Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 July 2008

Refuse To Worry

Today's Scripture

"Who of you by worrying can add one cubit to his stature?" (Matthew 6:27)

Today's Word from Joel and Victoria

Worrying gives the devil the opportunity to move, just like worship gives God the opportunity to move. Worrying means to play the enemy's lies in your mind, over and over again. God promises in Isaiah 26:3 that He will keep us in perfect peace when we keep our minds stayed on Him. So when the opportunity to worry comes, use it as a reminder to worship the Lord and thank Him for His good and precious promises! Cast all of your cares on the Lord, because He cares for you!

A Prayer for Today

God, I am weary from worrying. Please help me to stop the soundtrack of needless worry that plays over and over again in my head. I want to place my fears and concerns in Your hands and live in peace knowing that You will fulfill all of your precious promises to me. In Jesus' name - Amen.

Joel Osteen Ministries

Lompatan Iman

Bacaan: Matius 9:18-26

Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.- Matius 9:22

Kaum Gurka adalah pejuang Nepal yang sangat berani dan tak pernah mengenal rasa takut. Hanya kali ini mereka tampak ragu-ragu ketika menerima perintah untuk melompat dari pesawat tempur dalam sebuah peperangan. Biasanya pejuang ini selalu berkata ya untuk setiap perintah, namun kali ini mereka mengajukan beberapa persyaratan untuk berani melompat dari pesawat tempur. Ada tiga syarat yang mereka ajukan, yang pertama : tanahnya penuh semak, tak berbatu-batu dan lunak, yang kedua : pesawat yang mengangkut mereka harus terbang selambat mungkin dan yang ketiga : pesawat itu tak terbang lebih dari 30 meter. Kontan saja, si ahli strategi perang berkata, “Syarat yang pertama dan kedua bisa dipenuhi, tapi syarat yang ketiga jelas tak mungkin, karena parasutnya tak akan sempat terbuka dari ketinggian 30 meter.” Para Gurka berkata, “O, kalau begitu tidak apa-apa deh. Kami bersedia lompat dari mana saja. Anda tidak menyebutkan soal parasut itu sebelumnya.”

Ketika saya membaca kisah nyata tersebut, saya tersenyum geli melihat keluguan sekaligus keberanian pejuang Gurka untuk melakukan apa saja demi kemerdekaan. Bahkan melompat dari ketinggian 30 meter tanpa parasut pun mereka berani melakukannya. Berbicara tentang kehidupan iman kita, harusnya kita lebih dari pejuang Gurka tersebut. Mengapa? Karena kita memiliki Panglima perang yang bijak yaitu Tuhan kita sendiri. Ia tidak pernah menyuruh kita melakukan lompatan iman, tanpa janji penyertaan-Nya.

Hanya sayang kita selalu takut untuk melakukan lompatan iman, meski Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan “parasut surgawi” , malaikat Tuhan yang menjaga kita, bahkan janji-Nya sendiri bahwa Ia akan selalu menyertai dan menolong kita. Kita selalu meragukan Tuhan dan mengijinkan kebimbangan bermain-main di area pikiran kita. Bagaimana kalau nanti Tuhan tidak menolong? Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?

Dan apa jadinya dengan orang yang dikuasai kebimbangan seperti itu? Ia justru tidak akan mendapat apa-apa! Sebab itu jika Tuhan menghendaki kita melakukan lompatan iman, milikilah keyakinan bahwa janji dan penyertaan-Nya itu sempurna. Seperti halnya Musa yang membelah laut kolsom. Demikian juga mujijat akan kita alami kalau kita berani melakukan lompatan iman.

(Kwik)

Renungan Harian Spirit

Setelah Kau Menikahiku Bag. X

Tidak ada jawaban. Aku menyelinap masuk. Kamar Idan gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis. Hanya saat itu Idan tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Idan yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.

Sore harinya, saat aku tengah membantu merapikan kembali ruang tamu, kakak
tertua Idan, Kak Ira, menghampiriku.

"Pit, bawa Idan pulang."

"Apa tidak sebaiknya dia di sini dulu, Kak?"

Kak Ira menggeleng. "Coba lihat sendiri," katanya sambil menunjuk ke halaman belakang. Idan kutemukan di sana, sedang mengisap sebatang rokok. Ia sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya. Ketika aku mendekat, kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas meja tinggal berisi sebatang. Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan kubunuh di asbak. Idan tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Kak Ira memang benar. Aku harus segera membawa Idan jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.

"Aku mau pulang, Dan, " ujarku sambil memegang tangannya. Ia menggeleng pelan.

"Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri. Besok aku pulang naik bus saja."

"Aku tidak mau sendirian di rumah."

Idan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan kepada kakak dan iparnya dan keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira menggamit tanganku dan berbisik, " Aku senang Idan sudah menikah denganmu. Kau pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan dengan meninggalnya Mama. Kau tahu, ia tinggal dengan Mama selama tiga puluh tiga tahun."

Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Kak Ira dengan hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan kepadan ya bahwa aku dan Idan sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini secepatnya? Sesampai di rumah, Idan langsung menuju ke kamarnya.

"Kau mau kumasakkan nasi goreng, Dan?"

"Nanti saja. Aku tidak lapar."

"Kau tidak makan apa-apa dari kemarin subuh. Nanti kau sakit. Mau ya?"

Idan mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin khawatir melihatnya.

"Tunggu di sini," ujarku lagi. "Aku tidak akan lama."

Ketika aku baru saja mengambil telur dari lemari es, aku mendengar suara Idan di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa terpaku diambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan. Insting pertamaku adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Idan dengan ragu. Perlahan kuelus punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, dan lambat laun isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang mesti kulakukan selanjutnya. Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba saja ia terkulai lemas, dan kalau aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku, ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang menggigil.

"Maaf, Pit," bisiknya. "Aku tidak bisa menangis di depan kakak-kakakku. Mereka ...."

"Aku tahu. Tidak apa-apa", tanganku masih gemetar saat aku mengelus rambutnya.

"Aku buatkan teh panas, nanti kau minum, ya." Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali, ia kelihatan agak lebih baik. Dihirupnya sedikit teh yang kubawa. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya, Ia memegang tanganku.

"Terima kasih."

"Kau pernah melakukan lebih dari ini untukku."

"Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernapasan buatan," ia tersenyum nakal.

"Oh, kau!" aku ikut tersenyum, lega.

"Dan untuk menikah denganku," lanjut Idan kemudian, ekspresinya begitu serius.

"Setidak-tidaknya sebelum meninggal, Mama bisa tenang karena mengira aku sudah beristri."

Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah dan terbata saat aku bicara, "Aku yang mesti berterima kasih kepadamu."

"Untuk apa?"

"Untuk setahun yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."

Idan tersenyum kecil. "Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih."

"Jangan memaksa," aku mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah sedikit."

Idan tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini," katanya.

"Entahlah, Dan," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat capai berkilah tiap kali ibuku merongrong soal perkawinan. Dan aku melihat usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas; dan keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."

"Apa yang kau dapat setelah setahun kita menikah?" tanyanya dengan mimik lebih serius. Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhir nya. "Aku belajar bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu kemenangan bersama."

Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.

"Kau memang selalu pintar bicara," Idan tersenyum.

"Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama ini?"

"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi."

Aku tertegun. "Apa maksudmu?"

Idan bangkit dan duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal sehat."

Kutatap wajah Idan lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.

"Aku masih belum mengerti," bisikku.

"Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Pit. Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku."

"Apa maksudmu kau mencintaiku?", suaraku tercekik.

"Apa yang tidak kau pahami? Aku mencintaimu," kata-kata Idan begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan keras yang membuatku terempas.

"Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena nyaris melindas kelincimu, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini."

"Kau ... kau tidak pernah ...."

"Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu."

"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan," ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."

Ia mengangkat bahu. "Tidak cukup untuk kau cintai."

Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Idan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.

"Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?", tanyaku datar. Idan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya.

"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun."

Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatapku.

"Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan."

Ia menghela napas berat. "Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga."

Lama kami berdua saling berpandangan. "Terima kasih, Dan," desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.

"Aku sudah bicara dengan Idan, Pram. Tapi aku terpaksa menunda proses perceraian itu. Idan baru saja kehilangan ibunya. Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini."

"Berapa lama?"

"Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin."

"Kau tahu waktu kita sangat terbatas, Ta. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita lewati berdua."

"Aku tahu, Pram. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan sekarang. Dia membutuhkan aku."

"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Ta. Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?"

Aku menghela napas panjang. "Entahlah, Pram", bisikku.

"Apa maksudmu?" suara Pram terdengar kaget.

"Aku .... Aku tidak akan bahagia kalau Idan menderita."

"Ita! Kau tidak .... Dengar, pikir baik- baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?"

"Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya."

"Tapi kau tidak bahagia!"

"Aku bahagia, Pram. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Idan membuatku bahagia."

"Kau tidak bisa melakukan ini, Ta. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."

"Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri."

"Ita, kau tidak mencintainya!"

"Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup."

"Kau hanya bingung, Ta. Aku mengerti. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"

"Aku tidak pernah akan lupa, Pram."

"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini?"

"Idan mengajariku tentang cinta."

"Hanya karena itu?"

"Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya."

"Ita ...."

"Selamat tinggal, Pram. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."

Telepon kututup sebelum air mataku luruh.

"Upit."

Aku tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Idan berdiri di belakangku. Wajahnya penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi kursiku.

"Kenapa?" tanyanya. Aku tak bisa menjawab. Air mataku menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan jarinya.

"Aku tak bisa melihatmu begini", lanjutnya pelan. "Ini keputusan yang sangat konyol, Pit. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu sekali lagi?"

Aku mengangguk.

"Dia akan membuatmu sangat bahagia, Pit."

Aku mengangguk.

"Kau akan menyesal."

Aku mengangguk.

"Kau akan sedih, kecewa ...."

Aku mengangguk.

"Kau tidak mencintaiku."

Aku menggeleng.

Idan terbelalak. "Upit!" pekiknya tertahan.

"Idan, maafkan isterimu ini", sambil merangkul suaminya

Tamat

Setiap Langkah Adalah Anugerah

Seorang professor diundang untuk berbicara disebuah basis militer. Di  sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya. Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.

Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.

Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang  benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?", tanya sang professor.

"Melakukan apa ? "tanya Ralph.

"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?", desak sang professor.

"Oh.." kata Ralph,  "selama perang ....saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam, juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah." katanya.

"Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya."

"Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjal ani kehidupan seperti ini."

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.

Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.

Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT...

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.
 
- ANd WhATEvEr yOu Do, dO iT HEaRtiLy aS FoR ThE LoRd ^^ -

3 Things In Life

Three things in life that, once gone, never come back

1. Time

2. Words

3. Opportunity

Three things in life that can destroy a person

1. Anger

2. Pride

3. Unforgiveness

Three things in life that you should never lose

1. Hope

2. Peace

3. Honesty

Three things in life that are most valuable

1. Love

2. Family & Friends

3. Kindness

Three things in life that are never certain

1. Fortune

2. Success

3. Dreams

Three things that make a person

1. Commitment

2. Sincerity

3. Hard work

Three things that are truly constant -

Father - Son - Holy Spirit

I ask the Lord to bless you,

as I pray for you today,

to guide you and protect you,

as you go along your way.

God's love is always with you,

God's promises are true.

And when you give God all your cares,

you know God will see you through.

Please pass this along to People you want God to Bless.

09 July 2008

Aku & Kamu

Ketika AKU menciptakan langit dan bumi. AKU berfirman dan jadilah.

Ketika AKU menciptakan pria, AKU membentuknya dan meniupkan nafas kehidupan ke lubang hidungnya. Tetapi engkau, wanita, AKU menghiasmu setelah aku meniupkan nafas kehidupan ke pria karena lubang hidungmu terlalu lembut. AKU membiarkan pria tertidur dengan nyenyak sehingga AKU dapat dengan sabar dan sempurna membentuk engkau. Pria AKU buat tertidur supaya dia tidak dapat mencampuri hasil karyaKu yang sempurna. Dari satu tulang, AKU menghiasmu.

AKU memilih tulang yg melindungi kehidupan pria. AKU memilih tulang rusuk, yang melindungi jantung dan paru-paru dan mendukungnya, sebagaimana yg harus kamu lakukan. Dari satu tulang ini, aku membentukmu dengan sempurna dan cantik. Sifatmu adalah seperti tulang rusuk, kuat tetapi lembut dan mudah patah.

Engkau menyediakan perlindungan untuk organ paling lembut dari pria, yaitu hati atau jantungnya. Jantungnya adalah pusat dari kehidupannya, paru-parunya menggenggam nafas kehidupan. Tulang rusuk akan membiarkan dirinya patah sebelum ia mengijinkan kerusakan terjadi pada jantung. Jika hati rusak, berarti rusuk telah hancur.

Dukunglah pria sebagaimana tulang rusuk melindungi tubuhnya. Engkau tidak diambil dari kakinya utk menjadi alasnya, tidak juga diambil dari kepalanya utk menjadi atasannya. Engkau diambil dari sisinya, utk berdiri di sebelahnya dan dipeluk dengan erat.

Engkau adalah malaikat-KU yg sempurna. Engkau adalah gadis kecilku yg cantik. Engkau telah tumbuh menjadi wanita yg sempurna, dan mata-KU terpuaskan ketika aku melihat hatimu. Bibirmu sangat cantik ketika mengucapkan doa. Hidungmu sangat sempurna dalam bentuk. Tanganmu sangat lembut untuk disentuh. AKU telah memberi perhatian pada wajahmu saat engkau tertidur. AKU menggenggam hatimu dekat dengan-KU. Dari semua yg hidup dan bernafas, engkau adalah yg paling mirip dgn AKU.

Adam berjalan bersamaku di hari yg dingin dan dia kesepian. Dia tidak dpt melihat ataupun menyentuh-KU. Dia hanya dapat merasakan-KU. Jadi semua yang AKU ingin Adam berbagi denganku, Aku membentuknya di dalam kamu. Kekuatan-KU, kemurnian-KU, cinta-KU, perlindungan- KU dan dukungan-KU. Engkau adalah istimewa karena engkau adalah perpanjangan tangan-KU. Pria melambangkan citra-KU, wanita, perasaan-KU. Bersama-sama, kalian melambangkan kesempurnaan yg sejati.

Jadi, Pria - perlakukan wanita dengan baik. Cintailah dia, hormatilah dia, krn ia lembut. Menyakitinya, berarti engkau menyakiti-KU. Apa yg engkau lakukan kepadanya, engkau melakukan-nya kepada-KU. Jika engkau menghancurkannya, engkau hanya menghancurkan hatimu sendiri, hati-Nya.

Wanita, dukunglah pria. Dalam kesederhanaan, tunjukkan kepadanya kekuatan perasaan yg telah KU berikan kepadamu. Dalam kesunyian, tunjukkan kekuatanmu. Dalam cinta, tunjukkan kepadanya bahwa engkau adalah tulang rusuknya yg melindungi tubuhnya.

Setelah Kau Menikahiku Bag. IX

Kututup telepon, tiba-tiba merasa begitu dingin dan sendiri. Pilihan yang sulit: Idan atau Pram?

"Kita tidak bisa bertemu lagi Pram," ujarku kepada Pram di telepon. Separuh jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.

"Kenapa? Idan melarangmu?"

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Kenapa kau terus memikirkan dia, Ta. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan semuanya?"

Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di pipiku.

"Ita, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Idan, hidup kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Ta, tidak juga masa depan, tapi berdua, kita akan miliki segalanya ...."

"Hentikan," potongku dengan suara bergetar.

"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidup ku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali denganku."

"Aku tidak bisa ...."

"Kenapa tidak?"

Ya, kenapa tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali memutuskannya?

"Kau tidak mencintai Idan, Ta. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencintainya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki lain."

"Aku ...."

"Akuilah, Ta, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir."

Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar makin cepat. Kupejamkan mataku. "Aku tidak mencintaimu," gumamku.

"Lebih keras lagi."

"Aku tidak mencintaimu."

"Kau berbohong."

Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan, "Ya."

"Ita," suara Pram gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia."

Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Idan akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Idan sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri lagi. Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia. Dan aku tahu, keputusan untuk kembali kepada Pram adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Idan. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Idan? Mula-mula aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat. Tapi saat itu tak pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan niatku. Pram tidak bisa mengerti itu. "Aku ingin kita menikah sebelum aku kembali ke Jerman, Ta. Dan kau harus menempuh masa indahmu dulu. Belum lagi kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau menikah denganku segera setelah masa indahmu selesai. Dan aku hanya di sini sepuluh bulan lagi."

"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi ... Entahlah."

"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu bahagia?"

"Aku ...." aku tergagap dan menggeleng.

"Jadi, bicaralah dengan Idan."

Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad untuk bicara dengan Idan malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu aku tiba di rumah, Idan sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat aku mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

"Kenapa kau sudah di rumah?" tanyaku. Idan menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam rumah. "Ada apa?"

"Sst!"

Ia membawaku ke serambi samping. Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar ... mawar putih?

"Ini hadiah ulang tahun pertama perkawinan kita," katanya. Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Idan benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang pasti telah berubah warna.

"Aku ... aku tidak punya hadiah apa-apa," gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. "Aku lupa ...."

Idan tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri," katanya. Ia duduk diayunan itu. "Ayo," katanya sambil menarik tanganku. Aku duduk disampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Aku benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Idan menikah, simulasi. Kenapa Idan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku sendiri sama sekali tak mengingatnya? Idan mulai berayun-ayun pelan sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.

"Pit, kau tidak menyimak kata-kata Pak Guru, anak nakal," teguran Idan membuyarkan renunganku. "Ada apa?"

Kutatap matanya. "Dan, Pram pulang."

Dahinya berkerut. "Pram?"

"Pacarku yang pergi ke Jerman."

"Oh," ia mengangguk. "Kapan?"

"Sebulan lalu, waktu aku ulang tahun."

Ia mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. "Dia sudah menikah?" tanya Idan, seperti mendorongku bicara. Aku menggeleng.

"Lalu?"

"Dia ingin menikah denganku," ujarku cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya.

"Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera bercerai."

"Oh."

Idan tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah-olah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?"

Aku mengangguk.

"Kau yakin akan bahagia dengannya?"

Sekali lagi aku hanya mengangguk.

"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat. "Aku ikut bahagia."

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatiku. Idan bertanya beberapa hal tentang Pram dan semuanya kujawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa waktu, aku sadar kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritaku.

"Dan?" tegurku.

"Ya?"

"Kau tidak mendengarkan. Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai denganku."

Malam itu aku terbangun saat Idan mengguncang bahuku.

"Pit, bangun!"

"Ada apa?" gumamku. Jam alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini hari.

"Ganti baju cepat, kita mesti ke rumah sekarang. Mama meninggal."

Aku terlonjak duduk. "Apa?"

"Ganti baju," perintah Idan sambil meninggalkan kamarku. Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya lari mengejar. "Kapan?"

"Baru saja."

"Di?"

"Rumah. Ganti bajumu. Kita berangkat lima menit lagi."

"Idan ...."

Ia membanting pintu kamar di depanku. Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Idan. Kuketuk pintu itu perlahan.

"Dan, aku sudah siap."

 

Bersambung ke Bagian X

Doa Super Ngebut

Bacaan: Lukas 10:38-42

Saya memang berdoa secara rutin tiap hari, tapi ada kalanya doa saya super cepat dan terlihat begitu tergesa-gesa. Bukan seperti dua orang sahabat yang keasyikan ngobrol. Bukan juga seperti seorang anak yang bisa cerita panjang lebar kepada orang tuanya di meja makan. Lebih mirip seorang prajurit yang memberikan laporan kepada komandannya, singkat, cepat dan padat! Belum lagi saya tergoda untuk melirik jam dinding yang kebetulan ada di depan saya. Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka tertentu, saya pun makin ngebut di dalam doa!

Saya biarkan kegiatan rutinitas saya termasuk pekerjaan, pelayanan dan urusan tetek bengek saya merebut waktu-waktu pribadi saya dengan Tuhan. Padahal bukankah teknologi yang ada sekarang ini sudah membantu kita untuk sedikit lebih santai? Tak perlu menulis dengan mesin ketik butut, sekarang ada komputer yang sangat hi-tech. Ada telpon, faks, sms, e-mail dan penyedia layanan komunikasi lainnya sehingga waktu kita bisa berhemat banyak. Belum lagi urusan dapur sekarang ini menjadi begitu mudah. Ada microwave, ada rice cooker, ada kompor gas (tak perlu mencari kayu di hutan dulu), ada mesin cuci, dll. Soal makanan juga semuanya serba instan. Bukankah semua ini harusnya bisa membuat kita menjadi lebih santai?

Kenyataannya, semakin ditemukan alat-alat canggih yang mempermudah kerja manusia, maka manusia justru menjadi lebih sibuk lagi! Aneh tapi nyata. Saya mengalaminya, saya rasa Anda juga sama.

Menjadi sibuk sebenarnya tak menjadi soal, selama kesibukan kita tidak mengurangi waktu-waktu pribadi kita dengan Tuhan. Sayangnya kita susah untuk mendisiplin diri dengan memberi waktu dengan Tuhan di jaman yang serba tergesa-gesa ini. Padahal sesungguhnya hubungan kita dengan Tuhan justru menjadi kunci apakah hari-hari kita menjadi efektif. Jujur saja, saya menulis renungan ini dengan penyesalan kepada Tuhan karena mengurangi waktu-waktu pribadi saya dengan Tuhan dan menambahnya untuk kesibukan saya secara pribadi. Berharap kita belajar seperti Yesus, di tengah padatnya jadwal pelayanan KKR dan roadshow dari kota ke kota, Yesus selalu memiliki waktu untuk berdoa dengan BapaNya. Atau sebaliknya, jangan-jangan Anda juga membaca renungan ini dengan tergesa-gesa?

(Kwik)

Renungan Harian Spirit

Kesehatian

KESEHATIAN MENDATANGKAN KUASA

Bahan Renungan Mazmur 133

Pembukaan :

Jika kita merenungkan Mazmur 133:1 kita mempelajari bahwa Tuhan menghendaki kalau kita hidup rukun bersama-sama dengan saudara seiman. Mazmur Daud berkata sungguh alangkah baik dan indahnya bila hidup kita dipenuhi dengan kerukunan. Kerukunan dan Kesehatian nampaknya menjadi satu kesatuan. Kita sama-sama akan mempelajari tema kesehatian yang mendatangkan kuasa.

Bila anda menghitung dengan kalkulator Anda, satu ditambah satu jawabannya adalah dua.  Tetapi, kalkulator Allah berbeda dengan kalkulator kita, satu ditambah satu bisa menjadi seribu, sepuluh ribu atau seratus ribu…  Karena bila dua orang sehati (satu orang ditambah satu orang), maka kuasa Allah bekerja dengan luar biasa.  Satu orang dapat mengalahkan seribu, tetapi dua orang dapat mengalahkan sepuluh ribu!

Yonatan dan pembawa senjatanya termasuk dalam hitungan sedikit orang yang mengerti prinsip ini.  Berdua mereka mendatangi perkemahan orang Filistin dengan senjata seadanya.  Yang lain berpangku tangan di perkemahan, karena senjata mereka telah dilucuti.  Di seluruh bangsa hanya Saul dan Yonatan yang memiliki senjata.  Hari itu Yonatan mengajak bujang pembawa senjatanya untuk menyerang, dan ide yang nampaknya tidak masuk akal ini langsung disetujui!

”Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang. Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: “Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat.”  (1 Samuel 14:6-7)

Kisah nyata ini berakhir dengan gegap gempita, berdua, Yonatan dan bujangnya, menyebabkan para tentara yang gagah berani kehilangan nyali.  Rupanya semangat Yonatan dan bujangnya membuat bumi bergetar

It takes two wings for a bird to fly.
(Jesse Jackson)

KESEHATIAN MENDATANGKAN BERKAT

“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20)

Hanya dua orang!  Jumlah bukan merupakan masalah.  Syaratnya bukan jumlah, tetapi kesepakatan, kesehatian.  Bahasa asli sepakat adalah “sumphoneo” yang artinya harmonis, bersamaan, kompak, setuju.  Dari kata ini kita dapatkan kata simfoni, suatu paduan suara yang indah.  Simfoni indah yang dilantunkan oleh sebuah orkestra tidak berasal dari alat musik dan suara yang seragam.  Terompet melengking tinggi sementara cello berguman rendah.  Suara piano timbul dan tenggelam, di sela-sela iringan biola.  Namun mereka semua kompak melantunkan lagu di kunci yang sama.  Kesatuan (unity)Ta bukan berarti keseragaman (uniform).  Bayangkan bila semua pemain di orkestra adalah pemain piano, yang memukul nada yang sama pada ketukan yang sama.  Betapa membosankan!

No one can wistle a symphony.  It takes an orchestra to play it.
(H.E. Luccock)

Rupanya Tuhan menyukai simfoni kesehatian ini.  Bila Ia mendengarkan lagu-lagu merdu orkestra kesehatian, Ia segera menyuruh para malaikan memenuhi tempat itu dengan berkat. “Tempat itu” bisa berupa rumah tangga Anda, kantor Anda, maupun gereja dan kota kita:

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!  Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133:1-3)

EMPAT “K” UNTUK MEMBANGUN KESEHATIAN

1.    KESAMAAN TUJUAN
Kesehatian tidak otomatis terjadi bila sekelompok orang berkumpul bersama-sama.  Bila para pemain musik datang dengan alat musik mereka masing-masing, bertemu tiap hari dan memainkan alat musik mereka, hal ini bukan jaminan bahwa mereka akan melantunkan lagu yang sama.  Perlu kesamaan tujuan, yaitu kesepakatan untuk memainkan lagu yang sama di kunci yang sama.  Bila tidak, bisa-bisa bukan simfoni indah yang kita dengarkan melainkan suara-suara fals yang menyakitkan telinga.  Apakah dalam keluarga Anda ada kesamaan tujuan?  Apakah Anda sudah mengenal tujuan kita bersama sebagai sebuah gereja?

Together we can change the world

2.    KOMUNIKASI
Dalam setiap orkestra, selalu ada konduktor yang mengatur para pemain musik.  Dengan gerakan-gerakan tangannya, ia berkomunikasi pada seluruh anggota orkestra, bagian mana yang main terlebih dahulu, apakah bermain dengan keras atau lembut, cepat atau lambat.  Demikian pula dalam keluarga dan gereja kita, komunikasi yang baik akan membuat seluruh tim mengerti apa yang diharapkan, bagaimana mereka dapat bersama-sama mencapai tujuan.  Komunikasikan dengan kata-kata yang positif keinginan Anda pada anggota keluarga yang lain.  Berikan kesempatan untuk tiap anggota keluarga berbicara dengan terbuka.  Dalam gerejapun, komunikasi sangat penting.  Gembala Satelit maupun Gembala Sel Pukat mengkomunikasikan tujuan kita bersama melalui kotbah, dan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat.  Dengarkan dengan teliti, agar Anda tidak memainkan lagu yang salah!

Praise loudly and blame softly

3.    KERJA SAMA
Bayangkan bila ada sebagian orang yang memang sangat ahli dalam bermain alat musiknya memutuskan untuk bermain sendiri tanpa mengikuti panduan lagu yang diputuskan oleh konduktor.  Walaupun mungkin permainan mereka bagus, tetapi tidak ada artinya bila tidak dilakukan dengan kompak bersama-sama pemain musik yang lain.  Apakah kita juga dapat bekerja sama dengan baik bersama dengan jemaat yang lain?  Apakah dalam keluarga, setiap anggotanya kompak mengikuti arahan dari kepala keluarga?

If you are not participating, you are not part of the team

4.    KOMITMEN
Ada orang-orang yang “tertarik” untuk melakukan sesuatu, tetapi ada juga yang membeirkan “komitmen” untuk melakukan hal itu.  Bila seseorang sekedar “tertarik”, ia akan mengerjakan hal tsb hanya dalam keadaan enak dan menguntungkan.  Komitmen memastikan bahwa kita akan bekerja dan maju bersama-sama, tidak peduli tantangan apapun yang menghadang kita.  Pemain musik yang tidak dapat memberikan komitmennya tentu saja tidak dapat dimasukkan dalam orkestra.  Apa jadinya bila ia tiba-tiba memutuskan untuk tidak naik panggung?  Tanpa yang satu ini, kesatuan tidak dapat terwujud.  Orang-orang yang berani memberikan komitmen mereka adalah orang-orang yang berani untuk berkorban dan melalui berbagai-bagai tantangan, untuk meraih keberhasilan yang lebih besar dari sekedar prestasi rata-rata.

Coming together, sharing together, working together, succeeding together.

Bila kita lihat, orang-orang yang dapat mengubah dunia adalah orang-orang yang memutuskan untuk bersatu.  Dua orang, Yonatan dan bujangnya, membuat sekelompok besar tentara Filistin ketakutan.  Dua orang bersaudara Wright, membuat pesawat terbang yang pertama, yang membawa revolusi pada cara kita hidup di abad ini. Tim yang memenangkan juara dunia sepak bola adalah tim yang bersatu.  Lagu-lagu yang menyentuh hati keluar dari orkestra yang kompak.  Keluarga yang kokoh, berdiri karena tiap anggotanya bersatu.  Dan gereja yang dapat mengubah komunitas, kota dan bangsa-bangsa adalah gereja yang tiap anggotanya bergerak mencapai tujuan yang sama, yang dikomunikasikan dengan positif, membangun kerja sama yang baik, serta berani memberikan komitmen mereka.

A job worth doing is a job worth doing together

Saudara - saudara sekalian semoga renungan ini bisa menjadi berkat bagi saudara yang membacanya, jika anda merasa diberkati, kirimkan kesaksian anda ke rumah renungan yah. God Bless You

Sumber : Jimmy Oentoro dan Berbagai Sumber

Cirebon, 5 Juli 2008

Dikirim oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Humor : Sales & Petani

Seorang sales sedang mencoba membujuk seorang petani untuk membeli sebuah sepeda.

Si petani menolak untuk membeli sebuah sepeda, tapi ternyata si sales tampaknya tidak mudah menyerah.

"Hei ... daripada membeli sepeda, lebih baik aku habiskan uangku untuk pelihara sapi," kata si petani.

"Ah," jawab si sales, "tapi coba pikir deh ... Anda akan sangat terlihat bodoh jika Anda bepergian dengan mengendarai seekor sapi."

"Huhh!!" hardik si petani. "Apakah tidak lebih bodoh jika orang melihatku memerah sebuah sepeda!"

08 July 2008

Humor : Mr. Bean

Mr. Bean di sekolah

Guru: Berapakah 5 plus 4?
Mr. Bean: 9
Guru: Berapakah 4 plus 5?
Mr. Bean: He, he, Anda mau menjebak saya, Anda hanya membalik hitungannya, jawabnya 6!


Mr. Bean di apotik

Mr. Bean: Saya ingin membeli vitamin untuk cucu saya.
Karyawan: Vitamin apa, A, B atau C?
Mr. Bean: Apa saja, cucu saya belum bisa membaca!!