Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 November 2011

Keputusan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 8-10
Nats : Atau kausangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Matius 26:53)

Bacaan : Matius 26:47-56

Jika kita mengonsumsi makanan berlemak setiap hari dalam porsi besar, apa yang akan terjadi lima tahun mendatang? Timbunan lemak dan kolesterol. Jika kita mengisap dan menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari, apa yang akan terjadi dengan tubuh kita di tahun-tahun mendatang? Paru-paru kita akan rusak. Demikianlah, setiap hari kita membuat keputusan penting. Sebagian dari kita mungkin akan memilih kesenangan bagi diri sendiri saat ini, walau di masa depan ada akibat yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, ada juga keputusan yang kini terasa tidak nyaman, tetapi hasilnya baik di masa mendatang.

Malam itu, setelah perjamuan terakhir dengan para murid, merupakan waktu yang berat bagi Yesus. Sebenarnya Dia bisa membiarkan murid-murid melakukan perlawanan guna mencegah penangkapan-Nya (ayat 51). Dia juga bisa memerintahkan pasukan malaikat untuk melindungi dan melepaskan-Nya dari perjalanan menuju salib yang mengerikan. Akan tetapi, Dia memilih untuk taat kepada perintah Bapa-Nya melangkah menuju salib. Sebab, Dia sangat tahu keputusan-Nya ini akan berdampak bagi kehidupan manusia di masa mendatang.

Mungkin hari ini Tuhan membawa kita memasuki masa-masa yang paling sulit di hidup kita. Dan, kita mesti mengambil keputusan penting. Pertimbangkanlah dengan saksama. Keputusan yang membuat kita nyaman belum tentu berakhir indah dan memuliakan Allah. Pertimbangkanlah masak-masak, termasuk dampaknya di masa depan bagi kita maupun bagi orang-orang di sekeliling kita. Dan, apakah Allah dimuliakan melalui keputusan tersebut --PK

KEPUTUSAN KITA HARI INI BISA MENENTUKAN HIDUP KITA DI HARI ESOK

Sabda.org

25 November 2011

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil ketiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan di tempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan itu disia-siakan. Tetapi jangan pula terlalu sukar sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih.”

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi di mana meletakkannya? Malaikat pertama mengusulkan, “Letakkan di puncak gunung yang tinggi” Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, “Letakkan di dasar samudera.” Usul itu pun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tetapi di mana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari ke pantai, ada yang mencari di temat yang sunyi, ada yang mencari di tempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebalikkanya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan di puncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan di dasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita. Seringkali kita berkata, “akh... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI deelel.”
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

Menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapai semuanya itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke 7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting di sini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya..., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH......?

Uji Kelayakan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 4-7
Nats : Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku (Mazmur 139:23)

Bacaan : Mazmur 139:17-24

Kita tidak dapat menilai karya kita sendiri secara objektif. Itulah sebabnya, selalu dibutuhkan pihak yang independen dan tepercaya untuk menguji dan menilai. Sebagai contoh, makanan dan obat-obatan harus diuji kelayakannya untuk dikonsumsi, oleh BPOM. Sebuah laporan keuangan dapat dipercaya kelayakan penyajiannya setelah diperiksa oleh auditor independen. Di sini, kualitas dan integritas sang penguji sangat menentukan apakah hasil pengujiannya dapat dipercaya atau tidak.

Demikian pula dengan hati kita. Sesungguhnya kita tak dapat menilai hati kita sendiri. Kita mungkin berpendapat bahwa apa yang kita lakukan sudah memiliki motivasi yang benar. Akan tetapi, belum tentu itu terbukti benar di hadapan Tuhan. Pemazmur juga merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, walau demikian ia tetap meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikirannya. Semua ini didasari dengan kesadaran bahwa Tuhan itu Mahatahu Dia benar-benar mengetahui segala isi hati dan pikirannya. Dan, karena Tuhan adalah kebenaran maka semua penilaian Tuhan pasti benar. Lebih jauh, pemazmur juga menunjukkan hati yang mau diajar dan dituntun ke jalan yang benar.

Mungkin kita sudah merasa bahwa semua yang kita kerjakan telah kita lakukan dengan cara dan motivasi yang benar, bagi kemuliaan Tuhan. Namun, kerap kali kita tidak menyadari bila motivasi kita perlahan mulai berubah. Maka, kita perlu selalu terbuka di hadapan Tuhan. Mintalah Tuhan melihat hati kita yang terdalam. Dan, apa pun yang Tuhan singkapkan, biarlah kita memiliki hati yang mau ditegur dan mau dituntun ke jalan yang benar --VT

AGAR DAPAT HIDUP BERKENAN DI HADAPAN TUHAN
KITA HARUS SELALU TERBUKA UNTUK DIUJI DAN DITUNTUN TUHAN

Sabda.org

24 November 2011

Pengemis Suruhan Tuhan

James Glaymor, seorang misionaris di Mongolia, pada satu saat diminta untuk menangani beberapa prajurit yang terluka. Meskipun ia bukan seorang dokter, ia memiliki cukup pengetahuan medis dasar, sehingga ia tidak dapat menolak permohonan itu. Ia membalut luka-luka dari dua orang, namun orang yang ketika menderita patah tulang pinggul yang parah, Misionaris itu tidak tahu apa yang ia harus lakukan terhadap luka yang demikian itu.

Dengan berlutut di samping orang itu, ia berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menjawab doanya itu, namun ia yakin bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhannya. Ia tidak bisa menemukan buku-buku tentang phisiologi di rumah sakit yang sahaja itu dan tidak ada seorang dokter yang datang untuk membantunya. Keadaannya lebih parah lagi dengan kehadiran serombongan pengemis yang tiba untuk meminta sedekah. Ia sangat prihatin terhadap pasien itu, sedangkan hatinya pun disentuh oleh kehadiran orang-orang itu. Dengan terburu-buru ia memberikan kepada mereka hadiah-hadiah kecil ditambah dengan beberapa ucapan ramah untuk menghibur mereka.

Sesaat kemudian dengan rasa tak percaya ia memandang kepada seorang pengemis yang agak ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Orang sial itu yang sedang kelaparan tidak lebih dari pada sebuah kerangka hidup dibungkus kulit.

Misionaris itu sesaat sadar, bahwa Tuhan telah mengirim kepadanya sebuah pelajaran anatomi hidup! Ia bertanya kepada orang tua itu apakah ia diperkenankan untuk memeriksanya. Setelah ia dengan hati-hati mengikuti bentuk tulang paha dengan jari-jarinya untuk belajar bagaimana menangani patah tulang itu.

Beberapa tahun kemudian, Gilmour seringkali mengisahkan bagaimana Tuhan telah menjawab yang aneh namun sunguh efisien dan praktis doa-doanya yang tulus itu.
Bila kita mengajukan permohonan kita, kitapun mendapat kepastian bahwa Tuhan akan menolong kita – sekalipun jawaban-Nya kadang-kadang melalui mereka yang “tidak punya kekuatan”

“Our Daily Bread”

Konsekuensi Sebuah Keputusan

Bacaan Setahun : 1 Korintus 1-3
Nats : Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya (Matius 8:20)

Bacaan : Matius 8:18-22

Aktivitas paling menyenangkan di keluarga kami adalah perbincangan sebelum tidur malam. Suatu kali si bungsu menceritakan keinginannya menjelajah dunia mencari beasiswa untuk sekolah di banyak tempat dan berkarier di banyak negara. Saya memang bangga dengan prestasinya. Namun, saya mengingatkannya pada konsekuensi cita-cita itu: ia harus belajar dan bekerja lebih keras supaya dapat meraih beasiswa dan mampu bersaing dengan tenaga kerja terdidik lainnya.

Tampilnya Yesus dengan pengajaran yang berkharisma, dengan kuasa ilahi untuk menyembuhkan, serta kepribadian-Nya yang hangat, memesona begitu banyak orang. Lalu sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang ahli Taurat kaum yang "biasanya" memusuhi dan mencari kesalahan Yesus dengan penuh kekaguman menyapa Yesus sebagai "rabi" (guru besar). Bahkan, ia menyatakan kerinduan untuk ikut Yesus ke mana pun. Saat menanggapinya, Yesus seolah-olah berkata: "Sebelum mengikut Aku, sadarilah keputusanmu, sebab ada harga yang harus kaubayar."

