Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 January 2012

Mana Bisa Sembunyi?

Bacaan Setahun : Ayub 24-28
Nats : Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7)

Bacaan : Mazmur 139:1-12

Jenny tergesa-gesa mencuci tangannya. Segera setelah itu, ia berlari ke kelas meninggalkan teman-temannya. Bocah berusia empat tahun ini membenamkan kepalanya ke dalam tas ransel besarnya. Tak lama kemudian, suaranya yang lantang membuat saya, yang saat itu berjalan melewati kelasnya yang terbuka, tercengang melihat ulahnya. "Ibu guru, aku sedang sembunyi!" Jenny berpikir jika kepalanya tidak terlihat, maka seluruh tubuhnya pun tidak akan terlihat!

Apa yang Jenny lakukan mengingatkan saya tentang Tuhan Yang Mahatahu. Tuhan mengenal dan menyelidiki kita (ayat 1). Dia tahu apa yang kita lakukan, yang juga dapat diketahui orang lain. Dia tahu keseharian hidup kita: duduk, berdiri, berjalan, berbaring (ayat 2-3). Ia bahkan tahu apa yang orang lain tidak tahu: sesuatu yang tersimpan dalam pikiran kita (ayat 2) serta perkataan yang belum keluar dari mulut kita (ayat 4). Benarlah apa yang pemazmur katakan bahwa kita tidak mungkin dapat bersembunyi dari hadapan-Nya.

Disadari atau tidak, mungkin adakalanya Anda dan saya bertingkah seperti Jenny. Kita berusaha menyembunyikan rapat-rapat kesalahan kita dari hadapan Tuhan. Kita berlari menjauh dari-Nya, berpikir bahwa kita dapat hidup tanpa berurusan dengan Tuhan. Betapa sia-sia hidup seperti itu! Pemahaman bahwa Tuhan Mahatahu seharusnya membuat kita tidak lagi berlari dan bersembunyi dari Tuhan, tetapi justru membawa diri kita untuk senantiasa dikenal dan diselidiki oleh Tuhan. Membuka diri untuk ditegur, diperbaiki, dan dibentuk semakin serupa dengan Kristus --SWS

SELIDIKILAH AKU, YA ALLAH DAN PERIKSALAH HATIKU
UJILAH AKU DAN TUNTUNLAH AKU DI JALAN YANG KEKAL!

Sabda.org

09 January 2012

Dua Soal Sekolah

Ada tiga anak sekolah: A, B dan C. Suatu hari ibu guru memberikan dua soal yang harus dikerjakan dalam waktu 1 1/2 jam.

Soal 1: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Tuhan Yesus!
Soal 2: Tuliskan segala sesuatu yang kamu ketahui tentang Iblis!

Maka si A menulis segala sesuatu yang ia ketahui. Seperti Tuhan Yesus itu baik, Dia adalah gembalaku, Dia adalah Juruselamat, dll. Ia pun melakukan hal serupa untuk soal no2, iblis itu jahat, licik, dll.

Si B pun melakukan hal yang sama, bahkan jawaban soal no 2 begitupanjang. Iblis itu penghancur keluargaku, iblis itu yang membuat orang tuaku ribut, iblis itu penghancur masa depanku, dll.

Si C, ia menghabiskan waktu 1 1/2 jam hanya untuk menulis segala sesuatu yang ia tahu tentang Tuhan Yesus. Pada saat waktunya habis, temannya bertanya kepada C, mengapa ia tidak mengerjakan soal no2, maka si C dengan terburu-buru segera menulis sebuah kalimat untuk menjawab soal no 2.

Satu kalimat yang membuat ia terpilih menjadi murid terbaik untuk tugas tersebut, satu kalimat yang membuat kita belajar banyak hal dan satu hal yang membuat mata kita terbuka. Dan kita harus belajar dari dia.

Satu kalimat yang dia tulis untuk soal no 2 sebelum ia mengumpulkantugasnya adalah.. "Saya tidak punya waktu untuk iblis"

Tuhan Memberkati

Dukacita di Mata Yesus

Bacaan Setahun : Ayub 21-23
Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)

Bacaan : Matius 5:1-12

Kahlil Gibran menulis, "Hal yang membuatmu tertawa suatu saat akan membuatmu menangis, dan apa yang kini membuatmu menangis adalah hal yang akan membuatmu tertawa." Menurut pengalaman saya, Gibran membidik dengan tepat kehidupan manusia. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada memang beberapa orang yang saking sering mengalami kegetiran hidup berkata bahwa "air mata mereka sudah kering". Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.

