Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

05 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (III)

Oleh David Wilkerson

Di sini terdapat sebuah gambaran tentang rencana Iblis terhadap hamba Tuhan yang setia.

Dalam masa pencobaan dan penggodaan, Iblis datang kepada kita untuk menyampaikan dusta-dusta yang sama: “Sekarang kamu sudah dikepung dan tak ada jalan keluar.”

Hamba-hamba Tuhan yang lebih besar dari pada kamu telah menyerah dalam keadaan yang tidak lebih jelek daripada yang kamu sedang hadapi sekarang ini. Kini, giliranmu untuk menyerah. Kamu gagal total! Ada sesuatu yang tidak beres antara hubunganmu dengan Tuhan dan Tuhan amat tak berkenan terhadapmu.”

Di tengah-tengah pencobaannya, Hizkia mengakui ketidak berdayaannya. Raja menjadi sadar bahwa ia tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan suara-suara yang terus mengganggu dan mengamuk di dalam dirinya, suara-suara yang membuat ia berputus asa, mengancam dan penuh kebohongan.

Ia tahu bahwa ia tak dapat membebaskan diri sendiri dari pergumulan ini, sehingga ia mencari pertolongan dari Tuhan. Dan Tuhan menjawabnya dengan mengirim Yesaya kepada Hizkia dengan pesan, “Tuhan telah mendengar seruanmu. Kini, katakanlah kepada Iblis di pintu gerbangmu, “Kamulah yang akan jatuh. Seperti juga kamu datang ke sini, demikian pula kamu akan pergi.””

Hizkia hamper saja jatuh karena tipu muslihat musuh. Nyatanya adalah, bila kita melawan dusta Iblis – bila, dalam masa kritis ini kita tidak datang kepada Tuhan dalam iman dan doa, bila kita tidak menggunakan kekuatan yang datang dari janji Tuhan untuk membebaskan kita – Iblis akan menjatuhkan kita dalam kebimbangan akan iman kita dan memperhebat serangannya.

Hizkia mendapat keberanian dari pesan Tuhan yang ia telah terima dan ia dapat mengatakan kepada Semacherib dengan tegas, “Raja Iblis, kamu tidak menghujatku, melainkan kamu berdusta terhadap Tuhan sendiri. Tuhanku akan membebaskan aku dan karena kamu menghujat Tuhan, kamu menghadapi kutukan-Nya!”

Alkitab menyatakan bahwa dengan kekuatan supernatural telah membebaskan Hizkia dan Yuda di malam itu: “Maka pada malam itu keluarlah Malaikat Tuhan, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka!” (2Raj 19:35)

Sejak salib Kristus, anak-anak Tuhan bahkan memperoleh janji-janji yang jauh lebih baik daripada apa yang diterima oleh raja Hizkia

Di dalam buku-buku yang pertama dari Alkitab, Tuhan secara ajaib menyelamatkan Nuh, Lot, Daud, Hizkia, Daniel dan tiga orang anak Israel, Musa, Yosua, Israel, Yusuf dan banyak orang lainnya.
Mengenai anak-anak Tuhan sekarang ini, darah Kristus telah membebaskan kita dari dosa, kehancuran dan lain-lainnya. “Ia telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.” (Gal 1:4)
Orang-orang percaya pada masa kini tidak hanya berdiri di atas janji, melainkan juga atas darah yang dicurahkan oleh Yesus Kristus. Dan dalam darah itu kita memperoleh kemenangan atas setiap dosa, penggodaan dan peperangan yang kita selalu hadapi.

Mungkin anda telah menerima sepucuk surat dari Iblis. Aku bertanya kepadamu: Percayakah Anda bahwa Tuhan dapat mengetahui terlebih dahulu dan oleh karenanya mengantisipasi setiap pencobaanmu? Setiap tindakanmu yang bodoh? Setiap kebimbanganmu dan ketakutanmu? Jika memang demikian, anda mendapatkan contoh dari Daud di depanmu yang telah berdoa, “Orang yang sial ini menangis dan Tuhan telah melepaskannya.” Maukah Anda berbuat seperti itu?

