Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 September 2011

Mengutamakan Keluarga

Nats : Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)

Bacaan : Efesus 5:22-33

Chris Spielman adalah pemain bola kenamaan di Liga Nasional Amerika. Publik selalu menantikan penampilannya. Suatu hari, menjelang dimulainya musim kompetisi, datang berita bahwa istrinya mengidap kanker. Spielman memutuskan untuk berhenti bermain demi bisa merawat istrinya. Banyak pihak kecewa. Namun, kepada wartawan ia berkata: "Aku berjanji pada Stephanie untuk menemaninya selama berobat. Berada di sisinya waktu kesakitan, dan merawat keempat anak kami." Ketika menjalani kemoterapi, rambut istrinya rontok. Lalu Spielman mencukur habis rambutnya sebagai tanda solidaritas. Setahun kemudian istrinya meninggal. Spielman bersyukur, bisa mendampingi istrinya sampai maut memisahkan mereka berdua.

Betapa indah kesaksian hidup pasangan yang bisa menjalankan perannya dengan baik. Dalam Efesus 5 dijelaskan apa peran suami maupun istri. Suami diminta merawat istri "seperti merawat tubuhnya sendiri". Ini tidak mudah. Butuh pengorbanan. Bagi Spielman, merawat istri berarti mengorbankan kariernya; mengorbankan peluang untuk memperoleh lebih banyak uang dan popularitas. Begitu pula, seorang istri perlu "tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan". Menundukkan diri butuh pengorbanan harga diri. Tunduk bukan berarti rela ditindas, melainkan belajar menghargai kepemimpinan suami.

Kapan suami istri bisa berkorban? Saat masing-masing mementingkan pasangannya lebih dari diri sendiri. Lebih dari yang lain. Relasi antara orangtua dan anak pun demikian. Saling berkorban hanya mungkin terjadi jika keluarga diutamakan. Diprioritaskan. Sudahkah Anda mengutamakan keluarga? --JTI

JIKA BANYAK HAL LAIN DIJADIKAN YANG UTAMA
ANDA TAK AKAN RELA BERKORBAN BAGI KELUARGA

Sabda.org

14 September 2011

Baru Jadi Sebagai Pengantin Baru Sudah Bertengkar

Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa, mereka mendapati sebuah rumah dengan pintu terbuka sedikit. Aha! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Rupanya di rumah ini baru saja ada pesta. Tak mau berlama-lama, mereka pun mulai bekerja: kado-kado yang ada di ruang tamu langsung mereka angkut. Dari ruang makan, peralatan masak dan makan yang masih baru-baru habis mereka gotong.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Siapakah mereka? Apakah mereka pemilik rumah? Saat pandangan mereka berkeliling, terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar, rupanya ini rumah pengantin baru. Karena berpacu dengan waktu, gerombolan itu pun beraksi tanpa memedulikan keduanya. Baju pengantin, kotak perhiasan, dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi: sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung, suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergembira merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba. Tetamu sudah pulang. Tinggallah kedua pengantin. Karena berpesta seharian, mereka kelelahan, memasuki kamar, lalu naik ke ranjang pengantin.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin malam. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia, "Sayang, pintu depan belum dikunci. Turun dong sebentar, tutup pintunya ya."

Tetapi istrinya menjawab, "Kamu ini gimana sih, aku kan capek juga, kamu aja yang turun."

"Kamu ini istri apaan sih? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani membantah. Brengsek! Emangnya kamu siapa, hah? Hayo, tutup pintunya!" balas si suami dengan suara tinggi.

09 September 2011

Apakah Engkau Siap Dipakai-NYA?

Ini ada sharing yang luar biasa dari salah satu sahabatku.. Semoga ini bisa jadi inspirasi yang lainnya ya.. :)

Ingat ga friend waktu kamu kecil. Ketika kamu masih ga berdaya dan apa yang kamu lakukan hanya bergantung dan bergantung sama orang tua kita? Apakah benar kita mengandalkan orang tua kita bukan?

Saya jadi teringat, kadang orang tua kita memberikan kita kesempatan untuk belajar ya?

Contohnya nih, ketika org tua kita tau kita ga bisa diatur, kita bersikeras memainkan sesuatu yg sebenarnya bisa sedikit membahayakan kita. Pernah dengar gak? Ada yang berkata gini, "Biarkan aja nanti pas dia jatuh, dia jadi tau sendiri, pasti kapok!" Ternyata ada benarnya juga ya..

Hal ini terjadi dalam keluarga saya, dimana anak saya yang berumur 2 tahun dengan seringnya memainkan dispenser, dan seringkali lantai rumah kami banyak genangan karena ulahnya. Untuk  Air panas bisa dilock, tetapi kami khawatir dengan akibat yang terjadi, bisa saja orang yang lewat kepeleset atau anak kami sendiri yang bisa terkena air panas ketika dia tidak sengaja membuka locknya.

Ada saat kami tidak mengunci lock air panas, dan seketika itu juga ketika anak saya memainkan dispenser tanpa pengawasan siapapun, air panas keluar dan itu mengenai tangan anak saya dan membuatnya menangis. Tetapi dengan kejadian ini, anak saya tidak pernah lagi menyentuh dispenser itu untuk dimainkan.

Pengalaman memberikan anak saya untuk belajar sesuatu dan menghindari yang membahayakan dirinya. Hal ini berlaku bagi kita yang lebih dewasa. Tuhan kita adalah "Bapa yang baik". Dia bahkan mengerti apa yang diinginkan hati kita bahkan yang terdalam. Bahkan ketika saya sedang berpikir, “Hmmm, saya ini pelayanan, pasti anak Tuhan donk? Tapi apakah saya berkenan bagi Tuhan?”

08 September 2011

Sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus

Sebenarnya sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus

Yesus SEDIKIT tidur Kita SEDIKIT-SEDIKIT tidur

Yesus SEDIKIT makan Kita SEDIKIT-SEDIKIT makan

Yesus SEDIKIT marah Kita SEDIKIT-SEDIKIT marah

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT memberi & menolong Kita SEDIKIT memberi & menolong

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT berkorban Kita SEDIKIT berkorban

Yesus SEDIKIT-SEDIKIT berdoa Kita SEDIKIT berdoa

Nah, bener kan kalo sifat kita beda SEDIKIT dengan Yesus?
v (^o^) v

07 September 2011

Keep Driving

A lady was driving along with her father.
They came upon a storm, and the young lady asked her father, What should I do?"

image001
He said "keep driving"..  Cars began to pull over to the side, the storm was getting worse. 

"What should I do." The young lady asked?

"Keep driving," her father replied.

On up a few feet, she noticed that eighteen wheelers were also pulling over.  She told her dad, "I must pull over, I can barely see ahead.  It is terrible, and everyone is pulling over!"

image002
Her father told her, "Don't give up, just keep driving!"
Now the storm was terrible, but she never stopped driving, and soon she could see a little more clearly. After a couple of miles she was again on dry land, and the sun came out.

image003
Her father said, "Now you can pull over and get out."

She said "But why now?" 

He said "When you get out, look back at all the people that gave up and are still in the storm, because you never gave up your storm is  now over. This is a testimony for anyone who is going through "hard times". Just because everyone else, even the strongest, gives up.

You don't have to...if you keep going, soon your storm will be over and the sun will shine upon your face again.

Feel free to pass it on to some people you know.
Tell them never give up, because GOD will never give up on them!

"I can do all things through Christ, who strengthens me!"

05 September 2011

Bekerja Dengan Semangat

Liburan telah selesai, kita kembali bekerja mulai hari ini dengan semangat untuk sukses :

  1. WAKE UP (bangun)  Tdk peduli berapa kali qta gagal, tp jika qta lbh banyak bangun & memulai lagi, qta akan sukses.
  2. DRESS UP (berhias) Kecantikan dr dlm jauh lebih penting drpd sekedar hiasan luar yg sementara. Miliki mentalitas berkelimpahan, hasil dr suatu harga diri & rasa aman yg dalam. Ini akan menghasilkan kesediaan utk berbagi pernghormatan, keuntungan, dan tanggung jawab.
  3. SHUT UP (berhenti bicara) Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu, sdh saatnya fokus'kan diri utk kesuksesan masa depan.
  4. STAND UP (berdiri) Berdirilah teguh pd keyakinan awal bahwa qta pasti berhasil.
  5. REACH UP (Capailah) Capailah sesuatu yg lebih tinggi dr prestasi sebelumnya krn itu menandakan bahwa qta memang bertumbuh.
  6. LIFT UP (Naik'kan) Naik'kan semua impian qta dlm bentuk doa ucapan syukur seakan2 semua telah terjadi... hari ini qta bisa sama2 belajar menanamkan semangat yang akan membantu qta mencapai sukses...

Selamat beraktivitas dgn smangat yg luar biasa.... !!!

26 August 2011

Lilin Kecil

Ada sebuah kisah tentang lilin kecil yang dibawa oleh seorg pria menaiki tangga yang cukup tinggi, menuju sebuah menara. Di dalam perjalanan mereka menaiki tangga tersebut, sililin kecil bertanya Kepada pria yang membawanya, "Kita hendak kemana?"

"Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberi petunjuk Kepada kapal-kapal besar di tengah lautan yang luas."

"Apa? Mana mungkin aku bisa memberi petunjuk Kepada kapal-kapal besar dengan cahayaku yang sangat kecil? Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku," jawab lilin kecil lemah.

"Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah. Yang harus engkau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku," jawab pria itu.

Tidak lama sampailah mereka di puncak menara dimana terdapat lampu yang sangat besar dgn kaca pemantul yang tersedia di belakangnya. Pria itu menyalakan lampu besar dengan memakai nyala lemah si lilin kecil. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar yang terang benderang sehingga kapal-kapal yang ada di tengah laut melihat cahayanya.

