Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 December 2011

Lukisan Esquivel

Bacaan Setahun : Yakobus 4-5
Nats : Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, " dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1 Timotius 1:15)

Bacaan : Matius 1:1-17

Adolfo Esquivel, seniman Argentina, mengeluarkan serial lukisan ilustrasi Jalan Salib yang unik. Ia menggambarkan bagaimana Kristus keluar dari sebuah penjara modern, dan memikul salib di antara jalanan kota yang sibuk, pabrik yang mencemari udara, penebangan pohon, rumah kumuh, dengan ditemani oleh orang-orang negro korban rasisme, remaja pengangguran yang kecanduan obat, dan ibu-ibu yang anaknya "dihilangkan" oleh para politisi. Interpretasi modern terhadap karya Kristus ini mengingatkan saya kembali bahwa Kristus sesungguhnya juga datang bagi setiap mereka yang menderita di luar sana, saat ini.

Silsilah Kristus yang dicatatkan oleh Matius menegaskan bahwa Kristus hadir untuk semua orang. Ya, kita melihat nama Daud, sang raja besar Israel, di sana. Akan tetapi, ada juga Rahab, seorang perempuan Sundal, dan Rut, si wanita asing. Kristus datang dari silsilah dengan berbagai latar belakang hidup. Dan, semasa hidup di dunia pun, Dia bahkan bersedia ada bersama mereka yang dinomorduakan dan direndahkan masyarakat: perempuan, janda, pemungut cukai, orang miskin, penderita kusta, sampai nelayan dari Galilea (yang kala itu terkenal sebagai daerah kaum "kafir" dan warganya gemar berkelahi).

Mari kita terus mengingat bahwa Kristus ada bersama mereka yang merasakan kerasnya kehidupan. Dia ada bersama orang-orang yang kita pinggirkan karena persaingan ekonomi dan perbedaan tingkat sosial. Apakah kita juga ada bersama mereka? Atau, jangan-jangan kita terlalu sibuk beraktivitas di dalam gedung gereja dan tidak memberkati keluar? --OLV

KRISTUS BERSEDIA HADIR DALAM PENDERITAAN MANUSIA
KIRANYA KITA MENELADANI PELAYANAN-NYA ITU

Sabda.org

20 December 2011

Ketika Marta Marah

Bacaan Setahun : Yakobus 1-3
Nats : Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku (Lukas 10:40)

Bacaan : Lukas 10:38-42

Melayani Tuhan jelas merupakan aktivitas yang mulia, apa pun bentuknya. Oleh karena itu, seharusnya pelayanan dilakukan dengan sikap yang benar pula. Namun, terkadang orang mengalami kesamaran arah sehingga tidak dapat bersikap sebagaimana seharusnya. Banyak aktivis gereja bisa marah karena mereka merasa sudah banyak berkorban untuk melayani, tetapi tidak dihargai. Tidak dibantu, malah dicela.

Inilah mungkin yang terjadi pada Marta. Bagaimana bisa Maria membebankan semua kerepotan di pundaknya saja, seolah-olah hanya ia yang berkewajiban melayani tamu? Sampai-sampai Marta memprotes kepada Tuhan Yesus. Namun, Yesus malah membela Maria, membenarkan pilihan Maria untuk duduk di kaki-Nya dan mendengarkan-Nya. Dan, Marta ditegur karena telah menyusahkan diri dengan hal-hal di luar itu. Maria telah memilih yang terbaik, yakni membiarkan Tuhan melayaninya. Jika Marta disibukkan dengan pelayanannya bagi Yesus, Maria disibukkan oleh pelayanan Yesus baginya. Dan, Yesus menghargai sikap Maria yang seperti seorang murid mau belajar dan mau mendengar.

Sudahkah kita juga bersikap seperti seorang murid? Ingatlah bahwa menjadi murid bukan hanya dengan terus-menerus menyibukkan diri dalam pelayanan. Jangan sampai kita menempatkan sesuatu yang baik, seperti pelayanan, menjadi lebih utama daripada yang terbaik, yaitu berpaut kepada Allah mendengar firman-Nya. Ingatlah: kesibukan melayani Tuhan tak bisa jadi alasan untuk tak punya waktu merenungkan firman-Nya. Sebaliknya, keakraban dengan firman-Nya mesti selalu menjadi dasar dalam kita melayani --ENO

SEBELUM FIRMAN TUHAN MELAYANI KITA TIDAK MUNGKIN KITA SIAP MELAYANI TUHAN

Sabda.org

19 December 2011

Hidup Arif

Bacaan Setahun : Ibrani 11-13
Nats : Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15)

Bacaan : Efesus 5:15-21

Ada sebagian orang yang menjalani hidupnya dengan "tawar" segala sesuatu ia biarkan berjalan seadanya; hingga tiba-tiba segala sesuatu lenyap tanpa bekas dan tanpa makna. Hari-harinya berlalu begitu saja. Tahu-tahu umur sudah makin bertambah dan akhirnya tinggal rasa sesal berkepanjangan yang menguasai hari-harinya di usia senja. Orang semacam ini hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup. Menurut Anthony de Mello, orang semacam ini seperti sedang "tidur" dalam hidupnya.

Dalam istilah Paulus, orang yang tidak saksama memperhatikan hidup disebut orang bebal. Ia hanya memancarkan kekelaman dan kesuraman dari hidupnya. Orang yang berkebalikan dengan itu disebut orang arif. Tentu kita tidak suka dijuluki orang bebal. Akan tetapi, menjadi orang yang arif sangatlah tidak mudah. Orang arif itu "cakap mempergunakan waktu, selalu rindu mengerti kehendak Tuhan, dan menjaga diri dari hal-hal yang memabukkan. Ia penuh roh, berkata-kata penuh makna dan berkat, serta mampu bersyukur dalam segala keadaan. Ia juga hidup rendah hati karena meneladani Kristus." Sebuah daftar yang sangat panjang, bukan? Akan tetapi, sebenarnya daftar itu dapat diringkas; yakni bahwa orang arif itu mengalami, kemudian memancarkan keilahian Kristus dalam pemikiran, perkataan, dan tindakannya. Maka, dari hidupnya "terpancar cahaya Kristus" (ayat 14).

Apa yang kita pancarkan kepada dunia ini: pantulan cahaya Kristus atau kesuraman hati? Apa hasrat yang paling kuat menarik kita: hidup untuk membagikan terang Kristus kepada sesama atau sekadar membuang waktu tanpa makna? --DKL

KETIKA HIDUP DIJALANI DENGAN ARIF MAKA TAK SIA-SIA KITA DIHADIRKAN DI DUNIA INI

Sabda.org

16 December 2011

Kisah Sebuah Natal

Di permulaan abad ke-18, seorang anak muda berumur kira-kira 14 tahun bernama John hidup di dalam sebuah panti yatim-piatu di Inggris bersama dengan sejumlah anak-anak yang lain. Panti yatim-piatu ditakuti oleh orang. Seorang yatim-piatu berarti tidak dikehendaki dan tidak dikasihi. Panti itu dikepalai oleh seorang guru dan isterinya. Kedua orang ini yang jaga merupakan hasil dari latar belakang yang miskin tidak memiliki rasa kasih sayang namun sangat berdisiplin. Mereka tidak suka bersendau gurau, tidak memiliki ekspresi kasih sayang dan pengertian.

Setiap hari sepanjang tahun dilalui dengan kerja. Anak-anak itu bekerja di ladang, bersih-bersih, menjahit dan kadang-kadang memasak untuk anak-anak orang kaya. Mereka sudah bangun di pagi hari buta dan bekerja sampai jauh malam dan biasanya mereka diberi makan hanya sekali sehari. Namun mereka merasa berterima kasih karena mereka memang diajar untuk menjadi pekerja-pekerja yang keras.
John sama sekali tidak memiliki apa-apa, demikian pula anak-anak lainnya.

