Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

29 November 2011

Sebuah Perjalanan Spiritual yang Indah

Aku ingin membagikan pengalamanku kepada Anda tentang perjalanan hidup rohani kami (isteriku dan aku) saat berjalan bersama Tuhan. Bagaimana Tuhan kita adalah Tuhan yang Luar Biasa.

Dimulai pada bulan Februari tahun 2008, putri tertua kami yang berumur 8 tahun (bernama Angela) diketahui menderita penyakit kanker ganas (MPNST). Lalu kami pergi ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa harus dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dari perut puteri kami. Akhirnya pada bulan Maret dilakukanlah pembedahan itu, namun dokter tidak dapat mengangkat kanker itu karena kanker itu telah menyebar ke lever, pankreas, ginjal, limpa, dan aorta.

Singkatnya, selama hampir 9 bulan, dia telah menghabiskan waktunya berada di rumah sakit dan tidak pernah mengeluh kesakitan sedikitpun terhadap penyakitnya. Bahkan Prof. Dr. Sumantri, yang merawat Angela mengatakan, “Dengan jenis penyakit kanker seperti ini, dia seharusnya merasa kesakitan, namun dia sama sekali tidak merasakan itu, jadi ini merupakan sebuah keajaiban.”

Sedikit mengingat pada bulan Mei 2008, dalam perjalanan dari rumah sakit ke rumah kami, Angela mengatakan bahwa suatu hari saat dia meninggal, dia ingin dikuburkan disamping makam kakeknya (ayahku). Dan pada tanggal 6 September, Angela menulis untuk ibunya seperti ini: “Kepada mama tercinta, terima kasih banyak untuk kasih, kebaikan, sehingga aku dapat menikmati hidupku. Jangan bersedih jika aku meninggal, Ma, karena aku meninggal untuk pergi ke surga.”

Pada tanggal 15 Oktober, di rumah sakit, Angela berkata kepadaku, “Pa, aku lelah sekali, aku ingin pulang dan berjumpa dengan Tuhan Yesus di surga.” Saat aku mendengar hal itu air mataku mengalir di pipiku. Pada tanggal 17 Oktober, pukul 04.30 saat berdoa bersama, Angela berdoa: “Tuhan Yesus, aku menyerahkan hidupku pada-Mu dan aku telah siap untuk berjumpa dengan-Mu.”

Tanggal 17 Oktober, sekitar pukul 16.25, Angela berkata kepada ketiga orang perawat yang merawatnya, “Suster, Tuhan Yesus menunjukkan kepadaku tiga ruangan”, dan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Angela, minta pada Yesus ruangan yang terbaik untukmu.” dan Angela menjawab, “Ya, Tuhan Yesus memberiku kamar terbaik buatku yaitu kamar ke-3.” (Pada saat itu isteriku dan aku sedang berdoa dan memuji Tuhan di samping tempat tidur Angela) Setelah itu Angela memanggil pamannya yang baru saja tiba, “Om Totok..”, dan kemudian, Totok duduk di sebelah kiri tempat tidurnya dan memegang tangan Angela, dan berkata pada Angela, “Ya, Angela”. Tiba-tiba Angela menjawab kepada Paman Totok, “Ini waktunya, Om”. “Waktu apa, Angela?”, kata Totok kepada Angela. Angela berkata kepada Totok lagi, “Sekarang waktunya untuk pergi ke surga, Om.” Saat aku mendengar Angela berkata seperti itu pada pamannya, aku meminta kepada semua orang yang berada di ruangan itu untuk berlutut berdoa dan aku memimpin doa itu. Pada pukul 16.30 tepat Angela telah berpulang kepada Bapa di surga. Dan betapa Tuhan begitu baiknya.

Waktu yang terberat bagi kami adalah saat 1,5 bulan sebelum Angela meninggal. Saudara dan saudari, dari perjalanan rohani kami berjalan bersama Tuhan melalui berkat khusus yang kami terima (isteriku dan aku), kami belajar banyak hal dari Tuhan.

