This picture was done with one pen stroke.
It starts on tip of the nose and ends on the bottom.
Check out the copyright date.

This picture was done with one pen stroke.
It starts on tip of the nose and ends on the bottom.
Check out the copyright date.

Di suatu rumah sakit jiwa terdapat tiga pasien yang ingin di tes kewarasannya oleh sang dokter, maka dipanggillah pasien2 tersebut.
Dokter : "Pasien A, apa namanya ini ..?" (sambil nunjuk hidung)
Pasien A : "telinga dok ...."
Dokter : "ah... ternyata kamu belum waras", sambil memanggil pasien kedua
Dokter : "apa namanya ini ..?" (sambil nunjuk mata)
Pasien B : "mulut dok...."
Dokter : "wah kamu lebih parah", dan si dokter memanggil pasien terakhir....
Dokter : "apa namanya ini ...?" (sambil nunjuk mulut)
Pasien C : "pasti mulut dong ...."
Dokter : "wah kamu udah agak baikan... , tapi sekali lagi yah..."
Dokter : "apa namanya ini ..?" (sambil nunjuk mata)
Pasien C : "wah dokter ini bagaimana sih, itu khan mata dok."
Dokter : "ternyata kamu betul-betul sudah waras....."
Pasien C : "iya dong dok, orang khan mikir pake ini.." (sambil nunjuk jidat)
Dokter : "apa namanya itu ...?"
Pasien C : "pantat..... -..!!!!!"
Dokter : " !@#$%.... ?????
Pada suatu pagi, belum lama berselang, dengan susah payah aku berusaha keluar dari bak mandi. Aduh sakitnya! Rasa sakit menyentakku ketika lutut yang sudah menderita rematik itu mengeluarkan suara seperti onderdil yang sudah berkarat, tulang terhadap tulang, ketika aku berusaha keluar dari air. Rasa sakit di tulang-tulang tanganku dan di bagian sendi-sendi siku ketika aku memegang pinggiran dari bak mandi dan mengangkat tubuhku keluar.
Aku biasanya mandi dan menggunakan bak mandi untuk berileks pada saat-saat tertentu. Aku berusaha untuk berdiri tegak dan mempertahankan keseimbanganku. Namun kaki-kakiku yang sudah bengkok tidak dapat kuluruskan kembali, padahal aku tidak mau jatuh. Demikianlah pada pagi hari itu aku merangkak keluar dari bak mandi.
Setetes air mata jatuh dari mata kananku dan langsung turun ke hidungku. Aku menarik napas panjang dan berdoa, ”Tuhan, sembuhkanlah tubuhku yang sakit ini!” Langsung sebuah ayat muncul dalam pikiranku. “Cukuplah Kasih karunia-Ku bagimu sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Kor.12:9)
Terus terang, aku lebih senang mendengar, ”…imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Mat.9:22), seperti wanita itu yang menderita pendarahan dan disembuhkan. Bagaimanapun juga, aku tak pernah menemukan dalam ke empat Injil, di mana Tuhan Yesus berkata, “Tidak!” terhadap permintaan akan kesembuhan.
Namun, “kasih karuniaKu cukup bagimu” yang dibisikkan dalam hatiku, membuat aku mengeluarkan air mata dan penghiburan di dalam hatiku”
Aku senantiasa menggantungkan kepada kasih karunia Tuhan di dalam pekerjaan pelayananku. Aku sejak dini telah belajar bahwa di dalam perjalananku dengan Tuhan aku tak dapat berbuat apapun tanpa kasih karunia-Nya.
Namun aku tak pernah berpikir untuk memerlukan kuat kuasa-Nya di dalam membersihkan rumah tanggaku, memasak makan malam keluarga, berbelanja, melakukan berbagai tugas rumah tangga, antri dan mandi. Hal hal itu aku telah melakukaannya tanpa ada pikiran sedikitpun untuk mengandalkan diriku kepada kuat-kuasa Tuhan.
Pada pagi itulah, tatkala aku merangkak keluar dari bak mandi dan diingatkan bahwa kuasa-Nya telah dibuat sempurna dalam kelemahanku, Tuhan agaknya ingin mengatakan kepadaku, ”Bukan hanya untuk proyek-proyek yang besar Aku ingin memberimu kekuatan kepada kelemahanmu dengan kasih karuniaKu. Akupun akan memberi kekuatan agar engkau dapat keluar dari dalam bak mandi dan aku akan memberikan kekuatan untuk membersihkan ruang dudukmu, ketika engkau antri di toko atau apapun yang engkau butuhkan, terlepas akan penderitaan tubuhmu.
