Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 April 2012

Berani Ambil Resiko

Bacaan Setahun : 1 Samuel 1-3
Nats : Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Sesudah menurunkan mayat itu, ia mengafani-Nya dengan kain lenan, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belu (Lukas 23:52-53)

Bacaan : Lukas 23:50-56

Dalam dunia bisnis ada pepatah "High risk high gain", makin besar risiko yang diambil, makin besar pula hasil yang diperoleh. Dalam pengambilan keputusan, ada orang yang bertipe "risk taker" [pengambil risiko], ada pula yang "safety player" [pemain aman]. Hal yang sama rupanya bisa dijumpai juga dalam menyatakan iman. Ada yang memilih bermain aman, tetapi ada pula yang berani mengambil risiko.

Yusuf dari Arimatea termasuk orang beriman yang berani ambil risiko. Perhatikan apa yang ia lakukan: ia mengurus segala sesuatu agar Yesus menerima penguburan yang layak (ayat 52-53). Sebelum peristiwa ini, nama Yusuf dari Arimatea tidak pernah disebutkan, apalagi dinyatakan se-bagai pengikut Kristus. Ia adalah anggota Majelis Besar (ayat 50), sutradara di balik drama penyaliban Yesus. Bertentangan dengan putusan Majelis yang membuat Yesus tampak sebagai penjahat, Yusuf memperlakukan Yesus sebagai Pribadi terhormat. Tindakannya memperlihatkan iman, kasih, dan keberpihakan pada Yesus di tengah komunitas yang membenci-Nya. Tidakkah itu berisiko merusak reputasi dan kedudukannya?

Dipandang dari keseluruhan kisah, peran Yusuf dari Arimatea tampak kecil dan sederhana. Namun, bandingkanlah sikapnya dengan murid-murid lain yang justru bersembunyi karena takut di-sangkutpautkan dengan Yesus (lihat Matius 26:56). Iman membuat Yusuf berani mengambil risiko dalam bertindak. Apabila iman kita membuat kita harus mempertaruhkan nama baik, harga diri, ja-batan, bahkan nyawa kita, beranikah kita mengambil sikap seperti murid Yesus ini? Selamat beriman! --ENO

APA YANG KITA YAKINI MENDATANGKAN KEBERANIAN DALAM BERSIKAP.
APA YANG ANDA YAKINI TENTANG YESUS?

Sabda.org

03 April 2012

Tak Ingin Dikenali

Bacaan Setahun : Hakim-Hakim 13-15
Nats : "Mengapa engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." (Yohanes 18:21)

Bacaan : Yohanes 18:12-27

Apakah Anda murid Yesus? Sebenarnya, apa sih yang diajarkan Yesus? Jika Anda ditanyai seperti itu, akankah Anda menjawab dengan gembira, ataukah uhm ... Anda mendadak gagap, bingung harus menjawab apa agar orang tak menilai Anda terlalu ekstrem dan mungkin memusuhi Anda?

Petrus juga pernah ditanyai tentang statusnya sebagai murid Yesus di halaman istana Imam Besar (ayat 17). Sementara itu, di dalam istana, Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya tak bersalah; tidak ada yang memalukan atau menyesatkan dari ajaran-Nya sehingga tidak ada yang perlu ditu-tupi, murid-murid-Nya adalah saksi (ayat 19-21). Tanggapan Petrus? Ia tidak ingin dikenali sebagai murid Yesus, apalagi tahu-menahu tentang ajaran-Nya (ayat 17, 25-26). Menarik memperhatikan bagaimana Yohanes merangkai kedua peristiwa ini. Penyangkalan Petrus di halaman istana dibandingkan dengan pernyataan Yesus di dalam istana. Harapan Yesus agar murid-murid-Nya bersaksi tentang Dia sungguh kontras dengan reaksi yang diberikan Petrus.

Sebagian orang pada masa kini juga tak ingin dikenal sebagai murid Kristus. Alasannya, nanti dianggap tidak toleran. Padahal, toleransi sejati adalah menerima dan menghargai perbedaan, bu-kan menghindari atau mengaburkan perbedaan. Mungkin alasan sebenarnya, kita tidak terlalu jelas tentang siapa Yesus. Kita perlu sungguh-sungguh mencari tahu kebenaran, bukan hanya menerima begitu saja dari orang lain. Kenali Yesus dan ajaran-Nya dengan bertekun membaca Alkitab. Ketika kita yakin betul siapa Yesus dan apa ajaran-Nya, kita takkan berusaha mengaburkan status kita sebagai murid-Nya. --ELS

JIKA SAYA BENAR ADALAH MURID YESUS,
PERKATAAN DAN TINDAKAN SAYA AKAN MENCERMINKAN HAL ITU.

Sabda.org

02 April 2012

Bapa, Muliakanlah Nama-Mu!

Bacaan Setahun : Hakim-Hakim 10-12
Nats : "Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!" (Yohanes 12:27-28a)

Bacaan : Yohanes 12:20-36

Pernahkah Anda dicekam ketakutan yang sangat, hati gundah-gelisah, rasanya sangat ingin berteriak? Kurang lebih seperti itulah pergolakan emosi Tuhan Yesus menjelang hari ia disalib, yang diterjemahkan: "hati-Ku cemas" (BIS), "I am storm-tossed [badai menerjangku]" (The Message), "My soul is deeply troubled [jiwaku sangatlah gelisah]" (NLT).

Yesus tahu "telah tiba saatnya" Bapa akan menyatakan kemuliaan-Nya (ayat 23), dengan mengalahkan penguasa dunia, yaitu setan (ayat 31), dan membawa semua orang datang kepada-Nya (ayat 32). Namun, itu artinya Dia harus menderita dan mati disalib (ayat 33). Apa yang akan Anda doakan jika berada dalam posisi Yesus? Minta kekuatan ekstra? Mukjizat dari surga? Yesus tahu persis untuk apa Dia diutus ke dunia, mempermuliakan Bapa dengan jalan menyerahkan nyawa-Nya. Dan, Dia taat sampai mati. Doa-Nya, bukan minta dibebaskan dari situasi sulit, bahkan bukan kekuatan ekstra untuk bertahan, melainkan supaya Bapa mempermuliakan diri-Nya sendiri melalui ketaatan-Nya , itulah yang berkenan kepada Bapa (ayat 27-28).

Seperti Bapa telah mengutus-Nya, demikian pula Yesus telah mengutus kita yang telah diselamatkan-Nya ke dalam dunia ini (lihat Yohanes 17:18-20). Setan tak berdaya dan dunia tak dapat berdalih ketika keberadaan anak-anak Tuhan membuat-Nya makin dikenal dan dipuji. Bagaimana orang dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui: konflik dalam rumah tangga, pekerjaan yang berat, tabungan yang menipis, dan berbagai situasi sulit yang Dia izinkan terjadi dalam kehidupan kita saat ini? --ELS

TUHAN DIMULIAKAN MELALUI KETAATAN DALAM HARI TERKELAM.

Sabda.org

14 March 2012

Cermin

Seringkali orang merasa bahwa kesuksesan seseorang diukur dari kemantapan segi luarnya. Orang-orang yang tidak diperhitungkan oleh dunia malah memberikan kontribusi yang luar biasa. Demikianlah, orang menjadi terkejut karenanya. Dalam keluarga, jika ada salah satu anggota keluarga mengalami cacat mental atau cacat badan, malah dicintai secara ekstra oleh kedua orang tuanya. Dalam permenungan selanjutnya, ada seorang ibu yang berdoa demikian, “Tuhan, terima kasih atas kemurahan tangan-Mu, Engkau memberikan seorang anak yang cacat mental, sehingga kami menjadi lebih sabar dan peka terhadap kebutuhan anak kami.”  Seorang anak – bagaimanapun juga – adalah titipan Tuhan untuk keluarga tersebut. Memperhatikan seorang anak yang mempunyai kekurangan, berarti pula secara tidak langsung sebagai ibadah.

Dalam sejarah Inggris pernah tercuat kisah Pangeran Johnnie. Tahun 1910, salah satu dinasti yang paling berkuasa di seluruh dunia, berpusat di Kerajaan Inggris lahirlah pangeran Johnnie. Anak yang penuh kasih, pengertian dan humoris. Johnnie telah menjadi saksi mata dalam beberapa kejadian yang sangat berharga dalam sejarah. Sewaktu bayi, dia kelilingi oleh pemimpin hebat Raja Edward ke VII dan Ratu Alexandra pada puncak kekuasaan imperialis Inggris. Tetapi saat perang besar datang, ayahnya  yang baru bertahta, George V dan ibunya Ratu Mary terlibat dalam dunia perselingkuhan dan tidak sempat melihat anaknya bertumbuh kembang. Ahli medis menyatakan bahwa dia mengidap sakit ayan dan keterbelakangan mental dan hal ini merupakan aib bagi keluarga.  Saat daratan Eropa berubah untuk selamanya, Johnnie dipelihara oleh Lala, seorang juru rawat yang setia dalam rumah pertanian yang terletak jauh di pedalaman di kawasan Sandringhan. Ia mendedikasikan hidupnya kepada anak ini dan dia mencoba untuk mengingatkan kerajaan Inggris bahwa Johnnie dari hati yang terdalam adalah pangeran yang sejati.

Kisah tersebut di atas hendak memberikan pelajaran kepada kita bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan manusia itu mempunyai arti. Tidak ada sesuatu ciptaan di dunia ini yang tidak memiliki tujuan. Bahkan planton di samodra yang keberadaannya tidak diketahui oleh manusia dan hidupnya amat pendek juga memiliki tujuan hidup. Manusia, meskipun memiliki ketidaksempurnaan, bisa menjadi penyempurna bagi yang lain. Demikianlah orang tidak boleh merasa diri sebagai superman, karena setiap manusia pasti memiliki sisi gelapnya.  Dalam dunia pewayangan sangat nyata. Para ksatria adalah orang-orang yang tampan, pandai berperang bahkan boleh dikatakan mewakili kesempurnaan. Tetapi di dalam pengembaraannya di dunia, ada pendamping yang disebut sebagai ponokawan yang artinya kawan-kawan yang bisa  memahami. Mereka adalah orang-orang yang jelek, kampungan, bicara apa adanya dan mewakili kaum rendahan.  Tetapi di situlah sebenarnya, para ponokawan yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah lentera dan penerang ketika para ksatria masuk di dalam alas gung liwang-liwung, hutan yang penuh dengan jebakan dan kompleks. Problem solver atau pemecah masalah ada dalam diri para ponokawan, yang tidak dilirik oleh dunia sekitar.  Pendamping setia yang tidak kelihatan itu ada dalam diri kita sendiri yang nyata dalam bentuk hati nurani. Kisah Pinoccio melukiskan bahwa hati nurani itu berwujud dalam bentuk jangkrik. Jangkrik kecil yang tidak mempunyai arti apa-apa, ternyata menjadi kemudi dalam mengendalikan Pinoccio untuk mencapai kesempurnaan. Tanpa jangkrik  -  si pembisik itu - maka tidak akan ada perubahan dalam hidup. Pedamping untuk menuju kesempurnaan tidak harus nampak hebat dan luar biasa, tetapi sederhana dan barangkali malah tidak kelihatan (belakang layar).

Orang-orang yang terbuang, tidak seyogianya kita singkirkan, melainkan bisa kita jadikan cermin. Orang yang terbuang  biasanya akan mendapat simpati bagi banyak orang. Lihat saja bagaimana Lady Diana mendapat simpati dari pelbagai pihak lalu  mendapat gelar Ratu di hati masyarakat. Sang Putri dibuang oleh Ibu Suri dan diceraikan oleh Pangeran Charles, sehingga dunia menerimanya sebagai pribadi yang memesona. Kematiannya yang tragis menumbuhkan ratap tangis dunia dan ucapan bela sungkawa tidak terhitung banyaknya mengalir ke Istana. Batu sendi yang dibuang oleh tukang bangunan kini menjadi batu penjuru. Dengan melihat mereka berarti pula kita bisa berefleksi diri. Thomas Levinas, melukiskan bahwa wajah-wajah orang lain yang kita jumpai itu sebenarnya adalah mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Lewat bahasa tubuh  dan keluhan-keluhan  tentang ketidakadilan, dapat dipastikan bahwa mereka menjadi cermin bagi kehidupan kaum the haves (orang kaya raya)  atau stakeholder (pemegang kebijakan).  Kaum marginal, bagaimana pun juga sebagai pribadi yang yang harus diakui eksistensinya. Suara serta jeritan mereka yang kadang tidak terdengar  adalah suara kejujuran yang bisa menjadi cerminan bagi golongan kaum berada. Manusia diciptakan untuk hidup dalam keseimbangan. Kalau manusia memutuskan salah satu tali keseimbangan tersebut, maka akan terjadi bencana. Cermin dipakai untuk berefleksi, apakah selama ini kehidupan telah berjalan seimbang dan  tanpa merugikan orang lain.

