Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 May 2008

Sambutan Besar

Nats : Siapa yang menang .... Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya (Wahyu 3:5)

Bacaan : Wahyu 3:1-6

Ketika tsunami menerpa Aceh, seorang siswa SD bernama Martunis sedang asyik bermain sepakbola bersama teman-temannya dengan kostum kebesaran tim sepakbola Portugal. Ia terseret ke laut lepas, namun selama beberapa hari ia bertahan hidup terapung-apung melawan ombak, sengatan matahari, serta dinginnya angin dan air laut. Ia bertahan dengan memungut sisa mi instan dan air kemasan dari hamparan sampah di tengah laut. Beruntung sebuah kapal menyelamatkannya. Dan segera berbagai stasiun televisi dan surat kabar Portugal, Eropa, dan Indonesia, berkali-kali memunculkan wajah dan kisahnya yang menggemparkan dunia sepakbola Eropa.

Martunis diundang ke pertandingan sepakbola antarklub di Spanyol untuk menyemangati kesebelasan Portugal yang dikaguminya. Di sana Martunis dipanggil ke tengah lapangan dan disambut bak pahlawan oleh para pemain sepakbola Portugal kaliber dunia. Semua yang hadir pun berdiri dan bertepuk tangan. Martunis diberi kaos kebesaran kesebelasan Portugal yang baru, dipeluk pelatih dan para pemain, dielu-elukan para penonton, serta dihujani banyak hadiah!

Serupa dengan itu, demikian pula suasana yang kelak akan dialami setiap orang yang menang, yang setia mengikut Kristus sampai akhir hidupnya (ayat 5). Saat sangkakala terakhir berbunyi, Kristus yang bagai pengantin laki-laki diiringi para malaikat yang tak henti memuji nama-Nya, akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menyambut kita. Dan kita akan mengenakan "kostum favorit" surga, yakni jubah putih kesucian dan kesempurnaan surgawi. Anda rindu mengalaminya? Setialah sampai akhir -SST

MENGIKUT KRISTUS TAK SELALU MUDAH
TETAPI ALLAH MENJANJIKAN AKHIR YANG INDAH


SABDA.org

Covenant of Peace

Today's Scripture

And I will make with them a covenant of peace…” (Ezekiel 34:25).

Today's Word from Joel and Victoria

Aren’t you glad we serve a God of peace? No matter what you may be facing in life, God is with you. You don’t ever have to feel anxious, worried, or upset because you have a covenant of peace with Almighty God. God is always faithful to His Word, and you can have confidence that His peace is always available to you. The Bible tells us that God’s peace passes understanding. That means you can have peace when it doesn’t make sense to have peace. When the rest of the world seems to be upset or fretting, you don’t have to be upset. When gas prices go up, you can be at peace knowing that God has promised to supply all your needs according to His riches in glory. When the housing market seems unstable, you can trust that God is your refuge, and He will cause you to dwell in safety. He’ll make a way where there seems to be no way. Begin to thank God for His peace and faithfulness in your life. Declare that the peace of God rules in your heart and mind. As you dwell on God’s promises, your heart will be at rest, and you’ll experience the blessing of His peace all the days of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for Your covenant of peace. I receive it by faith today. I choose to keep my heart and mind fixed on You. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

30 May 2008

Indah Pada WaktuNya

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan,dan tangan kasihNya membimbingku
Ditengah badai topan menghanyutkan,'ku kuat sebab Tuhan dekat
Tiap langkahku ku tahu ya Tuhan pimpin,ketempat tinggi ku diangkatnya
hingga sekali nanti aku tiba,dirumah bapa surga yang baka

Mungkin anda sudah sering mendengar lagu ini.Lagu ini yang selalu memotivasi saya untuk dapat tetap kuat berjalan bersama Tuhan.Mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak pernah mangalami masalah dan kesulitan.Semua itu pasti akan kita hadapi dan temui dalam kehidupan ini.

Namun,jika kita dapat menghadapinya dengan iman yang teguh kepadaNya apapun halangan yang ada didepan kita dapat kita tempuh diluar dari kesadaran akan kekuatan dan kemampuan kita.Sebagai manusia,kita semua pasti pernah mengalami kekecewaan dalam menjalani hidup.Namun dengan belajar menjalani hidup dengan rendah hati,penuh KASIH dan penuh pengampunan akan membawa kita kepada hidup yang tenang dan damai dan itulah yang sesungguhnya dalam menjalani hidup ini.