Yesus tak ingin menggalang pengikut yang hanya terseret emosi sesaat. Semangatnya mudah berkobar, tetapi sebentar kemudian surut dan lenyap. Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib (Matius 10:38), lebih mengutamakan Dia di atas kepentingan sendiri dan keluarga (Lukas 14:26), dan membagikan harta bagi orang miskin (Matius 19:21). Sanggupkah Anda memikul konsekuensi dari keputusan mengikut Dia? Jangan ambil keputusan karena emosi atau ambisi. Ambillah keputusan karena Anda menyadari bahwa Dia yang memanggil maka Dia akan memampukan Anda untuk setia mengiring dan melayani-Nya --SST

IKUTLAH YESUS BUKAN UNTUK MENCARI BERKAT
TETAPI UNTUK MENJADI BERKAT

Sabda.org

23 November 2011

Kasih Karunia yang Menakjubkan

Pada masa tuanya, JOHN NEWTON seringkali menyebutkan dirinya sebagai “Orang Afrika penghujat Tuhan” dan memang itulah dia sebenarnya.

Ibunya adalah seorang Kristen yang saleh yang berusaha untuk membesarkan anaknya sesuai dengan Alkitab pada abad ke 18 di Inggris. Namun wanita itu meninggal pada saat John baru berusia 7 tahun. Dengan demikian, pendidikannya menjadi tanggung jawab ayahnya yang sering melakukan perjalanan di laut dan ibu tirinya ternyata tak dapat meneruskan pendidikan spiritualnya. Di dalam mengadakan perjalanan laut dengan ayahnya membuatnya jatuh hati terhadap laut, sehingga ia pada akhirnya menjadi seorang kapten kapal. Namun justru kehidupan di luar tugasnya sehari-hari itulah yang membuat kekaguman sejarah.

Ia gemar sekali melibatkan diri dalam pesta-pesta yang berkelebihan dan kotor serta suka sekali ikut menghujat dan mengutuk Tuhan yang memang merupakan kebiasaan dari kehidupan di kapal dan dermaga. Dan ia senang sekali mengejek mereka yang ingin hidup beda, serta berusaha keras menyeret mereka kepada jalan yang sedang ia tempuh.

Memang kadang kala ia rindu untuk kembali kepada pendidikan Ibunya pada masa kecilnya dan berusaha mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun setiap kali ia gagal dan ia kembali pada kehidupannya yang tak bernilai dan tanpa tujuan itu.

Bagian “Afrika”nya dari kehidupan John yang penuh dengan hujatan Tuhan adalah waktu ia menemukan dirinya terlibat di dalam perdagangan budak ketika ia masih muda.

Dalam perjalanan laut dari Afrika ke Inggris kapalnya hampir tenggelam karena diserang sebuah badai yang dahsyat. Ia menjadi begitu takut sehingga ia memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan, sambil membolak-balikan ayat-ayat Alkitab ketika kapalnya diombang-ambingkan dengan hebat di lautan Atlantik Utara.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, John di kemudian hari menganggap kejadian itu sebagai titik konversinya dari hidup spiritualnya. Seluruh kehidupannya berubah. Ia meninggalkan hidupnya yang penuh dengan hujatan dan kecerobohan walaupun ia masih tetap terlibat dalam perdagangan budak sampai beberapa tahun kemudian. Pada perjalanan laut ke Afrika kemudian, ia terpaksa mengakui kehidupan spiritualnya yang serba dangkal dan sekali lagi berseru kepada Tuhan untuk pengampunan demi kasih setia-Nya. Setelah kembali ke Inggris, John Newton mulai dipengaruhi oleh khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan seperti George Whitefield dan Charles Westley. Tak lama kemudian ia sama sekali meninggalkan perdagangan budak dan kehidupan lautnya.

Seandainya kita dapat mewawancarai John Newton pada suatu masa dari hidupnya ketika ia masih berumur belasan tahun – misalnya ketika ia dipukuli dan diperlakukan seperti seekor anjing, dipaksa harus makan dari lantai oleh isteri seorang pedagang budak di Afrika yang kejam dan membeli John sebagai budaknya – kemudian bertanya kepadanya, “John, apakah tujuan hidupmu?”, kukira ia tak mudah untuk menjawabnya dengan positif karena hidupnya yang penuh dengan hujatan Tuhannya dan hidup moralnya yang bobrok dan kosong.

Namun, bila kita menemuinya pada kemudian hari, yaitu di pertengahan dari abad ke-18, kita akan menemui seorang John Newton yang hidupnya dipenuhi dengan tujuan yang positif. Ia belajar sendiri bahasa Ibrani, Yunani, Syria dan teologia dalam waktunya yang senggang. Kemudian ia ditahbiskan, setelah menjadi murid dan mempraktekkan berkhotbah, sebagai seorang hamba Tuhan di Gereja Anglikan. Khotbah-khotbah dan nasihat-nasihatnya demikian berharganya, sehingga banyak hamba-hamba Tuhan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk mendengar John Newton berkhotbah atau meminta nasihatnya. Nasihatnya kepada William Willberfordlah, seorang anggota Parlemen, agar ia tetap berada di dalam Parlemen untuk memperjuangkan menghapuskan perbudakan sehingga akhirnya berhasil.

