Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 May 2008

Indah Pada Waktunya

Sebelum menulis kesaksian ini saya mohon pimpinan Tuhan karena saya tidak pandai merangkai kata kata yang ada dalam hati dan kesaksian ini nama Tuhan dipermuliakan.

Semoga kesaksian ini dapat memberikan kekuatan pada anda yang mengalami penderitaan sepeti yang kami alami ini. Ingatlah Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda dalam situasi sesulit apapun, Tuhan mendengarkan doa Anda dan tahu apa yang harus diperbuat untuk Anda, mungkin tidak dengan segera menjawab doa Anda atau tidak sesuai dengan keinginan Anda, tapi Anda harus mengimani suatu saat Tuhan akan memberkan untuk Anda sesuai dengan jalan Tuhan dan kebenaran Tuhan.

Kadang kita tidak mengerti jalan Tuhan, seperti yang kami alami ini selama hampir satu tahun hidup dalam ketidak pastian masa depan. Segala usaha telah kami jalankan tapi semuanya mengalami kebuntuan. Telah kami panjatkan doa-doa dengan tidak bosannya minta Tuhan bawa kami sekeluarga sesegera mungkin membawa kami keluar dari masalah pekerjaan dan keuangan keluarga yang minim sekali, kehidupan keluarga kami benar-benar jatuh nol. Tapi ternyata Tuhan tidak segera membawa kami keluar dari masalah tersebut. Kami sadar Tuhan tidak menjawab doa yang kami layangkan kepada Nya tapi kami yakin Tuhan pasti akan mengabulkannya tapi entah kapan. Tuhan mempunyai rencana lain untuk kami sekeluarga, Dia menghajar kami dengan penderitaan ini untuk membawa kebaikkan untuk keluarga ini.

Suami saya, Tuhan buat dia sadar untuk mengikuti Dia dengan penuh Ketaatan dan menjalani hidup baru dibimbing oleh seorang hamba Allah. Dan puji Tuhan kini keluarga kami dapat berbakti kepada Tuhan dengan lebih dalam lagi Tuhan telah mengabulkan doa yang saya mintakan selama bertahun tahun agar kami sekeluarga selalu hidup dengan Tuhan. Dan saya juga lahir baru kembali dan Tuhan memberikan kuasa berbahasa roh, dan anak kami semakin dalam lagi pengetahuan tentang kasih Yesus. Tuhan memberikan jalan keluar juga untuk masalah pekerjaan suami saya itu pun tanpa kami bayangkan tawaran kerja yang tiba tiba dan sekarang telah diterima kerja di sebuah perusaahaan.

Dan saya juga telah diperdamaikan pula dengan salah satu keluarga yang dulunya sangat membenci saya dengan rendah hati dan tanpa beban apapun saya minta maaf pada dia. Tuhan benar benar menguji ketaatan kami sekelurga dan iman kepada Nya. Dalam Jumat agung ini yang kami rasakan adalah lahir baru kembali yang membuat kami memuji Tuhan tanpa bisa diutarakan perasaan ini bersyukur, bahagia dan entah apa lagi yang tidak terucapkan kami hanya bisa menangis. Allah ku benar benar ajaib, rencana Tuhan semuanya kami tidak tahu dan tidak pernah kami bayangkan jalan keluar seperti ini tapi yang pasti Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya. Seperti dalam saduran berikut ini bagi saya maknanya sangat indah dan dalam. Terkadang kita tidak mengerti, mengapa segala sesuatu berjalan serba salah. Dalam hati, kita mulai bertanya apakah benar Tuhan mendengarkan Doa? Kekuatiran dan ketakutan mulai menghantui kehidupa kita kita bingung dan putus asa. Tidakkah Tuhan tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup kita ?

Pada suatu hari aku masuk ketempat kudus Allah untuk merenung. Kusadari bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sebenarnya adalah untuk kebaikkanku sendiri

"Betapa bodoh dan dungunya aku ini pemandangan-MU, ya Allah. Walaupun demikian Engkau tetap mengasihi aku. Engkau memegang tangan kananku dan engkau mempunyai rencana yang indah bagiku. Sepanjang hidupku engkau akan terus membimbing aku dengan nasihat firman-Mu Engkau membuat semuanya indah pada waktunya, ya Tuhan ".


Oleh: Santi

Singapore Airlines

Bacaan : Kolose 3:5-17

Menurut majalah Asiamoney yang beredar di Hongkong, Singapore Airlines memperoleh penghargaan sebagai maskapai penerbangan terbaik di Asia, selama 11 tahun berturut-turut. Belum lagi penghargaan lainnya. Pelayanan yang berkualitas adalah kunci kesuksesan perusahaan ini, sesuai dengan kode maskapai penerbangannya, SQ (Service Quality). Konsistensi (keteguhan pada prinsip), persistency (ketekunan), dan inovasi (penemuan ide baru) adalah tiga hal yang membuatnya bertahan dalam persaingan global.

Sebagai manusia yang baru di dalam Kristus, adakah kita memiliki semangat untuk selalu memberi kualitas terbaik dari semua yang kita miliki saat menjalani hidup di dunia ini? Bila Allah telah mengangkat hidup kita dari yang lama dahulu (ayat 7), dan memperbarui hidup kita dengan berbagai kualitas karakter seperti yang dikatakan dalam bacaan kita hari ini, sudahkah kita hidup seturut dengan perubahan tersebut? Dalam konteks pelayanan kepada Tuhan, sudahkah kita memberi yang maksimal dari kapasitas yang Tuhan percayakan?

SQ selalu mengupayakan pelayanan yang berkualitas sehingga para pelanggannya merasa puas. Jika demikian, bukankah kita harus lebih lagi memberi kualitas terbaik dalam seluruh aspek hidup ini -- khususnya ketika kita melayani Tuhan, mengambil bagian dalam pekerjaanNya -- untuk menyenangkan Tuhan? Kualitas terbaik yang diberikan adalah nilai luhur tertinggi dalam pelayanan gerejawi. Ini melebihi SQ. Nah, sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Raja Semesta Alam? Rindukah kita memberikan seluruh sumber daya dan kapasitas terbaik bagi Dia? -BL

APA PUN YANG TERJADI, BERI YANG TERBAIK SESUAI KAPASITAS
SEBAGAI PERTANGGUNG JAWABAN KEPADA TUHAN

SABDA.org

Live Skillfully

Today's Scripture

“Do you see a man skilled in his work? He will serve before kings…” (Proverbs 22:29).

Today's Word from Joel and Victoria

Too often times, it’s easy to get stuck in a rut in life, doing the same thing the same way. But if we are going to live at our best, we should constantly be growing and sharpening our skills. We should strive to learn and grow every single day; because when you stop learning, you stop growing, and when you stop growing, you stop living. What are you doing to stretch yourself? What are you doing to improve your skills? Don’t get trapped into thinking that “good enough” is good enough. You are created for more than just average. Today is a new day and there are new heights for you to climb. Pursue what you love, and keep developing that area of your life. Take a class or find a mentor that will help you live skillfully. As you do, you’ll rise up higher and higher. You will stand before kings and rulers and you’ll live the blessed life He has in store for you.

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank you for giving me the ability to grow and increase in every area of my life. Show me ways to improve my skills so that I can honor You in everything I do. In Jesus’ Name. Amen.

Source : Joel Osteen Ministries

Buat Apa Kita Baca Alkitab?

Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan disuatu pegunungan sebelah timur negara bagian Kentucky (Amerika)dengan cucu lelakinya yang masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, "Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"

Dengan tenang sang Kakek dengan mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air".

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi".

Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup", maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, "Lihat Kek, percuma!"

"Jadi kamu pikir percuma?", Jawab kakek.

Kakek berkata, "Lihatlah keranjangnya".

Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.

"Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita".

Kiriman : Desy Nathalia

08 May 2008

Humor : Ah, Eh, Sayang

Sepasang pasutri yang sudah tua diundang dalam sebuah perjamuan makan oleh tetangganya yang juga tergolong senior. Sang suami dengan penuh kasih selalu mengawali setiap permintaan kepada isterinya dengan kata-kata, “Manis, Kekasihku, Kesayanganku, Isteriku yang tercinta dan sebagainya.”

Tetangga-tetangga mereka semuanya merasa terkesan, karena pasangan itu telah menikah hampir tujuh puluh tahun. Ketika sang isteri yang tua itu berada di dapur, seorang tetangga berkata kepada sang suami tua itu, “Sungguh luar biasa bahwa setelah demikian lamanya menikah, kamu masih menyebut isterimu dengan kata-kata yang penuh kasih mesra itu!”