Ingatlah, bila anda mau berdoa, bahkan dalam keheningan… bila anda menolak untuk menjadi takut akan serangan-serangan Iblis dan berlindung di dalam iman… maka Anda pada suatu hari akan bangun sebagai seorang pemenang.
Tuhan sendiri yang akan menghadapi musuh Anda dan Ia akan mengerjakan rencana-Nya untuk melepaskan Anda.

Selesai..

Mengapa Atau Siapa

Bacaan Setahun : Mikha 4-7

Nats : Perempuan yang Kautempatkan di sisi-Ku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan (Kejadian 3:12))

Bacaan : Kejadian 3:9-14

Ketika sesuatu berjalan tak seperti yang diharapkan, semuanya menjadi salah, atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami manusia adalah mencari seseorang yang bisa disalahkan. Bahkan sejak dari Taman Eden. Ketika dosa terjadi, Adam menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular. Apabila seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi di luar kekuasaannya.

Kita akan lebih cepat berkembang apabila tak punya kebiasaan melimpahkan kesalahan ke orang lain. Ketika Anda gagal, pikirkan mengapa Anda gagal, bukan siapa yang salah. Pandang situasi dengan objektif supaya lain kali kita bisa lebih baik. Bob Biehl menganjurkan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan: 1. Pelajaran apa yang saya petik?; 2. Apakah saya berterima kasih atas pengalaman ini?; 3. Siapa lagi yang telah gagal seperti ini sebelumnya, dan bagaimana orang itu bisa menolong saya?; 4. Apakah saya gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena diri sendiri?; 5. Apa saya benar-benar gagal, atau saya mengejar standar yang terlalu tinggi?

Orang yang menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka takkan pernah mengatasinya. Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Allah, kita harus terus memperbaiki diri. Kita tak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan kita dan belajar dari kesalahan. Bukankah Allah tak pernah menolak mengampuni saat kita bersalah? Mengapa kita tidak berani mengaku dengan jujur? --PK

SAAT ANDA BERBUAT KESALAHAN DAN GAGAL
TANYAKAN MENGAPA, BUKAN SIAPA

Sabda.org

04 October 2011

Karena Iman

Bacaan Setahun : Mikha 1-3
Nats : Karena iman, runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya (Ibrani 11:30)
Bacaan : Yosua 6:2-5
Alkitab kerap menegaskan kepada pembacanya bahwa jalan-jalan Allah "sungguh tak terselami" (Roma 11:33) oleh pikiran manusia. Kisah kejatuhan Yerikho (Yosua 6:2-5) adalah satu contohnya. Mengapa Allah tidak langsung saja meruntuhkan tembok kota itu dengan kekuatan-Nya yang dahsyat? Mengapa harus disuruh-Nya orang Israel mengelilingi kota itu sampai tujuh hari? Apa sulitnya Allah meruntuhkan Yerikho setelah dikelilingi bangsa Israel dalam satu hari saja?
Sebagai jawabannya, Ibrani 11:30 menyatakan bahwa waktu tujuh hari itu bersangkut paut dengan iman orang Israel. Artinya, Allah memang berkuasa menumbangkan Yerikho secepat Dia mau, tetapi Dia memutuskan untuk memberi jangka waktu yang agak panjang untuk melatih iman umat-Nya. Jadi, setiap kali orang Israel berjalan keliling dalam tujuh hari itu, tembok-tembok Yerikho yang masih berdiri kokoh menantang iman mereka: Benarkah Allah akan merobohkannya? Syukurlah mereka bersabar dan tidak undur. Tembok-tembok tebal akhirnya runtuh dan penulis Ibrani di kemudian hari dapat bersaksi bahwa itu terjadi "karena iman".
Saat ini, barangkali Allah tengah membuat Anda melewati waktu yang panjang untuk mencapai sebuah sasaran. Anda yakin Allah ingin Anda mencapai hal itu, tetapi Anda bertanya-tanya mengapa Anda harus melalui waktu yang demikian panjang. Kuatkan hati dengan becermin pada pengalaman bangsa Israel di Yerikho. Allah ingin Anda bersabar, berketetapan hati, dan tidak undur. Bertekunlah, agar pada waktu-Nya, Anda berhasil mencapai sasaran itu "karena iman" --SAT
WAKTU KERAP MENJADI GURU TERBAIK
YANG DIBERIKAN ALLAH UNTUK MELATIH IMAN KITA
Sabda.org

Tuhan Berjanji Membebaskanmu (II)

Oleh David Wilkerson

Rasul Petrus memberikan pengertian yang beda tentang pembebasan dari Tuhan.

Rasul Petrus menulis tentang dua kejadian yang merupakan musibah besar dari Alkitab: Nabi Nuh dan air bah serta penghancuran dari Sodom dan Gomora. Bila Anda memikirkan akan hal itu, bagaimanakah Anda menggambarkannya?

Yang pertama termasuk jeritan-jeritan yang menyeramkan dari mereka yang tenggelam, ketika Tuhan membalas kekerasan dari generasi Nuh. Ketika air bah yang mengerikan terus naik melampaui atap-atap rumah, pohon-pohon dan puncak bukit, orang-orang sedang berpegang teguh pada setangkai pohon, kayu terapung dan segala sesuatu, namun semuanya sia-sia.

Dalam pemandangan yang lain, kita hanya dapat membayangkan bagaimana api belerang yang dahsyat itu meluluh lantakkan dua buah kota.

Ketika penghakiman Tuhan yang amat dahsyat dijatuhkan, orang-orang menjerit dalam ketakutan ketika mereka mati bergelimpangan dalam jumlah yang besar.

Dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa kedua kejadian itu merupakan penghakiman dari Tuhan. Namun, merupakan kenyataan bahwa kedua musibah yang menyeramkan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan anak-anak Tuhan. Kalau begitu, apakah ini berarti bahwa musibah yang sungguh menakutkan itu merupakan penghukuman terhadap para orang berdosa? Yang benar adalah bahwa kejadian itu merupakan tanda-tanda contoh kepada umat manusia dalam setiap generasi disertai peringatan Tuhan. “Aku ingin memberitahukan kalian bahwa Aku akan memperlakukan dengan amat keras segala bentuk kejahatan dan dosa.”

Di dalam hal ini, rasul Petrus mengatakan, “Bila Tuhan tidak menyelamatkan dunia yang tua, namun sebaliknya menyelamatkan nabi Nuh… mengirim air bah melanda bumi dari manusia yang tak mengenal Tuhan; mengubah kota Sodom dan Gomora menjadi abu… sebagai contoh kepada mereka yang setelah kejadian itu, masih tetap ingin hidup tanpa Tuhan; dan menyelamatkan Lot… maka Tuhan tahu bagaiamana menyelamatkan mereka yang takut akan Tuhan dari semua penggodaan.”

03 October 2011

Tuhan Berjanji Membebaskanmu

Oleh David Wilkerson

Dalam suatu seremoni yang serba rahasia yang diciptakan oleh Tuhan, nabi Samuel mengurapi Daud menjadi raja dari Israel. Samuel mengatakan kepada anak muda yang takut akan Tuhan ini, “Kamu telah diurapi oleh Tuhan untuk memerintah bangsa ini” Namun, bagi Daud, hal ini merupakan jalan yang amat panjang sebelum ia mencapai tahta kerajaan.

Sebelum janji akan pengurapannya terwujud, hamba Tuhan yang penuh pengabdian dan setia ini akan menghadapi banyak pencobaan dan ujian.

Hanya beberapa waktu kemudian, kita melihat bagaimana Daud terburu-buru melalui bukit-bukit dan jalan-jalan untuk menghindari raja Saul.yang telah bersumpah untuk membunuhnya.

Betapa sahajalah bagi seorang yang takut dan setia terhadap Tuhan seperti Daud ini. Di sini kita melihat seorang hamba yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan baru saja diurapi, sedang berlari-lari untuk menyelamatkan nyawanya, diburu-buru, tanpa pertolongan, tanpa rumah dan seorang diri.

Pikiran Daud satu-satunya adalah, “Aku harus keluar dari negeri ini secapatnya. Bila tidak, aku akan mati.”