Layak Dipercaya

Bacaan Setahun : Ulangan 11-13
Nats : Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya (Kejadian 39:22)

Bacaan : Kejadian 39:1-23

Saya mengenal sebuah persekutuan gereja-gereja mengusung tema tahunan: "Komunitas yang Layak Dipercaya". Gereja ini sadar bahwa kesaksian hidup umat kristen secara utuh mesti sedemikian mantap hingga membuat siapa pun yang berurusan dengannya juga merasa mantap, nyaman, tenteram, dan aman. Namun, dalam tempat atau situasi tertentu, bisa jadi praktiknya tidak mudah.

Perbedaan tempat, perbedaan situasi tidaklah meredupkan kualitas hidup Yusuf. Di mana pun ia berada, orang percaya kepadanya dan memercayakan pekerjaan penting kepadanya. Di rumah Potifar yang mewah, maupun dalam penjara yang keras (ayat 4, 22). Mengapa bisa demikian? Karena Yusuf pintar dan terampil dalam hal manajemen? Bisa jadi. Namun bagi penulis kitab Kejadian, alasan utamanya adalah karena "Tuhan menyertai Yusuf dan membuat apa yang dikerjakannya berhasil" (ayat 2, 23). Yusuf menyadari hal itu. Ia tahu Tuhan memperhatikan pilihan-pilihan yang ia ambil saat bekerja (ayat 9), karena itu tentu ia senantiasa melakukan yang terbaik sebagai wujud penghormatan dan kasihnya pada Tuhan.

Semua orang tentu ingin disertai Tuhan seperti Yusuf dan berhasil. Namun, apakah kita juga sungguh menyertakan Tuhan dalam apa yang kita kerjakan? Menyertakan Tuhan berarti peduli pada pilihan-pilihan yang selaras dengan Firman-Nya, apa pun situasinya. Pilihan-pilihan yang demikian dapat dipercaya. Sudah seharusnya orang-orang yang bersentuhan hidup dengan kita merasa mantap dan aman, karena tahu mereka berurusan dengan anak-anak Tuhan yang selalu menyertakan Tuhan dalam segala perkara. --DKL

KETIKA TUHAN MENYERTAI, KITA PUN HARUS MAU DIAJARI
BAGAIMANA MEMBUAT PILIHAN YANG SELARAS DENGAN KEHENDAK-NYA

Sabda.org

09 March 2012

Pengenalan Yang Menghangatkan

Bacaan Setahun : Bilangan 35-36
Nats : Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian (Yohanes 4:23)

Bacaan : Yohanes 4:1-24

Seorang perempuan Samaria yang kemungkinan besar adalah pelacur terlibat percakapan dengan Tuhan Yesus. Uniknya ia menunjukkan ketertarikan akan perkara-perkara rohani dengan menanyakan tentang tempat penyembahan yang benar (ayat 20). Entah hanya karena iseng atau hal tersebut sudah lama ada di benaknya, percakapan tersebut membawanya kepada pengetahuan yang benar akan Allah.

Yesus tidak menyebutkan tempat tertentu. Dia lebih tertarik mengajar tentang penyembahan yang benar, yaitu penyembahan dalam roh dan kebenaran (ayat 23-24 ). Yesus lalu menjelaskan maksud-Nya. Kita menyembah dalam roh, karena Allah adalah Roh. Roh kita diciptakan untuk bergaul dengan Penciptanya, sehingga hubungan kita dengan Tuhan itu lebih penting daripada sekadar ritual atau liturgi; lebih penting daripada soal tempat, waktu atau hal-hal fisik. Kita juga harus menyembah dalam kebenaran. Kita harus belajar dari Firman Tuhan tentang siapa dan seperti apa Allah yang kita sembah, bukan membuat gambaran Allah seturut apa yang kita inginkan sendiri.

Seringkali kita lebih suka berada di salah satu kubu. Entah di kubu yang menekankan kehangatan hubungan dengan Tuhan, tetapi mendefinisikan Tuhan menurut pengertian sendiri, atau di kubu yang menekankan pentingnya pengenalan akan Allah tanpa pernah membangun kehangatan hubungan dengan-Nya. Biarlah kekariban bersama Allah mendorong kita untuk semakin mengenal Dia. Dan, biarlah pemahaman kita yang makin dalam akan Allah menghangatkan terus persahabatan kita dengan-Nya. --PBS

MAKIN KENAL, MAKIN KITA BERGAIRAH MENYEMBAH TUHAN;
MAKIN MENYEMBAH, MAKIN BERHASRAT KITA MENGENAL-NYA.

Sabda.org

08 March 2012

Doa VS Mantra

Bacaan Setahun : Bilangan 33-34
Nats : Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya (Matius 7:11)

Bacaan : Matius 7:7-11

Dalam hikayat 1001 Malam dikisahkan tentang Alibaba yang menjadi kaya gara-gara menemukan mantra untuk membuka gua berisi harta yang disimpan para penyamun. Siapapun orangnya, yang penting ia mengucapkan mantra dengan benar, akan dapat membuka atau menutup gua tersebut, dan tentunya menikmati harta yang tersimpan di dalamnya.

Ketika Yesus mengajar para murid-Nya, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, " apakah Dia juga sedang mengajarkan bahwa doa itu bekerja seperti mantra? (ayat 7-8). Ayat 9-11 memberitahukan bahwa poin sebenarnya adalah Yesus sedang mendorong dan menolong setiap orang percaya untuk berdoa secara benar. Pertama, kita berdoa karena kita ini anak-anak Allah. Doa merupakan sarana berkomunikasi dan sarana meminta kepada Bapa di Surga. Yesus mendorong kita untuk berani menyapa dan meminta. Kedua, kita berdoa karena Allah sendiri yang meminta kita berdoa. Dia selalu mendengar dan menjawab doa. Tidak selalu jawaban-Nya itu tepat seperti yang kita minta, tapi kasih-Nya yang sempurna menjamin pemberian terbaik untuk anak-anak-Nya.

Kita hidup di zaman yang serba mudah dan cepat, tetapi doa sama sekali bukan mantra yang menjamin terkabulnya semua keinginan kita. Mari bertekun melakukan bagian kita: meminta, mencari, mengetuk. Katakan kepada Allah segala kebutuhan maupun isi hati kita (bandingkan: Filipi 4:6; Mazmur 62:9). Di dalam keinginan untuk memuliakan Allah, mungkin kita keliru meminta batu atau ular. Namun di dalam hikmat-Nya selalu roti dan ikan yang diberikan-Nya! --ICW

MANTRA KABULKAN HAL BAIK MAUPUN BURUK YANG KITA MINTA.
DOA MENJAMIN HANYA HAL-HAL TERBAIK KITA TERIMA DARI BAPA.

Sabda.org

07 March 2012

Blind Spot

Bacaan Setahun : Bilangan 31-32
Nats : Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu (Lukas 15:31)

Bacaan : Lukas 15:11-32

Kaca spion menolong kita melihat kendaraan lain di belakang tanpa perlu menoleh. Namun, ada area da­lam jarak tertentu yang tak bisa dili­hat lewat kaca spion-disebut "titik-buta" (blindspot). Satu-satunya cara untuk melihatnya hanyalah dengan menoleh. Sesuatu di area "titik-buta" harus selalu kita tengok dengan sadar, bersengaja, dan waspada. Baru kita bisa melihatnya ada.

Jarak yang dekat seyogianya mem­buat sesuatu lebih mudah dilihat. Na­­mun, nyatanya tak selalu demikian. Sesuatu yang dekat kadang kala justru menjadi "titik buta" yang kerap luput dari pengamatan. Hal itu pu­la yang dialami oleh si anak sulung dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Kedekat­an si sulung dengan sang ayah tak lantas membuatnya sanggup "melihat" kasih dan kebaikan hati sang bapa (ayat 29-30). Ia adalah anak-yang juga memiliki apa yang dimiliki sang bapa (ayat 31), tetapi ia punya "titik buta" akan kebaikan bapanya. Ia pun terkejut saat kebaikan itu dilimpahkan kepada si adik yang pulang dari ketersesatannya (ayat 30). Padahal kebaikan yang sama telah tersedia baginya tiap hari-begitu dekat.

