Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 January 2012

Kasih Terjadi dalam Sekejab Mata

Walaupun hari masih pagi, segala sesuatu kelihatannya sudah serba salah.

Keadaannya semakin lama semakin parah ketika aku menjatuhkan sepotong jeruk di atas lantai. Gelas dan air jeruknya yang lengket tumpah sampai ke sudut terjauh dari dapur, mengotori almari-almari dan isinya.

Dengan hati yang masgul, aku memandang segala sesuatu yang serba berantakan itu dan akhirnya aku melemparkan diri di atas kursi sambil menangis karena perasaan kesal bahwa “hari ini benar-benar bukanlah hariku”.

Namun, terlepas hari baik atau tidak, aku harus pergi belanja. Dengan dihinggapi rasa khawatir dan perasaan mental negative, aku masuk mobil untuk pergi ke pusat kota. Dalam waktu beberapa menit yang kuperlukan untuk ke bank, aku telah mengambil suatu keputusan. Aku tidak mau agar orang lain menjadi korban dari hariku yang buruk ini. Sebaliknya aku ingin tetap sopan dan ramah. Dan akupun tidak mau MEMBALAS DENDAM ketika pengemudi yang ceroboh itu yang berada di depanku yang tiba-tiba berhenti sehingga menyebabkan aku harus menginjak rem mobilku dengan mendadak sehingga isi dari botol minumku tumpah mengotori mobilku.

Selagi aku antri menanti giliranku untuk dilayani, aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Sebenarnya, aku sedang menyalahkan diriku sendiri. Semua kejadian di pagi hari ini yang serba salah dan berakumulasi menjadi hari yang buruk bagiku, adalah hal-hal yang kecil, tidak penting dan sepele. Aku bertindak berlebihan. Aku menuruti perasaanku dan kasihan terhadap diri sendiri. Aku ingat akan ratusan, bahkan ribuan jiwa yang telah menjadi korban dari kekejaman para teroris, perang di Irak dan tsunami.

Untuk kedua kalinya di hari itu aku mengeluarkan air mata ketika aku merasa betapa aku sebenarnya merasa terputus hubungannya dengan mereka yang berusaha untuk mengatasi akan penderitaan mereka dalam hidup ini. Mereka rasanya berada begitu jauh dan tak dikenal, sehingga aku menjadi lebih sadar dan yakin bahwa aku sedang menjadi seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri dan orang yang egois.

Aku menjadi sadar bahwa kerinduanku dan usahaku menjadi seseorang yang peduli dan sayang terhadap mereka yang membutuhkannya merupakan sesuatu yang kosong dan sia-sia.

Suatu suara mengejutkan aku dari hasil perenungan mentalku. Entah bagaimana, aku berhasil menyelesaikan transaksi perbankanku untuk kemudian menjadi sadar bahwa pegawai bank itu berusaha untuk mendapat perhatianku.

“Nyonya”, katanya, “Nyonya!”

Kemudian ia melakukan sesuatu yang luar biasa. Kedua tanganku berada di atas counter. Ia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas tanganku. Sentuhan terjadi cepat namun dirasakan seakan-akan seperti aliran listrik. Dan dalam sekejap mata itulah, duniaku bergeser.

Pada saat tangannya menyentuh aku, maka pikiranku yang penuh dengan kepentingan diri sendiri sirna. Aku telah menemukan pengertian dan dukungan. Aku tahu bahwa kasih disalurkan dari hati wanita yang hangat itu dan masuk ke dalam hatiku. Aku telah diberi suntikan infus dengan keyakinan yang kuat – bahwa aku telah mendapat kasih sayang. Aku tak dapat berbicara. Aku hanya tersenyum, dan inilah senyumku yang pertama di hari itu. Namun itu bukanlah senyumku yang terakhir, karena dari saat itu seluruh hariku mengalami perubahan.

Annie

Andalkan Yesus!