Dulu sebelum saya bertemu dengan calon suami saya, saya adalah orang yang sombong dan angkuh ( dan sepertinya benih-benih itu belum semua hilang dari diri saya).Namun dengan penuh kerendahan hatinya,dia selalu mengajarkan saya akan kerendahan hati dalam menjalani hidup.Saya adalah orang yang sangat beruntung karna telah Allah pertemukan dengan calon suami saya.Dengan tidak bosan-bosan selalu mengingatkan saya akan semua itu.

Semua yang terjadi dalam hidup ini adalah rencana Allah dalam setiap pribadi manusia.Jodoh,rezeki,kematian,kehidupan,umur panjang dan yang lainnya sudah Tuhan atur dalam setiap pribadi kita.Namun,satu hal yang pasti jangan pernah tinggalkan Tuhan dalam setiap langkahmu karna DIA TIDAK PERNAH MENINGGALKANMU.

Cinta Marlin

Mazmur 139

Marlin dan Coral, sepasang ikan badut, sedang menanti telur-telur mereka menetas. Mereka asyik membicarakan nama anak-anak mereka nanti. Mereka juga mengenang masa indah pertemuan mereka dulu. Namun, rupanya bahaya mengintai mereka. Seekor barakuda berkelebat dan menerjang sarang mereka! Akibatnya, Marlin kehilangan Coral dan seluruh telur mereka. Seluruhnya? Oh, ternyata masih tertinggal satu butir! Dengan penuh sayang Marlin melindungi telur itu, dan bertekad untuk selalu melindunginya. Nemo, nama ikan dari telur yang tersisa itu, sudah dicintai ayahnya, bahkan sebelum ia menetas.

Cinta Marlin dalam film Finding Nemo mengingatkan kita akan kasih ilahi. Namun kasih-Nya jauh lebih besar! Mari kita perhatikan. Manusia baru bisa menyambut bahagia seorang anak saat mereka tahu ada janin yang hadir dalam kandungan seorang wanita. Namun sungguh luar biasa Allah. Dia telah mencintai kita bahkan sebelum kita hadir di rahim ibu kita (ayat 13)!

Selanjutnya, orang mungkin menyukai kita karena berwajah cantik atau tampan, berdompet tebal, berbakat mengagumkan, berkedudukan tinggi, atau berjasa baik. Dengan kata lain, kita dicintai karena kinerja atau kebaikan kita. Namun, Allah mengasihi kita jauh sebelum kita mampu melakukan sesuatu bagi Dia (ayat 16). Allah bahkan tetap mengasihi sekalipun kita kerap memberontak kepada-Nya, karena Dia telah memutuskan untuk mengasihi kita.

Hari ini, sejak kita bangun di pagi hari, kasih Allah sudah menyambut kita. Mari kita menghambur ke dalam pelukan-Nya dan mengucap syukur

29 May 2008

Dua Lautan

Di Palestina ada dua lautan. Yang satu mengandung air yang menyegarkan. Oleh karenanya, terdapat banyak ikan di dalamnya. Pohon-pohon merentangkan dahan-dahannya di atasnya dan akar-akarnya yang senantiasa haus, mencicipi air yang menyembuh-kannya. Sepanjang pantainya anak-anak bermain ketika Ia berada di sana. Ia menyayanginya. Ia dapat memandang jauh atas permukaan air yang berwarna perak ketika Ia berbicara melalui perumpamaan-perumpamaan. Dan di atas sebuah lereng bukit yang terletak tidak jauh, Ia telah memberi makan kepada lima ribu orang.

Sungai Yordan membuat lautan ini dipenuhi dengan air yang jernih yang datang dari bukit bukit. Oleh karena itu, Ia merasa gembira dalam cerahnya matahari. Dan manusiapun membangun rumah-rumahnya dekat lautan itu, dan burung-burungpun membangun sarangnya; dan semua makhluk di sekitarnya dipenuhi oleh rasa sukacita yang besar karena lautan itu.

Sungai Yordan mengalir terus ke arah Selatan ke dalam suatu lautan yang lain. Di sini tidak terdapat suara ceburan dari ikan, tidak ada suara daun-daun yang berkibar, tidak ada nyanyian anak-anak. Para pelancong memilih jalan lain, kecuali jika memang terpaksa. Udara menggantung dengan berat di atas air, dan tidak ada manusia atau binatang yang mau meminum airnya.

Apa toh yang membedakan kedua lautan itu? Bukan sungai Yordan. Bukankah ia mengalirkan airnya ke dalam dua lautan itu? Bukan pula karena tanahnya di atas mana mereka terletak.

Inilah perbedaannya. Lautan Galilea menerima air dari Yordan namun tidak mengambil airnya untuk diri sendiri. Untuk setiap tetes air yang ia terima, maka setiap tetes itu pula mengalir keluar. Penerimaan dan pemberian berlanjut dalam jumlah yang sama.

Lautan yang lain agaknya lebih licik. Dipenuhi dengan rasa iri hati, ia menimbun airnya untuk diri sendiri. Ia tidak dapat tergoda untuk tergerak oleh rasa murah hati yang spontan. Untuk setiap tetes air yang ia terima, ia menimbunnya sendiri.

Lautan Galilea menerima dan memberi. Tapi lautan yang lain sama sekali tidak memberi. Karenanya, ia dinamakan Lautan Mati. Di dalam dunia ada dua jenis manusia seperti juga ada dua lautan di Palestina.

Nail Scarred Hands

It’s one more time to remember the Nail Scarred Hands that has saved me from my sins and from eternal damnation into eternal life. The hands of a carpenter that was nailed to the cross… because of me. Sinless He might have been, He chose to bear the weight of a lost world on the cross, so that they might not perish. For He so loved the world, that He came to save those that was lost so that they might have eternal life. Look at the lives of the disciples, look at the life of one Zacchaeus, once a sinner but a sinner no more by the love of Christ.

Your love has captured me oh Lord. Your love has captivated me and compelled me to come to know You. Here I come once again oh Lord to renew my faith and my commitment in You. I’m sorry Lord if I have been deceived and led astray these last few weeks. Now I want to come home, come back to where You are. To where your Nail Scarred Hands will hug me and embrace me. To where your love will never end. I love You, Jesus.

This post is dedicated to Jesus Christ, my Lord and my Savior, on the day of rememberance that He died 2,000 years ago to save me from my sins. Thank you for your unending love, Jesus. Thank you for saving me from my sins.

Here I am, Lord, and I’m drowning in your sea of forgetfulness
The chains of yesterday surround me
I yearn for peace and rest
I don’t want to end up where You found me
And it echoes in my mind, keeps me awake tonight

I know You’ve cast my sin as far as the east is from the west
And I stand before You now as though I’ve never sinned
But today I feel like I’m just one mistake away from You leaving me this way

Jesus, can You show me just how far the east is from the west
‘cause I can’t bear to see the man I’ve been come rising up in me again
In the arms of Your mercy I find rest
‘cause You know just how far the east is from the west
From one scarred hand to the other

I start the day, the war begins, endless reminding of my sin
Time and time again Your truth is drowned out by the storm I’m in
Today I feel like I’m just one mistake away from You leaving me this way

I know You’ve washed me white, turned my darkness into light
I need Your peace to get me through, to get me through this night
I can’t live by what I feel, but by the truth Your word reveals
I’m not holding on to You, but You’re holding on to me
You’re holding on to me

Jesus, You know just how far the east is from the west
I don’t have to see the man I’ve been come rising up in me again
In the arms of Your mercy I find rest
‘cause You know just how far the east is from the west
From one scarred hand to the other

Lyrics from East To West by Casting Crowns

Lowongan Pekerjaan Di Sekolah Mahanaim

Kami dari Yayasan Mahanaim, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dengan fokus di bidang pendidikan. (www.love-mahanaim.or.id). Salah satu divisi yang bernaung di bawah Yayasan ini adalah divisi sekolah. Sekolah ini sedang membutuhkan sejumlah guru yang terbeban untuk melayani sebagai:

Guru SD - SMA semua bidang studi

Syarat:
- Berpendidikan S1 ditutamakan yang SPd.
- pengalaman 2 th

Adapun bagi guru English Program, dengan syarat tambahan:
- TOEFL score min. 600

Bagi yang tertarik dapat mengirimkan
- Surat lamaran
- fotokopi Izajah
- Biodata
- Kesaksian pengalaman pribadi bersama Tuhan

ke :
Yayasan Mahanaim
PO Box 155
Bekasi, 17015
Indonesia

atau melalui email ke
daniel.ferry.73@gmail.com (max 200KB).