Ia berlari ke batas negeri yang terdekat, yaitu kota Gath di negeri Filistin, yang dikuasai oleh raja Abimelekh. Ketika ia mendekati benteng musuh itu, ia berusaha untuk melewatinya sebagai seorang pejalan yang biasa dengan harapan bahwa ia tidak akan dikenali. Namun penjaga-penjaga itu saling berbisik, “Bukankah orang itu Daud yang telah membunuh Goliath kita? Bukankah bangsa Israel memujinya dengan nyanyian bahwa ia mampu untuk membunuh sepuluh ribu orang Filistin? Kelihatannya kita sedang akan memperoleh hadiah yang besar. Biarlah kita menangkap dan membawanya ke istana dan mempersembahkannya kepada raja kita.”

Daud sadar bahwa jiwanya berada di dalam bahaya karena musuh mereka, orang Filistin akan menuduhnya sebagai seorang teroris. Kemungkinan besar ia akan dipukuli sampai mati dan akan dijadikan semacam pertunjukkan serta diarak dari kota yang satu ke kota yang lain. Alkitab mengungkapkan, “Daud…menjadi takut sekali terhadap raja Abimelekh” (1Sam 21:12)

A Living Dog Is Better Than A Dead Lion

Hari ini Firman Tuhan secara khusus memberi perhatian kepada dua jenis binatang yang sangat berlawanan dalam hidup masyarakat Yahudi di zaman Perjanjian Lama yaitu : Anjing dan singa. Pengkotbah 9:4 berbunyi, “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati. Ada perbedaan sangat besar antara dua hewan yang disebutkan dalam ayat ini. Bagi banyak orang di masa sekarang ini, anjing adalah :

  • Binatang peliharaan (pets) yang sangat akrab dengan manusia.
  • Binatang yang sangat bermanfaat bagi manusia : Menjaga rumah, menuntun orang buta, melacak narkoba yang tersembunyi, membantu dalam berburu, dsb.
  • Binatang yang bisa dijadikan sumber gizi yang lezat.

Bagi masyarakat Yahudi, anjing dipandang rendah sebagai hewan najis yang tidak berhak diberi penghargaan apapun. Sesuatu yang buruk dan hina selalu dikaitkan dengan anjing.

  • Goliath marah karena Daud memandang dirinya seperti anjing. (1 Samuel 17:43)
  • Para penyesat atau guru ajaran sesat disebut sebagai anjing (Filipi 3:2)
  • Orang non-Jews acap kali dihina dengan sebutan anjing (Matius 15:26)

Sebaliknya, singa dipandang sebagai hewan yang gagah, mulia dan patut mendapat penghargaan tinggi, lambang dari kududukan dan kekuasaan :

  • Orang benar dilambangkan bagaikan singa. (Amsal 28:1)
  • Singa muda menggeram gambaran Tuhan yang berperang. (Yesaya 31:4)
  • Yesus diberi predikat singa dari Yehuda. (Wahyu 5:5)

Perpaduan antara dua binatang yang sangat berlawanan dalam Pengkhotbah 9:4 memberikan sebuah pelajaran rohani yang sangat aktuil untuk kita semua yang hidup di akhir zaman. Kalau ayat ini diterjemahkan secara bebas untuk dunia modern sekarang ini, bunyinya adalah sbb :

  • Seorang tukang becak yang masih hidup lebih baik dari jendral bintang lima yang sudah mati.
  • Seorang pemuda buta huruf di desa terpencil lebih baik dari profesor terkenal yang mati.
  • Seorang pengemis yang masih hidup lebih baik dari konglomerat yang sudah jadi mayat.

02 October 2011

Dipanggil & Diutus

Bacaan Setahun : Yunus 1-4
Nats : Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus" (Keluaran 4:13)

Bacaan : Keluaran 3:1-4:17

Jika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani, dengan berbicara langsung dan memberi penglihatan, bagaimana kira-kira tanggapan orang itu? Mestinya, ia takkan ragu lagi mengorbankan hidupnya menjalani panggilan itu, meski penuh tantangan, bukan? Namun, lihatlah Musa. Secara ajaib Tuhan menampakkan diri di Gunung Horeb dan memanggil Musa untuk membebaskan Israel. Musa takut, gentar, dan terpesona ketika berhadapan dengan Tuhan (ayat 6). Namun, Musa menolak panggilan itu. Mengapa?

Pertama, Musa tidak yakin Israel masih mengenal Allahnya dan percaya Allah masih peduli. Kedua, Musa tak yakin Israel percaya ia berjumpa Allah yang mengutusnya. Ketiga, Musa tak yakin mampu memimpin Israel yang "tegar tengkuk". Perasaan tak mampu menghalanginya melihat kuasa Allah yang bisa bekerja melaluinya. Keempat, Musa tak ingin zona nyamannya kembali terusik demi membebaskan Israel yang tak tahu balas budi (lihat Keluaran 2:11-22). Namun, dengan sabar Tuhan meneguhkan panggilan-Nya; memberi kuasa kepada Musa untuk berkata-kata dan melakukan banyak mukjizat; bukti bahwa Tuhanlah yang mengutus dan menyertainya.

Apakah Anda sedang bergumul menjawab sebuah undangan pelayanan? Mungkin pelayanan itu menuntut pengorbanan waktu, tenaga, perasaan. Tak mendatangkan keuntungan materi, malah sebaliknya. Tak mendatangkan gengsi, sebab hanya memperhatikan mereka yang kecil dan terpinggirkan. Relakah Anda meresponsnya? Ingatlah bahwa Allah telah melayani Anda lebih dulu dengan memberikan Yesus Kristus mati di kayu salib menjadi tebusan bagi hidup Anda yang berdosa. Apakah balasan Anda kepada-Nya? --SST

TUHAN TELAH MEMBERIKAN SEGALANYA BAGI KITA
MAKA, APAKAH YANG PANTAS KITA TAHANKAN TERHADAP-NYA?

Sabda.org

01 October 2011

Memberi & Menerima

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan paradoks. Dan salah satu paradoks yang terbesar adalah bagaimana “Memberi” merupakan katalisator dari “Menerima”

Dengan lain kata, tindakan untuk Memberi, sebenarnya mengesahkan bahwa kita terbuka untuk Menerima.

Karena Memberi dan Menerima merupakan satu bagian yang sama dari suatu lingkaran yang lebih besar. Dan dalam lingkaran ini, kita secara alami akan Menerima lebih banyak dari apa yang kita pernah Memberi.

Adalah suatu kebenaran bahwa alam semesta ini selalu menyediakan untuk kita segala sesuatu yang berkelimpahan untuk dapat kita Berikan. Dan semakin hal itu menjadi suatu kegemaran dan suatu kebiasaan untuk Memberi, semakin besar kepastian bahwa kita akan Menerima.

Pernahkah setangkai bunga kekurangan cahaya surya untuk mengubah sinarnya menjadi segala sesuatu yang memberi hidup?

Pernahkah seekor lebah kekurangan serbuk sari untuk mengubahnya menjadi madu yang manis?

Namun, lebah tidak membawa serbuk sari dari bunga yang satu ke bunga yang lain dengan tujuan lain dari pada apa yang dilakukannya selama ini.

Dan bunga tidak memberikan serbuk sarinya kepada lebah ataupun bau harumnya kepada udara untuk tujuan yang lain pula.

Melainkan, baik lebah maupun bunga melakukan apa yang mereka sudah terbiasa dan wajar melakukannya, dan dengan demikian mereka menciptakan suatu ritme yang berkesinambungan.

Tegas Mendidik

Bacaan Setahun : Amos 5-7
Nats : Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17)

Bacaan : 1 Samuel 2:27-36; 3:12-14

Dalam sebuah acara pertemuan orangtua, kami membahas satu pertanyaan sederhana tetapi penting: Bolehkah kita menghukum anak? Hasilnya, kami mendapati beberapa prinsip penting ini: Mendidik anak mesti tegas, tetapi tidak harus sampai menghukum. Apabila kita menegur, tujuannya bukan menghukum, tetapi mengoreksi kesalahan. Jangan pernah menghukum anak untuk kesalahan yang tidak ia sengaja, atau jika ia tidak tahu apa kesalahannya. Jangan pernah menghukum anak jika kita sedang marah dan tak bisa mengendalikan diri.

Setelah mengoreksi anak, segeralah memeluknya. Katakan bahwa kita mengasihinya, lalu berdoa bersamanya. Latih anak untuk meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan.

Imam Eli mendapat hukuman yang berat karena sebagai orangtua, ia tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas. Eli membiarkan anak-anaknya memandang rendah korban sembelihan umat kepada Tuhan: "Mengapa engkau Eli, lebih menghormati anak-anakmu daripada menghormati Aku, dan membiarkan mereka menggemukkan dirinya dengan bagian yang terbaik dari setiap persembahan bangsa-Ku kepada-Ku? (2:29). Apalagi, "Eli mengetahui dosa-dosa mereka itu, tetapi mereka tidak dimarahinya" (3:13). Hofni dan Pinehas pun tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang ayah, yang adalah otoritas di atas mereka. Akibatnya, semua kena hukuman Tuhan baik Eli, juga anak-anaknya.

Tuhan memberi otoritas kepada orangtua untuk mendidik dengan ketegasan. Namun, tentu ketegasan yang berdasar kasih dan bertujuan. Yakni, untuk membesarkan anak yang bertanggung jawab atas hidupnya; kepada Tuhan dan sesama --AW

ANAK ADALAH AMANAT ALLAH
YANG DIBESARKAN UNTUK DAPAT MENYENANGKAN ALLAH

Sabda.org

30 September 2011

Lilin Vs Bintang

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin. Lilin itu berkata, " Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun  sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan,"

Seperti lilin, Kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, " Andai saja aku bisa memilih... "

Jangan pernah mengeluh,  Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam Rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang." - Ibrani 6 : 10

Tuhan Yesus Memberkati..

Suara Hati

Bacaan Setahun : Amos 1-4
Nats : Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12)

Bacaan : Amsal 14:10-16

Arl Weisman mewawancarai 1.036 orang yang telah bercerai untuk meneliti penyebabnya. Ternyata 80% menyatakan bahwa sebelum menikah, sudah muncul keraguan dalam hati mereka untuk bisa bertahan hidup bersama pasangannya. Ada yang terasa mengganjal di hati. Namun, perasaan itu ditutupi rasa optimis bahwa sesudah menikah semuanya akan berubah. Atau, sudah telanjur memastikan tanggal pernikahan. Weisman, dalam bukunya, Serious Doubts (Keraguan Serius) berkata: "Jika Anda sangat ragu menikahi seseorang, jangan nekat! Dengarkan suara hati agar jangan salah jalan."

Hati adalah pusat kehidupan batin. Tempat diolahnya perasaan dan pikiran terdalam. Dari hati muncul penilaian jujur pada diri sendiri. Suara hati membisikkannya kepada kita, terutama jika ada yang tak beres. Kita bisa saja mengabaikannya dan lebih menuruti apa kata orang. Namun, hati akan merana (ayat 10, 13). Orang bijak tak akan bertindak berdasarkan apa kata orang (ayat 15). Ia akan berhati-hati melangkah; peka mendengar suara hati. Ia tak akan ceroboh mengambil jalan yang disangka lurus. Ia tidak akan menjalaninya sebelum yakin bahwa jalan itu benar-benar lurus.

Salah jalan memang bukan akhir. Tuhan bisa membuat keputusan-keputusan keliru yang kita buat menjadi sesuatu yang berakhir baik. Anda, dengan pertolongan Tuhan, bisa kembali menempuh jalan yang benar. Namun, prosesnya menghabiskan waktu dan tenaga. Menguras pikiran dan perasaan. Anda akan mengalami kesusahan yang tak perlu terjadi. Jadi, sebelum mengambil keputusan penting, datanglah kepada Tuhan. Mintalah kepekaan untuk mendengar pimpinan-Nya, bahkan lewat suara hati Anda --JTI

SUARA HATI ADALAH SOBAT YANG PALING BERANI BICARA
IA BERANI BERKATA "TIDAk" SAAT SEMUANYA BERKATA "YA"

Sabda.org