Bacaan Setahun : Ayub 10-13
Nats : Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali (Matius 8:23-27)

Bacaan : Matius 8:23-27

Anak saya, Sam, tidak dapat memejamkan matanya. Suara tikus yang berlari di langit-langit kamar membuatnya takut. Saya mengingatkannya tentang cerita Yesus meredakan angin ribut. Segera setelah itu Sam berteriak sambil mengangkat tangannya, "Yesus tolong. Tikus pergi!" Sam memandang saya, sambil tersenyum ia berkata, "Ma, Yesus pintar. Tikusnya pergi!" Hanya dengan mengingat satu cerita itu, Sam yakin bahwa Yesus juga berkuasa mengatasi tikus-tikus yang mengganggunya.

Banyak orang menuntut bukti untuk dapat memercayai Tuhan. Namun, jika kita mau jujur, melimpahnya bukti tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan lebih percaya kepada Tuhan. Ini masalah hati. Murid-murid Yesus, misalnya. Mereka bu-kan hanya mendengar satu cerita, tetapi menyaksikan langsung berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus (lihat ayat 1-17). Toh, begitu angin ribut mengamuk dan gelombang menerpa, mereka dilanda ketakutan yang sangat. Ketika mereka datang minta tolong, Yesus menegur mereka (ayat 25-26). Yesus tahu bahwa hati murid-murid lebih dikuasai ketakutan daripada keyakinan akan kuasa-Nya.

Alam semesta dan Alkitab dipenuhi berbagai kesaksian akan keajaiban karya Tuhan. Demikian pula kehidupan orang-orang per-caya, termasuk Anda tentunya. Seberapa banyak kita menyimak-nya? Tuhan tidak berubah. Dia memegang kendali atas kehidupan, dulu, sekarang, dan selamanya. Masalah apa yang membuat Anda terombang-ambing dalam ketakutan hari ini? Ingatlah siapa Tuhan dan serahkanlah masalah Anda kepada-Nya. Anda dapat mengandalkan-Nya --SWS

KUASA YESUS TIDAK PERLU DIRAGUKAN
APAKAH ANDA MEMERCAYAI-NYA

Sabda.org

03 January 2012

Tak Perlu Dipikir?

Bacaan Setahun : Kejadian 8-11
Nats : ...sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, ... sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombangambingkan oleh berbagai angina pengajaran, oleh pe (Efesus 4:13,14)

Bacaan : Efesus 4:11-16

Pernah lihat kaki seribu? Bayang-kan kalau hewan berkaki banyak ini berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir? Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, makin baik. Mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan untuk menjadi seperti anak-anak (childlike)? Pemahaman pengajaran adalah bagian para "hamba Tuhan" dan "teolog". Jemaat "awam" cukup belajar mengenai kerohanian yang praktis.

Kontras dengan itu, Alkitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh (ayat 15) juga meliputi menjadi dewasa dalam "iman dan pengetahuan yang benar" akan Tuhan. Artinya, kita justru harus dengan sengaja memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (ayat 13, lihat juga 2 Petrus 3:18). Inilah sebenarnya arti kata teologi (teos=Tuhan+logos=pengetahuan, pemahaman). Orang dengan pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan mudah "diombang-ambingkan" (ayat 14). Menjadi seperti anak-anak dalam iman bukan berarti menjadi childish atau kekanak-kanakan (1 Korintus 14:20).

Seberapa banyak aspek pertumbuhan ini kita perhatikan? Kita tak mungkin mencintai, melayani, dan menyembah Pribadi yang tak kita kenal atau yang kita kenal secara samar. Di tahun yang baru ini, mari cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan yang ada untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan --JOO

KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU

Sabda.org

02 January 2012

Sepiring Nasi, Air Dingin dan Sebuah Pelukan yang Hangat

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untuk Aku” (Mat 25:40)

Selama tiga minggu terakhir ini aku menghabiskan waktuku dengan bekerja secara sukarela di kantor gereja kami yang telah diubah menjadi Pusat Pertolongan Bencana. Selama beberapa hari setelah dibuka, terjadi kekacauan berhubung anak buah kita masih harus belajar untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Setelah aku belajar untuk menggunakan sitem multi-telepon kita, kini aku menghabiskan waktuku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan serta menerima panggilan telepon dan menghubungkannya dengan orang yang dipanggil.

Disela-sela panggilan telepon, akupun menelepon sukarelawan kita yang amat banyak dan baru saja menyelesaikan latihan pekerjaan Palang Merah mereka beberapa hari yang lalu.

Keluargaku, gereja yang kami kunjungi dan ribuan penduduk dari kota kecil telah diubah menjadi suatu pusat relawan untuk menolong para penduduk yang telah menjadi korban dari topan Katarina yang dahsyat itu. Kami memberikan kepada mereka tiga kali makan sehari dan menawarkan kepada mereka segala sesuatu agar mereka merasa nyaman.

Komite Transportasi berjam-jam lamanya mengantar mereka ke dokter-dokter dan klinik, bank, kantor pos dan tempat lain untuk keperluan mereka. Sebuah tim yang terdiri dari para juru rawat dan para dokter selama 24 jam tetap berada di tempat kerja untuk memenuhi kebutuhan medis untuk para pengungsi. Untuk keamanan, polisi lokal bekerja dalam 8 regu selama 24 jam.

Kami semua bertekad untuk menunjukkan kasih Tuhan melalui perbuatan-perbuatan yang sederahana penuh keramahan yang diberikan kepada para pengungsi itu secara cuma-cuma.

Pada suatu sore sebuah panggilan telepon tiba dari sepasang suami isteri yang menawarkan diri untuk membantu melayani pemberian makan malam. Namun karena sesuatu keperluan yang tak terduga, mereka tidak dapat datang untuk melayani. Suamiku kebetulan berada di luar kota dan malam itu aku tidak perlu menyiapkan makan malam di rumah. Dengan demikian aku dengan sukarela dapat membantu di dapur umum setelah aku pulang dari pekerjaanku.

Berhubung dengan tulang punggung yang bermasalah, aku tidak dapat bertahan lama berdiri. Namun ketik aku membantu mempersiapkan makan malam, seorang wanita yang manis datang di meja dimana aku sedang bekerja.

“Apakah aku bisa meminta sepotong roti?”, tanyanya.

Sambil aku melayaninya, aku mengetahui ia tidak berada di tempat ketika waktu makan siang, sehingga kini ia merasa lapar. Dengan penuh suka cita aku membuka lemari pendingin dan mengeluarkan daging kalkun dan keju untuk dapat dimakan dengan sepotong roti dan memberikannya kepada wanita itu. Aku sama sekali tidak mengira bahwa tindakan sepele akan keramahan mempunyai dampak atas diriku beberapa jam kemudian.

Esok harinya aku membuka surat kabar lokal pagi dan di halaman yang pertama aku menemukan sebuah foto dan kisah dari wanita manis yang kemarin telah aku beri sepotong roti itu. Wanita itu menceritakan betapa ngeri pengalamannya ketika ia lolos dari badai topan yang dahsyat beberapa yang lalu. Kedua pekerjaan yang ia miliki telah hancur berkeping-keping oleh dahsyatnya badai topan itu dan kini ia telah kehilangan segala sesuatu. Ia tidak memiliki rumah lagi dan sama sekali tak berdaya sehingga secara total bergantung kepada belas kasihan dari orang lain yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari di pusat pelayanan kita.

Sambil termenung setelah membaca kisah tragisnya, aku mendengar sesuatu yang jelas dan terang dari lubuk hatiku, Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Betapa hebat ungkapan ini. Apa yang aku lakukan hanya memberikan sepotong roti yang disumbangkan dan disiapkan oleh banyak relawan, namun Tuhan berbicara langsung kepadaku ketika aku menatap wajah di depanku itu.

Aku tahu bahwa ada sukacita di surga ketika Tuhan memandang ke bawah dimana ribuan relawan di seluruh negeri sedang memberi makan, uang, pakaian dan keramahan kepada mereka yang menjadi korban dari badai Katrina itu. Tindakan-tindakan penuh dengan empati itu tidak bergantung pada kekayaan, kemampuan ataupun kepandaian.

Melvia Cooper

REFLEKSI:

Ketika aku mempersiapkan artikel ini, aku ingat akan tragedi Situ Gintung yang tidak kalah dahsyatnya dari pada topan Katarina. Lewat mass media dan TV kita menyaksikan betapa sengsaranya mereka yang menjadi korban tragedi itu dimana dilaporkan ratusan jiwa yang meninggal atau hilang dan meninggalakan mereka yang mengasihi mereka dalam keputus asaan yang tak terlukiskan.

Rindu Yang Seharusnya

Bacaan Setahun : Kejadian 4-7
Nats : ... Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup (Mazmur 84:3)

Bacaan : Mazmur 84:1-13

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya --JOO

BANYAK HAL YANG BISA MENCOBA MENGISI KEKOSONGAN HATI INI
NAMUN, APA YANG DAPAT MEMUASKANNYA SELAIN HADIR-MU, TUHAN?

Sabda.org

31 December 2011

Happy New Year 2012

Tahun 2012 sebentar lagi akan datang, saya berterima kasih kepada semua pengunjung dan partisipasinya untuk Rumah Renungan, yang membuat blog ini selalu dapat menjadi berkat dan inspirasi buat kita semua.

Saya berdoa semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun ini.

Tuhan Yesus Memberkati…

Happy New Year 2012

30 December 2011

Bersyukur

Tina, seorang gadis yang baik hati satu kali ingin memberi kejutan pada Nenek Omi yang hidup sendiri. Ia datang membuat sebuah kue yang enak lalu membawanya ke rumah si nenek.

"Oh, buat Nenek? Puji Tuhan! Terima kasih, Tina. Nenek sangat suka,"kata nenek
waktu menerima kue itu. Melihat nenek Omi suka, seminggu kemudian Tina kembali membawa kue yang sama.

"Terima kasih,"jawab nenek singkat.

Lebih dari seminggu, komentar Nenek Omi kembali berbeda. "Tumben, kamu telat
sehari,"sahutnya.

Minggu selanjutnya, "kuemu agak kemanisan. Nenek lebih suka rasa buah daripada
coklat."

Karena sibuk, minggu selanjutnya Tina tidak sempat membuat kue, dan ketika ia berangkat kerja dan melewati rumah si nenek, nenek Omi keluar dan berteriak, "Hei Tina, mana kue nenek?"

Satu kutipan berkata, "Saat kita melihat berkat yang sama setiap hari, kita akan tidak memperhatikannya lagi. Ketika tidak lagi memperhatikan, kita berhenti menghargai. Ketika tidak menghargai, kita berhenti bersyukur. Ketika kita tidak bersyukur, kita mulai mengeluh."

Jika hari ini kamu menangis, bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang lain
menangis...
Jika hari ini kamu disakiti, bersyukurlah karena kamu tahu rasa sakit dan tidak
menyakiti orang lain...
Jika hari ini kamu dikecewakan , bersyukurlah karena kamu tidak membuat orang
lain kecewa...
Apapun yang kamu alami hari ini, tetaplah bersyukur karena kita belajar untuk
menjadi lebih baik…

Kasih Penguin Kaisar

Bacaan Setahun : Wahyu 16-19
Nats : Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18)

Bacaan : 1 Yohanes 3:11-18

Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya di antara kaki dan lipatan lemak di sekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin jantan yang berdempetan saling menghangatkan di tengah musim dingin Antartika. Sementara itu, si betina kembali ke laut untuk mencari makan. Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil dari saluran pencernaannya sampai selama sepuluh hari. Itu akan membuatnya kehilangan setengah bobot tubuhnya. Begitu si betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut. Selanjutnya mereka bergantian mencari makan untuk membesarkan si kecil.

Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan konsep atau kata-kata manis belaka. Kasih adalah kata kerja. Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Sebagaimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, kita pun diperintahkan untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Actions speak louder than words (Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata). Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan. Sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita? Apakah kita secara bermurah hati menyerahkan nyawa kita waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara yang memerlukan pertolongan? --ARS

KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH

Sabda.org

29 December 2011

Bersiaplah!

