Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

18 April 2008

The Way

Today's Scripture

“‘…how can we know the way?’ Jesus answered, ‘I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through Me’” (John 14:5-6).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need direction in your life today? Not only is Jesus the way to life in eternity, but Jesus is the way to everything you need in this life here on earth. Do you need to know the way out of debt? Look to the Father through Jesus. Do you need to know the way to having better relationships…the way to overcome an addiction…to live in peace and joy? When you know Jesus, you know the Way. No matter what you are facing today, no matter what challenges or obstacles are in your life, He will make a way for you even when you don’t see how. God loves you so much that He wants to strengthen and empower you to live in total victory. That’s why He sent His Son, Jesus, to this earth—to show you the way to live an abundant life! Open your heart today and receive all that God has given you through Jesus. As you do, you’ll see His hand lead you in the way of victory in every area of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for sending Your Son, Jesus, to show me the way. I invite You into every area of my life. Keep me close to You always. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Humor : Puisi Cinta Anak Accounting

Wahai Kekasihku ..
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku


Wahai kekasih hatiku...
Jadi kan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah tiba
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva


Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu

Wahai bidadariku
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita..
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo..
mungkin cinta kita harus dijurnal balik…

Perlawanan Todd Beamer & Mazmur 23

Pada jam 9:45 pagi, 11 September, Todd Beamer, 32 tahun, ayah dua anak berumur 3 dan 1 tahun, menelepon dari pesawat. Pada akhir percakapannya, sebelum ia tewas, ia sempat mengutip Mazmur 23. Operator GTE yang berada diujung telepon mendengarnya memimpin sesama penumpang berusaha menggagalkan rencana pembajak pesawat yang ditumpanginya. Hubungan telepon itu terputus ketika pesawat itu jatuh di Pennsylvania.

Waktu itu, dunia baru saja tahu bahwa tiga pesawat komersial telah dibajak dan diterbangkan ke World Trade Center dan Pentagon. Pada saat banyak umat Kristiani didarat berdoa agar tidak ada lagi serangan seperti itu, Beamer juga sibuk berdoa. Ia kemudian melibatkan diri dalam suatu aksi yang membuat doa yang dipanjatkan dari seluruh Amerika itu menjadi kenyataan, setidaknya sebagian. Memang tak ada lagi lambang keadidayaan Amerika diserang pagi itu, tetapi penerbangan United 93 jatuh di tanah kosong dekat Pittsburg dan Amerika kehilangan beberapa pahlawannya.

Beamer, yang lulusan Wheaton College, adalah manajer akunting pada perusahaan software raksasa Oracle di Hightstown, New Jersey. Pada akhir minggu ia mengajar di Sekolah Minggu. Saat itu Beamer, sedang terbang dari Newark ke Los Angeles. Pada saat pembajak mengambil alih pesawat dan melukai pilot dan kopilot, Beamer digusur ke arah belakang pesawat bersama sembilan penumpang lainnya dan lima awak kabin. 27 penumpang lainnya digiring ke kabin kelas satu di bagian depan pesawat. Pembajak yang mengawal di bagian
belakang pesawat tampaknya membawa sebuah bom yang diikatkannya ke pinggang.

Sedikitnya ada tiga penumpang lainnya yang berusaha melakukan hubungan telepon di belakang pesawat, tetapi ketika Beamer mencoba menghubungi isterinya yang telah dinikahinya tujuh tahun dengan telepon di pesawat, kartu kreditnya macet dan panggilan telepon itu tertangkap oleh operator GTE Lisa D. Jefferson. Kedua orang yang belum saling mengenal itu melakukan percakapan telepon selama 13 menit sebelum hubungan itu terputus. Beamer tahu dari Jefferson tentang pembajakan pesawat lainnya yang terjadi pagi itu dan mereka curiga bahwa penerbangan 93 itu juga akan digunakan untuk membunuh banyak orang di darat. Beamer berusaha memberikan informasi sebanyak mungkin tentang pembajak yang saat itu menguasai pesawatnya. Beamer meminta agar Jefferson menyampaikan pesannya pada isterinya yang ia cintai, yang saat itu sedang mengandung anaknya yang ketiga.

Pada hari Jum'at 14 September, Jefferson memperoleh izin FBI untuk menghubungi isteri Beamer, Lisa, untuk menyampaikan kisah kepahlawanan suaminya. Lisa Beamer - yang juga lulusan Wheaton College ­- dalam wawancara dengan Joann Loviglio dari Associated Press memberikan komentar, "Orang-orang bertanya apakah saya kecewa bahwa saya tidak sempat berbicara dengan suami saya, tetapi saya senang bahwa ia berbicara dengan Jefferson. Saat itu tentunya saya sedang tak berdaya. Pada akhirnya toh saya tahu kata-kata terakhirnya. "Lisa Beamer memperoleh kehormatan pada pidato Presiden Bush pada tanggal 20 September yang menyebut Todd Beamer - sebagai suami yang "luar biasa" dan Lisa memperoleh tepuk tangan panjang sambil berdiri.