Lamaran ditunggu sampai bulan Agustus 2008

Ganggulah Aku

Nats : ... sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem ... (2Samuel 11:1)

Bacaan : 2Samuel 11:1-27

Biasanya orang lebih suka berada di tempat yang aman daripada harus berpetualang dan meninggalkan kenyamanan. Begitu juga banyak orang kristiani sudah cukup puas dengan keadaan rohaninya yang "aman-aman" saja. Daripada memulai petualangan rohani yang seru bersama Tuhan, mereka lebih suka memiliki keadaan rohani yang monoton dan datar saja. Sedapat mungkin mereka berharap situasi akan terus stabil, tidak ada gangguan, masalah, ataupun hambatan.

Seorang yang luar biasa bernama Sir Francis Drake, merindukan petualangan rohani bersama Tuhan, sehingga saat keadaan "aman", ia berdoa demikian: "Ganggulah kami Tuhan, ketika kami berpuas diri karena mimpi-mimpi kecil kami menjadi nyata. Ketika kelimpahan harta benda membuat kami kehilangan rasa haus terhadap air kehidupan. Ketika kecintaan pada hidup ini membuat kami berhenti memimpikan kekekalan. Ketika keinginan kami membangun bumi baru meredupkan visi kami akan surga. Ganggulah kami agar berani berpetualang di lautan yang lebih luas, di mana badai akan memperlihatkan kuasa-Mu yang dahsyat!"

Doa di atas sebenarnya ingin menunjukkan betapa bahayanya sebuah tempat di mana kita merasa nyaman di situ. Lihatlah kehidupan Daud ketika jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba. Ia jatuh bukan saat ia ada dalam pelarian atau peperangan yang menegangkan, tetapi justru saat ia santai di istananya yang nyaman.

Hati-hati jika kita sudah cukup puas dengan kekristenan kita selama ini. Daripada puas dengan kehidupan rohani yang biasa-biasa, sebaiknya kita berdoa meminta keberanian untuk mengalami perkara yang lebih besar -PK

KETIKA KITA BERPUAS DIRI DENGAN KEADAAN ROHANI KITA
ITU SAATNYA MEMINTA TUHAN AGAR IA MENGGANGGU KITA


SABDA.org

He Prepares Your Path

Today's Scripture

I will go before you and make the crooked places straight…” (Isaiah 45:2 NKJV)

Today's Word from Joel and Victoria

Do you ever feel like every time you try to move forward in something, you hit a roadblock? Something happens that throws you off course. Be encouraged today because right now in your life, God is going before you. He’s preparing a way. He’s making your crooked places straight. He’s making your rough places smooth. You may be going through a difficult time right now, but it’s not the end. It’s only the beginning. God has equipped you for this journey. You may feel like you’re in a dry season, but don’t look at your circumstances. Look at the promise of God today! If you’ll keep speaking words of faith, God promises that He’ll anoint your head with oil and your cup will run over. That means you’ll be refreshed and anointed to do what He’s called you to do. God is preparing your path and equipping you for the journey. What do you need today to keep moving forward? Start by checking your attitude. Don’t go around complaining and focused on the negative side of things. Put on an attitude of praise and thanksgiving. Thank Him for making your crooked places straight! As you do, you’ll move forward in joy and gladness in the blessed future He has prepared for you!

A Prayer for Today

Lord in heaven, thank You for Your goodness in my life. Thank You for preparing the path for my life and making my crooked places straight. Thank You for restoring my soul and life and for guiding me in everything I do. I submit every area of my life to You today. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

28 May 2008

Menghadapi Kehilangan

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN ?

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The HealingStories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran.

Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.

Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.


Renungan :
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Siapakah Yesus Kristus?

Salah satu perdebatan sengit di dalam bidang theologia adalah yang berkaitan dengan topik Kristologi. Sejak abad permulaan hingga kini, memasuki millenium ketiga, para ahli terus bertanya tentang siapakah Yesus Kristus. Di dalam sejarah hidup manusia, disadari atau tidak, diakui atau tidak, pribadi Yesus Kristus telah menjadi tokoh sentral sepanjang segala abad dan tempat. Seluruh kehidupan Yesus, mulai dari kelahiran, hidup dan karya hingga kematianNya menjadi topik yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Para ahli atau yang merasa dirinya ahli seolah-olah tidak kehabisan energi atau stamina untuk terus menerus mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh Allah, atau sekedar nabi atau manusia biasa yang luar biasa. Itulah sebabnya, banyak diskusi dan seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah diterbitkan. Dalam hal ini kita dapat mengamati dua kelompok besar: ada yang melakukan hal tersebut di atas dengan motivasi dan maksud baik, tetapi tidak sedikit dengan motivasi jelek dan jahat! Sebagai contoh, ada yang disebut dengan gerakan menggali ulang Yesus sejarah atau The quest of the historical Jesus (First quest, second quest, third quest...?). Demikian juga dengan gerakan “The Jesus Seminar” oleh John Dominic Crossan serta Robert Funk dkk yang mencoba menggugat keabsahan pernyataan-pernyata an Yesus di dalam keempat Injil.

Sesungguhnya, jikalau kita jeli dan dengan hati terbuka memperhatikan ke dalam seluruh Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita tidak dapat menyangkali bahwa tokoh Yesus, yaitu Mesias yang dijanjikan itu adalah tokoh yang sangat menonjol. Di dalam Kitab Taurat Musa, Dialah pribadi yang disebut akan meremukkan kepala ular (Kej. 3:15), yaitu ular yang kemudian disebut sebagai simbol iblis atau setan di dalam kitab Wahyu 20:2; di dalam kitab Mazmur, Dialah pribadi yang disebut raja Daud sebagai Tuhannya yang menderita dan mati, akan tetapi tidak akan selamanya berada di dalam maut tsb (Mzm. 16:8-11). Ayat-ayat tsb telah menjadi dasar yang kuat bagi Rasul Petrus ketika dia memberitakan di hadapan lebih dari 3000 orang tentang Yesus Kristus yang telah bangkit. Di dalam kitab nabi Yesaya, Dia lah hamba Allah yang menderita yang membuat tercengang banyak bangsa-bangsa, dan yang oleh kematianNya, hati Allah dipuaskan dan manusia berdosa beroleh penebusan dan pembenaran (Yes. 52:13-53:12). Jika kita beralih ke Perjanjian Baru, maka kita akan melihat semakin jelas bagaimana keempat penulis Injil menjadikan Yesus sebagai tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka. Markus misalnya dengan jelas dan tegas memulai Injil tsb dengan kalimat: “Inilah permulaan Injil TENTANG YESUS KRISTUS¨. (Markus 1:1). Dokter Lukas juga memberi tahukan bahwa apa yang dia tulis di dalam Injil Lukas, yang disebutnya sebagai bukuku yang pertama¨ adalah tentang segala sesuatu yang DIKERJAKAN DAN DIAJARKAN YESUS SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT (Kis.1:1-2a). Sementara itu, Injil Yohanes dengan sangat tegas dan jelas tanpa memberi sedikit peluang untuk kompromi telah menuliskan bahwa YESUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN di mana di luar Dia hanya ada kebinasaan (Yoh. 14:6). Kita tidak punya cukup ruang untuk menjelaskan bagaimana Yesus Kristus sedemikian dipuji dan disembah di dalam seluruh surat-surat para rasul, baik oleh Rasul Paulus, Petrus, Yohanes, dll. Tetapi ada satu pernyataan Rasul Paulus yang sangat jelas berkaitan dengan sentralitas Yesus tsb. Hal itu kita baca di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose: Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasehati... untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol.1:29).

Pengajaran Alkitab yang sedemikian jelas dan tegas membuat manusia pada zaman ini pun mau tidak mau harus mengambil sikap terhadap Yesus, karena Yesus tetap sebagai tokoh sentral, bukan hanya dulu di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi juga hingga sekarang, bahkan pada “dunia” yang akan datang. Barangkali ada yang bertanya: “Dari mana kita mengetahui hal itu padahal kita belum tiba pada masa yang akan dating”? Sebenarnya, hal itu kita ketahui bukan karena kita telah melihat “dunia” yang akan datang, akan tetapi itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab Wahyu, di mana dia melihat seluruh penghuni surga bersembah sujud kepadaNya. Penulis kitab Wahyu menulis tentang Dia: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” (Wahyu 5:13) Sesungguhnya, Alkitab menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah, apa pun latar belakang suku, budaya, agama dan kebangsaannya, tidak boleh bersikap netral dan acuh tak acuh kepada Tuhan Yesus. Dialah yang disebut di dalam kitab Wahyu sebagai Sang Anak Domba Allah yang telah menyerahkan nyawaNya untuk menebus mereka “dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Wahyu 5:9b). Selanjutnya kita membaca bahwa atas pengorbanan Yesus yang sedemikian besar, maka seluruh umat yang percaya dari segala abad dan tempat, baik yang di bumi dan di surga menyerukan dengan segenap hatinya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya (Wahyu 5:9a). Menarik sekali mengamati penglihatan surgawi yang digambarkan oleh Yohanes tsb. Terlihat dengan sangat jelas bahwa hanya Yesus yang layak membuka kitab termeterai tsb. Tidak ada pribadi lain, baik yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi yang dapat membuka gulungan kitab itu (Wahyu 5:3).

Ada hal lain lagi yang penting dituliskan di sini. Kita mengamati suatu kenyataan yang barangkali tidak mengenakkan untuk dikemukakan, yaitu bahwa dari sejak kitab pertama, Kejadian 1 sampai dengan kitab terakhir, Wahyu, nampak dengan jelas bahwa kehadiran Mesias (Perjanjian Lama) atau Yesus (Perjanjian Baru) juga telah mengakibatkan manusia terpecah ke dalam dua kutub. Pengkutuban itu sedemikian rupa, sehingga kelihatannya kedua kelompok tsb tidak mungkin bersatu secara sungguh-sungguh, kecuali dengan jalan kompromi. Ketika Yesus hidup di dunia ini, manusia pada zaman itu, tidak bisa tidak, ditantang untuk menentukan sikap terhadap diri dan FirmanNya. Ada orang yang percaya dan menerimaNya, karena itu memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Ada juga yang tetap tidak percaya dan menolakNya, karena itu mengalami kebinasaan kekal (Yoh.3:18; Yoh.8:24; baca juga I Kor.1:18 dan I Ptr. 2:6-7).

Jadi, sekali lagi, semua manusia harus mengambil sikap yang tegas kepada Yesus. Beragama saja tidak cukup. Mengaku pengikut Yesus pun tidak cukup. Semua umat ciptaan Allah harus secara penuh kesadaran mengevaluasi relasi hidupnya dengan Yesus. Hal itu sungguh penting, karenana hal itu berkait dengan hidup kekalnya. Artinya, sikap kepada Yesus tidak sekedar mempengaruhi kehidupan kita kini dan di sini. Beriman kepada Yesus bukan sekedar mempengaruhi kehidupan kita agar semakin layak dalam arti jasmani karena doa-doa kita terjawab, atau karena relasi kita dengan sesama seiman menjadi semakin baik yang mengakibatkan taraf kehidupan kita semakin meningkat. Orang percaya kepadaNya mengalami hal yang jauh lebih besar dari semua itu. Alkitab membicarakan konsekuensi yang bersifat kekal. HIDUP KEKAL BAGI YANG PERCAYA DAN MENERIMANYA ATAU KEBINASAAN KEKAL BAGI YANG MENOLAKNYA.

Suatu kali, Prof. Ravi Zacharia apologet Kristen yang sangat terkenal itu pernah bersaksi: "Saya dulu bukan orang Kristen, juga tidak belajar Alkitab. Saya lama menekuni ajaran agama lama saya dan mengajarkan filsafat. Tetapi di dalam anugerahNya Dia menyelamatkan saya. Saya bertobat menjadi pengikut Yesus. Apa yang saya alami? Apakah saya lebih kaya? Tidak! Apakah itu akan membuat saya lebih bermoral dan berpendidikan? Lebih dari situ. Pengalaman yang jauh lebih penting dan tak ternilai adalah karena saya berpindah dari maut kepada hidup, dari kebinasaan kekal kepada kehidupan yang kekal bersamaNya" (ICIE di Amsterdam, 10 Juli 1988). Itulah penegasan Alkitab yang diimani oleh Ravi. Itulah juga yang harus kita imani dan amini dengan segenap hati. Semoga iman dan pemahaman seperti ini membawa kita kepada sikap hormat dan penyembahan yang lebih baik kepadaNya. Dengan demikian kita senantiasa hidup dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.

Sumber : www.reformata. com (Tabloid Reformata bulan Juni 2005)


Oleh : Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.