Sang suami yang tua itu menundukkan kepalanya dan berkata, “Sebenarnya, aku sudah lupa nama isteriku sejak 10 tahun yang lalu.”

Hidup Kudus

Bacaan : 1Petrus 1:13-19

Bayangkan ada dua gelas di hadapan Anda. Yang satu terbuat dari kristal dengan ukiran cantik. Mahal, tetapi bagian dalamnya kotor dan berdebu. Yang satu lagi gelas plastik murahan, tetapi dicuci bersih. Jika Anda ingin minum, mana yang akan Anda pakai? Saya yakin Anda memilih gelas yang murah, tetapi bersih! Gelas semewah apa pun, jika dalamnya kotor dan berdebu, menjadi tidak berguna.

Setiap anak Tuhan adalah "gelas kristal". Kristus telah menebus kita dengan darah yang mahal, sehingga kita menjadi milik-Nya yang sangat berharga (ayat 18,19). Itu sebabnya Tuhan ingin memakai kita menjadi alat-Nya, untuk menyalurkan "air hidup" kepada orang-orang di sekitar kita. Namun, itu akan terhalang jika kita tidak rajin membersihkan "debu" yang mengotori hati dan hidup kita.

Agar dapat dipakai Tuhan, kita harus hidup dalam kekudusan. Tak membiarkan hawa nafsu mencemari dan menguasai hati. Tuhan meminta kita menjadi kudus dalam seluruh aspek hidup. Bukan hanya di gereja, melainkan juga di tempat kerja dan dalam keluarga. Kata "kudus" berarti terpisah atau berbeda. Hidup kita harus dipisahkan, dikhususkan untuk memuliakan Tuhan. Berbeda dari cara hidup duniawi. Hidup kudus adalah keharusan, bukan pilihan. Tuhan berfirman, "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (ayat 16).

Adakah "kotoran" yang masih menempel di hati Anda? Bentuknya bisa berupa dendam, amarah, nafsu yang merusak, niat jahat, atau kebiasaan dosa yang terus dipelihara. Kita harus sering membersihkan hati. Membuatnya tetap murni, agar Tuhan dapat terus memakai kita menjadi saluran berkat-Nya. Sayang, jika kita hanya menjadi gelas kristal kotor; indah namun tak berguna -JTI

TANPA KEKUDUSAN
TAK SEORANG PUN AKAN MELIHAT TUHAN

SABDA.org

The Overflow of Your Heart

Today's Scripture

For out of the overflow of the heart the mouth speaks” (Matthew 12:34).

Today's Word from Joel and Victoria

Have you said something recently that you wish you hadn’t? The Bible says that your words reveal what’s going on inside of you. If you go around speaking negative words of defeat, putting others down, and complaining all the time, it’s a sign that you need to refocus your heart and mind. It’s a sign that your “overflow” is polluted. Our bodies work a lot like a computer. What you put on the hard drive of your heart will show up on the monitor of your mouth. The good news is that you can reprogram your mind the same way you can reprogram a computer. The Bible says that our minds are renewed—or reprogrammed—by the Word of God. The more you read and study His Word, the more it will transform you from the inside out. Start today by asking the Lord to reveal anything in your heart that needs changing. Make Him first place in your life. Fill your heart with the good treasure of God’s Word so that blessings come out of your mouth. Let the overflow of your heart be filled with faith and expectancy, and you’ll see God’s hand of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, I humbly come before You and ask that You cleanse my heart and mind of anything that isn’t pleasing to You. Fill me with Your faith, peace, joy, and love so that I can overflow with Your goodness today. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan?

Sebuah perenungan dari Yohanes 12:1-8

Yesus tahu hidup-Nya tidak akan lama lagi, karena itu hati-Nya mulai gundah dan gelisah. Bukan kematian yang paling menganggu hati-Nya, melainkan kesakitan, kepedihan, dan kengerian penderitaan yang harus dialami-Nya sebelum kematian itu datang. Sebuah pesta khusus diadakan untuk Yesus di Betania (ayat 2). Ketika kematian begitu dekat, apalagi yang lebih dibutuhkan, selain ungkapan kasih yang sangat besar? Hampir semua teman dekat Yesus hadir di pesta itu. Salah satunya, Maria.

Di pesta itu, "Maria mengambil setengah liter minya narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu" (ayat 3). Saya bayangkan, Maria bukanlah seorang yang kaya raya. Sudah pasti ia harus menabung beberapa waktu lamanya sampai berhasil membeli setengah kati atau setara dengan setengah liter minyak narwastu murni yang mahal harganya. Yudas iskariot manaksir harganya tiga ratus dinar atau setara dengan satu tahun gaji pada zaman itu. Saya tidak tahu persis berapa harga parfum. Jika harga satu botol 1--ml parfum Chanel No. 5 atau Christian Dior sekitar 1 juta rupiah, bisa Anda bayangkan berapa uang yang telah dikeluarkan Maria untuk membeli setengah liter parfum, kira-kira 5 juta rupiah.

Saya yakin, Maria, si gadis desa, tak pernah memakai parfum semahal itu. Namun ia sengaja menabung, menahan diri, supaya bisa membeli dan menyediakannya khusus untuk Yesus. Maria tak memberikan apa yang sudah ada, sebagian kecil atau sebagian besar dari apa yang ada padanya, tetapi ia secara khusus mempersembahkan yang terbaik dan termahal yang dapat ia berika kepada Yesus. Karena itulah, Yesus memuji perbuatan Maria, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu : Di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan di sebut juga untuk mengingat dia". (Markus 14:9)

Sampai saat ini, Yesus masih menanti-nanti munculnya Maria-Maria, yang mau mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, sehingga baru wangi itu memenuhi seluruh ruangan. Orang-orang yang tahu, kapan harus diam, kapan harus mendengar, kapan harus duduk di bawah kaki Yesus, belajar, mendengar, merenungkan, dan mencerna apa yang diajarkan Yesus. Orang-orang yang tahu, kapan ia harus bangkita, berbuat sesuatu, membawa persembahan yang terindah dan terbaik bagi-Nya, sehingga kata Yesus, "Bau semerbak manyak itu memenuhi seluruh rumah itu". (ayat 3). Apakah Anda orangnya?


Sumber : Sudahkan yang Terbaik Kuberikan?, Koleksi Khotbah Pdt. Eka Darmaputra.

07 May 2008

Usaha Atau Anugerah

Ada seorang anak manusia yang sedang bergumul dengan Sang Penciptanya.

"Tuhan", seru anak manusia itu. "Mengapa Engkau begitu jauh? Mengapa aku Kau buang di bumi ini?"

Tidak ada jawaban.

"Aku ingin bertemu denganMu, ya Allahku." kata anak manusia itu.

Aku tahu dari nenek moyangku, bahwa Engkau bertahta di atas langit".

"Aku akan berusaha melintasi langit itu, agar aku bisa bertemu denganMu!" Lalu ia membuat sepasang sayap besar yang terbuat dari kerangka kayu, dilapisi oleh bulu-bulu burung elang yang besar, diikat secara tersusun rapi, layaknya sayap seekor burung.

Setelah beberapa bulan mengerjakan sayap ini, dan selesai, ia membawa sayap buatannya ke puncak tebing yang paling tinggi, memasang sayap tersebut ke tubuhnya, dan mengepak-ngepakan sayapnya, layaknya seekor burung.

Ia melompat dan berhasil terbang di udara! Ia berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku akan kembali ke rumahMu."

Setelah beberapa jam anak manusia itu mengepakkan sayap buatannya, ia menjadi lelah.

Angin berhembus lebih kencang dan merusakkan sayap buatannya. Ia jatuh dari langit, tanpa daya.

Sebelum ia terhempas ke bumi, ia sempat berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku. Namun aku gagal. Aku tak bisa bertemu denganMu. Maafkan aku yang sombong ini, Ya Tuhanku."

Tiba-tiba dalam hatinya ada suara, "AnakKu, Kuterima permohonan maafmu. sekarang engkau tahu bahwa semua usahamu sia-sia.

Aku mau supaya engkau percaya sepenuhnya padaKu."

Ia menjawab, "Ya Tuhan, sekarang aku percayakan hidupku.

Aku berserah penuh kepadaMu." Lalu terdengar suara seperti benda jatuh dari langit.

Sang anak manusia telah mati.

Tubuhnya memang mati, tetapi jiwa dan rohnya tidak.

Ia segera keluar dari tubuhnya yang sudah menjadi mayat, dan melayang ke udara, kembali ke pangkuan Bapa di Sorga.

Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus, banyak orang mengira bahwa kita dapat kembali ke sorga dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan tujuan bahwa Allah akan melupakan dosa kita yang besar itu, dan melihat 'jasa' yang kita lakukan. Ketahuilah, bahwa usaha manusia itu sia-sia, dan hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan kita. Dan Ia telah menyelamatkan kita dengan menebus kita dari dosa-dosa dan pelanggaran kita, Ia cuma minta supaya kita percaya kepadaNya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu:

Jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 1:8-9)

Tuhan Yesus memberkati

Kalau Terpaksa, Aku Mati

Hari pertama setiap bulan adalah hari yang ditetapkan oleh Jepang, penjajah kami, sebagai hari pemujaan dewa matahari. Seluruh rakyat diperintahkan untuk beramai-ramai pergi ke kuil. Di sekolah putri Kristen, tempat aku mengajar musik, semua murid dipanggil untuk berkumpul di halaman. Kepala sekolah menyuruh para guru berkeliling ke kelas-kelas dan kamar-kamar kecil, mencari kalau-kalau ada murid yang bersembunyi untuk menghindari perintah memuja dewa. Ingin menangis rasanya aku memandang keributan di halaman itu. Aku berlutut dengan hati hancur, berdoa kepada Yesus. Tiba-tiba terdengar langkah sepatu mendekati pintu, lalu suara yang keras dan kukenal.

"Nona Ahn! Engkau di situ?" Itu kepala sekolah. Ia khusus datang untuk mencariku. Dengan tenang aku berdiri lalu membuka pintu. Ia memandangku dengan tajam, penuh kemarahan.

"Hari ini adalah hari pertama bulan ini."

Seperti aku tak tahu saja.

"Kita harus membawa murid-murid ke kuil di atas bukit. Ingat?"

Mata kami bertemu dan berperang diam-diam.

"Engkau bukan satu-satunya orang percaya," lanjutnya dengan suara tegang.

"Sekolah ini sekolah Kristen. Sebagian besar murid adalah anak Kristen. Semua guru adalah Kristen. Bahkan saya sendiri juga Kristen!"

Aku tetap diam.

"Pikirlah, nona Ahn. Adakah orang Kristen yang ingin menyembah berhala dan dewa-dewa? Kita semua membenci hal itu. Tetapi kita akan dianiaya bila melawan. Jika kita menolak perintah mereka, sekolah ini akan ditutup!"

Aku tahu. Hal itu sangat mengganggu pikiranku. Jepang yang menjajah Korea, melawan Allah dan menghina Yesus. Setiap orang yang menolak untuk menyembah dewa mereka, entah dia seorang penginjil, pendeta atau diaken, akan disiksa. Aku mengerti, bahwa kepala sekolah ingin bertanggung jawab atas keselamatan para guru dan murid. Tetapi apakah ia lupa sabda Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup?"

Aniaya itu bukannya baru mulai. Di Korea, sudah sejak lama banyak orang Kristen dibunuh karena mempertahankan kemurnian iman mereka. Aku mengerti mengapa kepala sekolah memaksa kami pergi ke kuil, tetapi aku tidak dapat mengerti bagaimana ia dapat sampai kepada keputusan seperti itu, melawan Allah dan bersekutu dengan berhala.

"Engkau tahu kesusahan apa yang akan dialami sekolah ini jika engkau menolak," ia berkata dengan nada benci.

"Tetapi engkau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri."

"Jika anda menghendaki aku pergi ke bukit itu, baiklah," kataku sambil melangkah keluar ruang musikku yang tenang, menuruni tangga didepan dia.

"Dan ingat, engkau harus menyembah disitu, nona Ahn," serunya. Aku tidak menjawab. Anak-anak memandangi aku dengan bingung dan cemas. Rupanya mereka tidak mengharap aku mengalah terhadap perintah kepala sekolah. kami lalu berbaris menuju bukit. Bisik-bisik terdengar di belakangku.

"Bila nona Ahn juga pergi, pasti Tuhan akan melindungi kita!"

"Kepala sekolah kita sungguh berkuasa! Ia berhasil menyuruh nona Ahn pergi ke bukit!"

"Pasti nona Ahn takut kepada polisi."

Aku memandang ke langit, pikiranku melayang kepada Daniel. Keadaan kami di Korea mirip dengan keadaan Daniel, dipaksa menyembah patung. Jepang membangun kuil-kuil di semua kota dan desa, bahkan memaksa penduduk menaruh kuil kecil di rumah mereka, di sekolah-sekolah, juga di kantor-kantor. Yang terburuk adalah, didalam Gereja pun harus ditaruh kuil kecil.

Sebelum kebaktian dimulai, setiap orang yang hadir harus membungkuk di depan kuil kecil itu. Polisi selalu mengawasi setiap kebaktian. Para pendeta menjadi sasaran khusus. Jika mereka menentang peraturan itu, mereka akan diseret ke kantor polisi dan disiksa. Tidak sampai disitu saja. Jatah makanan untuk keluarga mereka pun dikurangi, sehingga keluarga mereka kelaparan. Karena itu tidak heran kalau orang Korea umumnya membenci Jepang dan menyebut mereka setan.

Mungkin aku lebih mengenal orang Jepang daripada kebanyakan orang Korea yang lain. Ibuku seorang Kristen yang saleh dan ia ingin aku masuk sekolah misi. Tetapi ayahku yang belum Kristen, menyekolahkan aku di sekolah negeri dan disitulah aku memperoleh pendidikan Jepang. Ayah juga menolak ketika ibu mengusulkan agar setelah lulus dari sekolah menengah, aku masuk sekolah Kristen di Amerika.

"Ia tak akan berhasil dalam hidup bila tidak belajar secara Jepang," kata Ayah.

"Ia harus melanjutkan sekolah di Jepang."

Begitulah, setelah lulus di Jepang, aku kembali ke Korea. Hidup kelihatannya memang lebih mudah. Segera aku mendapatkan pekerjaan, mengajar di suatu sekolah negeri untuk wanita. Tetapi kepala sekolahnya sombong dan angkuh, sebab itu aku mengajar di sekolah misi.

Kemudian Jepang mulai memaksakan penyembahan dewa-dewa. Mula-mula aku berhasil menolak dengan berbagai alasan, tetapi aku sadar bahwa keadaan ini tidak dapat kupertahankan terus. Perang antara Tiongkok dan Jepang berkobar hebat, dan suatu semangat keagamaan yang baru berkobar di antara para pemimpin Jepang. Mereka telah bertekad untuk memaksa semua orang Korea, terutama yang Kristen, bersujud di depan dewa-dewa mereka.

Dalam perjalanan ke bukit itu aku mengingat kembali kata-kata Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Nebukatnezar, raja Babilonia. "Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:18).

Mereka memutuskan untuk lebih baik mati dalam nyala api daripada melawan Allah. Aku juga demikian. Dengan pertolongan Tuhan aku tidak akan pernah membungkuk di depan berhala Jepang, sekalipun Tuhan tidak melepaskan aku dari cengkeramannya. Aku telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Aku hanya dapat bersujud kepada Allah, Tuhan dan Juruselamatku.

Sambil berjalan aku berdoa.

"Hari ini, di atas bukit ini, di tengah kerumunan banyak orang, aku akan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Ini akan kulakukan demi kekudusan namaMu."

Hatiku diliputi kedamaian. Ingin sekali aku menyanyi. Hatiku lapang, seluas samudera. Awan yang berarak seakan-akan bersahabat denganku. Kehidupan masa mudaku tidak akan kujalani untuk kepentinganku sendiri. Aku akan mempersembahkannya kepada Tuhan dan memberi kesaksian tentang dia.

"Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu," kuulangi pasal 10 dari Injil Yohanes dengan bersuara, "dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. Bapaku, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." (ayat 27-29)

Telah banyak orang berkumpul di depan kuil, sebelum kami sampai disitu. Belasan sekolah dengan murid-murid yang berbaris rapi, tegak seperti patung, tak berani bergerak ataupun berbisik. Kami datang paling akhir.

Semua menengok kearah kami, terutama polisi-polisi Jepang yang tak ramah itu. Aku seperti anak kecil disitu, takut bersuara, takut kepada polisi-polisi itu. Hatiku berat, aku mencoba berdoa, tetapi doaku lemah sekali. Kupejamkan mataku sambil mengumamkan doa Bapa Kami tiga kali. Kurasakan keberanian dan kekuatanku mulai timbul.

"Bapa," doaku. "Aku sangat lemah! Tetapi aku ini dombaMu, aku akan taat mengikuti Engkau. Bapa, peliharalah aku."

"Perhatian!" Sebuah suara keras mengatasi gumam orang-orang yang berhimpun di situ. segera semua berdiri tegak baris demi baris. Kami sudah terbiasa patuh kepada aba-aba seperti itu, sebab lebih dari 37 tahun lamanya kami telah dijajah oleh Jepang.

"Hormat kepada Amaterasu Omikami (Dewa Matahari)!"

Lalu kami harus membungkukkan badan dalam-dalam ke arah matahari. Ya, semua membungkuk. Hanya aku yang tetap tegak memandang ke langit. Menit-menit sebelumnya, hatiku terasa berat dan penuh ketakutan, tetapi kini semua itu lenyap. Aku sangat tenang. Hati nuraniku berbisik, "Engkau telah memenuhi kewajibanmu."

Ketika kemudian aku berjalan pulang di belakang barisan murid-murid, sekali lagi aku berbicara kepada Yesus. "Semua sudah selesai, Tuhan. Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan. Selanjutnya segala sesuatu kuserahkan kepadaMu. Satu-satunya jalan yang dapat kutempuh sekarang ialah mendengarkan dan mengikuti perintahMu."

Pikiranku seperti seorang Jendral yang baru saja mengumumkan perang. Tetapi ketika tiba kembali ke sekolah, hatiku diliputi awan gelap. Aku tidak takut mati, tetapi aku ngeri membayangkan siksaan. Akan tahankah aku? Bagaimana seandainya aku, karena disiksa, tak tahan, lalu berbalik menyangkal Tuhan?

Memikirkan semua ini membuat aku lemas.

Tetapi tidak, aku tak boleh mundur. Aku telah maju dan meniup terompet perang. Aku seorang berdosa dan sangat lemah, tetapi aku harus berjuang.

"Jangan gelisah hatimu," kata Yesus kepadaku.

"Percayalah kepada Allah, percayalah kepadaKu. Aku tidak akan meninggalkanmu sebagai yatim piatu. Damai sejahtera Kutinggalkan kepadamu. Dama sejahteraKu Kuberikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yohanes 14:1,18,27)

Seberkas cahaya menguak kegelapan hatiku. Awan biru tersenyum manis, menggemakan nyanyian:

Dengan tenaga yang fana
Niscaya kita kalah.
Pahlawan kita Dialah
Yang diurapi Allah.


Siapa NamaNya?
Sang Kristus mulia.
Tuhanmu yang Esa,
Panglima semesta...
Niscaya Ia jaya!


Martin Luther
(Terjemahan Yamuger)

Martin Luther. Terbayang dibenakku hebatnya perjuangan yang ia lakukan bagi Tuhan dan kebenaranNya. Ia seorang sarjana yang berwibawa. Tetapi aku?

Aku hanyalah wanita muda yang tak dikenal, lemah, tanpa kekuasaan. Lalu aku ingat rasul Paulus.

Pasti ia pun mengalami saat-saat pergumulan seperti aku kini. Aku menimba kekuatan dari apa yang ditulisnya: "Karena jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Korintus 12:10)

"O, Bapa," aku berdoa, "kuatkanlah aku!"

He Places the Solitary in Families

Today's Scripture

“He places the solitary in families” (Psalm 68:6).

Today's Word from Joel and Victoria

Most everyone goes through times in life when they feel a little lonely or wonder where they belong. God designed family to always be a place of love and acceptance. Maybe you didn’t come from an environment like that, or maybe you’ve been away from your family. Maybe they are no longer around. God still desires to meet that need for family. The Bible says that He is the Father to the fatherless, and He places the solitary in families. God wants to give you a circle of people you can trust who will embrace and accept you. If you need family today, ask God to meet that need and show you where you belong. Or maybe you are the one who can open your home and heart to someone who is alone. The point is God loves family. He designed family for a purpose. Jesus said in Matthew 12 that those who do God’s will are His family. When you are part of the family of God, you are never alone! He promises to never leave you or forsake you. He promises to fill you with His peace and joy so that you can live as an overcomer all the days of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for showing me Your design for family. Thank You for accepting and embracing me always. Show me how I can reach out and be an example of family in someone else’s life. In Jesus’ Name. Amen.


Source : Joel Osteen Ministries