Sebelum Todd Beamer dan beberapa penumpang lainnya menyerbu para teroris yang mengawalnya, ia meminta Jefferson berdoa bersama dia di telepon dan mereka membaca Mazmur 23 bersama, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4)

Tampaknya para penumpang di belakang pesawat telah berunding dan memutuskan untuk menggagalkan rencana pembajak pesawat itu. Apa yang terjadi setelah itu tak ada yang tahu, tetapi kata-kata terakhir Beamer yang didengar oleh Jefferson adalah,"Anda siap kawan?' dan "Ayo mulai."

Pada tanggal 11 September, 19 teroris mengira mereka telah mengorbankan diri demi suatu tujuan yang besar, namun hasilnya adalah tewasnya ribuan orang tak berdosa. Todd Beamer, di pihak lain, telah mengikuti teladan yang diberikan oleh Bapanya di sorga - ia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkan hidup banyak orang lainnya. ".Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:3)


By Candice McGarvey

Orang Kristen & Penderitaan

Mazmur 73

Hari-hari ini, banyak orang Kristen bukan saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri mengalami kesulitan khususnya akibat bencana alam, terorisme dan krisis ekonomi. Pergumulan di negara Indonesia, banyak jemaat yang mengeluh dengan mahalnya harga komoditi akibat perubahan iklim sementara penghasilan tidak bertambah. Di tengah krisis demikian, pergumulan kita menjadi tidak gampang. Bagaimanakah seharusnya orang Kristen menghadapi pergumulan?


Di dalam Alkitab, ada tiga tokoh besar yang bergumul dengan penderitaan yakni Ayub, Pemazmur 73 dan Habakuk. Dalam ketiga orang ini, mempunyai kemiripan pergumulan sekalipun modelnya bervariasi tetapi yang pasti jawaban pergumulan, perubahan dan komitmennya sama. Inilah yang kita mau belajar, khususnya dari Mazmur 73.

Bagian pertama, dari pergumulan si Pemazmur, ia akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Inilah paling tidak satu dari sekian banyak maksud Tuhan dalam penderitaan supaya setelah kita mendapatkan jawaban, kita menguatkan orang lain. Dalam ayat 1, si Pemazmur mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya”. Di sini, menandakan bahwa ia telah selesai bergumul dan menang karena dalam penderitaan itu, ia tidak menghujat Allah dan mengatai Allah itu buruk atau jahat melainkan mengakui Allah itu baik. Selain Mazmur 73, memang inilah ciri khas seluruh kitab Mazmur. Sebagaimana dikatakan John Calvin, inilah kitab yang membuka anatomi jiwa, membuka anatomi perasaan manusia. Kitab yang sangat jujur.

Ada satu ciri khas yang diungkapkan oleh Martin Llyod-Jones yakni Mazmur seringkali dimulai oleh kesimpulan dari pergumulan. Seperti Mazmur 23, seluruh kredo pergumulan Daud disimpulkan, “Tuhan adalah gembalaku, tak akan kekurangan aku”. Demikian pula di sini, ia ingin memberikan kesimpulan kepada orang percaya yang membaca refleksinya, Allah itu baik, bagi mereka yang sungguh-sungguh mengikuti Tuhan.


Selain kesimpulan, ayat 1 juga merupakan undangan. Pemazmur seolah ingin berkata, “jika saudara adalah orang percaya yang sungguh bersih dan tulus hatimu, dan engkau menderita, Mazmur ini untuk saudara.
Sebuah mazmur tentang kebaikan Allah. Sekalipun saudara menderita, Allah itu baik”.

Bagian kedua, dalam Mazmur ini kita belajar bahwa orang percaya pun bukan saja bisa bergumul tetapi bahkan penuh dengan pergumulan. Tidak usah kita heran akan hal ini, karena bukan rancangan kita melainkan rancangan Tuhan yang terjadi. Kadang kita berpikir bahwa seharusnya jalannya akan begini dan begitu tetapi Tuhan mempunyai cara pikir yang berbeda.

Bergumul bukan dosa. Tuhan Yesus sendiri bergumul, bahkan bergumul dalam pencobaan. Dicobai bukan dosa. Jatuh dalam pencobaan barulah dosa. Memakai terminologi Paulus, “habis akal” bukan dosa. Putus asa barulah sesuatu yang tidak benar (2 Kor. 4:8b). Jika saudara dalam bisnis, keluarga, pendidikan mengalami habis akal, itu bukan dosa. Jangan takut. Tetapi yang harus saudara lakukan adalah tetap berpengharapan, jangan putus asa.

Saya mencatat, sejumlah pergumulan si Pemazmur.
1. Bergumul untuk mempertahankan hati yang bersih (ayat 13). Pergumulan ini tidak gampang karena di setiap detik dan setiap inci kehidupan, godaan untuk membengkokkan hati begitu banyak dan kuat, baik dari kedagingan dalam diri, dunia, setan, dan sebagainya.