Bacaan Setahun : Wahyu 12-15
Nats : Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya (Matius 25:13)

Bacaan : Matius 25:1-13

Kita tentu punya kenangan tentang para guru yang pernah mengajar kita di sekolah. Sebagian besar guru biasanya memberi tahu apabila hendak mengadakan ulangan. Namun, ada juga sebagian guru yang lebih suka mengadakan ulangan mendadak, tanpa pemberitahuan. Bagi siswa yang tak pernah berkonsentrasi saat guru memberikan pelajaran atau hanya belajar pada jam-jam menjelang ulangan maka ketika berhadapan dengan guru tipe kedua, dijamin ia akan mendapat nilai buruk. Akan tetapi, siswa yang bijaksana adalah siswa yang tahu persis kebiasaan guru yang demikian sehingga ia selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.

Walau kenyataannya sangat berbeda, tetapi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kurang lebih dapat digambarkan seperti ulangan mendadak yang biasa diadakan oleh sebagian guru. Tuhan kita, dalam hikmat-Nya yang besar, telah dan akan memberikan tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Namun, kapan waktunya tidak Dia sampaikan secara persis. Itulah sebabnya kita perlu selalu berjaga-jaga. Sebab, kapan pun harinya, bisa menjadi hari kedatangan Tuhan Yesus!

Mari terus memohon hikmat Tuhan, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana. Setiap hari yang kita jalani merupakan kesempatan untuk menanti-nanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebab, kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Jangan sampai kita menjadi orang kristiani yang, ketika Tuhan Yesus datang, malah sedang "terlelap" seperti perumpamaan lima gadis yang bodoh. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana, yang senantiasa berjaga-jaga menanti sang mempelai --PK

BERSIAP DAN BERJAGA-JAGALAH SEOLAH-OLAH HARI INI ADALAH HARI KEDATANGAN-NYA YANG KEDUA

Sabda.org

Suatu Pelajaran Kasih

Aku mengamati dengan teliti, ketika adik lelakiku yang bernama John tertangkap basah karena perbuatannya. Ia sedang duduk di sebuah sudut ruang keluarga dengan sebuah pena di tangan satunya dan buku puji-pujian milik Ayah yang baru sama sekali di tangan yang lain.

Ketika Ayah memasuki ruangan, adikku agak ketakutan; ia merasa bahwa ia telah membuat suatu kesalahan. Dari kejauhan aku bisa melihat bahwa ia telah membuka buku puji-pujian yang baru itu serta mencorat-coret selebar serta sepanjang lembar pertama dari buku itu dengan penanya. Sekarang, ia sedang menatap Ayah dengan rasa ketakutan sambil dia dan aku bersama menunggu apa yang Ayah akan perbuat. Dan ketika kami menunggu hukuman apa yang Ayah akan kenakan kepada adik, kami tidak menerka sedikitpun bahwa Ayah akan mengajarkan kepada kami suatu pelajaran yang mendalam dan tak terlupakan tentang kehidupan dan kekeluargaan. Ajaran-ajarannya itu semakin menjadi lebih dimengerti dengan lewatnya tahun lepas tahun.

Ayah memungut buku puji-pujiannya yang amat ia sayangi itu, mengamatinya dengan teliti, kemudian duduk tanpa mengatakan apapun.

Semua buku merupakan sesuatu yang amat berharga bagi dia; ia adalah seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Bagi dia, buku-buku merupakan pengetahuan, namun ia pun menyayangi anak-anaknya. Apa yang ia lakukan kemudian sungguh luar biasa.

Ia tidak menghukum adikku, ia pun tidak memaki atau berteriak-teriak secara emosional, melainkan ia duduk, mengambil pennya dari tangan adik dan kemudian menulis di buku pujian itu di samping corat-coret yang telah dibuat oleh adik. Tulisannya berbunyi: Karya John, 1959, umur 2 tahun. Betapa seringnya aku memandang wajahmu yang tampan dan kepada matamu yang hangat dan cerah yang sedang memandangku. Akupun bersyukur kepada Tuhan untuk dia yang kini mencorat-coret di dalam buku pujianku yang baru.

“Aduh!”, aku pikir. “Hukuman apa ini?”