Aku berharap bahwa pengalaman pribadiku berjalan bersama Tuhan dapat membawa berkat bagi Anda semua. Doaku, semoga Tuhan memberkati dan melindungi Anda sekalian.

Terima kasih.

salam dalam Kasih Tuhan,
Zefanya Adi Walujo
Sri Edy Hernani

Tidak Untuk Diulang Kembali!

Roma 6 : 1 - 14

Salah satu pengajaran yang sering diabaikan oleh gereja-gereja Tuhan dan orang-orang percaya zaman ini adalah tentang hidup menderita bagi Kristus. Orang Kristen lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, sukacita, bahagia, hidup sukses. Adalah baik kalau sebagai bukti kasih dan kesetiaan kita kepada Allah maka hidup kita menjadi berhasil dan diberkati Tuhan. Tetapi jangan lupa bahwa jauh sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia berkali-kali berbicara tentang kesengsaraan dan kematian-Nya untuk menebus dosa manusia bukan agar kita sukses dan kaya. Sukses, kaya, bahagia adalah akibat dari hidup kita yang senantiasa berpaut kepada Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata: “..Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5) Menjadi pengikut Kristus jangan cuma mengharap berkat dan sukses belaka, tetapi ketahuilah bahwa Ia telah rela menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2.Kor 8 : 9). Kita menjadi kaya karena ada yang mau berkorban untuk kita, bukan kita menjadi pengikut Kristus agar menjadi orang kaya. Kaya dalam hidup menurut Tuhan Yesus bukan cuma kaya materi. Kalau hanya itu, maka kekayaan itu sia-sia tidak bisa kita bawa mati. Dalam rangka Paskah kita diminta untuk kembali mengenang penderitaan Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya.

Paulus dalam Surat Roma ini sedang menegur orang-orang percaya yang lebih suka berbuat dosa dari pada berbuat benar. Menurut pendapat mereka, makin banyak berdosa, makin besar juga kasih karunia Allah. Oleh sebab itu berdosalah terus karena Allah tidak kekurangan untuk senantiasa memberi pengampunan. Paulus mau mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus tidak semudah yang kita bayangkan. Apalagi membayangkan bahwa dengan menjadi Kristen maka berkat-berkat Tuhan akan melimpah-limpah.

  1. Menjadi pengikut Kristus akan semakin indah bilamana kita mau membayar harganya.
    Harga penebusan atas dosa-dosa kita terlalu mahal untuk dinilai dengan uang. Bagaimana mungkin orang yang tidak berdosa mau mati menggantikan orang berdosa. Bukankah sesungguhnya kita telah berhutang untuk karya Kristus yang agung itu? Saat kita lahir, kita telah berhutang kepada ibu yang mengandung dan melahirkan kita, bidan/dokter yang menolong persalinan ibu kita, belum orang-orang lain yang ikut repot ketika kita masih bayi.
    Juga ketika kita mati, kita berhutang kebaikan kepada orang-orang yang merawat jenazah kita dan sampai menguburkannya. Yang lebih besar dari pada itu ialah pada saat kita hidup di dunia ini, kita telah berhutang kepada Kristus yang ketika kita hidup, Ia telah memanggil kita untuk percaya. Dan oleh karenanya kita beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Berhutang kepada Kristus, harga inilah yang harus kita bayar. Apa yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan ketika kita masih sehat, kuat, hidup berkecukupan? Berpikirlah setiap hari bahwa kita “berhutang” kepada Tuhan dan berusahalah membayar harganya.
  2. Kematian Kristus membuka jalan ke surga dan semua permasalahan kita di dunia.
    Ada jalan baru untuk menggantikan jalan lama yang sudah tidak mungkin untuk dilalui lagi. Zaman ini orang suka mencari jalan alternatif, artinya jalan yang masih mungkin untuk dilalui. Dan itu mungkin jalan sempit, bergelombang, berbatu-batu dan tidak nyaman. Tetapi demi sampai tujuan maka terpaksa ditempuh juga. Tuhan tidak menawarkan jalan alternatif tetapi jalan melalui Diri-Nya sendiri. ( Yoh 14:6 ) Jalan, Kebenaran dan Hidup.
    Paulus menggambarkan jalan baru yang dibuat Yesus itu seperti ini: …jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia (ay.8). Dengan demikian kita diajak mengubah paradigma dengan jalan baru yang dibuat Yesus. Bukan mencari jalan alternatif yang lain.