2. Bergumul untuk setia dalam kesulitan (ayat 14). Mempertahankan hati yang bersih satu hal tetapi mempertahankan hati yang bersih dalam penderitaan adalah hal lain. Jikalau kita mengatakan “orang ini setia tapi hidupnya susah” maka konotasinya negatif. Tetapi jika kita mengatakan, “orang ini hidupnya susah tetapi ia setia” maka konotasinya lebih positif. Dan kalimat pertamalah yang muncul ketika Lukas menggambarkan Zakaria dan Elizabeth, orang tua Yohanes Pembaptis. Mereka setia tetapi mandul, tidak punya anak. Dalam pergumulan demikian, seringkali ada perbandingan dari dalam diri dan dari orang lain antara setia dan sulit. Kedua kata itu seperti bertentangan, seperti air dan minyak, sulit bertemu.

3. Bergumul dengan kecemburuan ketika melihat orang fasik yang maju (ayat 3). Susah untuk menerima bahwa mereka yang tidak setia, hidupnya lebih lancar. Ada beberapa gambaran obyektif yang dicatat oleh Pemazmur. Dalam ayat 4a dikatakan kesakitan tidak ada mereka. Dalam bahasa asli, adalah kesakitan maut. Maksudnya, si Pemazmur melihat bahwa ada orang jahat yang sampai matinya tidak mengalami penyakit. Mati tua bukan mati sakit atau mati celaka. Dalam ayat 4b dikatakan sehat dan gemuk tubuh mereka. Tidak semua yang sehat dan gemuk itu fasik tetapi orang fasik biasanya sehat-sehat. Bagaimana kalau pencuri atau perampok tetapi menderita penyakit stroke. Sulit dinalar. Sebaliknya, banyak orang yang setia dalam Alkitab, hidup mereka sakit-sakitan seperti Paulus, Calvin, dan sebagainya. Dalam ayat 5a dikatakan mereka tidak mengalami kesusahan manusia. Kasarnya, semua orang mengalami harga tempe dan terigu yang melambung tinggi, mereka tidak mengalaminya. Ayat 8b dikatakan bahwa hal pemerasan mereka bicarakan dengan tinggi hati. Maksudnya, sudah dosa masih dibanggakan lagi. Ayat 12b dikatakan, "Mereka menambah harta benda dan senang selamanya”. Barangkali inilah gambaran yang paling menyakitkan. Orang jahat, penipu, yang bisnisnya kotor, semakin hari harta bendanya bertambah-tambah dan senang seterusnya. Sebaliknya, orang yang setia, ikut Tuhan, beriman, bisnisnya jujur, hidup bersih, malah harta benda semakin berkurang karena uang habis, tabungan habis, emas dijual, mobil dijual ganti sepeda motor, rumah yang besar dijual ganti yang kecil. Malah susah seterusnya.

4. Bergumul mengalami cercaan dari orang fasik (ayat 3a, 8a, 9). Setia itu sulit. Setia dalam kesulitan lebih sulit. Setia dalam kesulitan dengan kecemburuan, tambah sulit. Sekarang, malah harus dengar caci maki. “Katanya ikut Tuhan, kok hidup susah”, “katanya anak Raja, kok ngontrak”, “katanya Allahnya yang empunya alam semesta, kok rumah saja tidak punya” dan seterusnya yang sangat menyakitkan dari orang fasik.
Pergumulan yang paling sulit dari semuanya adalah di dalam penderitaan orang setia, si Pemazmur melihat Tuhan diam dan tidak memberikan jawaban. Setidaknya kalau ia tidak mengasihi orang percaya, paling tidak mengadili orang fasik. Malah yang terlihat adalah Tuhan mengasihi orang fasik dan menghukum orang percaya, menulahi yang hatinya bersih (ayat 14).

Bagian ketiga, setelah pergumulan ini kita sekarang melihat jawaban yang diterima Pemazmur. Langkah pertama menuju jawaban adalah si Pemazmur menguasai diri. Seperti yang dinyatakan dalam 1 Petrus 4:7, kuasailah diri, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa. Menguasai diri memang tidak menyelesaikan persoalan apapun tetapi setidaknya tidak menambah persoalan baru supaya tidak terjadi sudah jatuh, tertimpa tangga.

Menguasai diri berarti si Pemazmur tenang, tidak emosional dan sebaliknya berpikir. Istilah “seandainya” dalam ayat 15 menandakan bahwa si Pemazmur sedang berpikir. Prinsipnya, jangan ambil keputusan penting apapun pada waktu emosi. Jangan ambil keputusan putus pacar, pindah pekerjaan, pindah kota dan sebagainya sebab pada waktu emosi, sulit berpikir dengan tenang. Bagaimana mengatakan itu kehendak Allah jika tidak berpikir dengan akal sehat? Sebab kehendak Allah tidak pernah membuang akal sehat. Melampaui akal sehat ya. Tetapi, melampaui berarti sudah pakai akal sehat masih tidak cukup.

Selain itu, menguasai diri juga berarti, sebagaimana yang dilakukan Ayub, menjaga bibirnya agar tidak berdosa. Dalam ayat 15, si pemazmur sedang berpikir, jika ia mengucapkan kalimat kekecewaan maka ia akan mengkhianati angkatan anak-anak Tuhan. Lebih baik kita mendengar perkataan dari Yakobus, janganlah cepat bicara atau cepat marah tetapi cepat mendengar supaya setelah masalah selesai kita tidak menyesal karena pernah mengucapkan kalimat yang tidak enak (1:19).

Menguasai diri juga berarti menghitung konsekuensi. Ia sedang menghitung resiko-resiko kalau ia bicara demikian maka akan mengkhianati angkatan umat Tuhan. Pada waktu kita terjepit, kita diajar untuk menguasai diri sehingga menghitung resiko agar jangan salah melangkah.
Bagaimana pun terjepit tetap harus menguasai diri untuk menghitung resiko.

Bahkan yang disebut menguasai diri adalah setidaknya sampai ayat 16, Si Pemazmur puas dengan kondisi menggantung, belum ada jawaban, tetapi ia tidak memaksakan diri untuk mengambil jawaban sendiri sesuai dengan keinginan sendiri. Sabar menanti jawaban Tuhan, itulah penguasaan diri orang percaya dalam pergumulan penderitaan yang berat.

Dalam ayat 17 dikatakan bahwa ia mendapatkan jawaban ketika masuk ke tempat kudus. Konteks waktu itu adalah bahwa firman Tuhan tidak didapatkan di rumah melainkan dengan berada di rumah ibadah. Ia masuk dan memperhatikan.
Perhatikan istilah “memperhatikan” dalam ayat 17. memperhatikan kesusahan orang fasik berarti ia berkonsentrasi pada waktu mendengar firman. Banyak orang percaya, sayangnya, pada waktu mereka bergumul, mereka menjauhi firman baik menjauhi ibadah maupun saat teduh. Akhirnya mereka tidak mendapatkan jawaban dan kondisinya tambah buruk.

Memperhatikan firman Tuhan adalah jawaban mutlak dalam pergumulan penderitaan. Dalam Daniel 9, dikatakan ia memperhatikan firman Tuhan melalui Yeremia. Ayub dan Habakuk juga mendapatkan jawaban dari firman Tuhan. Jika bukan firman Tuhan, apalagi jawaban bagi pergumulan kita?

Si Pemazmur mendapatkan jawaban tentang kenikmatan orang fasik dan penderitaan orang percaya adalah ketika mendengar khotbah tentang penghakiman. Lucu yah. Bagaimana bisa orang lagi susah kok mendengar firman tentang neraka? Psikologi sekuler tidak bisa menerimanya. Matthew Arnold mengatakan, kalau memperhatikan kehidupan orang harus utuh. Jangan lihat enaknya sekarang tetapi lihatlah akhiratnya. Jadi, kesimpulan Pemazmur bahwa orang fasik senang selamanya, tidak sepenuhnya benar. Itu kesimpulan emosionalnya. Yang benar adalah bahwa memang mereka kelihatan senang sekarang tetapi nanti belum tentu. Kalau kita melihat kehidupan orang benar yang senang sekarang, jangan lupa melihat masa lalunya, mungkin banyak penderitaan. Kalau kita melihat kehidupan orang fasik yang senang sekarang, jangan lupa melihat masa depannya, mungkin banyak penderitaan.

Sampai di sini, kita mendapatkan pelajaran berharga. Yang disebut dengan jawaban pergumulan itu bukan perubahan keadaan. Nanti di ayat selanjutnya juga kita lihat bahwa keadaan si Pemazmur tidak dicatat berubah.
Dari tiga orang besar yang bergumul dengan penderitaan, hanya Ayub yang dicatat mengalami perubahan keadaan. Tetapi itu terjadi setelah ia mendapatkan jawaban firman yang merubah hidupnya dan membangun komitmen baru. Pemazmur dan Habakuk tidak mendapatkan perubahan keadaan tetapi perubahan hidup melalui firman. Jadi, yang disebut jawaban pergumulan bukan perubahan keadaan tetapi perubahan hidup oleh firman yang diwujudkan dengan komitmen baru. Jangan bermimpi perubahan keadaan karena itu bukan jawaban Alkitab. Namun demikian, konsep ini tidak berarti kita tidak berusaha mencari jalan keluar. Itu hal lain yang tidak kita bicarakan di sini.

Bagian terakhir, akhir dari pergumulan itu, si Pemazmur membangun komitmen baru. Ada tiga komitmen di sini. Komitmen pertama, tetap dekat dengan Tuhan dalam penderitaan (ayat 23-24). Komitmen dalam keadaan sulit (ayat 21-22) bahkan ia merasa diri dungu dan seperti hewan. Dekat itulah baru ia mendapat kekuatan. Jika ia lari dari Tuhan, di manakah jawabannya? Banyak orang Kristen waktu susah malah menjauh dari Tuhan sehingga hidup mereka tambah parah. Jika saudara menjauh, sekarang kembalilah supaya Tuhan menjawab hidup saudara!