Dengan keberadaan dan keterbatasan kita, memang kita tidak akan sanggup melakukan sesuatu yang berarti. Tetapi satu hal yang harus anda ingat, bahwa hidup anda seumpama LILIN KECIL yang ada DI TANGAN ALLAH YANG PERKASA. Segala kemampuan dan keahlian anda hanya akan tetap seperti nyala lilin kecil jika anda tidak menaruh hidup anda di dalam tangan Allah untuk IA pakai menjadi alat-Nya yang mulia.

Beda Antara Rasa Suka, Cinta & Sayang

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.

Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih indah sedikit.

Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba tiba berdebar lebih cepat.

Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai, kata kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam.

Dihadapan orang yang kau sukai, kata kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkaupun akan ikut menangis disisinya.

Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.

Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta... ada perasaan yang lebih mendalam. Yaitu rasa sayang.... rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuat mu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi. Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia.. walaupun harus kehilangan."

22 August 2011

Apakah Anda Tuhan?

Di suatu desa yang sepi di Brasil, pada suatu malam yang sedang dilanda hujan lebat, ada seorang ibu yang akan melahirkan. Tapi di sampingnya hanya ada seorang bocah berumur 5 tahun mendampinginya.

Dalam keadaan darurat, nyonya ini menelepon ke kantor polisi. Tapi oleh karena badai hujan itu telah mengakibatkan banjir dan longsor, mobil ambulance dan regu penolong sudah berangkat semuanya, hanya tinggal seorang polisi penjaga pos saja yang tersisa. Polisi itu pun terpaksa menelepon ke rumah ketua organisasi massa lokal, dan memohon bantuannya.

Ketua organisasi itu segera menyanggupi, dan mengantarkan sendiri ibu itu ke rumah sakit. Persalinan si ibu berjalan dengan lancar, ibu dan anak selamat. Saat itu baru terpikir oleh sang ketua bahwa di rumah si ibu yang bersalin itu masih ada seorang bocah kecil, yang harus segera dijemput.

Dia lalu memakai HP nya menelepon ke salah seorang anggotanya yang paling tidak punya kepedulian dan juga merupakan orang terakhir yang masih belum ada tugas keluar, mengharapkan bantuannya untuk menolong bocah yang masih terperangkap.

“Orang terakhir ini” keluar dari dalam selimut hangatnya, dengan bermalas-malasan ia mengemudikan mobil menuju ke rumah bocah itu, di sepanjang perjalanan sambil bersiul ia juga mengutuk cuaca yang buruk itu.

Setelah mengalami berbagai macam rintangan, akhirnya ia dapat menemukan rumah bocah itu, dia menggendong bocah itu masuk ke dalam mobil.

Setelah masuk ke dalam mobil, bocah itu terus memandangi ‘orang terakhir’ ini, mendadak si bocah membuka mulut, “Tuan, apakah kamu Tuhan?”

‘Orang terakhir’ ini kebingungan, ibarat seorang yang kehilangan kepalanya sendiri, sambil berpikir mungkin bocah ini mendapat gangguan syaraf setelah mengalami ketakutan tadi. Setelah memuntahkan permen karet dari mulutnya dia kemudian bertanya kembali dengan agak tergagap, “Adik kecil, mengapa kamu katakan saya adalah Tuhan?”

Bocah lelaki itu berkata, “Ketika ibu saya baru akan keluar rumah, dia berpesan agar saya berani tinggal di rumah sendirian. Dia juga bilang bahwa saat inihanyalah Tuhan yang bisa menolong kita.” Mendengar perkataan ini, muka orang ini segera memerah dari wajah hingga ke ujung kakinya. Dia merasa malu sekali, dengan sebelah tangannya ia meraba-raba kepala anak ini, dengan nada penuh kasih dia berkata pada si bocah, “Saya bukan Tuhan, saya adalah temanmu!”

Sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari kelak dia akan menjadi Tuhan di mata orang lain. Dia mendadak merasakan bahwa ekspresi polos dari wajah bocah itu telah menyulut lampu hati yang ada di dalam dirinya --- yaitu lampu menuju kebaikan

Tuhan bisa hadir dalam diri kita untuk menolong orang lain, siapa dan seperti apapun keadaan kita hari ini. Dan pada saat itu kita akan merasa bahagia dan merasa hidup kita lebih berarti. Karena itulah hakekat hidup yang sebenarnya: Bertolong – tolongan!

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus - Galatia 6:2

21 August 2011

The Passion Of Jim Caviezel

clip_image002

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…

JIM CAVIEZEL adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum The Passion) adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line”. Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

clip_image002[6]“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.”

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

16 August 2011

Menari Ditengah Hujan

"PenyertaanMu sempurna, rancanganMu penuh damai, aman dan sejahtera walau ditengah badai”

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik kejam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?”

Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?”

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku.