Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. – 1 Tesalonika 5:11
Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. – 1 Tesalonika 5:11
Kolose 3:23 - "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 22; Matius 22; Kejadian 43-44
Sebagai seorang karyawan, pengusaha ataupun guru, masing-masing dari setiap kita pasti dituntut untuk melakukan pekerjaan dengan usaha yang terbaik yang kita miliki. Bagi sebagian orang Kristen, hal ini menjadi masalah karena menurut mereka pekerjaan sehari-hari bukanlah ibadah. Mereka menganggap bahwa aktivitas di gereja yang harus diutamakan sehingga disanalah mereka baru mengerahkan segala kemampuan dan keahlian mereka.
Apa yang dilakukan orang-orang ini sepertinya baik, tetapi justru mendukakan hati Allah. Alkitab tidak pernah menulis bahwa para pengikut Kristus bisa seenaknya dalam bekerja atau setengah-setengah ketika menjalankan suatu tugas entah itu dari manusia atau Allah sendiri yang memerintahkan. Justru, firman Tuhan secara gamblang mecatat bahwa apa yang menjadi pekerjaan kita baik yang dipertanggungjawabkan kepada pemimpin kita di dunia ini maupun kepada Raja di atas segala raja haruslah dilakukan dengan penuh totalitas.
Ketotalan yang Anda tunjukkan saat di kantor, gereja, maupun di rumah sekali pun sebenarnya adalah sebuah bentuk ungkapan kasih Anda kepada Allah. Jika Anda sungguh-sungguh mencintai-Nya maka tidak ada alasan untuk tidak memberi yang terbaik yang Anda miliki kepada dunia ini.
Keseriusan dalam menyelesaikan setiap tugas yang menjadi tanggungjawab Anda merupakan bukti seberapa dalam Anda mengasihi Tuhan.
Sumber: Jawaban.com
Belum habis para malaikat terkagum-kagum akan apa yang telah dibuatNya selama 5 hari sebelumnya, dan hari itu Allah mengambil keputusan, "Aku akan menciptakan yang laen daripada yang laen hari ini !" kataNya pada hari yang ke-enam.
Tiba-tiba Allah turun dari tahtaNya yang mulia dan berkilauan, Ia menginjakkan kakiNya di atas tanah yang berlumpur itu untuk pertama kalinya dan, dengan penuh kelembutan, Ia menggulung lengan jubahNya.
Berbisik-bisiklah para Malaikat satu dengan yang laen, penuh rasa ingin tahu apakah gerangan yang membuat Allah turun dari tahtaNya dan berdiri di atas lumpur itu. Lalu seorang malaikat memberanikan diri dan bertanya," Ya Allah Yang Mulia, Maha Penyayang dan Pengasih, apakah yang akan Kau buat hingga Kau merelakan kaki dan jari-jari tanganMu menyentuh lumpur yang kotor itu? Biarlah kami yang melalukan pekerjaan yang kotor ini sebab Engkau tidak layak untuk melakukan ini semua".
Tersenyumlah Allah dengan senyuman khasNya yang lembut, "Lihatlah, sebentar lagi pekerjaanKu akan selesai".
"Apakah yang akan Kau buat Tuanku?" tanya malaikat itu lagi. Allah menjawab, " Aku akan menciptakan karya yang terindah yang segambar dan serupa dengan diriKu."
Terbelalaklah mata malaikat itu, "Wah...begitu mulianya dan berharganya ciptaanMu ini. Mengapa Engkau mau menciptakannya?", tanyanya sambil menengadahkan kepalanya.
JawabNya," Akan ada kasih di hatinya bagiKu, akan ada pujian dari mulutnya, dan akan ada cinta yang sejati antara Aku dan dia. Bukankah itu indah? Pernahkah terlintas di pikiranmu akan hal ini, dicintai dan mencintai dengan cinta yang sejati ?".
Terkagumlah malaikat itu dan dengan mata yang berbinar-binar berkata, " Sangat indah ya Tuanku, sangat indah...Sungguh tak sekalipun hal ini terlintas di pikiranku. Pastilah ciptaan dariMu ini senantiasa akan menyenangkanMu, selalu patuh padaMu, tak pernah menyangkaliMu dan mengasihiMu sepanjang hidupnya...".
Sambil tersenyum Ia berkata, "Yang Kau katakan itu sangatlah indah, tetapi tidaklah demikian. Dia akan memiliki kebebasan dan dia akan memiliki pilihan untuk mengasihiKu atau tidak."
Semerta-merta raut muka malaikat itu berubah dan tenggelam dalam kebingungan yang tak terselami, "Dengan demikian mereka memiliki kesempatan untuk membuat diriMu sedih, ya Rajaku. Engkau terlalu baik untuk dikecewakan, tidakkah lebih baik untuk tidak menciptakannya atau mungkin menciptakan mereka dengan hati yang selalu mencintaiMu, tanpa pilihan yang lain?"
"Aku menginginkan cinta yang sejati, hambaKu. Dan cinta yang sejati bukanlah cinta yang memaksa tetapi cinta yang timbul dari segala macam pilihan yang ada".
Mengertilah malaikat itu dan berkata, "Jadilah kehendakMu ya Tuanku ! Kudus dan mulialah Engkau selamanya !".
Seketika itu juga, lumpur itu mulai menunjukkan bentuknya yang berstruktur sama dengan Allah dan akhirnya Ia berkata, " Kuhembuskan nafas kehidupan daripadaKu, jadilah engkau manusia !"
Amsal 29:19 - "Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya."
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 21; Matius 21; Kejadian 41-42
"Orang lebih dahulu dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat," Anda bisa mempercayai pernyataan ini atau tidak, tetapi itulah kenyataannya. Jika Anda saat ini memiliki anak maka Anda akan melihatnya. Tidak peduli apa yang Anda perintahkan supaya dilakukan oleh anak-anak Anda, kecenderungan alami mereka adalah mengikuti apa yang mereka lihat Anda kerjakan.
Bagi sebagian besar orang, jika mereka melihat bahwa Anda bersikap positif, dapat dipercaya, dan mempunyai kualitas-kualitas mengagumkan, mereka akan mencari Anda sebagai pengaruh dalam kehidupan mereka. Saat Anda bertemu dengan orang-orang yang belum mengenal Anda, pada mulanya Anda pasti belum mempunyai pengaruh pada mereka. Orang-orang ini belum bisa melihat kualitas yang Anda di dalam diri, namun hal itu tidak akan berlangsung lama.
Pada saat berinteraksi dan mereka melihat segala tindakan Anda yang membangun kehidupan mereka maka disitulah Anda mendapatkan kepercayaan. Kepercayaan inilah yang sebenarnya membuat Anda memiliki pengaruh terhadap orang-orang di sekitar Anda. Oleh karena itu, jagalah kepercayaan yang mereka berikan dengan cara hidup benar di hadapan Tuhan.
Keteladanan yang Anda tampilkan melalui perbuatan memiliki pengaruh sangat besar dibandingkan perkataan yang indah dan enak didengar.
Sumber: Leadership, Janji Tuhan untuk Setiap Hari; John C.Maxwell; Penerbit Immanuel
Pada suatu hari, Tuhan berjanji akan mengunjungi rumah seorang ibu. Ibu itu sangat bangga dan gembira. Ia mempersiapkan segalanya agar pantas menyambut Tuhan. Pekarangan rumahnya disapu dan perabot-perabotnya dibersihkan dan diatur sehingga tampak bersih dan indah. Setelah beres segalanya, ia duduk dan menunggu kedatangan Tuhan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ibu itu bergegas membukanya. Ternyata seorang pengemis berdiri di depan pintu.
"Oh, jangan hari ini. Jangan menggangguku. Aku sedang menunggu Tuhan yang akan mengunjungiku!"
Ia mengusir pengemis dan menutup pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu lagi. Ibu itu segera membuka pintu rumahnya. Tetapi siapa yang dijumpainya? Hanya seorang tua miskin yang minta bantuan.
"Maaf, saya tidak bisa menolongmu hari ini. Saya sedang menunggu Tuhan!" sahut ibu itu sambil menutup pintu dengan keras. Baru saja tertutup, pintu sudah diketuk lagi. Sekali lagi, ibu itu membukakannya. Seorang pengemis yang berpakaian compang-camping dan tampak kelaparan meminta makan dan tempat untuk meletakkan tubuhnya yang lelah.
"Oh, tidak bisa. Saya sedang menunggu Tuhan. Saya tidak bisa memberikan roti dan tempat kepadamu!"
Pengemis itu pergi. Ibu itu menunggu Tuhan lagi.
Berjam-jam lewat dan senja pun tiba. Belum juga ada tanda-tanda kehadiran Tuhan. Ibu tadi menjadi gelisah dan bertannya kepada dirinya sendiri, "Di manakah Tuhan yang berjanji akan mengunjungiku?"
Akhirnya, ia tertidur dan bermimpi. Tuhan mendatanginya dan berkata, "Aku sudah mendatangimu tiga kali dan tiga kali pula Aku kau tolak!"
Dalam bukunya "Blessings and Woes", Megam McKenna menceritakan seorang pemotret yang mengamati dunia lewat lensa kameranya, namun gagal membidik gambar yang terpenting dalam hidupnya. Diakhir tahun 1980'an Ekuador dilanda krisis ekonomi berat. Lalu, dalam proporsi besar sekali, terserang epidemi wabah kolera. Seakan masih kurang, bencana alam silih-berganti memporakporandakan desa-desa maupun kota-kota. PBB dan badan sosial Kristen lainnya meresponi dengan membawakan persediaan jagung, produk2 kedelai, susu, buah2an, tortilla (makanan dari tepung jagung), beras dan kacang2an.
Juru potret itu mengambil posisi di suatu jalan utama dimana orang-orang sakit, yang kelaparan, yang sudah letih lesu saling berbaris menunggu pembagian makanan. Ia sudah terlatih untuk mengawasi hal-hal kecil dan situasi umumnya yang sedang berkembang.
Ia tertarik pada seorang gadis -- kurus kering dan dekil, berusia sekitar 9 atau 10 tahun. Diamatinya, selagi gadis ini dengan sabar antri, matanya selalu tertuju pada tiga anak lain lagi yang saling erat berjongkok di bawah sebuah pohon besar, memayungi diri dan menghindar dari terik panas matahari. Dua bocah laki-laki, berumur 5 dan 7, saling menggandeng seorang gadis kecil sekitar 3 tahun. Karena perhatiannya teralihkan, gadis itu tidak melihat bahwa pekerja-pekerja sosial itu sedang kehabisan persediaan makanan. Jantung ahli potret itu berdetak keras. Kameranya juga sudah siap.
Setelah ber-jam2 terjemur di bawah matahari, gadis kecil itu akhirnya mendapatkan giliran dilayani. Yang ia terima cuma sebuah pisang. Tetapi, reaksinya begitu memukau dan seakan melumpuhkan tukang potret ini. Pertama, wajahnya menyala, bersinar dalam sebuah senyum begitu manis. Ia menerima pisang itu dan membungkuk pada pekerja sosialnya. Lalu cepat-cepat ia berlari menuju ketiga anak kecil di bawah pohon tadi. Dengan amat hati-hati ia menguliti, membaginya rata dalam 3 potong dan dengan hati-hati sekali, ditaruhnya masing-masing ke dalam tangan tiap anak. Bersama-sama mereka menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur! Lalu, perlahan2, mereka memakan potongan pisang, benar-benar menikmati setiap gigitannya, sedang gadis tertua itu mengisapi kulitnya.
Tukang potret itu terdiam seribu bahasa. Tak tertahan lagi, ia mulai menangis tersedu-sedu, lupa sama sekali akan semua kameranya dan akan tujuan utamanya ia hadir disana. Belakangan, setelah sadar kembali, ia bertutur, ketika sedang mengamati gadis itu, ia melihat wajah Allah bersinar. Ia sempat mengintip secuil kecil Kerajaan Allah dalam wajah dan tindakan-tindakan seorang gadis miskin jalanan yang begitu kaya dalam kemurahan hati, cinta kasih dan saling kepedulian.
Ia memang benar : itu memang wajah Allah yang dilihatnya di dalam diri gadis kecil itu yang "mematikan" kebutuhannya sendiri agar orang lain bisa dipuaskan dan hidup. Dan adalah wajah Allah yang kita lihat dalam diri Yesus yang berlutut di lantai, mencuci segala tanah dan kotoran yang melekat di kaki para muridNya, dan membasuh dengan tanganNya sendiri. (JM)
~ Excerpted from Sambuhay by Society of St. Paul The God We Encounter at the Super Table (orig. title). Shared by Joe Gatuslao -- Philippines
Mazmur 91:1-3 - "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk."
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 19; Matius 19; Kejadian 37-38
Seorang teman pernah berkata kepada saya, "hidup dalam ketakutan adalah wajar karena kita ini manusia yang tidak dapat melihat ke masa depan". Jujur, awalnya saya percaya akan apa yang ia sampaikan tersebut, tetapi itu mulai berubah ketika saya membaca Alkitab dan menemukan bahwa sebenarnya manusia dapat keluar dari ketakutan-ketakutan mereka.
Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa perlindungan Allah adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk keluar dari rasa takut. Tidak ada satu pun yang dapat melakukannya. Hanya Dia-lah yang mampu membuat hidup kita menjadi tenang di dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, janji ini tidak dapat dinikmati oleh semua orang.
Hanya orang-orang yang tinggal di dalam Tuhan saja yang dapat menerimanya. Tinggal berarti menghuni dan terus menetap. Bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa ialah hidup dalam persatuan yang berkesinambungan dengan Dia, memelihara firman-Nya dan mematuhi suara-Nya. Mereka yang tinggal di dalam Tuhan dapat hidup tanpa rasa takut terhadap tindakan yang akan dilakukan iblis.
Janji perlindungan Tuhan tidak menjamin bahwa iblis takkan mengganggu Anda, tetapi itu akan memberi Anda jalan keluar setiap iblis muncul di hadapan Anda.
Jika hari-hari ini Anda merasa takut akan bahaya di sekitar, luangkanlah lebih banyak waktu membaca firman dan berdoa sampai iman Anda kepada Tuhan mengatasi ketakutan Anda. Ingatlah bahwa betapa pun berbahaya dunia ini ke depannya, Dia pasti akan membebaskan Anda!
Hidup yang kita jalani di dunia ini akan terasa nyaman bila bersama dengan Yesus.
Sumber: Dari Iman ke Iman; Kenneth & Gloria Copeland; Penerbit Immanuel
AKIBAT TERTAWA
1x tertawa sakit kepala hilang
2x tertawa bencipun sirna
3x tertawa masalah lari
4x tertawa penyakit sembuh
5x tertawa jadi awet muda
6x tertawa hati penuh sukacita
Bila kita tertawa maka di dalam tubuh kita akan terbentuk hormon endorphin yang berfungsi untuk membuat otot menjadi rileks, sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi meningkat dan kadar Oksigen dalam darah juga naik.
Jadi memang benar bahwa tertawa itu menyehatkan dan merupakan salah satu dokter terbaik di dunia, yaitu dokter Gembira.
Kita dapat tertawa karena pikiran kita dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan, tidak ada beban lagi yang menakutkan dan membatasi kita, semuanya menjadi bebas lepas.
Dan bila emosi kegembiraan itu kita lepaskan dalam bentuk tawa, maka dampaknya luar biasa karena dapat membuat sakit kepala menjadi hilang, rasa benci pun menjadi sirna, masalah yang sedang kita hadapi lari menyingkir, segala penyakit menjadi sembuh, kita tetap awet muda, dan juga mendapatkan hati yang penuh sukacita.
Karena itu tertawalah atau tersenyumlah pada semua orang, termasuk juga pada orang-orang yang telah menyakiti kita.
Hal ini jelas akan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain, menjadikan suasana gembira, membuat hidup kita bergairah kembali sehingga semuanya dapat kita jalani dengan penuh semangat.
------------------------
AKIBAT MARAH:
1x marah sukacita hilang
2x marah akal sehat terbang
3x marah tekanan darah naik
4x marah teman2 pergi
5x marah jadi cepat tua
6x marah pintu dosa terbuka
Marah merupakan suatu bentuk emosi manusia yang dapat menghancurkan diri sendiri.
Apakah kita tidak boleh marah? Tentu saja boleh, asal pada tempatnya.
Kita berhak marah bila melihat ada hal-hal yang tidak benar, misalnya kita perlu marah terhadap orang-orang yang mengumbar emosinya dengan melempari dan membakar Gereja St Albertus di Bekasi beberapa hari yang lalu.
Kemarahan tersebut perlu dikeluarkan, bila tidak malah akan merusak diri kita juga, tetapi tentu saja secara positip, misalnya untuk para pelempar dan pembakar Gereja tersebut melalui jalan hukum.
Tetapi banyak juga rasa marah yang negatip, yaitu hanya untuk meluapkan nafsu dan emosi yang ada hanya untuk kepuasan diri sendiri.
Yang penting saya senang, saya suka, dan saya menang, tidak peduli dengan orang lain.
Marah negatip inilah yang ada dalam diri orang-orang yang melempari dan membakar Gereja.
Pikiran mereka hanya dipenuhi oleh ‘aku’ !
Marilah kita buang rasa marah yang negatip, karena dapat menimbulkan berbagai efek yang menghancurkan dan merugikan diri kita sendiri, misalnya hilangnya sukacita, terbangnya akal sehat, naiknya tekanan darah, ditinggal teman, menjadi cepat tua, dan membuka pintu dosa. Bahkan dikatakan bila tujuh kali kita marah, maka kita sendiri yang menjadi gila, malah kalau sembilan kali marah maka lengkaplah menjadi suatu novena marah yang menghasilkan voucher masuk neraka ...
(Ketarangan : Novena adalah suatu bentuk doa Katolik yang dilakukan sebanyak sembilan kali).
Marilah kita kuasai diri kita sehingga keinginan marah yang negatip dapat diredam dan dialihkan menjadi hal yang positip dan bermanfaat bagi semua orang. Amin.
Selama ini orang beranggapan bahwa pernyataan cinta harus meluncur pertama dari bibir kaum pria. Katanya, kini jamannya sudah berubah, ada banyak pria yang karena sesuatu hal tidak berani mengungkapkan perasaan hatinya kepada wanita yang dia cintai, sehingga perempuanlah yang harus mengambil peran untuk “menembak” duluan. Benarkah?
Saat topik ini dilempar kepada pendengar beberapa waktu lalu, ada banyak pendapat dan komentar kepada kami baik melalui sms ataupun facebook, sebagian berkata dengan keras, “Tidak boleh! Wanita harus jaga image, harus menunggu reaksi dari sang pria”. Tapi tidak sedikit pula yang berkata boleh, kenapa tidak… Bagaimana dia bisa tau perasaan kita kalau kita tidak menyampaikannya, urusan diterima atau ditolak itu nanti… Tergantung, fleksibel, harus pakai hikmat, main cantik dan masih banyak lagi. Ada yang berkata tidak sesuai Firman Tuhan, tapi ada juga yang berkata tidak ada aturan buku tertulis di dalam Alkitab. Wahh… bingung juga ya… :)
Sementara yang betul-betul tidak tahu dan menanyakan apakah boleh atau tidak “seperti itu” juga tidak kalah banyak…
Cinta merupakan sebuah proses antara dua hati (lelaki dan perempuan) yang membuatnya menjadi satu. Tanpa ungkapan cinta maka kedua hati ini tidak dapat bersatu, kata seorang psikolog Dr. Clara Istiwidarum. Menurutnya ungkapan cinta begitu membahagiakan dan begitu ditunggu-tunggu banyak orang. Dulu kaum lelaki yang dominan mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yang dipujanya tetapi dengan perubahan jaman yang ada, sekarang banyak perempuan yang berinisiatif lebih dulu menyatakan perasaannya.
Ms Indra, seorang teman yang sempat saya hubungi untuk dimintai komentarnya tentang topik ini berkata, “No problem kalau wanita nembak duluan, sangat membantu katanya. Seringkali salah satu ketakutan pria tidak berani ngomong duluan adalah takut ditolak, karena perlu diketahui, gengsi pria itu besar sekali…”
Sementara itu, hal mengejutkan disampaikan oleh Ibu Ester yang menjadi Narasumber acara ini. Beliau menyampaikan, “Memang budaya timur dimana saat ini kita ada, mengisyaratkan bahwa tidaklah baik wanita menyatakan perasaannya duluan kepada pria yang dicintainya.” Namun satu hari sebelumnya saat saya sampaikan topik ini kepada beliau, ditunjukkan padanya satu bagian Firman dari Kitab Ruth 3:1-18 yang kemudian dibagikan kepada keluarga Rhema pada acara itu. Dikatakan disana :
Kesimpulan yang Ibu Ester ambil tentang pertanyaan “Wanita nembak duluan?” adalah keduanya bisa dikatakan benar, asalkan sesuai dengan porsi dan petunjuk TUHAN. Saat itu Ruth ada dalam otoritas Naomi dan i a mendengarkan serta melakukan semua yang Naomi instruksikan, untuk menghampiri Boas telebih dahulu termasuk akhirnya diminta untuk meminta Boas sebagai Penanggungnya, tetapi menurut dengan Naomi.
Begitu pula dengan para wanita, betapa pentingnya kita duduk diam mendengarkan TUHAN berbicara. Disamping itu apa yang dialami oleh seorang hamba Tuhan bernama Glory Bachman, yang juga oleh karena perintah Tuhan, dia harus menyampaikan lebih dahulu isi hatinya kepada seorang Pria pada waktu itu yang sekarang akhirnya menjadi suaminya. Glory bahkan sempat menolak perintah itu, tetapi karena ia takut akan Tuhan, dia taat juga. Mengacu pada topik kita kali ini, kalaupun aturan dan tatanannya berkata tidak baik wanita maju duluan, tetapi apabila Tuhan berkata boleh, lebih baik ikuti saja. Dengan catatan tidak melakukan itu diluar instruksi-Nya dan tidak berlaku sesuai pikiran atau pertimbangan kita sendiri.
Sumber : Katalog Bisnis 2 edisi Desember 2009
Seorang bocah yang bermain di liga bocah ditanya oleh ayahnya tentang bagaimana petandingan yang baru saja diikuti anaknya.
Sang anak menjawab, "Pertandingan akan lebih bagus seandainya tim lawan sudah belajar bagaimana untuk saling bergantian dan tidak serakah menguasai bola ...."
Seorang lelaki yang sedang lapar memasuki restoran padang yang memang terkenal komplit makanannya. Di dalam dia disambut oleh sang pelayan restoran, "Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu?"
Si bapak : "Ikan ada?"
Pelayan : "Ada pak!"
Si bapak : "Ayam ada?"
Pelayan : "Ada pak!"
Si bapak : "Kambing ada?"
Pelayan : "Ada pak!"
Si bapak : "Suruh semuanya keluar dulu, saya mau makan!"