    Adalah sangat memprihatinkan bahwa dalam tiga tahun terakhir (tahun 2005-2008) di negeri kita telah tercatat ada 50 ribu orang bunuh diri belum termasuk yang mati karena obat-obat terlarang / narkoba yang setiap tahunnya menelan jiwa 50 ribu orang banyaknya di negeri ini. Kemana kita akan membawa permasalahan hidup yang semakin hari semakin berat ini? Ada jalan yang ditawarkan Tuhan tetapi tidak semua orang mempercayainya bahwa jalan itu benar-benar memberi solusi atas segala problem hidup kita di dunia ini. Jalan itu juga bisa membawa kita untuk mengalami suasana surga dalam rangka menghadapi beban-beban hidup yang berat di dunia ini .

    Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa Kristus benar-benar tidak mati, tetapi Ia hidup dan tetap hidup untuk menampung dan memberi solusi atas semua permasalahan manusia di dunia ini.

    Percayalah kepada Jalan Tuhan di saat jalan-jalan di dunia ini tertutup untuk semua permasalahan hidup kita. Bagi Anda masih ada harapan untuk hidup.

  3. Tinggalkan semua yang dosa dan katakan: ”TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ”
    Diatas bukit Golgota ada tiga salib berdiri di sana, tetapi masing-masing berbeda kisahnya. Salib di kiri Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati dalam dosa ( died in sin) Penjahat ini tidak mau bertobat dan bahkan menghina Yesus ( Luk 23: 39). Orang ini mati dalam dosanya.

    Salib di kanan Tuhan Yesus adalah salib orang yang mati terhadap dosa (died to sin). Penjahat ini menggunakan waktunya yang singkat untuk bertobat sebelum ia mati. (Luk 23: 42). Ia mati dengan tersenyum karena janji Tuhan Yesus bahwa hari ini juga ia akan bersama-sama masuk ke Firdaus.

    Salib yang ditengah adalah salib Tuhan Yesus. Ia telah mati untuk manusia-manusia yang berdosa (died for sinners). Pilatus yang mengadili Yesus tidak mendapati kesalahan Yesus sedikitpun. (Yoh 18:38)

    Kesengsaraan kita telah dipikul-Nya dan kita diminta untuk “jangan kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa “ (ayat 13) Oleh sebab itu tinggalkan semua dosa dan katakan “TIDAK UNTUK DIULANG KEMBALI ” Ibarat orang sakit yang sudah sembuh dan pulih, masakan kita mau sakit lagi dan terus sakit. Berarti tidak ada niat untuk sembuh dan memperbaiki diri.

Pengorbanan Tuhan Yesus cukup satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9: 12). Sungguh amat berdosa jikalau kita menodainya dengan berkali-kali melakukan pelanggaran dosa.

Mulai saat ini pikirkanlah ini: Apa yang dapat aku lakukan untuk membalas kasih Tuhan yang telah menyelamatkan aku? Aku percaya bahwa di dalam Dia ada jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semua pergumulanku di dunia ini. Dan aku berjanji untuk tidak mengulang lagi semua perbuatan dosa yang membuat Tuhan menangis melihat aku.

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH BAGAIKAN BAB BARU YANG MASUK DALAM LEMBARAN-LEMBARAN BUKU LAMA HIDUP KITA.
LEBIH MENARIK DAN MEMBUAT HIDUP INI LEBIH HIDUP KEMBALI.

Pdt.Andreas Gunawan Pr.