Apakah tanpa sadar kita menjadi seperti si sulung-mengalami anugerah dan berkat dalam keseharian: udara sejuk, panca indera yang berfungsi normal, orangtua, saudara, anak, tempat tinggal, tenaga dan kendaraan untuk bekerja, kesempatan bersekolah, rasa kantuk dan tempat tidur, tetapi lupa melihat dan mensyukuri Sang Pemberi. Mungkin saja Dia yang begitu dekat tak lagi kita rasakan kehadiran-Nya. Lalu penyertaan-Nya kita anggap bukan lagi hal yang istimewa. Sadari dan nikmatilah waktu-waktu Anda di dekat-Nya-dan bersyukurlah. --PAD

TUHAN HADIR BEGITU DEKAT; LIHAT DAN NIKMATILAH KESEMPATAN BERSAMA-NYA TANPA TERLEWAT.

Sabda.org

Kekristenan Karismatik di Amerika Serikat

Gereja-gereja karismatik semakin berkembang di Amerika Serikat, namun banyak orang Amerika masih memiliki asumsi kurang tepat mengenai jenis keKristenan yang satu ini, menurut sebuah survei yang yang pernah dilakukan.

Menurut studi terbaru yang dilakukan kelompok Barna, masih banyak yang percaya ke-Kristenan karismatik secara eksklusif adalah fenomena Kristiani, namun riset menunjukkan bahwa sepertiga dari umat Katolik di AS (36 persen) cocok dengan klasifikasi karismatik. Dan hampir seperempat dari karismatik di AS (22 persen) adalah Katolik.

Dalam studi itu Kristiani karismatik didefinisikan sebagai mereka yang menyatakan telah "dipenuhi dengan Roh Kudus" dan percaya bahwa "karunia karismatik, seperti bahasa lidah dan penyembuhan, masih absah dan aktif saat ini."

Kesalahpahaman lain bahwa gereja-gereja karismatik adalah milik kelompok-kelompok denominasi yang terpisah. Kenyataannya, gereja-gereja karismatik telah melewati batasan denominasi dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah survei Barna terhadap pendeta-pendeta senior mengungkapkan bahwa tujuh persen dari gereja-gereja Southern Baptist dan enam persen dari gereja-gereja aliran utama adalah karismatik.

Selain itu terdapat kepercayaan yang luas bahwa gereja-gereja karismatik cenderung kecil, secara relatif bersahaja dan lebih sering dipimpin pendeta wanita. Akan tetapi, penelitian mengemukakan bahwa jemaat mereka hampir sama besarnya dengan gereja-gereja Protestan non karismatik dan sebenarnya lebih banyak menggunakan aplikasi teknologi - termasuk sistem proyeksi layar besar - demikian evaluasi studi tersebut.

Selain itu, gereja-gereja Protestan karismatik dan non-karismatik memiliki porsi yang sama dalam hal kepemimpinan pendeta senior wanita (sembilan persen).

Beberapa dekade terakhir, Kristiani karismatik dan Pentakosta berkembang dari 30 persen menjadi 36 persen, atau sekitar 80 juta orang. Satu dari setiap empat gereja-gereja Protestan di Amerika Serikat (23 persen) adalah jemaat Karismatik.

Kepala riset, George Barna, berkomentar bahwa pertumbuhan dalam gerakan karismatik dan Pentakosta tidak mengejutkan karena sesuai dengan tren budaya yang berlaku dalam masyarakat saat ini.

"Kebebasan ekspresi emosional dan spiritual khas karismatik paralel dengan tren budaya terhadap ekspresi pribadi, penerimaan berbagai emosi dan kebebasan orang untuk mengintepretasikan pengalaman-pengalam an dalam cara-cara yang masuk akal bagi mereka," jelas Barna. "Tidak mengejutkan kalau komunitas Pentakosta di Amerika bertumbuh."

Ia menambahkan bahwa ia berharap ke-Kristenan karismatik akan terus bertumbuh.

"Kita bergerak menuju masa depan dimana perpecahan karismatik-fundamen talis akan menjadi catatan kaki bersejarah daripada garis pemisah diantara tubuh orang percaya," Barna memperkirakan.

"Secara khusus, anak muda Kristiani, memiliki energi yang sedikit untuk argumen-argumen yang secara tradisional telah memisahkan karismatik dan non karismatik. Semakin banyak orang menyadari bahwa ada arena-arena signifikan lain untuk menginvestasikan sumber mereka."

Untuk sebagian, profil jemaat khas karismatik hampir sama seperti gereja-gereja injili, fundamentalis atau Protestan garis utama. Empat dari lima (80 persen) memiliki pendeta penuh waktu, paruh waktu, pendeta senior rata-rata berusia 52 tahun (sama dengan gereja-gereja Prostestan lainnya); dan jumlah kehadiran per minggu hampir sama dengan tubuh Protestan lainnya (82 orang dewasa pada pertemuan Pentakosta dibandingkan 85 orang dewasa di semua gereja-gereja Protestan).

Namun, ada perbedaan signifikan antara jemaat karismatik dan non karismatik.

Jemaat non karismatik cenderung mempunyai anggaran operasional tahunan yang lebih besar, $149,000, dibanding anggaran pelayanan Pentakostal sebesar $136,000. Hampir sama, gereja-gereja non karismatik pada umumnya menghabiskan lebih banyak untuk pendeta senior mereka, rata-rata $47,000 per tahun, daripada pendeta-pendeta karismatik yang menerima kompensasi berkisar pada $42,000.

Namun perbedaan terbesar diantara keduanya mungkin terletak pada tingkat pendidikan pendetanya. Mayoritas pendeta senior di gereja non karismatik (70 persen) adalah lulusan seminari. Tapi tidak lebih dari setengah (49 persen) pendeta karismatik yang mempunyai gelar seminari.

Laporan itu diambil dari survei telepon nasional yang dilakukan Barna dari 1.005 sampel random orang dewasa, usia 18 keatas, pada Desember 2007. Studi itu juga mengandung informasi dari survei telepon nasional diantara sampel random dari 1.220 pendeta senior gereja Protestan.

Jennifer Riley

28 February 2012

Generasi Rohani

Bacaan Setahun : Bilangan 11-13
Nats : Apa yang telah engkau dengar dariku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga pandai mengajar orang lain (2 Timotius 2:2)

Bacaan : 2 Timotius 2:1-13

Banyak teman saya yang menjadi dokter. Kebanyakan di antara mereka berasal dari keluarga dokter, dan memang sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang dokter. Terlepas dari apa yang menjadi motivasi orangtua mereka dalam hal itu, saya kagum dengan keseriusan mereka mempersiapkan anak-anak mereka.

Paulus juga secara khusus mempersiapkan orang-orang yang akan meneruskan pelayanannya. Ia tahu hidup nya terbatas (pasal 4:6), dan kebenaran Tuhan tidak boleh berhenti diberita kan ketika ia mati. Sebab itu, Paulus (generasi I) telah secara khusus mengajar Timotius (gen. II), sedemikian supaya ia dapat meneruskan pengajaran itu kepada orang lain (gen. III), yang juga pandai mengajar orang lain (gen. IV). Jelas ini bukan pengajaran sekali tatap muka. Timotius telah cukup lama menjadi anak rohani Paulus hingga ia dapat dipercaya untuk meneruskan pelayanannya. Paulus ingin Timotius melakukan hal yang sama bagi orang lain.

Seberapa besar energi yang Anda curahkan untuk menolong orang bertumbuh dewasa dalam Kristus, supaya mereka juga dapat melakukan hal yang sama bagi orang lain? Sekadarnya, kalau sempat, atau penuh intensionalitas seperti Paulus? Seseorang pernah menghitung. Jika selama hidup Anda punya 12 anak rohani, dan tiap anak juga punya 12 anak rohani, dan berlipatganda demikian selama 5 generasi, maka Anda akan punya 248.832 keturunan rohani! Betapa besar dampaknya, jika kita tidak hanya sibuk dengan banyak kegiatan rohani, tapi mulai berfokus menghasilkan anak-anak rohani yang akan membawa kebenaran Tuhan dari generasi ke generasi. --ELS

PERIKSA FOKUS PELAYANAN KITA:
MENGADAKAN KEGIATAN ROHANI ATAU MENGHASILKAN GENERASI ROHANI?

Sabda.org

27 February 2012

Mudaku Kini, Tuaku Nanti

Dua minggu yang lalu setelah pulang dari perjalanan singkat ke luar kota, saya kehabisan tenaga untuk mencuci tumpukan baju kotor, lalu memutuskan untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja. Ketika tiba hari yang dijanjikan, saya pun pergi mengambil pakaian-pakaian yang sudah selesai dilaundry. Siang itu hari minggu yang cerah, dan saya baru saja selesai menghadiri acara mingguan dengan penampilan yang cantik nan anggun (ehem..).

Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5 kg.

Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, galaundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.

Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.

Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.

Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?

Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)