Kini aku mulai mengerti! Selama bertahun-tahun, Tuhan memberikan kemampuan melampaui kekuatanku sendiri yang amat terbatas untuk melayani-Nya. Aku selalu menggantungkan diriku akan hal itu! Kini aku menjadi sadar, bahwa akupun dapat meminta kepada Tuhan akan kasih karunia-Nya untuk dapat melakukan tugas-tugasku sehari-hari di tengah-tengah rasa sakit tubuhku!
Aku tetap tak selalu dapat mengerjakan segala sesuatu yang kuingin lakukan, namun aku sedang belajar, bahwa bila ada sesuatu tugas tertentu yang harus dikerjakan, aku yakin dan percaya, bahwa Tuhan memberikan kemungkinan kepadaku atau menolong aku. Betapa menguatkannya, bahwa segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Fil.4:13)
Doa : Tuhan, Terima kasih, Engkau mengganti
Kekuatan-Mu dengan kelemahanku,
Keberanian-Mu dengan ketakutanku,
Kecukupan-Mu dengan kekuranganku,
Kemampuan-Mu dengan kekuranganku,
Kasih karunia-Mu untuk setiap kebutuhanku,
“Kasih karunia-Ku cukup bagimu… “
Karen Harper Del.
Nats : Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, ... yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11)
Bacaan : Yeremia 29:1-23
Apakah Anda pernah melihat tukang obat yang "praktik" di pasar-pasar dengan tenda lebar dan gelegar musik serta loudspeaker-nya? Waktu kecil, saya senang melihat tukang obat semacam ini. Terutama karena di mata saya waktu itu, si tukang obat begitu hebat dan meyakinkan. Ada macam-macam obat; dari obat sakit gigi sampai rematik. Di mulut si tukang obat, semua tampak sangat ampuh!
Tampaknya begitu juga suara nabi-nabi palsu yang ikut dibuang ke Babel. Mereka bernubuat; umat akan segera pulang ke tanah perjanjian, umat Yehuda akan kembali berjaya (Yeremia 28:2-4,11). Siapa yang tidak senang mendengar penghiburan bahagia atas nama Tuhan? Wajar bila umat terhibur. Namun, nubuatan mereka palsu. Yeremia, nabi Tuhan, meradang melihat kepalsuan ini. Jadi, ia menulis surat kenabian bagi saudara sebangsa yang terbuai kepalsuan itu: "Dirikanlah rumah ... menikahlah ... usahakanlah kesejahteraan kota ... masih 70 tahun lagi waktu bagi Babel ... jangan teperdaya ucapan nabi palsu" (Yeremia 29:4-10).
Ya, Yeremia menyampaikan berita yang berbeda, "Sebab Aku tahu rancangan-Ku tentang kamu ... yakni rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan ..." (ayat 11). Namun itu tidak berarti umat bisa pulang sekarang. Tidak, umat masih harus menjalani masa pembuangan. Ini kehendak Tuhan. Berat. Betul, tetapi melaluinya Tuhan sedang merancang kebaikan di masa depan.
Jalan menuju masa depan kerap kali adalah jalan masa kini yang terjal. Siapa yang berani bertahan dan maju bersama Tuhan meski "dalam ketidakpastian hidup", akan melihat karya Tuhan yang pada akhirnya akan dilihat sebagai kebaikan —DKL
TUHAN ADA DI DEPAN; DIA MEMIMPIN KITA
JUGA SELALU ADA DI SISI; DIA MENEMANI KITA
SABDA.org
“Imitate those who through faith and patience inherit the promises” (Hebrews 6:12).
Today's Word from Joel and Victoria
Are you facing a challenge today that seems overwhelming? Through faith and patience, you will see God’s promises come to pass in your life. Understand that the enemy always fights the hardest when he knows you are closest to your breakthrough. He’d leave you alone if he thought you were going to live in mediocrity. If you keep pressing on toward your promise, through faith and patience, you will get there. Don’t be like the Israelites in the Old Testament who were right next to their promised land when they talked themselves out of it. They said, “There are giants in the land. It’s too difficult.” No, don’t look at the obstacles in your life today; lift up your eyes because you serve Almighty God. Follow the example of Abraham who believed God even when his circumstances looked impossible. Remember, God rewards the people who seek after Him. Stand in faith and keep believing because God will take you places that you never dreamed. As you press toward the promise, you will see God’s hand of blessing in your life and live in the victory He has prepared for you.