Gizi Bagi Jiwa

Bacaan Setahun : 2 Korintus 1-3
Nats : Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup" (Kejadian 46:30)

Bacaan : Kejadian 46:28-30

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, "Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?" Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, "Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup ..." (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan "memberi gizi" bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu "pahit" sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan "nutrisi" atau "gizi" pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri --DKL

JADILAH PRIBADI YANG SELALU SIAP MEMBERI MAKNA
KHUSUSNYA AGAR ORANG LAIN MERASAKAN HIDUPNYA BERHARGA

Sabda.org

28 November 2011

Kebablasan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 14-16
Nats : ... di manakah Allah yang menghukum? (Maleakhi 2:17)

Bacaan : Maleakhi 1:1-7; 2:17

Cara seorang anak merespons kasih sayang orangtuanya bisa beragam. Bisa dengan penghormatan dan kepatuhan, bisa juga sebaliknya. Seorang anak dapat terus berbuat sesuka hati, melanggar semua aturan yang diberikan, bahkan secara sadar mengulang-ulang hal tersebut. Anak itu bertingkah "kebablasan" atau kelewatan. Ia berpikir: "Orangtuaku sangat sayang padaku. Mereka tidak akan marah pada apa pun yang kulakukan karena aku ini kesayangan mereka".

Kalimat pernyataan Tuhan yang pertama dalam kitab Maleakhi adalah: "Aku mengasihi kamu" 1:2. Namun, setelah itu terungkap keluhan atas berbagai tingkah umat yang kebablasan. Kasih sayang Tuhan disalahartikan, bahkan dijadikan pembenaran atas berbagai perbuatan yang sesungguhnya mengecewakan hati Tuhan. Umat Israel tidak menyadari betapa mereka menyusahkan hati Tuhan dengan semua perilaku itu.

Kita pun sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan, sering kebablasan. Mengetahui bahwa Tuhan mengasihi kita, tidak membuat kita bersyukur dan berusaha hidup benar meneladani kasih-Nya. Kita terus melakukan kesalahan dan menganggapnya biasa karena berpikir hal itu tidak mengurangi kasih Tuhan kepada kita. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa kita keliru menganggap Tuhan berkenan pada perbuatan yang tidak baik. Kalaupun Dia tidak menjatuhkan hukuman, bukan berarti kejahatan kita dibenarkan oleh-Nya. Seperti orangtua yang bisa menegur dan menghukum anaknya agar tidak kebablasan, Tuhan pun dapat mengajar kita walau untuk itu Dia sangat bersusah hati. Karenanya, maukah kita tidak lagi kebablasan dan menyalahartikan kasih sayang Tuhan?-SL

JIKA PEKERJA DI BALIK LAYAR MELAKUKAN PERAN TERBAIKNYA
MAKA SEBUAH KARYA AKAN MENCAPAI PRESTASINYA

Sabda.org

26 November 2011

Keputusan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 8-10
Nats : Atau kausangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Matius 26:53)

Bacaan : Matius 26:47-56

Jika kita mengonsumsi makanan berlemak setiap hari dalam porsi besar, apa yang akan terjadi lima tahun mendatang? Timbunan lemak dan kolesterol. Jika kita mengisap dan menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari, apa yang akan terjadi dengan tubuh kita di tahun-tahun mendatang? Paru-paru kita akan rusak. Demikianlah, setiap hari kita membuat keputusan penting. Sebagian dari kita mungkin akan memilih kesenangan bagi diri sendiri saat ini, walau di masa depan ada akibat yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, ada juga keputusan yang kini terasa tidak nyaman, tetapi hasilnya baik di masa mendatang.

Malam itu, setelah perjamuan terakhir dengan para murid, merupakan waktu yang berat bagi Yesus. Sebenarnya Dia bisa membiarkan murid-murid melakukan perlawanan guna mencegah penangkapan-Nya (ayat 51). Dia juga bisa memerintahkan pasukan malaikat untuk melindungi dan melepaskan-Nya dari perjalanan menuju salib yang mengerikan. Akan tetapi, Dia memilih untuk taat kepada perintah Bapa-Nya melangkah menuju salib. Sebab, Dia sangat tahu keputusan-Nya ini akan berdampak bagi kehidupan manusia di masa mendatang.

Mungkin hari ini Tuhan membawa kita memasuki masa-masa yang paling sulit di hidup kita. Dan, kita mesti mengambil keputusan penting. Pertimbangkanlah dengan saksama. Keputusan yang membuat kita nyaman belum tentu berakhir indah dan memuliakan Allah. Pertimbangkanlah masak-masak, termasuk dampaknya di masa depan bagi kita maupun bagi orang-orang di sekeliling kita. Dan, apakah Allah dimuliakan melalui keputusan tersebut --PK

KEPUTUSAN KITA HARI INI BISA MENENTUKAN HIDUP KITA DI HARI ESOK

Sabda.org

25 November 2011

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil ketiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan itu disia-siakan. Tetapi jangan pula terlalu sukar sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih.”

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakkan di puncak gunung yang tinggi” Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Letakkan di dasar samudera.” Usul itu pun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tetapi di mana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari ke pantai, ada yang mencari di temat yang sunyi, ada yang mencari di tempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebalikkanya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Seringkali kita berkata, “akh... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI deelel.”
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

Menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapai semuanya itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke 7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting di sini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH......?

Uji Kelayakan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 4-7
Nats : Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku (Mazmur 139:23)

Bacaan : Mazmur 139:17-24

Kita tidak dapat menilai karya kita sendiri secara objektif. Itulah sebabnya, selalu dibutuhkan pihak yang independen dan tepercaya untuk menguji dan menilai. Sebagai contoh, makanan dan obat-obatan harus diuji kelayakannya untuk dikonsumsi, oleh BPOM. Sebuah laporan keuangan dapat dipercaya kelayakan penyajiannya setelah diperiksa oleh auditor independen. Di sini, kualitas dan integritas sang penguji sangat menentukan apakah hasil pengujiannya dapat dipercaya atau tidak.

Demikian pula dengan hati kita. Sesungguhnya kita tak dapat menilai hati kita sendiri. Kita mungkin berpendapat bahwa apa yang kita lakukan sudah memiliki motivasi yang benar. Akan tetapi, belum tentu itu terbukti benar di hadapan Tuhan. Pemazmur juga merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, walau demikian ia tetap meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikirannya. Semua ini didasari dengan kesadaran bahwa Tuhan itu Mahatahu Dia benar-benar mengetahui segala isi hati dan pikirannya. Dan, karena Tuhan adalah kebenaran maka semua penilaian Tuhan pasti benar. Lebih jauh, pemazmur juga menunjukkan hati yang mau diajar dan dituntun ke jalan yang benar.

Mungkin kita sudah merasa bahwa semua yang kita kerjakan telah kita lakukan dengan cara dan motivasi yang benar, bagi kemuliaan Tuhan. Namun, kerap kali kita tidak menyadari bila motivasi kita perlahan mulai berubah. Maka, kita perlu selalu terbuka di hadapan Tuhan. Mintalah Tuhan melihat hati kita yang terdalam. Dan, apa pun yang Tuhan singkapkan, biarlah kita memiliki hati yang mau ditegur dan mau dituntun ke jalan yang benar --VT

AGAR DAPAT HIDUP BERKENAN DI HADAPAN TUHAN
KITA HARUS SELALU TERBUKA UNTUK DIUJI DAN DITUNTUN TUHAN

Sabda.org

24 November 2011

Pengemis Suruhan Tuhan

James Glaymor, seorang misionaris di Mongolia, pada satu saat diminta untuk menangani beberapa prajurit yang terluka. Meskipun ia bukan seorang dokter, ia memiliki cukup pengetahuan medis dasar, sehingga ia tidak dapat menolak permohonan itu. Ia membalut luka-luka dari dua orang, namun orang yang ketika menderita patah tulang pinggul yang parah, Misionaris itu tidak tahu apa yang ia harus lakukan terhadap luka yang demikian itu.

Dengan berlutut di samping orang itu, ia berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menjawab doanya itu, namun ia yakin bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhannya. Ia tidak bisa menemukan buku-buku tentang phisiologi di rumah sakit yang sahaja itu dan tidak ada seorang dokter yang datang untuk membantunya. Keadaannya lebih parah lagi dengan kehadiran serombongan pengemis yang tiba untuk meminta sedekah. Ia sangat prihatin terhadap pasien itu, sedangkan hatinya pun disentuh oleh kehadiran orang-orang itu. Dengan terburu-buru ia memberikan kepada mereka hadiah-hadiah kecil ditambah dengan beberapa ucapan ramah untuk menghibur mereka.