Dalam komitmen pertama itu kemudian kita melihat pertolongan Tuhan, persis seperti menolong orang yang pingsan. Dikatakan ”Engkau memegang tangan kananku”. Kalau Alkitab menyatakan bahwa Allah memegang kita dengan tangan kananNya itu berarti kekuatan (mis. Yes. 41:10). Kalau Alkitab mengatakan Allah memegang tangan kanan kita, itu berarti kenyamanan, supaya tidak jatuh tergeletak. Setelah itu, dituntun selangkah demi selangkah menuju ke tempat yang lebih baik secara kerohanian supaya ia tidak tergelincir (bdk. Ayat 2).

Komitmen yang kedua adalah tetap mengasihi Tuhan sekalipun dalam penderitaan (ayat 25-26).
Kalau komitmen pertama adalah tetap dekat Tuhan sekalipun masih merasa tidak enak atau pusing maka yang kedua ini mulai menikmati dan mengasihi Tuhan. Komitmen ketiga adalah selama-lamanya berjalan bersama Allah. NIV menerjemahkan ”adalah baik bagi ku untuk dekat dengan Allah”. Selama-lamanya, entah susah atau senang, entah mendung, hujan atau cerah tetap berjalan bersama dengan Allah. Sehingga, komitmennya adalah kasih dari hati terdalam kepada Allah, tidak tergantung kondisi enak atau tidak.
Sampai di sini, si Pemazmur menang. Puji Tuhan. Ingin menang dalam penderitaan? Jangan jauhi Tuhan dan cintailah firman-Nya. Semoga!


oleh: Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div.


Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div.
adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Malang , Ketua Sekolah Theologia Reformed Injili Malang (STRIM) dan peneliti pada Reformed Center for Religion and Society. Beliau meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Reformed, Jakarta .


"For I am not ashamed of the gospel of Christ: for it is the power of God unto salvation to every one that believeth; to the Jew first, and also to the Greek." (Romans 1:16; King James Version)

Sepercik Hikmat

Bersyukurlah selalu karena kita masih diberi hidup karena dalam hidup yang sedang kita kecap, kita masih mempunyai kesempatan untuk bertumbuh di dalam roh. Kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami adalah suatu rahmat dari Tuhan yang janganlah tersia-siakan nikmatnya.

Dalam kebahagiaan yang kita alami, kita bertumbuh dalam berbagi sukacita dengan sesama, dalam kesedihan yang terjadi kita bertumbuh dalam pematangan dan pemurnian diri. Tiada hari duka cita hanya suka cita karena semuanya baik adanya, selama kita selalu berjalan dalam tuntunanNya.

Tiada masalah yang tak terselesaikan selama kita tahu kemana kita harus bergantung, hanya Tuhanlah pautan hidup kita tiada yang lain. Dengan kuasa dan alur yang tak terselami. Dia akan menggerakkan hati kita untuk melepaskan diri dari jeratan dunia.

Tetaplah berserah pada Tuhan dan berkarya sesuai kemampuan terbaik kita, tidak melebihi ataupun mengurangi dari takaran yang ada. Tuhanlah sumber hidup kita.

Hati yang indah ataupun bahagia, adalah hati yang dapat selalu bersyukur atas rahmatNya. Hati yang indah dan bahagia adalah seperti hati seorang anak kecil yang tak menyimpan dendam, prasangka dan kebencian dalam hatinya.

Bukanlah harapan jika ada dan terlihat di depan mata, harapan adalah sesuatu yang tak ada yang kita yakini akan ada dan menjadi milik kita. Percayalah selalu dalam harapan dan doa yang engkau yakini, Tuhan pasti akan mengabulkannya selama kita selalu berjalan di jalanNya. Yakinlah apapun yang diberikanNya pada kita adalah yang terbaik bagi kita.

Janganlah pernah kuatir akan hidup selama kita selalu menghidupkan firmanNya dalam hidup kita karena itulah kebenaran yang hakiki. Burung di udara saja selalu diperhatikanNya apalagi kita manusia. Tuhan adalah penguasa segalanya janganlah pernah berpaling dariNya karena Dialah sumber kehidupan yang abadi.

Jangan sekalipun berusaha memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita karena hanya akan menjadi bumerang bagi ketenangan pikiran kita. Jangan pula mempermasalahkan apa yang orang lain lakukan karena diapun hanya bertanggung jawab pada dirinya dan Tuhan semata. Saat hatimu resah tetaplah bertenang diri dan dekatkanlah dalam doa dan permohonan padaNya, jika jawaban itu tak jua datang tetaplah tenang karena mungkin yang Dia minta adalah hanya kamu bertenang diri dan sabarlah dalam menanti maka jawaban itu akan datang dalam waktu yang tidak kita sangka.

Tiadalah salah jika kita terkadang masih melakukan kesalahan baik disadari maupun tidak disadari, terimalah pertentangan batin pada diri kita sendiri sebagai upaya untuk terus menyadarkan diri, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata, maka saat kesalahan itu terjadi mohon ampun, mintalah anugerah maaf dariNya dan tetapkan hati untuk segera beranjak dari kesalahan itu. Janganlah pernah ingin mencobai Allah kita dengan perbuatan salah yang sengaja dan sadar kita lakukan, karena Tuhan tahu apa yang tersembunyi di hati kita dan apa yang kita tabur jika telah melukai kita maka bekas luka itu akan masih ada sebagai peringatan bagi kita.


Tuhan Berkati

17 April 2008

Embrace Change

Today's Scripture

He changes times and seasons.” (Daniel 2:21)

Today's Word from Joel and Victoria

God is always looking to take us to higher levels. He wants us to grow and increase in every area of life. Change is often a catalyst for growth in our lives. It keeps us from getting stuck in a rut. God will supernaturally open and close doors to keep us on the path toward our destiny. He will “stir us” out of comfortable situations and stretch us because He loves us too much to allow us to live in mediocrity. Just like a mother eagle will stir her young, God will stir His children. Do you know how an eaglet learns to fly? That eagle will take her eaglet to the very highest point—way out of its comfort zone—and then she releases it. As the eaglet falls, the mother swoops down and picks it back up again. She does this over and over until the eaglet spreads its wings and soars through the air. That’s what God wants for you today. He wants you to soar in life! You might feel like that eaglet learning to fly, but know that God is right there with you! He’ll never leave you. Embrace God’s change today, knowing that He is using it to take you up higher so that you can live in victory all the days of your life!

A Prayer for Today

Dear God, today I open my heart and mind to receive all that You have for me. I trust that You are with me directing my every step. I embrace Your seasons of change and thank You for helping me grow and increase in every area. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

16 April 2008

Segala Sesuatu Indah Pada WaktuNya

Semuanya bermula pada hari Sabtu bulan Juli tahun 1995. Waktu itu saya sedang membaca buku di tempat tidur (di Jakarta), ketika di hadapan saya salib Tuhan Yesus dan tasbih milik anak-anak (yang pada waktu itu beragama Islam) mendadak jatuh di lantai lepas dari dinding. Anehnya, salib tersebut jatuh di atas tasbih sehingga tasbihnya putus dan biji-bijinya berserakan kemana-mana di lantai. Tasbih dan salib itu sudah 15 tahun tergantung di dinding dan pakunya tidak pernah lepas. Waktu itu saya hanya dapat berpikir, "Ya Tuhan, pertanda apakah ini, apa yang akan terjadi?"

Hati saya sangat gundah dan pikiran saya langsung melayang ke Diana, anak saya yang kedua. Malam sebelumnya Diana baru minta izin untuk pergi scuba diving di pulau Catalina dekat Los Angeles. Waktu dia minta izin, sesungguhnya saya tidak setuju, karena Diana akan pulang seminggu lagi untuk berlibur ke Manado untuk diving di Bunaken. Karena dia mengatakan harus pergi ke Catalina untuk ujian sertifikat divingnya yang kedua, dengan hati berat saya izinkan juga. Reaksi pertama saya setelah salib jatuh saya langsung telpon ke Amerika untuk melarang Diana pergi. Telpon saya dijawab oleh Ruby, adik Diana, yang mengatakan bahwa Diana baru saja didrop di dermaga, dan kapalnya sekarang sudah berangkat ke Catalina. Setelah itu saya hanya dapat menunggu dan berharap agar semuanya beres.

Ternyata perasaan saya benar. Hari Minggu keesokan harinya saya ditelpon oleh Monika, anak saya yang tertua, bahwa Diana telah mengalami kecelakaan tenggelam pada saat sedang ujian diving. Sejak itu seluruh hidup saya berubah. Selama ini saya adalah orang Kristen yang sebelum menikah rajin ke Gereja dan berdoa, tetapi karena perkawinan saya dengan orang beragama Islam, semua nilai-nilai itu menjadi pudar. Saya jadi malas ke Gereja, malas berdoa sebelum makan, dan saya merasa cukup dengan hanya membaca Alkitab dan berdoa di rumah. Bahkan setelah berceraipun saya masih malas ke gereja.

Sebelum saya berangkat ke Los Angeles untuk menjenguk Diana, sahabat saya yang bernama Lily, yang pernah kehilangan anak karena kecelakaan, mengingatkan saya, "Kamu jangan seperti saya hanya berpasrah dan berharap waktu anakku sakit. Kamu harus berdoa dan mohon kepada Tuhan untuk kesembuhan anakmu". Saya langsung mengikuti nasihat yang berharga itu. Saya mulai berdoa dan meminta dengan tekun kepada Tuhan sampai saya merasakan ketenangan yang luar biasa dan ketakutan saya hilang.

Mendadak saya merasakan suatu kekuatan iman yang luar biasa meskipun kondisi Diana sangat parah pada waktu itu. Diana sempat mendapat light stroke dan pneumonia. Pernapasannya dibantu dengan mesin pengganti paru-paru karena paru-parunya mengalami pendarahan di dalam (internal bleeding) dan hanya berfungsi 30 persen. Hidupnya tergantung dari 11 pipa selang, dimana diantaranya sebuah selang di dalam tenggorokannya yang memompa darah keluar dari dalam paru-parunya. Angka-angka monitor juga sudah sangat kritis, detak jantungnya terlalu cepat untuk ukuran normal. Menurut team dokter seseorang dalam kondisi seperti itu seharusnya sudah dalam koma, dan mereka begitu heran badannya begitu kuat bisa bertahan sehingga masih sadar. Setiap kali saya tanya ke kepala team dokter, jawabannya selalu sama, yaitu "we cannot promise you anything, but we are trying our best. It is already a miracle she's not in coma, but maybe it's because she's still young and very very strong."

Baru belakangan saya menyadari bahwa ini semua terjadi karena Tuhan sedang berkarya dan berencana dalam keluarga saya. Untung waktu itu Diana dalam keadaan sadar sehingga kami sekeluarga bisa berkomunikasi lewat tulisan. Saya masih ingat pada suatu saat dai bangun ketakutan dan menulis bahwa dia bermimpi terkunci dalam suatu ruangan dan tidak bisa keluar, dan hanya mama (saya) yang bisa mengeluarkan dia dari kamar gelap tersebut. Disitulah saya sadar bahwa sayalah satu-satunya orang yang dapat mengajarkan Diana jalan terang Kristiani yang dapat membantunya di saat-saat gelap ini.

Dan semua ini terwujud pada hari kelima sore hari, dimana dokter sudah angkat tangan dan memberi tanda bahwa Diana tidak dapat bertahan lebih dari 24 jam. Waktu itu teman-teman Diana dari sekolah semunya datang untuk menjenguk dan "pamitan" dengan Diana. Dianapun kelihatannya menyadari keadaannya. Pada beberapa kawan Diana menyampaikan teriman kasih dan secara khusus minta maaf. Suasana sangat mengarukandan semua menangis karena sudah merasakan saatnya untuk "berpisah".

Ketika semua tamu sudah pulang dari ICU, yang tinggal hanya saya dan David, salah satu sahabat karib Diana. Kami berdua kaget ketika mendadak Diana ingin bangun dari tempat tidur dan tangan kanannya meraih dan menggapai ke depan seolah-olah ingin menyentuh sesuatu. Diana tersenyum dan matanya bersinar-sinar. Saya berkata,"Di, jangan bangun nanti selang-selang di badan terlepas."

Saya mendorong badan- nya ke tempat tidur, tapi dia bangun lagi dan dengan tersenyum ingin meraih "sesuatu" di depannya. Akhirnya saya mengambil kertas dan meminta Diana menulis apa
yang ia inginkan. Dia menulis, "Di pojok kamar berdiri Tuhan Yesus dan di sekelilingnya berdiri orang-orang penting. Di tengah-tengah ruangan ada malaikat-malaikat menari-nari." Diana tersenyum terus ke pojok ruangan tapi saya dan David tidak dapat melihat apa-apa. Kemudian tanpa saya sadari, saya bertanya kepada Diana, "Di, apakah kamu sudah siap untuk dibaptis?" Diana menulis, "Yes, and please let me become a Christian and be baptized".

Malam itu juga kami mengurus pembaptisannya dan pagi harinya Diana dibaptis. Pembaptisan Diana sangat mengharukan terutama pada saat Diana minta izin kepada bapaknya untuk dibaptis. Pada saat masih di SMA, Diana sempat mengutarakan keinginannya untuk dibaptis. Tetapi karena bapaknya keberatan, Diana tidak jadi masuk Kristen. Kalau saya ingat sekarang, saya merasa di sinilah Tuhan bekerja. Saat Diana di rumah sakit, bapaknya mengijinkan Diana untuk dibaptis, mungkin karena merasa itu adalah "permintaan terakhirnya."

Sehabis dibaptis keadaan Diana tiba-tiba mulai membaik. Tim dokter sampai heran dan berkata "we thought she was going to die". Mereka berkata bahwa kemajuan kondisinya yang secara tiba-tiba tidak dapat dijelaskan secara medis. Tiga hari setelah dibaptis, Diana dapat bernapas tanpa bantuan mesin pengganti paru-paru. Keesokan harinya selang di tenggorokannya dicabut dan Diana dapat berbicara lagi. Beberapa hari setelah itu keadaan Diana menunjukkan kemajuan yang luar biasa sampai tim dokter memutuskan untuk memindahkan Diana dari ICU ke kamar biasa. Setelah Diana dirawat di kamar biasa selama seminggu, Diana diijinkan pulang dari rumah sakit oleh dokter.