A Prayer for Today
Heavenly Father, I come to You today choosing to believe Your promises. Fill me with Your faith and patience to press through to victory. I give You all the glory. In Jesus’ Name. Amen.
Joel Osteen Ministries
Nats : Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah .... (Mazmur 46:3)
Bacaan : Mazmur 46
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa layang-layang bisa terbang? Karena ada angin dan ia berani melawan angin itu! Ya, angin membawa layang-layang naik hingga tinggi ke awan. Dan hanya dengan berani melawan angin, maka layang-layang itu bisa terus terbang dengan terarah. Layang-layang yang mengikuti arah angin adalah layang-layang yang putus, dan akan jatuh.
Kadang kita begitu takut saat angin pencobaan datang menerpa (ayat 3,4,7). Kalau boleh meminta, kita tidak berharap mengalami masalah, kesulitan, dan tekanan hidup. Sebaliknya, kita ingin jalan kita lurus dan mulus seperti jalan tol. Namun, bukankah kekristenan seperti itu hanya akan membuat kita tidak dewasa dalam Tuhan?
Bila hidup dihadapkan pada situasi atau keadaan yang sangat menakutkan, tak ada jalan lain kecuali harus memilih. Apakah kita akan seperti layang-layang yang berani melawan angin, atau mengikuti arus angin saja? Memang yang kedua lebih mudah. Ya, lebih mudah bagi kita untuk menyerah dalam situasi sulit. Namun, hari ini Tuhan ingin kita bertindak seperti pahlawan yang tak kenal menyerah saat dihadapkan pada pencobaan.
Janganlah takut jika hari ini angin yang sepoi-sepoi tiba-tiba menjadi badai. Tetaplah kuat di dalam Tuhan dan yakinlah bahwa bersama Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara (ayat 8,12). Bahkan kita akan mengalami perkara-perkara yang luar biasa bersama Tuhan. Jangan buru-buru menyalahkan angin besar yang menerpa layang-layang kita, sebab kita justru akan segera melihat awan, langit indah, dan pemandangan menakjubkan —PK
ANGIN TIDAK PERNAH MENJADI MUSUH LAYANG-LAYANG
ANGIN SELALU MENJADI SAHABAT TERBAIK LAYANG-LAYANG
SABDA.org
Nats : Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku (Mazmur 26:2)
Bacaan : Mazmur 26
Setiap kendaraan; mobil atau sepeda motor, biasanya dilengkapi dengan buku manual untuk mengoperasikan kendaraan tersebut dan buku manual untuk melakukan servis. Ya, supaya kendaraan tetap prima, kita perlu melakukan perawatan secara berkala. Sayangnya, orang kerap berpikir bahwa kalau tidak ada masalah maka tidak usah ke bengkel. Akibatnya, kendaraan pun jadi cepat rusak.
Tubuh kita ibarat kendaraan yang perlu diperiksa secara rutin dan berkala. Kapan terakhir Anda memeriksakan diri ke dokter? Bukan hanya ketika Anda tengah sakit, tetapi juga ketika Anda merasa sehat walafiat, tidak ada masalah yang berarti. Kesibukan sehari-hari, tekanan pekerjaan dan kehidupan, juga usia yang semakin bertambah, mestinya membuat kita mawas diri dengan kesehatan.
Sayangnya, kecuali sedang sakit, kerap kali orang enggan memeriksakan diri ke dokter. Entah karena tidak mau repot, malas, atau juga takut. Padahal memeriksakan diri itu penting. Kita jadi bisa tahu makanan apa yang harus dihindari, atau gaya hidup seperti apa yang perlu diubah. Sebab menjaga kesehatan tetap jauh lebih baik daripada menunggu sakit baru diobati.
Pemeriksaan diri tidak saja perlu bagi tubuh jasmani, tetapi juga bagi tubuh rohani. Itulah yang dilakukan Daud. Ia berdoa agar Tuhan menguji dan menyelidiki batin serta hatinya. Dengan begitu ia pun dapat mengikis segala "kotoran" yang ada dalam hati dan pikirannya. Introspeksi dan evaluasi diri secara rutin adalah salah satu cara yang terbaik untuk memeriksa kesehatan tubuh rohani kita —AYA
MEMERIKSA DIRI MEMBUAT HATI SEHAT, JIWA TERJAGA
SABDA.org
“My grace is sufficient for you, for My strength is made perfect in weakness” (II Corinthians 12:9).
Today's Word from Joel and Victoria
Grace is God’s unmerited favor. It’s kindness from Him that we don’t deserve. Grace empowers us and strengthens us. No matter what has happened in your past, you can receive God’s grace and forgiveness and start fresh today. You can hold your head up high because His grace is enough. You may not be perfect, but you are forgiven. When you go around holding on to your past mistakes or think you have to try to make things up to God, it’s like saying that His grace isn’t enough. Jesus has already paid for your mistakes. All you have to do is receive His grace today and thank Him for His favor and empowerment in your life. In the same way, extend that grace to others. Don’t try to punish people for their past mistakes; instead, give them favor to start over. As you allow God’s grace to flow through you, you will be strengthened and empowered. You’ll see yourself rise higher, and you will enjoy God’s blessing in every area of your life.
A Prayer for Today
Heavenly Father, thank You for Your goodness and grace today. I receive Your strength and favor in my life. Help me to extend that grace to others. In Jesus’ Name. Amen.
Joel Osteen Ministries
Para penumpang di bis itu memandang dengan penuh simpati ketika seorang wanita muda yang cantik dengan tongkat putih itu menaiki tangga bis dengan hati-hati. Ia membayar tiket kepada pengemudi itu dan, dengan menggunakan tangannya ia meraba kursi di bis itu, berjalan sepanjang lorong bis untuk menemukan kursi kosong yang dikatakan pengemudi itu. Lantas ia duduk, menaruh tasnya di pangkuan dan meletakkan tongkat di dekat kakinya. Sudah setahun ini Susan, tiga puluh empat tahun, menjadi buta. Karena kesalahan diagnosa medis, iapun kehilangan penglihatannya, dan tiba-tiba ia terlempar ke dunia yang penuh kegelapan, disertai amarah, frustrasi dan mengasihani diri sendiri.
Yang semula menjadi wanita mandiri, Susan kini merasa tersiksa dengan perubahan nasib yang mengerikan ini sehingga ia menjadi tak berdaya, menjadi beban bagi setiap orang di sekelilingnya. ”Bagaimana hal ini bisa terjadi pada diriku?” tanyanya dengan penuh kegeraman. Namun tak peduli betapa banyak ia menangis atau berdoa, ia tahu suatu kebenaran yang menyakitkan: penglihatannya tidak akan kembali lagi. Segumpal awan depresi menggayuti dirinya, yang semula dipenuhi semangat yang optimistis. Melewati hari-harinya adalah menjalani kehidupan yang bikin frustrasi dan lelah. Dan ia harus bergantung sepenuhnya kepada Mark, suaminya.
Mark adalah seorang perwira Angkatan Udara Amerika Serikat, dan ia sangat mengasihi Susan dengan segenap hatinya. Ketika Susan pertama kali kehilangan penglihatannya, ia melihat betapa isterinya tenggelam ke dalam keputus-asaan dan kemudian Mark memutuskan untuk membantu isterinya mendapatkan kekuatan dan keyakinan kembali sehingga ia dapat menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark telah melatih dirinya dengan baik untuk mengatasi situasi-situasi yang sensitif, dan meskipun demikian ia tahu bahwa inilah pertempuran paling sulit yang ia akan harus hadapi.
Akhirnya, Susan merasa siap untuk kembali bekerja, namun bagaimana ia sampai ke kantornya? Ia biasanya naik bis, namun kini ia terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian dalam keadaan buta. Mark menyediakan dirinya untuk mengantar dengan mobil ke kantor Susan, meskipun arah kantor isterinya berlawanan arah dengan kantornya. Untuk pertama kali, hal ini membuat Susan nyaman dan memenuhi kebutuhan Mark untuk melindungi isterinya yang tunanetra yang masih belum merasa aman untuk mengerjakan sesuatu yang paling mudahpun. Namun, dengan segera Mark menyadari bahwa pengaturan seperti ini tidaklah efisien, karena jalanan macet dan berat di ongkos. Susan harus mencoba naik bis lagi, demikian menurut pertimbangan Mark. Namun hanya baru memikirkannya saja untuk mengutarakan hal itu kepada Susan membuat dirinya merinding. Susan masih terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Bagaimana nanti reaksi isterinya?
Tepat seperti yang diduga Mark, Susan sangat ketakutan mendengar gagasan suaminya untuk naik bis ke kantor lagi. ”Aku ini buta!” katanya dengan getir. ”Bagaimana aku tahu akan ke arah mana? Aku merasa engkau sudah meninggalkanku.” Hati Mark hancur mendengar perkataan itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berjanji kepada Susan bahwa ia akan naik bis setiap pagi dan sore bersamanya, selama diperlukan, sampai ia merasa yakin dan nyaman. Dan itulah yang persis terjadi.
Selama dua minggu berturut-turut, Mark, dengan seragam militer menemani Susan pergi dan pulang kerja setiap hari. Ia mengajarkan isterinya bagaimana mengandalkan indera yang lain, khususnya pendengaran, untuk mengenali dimana dia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia menolongnya untuk bersahabat dengan para sopir bis yang dapat ikut menjaganya dan menyediakan tempat duduk kosong baginya. Ia dapat membuat Susan tertawa, meskipun pada hari-hari yang tidak begitu baik ketika ia hampir terjatuh menuruni tangga bis atau menjatuhkan tasnya. Setiap pagi mereka bepergian dengan bis bersama, dan Mark akan naik taksi kembali ke kantornya setelah mengantar isterinya.
Meskipun kegiatan rutin ini cukup memakan biaya dan melelahkan, dibandingkan dengan sebelumnya, namun Mark tahu bahwa hanya soal waktu sebelum Susan akan mampu bepergian dengan bis sendirian. Ia percaya isterinya pasti bisa, karena ia tahu Susan tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun atau menyerah pada apapun sebelum ia buta. Akhirnya, Susan memutuskan bahwa ia telah siap mencoba naik bis sendirian. Senin pagi datanglah, dan sebelum ia pergi, Susan melingkarkan lengannya di pundak Mark, teman naik bis, suami dan sahabat terbaiknya. Matanya dipenuhi airmata ucapan syukur atas kesetiaannya, kesabarannya, dan kasihnya. Ia berpamitan, dan untuk pertama kalinya, ia pergi dengan arah berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis…. Setiap hari ia pergi naik bis sendirian dengan sempurna, dan Susan tidak pernah merasa sebaik ini. Ia telah berhasil melakukannya! Ia dapat pergi bekerja sendirian, tanpa bantuan orang lain!
Pada suatu Jumat pagi, Susan naik bis untuk bekerja sebagaimana biasanya. Ketika ia membayar tiket sebelum turun dari bis, sopirnya berkata, ”Wah, aku iri padamu lho!” Susan tidak yakin apakah sopir ini sedang berbicara kepadanya atau bukan. Memangnya kenapa ada orang yang iri kepada wanita buta seperti dirinya yang harus berjuang mendapatkan keberanian untuk menghadapi kehidupan ini. Karena ingin tahu, ia bertanya kepada pengemudi bis itu, “Kenapa anda berkata bahwa anda iri kepadaku?” Pengemudi itu hanya berkata, “Kayaknya enak diperhatikan dan dilindungi seperti kamu!” Susan tidak mengerti apa yang dikatakan pengemudi bis ini, sehingga ia bertanya lagi, ”Maksud anda?” Pengemudi itu menjawab, ”Tahu tidak, setiap pagi selama minggu lalu, seorang pemuda gagah dengan seragam militer berdiri di seberang sana memandangi anda turun dari bis. Ia memastikan apakah anda dapat menyeberang dengan aman, dan ia mengawasi anda sampai anda masuk ke gedung kantor anda. Kemudian ia akan memberikan tanda ciuman dan tanda hormat kepada anda dan pergi. Anda adalah seorang wanita yang beruntung!”
Airmata kebahagiaan mengalir dari pipi Susan. Meskipun ia tidak dapat melihat suaminya secara fisik, ia selalu dapat merasakan kehadirannya. Ia merasa diberkati, begitu diberkati, karena ia telah memberikan kepadanya suatu hadiah yang lebih dahsyat dibandingkan dengan penglihatan, suatu hadiah dimana ia tidak perlu melihat untuk percaya, suatu hadiah kasih yang dapat memberikan terang dimana di sana hanya ada kegelapan.
Seperti dalam kisah-kisah lain dalam Pentas Kesaksian ini, Tuhan menyatakan bahwa Ia memperhatikan kita dengan cara seperti itu. Kita mungkin tidak tahu kalau Ia hadir. Kita mungkin tidak mampu melihat wajah-Nya, namun Ia ada di sana tanpa disangsikan lagi.
”Allah mengasihi anda – meskipun anda tidak melihatnya”
Source : Chicken Soup
He could hear the crowds screaming "crucify" "crucify"...
He could hear the hatred in their voices,
These were his chosen people.
He loved them,
And they were going to crucify him.
He was beaten, bleeding and weakened... his heart was broken,
But still He walked.
He could see the crowd as he came from the palace.
He knew each of the faces so well.
He had created them.
He knew every smile, laugh, and shed tear,
But now they were contorted with rage and anger...his heart broke,
But still He walked.
Was he scared?
You and I would have been
So his humanness would have mandated that he was. He felt alone.
His disciples had left, denied, and even betrayed him.
He searched the crowd for a loving face and he saw very few.
Then he turned his eyes to the only one that mattered
And he knew that he would never be alone.
He looked back at the crowd, at the people who were spitting
At him, throwing rocks at him and mocking him and he knew
That because of him, they would never be alone.
So for them, He walked.
The sounds of the hammer striking the spikes echoed through
The crowd. The sounds of his cries echoed even louder,
The cheers of the crowd, as his hands and feet
Were nailed to the cross, intensified with each blow.
Loudest of all was the still small voice inside his
Heart that whispered "I am with you, my son",
And God's heart broke.
He had let his son walk.
Jesus could have asked God to end his suffering,
But instead he asked God to forgive.
Not to forgive him, but to forgive the ones who were persecuting him.
As he hung on that cross, dying an unimaginable death,
He looked out and saw, not only the faces in the crowd,
But also, the face of every person yet to be,
And his heart filled with love.
As his body was dying, his heart was alive.
Alive with the limitless, unconditional love he feels for each of us.
That is why He walked.
When I forget how much My God loves me,
I remember his walk.
When I wonder if I can be forgiven,
I remember his walk.
When I need reminded of how to live like Christ,
I think of his walk.
And to show him how much I love him,
I wake up each morning, turn my eyes to him,
And I walk.
- Author Unknown -
Nats : Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)
Bacaan : 2 Tawarikh 32:24-33
Kesombongan. Inilah dosa yang paling disukai oleh Iblis. Sebaliknya, inilah dosa yang paling dibenci oleh Allah (Amsal 6:17). Mengapa Iblis menyukai-nya? Karena kesombongan bersifat sangat halus sehingga kerap kali manusia tidak sadar bahwa mereka sedang menyombongkan diri. Dan, kesombongan bisa merasuki siapa saja termasuk orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Sebagai contoh adalah Hizkia. Dengan membaca seluruh kisah Hizkia, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ia adalah seorang raja yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia selalu mendahulukan Tuhan dan taat kepada setiap perintah Tuhan. Itu sebabnya tak heran jika Tuhan memberkati hidupnya. Namun sayangnya, di tengah berlimpahnya berkat Tuhan itu ia justru sempat menjadi angkuh (ayat 25), sehingga nyaris mendatangkan murka Tuhan atas negerinya.
Dari kisah Hizkia, ada dua peringatan yang harus kita waspadai. Pertama, dosa kesombongan bisa merasuki siapa saja termasuk kita, anak-anak Allah. Kedua, dosa kesombongan selalu menjadi godaan yang paling besar, justru pada saat kita berada di puncak kehidupan. Kesombongan adalah dosa yang halus, tetapi mematikan. Ia bisa merasuki manusia secara halus tetapi berakibat fatal. Bila kita menemukan kesombongan timbul di hati kita, mari ikuti langkah Hizkia selanjutnya. "Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia" (ayat 26) —RY
KESOMBONGAN DAPAT MERASUK DAN MERUSAK SIAPA SAJA
WASPADALAH!
SABDA.org