Menarik bahwa dalam khotbah-Nya, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia. Dukacita disebut pentheo dalam bahasa Yunani, yang berarti "bersedih" atau "meratap". Objek kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam konteks pendengar saat itu, sangat mungkin kesedihan dan ratapan mereka berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan.

Kapan kali terakhir Anda membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah Anda merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah! --DKL

DALAM DUKACITA YANG TUHAN BERIKAN
TERSEDIA PENGHIBURAN-NYA YANG MENEGUHKAN

Sabda.org

06 January 2012

Kasih Terjadi dalam Sekejab Mata

Walaupun hari masih pagi, segala sesuatu kelihatannya sudah serba salah.

Keadaannya semakin lama semakin parah ketika aku menjatuhkan sepotong jeruk di atas lantai. Gelas dan air jeruknya yang lengket tumpah sampai ke sudut terjauh dari dapur, mengotori almari-almari dan isinya.

Dengan hati yang masgul, aku memandang segala sesuatu yang serba berantakan itu dan akhirnya aku melemparkan diri di atas kursi sambil menangis karena perasaan kesal bahwa “hari ini benar-benar bukanlah hariku”.

Namun, terlepas hari baik atau tidak, aku harus pergi belanja. Dengan dihinggapi rasa khawatir dan perasaan mental negative, aku masuk mobil untuk pergi ke pusat kota. Dalam waktu beberapa menit yang kuperlukan untuk ke bank, aku telah mengambil suatu keputusan. Aku tidak mau agar orang lain menjadi korban dari hariku yang buruk ini. Sebaliknya aku ingin tetap sopan dan ramah. Dan akupun tidak mau MEMBALAS DENDAM ketika pengemudi yang ceroboh itu yang berada di depanku yang tiba-tiba berhenti sehingga menyebabkan aku harus menginjak rem mobilku dengan mendadak sehingga isi dari botol minumku tumpah mengotori mobilku.

Selagi aku antri menanti giliranku untuk dilayani, aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Sebenarnya, aku sedang menyalahkan diriku sendiri. Semua kejadian di pagi hari ini yang serba salah dan berakumulasi menjadi hari yang buruk bagiku, adalah hal-hal yang kecil, tidak penting dan sepele. Aku bertindak berlebihan. Aku menuruti perasaanku dan kasihan terhadap diri sendiri. Aku ingat akan ratusan, bahkan ribuan jiwa yang telah menjadi korban dari kekejaman para teroris, perang di Irak dan tsunami.

Untuk kedua kalinya di hari itu aku mengeluarkan air mata ketika aku merasa betapa aku sebenarnya merasa terputus hubungannya dengan mereka yang berusaha untuk mengatasi akan penderitaan mereka dalam hidup ini. Mereka rasanya berada begitu jauh dan tak dikenal, sehingga aku menjadi lebih sadar dan yakin bahwa aku sedang menjadi seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri dan orang yang egois.

Aku menjadi sadar bahwa kerinduanku dan usahaku menjadi seseorang yang peduli dan sayang terhadap mereka yang membutuhkannya merupakan sesuatu yang kosong dan sia-sia.

Suatu suara mengejutkan aku dari hasil perenungan mentalku. Entah bagaimana, aku berhasil menyelesaikan transaksi perbankanku untuk kemudian menjadi sadar bahwa pegawai bank itu berusaha untuk mendapat perhatianku.

“Nyonya”, katanya, “Nyonya!”

Kemudian ia melakukan sesuatu yang luar biasa. Kedua tanganku berada di atas counter. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanganku. Sentuhan terjadi cepat namun dirasakan seakan-akan seperti aliran listrik. Dan dalam sekejap mata itulah, duniaku bergeser.

Pada saat tangannya menyentuh aku, maka pikiranku yang penuh dengan kepentingan diri sendiri sirna. Aku telah menemukan pengertian dan dukungan. Aku tahu bahwa kasih disalurkan dari hati wanita yang hangat itu dan masuk ke dalam hatiku. Aku telah diberi suntikan infus dengan keyakinan yang kuat – bahwa aku telah mendapat kasih sayang. Aku tak dapat berbicara. Aku hanya tersenyum, dan inilah senyumku yang pertama di hari itu. Namun itu bukanlah senyumku yang terakhir, karena dari saat itu seluruh hariku mengalami perubahan.

Annie

Andalkan Yesus!

Bacaan Setahun : Ayub 10-13
Nats : Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali (Matius 8:23-27)

Bacaan : Matius 8:23-27

Anak saya, Sam, tidak dapat memejamkan matanya. Suara tikus yang berlari di langit-langit kamar membuatnya takut. Saya mengingatkannya tentang cerita Yesus meredakan angin ribut. Segera setelah itu Sam berteriak sambil mengangkat tangannya, "Yesus tolong. Tikus pergi!" Sam memandang saya, sambil tersenyum ia berkata, "Ma, Yesus pintar. Tikusnya pergi!" Hanya dengan mengingat satu cerita itu, Sam yakin bahwa Yesus juga berkuasa mengatasi tikus-tikus yang mengganggunya.

Banyak orang menuntut bukti untuk dapat memercayai Tuhan. Namun, jika kita mau jujur, melimpahnya bukti tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan lebih percaya kepada Tuhan. Ini masalah hati. Murid-murid Yesus, misalnya. Mereka bu-kan hanya mendengar satu cerita, tetapi menyaksikan langsung berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus (lihat ayat 1-17). Toh, begitu angin ribut mengamuk dan gelombang menerpa, mereka dilanda ketakutan yang sangat. Ketika mereka datang minta tolong, Yesus menegur mereka (ayat 25-26). Yesus tahu bahwa hati murid-murid lebih dikuasai ketakutan daripada keyakinan akan kuasa-Nya.

Alam semesta dan Alkitab dipenuhi berbagai kesaksian akan keajaiban karya Tuhan. Demikian pula kehidupan orang-orang per-caya, termasuk Anda tentunya. Seberapa banyak kita menyimak-nya? Tuhan tidak berubah. Dia memegang kendali atas kehidupan, dulu, sekarang, dan selamanya. Masalah apa yang membuat Anda terombang-ambing dalam ketakutan hari ini? Ingatlah siapa Tuhan dan serahkanlah masalah Anda kepada-Nya. Anda dapat mengandalkan-Nya --SWS

KUASA YESUS TIDAK PERLU DIRAGUKAN
APAKAH ANDA MEMERCAYAI-NYA

Sabda.org

03 January 2012

Tak Perlu Dipikir?

Bacaan Setahun : Kejadian 8-11
Nats : ...sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, ... sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombangambingkan oleh berbagai angina pengajaran, oleh pe (Efesus 4:13,14)

Bacaan : Efesus 4:11-16

Pernah lihat kaki seribu? Bayang-kan kalau hewan berkaki banyak ini berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir? Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, makin baik. Mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan untuk menjadi seperti anak-anak (childlike)? Pemahaman pengajaran adalah bagian para "hamba Tuhan" dan "teolog". Jemaat "awam" cukup belajar mengenai kerohanian yang praktis.

Kontras dengan itu, Alkitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh (ayat 15) juga meliputi menjadi dewasa dalam "iman dan pengetahuan yang benar" akan Tuhan. Artinya, kita justru harus dengan sengaja memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (ayat 13, lihat juga 2 Petrus 3:18). Inilah sebenarnya arti kata teologi (teos=Tuhan+logos=pengetahuan, pemahaman). Orang dengan pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan mudah "diombang-ambingkan" (ayat 14). Menjadi seperti anak-anak dalam iman bukan berarti menjadi childish atau kekanak-kanakan (1 Korintus 14:20).