Natal merupakan satu-satunya hari mereka tidak bekerja dan disamping itu memperoleh hadiah. Sebuah hadiah untuk setiap anak – sesuatu yang mereka dapat menganggap sebagai miliknya sendiri. Pemberian yang istimewa itu adalah sebuah jeruk. John sudah lama berada di panti itu untuk menanti datangnya Natal itu untuk dapat menikmati hari yang khusus dan menerima jeruknya sebagai pemberian yang istimewa.

Pada jaman itu di Inggris dan demikian pula untuk John dan kawan-kawannya sepanti, sebuah jeruk merupakan suatu pemberian yang langka dan luar biasa. Ia memiliki aroma yang mereka dapat cium hanya pada waktu hari Natal. Anak-anak menganggap dimikian tinggi nilainya, sehingga mereka menyimpan jeruk itu sampai berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, untuk disimpan, dicium, disentuh dan disayangi. Biasanya mereka menyimpannya sampai demikian lamanya sampai buah itu menjadi busuk, sebelum mereka akhirnya mengupasnya dan menikmati jusnya yang manis. Semakin waktunya mendekati hari Natal, semakin ramai mereka membicarakan hal pemberian hadiah jeruk itu. Anak-anak mengatakan, “Aku akan menyimpannya paling lama”. Mereka sering membicarakan betapa besarnya jeruk yang mereka terima pada tahun lalu dan betapa lamanya mereka berhasil menyimpannya.

John biasanya tidur dengan jeruk yang ia akan terima nanti. Ia meletakkan jeruknya dekat dengan hidungnya sehingga ia dapat mencium aromanya, memegangnya dengan lembut dan hati-hatiagar tidak sampai merusak kulitnya. Ia akan bermimpi tentang anak-anak di seluruh dunia yang mencium aroma yang manis dari jeruk itu. Hal itu memberikan kepadanya rasa aman dan kaya harapan dan impian yang dipenuhi dengan segala makanan yang lezat dan suatu kehidupan yang amat berbeda dengan kahidupan miskin yang ia sedang jalani sekarang ini.

Tahun ini, John merasa amat senang dengan datangnya hari Natal. Sebentar lagi dia menjadi dewasa. Ia tahu ia akan menjadi tambah kuat dan tak lama lagi ia akan cukup dewasa untuk meninggalkan panti asuhan ini. Ia sangat bersuka cita akan Natal. Ia akan menyimpan jeruknya sampai hari ulang tahunnya di bulan Juli. Bila ia menyimpannya dengan baik dan hati-hati, diletakkan di tempat yang dingin dan tidak dijatuhkan, mungkin ia dapat memakannya pada hari ulang tahunnya.

Akhirnya hari Natal tiba. Anak-anak begitu senangnya ketika mereka memasuki ruang makan. John dapat mencium aroma dari masakan daging. Dalam sukacitanya yang luar biasa dan karena ukuran kakinya yang memang besar, ia tersandung sehingga mengakibatkan kekacauan. Dengan segera kepala panti asuhan membentaknya dengan suara kencang, “John, tinggalkanlah ruang makan sekarang dan tidak ada jeruk untukmu tahun ini.”

John merasa hatinya hancur lebur. Ia mulai menangis. Ia membalikkan badannya dan dengan cepat masuk ke dalam ruang tidurnya yang dingin dan memojok supaya anak-anak lain tidak dapat melihat kesedihan hatinya yang mendalam.

Kemudian ia mendengar pintunya terbuka dan melihat anak-anak masuk. Elizabeth yang kecil dengan rambutnya sepanjang pundaknya, dengan sebuah senyuman di wajahnya serta air mata di matanza, ia menggenggam selembar kain kumal di tangannya yang diulurkan kepada John.

“Ini John”, katanya, “Ini untukmu”. John tersentuh hatinya dan mengambil bungkusan kain dari tangannya. Ketika ia membuka kainnya, ia melihat sebuah jeruk yang besar yang sudah dikupas sehingga kelihatan warnanya yang menggiurkan. Kemudian ia baru mengerti apa yang sudah terjadi. Setiap anak telah mengorbankan seperempat dari miliknya masing-masing untuk dibagi sehingga menciptakan sebuah jeruk yang utuh untuk John.

John tidak pernah melupakan kasih sayang dan pengorbanan pribadi dari teman-temannya yang bersedia membagi jeruknya dengan dirinya seperti yang diperlihatkan kepadanya pada hari Natal itu.

John memulai hidupnya dalam keadaan miskin. Namun, setelah menjadi dewasa, ia menjadi kaya raya dan amat berhasil.

Sebagai kenang-kenangan akan hari itu, setiap tahun ia mengirim kepada setiap anak di seluruh dunia jeruk dalam jumlah yang amat besar.

Kerinduannya adalah supaya setiap anak jangan sampai merayakan Natal tanpa buah Natal yang istimewa!

Pelukan Kecil Dari Surga

1 Korintus 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 18; Ibrani 12; Ayub 13-14

Elena Desserich adalah seorang gadis mungil yang baru berusia 6 tahun. Ia didiagnosa menderita kanker otak yang tak dapat dioperasi di usianya yang baru menginjak 5 tahun di tahun 2006. Sembilan bulan melawan penyakit yang dideritanya ternyata Elena kecil tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjalani hari-hari akhir dalam hidupnya. Ia tetap hidup penuh sukacita bersama dengan ayah, ibu dan adiknya Grace.

Pada bulan Agustus 2007, Elena meninggal akibat kanker yang dideritanya. Beberapa hari setelah kematiannya, keluarganya mulai menemukan ratusan lembar pesan cinta yang diselipkan di antara halaman buku, di laci, di lemari, tas-tas milik keluarga, di pakaian, bahkan sampai di temapt penyimpanan dekorasi Natal. Dan pesan-pesan itu terus muncul sampai terkumpul hingga 3 kotak besar.

Apa yang tertulis di lembaran pesan tersebut sangat sederhana, berupa coretan tangan Elena yang bertuliskan “I love you mom, dad, grace” dan coretan gambar lainnya. Semuanya menunjukkan besarnya cinta Elena bagi keluarganya. Lembaran demi lembaran pesan yang ditemukan kedua orangtua dan adiknya itu bagaikan pelukan kecil dari sorga. Semua catatan itu kemudian dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul “Notes Left Behind”.

Kematian adalah suatu hal yang menyedihkan dan mengharukan bagi mereka yang ditinggalkan. Namun Elena telah melakukan sesuatu yang tak terlupakan bagi orang yang dikasihinya. Ia tahu apa artinya hidup. Dalam umurnya yang singkat, Elena mewariskan sesuatu yang abadi dan memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan oleh apapun juga, yaitu kasih. Menghargai kehidupan adalah suatu hal yang baik, namun meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu adalah suatu hal yang luar biasa.

Raga ini akan berakhir suatu hari nanti namun kasih yang Anda wariskan kepada orang lain akan tersimpan selamanya di hati.

Jawaban.com

15 December 2011

Berdoa Dalam Kehendak Tuhan

Ketika melintasi Samudera Atlantik di atas kapal pesiar besar, pendeta F.B. Meyer diminta untuk berkhotbah di hadapan para penumpang kelas satu. Atas permintaan kapten kapal, ia berbicara dengan topik “Doa yang Dijawab“.

Seorang agnostik yang juga berada di antara penumpang kelas satu itu telah ditanya oleh teman-temannya, “Apa pendapatmu tentang khotbah Dr. Meyer itu?”

Ia menjawab, “Aku sama sekali tidak percaya sedikitpun!”

Di sore harinya, Meyerpun berbicara kepada penumpang kelas geladak. Di antara pendengar pada pagi hari, banyak yang hadir pula pada pertemuan sore hari itu, termasuk orang agnostik itu, dengan alasan ingin mendengar “apa saja yang dikatakan orang cerewet ini”.

Sebelum ibadah dimulai, orang agnostik itu membawa dua buah jeruk dalam sakunya. Dalam perjalanannya ke tempat ibadah, ia melewati seorang perempuan paruh baya yang sedang berbaring di kursi geladak sambil tertidur dengan nyenyaknya. Dengan spontan, orang itu meletakkan dua buah jeruk itu ke tangan perempuan itu yang sedang terbuka.

Setelah kebaktian usai, ia melihat perempuan itu dengan senang sedang memakan sebuah jeruk yang dia berikan sebelumnya.

“Agaknya, Anda sedang menikmati buah jeruk itu”, katanya dengan tersenyum.

“Benar, pak”, jawab perempuan itu. “Bapaku amat sayang kepadaku”

“Bapamu? Aku tahu dengan pasti bahwa ayah Anda sudah meninggal!”

“Puji Tuhan”, jawab perempuan itu, “Ia sungguh hidup”

“Apa yang Anda maksudkan?”, tanya orang agnostic itu.

Perempuan itu menjelaskan, “Anda tahu, aku selama beberapa hari ini mabuk laut. Aku telah memohon kepada Tuhan, entah dengan cara bagaimana mengirimiku jeruk. Agaknya aku baru saja tertidur ketika aku sedang berdoa. Ketika aku terbangun, aku menemukan bahwa Tuhan bukan mengirim sebuah jeruk, melainkan dua buah!” Orang agnostik itu tercengang dan tak dapat berkata-kata.

Kemudian orang itu bertobat dan menjadi orang percaya.

“Ya, berdoa dalam kehendak-Nya benar-benar dijawab!”

Our Daily Bread

Berebut Kepemimpinan

Bacaan Setahun : Titus 1-3, Filemon 1
Nats : ... sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)

Bacaan : Matius 20:20-28

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? --ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI
SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Sabda.org

13 December 2011

Balas Melukai

Bacaan Setahun : 1 Timotius 4-6
Nats : Janganlah berkata: "Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya" (Amsal 24:29)

Bacaan : 1 Petrus 2:16-25

Adi yang berusia tujuh tahun menangis di ruang tamu. Ketika ditengok ibunya, ternyata ia menangis karena rambutnya ditarik-tarik oleh Bram, adiknya. "Sudahlah, Adi, jangan marah, " kata si ibu. "Adikmu baru tiga tahun. Ia belum tahu bahwa rambut itu sakit kalau ditarik." Setelah tangisnya reda, si ibu kembali ke dapur. Namun, sesaat kemudian terdengar Bram yang menangis! "Ada apa lagi ini?" tanya si ibu kesal. Seketika Adi menjawab dari ruang tamu: "Bu, sekarang Bram sudah tahu rasanya!"

Orang yang terluka biasanya terdorong untuk membalas. Terkadang tanpa disadari. Rasa dendam yang menyelinap di hati membuat kita tak lagi bebas mengasihi semua orang. Bagaimana mengatasinya? Petrus menasihati agar kita "hidup sebagai orang merdeka". Seseorang disebut merdeka jika jiwanya bebas dari dendam. Bebas dari niat membalas kejahatan dengan balik berbuat jahat. Dengan jiwa yang merdeka, kita bisa menghormati semua orang, termasuk majikan yang bengis terhadap kita (ayat 18-19). Petrus menjadikan Yesus sebagai contoh. Ketika dicaci maki hati-Nya terluka, tetapi Dia tidak balas melukai orang. Apa rahasianya? Dia menyerahkan urusan pembalasan itu kepada Bapa!

Adakah dendam dalam hati Anda? Niat balas dendam membuat hati tidak bisa lagi bening. Pikiran menjadi ruwet. Bahkan, bisa membuat kita nekat berbuat jahat. Kadang kala orang yang tidak melukai kita pun bisa kena getahnya. Pembalasan itu melumpuhkan dan membahayakan! Lebih baik serahkan sakit hati kita kepada Allah. Mintalah kepada Dia untuk mengambil alih perkara itu dan membebaskan jiwa Anda --JTI

PEMBALASAN HANYA AKAN MELUMPUHKAN ANDA IA TIDAK BISA MEMBEBASKAN ANDA

Sabda.org

12 December 2011

Orang Fasik, Orang Benar

Bacaan Setahun : 1 Timotius 1-3
Nats : Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan (Mazmur 1:6)

Bacaan : Mazmur 1:1-6

Kitab Mazmur mengisahkan hubungan antara orang beriman dan Tuhan. Maka, tak salah jika pengumpul kitab Mazmur meletakkan Mazmur 1 ini menjadi bagian pertama dari kumpulan mazmur. Dengan tegas, pemazmur menasihati agar orang beriman jangan hidup sembrono. Sekalipun "cuma" duduk di lingkungan pencemooh dan berdiri di lingkungan orang berdosa, itu bisa membuatnya terjerumus. Sebab, dosa akan melahirkan dosa. Maka, kita dinasihati supaya mengenali siapa orang fasik, siapa orang benar, dan menjaga hati kita saat bergaul dengan banyak orang.

Orang fasik ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi mengabaikannya. Malah, hidupnya begitu banyak diisi dengan keinginan guna menyenangkan orang lain. Ia tak memiliki prinsip, hidupnya menjadi seperti sekam yang diterbangkan kian kemari oleh badai hidup. Walau bisa tampak hebat, tetapi dengan mudah ia bisa lenyap hingga tak berbekas.

Orang benar ialah orang yang bergaul dekat dengan Tuhan lewat firman-Nya. Hidupnya terus "bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi sungai". Maka, sekalipun badai mengguncang dan panas terik melanda, ia tetap kokoh, bahkan terus berbuah. Inilah tandanya orang yang bergaul dengan Tuhan: hidupnya banyak memberkati orang lain dengan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, secara pribadi ia diberkati dengan kebahagiaan dan kepuasan, sebab hidupnya melekat kepada Sang Sumber hidup.

Jaga hati kita dalam pergaulan dengan penuh kewaspadaan. Jadilah orang benar yang mengalami kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Yakni, dengan bergaul karib dengan Tuhan, melalui firman-Nya --SST

RAHASIA HIDUP YANG BERHASIL ADA PADA KETERLEKATAN KITA KEPADA SANG PENCIPTA

Sabda.org

10 December 2011

Christmas on Social Network

Buat yang tidak bisa lihat video ini klik disini.

Tidak Mempermalukan

Bacaan Setahun : 1 Tesalonika 4-5
Nats : Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Matius 1:19)

Bacaan : Matius 1:18-25

Pernikahan Anda dengan tunangan Anda sudah dekat. Anda berdua saling mencintai dan menjaga diri sampai pernikahan terjalin secara sah. Namun, tiba-tiba tunangan Anda mengaku hamil ... dan bukan karena Anda. Itulah tamparan yang dialami Yusuf. Berdasar apa yang diketahuinya, ia berhak mempersoalkan ketidaksetiaan itu sampai masyarakat mengetahuinya. Namun, ia memilih tidak mempermalukan Maria. Ia mengambil jalan sulit: hendak menceraikannya diam-diam agar gadis itu tak menanggung aib. Sikap itu juga memperlihatkan bahwa ia rela dianggap turut bersalah dalam perkara itu.

Kita tak tahu persis apa yang bergejolak di hati Yusuf. Kita maklum jika darahnya mendidih mendengar pengakuan Maria. Namun, setelah amarahnya surut, mungkin ia tercenung, sadar bahwa tak seorang pun bebas dari kesalahan. Mungkin ia terkenang riwayat leluhurnya yang tak luput dari berbagai peristiwa memalukan (Matius 1:1-17). Atau, mungkin terlintas dalam hatinya, perkataan yang kelak diucapkan Anak dalam kandungan itu: "Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yohanes 8:7).

Matius mencatat Yusuf sebagai orang yang tulus hati. Dalam terjemahan lain: orang mursyid; orang benar; orang saleh. Ia benar, justru karena tidak membenarkan diri dan mempertahankan haknya. Ia benar, dan karenanya menunjukkan belas kasihan. Alih-alih mempermalukan, ia mengejar pemulihan. Dalam kasus Maria, "pelanggaran" yang terjadi bukanlah kesalahannya. Namun, andaikata kita diperhadapkan pada orang lain yang melakukan pelanggaran, siapakah di antara kita yang bersedia mengikuti jejak Yusuf? --ARS

ORANG BENAR BAHKAN BERSEDIA "MENYERAP" KESALAHAN
UNTUK MEMULIHKAN SI PELAKU PELANGGARAN

Sabda.org