Dengan William Cowper, seorang penyair, Newton menerbitkan Olney Hymns pada tahun 1770, sejilid buku yang membuat banyak puji-pujian yang amat terkenal dalam sejarah Gereja. Lagu ciptaan John Newton “Amazing Grace” mungkin merupakan pujian yang paling terkenal dan disenangi oleh para orang percaya dan bukan orang percaya.

Adakah orang yang dapat menyangkal, bahwa hidup John Newton mempunyai tujuan yang mulia sejak ia meninggalkan keterlibatannya dalam perdagangan budak kemudian menyerahkan diri secara mutlak ke dalam Kristus dan menjadi hamba Tuhan? Juga pengarang puji-pujian, seorang penasihat untuk para pemimpin negara dan seorang teolog? Di manakah John Newton melintasi garis dari kehidupan yang tanpa tujuan dan kosong dan kemudian mempunyai kehidupan penuh dengan tujuan yang mulia? Dan di manakah Tuhan dalam proses ini? Apakah Tuhan mempunyai maksud bagi John Newton setelah ia meninggalkan kehidupannya di laut dan memilih kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan? Ataukah Tuhan sudah terlibat di dalam kehidupannya sebagai seorang Afrika penghujat Tuhan sejak dari mula?

Suatu cara yang baik untuk mempertimbangkan pertanyaan ini adalah dengan menggunakan John Newton sebagai contoh untuk direnungkan: Bagaimana John Newton, sebagai pengarang lagu ini dapat menulis:

Amazing grace! How sweet the sound,That saved a wretch like me!

I once was lost but now am found,

Was blind but now I see.

(Kasih karunia yang menakjubkan, betapa manis suaranya,

Telah menyelamatkan seorang celaka dan malang seperti diriku

Aku pernah hilang, namun kini aku diselamatkan

Pernah buta, namun kini aku bisa melihat)

Padahal sebelumnya, ia adalah penghujat Allah dan seorang pedagang budak?

Kemampuannya untuk menyelam dalam-dalam di lautan kasih karunia yang menakjubkan dari Tuhan, hal itu hanya dapat dilakukan karena sebelumnya ia telah menyelam di kedalaman dari dosa dan kehinaan.

Dr. Robert A. Schuller

Total Dan Tetap

Bacaan Setahun : Roma 13-16
Nats : TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan ... dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka (Keluaran 13:21)

Bacaan : Keluaran 13:17-22

Dalam buku pujian Kidung Jemaat, terdapat sebuah lagu berjudul Di Jalanku Ku Diiring. Sepenggal baitnya berbunyi demikian: Di jalanku, ku diiring oleh Yesus Tuhanku/Apakah yang kurang lagi jika Dia panduku?

Selepas dari negeri Mesir, umat Israel dibimbing sendiri oleh Allah, walau Tuhan tidak menuntun umat Israel melalui jalur terdekat ke Kanaan, yakni melewati negeri orang Filistin. Sebab, Tuhan mempertanyakan kesiapan mental Israel jika harus menghadapi peperangan dengan bangsa Filistin (ayat 17). Maka, Tuhan menuntun mereka melalui rute yang jauh lebih panjang, yakni memutar melalui padang gurun menuju Laut Teberau (ayat 18). Pilihan rute yang lebih jauh ini mungkin terasa aneh bagi umat Israel. Namun, ada rencana yang luar biasa di balik perjalanan panjang ini, yakni pendampingan total yang Tuhan nyatakan dan berikan bagi mereka. "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka ... Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu."

Kini, kita bisa makin mengerti kedalaman lirik lagu di atas: Apakah yang kurang lagi, jika Dia panduku? Kalau Tuhan yang menjadi pandu bagi hidup kita, berarti Dialah yang akan berjalan di depan setiap langkah kita. Maka, tentu Dia akan menunjukkan kepada kita jalan mana yang benar dan paling membawa damai sejahtera. Sudahkah Anda memercayakan jalan hidup Anda hari ini kepada-Nya? Pastikan Tuhan ada di setiap keputusan yang Anda ambil. Dia berjanji untuk membimbing Anda secara total dan tetap --DKL

ALLAH MAU TOTAL MEMBIMBING ORANG YANG MAU TOTAL DIBIMBING

Sabda.org

22 November 2011

Perjanjian Lama VS Perjanjian Baru

Bacaan Setahun : Roma 10-12
Nats : Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran (2 Korintus 3:9)

Bacaan : 2 Korintus 3:7-11

Yahudi begitu bangga memiliki Hukum Taurat yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Mereka juga bangga pada tokoh-tokohnya; seperti Musa dan Abraham. Peristiwa Musa turun dari Gunung Sinai, setelah menerima dua loh batu bertuliskan sepuluh hukum Taurat, sangat berkesan dan tidak akan mereka lupakan. Setelah menemui Tuhan, wajah Musa memancarkan kemuliaan-Nya. Bahkan, sampai ia turun dari Sinai, wajahnya tampak bersinar cemerlang. Akibatnya, orang Israel tak tahan melihatnya. Namun lambat laun, cahaya itu memudar.

Kisah ini dipakai Paulus untuk membandingkan kemuliaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paulus menyatakan bahwa Perjanjian Lama akan berakhir dengan penghukuman. Karena, Hukum Taurat berisi standar kebenaran yang tidak dapat dipenuhi oleh siapa pun maka pasti semua orang tidak akan luput dari dosa. Akan tetapi, Perjanjian Baru adalah pembenaran Allah bagi orang yang berdosa. Karena tuntutan Hukum Taurat itu telah dipenuhi secara sempurna oleh Tuhan Yesus. Betapa besar perbedaan antara penghukuman dan pembenaran!

Sampai sekarang, banyak orang masih berpikir bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan melakukan perbuatan baik. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah semata. Segala upaya manusia hanya akan menemui jalan buntu; hanya akan berakhir pada kegagalan dan hukuman Allah. Itulah sebabnya, kita yang sudah menerima anugerah penebusan Allah, perlu memiliki hati yang terbeban untuk mendoakan dan memberitakan jalan keselamatan yang merupakan anugerah Allah ini kepada orang lain --ENO

KESELAMATAN MANUSIA SEMATA KARENA ANUGERAH ALLAH
SEBARKAN AGAR SETIAP MANUSIA SEGERA MENGETAHUI HAL INI

Sabda.org

17 November 2011

Siapakah Andalanmu?

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 21-24
Nats : Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu (Lukas 12:31)

Bacaan : Lukas 12:13-34

Ketamakan dapat melanda siapa saja. Bukan hanya orang yang berkuasa, orang miskin dan tidak memiliki kuasa juga bisa salah menyikapi harta di hidupnya. Ketamakan orang yang berkuasa menimbulkan tindak korupsi, ketamakan orang miskin menghalalkan pencurian. Semua didasari oleh sikap mengandalkan harta, lebih dari mengandalkan Tuhan.

Berlawanan dengan sikap hidup demikian, Tuhan Yesus mengajar orang beriman supaya memercayai pemeliharaan Allah di hidupnya. Tantangan-Nya agar orang menjual segala milik dan memberikan sedekah adalah jawaban radikal supaya orang bisa terlepas dari belenggu harta yang menghalanginya untuk menemukan Kerajaan Allah. Ketamakan manusia yang menimbun harta, akan menyebabkan ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan kecemburuan sosial. Pesan ini tidak hanya berbicara pada zaman itu karena adanya ketimpangan sosial antara orang miskin yang tertindas oleh penjajah, dan kalangan orang kaya yang berkolusi dengan penguasa. Namun, juga berbicara untuk saat ini dan di negeri ini, di mana banyak terjadi kolusi antara para pemegang kuasa dan uang, untuk memperkaya diri.

Hidup yang mengandalkan Tuhan membuahkan sikap hidup mau berbagi. Sebaliknya, hidup yang mengandalkan harta membuat orang tamak dan mementingkan diri sendiri. Tuhan tahu kita memerlukan harta untuk hidup, tetapi harta itu sama sekali tak boleh menjadi andalan. Tuhan Yesus menghendaki agar kita mencari Kerajaan Allah lebih dulu, baru yang lain akan ditambahkan. Tuhan kita tak pernah ingkar janji. Maka, ketika kita mengandalkan pemeliharaan Tuhan, kita tak akan kecewa --ENO

KETAMAKAN ADALAH USAHA MEMPEROLEH BAGIAN HIDUP
YANG MERUSAK HIDUP ITU SENDIRI

Sabda.org

16 November 2011

Derita Membuka Mata

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 18-20
Nats : Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18)

Bacaan : Kisah Para Rasul 7:54-8:4

Dr. George Harley, seorang lulusan dari Universitas London, memberi hidupnya bagi pekerjaan Tuhan di Liberia, Afrika, dengan pengorbanan besar. Dalam lima tahun pertama, tidak ada seorang pun yang mau berobat dan ditolong dokter. Namun suatu hari, anak Dr. Harley meninggal dunia. Sang dokter yang begitu sedih membuat sendiri peti mati dan mengubur anak yang dicintainya. Melihat penderitaan sang dokter, masyarakat desa itu terkejut. Mereka heran bahwa orang kulit putih juga bisa menangis. Air mata sang dokter telah menyentuh hati mereka dan mengubah keadaan. Sebab bagi mereka, itulah tanda bahwa sang dokter memiliki kasih yang mendalam. Mulai dari saat itu, salah satu desa di Liberia disentuh dan dimenangkan bagi Kristus.

Mata rohani orang-orang juga terbuka ketika menyaksikan keberanian Stefanus menghadapi penghakiman massal, yang membuatnya terbunuh sebagai martir. Mereka heran mengapa Stefanus berani membela imannya sedemikian rupa. Itu membuktikan bahwa kepercayaan Stefanus jauh lebih unggul dibandingkan kepercayaan orang-orang lain. Bahkan, penderitaan Stefanus juga membuka mata batin, serta memacu semangat dan kehendak para pengikut Kristus untuk makin gencar dan berani menyebarkan Kabar Baik. Setelah penganiayaan Stefanus, anak-anak Tuhan makin tersebar bahkan sampai keluar dari Yerusalem.

Penderitaan Stefanus dan Dr Harvey, justru menjadi alat di tangan Tuhan untuk mendobrak kerasnya hati manusia. Bukan hanya mata batin para pengikut Kristus, melainkan juga mereka yang masih membutuhkan kasih Kristus --BL

BAHKAN PENDERITAAN ANAK-ANAK ALLAH
DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGENAPI RENCANA BESAR ALLAH

Sabda.org

15 November 2011

Bukan Remisi

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 15-17
Nats : Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! (Mazmur 51:3)

Bacaan : Mazmur 51:1-8

Seorang narapidana memperoleh remisi, antara lain karena ia dianggap berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Kebaikan membuahkan pengurangan hukuman. Anugerah Allah bekerja sebaliknya. Dia mencurahkan anugerah justru karena kita durhaka dan tidak mampu memperbaiki diri dengan kekuatan sendiri.

Daud sangat menyadari hal ini. Ketika berzina dengan Batsyeba, ia sedang berada di puncak kejayaan sebagai raja Israel. Bangsanya mengenalnya sejak ia menjadi pahlawan kecil yang secara mengejutkan menumbangkan raksasa Goliat. Selanjutnya ia memimpin pasukan Israel ke dalam berbagai kemenangan sehingga ia dielu-elukan oleh rakyat. Ketika akhirnya menjadi raja, ia juga mencatat prestasi mengesankan: mengembalikan tabut Allah yang dirampas bangsa Filistin ke Yerusalem, meraih sekian banyak kemenangan militer, dan menunjukkan kebaikan yang tulus kepada Mefiboset.

Namun, saat bertobat dari dosanya, ia tidak mengutip satu pun pencapaian itu sebagai senjata untuk "merayu" Allah agar mengurangi hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Menarik dicatat pula, ia hanya berseru, "ya Allah" bukan "ya Allahku". Ia menyadari betapa parah dosa merusak hubungannya dengan Allah. Maka, ia hanya meminta belas kasihan, kasih setia, dan rahmat Allah Yang Mahabaik. Kebaikannya selama ini tidak berguna untuk meringankan dosa; hanya anugerah Allah yang sanggup mengampuni dan menebusnya.

Anda bergumul dengan suatu pelanggaran, dan merasa harus melakukan perbuatan baik tertentu untuk menebusnya? Berhentilah bergumul seperti itu. Ikutilah teladan pertobatan Daud --ARS

DOSA TIDAK DAPAT DIRINGANKAN OLEH PERBUATAN BAIK
NAMUN DAPAT DIHAPUSKAN OLEH ANUGERAH ALLAH

Sabda.org