Tahun lepas tahun serta buku-buku datang dan pergi. Keluarga kita mengalami hal-hal yang juga dialami oleh keluarga lain, mungkin lebih banyak sedikit: suka cita dan kesusahan, kejayaan dan kehilangan, tawa dan air mata. Kami memperoleh cucu-cucu dan kehilangan seorang anak laki-laki. Kami selalu tahu bahwa orang tua kami mengasihi kami. Dan salah satu bukti dari kasih itu adalah buku nyanyian di dekat piano itu. Kadang-kadang, kami membukanya, memandang kepada corat-coret itu, membaca ekspresi dari Ayah dan merasakan syukur yang amat dalam.

Sekarang aku baru mengerti bahwa melalui perbuatan Ayah yang sederhana itu, beliau mengajar kami bahwa setiap kejadian di dalam hidup ini mempunyai segi yang positif – bila kita bersedia untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda – dan betapa besar nilainya bila hidup kita disentuh oleh tangan-tangan kecil. Namun ia pun mengajar kepada kami, apa sebenarnya yang penting dalam hidup ini: manusia bukan barang; toleransi bukan penghukuman; kasih bukan kemarahan.

Kini, akupun menjadi seorang ayah. Dan seperti Ayahku, seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis. Namun, tidak seperti Ayah, aku tidak menunggu sampai putri-putriku dengan diam-diam mengambil buku nyanyianku dari rak buku dan mencorat-coret di dalamnya.

Kadang-kadang, aku mengambil sejilid – bukan sejilid buku murahan, melainkan sebuah buku yang aku akan memilikinya bertahun-tahun, dan memberikan kepada salah seorang putriku untuk menulis namanya di dalam buku itu.

Dan bila aku memandang hasil tulisannya, aku ingat akan Ayahku, pelajaran-pelajaran yang ia ajarkan kepadaku, kasihnya terhadap kami, anak-anaknya – kasih yang demikian besarnya terhadap keluarganya.

Aku mengenang akan hal itu dan tersenyum, “Terima kasih, Pap!”

Arthur Bowler

28 December 2011

Mumpung Masih Muda

Bacaan Setahun : Wahyu 9-11
Nats : Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam (Mazmur 90:4)

Bacaan : Mazmur 90

Andai seseorang bertanya, "Kapan Anda akan mati?", apa jawaban Anda? Ini pertanyaan yang sulit. Banyak orang meninggal di usia tua, tetapi tidak sedikit juga yang meninggal di usia muda, bahkan kanak-kanak. Kematian memang bisa menjemput manusia kapan saja, sesuai waktu Tuhan. Walaupun demikian, ternyata ada banyak orang yang tidak mau berpikir mengenai kematian. Hal-hal yang berbau kematian kerap dibuang jauh-jauh dari pikiran. Dianggap tabu untuk dibicarakan. Ini memang ironi. Akibatnya, sebagian dari kita kemudian tidak berpikir: "Bagaimana saya mempersiapkan kematian?", "Mau ke mana saya setelah mati?" Sebaliknya, lebih kerap berpikir: "Selagi masih muda, nikmatilah hidup", "Apa lagi yang harus saya capai di hidup ini?"

Kita perlu belajar dari Musa. Berapakah usia Musa saat meninggal? Ia berusia 120 tahun (Ulangan 34:7) cukup panjang. Akan tetapi, apa yang ia katakan mengenai hidup? Hidup itu singkat, seperti rumput yang tumbuh pada waktu pagi dan layu pada waktu petang (ayat 5-6). Oleh sebab itu, Musa memohon hikmat Tuhan agar mampu menghitung hari. Artinya, ia sangat menyadari bahwa hidup itu singkat. Karena itu, ia minta dimampukan untuk mengisi hidupnya secara bijaksana.

Kita memang tidak akan tahu kapan hidup kita akan berakhir. Namun, selagi masih ada kesempatan, gunakanlah waktu dengan bijaksana. Apa yang paling bijaksana bagi kita? Pertama, memastikan keselamatan kita. Kedua, mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan. Ketiga, mengisi hidup dengan hal-hal yang berkenan di mata Tuhan serta memasyhurkan nama-Nya --RY

WAKTU BEGITU CEPAT BERLALU AMBILLAH KEPUTUSAN YANG TEPAT SEBELUM MENYESAL

Sabda.org