Sesaat kemudian dengan rasa tak percaya ia memandang kepada seorang pengemis yang agak ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Orang sial itu yang sedang kelaparan tidak lebih dari pada sebuah kerangka hidup dibungkus kulit.

Misionaris itu sesaat sadar, bahwa Tuhan telah mengirim kepadanya sebuah pelajaran anatomi hidup! Ia bertanya kepada orang tua itu apakah ia diperkenankan untuk memeriksanya. Setelah ia dengan hati-hati mengikuti bentuk tulang paha dengan jari-jarinya untuk belajar bagaimana menangani patah tulang itu.

Beberapa tahun kemudian, Gilmour seringkali mengisahkan bagaimana Tuhan telah menjawab yang aneh namun sunguh efisien dan praktis doa-doanya yang tulus itu.
Bila kita mengajukan permohonan kita, kitapun mendapat kepastian bahwa Tuhan akan menolong kita – sekalipun jawaban-Nya kadang-kadang melalui mereka yang “tidak punya kekuatan”

“Our Daily Bread”

Konsekuensi Sebuah Keputusan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 1-3
Nats : Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya (Matius 8:20)

Bacaan : Matius 8:18-22

Aktivitas paling menyenangkan di keluarga kami adalah perbincangan sebelum tidur malam. Suatu kali si bungsu menceritakan keinginannya menjelajah dunia mencari beasiswa untuk sekolah di banyak tempat dan berkarier di banyak negara. Saya memang bangga dengan prestasinya. Namun, saya mengingatkannya pada konsekuensi cita-cita itu: ia harus belajar dan bekerja lebih keras supaya dapat meraih beasiswa dan mampu bersaing dengan tenaga kerja terdidik lainnya.

Tampilnya Yesus dengan pengajaran yang berkharisma, dengan kuasa ilahi untuk menyembuhkan, serta kepribadian-Nya yang hangat, memesona begitu banyak orang. Lalu sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang ahli Taurat kaum yang "biasanya" memusuhi dan mencari kesalahan Yesus dengan penuh kekaguman menyapa Yesus sebagai "rabi" (guru besar). Bahkan, ia menyatakan kerinduan untuk ikut Yesus ke mana pun. Saat menanggapinya, Yesus seolah-olah berkata: "Sebelum mengikut Aku, sadarilah keputusanmu, sebab ada harga yang harus kaubayar."

Yesus tak ingin menggalang pengikut yang hanya terseret emosi sesaat. Semangatnya mudah berkobar, tetapi sebentar kemudian surut dan lenyap. Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib (Matius 10:38), lebih mengutamakan Dia di atas kepentingan sendiri dan keluarga (Lukas 14:26), dan membagikan harta bagi orang miskin (Matius 19:21). Sanggupkah Anda memikul konsekuensi dari keputusan mengikut Dia? Jangan ambil keputusan karena emosi atau ambisi. Ambillah keputusan karena Anda menyadari bahwa Dia yang memanggil maka Dia akan memampukan Anda untuk setia mengiring dan melayani-Nya --SST

IKUTLAH YESUS BUKAN UNTUK MENCARI BERKAT
TETAPI UNTUK MENJADI BERKAT

Sabda.org

23 November 2011

Kasih Karunia yang Menakjubkan

Pada masa tuanya, JOHN NEWTON seringkali menyebutkan dirinya sebagai “Orang Afrika penghujat Tuhan” dan memang itulah dia sebenarnya.

Ibunya adalah seorang Kristen yang saleh yang berusaha untuk membesarkan anaknya sesuai dengan Alkitab pada abad ke 18 di Inggris. Namun wanita itu meninggal pada saat John baru berusia 7 tahun. Dengan demikian, pendidikannya menjadi tanggung jawab ayahnya yang sering melakukan perjalanan di laut dan ibu tirinya ternyata tak dapat meneruskan pendidikan spiritualnya. Di dalam mengadakan perjalanan laut dengan ayahnya membuatnya jatuh hati terhadap laut, sehingga ia pada akhirnya menjadi seorang kapten kapal. Namun justru kehidupan di luar tugasnya sehari-hari itulah yang membuat kekaguman sejarah.

Ia gemar sekali melibatkan diri dalam pesta-pesta yang berkelebihan dan kotor serta suka sekali ikut menghujat dan mengutuk Tuhan yang memang merupakan kebiasaan dari kehidupan di kapal dan dermaga. Dan ia senang sekali mengejek mereka yang ingin hidup beda, serta berusaha keras menyeret mereka kepada jalan yang sedang ia tempuh.

Memang kadang kala ia rindu untuk kembali kepada pendidikan Ibunya pada masa kecilnya dan berusaha mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun setiap kali ia gagal dan ia kembali pada kehidupannya yang tak bernilai dan tanpa tujuan itu.

Bagian “Afrika”nya dari kehidupan John yang penuh dengan hujatan Tuhan adalah waktu ia menemukan dirinya terlibat di dalam perdagangan budak ketika ia masih muda.

Dalam perjalanan laut dari Afrika ke Inggris kapalnya hampir tenggelam karena diserang sebuah badai yang dahsyat. Ia menjadi begitu takut sehingga ia memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan, sambil membolak-balikan ayat-ayat Alkitab ketika kapalnya diombang-ambingkan dengan hebat di lautan Atlantik Utara.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, John di kemudian hari menganggap kejadian itu sebagai titik konversinya dari hidup spiritualnya. Seluruh kehidupannya berubah. Ia meninggalkan hidupnya yang penuh dengan hujatan dan kecerobohan walaupun ia masih tetap terlibat dalam perdagangan budak sampai beberapa tahun kemudian. Pada perjalanan laut ke Afrika kemudian, ia terpaksa mengakui kehidupan spiritualnya yang serba dangkal dan sekali lagi berseru kepada Tuhan untuk pengampunan demi kasih setia-Nya. Setelah kembali ke Inggris, John Newton mulai dipengaruhi oleh khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan seperti George Whitefield dan Charles Westley. Tak lama kemudian ia sama sekali meninggalkan perdagangan budak dan kehidupan lautnya.

Seandainya kita dapat mewawancarai John Newton pada suatu masa dari hidupnya ketika ia masih berumur belasan tahun – misalnya ketika ia dipukuli dan diperlakukan seperti seekor anjing, dipaksa harus makan dari lantai oleh isteri seorang pedagang budak di Afrika yang kejam dan membeli John sebagai budaknya – kemudian bertanya kepadanya, “John, apakah tujuan hidupmu?”, kukira ia tak mudah untuk menjawabnya dengan positif karena hidupnya yang penuh dengan hujatan Tuhannya dan hidup moralnya yang bobrok dan kosong.

Namun, bila kita menemuinya pada kemudian hari, yaitu di pertengahan dari abad ke-18, kita akan menemui seorang John Newton yang hidupnya dipenuhi dengan tujuan yang positif. Ia belajar sendiri bahasa Ibrani, Yunani, Syria dan teologia dalam waktunya yang senggang. Kemudian ia ditahbiskan, setelah menjadi murid dan mempraktekkan berkhotbah, sebagai seorang hamba Tuhan di Gereja Anglikan. Khotbah-khotbah dan nasihat-nasihatnya demikian berharganya, sehingga banyak hamba-hamba Tuhan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk mendengar John Newton berkhotbah atau meminta nasihatnya. Nasihatnya kepada William Willberfordlah, seorang anggota Parlemen, agar ia tetap berada di dalam Parlemen untuk memperjuangkan menghapuskan perbudakan sehingga akhirnya berhasil.

Dengan William Cowper, seorang penyair, Newton menerbitkan Olney Hymns pada tahun 1770, sejilid buku yang membuat banyak puji-pujian yang amat terkenal dalam sejarah Gereja. Lagu ciptaan John Newton “Amazing Grace” mungkin merupakan pujian yang paling terkenal dan disenangi oleh para orang percaya dan bukan orang percaya.

Adakah orang yang dapat menyangkal, bahwa hidup John Newton mempunyai tujuan yang mulia sejak ia meninggalkan keterlibatannya dalam perdagangan budak kemudian menyerahkan diri secara mutlak ke dalam Kristus dan menjadi hamba Tuhan? Juga pengarang puji-pujian, seorang penasihat untuk para pemimpin negara dan seorang teolog? Di manakah John Newton melintasi garis dari kehidupan yang tanpa tujuan dan kosong dan kemudian mempunyai kehidupan penuh dengan tujuan yang mulia? Dan di manakah Tuhan dalam proses ini? Apakah Tuhan mempunyai maksud bagi John Newton setelah ia meninggalkan kehidupannya di laut dan memilih kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan? Ataukah Tuhan sudah terlibat di dalam kehidupannya sebagai seorang Afrika penghujat Tuhan sejak dari mula?

Suatu cara yang baik untuk mempertimbangkan pertanyaan ini adalah dengan menggunakan John Newton sebagai contoh untuk direnungkan: Bagaimana John Newton, sebagai pengarang lagu ini dapat menulis:

Amazing grace! How sweet the sound,That saved a wretch like me!

I once was lost but now am found,

Was blind but now I see.

(Kasih karunia yang menakjubkan, betapa manis suaranya,

Telah menyelamatkan seorang celaka dan malang seperti diriku

Aku pernah hilang, namun kini aku diselamatkan

Pernah buta, namun kini aku bisa melihat)

Padahal sebelumnya, ia adalah penghujat Allah dan seorang pedagang budak?

Kemampuannya untuk menyelam dalam-dalam di lautan kasih karunia yang menakjubkan dari Tuhan, hal itu hanya dapat dilakukan karena sebelumnya ia telah menyelam di kedalaman dari dosa dan kehinaan.

Dr. Robert A. Schuller

Total Dan Tetap

Bacaan Setahun : Roma 13-16
Nats : TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan ... dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka (Keluaran 13:21)

Bacaan : Keluaran 13:17-22

Dalam buku pujian Kidung Jemaat, terdapat sebuah lagu berjudul Di Jalanku Ku Diiring. Sepenggal baitnya berbunyi demikian: Di jalanku, ku diiring oleh Yesus Tuhanku/Apakah yang kurang lagi jika Dia panduku?

Selepas dari negeri Mesir, umat Israel dibimbing sendiri oleh Allah, walau Tuhan tidak menuntun umat Israel melalui jalur terdekat ke Kanaan, yakni melewati negeri orang Filistin. Sebab, Tuhan mempertanyakan kesiapan mental Israel jika harus menghadapi peperangan dengan bangsa Filistin (ayat 17). Maka, Tuhan menuntun mereka melalui rute yang jauh lebih panjang, yakni memutar melalui padang gurun menuju Laut Teberau (ayat 18). Pilihan rute yang lebih jauh ini mungkin terasa aneh bagi umat Israel. Namun, ada rencana yang luar biasa di balik perjalanan panjang ini, yakni pendampingan total yang Tuhan nyatakan dan berikan bagi mereka. "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka ... Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu."

Kini, kita bisa makin mengerti kedalaman lirik lagu di atas: Apakah yang kurang lagi, jika Dia panduku? Kalau Tuhan yang menjadi pandu bagi hidup kita, berarti Dialah yang akan berjalan di depan setiap langkah kita. Maka, tentu Dia akan menunjukkan kepada kita jalan mana yang benar dan paling membawa damai sejahtera. Sudahkah Anda memercayakan jalan hidup Anda hari ini kepada-Nya? Pastikan Tuhan ada di setiap keputusan yang Anda ambil. Dia berjanji untuk membimbing Anda secara total dan tetap --DKL

ALLAH MAU TOTAL MEMBIMBING ORANG YANG MAU TOTAL DIBIMBING

Sabda.org