Seberapa banyak aspek pertumbuhan ini kita perhatikan? Kita tak mungkin mencintai, melayani, dan menyembah Pribadi yang tak kita kenal atau yang kita kenal secara samar. Di tahun yang baru ini, mari cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan yang ada untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan --JOO

KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU

Sabda.org

02 January 2012

Sepiring Nasi, Air Dingin dan Sebuah Pelukan yang Hangat

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku” (Mat 25:40)

Selama tiga minggu terakhir ini aku menghabiskan waktuku dengan bekerja secara sukarela di kantor gereja kami yang telah diubah menjadi Pusat Pertolongan Bencana. Selama beberapa hari setelah dibuka, terjadi kekacauan berhubung anak buah kita masih harus belajar untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Setelah aku belajar untuk menggunakan sitem multi-telepon kita, kini aku menghabiskan waktuku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan serta menerima panggilan telepon dan menghubungkannya dengan orang yang dipanggil.

Disela-sela panggilan telepon, akupun menelepon sukarelawan kita yang amat banyak dan baru saja menyelesaikan latihan pekerjaan Palang Merah mereka beberapa hari yang lalu.

Keluargaku, gereja yang kami kunjungi dan ribuan penduduk dari kota kecil telah diubah menjadi suatu pusat relawan untuk menolong para penduduk yang telah menjadi korban dari topan Katarina yang dahsyat itu. Kami memberikan kepada mereka tiga kali makan sehari dan menawarkan kepada mereka segala sesuatu agar mereka merasa nyaman.

Komite Transportasi berjam-jam lamanya mengantar mereka ke dokter-dokter dan klinik, bank, kantor pos dan tempat lain untuk keperluan mereka. Sebuah tim yang terdiri dari para juru rawat dan para dokter selama 24 jam tetap berada di tempat kerja untuk memenuhi kebutuhan medis untuk para pengungsi. Untuk keamanan, polisi lokal bekerja dalam 8 regu selama 24 jam.

Kami semua bertekad untuk menunjukkan kasih Tuhan melalui perbuatan-perbuatan yang sederahana penuh keramahan yang diberikan kepada para pengungsi itu secara cuma-cuma.

Pada suatu sore sebuah panggilan telepon tiba dari sepasang suami isteri yang menawarkan diri untuk membantu melayani pemberian makan malam. Namun karena sesuatu keperluan yang tak terduga, mereka tidak dapat datang untuk melayani. Suamiku kebetulan berada di luar kota dan malam itu aku tidak perlu menyiapkan makan malam di rumah. Dengan demikian aku dengan sukarela dapat membantu di dapur umum setelah aku pulang dari pekerjaanku.

Berhubung dengan tulang punggung yang bermasalah, aku tidak dapat bertahan lama berdiri. Namun ketik aku membantu mempersiapkan makan malam, seorang wanita yang manis datang di meja dimana aku sedang bekerja.

“Apakah aku bisa meminta sepotong roti?”, tanyanya.

Sambil aku melayaninya, aku mengetahui ia tidak berada di tempat ketika waktu makan siang, sehingga kini ia merasa lapar. Dengan penuh suka cita aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan daging kalkun dan keju untuk dapat dimakan dengan sepotong roti dan memberikannya kepada wanita itu. Aku sama sekali tidak mengira bahwa tindakan sepele akan keramahan mempunyai dampak atas diriku beberapa jam kemudian.

Esok harinya aku membuka surat kabar lokal pagi dan di halaman yang pertama aku menemukan sebuah foto dan kisah dari wanita manis yang kemarin telah aku beri sepotong roti itu. Wanita itu menceritakan betapa ngeri pengalamannya ketika ia lolos dari badai topan yang dahsyat beberapa yang lalu. Kedua pekerjaan yang ia miliki telah hancur berkeping-keping oleh dahsyatnya badai topan itu dan kini ia telah kehilangan segala sesuatu. Ia tidak memiliki rumah lagi dan sama sekali tak berdaya sehingga secara total bergantung kepada belas kasihan dari orang lain yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pusat pelayanan kita.

Sambil termenung setelah membaca kisah tragisnya, aku mendengar sesuatu yang jelas dan terang dari lubuk hatiku, Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Betapa hebat ungkapan ini. Apa yang aku lakukan hanya memberikan sepotong roti yang disumbangkan dan disiapkan oleh banyak relawan, namun Tuhan berbicara langsung kepadaku ketika aku menatap wajah di depanku itu.

Aku tahu bahwa ada sukacita di surga ketika Tuhan memandang ke bawah dimana ribuan relawan di seluruh negeri sedang memberi makan, uang, pakaian dan keramahan kepada mereka yang menjadi korban dari badai Katrina itu. Tindakan-tindakan penuh dengan empati itu tidak bergantung pada kekayaan, kemampuan ataupun kepandaian.

Melvia Cooper

REFLEKSI:

Ketika aku mempersiapkan artikel ini, aku ingat akan tragedi Situ Gintung yang tidak kalah dahsyatnya dari pada topan Katarina. Lewat mass media dan TV kita menyaksikan betapa sengsaranya mereka yang menjadi korban tragedi itu dimana dilaporkan ratusan jiwa yang meninggal atau hilang dan meninggalakan mereka yang mengasihi mereka dalam keputus asaan yang tak terlukiskan.

Rindu Yang Seharusnya

Bacaan Setahun : Kejadian 4-7
Nats : ... Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup (Mazmur 84:3)

Bacaan : Mazmur 84:1-13

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya --JOO

BANYAK HAL YANG BISA MENCOBA MENGISI KEKOSONGAN HATI INI
NAMUN, APA YANG DAPAT MEMUASKANNYA SELAIN HADIR-MU, TUHAN?

Sabda.org

31 December 2011

Happy New Year 2012

Tahun 2012 sebentar lagi akan datang, saya berterima kasih kepada semua pengunjung dan partisipasinya untuk Rumah Renungan, yang membuat blog ini selalu dapat menjadi berkat dan inspirasi buat kita semua.

Saya berdoa semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun ini.

Tuhan Yesus Memberkati…

Happy New Year 2012

30 December 2011

Bersyukur

Tina, seorang gadis yang baik hati satu kali ingin memberi kejutan pada Nenek Omi yang hidup sendiri. Ia datang membuat sebuah kue yang enak lalu membawanya ke rumah si nenek.

"Oh, buat Nenek? Puji Tuhan! Terima kasih, Tina. Nenek sangat suka,"kata nenek
waktu menerima kue itu. Melihat nenek Omi suka, seminggu kemudian Tina kembali membawa kue yang sama.

"Terima kasih,"jawab nenek singkat.

Lebih dari seminggu, komentar Nenek Omi kembali berbeda. "Tumben, kamu telat
sehari,"sahutnya.

Minggu selanjutnya, "kuemu agak kemanisan. Nenek lebih suka rasa buah daripada
coklat."

Karena sibuk, minggu selanjutnya Tina tidak sempat membuat kue, dan ketika ia berangkat kerja dan melewati rumah si nenek, nenek Omi keluar dan berteriak, "Hei Tina, mana kue nenek?"

Satu kutipan berkata, "Saat kita melihat berkat yang sama setiap hari, kita akan tidak memperhatikannya lagi. Ketika tidak lagi memperhatikan, kita berhenti menghargai. Ketika tidak menghargai, kita berhenti bersyukur. Ketika kita tidak bersyukur, kita mulai mengeluh."

Jika hari ini kamu menangis, bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang lain
menangis...
Jika hari ini kamu disakiti, bersyukurlah karena kamu tahu rasa sakit dan tidak
menyakiti orang lain...
Jika hari ini kamu dikecewakan , bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang
lain kecewa...
Apapun yang kamu alami hari ini, tetaplah bersyukur karena kita belajar untuk
menjadi lebih baik…

Kasih Penguin Kaisar

Bacaan Setahun : Wahyu 16-19
Nats : Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18)

Bacaan : 1 Yohanes 3:11-18

Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya di antara kaki dan lipatan lemak di sekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin jantan yang berdempetan saling menghangatkan di tengah musim dingin Antartika. Sementara itu, si betina kembali ke laut untuk mencari makan. Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil dari saluran pencernaannya sampai selama sepuluh hari. Itu akan membuatnya kehilangan setengah bobot tubuhnya. Begitu si betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut. Selanjutnya mereka bergantian mencari makan untuk membesarkan si kecil.

Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan konsep atau kata-kata manis belaka. Kasih adalah kata kerja. Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Sebagaimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, kita pun diperintahkan untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Actions speak louder than words (Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata). Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan. Sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita? Apakah kita secara bermurah hati menyerahkan nyawa kita waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara yang memerlukan pertolongan? --ARS

KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH

Sabda.org