Pembaptisan Diana mengingatkan saya pada kehadiaan saat Diana masih SD. Saat itu Diana masih beragama Islam dan sangat tekut menjalankan agama Islam. Suatu hari, Diana datang kepada saya dan berkata bahwa dia mengalami mimpi yang sangat aneh. Dia bermimpi bahwa dia bertemu Tuhan Yesus, dan dalam mimpinya dia berkata kapada Tuhan Yesus bahwa dia ingin mengikutiNya. Tuhan Yesus hanya tersenyum dan mengatakan bahwa sekarang belum waktunya, suatu saat Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menjemput Diana untuk mengikutiNya. Diana bercerita bahwa dia mendapat mimpi yang sama 2 kali. Dia heran mengapa sebagai orang beragama Islam mendapat mimpi seperti itu. Saat itu saya berkata kepada Diana bahwa mungkin mimpi itu berarti bahwa Dia harus masuk Kristen dan mengikuti Yesus.

Kejadian ini merubah hidup saya. Saya baru menyadari betapa Tuhan selalu setia kepada saya dan keluarga saya, bahkan ditengah-tengah ketidaksetiaan kami. Saya merasa Tuhan menepati janjiNya ke pada Diana, menolong Diana dan menjemputnya untuk mengikutiNya.

Kemurahan Tuhan tidak berhenti di situ saja. Tuhan menggerakkan hati anak saya Ruby, yang masih Islam. Mula-mula, Ruby mulai ikut ke gereja dengan Diana. Kemudian Ruby mulai turut aktif dalam kegiatan gereja, sampai akhirnya tergerak hatinya untuk dibaptis tahun lalu. Anak saya yang tertua, Monika, juga akan dibaptis bulan Mei tahun ini.

Sampai sekarang saya masih sering heran bila mengingat bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa terhadap saya dan keluarga saya. Setiap hari saya berterima kasih kepada Tuhan atas kemurahan berkat karuniaNya dan untuk membuat segala sesuatu indah pada waktuNya bagi keluarga saya.

Ditulis Oleh : Widyawati Deborah Sondakh
Maret 2000

Berapa Umur Kita Saat Ini?

Berapa umur kita saat ini? 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun. Berapa lama kita telah melalui kehidupan kita? Berapa lama lagi sisa waktu kita untuk menjalani kehidupan? Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang profesional, dll. Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang menjalani hidup. Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang tidak memuaskan, dan banyak problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

Tak terasa, siang menjemput. "Waktunya istirahat..makan- makan". Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari ini...

Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja. Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok masih banyak yang belum selesai. (Belum lagi kalau terkadang harus menghadapi 'manusia-manusia sulit' yang menghambat pekerjaan kita)

Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat. Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket. Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...

Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah. Dinamis sekali kehidupan ini.

Waktunya makan malam tiba. Ibu kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita, "Ohh..ada sop ayam".

"Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali", anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan. Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam telah tiba. Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari yang baru lagi. Kehidupan, ya seperti itu lah kehidupan di mata sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Hanya rutinitas sampai akhirnya maut menjemput. Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas. Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.

Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Kehidupan adalah ... dll.

Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani. Berapa tahun kita telah melalui kehidupan kita? Berapa tahun kita telah menjalani kehidupan rutinitas kita? Akankah sisa waktu kita sebelum ajal menjemput hanya kita korbankan untuk sebuah rutinitas belaka? Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.

Hanya Tuhanlah yang tahu. Pandanglah di sekeliling kita ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama. Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.

Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah. Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Humor : Sebentar

Seorang turis yang baru saja tinggal di Indonesia ingin berpergian ke Papua. Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata dia menelepon sebuah agen perjalanan.

"Berapa lama perjalanan menuju Papua?" tanya turis kepada petugas.

"Sebentar, Tuan" jawab petugas sambil mencari-cari buku informasi.

"Oh, terima kasih," jawab si turis sambil menutup telepon dengan wajah cerah.

Harta Karun Untuk Semua

Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff - The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung, orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi.Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing.

Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka.

Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, PasarBaru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada Lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia. Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu,permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan ..

Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... Dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.


oleh Dewi Lestari

Established in Love

Today's Scripture

“May you be rooted and grounded in love…” (Ephesians 3:17)

Today's Word from Joel and Victoria

Did you know there is tremendous power in love? In the same way that a tree will grow taller and stronger when its roots grow deep, you’ll be stronger and have more of God’s power operating in your life when you are rooted and established in love. Faith works by love, and I Corinthians 13 gives us a picture of what that looks like…among other things, love is patient and kind. It does not seek its own way. It is not jealous or boastful or proud. When you choose love instead of choosing your own way, you are showing that God is first place in your life. You are establishing yourself in love. The more you choose to walk in love, the deeper and stronger your roots will grow. And when you are established in love, you’ll have more of God’s favor and blessing upon your life! Choose love today, and let it be firm within you. Let that love build security in you and empower you. As you do, you’ll see God working through you, and you’ll live as an overcome in every area!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I come to You today and invite You to search my heart and mind. Show me how to love others better so that I can be established in Your love. Thank You for loving me so that I can show Your love to others. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries