Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

11 November 2011

Pesan Yang Membesarkan Hati

“Hidup yang disirami dengan air mata tragedi dan penderitaan seringkali menjadi tanah yang subur untuk pertumbuhan spiritual.”

Seringkali agaknya hidup ini hanya terdiri dari hal-hal yang memprihatinkan. Kita semua pernah mengalami kekecewaan... kematian, penyakit, pengkhianatan, tragedi dan perasaan diri tidak berharga serta keputus asaan. Kadang-kadang, hidup ini begitu keras dan kejam sehingga seringkali kita cenderung untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri.

Aku hanya ingin mengulangi lagi... aku percaya bahwa kita di dunia ini diberi kesempatan untuk bertumbuh secara spiritual. Kita dapat mengalami banyak pertumbuhan pribadi justru karena semua penderitaan, keprihatinan dan kesukaran yang kita harus lalui selama hidup kita di dunia ini.

Ini adalah cara Tuhan untuk memurnikan kita supaya kita lebih memiliki belas kasihan, lebih peduli, lebih mengasihi dan lebih peka akan penderitaan orang lain. Betapapun, bagaimana kita dapat menyeka air mata orang lain, kalau kita tidak pernah menangis sendiri terlebih dahulu?

Kadang kala, kita menemukan diri kita di lembah penderitaan. Hal itu sering dirasakan, bahwa kita selalu dilanda keprihatinan, menderita sengsara dan menghadapi tantangan-tantangan. Namun kita harus berusaha untuk ingat bahwa pupuk yang membantu kita untuk “bertumbuh” justru berada di lembah dan tidak berada di puncak gunung.

Ketika kita berada di dalam ketakutan dan kebingungan, pada akhirnya kita menjadi lebih bijak sehingga kita bertumbuh lebih banyak dari pengalaman. Kita akan lebih mengerti tentang manusia dan kehidupan, menjadi lebih peka sehingga kita pun dapat menikmati hidup ini lebih banyak lagi setelah kita keluar dari saat-saat yang keras dan kejam.

Kita harus dapat mengalami kesedihan supaya kita dapat menghargai suka cita dalam arti yang sebenarnya. Hidup mempunyai cara untuk menyeimbangkan kesengsaraan dengan suka cita, kekecewaan dengan harapan, serta kekosongan dengan makna sejati.

pennyparker.com

Ada Saatnya Menyerah

Bacaan Setahun : Kisah Para Rasul 1-4
Nats : Beginilah firman TUHAN kepadaku: "Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!" (Yeremia 27:2)

Bacaan : Yeremia 27

Yos memukul tengkuk lelaki itu hingga pingsan. Ia terpaksa melakukannya karena pria itu terus meronta dan menyulitkan saat hendak ditolong dalam proses evakuasi di laut. Ketika ia dibuat tak berdaya, Yos bisa merangkul leher pria itu dan berenang membawanya ke pantai.

Bacaan hari ini secara mencengangkan menceritakan bahwa ada saat untuk menyerah, untuk menaklukkan diri kepada orang yang mungkin bukan sahabat kita, bahkan merupakan musuh yang akan mengambil hak kita. Tentu sepanjang hal itu dikehendaki Tuhan. Gandar kayu di tengkuk Yeremia adalah gambarannya. Yeremia diminta memberi tahu raja-raja tetangga bahwa seluruh negeri telah diserahkan ke tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan mereka harus takluk kepadanya agar tidak mati oleh pedang, kelaparan, penyakit. Ini pun berlaku bagi Yehuda yang saat itu diperintah Raja Zedekia. Ini perintah yang sulit dan tak menyenangkan untuk dilakukan, terutama oleh bangsa yang "tegar tengkuk".

Mungkin ada saat kita bertanya; mengapa Tuhan menaruh kita di posisi tidak berdaya, mengapa Tuhan seolah-olah melukai ego kita dan tidak membiarkan kita bangkit. Belajar dari kisah evakuasi laut yang dilakukan Yos, ada saatnya ketidakberdayaan itu membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang lebih besar. Sayangnya dalam lanjutan bacaan ini, kerajaan Yehuda tidak mau menyerah hingga mereka berakhir di ujung pedang dan pembuangan di Babel.

Kita mungkin diizinkan Tuhan untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Tuhan juga sedang tanpa daya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Tuhan, kita bisa belajar menyerah pada kehendak Tuhan tanpa takut dan ragu --SL

TUHAN TIDAK SEDANG TINGGAL DIAM SAAT DIA MEMINTA KITA UNTUK MENYERAH

Sabda.org

10 November 2011

Apa yang tidak kamu pikirkan, itulah yang Tuhan berikan

Menjadi guru bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Tidak! Bahkan saya tidak punya cita-cita apapun. Hanya ibulah yang mendorong kami anak-anaknya yang berjumlah 6 orang kelak harus dapat bekerja mencari nafkah sendiri, tidak bergantung pada suami. Ibuku seorang janda yang tidak mempunyai keahlian apapun, bahkan bekerja di sawah peninggalan ayah.

Kami hidup bergantung pada pensiun ayah yang kecil dan hasil sawah serta pekarangan. Itulah sebabnya Ibu menyuruh saya melanjutkan sekolah di SGA setelah saya selesai SMP karena biayanya lebih murah dari pada sekolah SAA dimana kakak saya bersekolah dan saya juga sudah diterima di sana.

Belajar 3 tahun di SGA saya jalani dengan hati yang senang dan nilai-nilai saya juga baik, tetapi saya tidak membayangkan akan menjadi guru. Pokoknya saya hanya senang bersekolah. sampai akhirnya saya lulus dan mendaftarkan ke perguruan tinggi di IKIP dan mengambil jurusan sejarah antropologi (SA) karena saya senang pelajaran sejarah. Masih teringat saat mendaftaran, ada mahasiswa petugas pendaftaran bertanya-tanya, ”Mbak, kok tidak masuk jurusan bahasa Inggris?”. Saya jawab, ”Tidak, saya tidak senang”. Padahal nilai bahasa Inggris saya 8, sedangkan nilai sejarah hanya 7.

Sampai akhirnya saya lulus tes dan diterima. Lalu masalahnya timbul, yaitu untuk bisa masuk harus membayar saat itu (tahun 1964) Rp 15.000,00. Itu jumlah yang banyak. Untuk biaya sekolah kakak, kami sudah menjual rumah, untuk biaya sekolah adik kami sudah menjual sebidang sawah dan untuk membelikan tanah yang ditempati kakak satunya lagi ayah sudah menjual sebidang sawah juga. Saya tidak tega bila keluarga mau menjual sawah lagi, di tambah dengan ingatan biaya hidup dan kuliah di kota, akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan studi di IKIP sejarah tersebut. Sungguh itu berat sekali rasanya. bertahun –tahun saya merasa sedih akan hal itu.lalu saya mendapat alternatif untuk melanjutkan sekolah di PGSLP dan mendapat ikatan dinas. Jadi biayanya ringan, bahkan saya dapat membantu meringankan beban ibu yang masih harus menghidupi 4 orang adik-adik saya.

Pertama-tama saya memilih jurusan bahasa Indonesia, karena saya suka sekali membaca buku-buku sastra. Waktu masih di SD dan SMP, waktu libur saya habiskan untuk mencari pinjaman buku-buku bacaan. Setelah 1 minggu di jurusan B Indonesia, saya merasa tidak betah suasananya. Kebetulan ada mahasiswa jurusan B Inggris yang juga tidak cocok di sana, jadilah kami bertukar jurusan. Walhasil, saya masuk jurusan B. Inggris dan belajar selama 2 tahun. Padahal dulu saya tidak mau masuk jurusan B. Inggris karena tidak senang. Tahun 1966 saya lulus dengan nilai yang baik dan kemudian diterima mengajar di sebuah SLTP negeri sebagai tenaga honorer. Saat itu transportasi belum semudah sekarang, saya harus naik kereta api atau bersepeda sejauh kurang lebih 20 km, lalu saya merasa capek dan kebetulan ada teman yang mengajar di sebuah SLTP Yayasan Kristen yang membutuhkan guru B. Inggris. Jadilah saya tinggalkan SLTP Negeri tadi yang sudah menyuruh saya mengumpulkan berkas – berkas pengangkatan pegawai negeri itu dan memulai mengajar di SLTP Yayasan Kristen di sebuah kota kecamatan sebagai guru tetap yayasan.

Bulan-bulan pertama mengajar, saya merasa sulit menyesuaikan diri dan keadaan keluarga kami yang tidak harmonis serta beban ekonomi yang berat membuat saya mengalami depresi dan tidak mempunyai keinginan apapun. Saya bahkan tidak masuk mengajar selama 3 bulan. Tetapi herannya, pimpinan sekolah dan pengurus yayasan tidak mengeluarkan saya, bahkan waktu saya masuk kembali gaji saya masih tetap diberikan. Saya berterima kasih sekali akan hal itu. Tetapi lagi-lagi saya mengalami depresi di tahun berikutnya. Kemudian setelah sembuh saya mengikuti katekisasi dan dibaptis pada 24 Desember 1968; itu terjadi 40 tahun yang lalu.

Kemudian kehidupan menjadi menyenangkan dan saya mengalami hari-hari mengajar di SLTP Kristen dengan penuh semangat. Sekolah mengalami kemajuan pesat dan menjadi sekolah favorit di kota kecamatan tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah mendirikan sekolah-sekolah negeri sehingga sekolah-sekolah swasta mengalami kemunduran. Disamping itu di dalam intern sekolah sendiri banyak terjadi intrik-intrik sehingga suasana belajar mengajar menjadi tidak menyenangkan. Suasana kekristenan tidak dapat dirasakan di sekolah. Dan saya berusaha mencari tempat bekerja yang lain. Tetapi semuanya sia-sia saja.

Saya sudah putus asa dan tidak mempunyai bayangan pindah kemana bila sekolah tutup. Tetapi lagi-lagi saya merasakan Tuhan bekerja untuk saya. SLTP Negeri di dekat meminta saya mengajar di sana dan itu adalah hal yang tidak menjadi aangan-angan saya karena SLTP tersebut menjadi saingan SLTP Kristen tempat saya mengajar. Jadilah saya pindah ke SLTP Negeri itu karena SLPT Kristen sudah tidak dapat dipertahankan lagi. “Apa yang tidak terpikirkan oleh saya, itulah yang Tuhan berikan”. Bertahun-tahun saya mencari tempat pindah mengajar tidak berhasil, tetapi Tuhan menyediakannya buat saya. Dan demikianlah saya menghabiskan hari-hari mengajar saya di SLTP Negeri tersebut dengan senang dan saya satu-satunya pengajar yang beragama Kristen di sekolah tersebut sehingga saya berpikir memang Tuhan menempatkan saya di sekolah tersebut dengan tujuan tertentu.

Kini saya sudah pensiun tetapi saya boleh merasa bersyukur karena banyak anak-anak SMP maupun SMA yang datang untuk les B. Inggris di rumah. Tuhan sendiri yang memilihkan apa yang harus saya pelajari sehingga semuanya itu berguna bagi kehidupan saya. Saya tidak perlu khawatir akan kehidupan saya, karena saya tahu Tuhan merencanakan yang terbaik untuk hidup saya.

Sukartinah Joko Susmono Hadi
GKJ Palihan
Kragon II, Palihan, Temon, Kulon Progo, Yogyakarta, 55654

Akhir Sebuah Kisah

Bacaan Setahun : Yohanes 19-21
Nats : Kemudian matilah ia pada waktu telah putih rambutnya, lanjut umurnya, penuh kekayaan dan kemuliaan, kemudian naik rajalah Salomo, anaknya, menggantikan dia (1 Tawarikh 29:28)

Bacaan : 1 Tawarikh 29:21-30

Semua kisah tentu ada akhirnya. Ada yang berakhir dengan bahagia, tetapi banyak juga yang berakhir sedih, bahkan tragis. Kalau kita diminta untuk memilih, tentu kita akan memilih kisah yang berakhir bahagia, apalagi kalau itu kisah hidup kita sendiri. Bahkan, ada gurauan bahwa kalau bisa kita mengalami masa kecil yang indah, masa muda yang nikmat dan bahagia, lalu di masa tua tinggal menikmati kekayaan dan menunggu masuk surga. Tentu ini tidak realistis.

Hidup Daud dapat dikatakan sukses. Ia sukses menjadi raja yang kaya raya dan penuh kemuliaan. Anaknya, Salomo raja yang akan terkenal karena hikmatnya akan menggantikannya sebagai raja. Daud, raja sekaligus prajurit sejati, wafat saat usianya sudah tua dan meninggalkan banyak kesan: karyanya, hikmatnya, kesalehannya, doa-doanya. Memang ada raja Israel lain yang lebih makmur dan lebih lama memerintah daripada Daud, tetapi tak ada raja yang lebih saleh darinya. Hingga ia bahkan dihubungkan dengan Mesias yang dijanjikan. Ya, Yesus bahkan juga disebut sebagai Anak Daud.

Ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, apakah yang kita ingin agar diingat orang-orang mengenai kita? Keberhasilan atau kegagalan kita? Apakah perjalanan hidup dan iman yang telah kita perjuangkan bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang kita tinggalkan? Kiranya bukan sekadar akhir bahagia yang kita inginkan terjadi di hidup kita, melainkan hidup yang telah selesai melaksanakan rancangan Allah bagi kita. Bahwa melalui hidup kita, banyak orang dapat merasakan kasih Tuhan. Melalui hidup kita, nama Kristus dimuliakan --ENO

HIDUP YANG SUKSES BUKAN SEKADAR MEMENUHI CITA-CITA PRIBADI
MELAINKAN JUGA MEMENUHI CITA-CITA TUHAN MENCIPTAKAN KITA

Sabda.org

09 November 2011

Kentucky Fried Chicken

Harlan dilahirkan pada tanggal 9 September 1890 dalam keadaan yang susah di suatu tempat yang sederhana di Henryville, Indiana. Ayahnya bekerja di tambang batu bara Kentucky untuk dapat menghidupi sebuah keluarga yang terdiri dari tujuh jiwa. Ketika Harlan berusia enam tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan pakaian. Dengan demikian Harlan yang adalah anak tertua mendapat tugas mengawasi adik-adiknya yang berjumlah lima orang dan memasakkan mereka.

