Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 January 2010

Ia Melihat Wajah Allah Bersinar

Dalam bukunya "Blessings and Woes", Megam McKenna menceritakan seorang pemotret yang mengamati dunia lewat lensa kameranya, namun gagal membidik gambar yang terpenting dalam hidupnya. Diakhir tahun 1980'an Ekuador dilanda krisis ekonomi berat. Lalu, dalam proporsi besar sekali, terserang epidemi wabah kolera. Seakan masih kurang, bencana alam silih-berganti memporakporandakan desa-desa maupun kota-kota. PBB dan badan sosial Kristen lainnya meresponi dengan membawakan persediaan jagung, produk2 kedelai, susu, buah2an, tortilla (makanan dari tepung jagung), beras dan kacang2an.

Juru potret itu mengambil posisi di suatu jalan utama dimana orang-orang sakit, yang kelaparan, yang sudah letih lesu saling berbaris menunggu pembagian makanan. Ia sudah terlatih untuk mengawasi hal-hal kecil dan situasi umumnya yang sedang berkembang.

Ia tertarik pada seorang gadis -- kurus kering dan dekil, berusia sekitar 9 atau 10 tahun. Diamatinya, selagi gadis ini dengan sabar antri, matanya selalu tertuju pada tiga anak lain lagi yang saling erat berjongkok di bawah sebuah pohon besar, memayungi diri dan menghindar dari terik panas matahari. Dua bocah laki-laki, berumur 5 dan 7, saling menggandeng seorang gadis kecil sekitar 3 tahun. Karena perhatiannya teralihkan, gadis itu tidak melihat bahwa pekerja-pekerja sosial itu sedang kehabisan persediaan makanan. Jantung ahli potret itu berdetak keras. Kameranya juga sudah siap.

Setelah ber-jam2 terjemur di bawah matahari, gadis kecil itu akhirnya mendapatkan giliran dilayani. Yang ia terima cuma sebuah pisang. Tetapi, reaksinya begitu memukau dan seakan melumpuhkan tukang potret ini. Pertama, wajahnya menyala, bersinar dalam sebuah senyum begitu manis. Ia menerima pisang itu dan membungkuk pada pekerja sosialnya. Lalu cepat-cepat ia berlari menuju ketiga anak kecil di bawah pohon tadi. Dengan amat hati-hati ia menguliti, membaginya rata dalam 3 potong dan dengan hati-hati sekali, ditaruhnya masing-masing ke dalam tangan tiap anak. Bersama-sama mereka menundukkan kepala dan berdoa mengucap syukur! Lalu, perlahan2, mereka memakan potongan pisang, benar-benar menikmati setiap gigitannya, sedang gadis tertua itu mengisapi kulitnya.

Tukang potret itu terdiam seribu bahasa. Tak tertahan lagi, ia mulai menangis tersedu-sedu, lupa sama sekali akan semua kameranya dan akan tujuan utamanya ia hadir disana. Belakangan, setelah sadar kembali, ia bertutur, ketika sedang mengamati gadis itu, ia melihat wajah Allah bersinar. Ia sempat mengintip secuil kecil Kerajaan Allah dalam wajah dan tindakan-tindakan seorang gadis miskin jalanan yang begitu kaya dalam kemurahan hati, cinta kasih dan saling kepedulian.

Ia memang benar : itu memang wajah Allah yang dilihatnya di dalam diri gadis kecil itu yang "mematikan" kebutuhannya sendiri agar orang lain bisa dipuaskan dan hidup. Dan adalah wajah Allah yang kita lihat dalam diri Yesus yang berlutut di lantai, mencuci segala tanah dan kotoran yang melekat di kaki para muridNya, dan membasuh dengan tanganNya sendiri. (JM)

~ Excerpted from Sambuhay by Society of St. Paul The God We Encounter at the Super Table (orig. title). Shared by Joe Gatuslao  --  Philippines

19 January 2010

Hidup Bebas Dari Ketakutan

Mazmur 91:1-3 - "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 19; Matius 19; Kejadian 37-38

Seorang teman pernah berkata kepada saya, "hidup dalam ketakutan adalah wajar karena kita ini manusia yang tidak dapat melihat ke masa depan". Jujur, awalnya saya percaya akan apa yang ia sampaikan tersebut, tetapi itu mulai berubah ketika saya membaca Alkitab dan menemukan bahwa sebenarnya manusia dapat keluar dari ketakutan-ketakutan mereka.

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa perlindungan Allah adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk keluar dari rasa takut. Tidak ada satu pun yang dapat melakukannya. Hanya Dia-lah yang mampu membuat hidup kita menjadi tenang di dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, janji ini tidak dapat dinikmati oleh semua orang.

Hanya orang-orang yang tinggal di dalam Tuhan saja yang dapat menerimanya. Tinggal berarti menghuni dan terus menetap. Bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa ialah hidup dalam persatuan yang berkesinambungan dengan Dia, memelihara firman-Nya dan mematuhi suara-Nya. Mereka yang tinggal di dalam Tuhan dapat hidup tanpa rasa takut terhadap tindakan yang akan dilakukan iblis.

Janji perlindungan Tuhan tidak menjamin bahwa iblis takkan mengganggu Anda, tetapi itu akan memberi Anda jalan keluar setiap iblis muncul di hadapan Anda.

Jika hari-hari ini Anda merasa takut akan bahaya di sekitar, luangkanlah lebih banyak waktu membaca firman dan berdoa sampai iman Anda kepada Tuhan mengatasi ketakutan Anda. Ingatlah bahwa betapa pun berbahaya dunia ini ke depannya, Dia pasti akan membebaskan Anda!

Hidup yang kita jalani di dunia ini akan terasa nyaman bila bersama dengan Yesus.

Sumber: Dari Iman ke Iman; Kenneth & Gloria Copeland; Penerbit Immanuel

Tertawa VS Marah

AKIBAT TERTAWA

1x tertawa sakit kepala hilang
2x tertawa bencipun sirna
3x tertawa masalah lari
4x tertawa penyakit sembuh
5x tertawa jadi awet muda
6x tertawa hati penuh sukacita

Bila kita tertawa maka di dalam tubuh kita akan terbentuk hormon endorphin yang berfungsi untuk membuat otot menjadi rileks, sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi meningkat dan kadar Oksigen dalam darah juga naik.

Jadi memang benar bahwa tertawa itu menyehatkan dan merupakan salah satu dokter terbaik di dunia, yaitu dokter Gembira.

Kita dapat tertawa karena pikiran kita dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan, tidak ada beban lagi yang menakutkan dan membatasi kita, semuanya menjadi bebas lepas.

Dan bila emosi kegembiraan itu kita lepaskan dalam bentuk tawa, maka dampaknya luar biasa karena dapat membuat sakit kepala menjadi hilang, rasa benci pun menjadi sirna, masalah yang sedang kita hadapi lari menyingkir, segala penyakit menjadi sembuh, kita tetap awet muda, dan juga mendapatkan hati yang penuh sukacita.

Karena itu tertawalah atau tersenyumlah pada semua orang, termasuk juga pada orang-orang yang telah menyakiti kita.

Hal ini jelas akan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain, menjadikan suasana gembira, membuat hidup kita bergairah kembali sehingga semuanya dapat kita jalani dengan penuh semangat.

------------------------

AKIBAT MARAH:

1x marah sukacita hilang
2x marah akal sehat terbang
3x marah tekanan darah naik
4x marah teman2 pergi
5x marah jadi cepat tua
6x marah pintu dosa terbuka

Marah merupakan suatu bentuk emosi manusia yang dapat menghancurkan diri sendiri.

Apakah kita tidak boleh marah? Tentu saja boleh, asal pada tempatnya.

Kita berhak marah bila melihat ada hal-hal yang tidak benar, misalnya kita perlu marah terhadap orang-orang yang mengumbar emosinya dengan melempari dan membakar Gereja St Albertus di Bekasi beberapa hari yang lalu.

Kemarahan tersebut perlu dikeluarkan, bila tidak malah akan merusak diri kita juga, tetapi tentu saja secara positip, misalnya untuk para pelempar dan pembakar Gereja tersebut melalui jalan hukum.

Tetapi banyak juga rasa marah yang negatip, yaitu hanya untuk meluapkan nafsu dan emosi yang ada hanya untuk kepuasan diri sendiri.

Yang penting saya senang, saya suka, dan saya menang, tidak peduli dengan orang lain.

Marah negatip inilah yang ada dalam diri orang-orang yang melempari dan membakar Gereja.

Pikiran mereka hanya dipenuhi oleh ‘aku’ !

Marilah kita buang rasa marah yang negatip, karena dapat menimbulkan berbagai efek yang menghancurkan dan merugikan diri kita sendiri, misalnya hilangnya sukacita, terbangnya akal sehat, naiknya tekanan darah, ditinggal teman, menjadi cepat tua, dan membuka pintu dosa. Bahkan dikatakan bila tujuh kali kita marah, maka kita sendiri yang menjadi gila, malah kalau sembilan kali marah maka lengkaplah menjadi suatu novena marah yang menghasilkan voucher masuk neraka ...

(Ketarangan : Novena adalah suatu bentuk doa Katolik yang dilakukan sebanyak sembilan kali).

Marilah kita kuasai diri kita sehingga keinginan marah yang negatip dapat diredam dan dialihkan menjadi hal yang positip dan bermanfaat bagi semua orang. Amin.

18 January 2010

Wanita Nembak Duluan?

Selama ini orang beranggapan bahwa pernyataan cinta harus meluncur pertama dari bibir kaum pria. Katanya, kini jamannya sudah berubah, ada banyak pria yang karena sesuatu hal tidak berani mengungkapkan perasaan hatinya kepada wanita yang dia cintai, sehingga perempuanlah yang harus mengambil peran untuk “menembak” duluan. Benarkah?

Saat topik ini dilempar kepada pendengar beberapa waktu lalu, ada banyak pendapat dan komentar kepada kami baik melalui sms ataupun facebook, sebagian berkata dengan keras, “Tidak boleh! Wanita harus jaga image, harus menunggu reaksi dari sang pria”. Tapi tidak sedikit pula yang berkata boleh, kenapa tidak… Bagaimana dia bisa tau perasaan kita kalau kita tidak menyampaikannya, urusan diterima atau ditolak itu nanti… Tergantung, fleksibel, harus pakai hikmat, main cantik dan masih banyak lagi. Ada yang berkata tidak sesuai Firman Tuhan, tapi ada juga yang berkata tidak ada aturan buku tertulis di dalam Alkitab. Wahh… bingung juga ya… :)

Sementara yang betul-betul tidak tahu dan menanyakan apakah boleh atau tidak “seperti itu” juga tidak kalah banyak…

Cinta merupakan sebuah proses antara dua hati (lelaki dan perempuan) yang membuatnya menjadi satu. Tanpa ungkapan cinta maka kedua hati ini tidak dapat bersatu, kata seorang psikolog Dr. Clara Istiwidarum. Menurutnya ungkapan cinta begitu membahagiakan dan begitu ditunggu-tunggu banyak orang. Dulu kaum lelaki yang dominan mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yang dipujanya tetapi dengan perubahan jaman yang ada, sekarang banyak perempuan yang berinisiatif lebih dulu menyatakan perasaannya.

Ms Indra, seorang teman yang sempat saya hubungi untuk dimintai komentarnya tentang topik ini berkata, “No problem kalau wanita nembak duluan, sangat membantu katanya. Seringkali salah satu ketakutan pria tidak berani ngomong duluan adalah takut ditolak, karena perlu diketahui, gengsi pria itu besar sekali…”

Sementara itu, hal mengejutkan disampaikan oleh Ibu Ester yang menjadi Narasumber acara ini. Beliau menyampaikan, “Memang budaya timur dimana saat ini kita ada, mengisyaratkan bahwa tidaklah baik wanita menyatakan perasaannya duluan kepada pria yang dicintainya.” Namun satu hari sebelumnya saat saya sampaikan topik ini kepada beliau, ditunjukkan padanya satu bagian Firman dari Kitab Ruth 3:1-18 yang kemudian dibagikan kepada keluarga Rhema pada acara itu. Dikatakan disana :

  • Atas instruksi Naomi, Ruth diminta mencari Boas di pengirikan dan dibaringkan dirinya dekat dengan kaki Boas supaya diberitahukan kepadanya apa yang harus Ruth lakukan kemudian.
  • Tetapi setelah itu, di Ayat ke 18 dikatakan “Duduk sejalah menanti, anakku sampai engkau mengetahui…”

Kesimpulan yang Ibu Ester ambil tentang pertanyaan “Wanita nembak duluan?” adalah keduanya bisa dikatakan benar, asalkan sesuai dengan porsi dan petunjuk TUHAN. Saat itu Ruth ada dalam otoritas Naomi dan i a mendengarkan serta melakukan semua yang Naomi instruksikan, untuk menghampiri Boas telebih dahulu termasuk akhirnya diminta untuk meminta Boas sebagai Penanggungnya, tetapi menurut dengan Naomi.

Begitu pula dengan para wanita, betapa pentingnya kita duduk diam mendengarkan TUHAN berbicara. Disamping itu apa yang dialami oleh seorang hamba Tuhan bernama Glory Bachman, yang juga oleh karena perintah Tuhan, dia harus menyampaikan lebih dahulu isi hatinya kepada seorang Pria pada waktu itu yang sekarang akhirnya menjadi suaminya. Glory bahkan sempat menolak perintah itu, tetapi karena ia takut akan Tuhan, dia taat juga. Mengacu pada topik kita kali ini, kalaupun aturan dan tatanannya berkata tidak baik wanita maju duluan, tetapi apabila Tuhan berkata boleh, lebih baik ikuti saja. Dengan catatan tidak melakukan itu diluar instruksi-Nya dan tidak berlaku sesuai pikiran atau pertimbangan kita sendiri.

Sumber : Katalog Bisnis 2 edisi Desember 2009

17 January 2010

Tidak Serakah

Seorang bocah yang bermain di liga bocah ditanya oleh ayahnya tentang bagaimana petandingan yang baru saja diikuti anaknya.

Sang anak menjawab, "Pertandingan akan lebih bagus seandainya tim lawan sudah belajar bagaimana untuk saling bergantian dan tidak serakah menguasai bola ...."

16 January 2010

Makan Siang

Seorang lelaki yang sedang lapar memasuki restoran padang yang memang terkenal komplit makanannya. Di dalam dia disambut oleh sang pelayan restoran, "Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu?"

Si bapak : "Ikan ada?"

Pelayan : "Ada pak!"

Si bapak : "Ayam ada?"

Pelayan : "Ada pak!"

Si bapak : "Kambing ada?"

Pelayan : "Ada pak!"

Si bapak : "Suruh semuanya keluar dulu, saya mau makan!"

15 January 2010

Selalu Berhasil

Kejadian 39:2 - "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 15; Matius 15; Kejadian 29-30

Di dalam dunia ini ada satu orang yang selalu berhasil melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya pasti memuaskan setiap orang. Tidak hanya itu, kejujuran yang ia miliki juga membuat tuannya menyerahkan urusan rumah secara penuh kepadanya.

Walaupun banyak orang yang hendak menghancurkan kehidupannya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Akhir kisah hidupnya yang menyedihkan pun berubah menjadi begitu luar biasa. Ia diangkat sebagai perdana menteri di negara yang sebenarnya adalah asing bagi dirinya. Semasa ia memerintah, bahaya kelaparan yang melanda di dunia saat itu pun dapat diatasi dengan sangat baik. Siapakah orang ini? Ia adalah Yusuf, anak dari Yakub.

Yusuf adalah bukti bagaimana penyertaan Allah begitu nyata dan mengubahkan berbagai prediksi manusia. Ketika ada rencana yang jahat hendak mematikan dirinya, tangan Allah membelokannya sehingga menjadi kebaikan. Alkitab dengan begitu jelas menuliskan mengenai hal ini, "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya...".

Apakah Anda ingin menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaan atau usaha yang sedang dikerjakan? Peganglah firman Tuhan dan hiduplah di dalamnya. Seperti kehidupan Yusuf yang selalu sukses, demikianlah hidup Anda akan dibawa Tuhan.

Orang yang hidupnya bersandar pada firman Tuhan akan selalu menikmati keberhasilan demi keberhasilan.

Sumber: Jawaban.com

Weekly Scripture – 2 Tawarikh 20:15

dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. - 2 Tawarikh 20:15

Brisk Walking

* This post containt slideshow. You can download this slidshow by clicking link below.

http://www.ziddu.com/download/8048266/BriskWalking.pps.html

14 January 2010

Mintalah Perkara Besar

Lukas 16:10 - "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 14; Matius 14; Kejadian 27-28

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa Allah yang kita sembah adalah yang besar. Tidak ada satu pun di seluruh alam semesta ini yang dapat menandinginya. Patung-patung, pohon-pohon besar, jimat-jimat - semuanya tunduk di bawah kuasa-Nya. Jadi, sebuah hal yang aneh ketika kita yang begitu kecil ini malah menjauh dan meragukan Allah.

Di dalam alkitab, tidak ada satupun ayat yang menyatakan bahwa Allah alergi dengan permintaan yang menurut kita besar. Bahkan, sebenarnya itulah kerinduan-Nya bagi setiap kita. Allah sangat ingin anak-anakNya melakukan hal-hal besar di dunia ini, tetapi Dia tahu untuk mencapai semua itu harus dimulai dari setia dalam perkara-perkara kecil.

Apakah permintaan Anda kepada Tuhan hari-hari ini? Pelayanan yang lebih diperlebar? Pekerjaan yang lebih menjangkau banyak orang? Mintalah hal-hal itu dalam doa-doa Anda. Percayalah Allah tidak akan pernah menahan berkat-Nya kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Allah sanggup menggenapi segala permintaan Anda kepada-Nya.

Sumber: God Calling; A.J Russel; Penerbit Pionir Jaya

Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi

Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebua batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya.

Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia.

Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblispun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya "Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya."

Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat.

"Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya.  "Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."

Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan.

"Tuhan," katanya "Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatanku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?"

Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian, "Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar? Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu."

Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....

Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya. Ketika segalah sesuatu kelihatan keliru.... lakukan P.U.S.H. (PUSH = dorong) Ketika pekerjaanmu mulai menurun.... lakukan P.U.S.H.

Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan....
lakukan P.U.S.H.

Ketika uangmu seperti "lenyap" dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar....
lakukan P.U.S.H.

P. Pray
U. Until
S. Something
H. Happens

PUSH = Pray Until Something HAPPENS !! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi)