab yang Anda baca.

  5. Pujian
    Pujilah Tuhan karena Ia layak dipuji (Mazmur 147:1)

  6. Dengarkan
    Latihlah diri untuk dengar-dengaran akan suara Tuhan yang dinyatakan dalam hati, firman, atau melalui orang lain.

  7. Respons
    Kita merespons suara Tuhan bisa dengan cara meminta pengampunan, berdoa untuk memperoleh hikmat, atau mendoakan orang lain.

Sumber : Renungan Harian Spirit

14 November 2008

Air Raja Untuk Jiwa

Di sebuah kelas kimia, kami belajar bagaimana asam berpengaruh pada berbagai macam bahan lainnya. Dalam salah satu eksperimen yang kami adakan, Dosen kami memberi sebutir emas dan memberitahu kami untuk melarutkannya. Kami merendamnya semalaman didalam cairan asam paling kuat yang kami miliki, dan mencoba bermacam kombinasi asam. Kemudian, kami memberitahunya bahwa emas itu tidak larut.

Dosen tersebut tersenyum. “Saya tahu kalian tidak dapat melarutkan emas,” ujarnya, “kalian tidak memiliki asam yang mampu menyerangnya, tetapi cobalah ini.”

Dia memberi kami sebuah botol dengan label “Nitromuriatic Acid (Agua Regia)” Kami menuangkan sebagian isinya ke dalam tabung yang berisi butiran emas, dan emas yang tampaknya tahan terhadap asam lainnya kali ini dengan cepat menghilang dalam “Air Raja”. Akhirnya, emas itu mampu menemukan tuan yang mampu menguasainya.

Keesokkan harinya, di kelas, Dosen itu bertanya ” Apakah kalian tahu mengapa air tersebut disebut air raja?”

“Ya,” jawab kami, “karena air tersebut berkuasa atas emas yang dapat menahan segala sesuatu yang lain yang dituangkan ke atasnya.”

Kemudian dia berkata, ”Anak-anak, tidak ada salahnya jika hari ini saya meluangkan waktu untuk memberitahu kalian bahwa ada satu lagi bahan yang sama yang tidak mudah dipengaruhi seperti halnya emas.

Hanya ada satu bahan yang berkuasa atasnya - darah Kristus Juru Slamat, air raja bagi jiwa.”

Tips Menghindari Bosan Berdoa

1. Ubah lingkungan Anda
Jika selama ini Anda biasa memiliki jam doa di pagi hari, ubahlah jam doa itu menjadi malam hari. Jika biasanya doa dilakukan di kamar tidur, Anda bisa melakukannya di dapur. Jika biasanya di dalam rumah, cobalah berdoa di bawah pohon atau di kebuh belakang rumah.. Mengubah lingkungan tempat Anda berdoa akan dapat mempengaruhi dan memberi perspektif baru dalam kehidupan dan roh Anda.

2. Ubah rutinitas
Jika selama ini waktu doa Anda hanya diselipkan di antara jam mandi dan sarapan, atau di antara waktu kerja dan istirahat, ubahlah rutinitas itu dengan menempatkan doa sebagai prioritas. Semakin penting waktu doa itu bagi Anda, semakin besar pula perhatian yang Anda berikan kepada-Nya, dan kitapun akan makin dalam mengenal kehendak Kristus.

3. Pujian
Daripada berdoa dalam hati dan berbisik, Anda bisa juga berdoa dengan diiringi menyanyikan pujian, lembut atau bahkan nyaring, yang keluar dari dalam hati. Musik dapat membantu membebaskan roh kita.

4. Bergerak.
Anda juga bisa berdoa sambil berjalan, lari, bersepeda, dll. Dengan demikian, Anda juga dapat merasakan doa seiring dengan gerakan tubuh Anda. Doa sambil merasakan getaran tubuh juga dapat membuat Anda merasakan berkat Tuhan atas kesehatan dan hidup yang Anda miliki.

5. Fokus ulang
Jika saat ini Anda memiliki daftar panjang pokok-pokok doa, Anda mungkin bisa terjebak dalam kebosanan. Fokuskan kembali pokok-pokok doa Anda agar seimbang antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain. Prioritaskan kehendak Allah di atas kebutuhan manusia.

6. Dengarkan
Saat doa Anda menjadi hanya satu arah, yaitu Anda hanya terus mengatakan apa saja yang ingin Anda katakan dan ungkapkan pada-Nya, maka doa sangat mungkin menjadi membosankan. Karena itu ambillah waktu menjernihkan segala pikiran yang mengganggu dan berdiam diri di hadirat-Nya. Belajarlah mendengarkan suara Tuhan karena suara-Nya sama sekali tidak membuat bosan.

7. Belajar
Pelajari dan bacalah firman seperti yang dilakukan banyak orang percaya dan para pahlawan iman sebelum kita. Amati cara-cara berdoa para tokoh-tokoh besar dalam kekristenan dalam sejarah. Iman kekristenan telah ada dan terbukti sejak dulu.

8. Berkelompok
Saat Anda bosan berdoa seorang diri, Anda bisa berdoa dalam kelompok. Bahkan saat ini, hal tersebut juga bisa dilakukan lewat telepon, video call, dll. Kuasa doa dapat berlipat saat Anda berdoa dalam kelompok.

9. Seperti anak kecil
Apakah Anda ingat permohonan doa Anda saat masih kecil? Sering kali apa yang Anda sampaikan dalam doa Anda saat ini akan sangat berbeda dengan saat Anda masih kecil. Dan meski Anda menerima Yesus ketika sudah dewasa sekalipun, cobalah berdoa dengan cara seperti anak kecil. Dan yang sederhana, penuh kekaguman, percaya 100%, dan humor (Tuhan punya selera humor yang tinggi).

10. Visualisasi
Bayangkan Tuhan itu ada dalam setiap tempat di sekitar Anda. Ia ada di samping kanan kiri, atas bawah, di dalam dan luar, dan Ia sedang mendengarkan Anda dan Ia mengasihi Anda. Visualisasikan kasih-Nya itu dan perbaruilah energi Anda dalam berdoa.

Sumber : Renungan Harian Spirit

Hadiah Yang Pas

Nats : Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1)

Bacaan : Matius 2:11-15

Seorang anak laki-laki bingung melihat orang-orang saling bertukar hadiah pada saat pagi di hari Natal, dan bukannya memberikan hadiah kepada Yesus. Sementara itu, di Sekolah Minggu ia diajarkan bahwa Natal adalah hari ulang tahun Sang Juru Selamat. Akhirnya, sesudah lama terdiam, ia lalu bertanya, "Mama, kapan kita akan memberikan hadiah untuk Yesus? Bukankah ini adalah hari ulang tahun-Nya?"

Aneh, bukan? Kebanyakan dari kita memberikan hadiah kepada setiap orang kecuali kepada Dia yang ulang tahun-Nya kita rayakan. Pertanyaan yang bagus untuk kita renungkan adalah: Apa yang akan saya berikan kepada Tuhan Yesus pada hari Natal kali ini? Jika Anda belum pernah memercayai Dia sebagai Juru Selamat, maka hal yang paling Dia rindukan dari Anda adalah hati yang percaya. Mengapa Anda tidak menaruh iman pada kematian Yesus yang berkurban di salib supaya Anda bisa diselamatkan dari dosa?

Apabila karena iman Anda sudah mengenal Kristus sebagai Sang Juru Selamat, maka hal paling indah yang dapat Anda lakukan pada hari Natal kali ini adalah memberikan hadiah yang paling dirindukan Allah dari diri Anda, yaitu berupa tubuh Anda sendiri (Roma 12:1).

Tubuh kita harus digunakan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan oleh Allah. Karena kita telah menerima karunia keselamatan dari-Nya, maka sangat masuk akal apabila kita mempersembahkan diri kita kepada Bapa surgawi. Apabila kita menyerahkan diri kita, berarti kita memberikan hadiah Natal yang benar-benar pas kepada-Nya! --RWD

BERIKAN SELURUH HIDUP ANDA KEPADA KRISTUS
DIA TELAH MEMBERIKAN SELURUH HIDUP-NYA KEPADA ANDA

Yayasan Gloria

13 November 2008

Berdoa Untuk Anak

Nats: Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya - Markus 7:26

Bacaan : Markus 7:24-30

Sebagai orangtua kristiani, kita memiliki kewajiban yang tak boleh dilupakan. Apakah itu? Berdoa untuk anak-anak kita! Dalam buku How to be a Good Mom, dikupas tentang pentingnya orangtua berdoa untuk anak-anaknya. Doa untuk anak-anak sungguh merupakan sesuatu yang penting dan tak dapat diabaikan!

Pokok doa pertama tentu kita berdoa untuk kehidupan rohani anak-anak. Berdoa agar mereka semakin mengenal Allah lebih dalam lagi. Dengan doa, anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, tanpa harus kita awasi dengan ketat pun mereka dapat menjadi anak yang bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri.

Pokok doa selanjutnya, kita berdoa untuk perkembangan fisik dan mental mereka. Ada begitu banyak anak memiliki gambar diri yang rusak. Sulit menerima diri sendiri. Mereka mungkin minder, penuh sikap negatif, dan pesimis. Melalui doa, mintalah Allah membuat terobosan-terobosan baru dalam hidup mereka, sehingga hidup mereka diubahkan.

Masih banyak yang perlu kita doakan. Berdoa untuk komunitas dan pergaulan anak-anak kita; untuk calon pasangan hidup mereka kelak; untuk kesehatan mereka; untuk studi atau aktivitas-aktivitas yang dijalani; untuk masa depan mereka; dan tentu masih ada banyak hal khusus yang bisa kita doakan.

Kita takkan pernah menjadi orangtua yang baik jika berhenti berdoa untuk anak-anak kita. Dengan berdoa untuk anak-anak, berarti kita mengakui keterbatasan kita sebagai orangtua dalam mendidik anak-anak. Dengan berdoa, kita mengizinkan Tuhan yang tak terbatas menyatakan kebaikan-Nya kepada anak-anak kita -PK

KITA TIDAK AKAN PERNAH MENJADI ORANGTUA YANG BAIK
JIKA KITA BERHENTI BERDOA UNTUK ANAK-ANAK KITA

Yayasan Gloria

The Five Finger Prayer

prayer
* Your thumb is nearest to you. So begin your prayers by praying for those closest to you.They are the easiest to remember. To pray for our loved ones is, as C.S. Lewis once said, a “sweet duty”.

* The next finger is the pointing finger. Pray for those who teach, instruct and heal. This includes teachers, doctors, and ministers. They need support and wisdom in pointing others in the right direction. Keep them in your prayers.

* The next finger is the tallest finger. It reminds us of our leaders. Pray for the president, leaders in business and industry, and administrators. These people shape our nation and guide public opinion. They need God’s guidance.

* The fourth finger is our ring finger. Surprising to many is fact that this is our weakest finger; as any piano teacher will testify. It should remind us to pray for those who are weak, in trouble or in pain. They need your prayers day and night. You cannot pray too much for them.

* And lastly comes our little finger; the smallest finger of all. Which is where we should place ourselves in relation to God and others. As the Bible says, “the least shall be the greatest among you.” Your pinky should remind you to pray for yourself.

By the time you have prayed for the other four groups, your own needs will be put into proper perspective and you will be able to pray for yourself more effectively.