Ketika ibunya menikah lagi Harlan ternyata tidak cocok dengan ayah tririnya sehingga ia memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia dua belas tahun. Selama dua puluh lima tahun setelah itu ia hidup dengan mencari pekerjaan lepas pekerjaan tanpa kenal lelah, juga pernah gagal berulang kali. Dengan bimbingan dan pendidikan yang sangat terbatas ia berusaha menghidupi dirinya sedapat mungkin. Ia pernah bekerja sebagai seorang pembantu petani, juga sebagai konduktor trem kota, pernah masuk dinas militer Amerika di Kuba. Ia pernah bekerja sebagai murid seorang pandai besi, seorang penjaja keliling barang-barang, seorang kapten di sebuah kapal tambang. Seorang agen asuransi dan pernah menjadi manajer dari perusahaan Standard Oil. Selain itu ia juga belajar ilmu hukum melalui korespondensi. Ditengah-tengah keberhasilannya mencari nafkah, ia menikah pada usia delapan belas tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan.

Kemudian ia menemukan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Pada tahun 1930 ditengah zaman krisis ia bekerja sebagai manajer di sebuah bengkel di Kentucky. Sebagai sambilannya ia buka warung makan. Ia jual bensin tetapi juga jual masakan dan sekaligus menjalankan kas register. Dan itu semua menjadi keberhasilannya. Mungkin inilah hasil dari pelatihannya di dapur ketika masih kanak-kanak saat ia harus mengawasi adik-adiknya dan memasakkan mereka. Apapun alasannya semua pelanggan di warung makannya menyukai ayam goreng buatan Harlan.

Kolonel Sanders mulai keliling Negara Amerika untuk mendemontrasikan kepada para pemilik restoran masakan ayam goreng dengan cara yang khas dan dengan citarasa yang agak pedas. Dengan harga lima sen untuk satu ekor ayam yang digorengnya, ia mengajarkan resep itu kepada setiap orang yang mau belajar dari dia. Dengan demikian konsep waralaba telah lahir sejak itu. Pada tahun 1952 waralaba yang pertama diberikan pertama kali kepada sebuah restoran di Utah. Ada seorang yang cerdik memberi gagasan agar masakan ayam goreng Sanders di beri nama “Kentucky Fried Chicken“ dengan logo seorang kolonel dengan seragam serba putih.

Ketika tahun 1955 di mana segala sesuatu kelihatannya berjalan lancar tiba-tiba ada pembangunan sebuah jalan raya antar Negara bagian yang melewati Kentucky bagian Timur sampai ke kota kecil Corbin. Sejak itu motel dan restoran milik kolonel Sanders terpaksa tutup untuk beberapa lama. Setelah peresmian jalan tersebut, ia menjual semua asetnya untuk melunasi hutang-hutangnya. Kolonel Sanders pada usia enam puluh dua tahun justru jatuh miskin akibat dari tergusurnya tempat restorannya.

Pada saat ia menerima cek dari Social Security untuk pertama kalinya sebesar $ 105, ia merasa terhina karena terdaftar sebagai orang miskin. Sejak itu ia bersumpah untuk tidak mau menyerah kalah. Ditemani oleh istri keduanya ia mengolah pelbagai macam bumbu untuk masakan ayam goreng lalu memasukkan dalam kantong-kantong untuk dijual. Ia berkeliling ke semua negeri dengan alat pressure-cooker-nya. Dalam waktu lima tahun sudah ada empat ratus rumah makan yang menjual ayam goreng dengan bumbu yang dibuatnya. Pada tahun 1964 sudah bertambah menjadi enam ratus gerai.

Pada tahun itu sang Kolonel berumur tujuh puluh lima tahun. Ada sekelompok investor menawar Kentucky sebesar dua juta US dolar untuk waralaba. Sang Kolonel setuju lalu menjualnya dengan catatan logo tetap dipertahankan. Perusahaan itu berganti tangan beberapa kali sejak 1964, namun sampai hari ini lebih dari satu milyar masakan KFC telah terjual di delapan puluh Negara setiap tahun
Sanders adalah orang yang telah menghabiskan sebagian hidupnya yang terbaik dengan tanpa kenal lelah menghadapi tantangan dan halangan. Ia berhasil mengatasinya dan mencapai sukses pada usianya yang ke enam puluh lima tahun.

Ada beberapa alasan mengapa kisah Harlan Sanders ini layak di hargai dan diceriterakan. Memang ini bukan kisah rohani di mana ada seorang yang bertobat lalu diselamatkan dalam usia lanjut.
Pertama, kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup ini memang berat, kejam dan sukar. Kita mungkin lupa akan kisah di Taman Eden, dimana Allah mengutuk bumi ini karena dosa Adam dan Hawa : “….. dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri…. akan menjadi makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah….. (Kej 3:17-19)

Kedua, hidup ini penuh dengan rintangan. Ini sedikit berbeda dengan “Keras”. Keras berarti sukar untuk dimulai; susah untuk mencari jalan yang benar. Harlan mengalami dalam hidupnya. Rintangan berarti setelah kita menemukan jalan akan ada lubang-lubang dan kesukaran-kesukaran yang tersembunyi, bahaya-bahaya yang mengancam di sepanjang perjalanan hidup kita. Bila kekerasan hidup mengakibatkan kelelahan, maka “rintangan“ mengakibatkan hilangnya harapan, bahkan putus asa.

Ketiga, yaitu tidak pernah terlambat. Harlan Sanders menemukan sukses ketika sudah berusia lanjut. Dengan demikian benarlah apa yang di katakan dalam Alkitab : ”Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal 6 : 7)

“Walking in Your own shoes”
Dr Robert A.Schuller.

Pengharapan

Bacaan Setahun : Yohanes 15-18
Nats : Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera (Roma 15:13)

Bacaan : Roma 15:1-13

Pada 5 Agustus 2010, tambang emas dan tembaga di Copiapo, Cile, runtuh. Sebanyak 33 penambang terperangkap. Regu penyelamat yang mencari mereka, nyaris putus asa. Namun, 17 hari kemudian, diketahui bahwa mereka masih hidup walau terperangkap di dalam tambang sedalam 700 meter. Dan, mereka harus sabar menanti hingga 7 minggu, sebelum mesin bor berhasil menembus lubang tempat mereka berlindung.

Ya, manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan, 4 hari tanpa minum, 4 menit tanpa bernapas. Namun, manusia tak mampu hidup bahkan selama 4 detik saja, jika ia tak punya semangat dan harapan. Itu sebabnya di tengah impitan dan tahap awal aniaya terhadap jemaat Roma, Paulus menasihati agar setiap orang percaya bergantung kepada Allah sumber pengharapan, sukacita, damai sejahtera. Di tengah tekanan sekalipun, Dia sanggup memberi kekuatan dan pengharapan (ayat 13). Maka, yang kuat dapat menolong yang lemah dan lelah. Dengan kerukunan yang demikian, orang-orang beriman itu memuliakan Allah (ayat 1-6).

Ketika dunia menganggap 33 penambang Cile itu pahlawan, dengan keras Henriques salah satu dari mereka menolaknya. Katanya, "Kita bukan pahlawan, dan jika ada pahlawan, itu adalah semangat yang diberikan Tuhan, yang membuat kami bertahan". Ternyata, semasa di dalam tambang ia membacakan sejumlah ayat Alkitab kepada teman-temannya, untuk menjaga semangat mereka.

Mari jalani hidup ini dengan penuh semangat. Apalagi untuk melakukan tugas sebagai saksi Kristus: memberkati dan menolong banyak orang di sekitar kita yang hidup dalam keputusasaan --SST

HIDUP DIBERI AGAR DIJALANI DENGAN PENUH ARTI
MAKA TUHAN MENYALAKAN SEMANGAT AGA KITA MENJADI BERKAT

Sabda.org

08 November 2011

Ya, Tuhan ...

Saat ini aku menemukan persimpangan di hadapanku.
Aku tidak tahu harus memilih yang mana.
Hatiku penuh keraguan, akalku sulit untuk berpikir jernih.
Jiwaku gelisah, aku tidak mau salah memilih.
Aku mau berseru kepada-Mu seperti pemazmur berdoa,
“Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh,
sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.”

Aku tahu, bahwa ketika aku berusaha memilih persimpangan
tanpa hikmat-Mu, aku akan keluar jalur.
Terima kasih karena ketika aku menjadi lemah
dan tersandung karena keraguan atau salah pertimbangan,
mujizat-Mu menolongku bangkit lagi dan terus melangkah.

Meskipun aku tidak dapat melihat ke mana sebenarnya tujuanku,
aku yakin bahwa Kau dapat dan akan memampukanku
untuk sampai ke tempat yang telah Engkau persiapkan bagiku.
Aku tidak boleh ragu terhadap kesetiaan dan kehendak-Mu.

Terima kasih Tuhan,
karena Kau mengajarku cara untuk
bergantung sepenuhnya kepada-Mu,
karena aku tahu di sana sudah tersedia
berkat yang terbesar bagiku.

Dalam nama Yesus aku berdoa,
Amin.

Berdiam Diri

Bacaan Setahun : Yohanes 11-14
Nats : Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah! (Mazmur 46:11)

Bacaan : Mazmur 46:1-12

Henry Weiss yang telah mengubah namanya menjadi Houdini, adalah ahli meloloskan diri dari berbagai perangkap: tali, pintu sel, borgol, dan sebagainya. Namun, suatu kali saat berada di penjara kecil bernama British Isles, ia kesulitan mengutak-ngatik kunci sel tersebut. Biasanya, dalam tiga puluh detik ia dapat membuka kunci sel, tetapi kali ini tidak. Ia pun lelah, frustrasi, dan putus asa. Maka, ia tak lagi berbuat apa-apa. Ia terdiam, lalu menyandarkan diri ke pintu. Anehnya, pintu itu segera terbuka sebab ternyata tidak terkunci! Ketika berdiam diri, ia justru menemukan penyelesaian masalahnya.

Ini mungkin peristiwa langka. Namun, ia mengingatkan kita bahwa dalam hidup yang penuh masalah ini, kita perlu punya waktu-waktu khusus untuk berdiam diri khususnya di kaki Tuhan. Berdiam diri membuat pikiran kita tenang, emosi kita terkendali, dan kita mendapat hikmat Tuhan untuk mengatasi masalah. Sayangnya, kerap kali kita tidak berdiam diri di kaki Tuhan saat masalah datang. Kita malah memikirkan sendiri masalah yang sedang kita hadapi, dan sibuk mencari cara untuk mengatasinya. Hasilnya, kita frustrasi dan putus asa.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Ketika melakukannya, pemazmur mengalami bagaimana Tuhan bertindak. Dan, ia bersaksi bahwa Allah itu "tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti" (ayat 2). Jalan keluar serta jawabannya barangkali di luar dugaan kita, bahkan sangat berbeda dengan cara-cara yang sudah kita bayangkan. Jika Dia terbukti dapat selalu menolong, mengapa kita menunda untuk duduk diam di kaki-Nya? --PK

TUHAN TAK PERNAH KEKURANGAN CARA UNTUK MENOLONG KITA
JADI MENGAPA KITA TIDAK MENGANDALKAN DIA?

Sabda.org

07 November 2011

Tuhan Menenun Kembali Kakiku Yang Hancur

Milka adalah seorang janda beranak tiga yang sehari-harinya berjualan minuman dan makanan sederhana di sebuah kantin sekolah. Sampai pada suatu hari, sebuah kejadian yang sangat mengenaskan menimpanya. Ia terlindas oleh sebuah bis hingga kedua kakinya hancur. Rusuknya pun patah sehingga menusuk paru-paru dan hatinya.

Kejadian itu seperti tidak terduga karena tiba-tiba sudah ada sebuah bis yang langsung melintas di depan matanya dan menabrak Milka sekelebat saja. Milka terpental dan saat itu dia tidak menyadari kalau sebenarnya tulang rusuknya menikam levernya, sehingga bagian dalam tubuhnya rusak. Milka terpental menyerempet ke arah tembok dan terpental masuk ke dalam kolong bis. Milka terseret dan terlempar sekitar 30 m ke depan.

"Kejadian itu hari Selasa, tanggal 6 Juni tahun 2006. Saat itu saya mau pergi doa ke gereja. Saat itu saya mau masuk ke terminal, saya jalan seperti biasa. Ketika itu sebenarnya perkiraan saya bis itu masih jauh, tapi tiba-tiba bis itu sudah di depan badan saya dan menyerempet saya. Di belakang saya ada pagar tembok, saya menempel di tembok, dan bus itu menyambar begitu kuat ke badan saya. Saya terjatuh di bawah kolong bus, dan saya terseret samp ai ke depan sekitar 30 m. Saya sempat bilang "Yesus!!", dan sekelebat kepala saya terhindar dari hantaman bis. Saya kira kalau tidak ditolong Tuhan pastilah kepala saya yang tersambar bis, mungkin sudah gegar otak dan bisa saja kepala saya hancur. Ternyata tulang belikat saya sudah putus namun saya tidak menyadarinya sama sekali. Saya masuk ke bawah kolong bis, terseret beberapa meter dan kaki saya tergilas oleh bis itu. Saat itu saya antara sadar dan tidak sadar, ya itu namanya kekuatan Tuhan. Saat itu saya masih bisa berbicara, saya masih bisa melihat keadaan kaki saya. Kondisi kaki yang tergilas itu sudah copot, hancur, daging terbelah dua, jadi dagingnya sudah lepas, jadi seperti terbuka kayak sandal, dan cuma menempel pada ujung jari," kisah Milka mengenai kejadian tragis yang dialaminya.

Kejadian itu spontan membuat semua orang yang melihat kejadian tersebut menjerit histeris. Mereka sudah mengira pastilah orang yang tertabrak itu meninggal. Ketika mereka melihat Milka yang terseret, mereka lebih shock karena daging kaki Milka sudah terlepas dan mengeluarkan banyak darah, ibaratnya tinggal menggantung di satu bagian sisi jarinya. Sungguh pemandangan yang mengenaskan.

Puji Tuhan ada orang yang iba dan membantu Milka dan segera membawanya ke rumah sakit. Milka langsung mendapat pertolongan di ruang UGD, dan saat itu dokter mengatakan harus diamputasi. Tapi Milka menolak hal itu dan percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan dia.

Pupung, adik Milka yang menerima kabar kecelakaan itu tidak dapat mempercayai nya. Pupung hanya berpikir, orang kecelakaan kok masih bisa menelepon? Melalui telepon itu Milka hanya mengatakan kalau dirinya sudah ditabrak bis dan diseret. Dengan menaiki ojek, Pupung pun segera pergi ke rumah sakit Pertamina, karena Pupung harus segera menandatangani surat ijin pengoperasian kaki Milka. Sesampainya di rumah sakit, Pupung hanya mendapati Milka yang sudah terbaring bersimbah darah di rumah sakit. Pupung benar-benar tidak habis pikir, bagaimana dengan kondisinya yang seperti itu, Milka masih bisa menelepon mengabari keadaannya kepada Pupung dan seorang kakaknya yang lain.

Waktu semakin mendesak dan Milka pun dipersiapkan untuk dioperasi. Namun sebelum itu, Milka sempat diperiksa sekali lagi oleh tim dokter yang menanganinya. Ternyata dari hasil pemeriksaan tersebut, Milka mengalami luka trauma lain yang tidak hanya membahayakan kakinya tapi juga nyawanya. Karena dokter curiga dengan pendarahan hebat yang dialaminya, ada kemungkinan rongga perut atau abdomen Milka juga mengalami luka yang cukup serius.

Kalau membayangkan kondisi Milka saat itu, kakinya bagaikan kaki monster. Benar-benar menyeramkan, sudah tidak ada kulitnya dan yang tampak hanya gumpalan-gumpalan daging merah saja.

"Secara teoritis, pilihan terapi terbaik adalah amputasi. Bu Milka ini menurut kita pasien yang sangat kooperatif, sangat baik, sangat pasrah menyerahkan hidupnya ke dokter dan juga ke Tuhan," ujar salah seorang tim dokter yang menangani Milka.

Melihat keadaan Milka, Pupung sangat sedih. Karena secara manusia, kondisi Milka sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Dokter sendiri hanya bisa menyarankan Pupung untuk mendoakan Milka. Karena hanya doa yang bisa menyelamatkan, karena dengan kondisi seperti ini, Milka seharusnya sudah meninggal dunia.

Operasi penyelamatan berhasil. Milka telah berhasil melewati masa krisisnya. Saat menjaga sang kakak, Pupung teringat akan mimpinya. Beberapa malam sebelumnya Pupung bermimpi ia sedang membasuh kaki seseorang sampai bersih, tapi Pupung tidak tahu kaki siapakah itu. Namun saat di ruang UGD,  Pupung yang sedang teringat mimpinya sadar bahwa di dalam mimpinya ia sedang membasuh kaki kakaknya sendiri.

Saat mengevaluasi kaki Milka, dokter menemukan sesuatu yang luar biasa. Ujung-ujung jari kaki Milka memerah. Tim dokterpun semakin optimis kalau memang kaki Milka masih bisa diselamatkan. Dan tuntunan Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Saat tagihan rumah sakit selama Milka dirawat di rumah sakit hampir mencap ai 120 juta, Pupung bingung darimana mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Namun Tuhan sudah mengatur semuanya. Ada sumbangan dari gereja 70 juta, dan keluarga juga menjual rumah sampai akhirnya seluruh biaya yang dibutuhkan dapat terlunasi. Pupung benar-benar tidak menyangka bagaimana uang sebanyak itu bisa Tuhan sediakan tepat pada waktunya. Pupung pun dikuatkan dan ia percaya apapun yang ia doakan mulai saat itu pasti akan terjadi sepanjang ia selalu dekat dengan Tuhan.

Iman Milka terbukti karena selama ini dia tetap mengucap syukur dalam segala kesakitan yang dia alami. Milka melewati 4 kali operasi, paru-parunya harus dilubangi karena terendam darah dan juga pemasangan pen.

"Tuhan yang saya rasakan itu memang luar biasa. Setiap hari jam 6 sore, dengan memak ai walkman, saya selau bernyanyi 'Semua Baik'. Samp ai kadang-kadang sakit di kaki yang menurut dokter bisa tak tertahankan, namun tidak saya rasakan," kisah Milka mengenang kejadian kecelakaan yang dialaminya.

Dari mukjizat yang terjadi, 2 tahun berlalu semenjak kecelakaan itu terjadi, Milka telah banyak mengalami kebaikan Tuhan. Terlebih lagi di saat ia dapat berjalan kembali dengan normal.

"Menurut kami berdasarkan pengalaman kedokteran kami selama 6 tahun di sini, kasus ibu Milka merupakan suatu hal yang fantastik. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana mekanismenya sampai bisa selamat seperti ini," ujar dokter yang menangani Milka.

"Itu suatu mukjizat. Karena kaki yang seharusnya dibuang, tetap dipertahankan. Jadi mukjizatnya ada dua, yang seharusnya mati tapi hidup dan hidupnya masih dengan kaki yang lengkap," ungkap dokter Nia yang juga menangani Milka.

Semua operasi yang dijalani Milka berhasil dan Milka benar-benar menyadari bahwa semua karena kebaikan dan campur tangan Tuhan dalam setiap kehidupannya. Milka tahu bahwa tanpa Tuhan tidak mungkin dia bisa kembali pulih melihat keadaan yang dideritanya akibat kecelakaan itu demikian parah. Sekarang Milka hanya bisa mengucap syukur terharu dan semakin bertekad untuk setia dalam mengikuti Tuhan karena kebaikan Tuhan sungguh nyata dalam hidupnya.

"Dia sangat luar biasa karena Dia sangat baik. Sampai saya bisa pulih lagi, saya bisa berjalan lagi. Dokter berkata kalau saya akan cacat, tapi Tuhan berkata tidak," ujar Milka haru penuh ucapan syukur. (Kisah ini sudah ditayangkan 31 Maret 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian : Lani Milka

Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Ikuti doa di bawah ini :

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebag ai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

Sadar Diri

Bacaan Setahun : Yohanes 8-10
Nats : Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, " dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1 Timotius 1:15)

Bacaan : 1 Timotius 1:12-17

Bila sangat terpukul ketika mengetahui bahwa dirinya ternyata adalah anak angkat dari orangtua yang mengasuhnya selama ini. Namun sejak itu, Mila lebih rajin membantu menjaga toko kedua orang-tuanya. Apalagi ketika Mila menikah dan memiliki anak. Ia makin menyadari betapa besarnya kasih orangtua angkatnya. Mereka telah membesarkannya dengan susah payah, dengan kasih yang sesungguhnya tidak layak ia terima. Demikianlah Mila makin lama makin mengasihi kedua orangtua angkatnya.

Kitab 1 Timotius ditulis oleh Paulus pada akhir hidupnya. Sejak pertobatannya, Paulus telah melakukan begitu banyak pelayanan mendirikan jemaat di berbagai daerah. Paulus telah menempuh begitu banyak bahaya dan penderitaan karena Injil. Dari semua pengalaman itu, Paulus menyatakan bahwa kerinduan terbesarnya adalah makin mengenal Tuhan yang ia layani. Maka, di akhir hidupnya Paulus tidak menjadi sombong, tetapi malah makin menyadari anugerah Tuhan yang begitu besar kepadanya. Bahkan, Paulus mengatakan, bahwa dialah orang yang paling berdosa. Mengapa? Karena makin orang mengenal Kristus, ia makin mengenal siapa dirinya, makin mengerti besarnya anugerah yang ia terima, dan makin memberi diri untuk kemuliaan Tuhan.

Ketika kita makin mendalami firman Tuhan, adakah kita makin mengenal siapa Allah yang kita sembah dan siapa kita sesungguhnya? Atau, jangan-jangan semua itu hanya menjadi pengetahuan yang mengisi otak, yang justru membuat kita tinggi hati? Bagaimanakah pengenalan akan Tuhan ini mempengaruhi sikap hati kita ketika melayani Tuhan? --VT

PENGENALAN AKAN TUHAN MEMAMPUKAN KITA BERCERMIN DIRI
DAN MENYADARI BESARNYA ANUGERAH TUHAN YANG DIBERI

Sabda.org

05 November 2011

Jendela

Sepasang orang muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan.

Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.

"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.

"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya, “Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira2 yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."

Dan begitulah kehidupan.  Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya.

TUHAN Memberkati