Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 December 2009

Ekspresi

Filipi 2:30 - "Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 5; Wahyu 11; Nehemia 1-3

Manusia diciptakan Allah mempunyai ekspresi. Sedih, senang, setiap kondisi yang kita rasakan selagi masih ada di dunia ini selalu terungkap dari sikap yang kita tunjukkan di luar. Bahkan orang introvert sekalipun pasti berekspresi.

Ada beberapa cara orang mengungkapkan perasaan atau gagasannya. Dan untuk itu biasanya terkait dengan seni, maka ada orang yang dapat mengekspresikan perasaannya, namun ada yang mengalami kesulitan. Pada umumnya orang yang memiliki jiwa seni akan lebih mudah mengekspresikan perasaan atau gagasannya.

Edward Shank, seorang pemahat terkenal di Pennsylvania, Amerika Serikat telah menggunakan 360 kilogram mentega merk Land O'Lakes untuk membuat patung berbentuk polisi pemadam kebakaran dan seorang prajurit yang memegang bendera Amerika. Patung itu dipersembahkan dalam rangka mengekspresikan rasa belasungkawanya kepada para korban saat peristiwa tragedi 11 September 2001 yang menghancurkan dua gedung WTC akibat serangan teroris. Edward memahat patung mentega itu di dalam ruangan yang sangat dingin agar mentega itu tidak mencair. Ada-ada saja cara orang mengungkapkan perasaannya, bukan?

Kemampuan seni apa pun dapat menjadi media untuk mengungkapkan perasaan. Lalu perasaan itu akan mendorong untuk mengeluarkan gagasan-gagasan. Kadangkala ada gagasan yang biasa saja, namun ada juga yang spektakuler. Namun, yang jelas pernahkah Anda mencoba untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan Anda lewat kemampuan seni yang Anda miliki?

Dalam menjalin hubungan antara kita dengan Allah, berekspresi adalah sebuah hal yang mutlak. Allah ingin melihat wajah kita bersukacita ketika menaikkan ucapan syukur karena kebaikan-kebaikan dan pertolongan yang telah Dia lakukan dalam hidup kita, atau pun menangis ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya. Pertanyaannya, sudahkah Anda melakukannya? Buktikan dengan ekspresi Anda saat mengatakan Anda mengasihi dan menghormati Allah karena dengan itulah Dia mengetahui ketulusan cinta Anda kepada-Nya.

Apapun yang Anda rasakan dan alami, berekspresilah karena itu adalah anugerah Allah yang diberikan bagi setiap manusia.

Sumber: Untaian kata-kata bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

Pagi Hari Saat Natal

Seorang pastor paroki. Di akhir tahun ia merasa capai setelah melewati setahun yang keras dan sulit dengan sejuta problema. Hari ini adalah hari Natal. Walau kepalanya agak pening ia memaksa diri bangun dari tidur. Kepalanya hampa. Ketika membaca bacaan Injil di pagi Natal ini, segalanya tak membantu. Tak ada inspirasi yang meneguhkan hidup. Kisah tentang tiga raja dari Timur, tentang Maria, tentang Betlehem, tentang bayi Yesus dalam palungan, tentang para gembala dan malaikat?

"Huh...sudah bertahun-tahun saya mendengar semuanya ini. Tak ada yang baru. Setiap tahun saya telah banyak berkotbah tentang ini. Sekarang lagi-lagi harus berbicara tentang kisah yang sama." Dengan tenaga lesu si pastor paroki bangun dan dengan sedikit malas menyiapkan diri untuk perayaan kebaktian Natal.

“Natal?? Huh...”, si pastor paroki sekali lagi menghembuskan napas keluhannya. Apa arti sebuah Natal yang sudah diwarnai bisnis duniawi? Di mana-mana lagu natal diputar, di jalan raya penuh terpasang iklan dengan lukisan Santa Klaus. Sudah berapa kali saya berbicara tentang makna sebuah natal? Dan apakah saya masih harus berteriak lagi tentang makna natal padahal tak seorang pun rela menggubris kata-kataku? Bukankah saya telah gila? Saya berbicara tentang cinta, tentang perdamaian, tapi lihat… Kebencian dan permusuhan tetap saja menjadi santapan sedap berita koran dan televisi.

Sebelum si pastor paroki itu selesai membenah diri, sepasang muda-mudi berdiri dan mengetuk pintu pastoran. "Aku Joseph. Dan ini Maria." Kata lelaki yang berdiri di depan pintu itu sambil melirik ke arah wanita yang sudah hamil tua dan siap melahirkan yang berdiri di sampingnya. Wanita itu begitu kurus, keringat mengucur walau di luar udara terasa amat dingin. Pastor paroki memperhatikan mereka satu-persatu, lalu menggumam, "Engkau Joseph, dan itu Maria. Dan siapakah saya ini? Apakah kamu berpikir bahwa aku ini keledai untuk ditunggang Maria???"

Oh...pasangan yang malang. Keduanya kini harus menerima luapan amarah yang terpendam lama di bathin si pastor itu. Bom yang dijaga baik itu kini meledak juga. Sayangnya...ia meledak justru di pagi hari Natal.

Namun ketika melihat si gadis yang gemetar seluruh tubuh sambil tangannya memeluk kuat bantal yang dibawanya, sang pastorpun tergerak hatinya. Kemarahannya mereda, dan dengan cepat ia menghantar gadis itu ke rumah sakit. Dan di pagi natal yang dingin. Sang pastor melihat seorang bayi dilahirkan. Iapun melihat seorang ibu yang kesakitan. Suatu kehidupan baru yang menuntut pengorbanan.

Dalam kotbahnya sang pastor berkata, "Hari ini saya melihat seorang bayi dilahirkan. Dan saya memahami apa arti sebuah Natal. Aku melihat kepedihan dan ketakutan sang ibu. Dan aku melihat betapa sang ibu amat mencintai bayi yang baru dilahirkan itu. Kini aku mengerti cinta yang diberikan Tuhan kepada kita manusia, cinta yang terukir oleh darah, oleh keringat, oleh air mata. Inilah sebuah Natal. Tuhan datang dalam dingin, dalam bentuk seorang bayi lemah, hanya untuk mengatakan bahwa Ia adalah Emmanuel, bahwa Ia mencintai kita selamanya." Kata sang pastor seakan mengulangi lagi apa yang biasa dikotbahkannya pada pagi hari Natal. Bedanya, kali ini ia lebih berbicara kepada dirinya sendiri.

Christmas Ice Breaking Party Games

Ice breaking party games are a brilliant way for a group of people to get to know each other, get over shyness, and generally 'break the ice' and therefore make way for festive fun. Icebreaker games are designed so that there are no winners or losers. The main aim of the game is to have fun as a group, so that there are no isolate persons. It also encourages the group to communicate and overcome shyness.

Here are three ice breaker games you could try at your children's Christmas party...

Christmas Tree
The group sits in a ring with the host or play leader in the centre.

The host labels the children with one of the following (making sure there is a minimum of 2 of each) Star, Bauble, Tinsel, Angel, Snowflake

The host now calls out one object. For example - Snowflake. All the snowflakes must now jump up and exchange positions with other snowflakes, the game continues in this way with the host calling out different objects and the children exchanging places with objects of the same kind.

If 'Christmas Tree' is called out, all of the children must jump up and exchange places with other objects.

This game is fast and furious and energetic and usually very well received by older and younger children alike. It breaks the ice by mixing the children up and sitting them next to new people.

Christmas Theme Chinese Whispers
An old game that can be given a Christmas twist, simply divide the children into two teams and arrange them to sit in two lines.

Have ready some (previously made) cards with festive sentences written on them, but make sure that the sentences are out of the ordinary.

For Example - Rudolf likes Christmas pudding on Mondays, but Prancer likes plum pudding on Mondays and Christmas pudding on Wednesdays.

To begin the game, give the two children at the front of the lines the festive sentence to read.

The children then have to whisper the sentence to one another until it has passed up the line. Remember: Each child my only whisper the sentence once, they may not repeat it.

Finally, when the message gets to the last child in the line, this child has to say the message out aloud for everyone to hear.

There aren't any winners or losers, its just lots of fun listening to garbled messages. If you have only a few children don't divide them into teams.

Christmas Pictionary
Preparing the game - Have 20 cards with a Christmas item written on each. For example: Christmas Fairy, Roast Turkey, Holly and Ivy, Santa's Sleigh, Christmas Trimmings, Christmas present label...

How to play
Divide the children in to two teams. Each team takes it in turns to play rounds. To play a round, one child in the team must be chosen to be the drawer for that round (The drawer changes for each round played) The drawer takes a card from the top of the pile and reads it without speaking.

The drawer then has tree minutes to draw what was written on the card. However, the drawer must write letters or words and they must not speak.

The rest of the drawer�s team must try to guess what was written on the card from the drawings, all within the tree minutes. A point is awarded each time a team guesses correctly (word for word) what was written on the card.

The first team to collect 4 points is the winning team.

This game can be difficult for younger children.

Ice breaker games help to introduce the children at the party to one another. Once everyone has had a chance to speak to a few new people, it paves the way for more party fun and everyone will have a great time.

02 December 2009

Mengasihi Sesama

Matius 22:39 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 4; Wahyu 10; Ezra 9-10

Sebuah badan sosial di Amerika Serikat yang bernama Yayasan Carnegie mendapati bahwa agar dapat meraih keberhasilan dalam pekerjaan, maka kemampuan dalam membangun hubungan lebih penting daripada pengetahuan. Penelitian ulang oleh yayasan itu menunjukkan bahwa hanya lima belas persen dari kesuksesan seseorang ditentukan oleh pengetahuan dan ketrampilan teknis tentang pekerjaannya, namun sebesar delapan puluh lima persen lagi ditentukan sikap pribadi dan kemampuan mereka dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Alkitab memerintahkan kita untuk "ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Efesus 4:32). Sesungguhnya, Alkitab menyatakan agar kita mengasihi "sesama" kita seperti diri sendiri (Matius 22:39). Dan sesama kita tidak hanya orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita, tetapi setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.

Jadi, bersikap sopan, perhatian, dan peduli kepada sesama adalah prinsip rohani yang mendasar. Itu juga merupakan pedoman yang terpenting dalam mendapatkan hubungan yang menyenangkan dan membahagiakan. Sesungguhnya, hal itu pun merupakan kunci emas meraih keberhasilan kerja.

Tujuan kita meneladani semangat Kristus untuk sesama, semata-mata didasari oleh keinginan untuk taat kepada Allah dan bukan hanya keinginan untuk berhasil dalam pekerjaan. Lebih dari itu, tugas utama kita sebagai orang percaya adalah untuk mewujudkan dan mempraktikkan karakter yang mengasihi sesama seperti Tuhan kita.

Mereka yang mengasihi Allah pasti mengasihi sesamanya.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Donkey Special Secret

image Donkeys are very special animals. Most people have enjoyed a donkey ride at the seaside, zoo or farm at one time or another as a child, a tradition started during the Victorian times. How could anyone resist those cute sad faces, and those extraordinary long eyelashes? But donkeys are special for another reason.

If you are familiar with the story of the nativity you will know that Mary and Joseph had to travel from Nazareth to Bethlehem to be counted, a journey of around 95 kilometres. This was no small distance back in those days when there weren't any motorised vehicles. Additionally the journey was over a hilly terrain, which made the long journey even harder.

Poor Mary was heavily pregnant and the prospect of such a journey must have been daunting. It's little wonder then that she rode a donkey on this long journey.

A special thing happened to the little donkey as it carried it's precious load. As the donkey carried Mary and the unborn Son of God, a mark of the crucifix appeared on the donkey's back. The top of the cross starting on the donkey's neck and running down his spine. The shorter line of the cross ran along the donkey's shoulder blades. The sign of the crucifix was given as a reward to the little donkey for the hard work it had endured, getting pregnant Mary safely to Bethlehem. (see the photographs of Donkeys too see their special marks)

To this day the little donkey is honoured for what he did for God, and all the donkeys bear the sign of the crucifix on their backs. You don't usually see the cross because donkeys at the beach are usually wearing saddles, so small children can ride them. Maybe this is why donkeys look so sad, because their special mark is hidden.

Berikan Aku Seorang Ayah

Secarik kertas koran terbang dikipas angin dan tersangkut pada tiang listrik. Dari kejauhan bisa aku baca judul besar yang tertulis dengan warna merah pada halaman kertas itu yang mengingatkan saya akan natal yang kini tiba. Malam nanti adalah "Malam Kudus, Malam Damai". Dan setiap hati pasti mengimpikan agar di malam ini mereka bisa menemukan setitik kesegaran, menemukan secercah kedamaian yang dibawa oleh Allah yang menjelma.

Judul di kertas koran itu tertulis dalam Karakter khusus bahasa Cina; "Selamat Hari Natal: Semoga Harapan Anda Menjadi Kenyataan." Karena tertarik dengan judul tersebut, saya memungut kertas koran yang sudah tercabik dan kotor itu dan membacanya. Ternyata ini merupakan halaman khusus yang sengaja disiapkan bagi siapa saja agar menuliskan impian dan harapannya. Koran ini seakan berperan sebagai agen yang meneruskan harapan mereka agar kalau boleh bisa didengarkan oleh Santa Klaus atau oleh Allah sendiri. Ada kurang lebih tiga puluh harapan yang dimuat di halaman koran hari ini. Namun saya tertarik dengan harapan yang ditulis oleh seorang gadis kelas tiga SMP :

"Tuhan...apakah Engkau sungguh ada? Aku tak pernah tahu tentang Engkau. Aku tak pernah melihat diriMu. Namun banyak orang mengatakan bahwa malam ini Engkau yang jauh di atas sana akan menjelma menjadi seorang manusia sama seperti diriku dan mendengarkan setiap harapan yang ada di dasar setiap hati. Tuhan kalau Engkau sungguh ada dan malam ini mengetuk hatiku, aku akan mengatakan kepadaMu bahwa aku butuh seorang ayah. Berikanlah aku seorang ayah. Aku tahu bahwa harapanku ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak kecil aku secara terus-menerus merindukan hal ini."

"Kata ibuku di rumahku ada seorang ayah. Aku tahu bahwa di rumahku, di samping ibuku masih ada seorang lelaki yang hidup bersama kami. Dan kata ibu dia inilah yang seharusnya aku panggil ayah. Namun aku tak pernah merasakan cinta seorang ayah. Setiap hari kami tak pernah mengucapkan lebih dari tiga kalimat. Ketika kami saling berpapasan, yang aku rasakan cumalah kebencian yang terpancar dari sudut kedua matanya."

"Benar bahwa ia membayar uang sekolahku. Ia juga membiayai kebutuhan hidupku. Tapi... sebatas itukah yang disebut kasih sayang seorang bapa? Dia tak lebih dari pada seseorang yang harus memenuhi sebuah tuntutan hukum untuk mendampingi diriku, tetapi ia bukanlah ayahku. Setiap ongkos yang keluar untuk membayar uang sekolahku harus aku bayar dengan derai air mata dan isakan tangis, harus aku bayar dengan mata yang membengkak. Inikah kasih sayang seorang bapa?”

"Tuhan...apakah Engkau mendengarkan diriku? Malam ini ketika Engkau menjelma menjadi seseorang seperti diriku dan menjenguk bathinku, hanya satu hal yang aku harapkan. Berikanlah aku seorang bapa. Seorang bapa yang mencintaiku, seorang bapa yang bisa menasihati aku tetapi mencaci diriku."

Setelah membaca tulisan ini aku bisa merasakan kepedihan yang bercokol dalam diri si gadis ini. Aku pernah menjadi seorang anak tiri, anak yang kehilangan seorang bapa ketika masih berumur dua tahun. Dan betapa dalam dan besarnya kerinduanku untuk bisa merasakan kasih sayang seorang bapa. Ketika berumur sembilan tahun aku akhirnya boleh memperoleh seorang ayah lagi.

Namun temanku, aku yakin anda pernah membaca kisah hidup anak tiri. Aku tak hanya membaca, namun dengan hidupku sendiri aku mengalaminya. Ternyata kerinduanku untuk menyapa seseorang sebagai bapa hanya bisa bertahan dalam mimpi. Itulah nasib menjadi seorang anak tiri. Namun waktu terus bergulir. Bapa tiriku kini telah ubanan. Kalau dulu aku bermimpi untuk dicintai oleh seseorang yang boleh aku panggil sebagai bapa, walau mimpiku ini tak pernah menjadi kenyataan, namun kini aku hanya bisa berjuang untuk mencintai seseorang dengan harapan bahwa ia boleh menyapa aku sebagai anaknya. Yang ada di dasar bathinku bukanlah rasa marah dan dendam. Tapi belas kasihan. Dan ini hanya menjadi mungkin karena aku telah mengalami cinta seorang Bapa yang dibawa oleh seorang bayi mungil di kandang hina. Yesus yang lahir dalam dingin telah mengatakan kepadaku bahwa ada seorang Bapa yang selalu dan senantiasa mencintaiku. Aku tak perlu lagi mencari dan bermimpi. Kini adalah giliranku untuk membalas cinta tersebut dengan mencintai orang lain, dan...terutama mencintai ayah tiriku.

01 December 2009

Lihatlah Ke Depan!

Mazmur 13:6 - "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 3; Wahyu 89; Ezra 7-8

Dikisahkan ada seorang pemuda yang hidup di suatu daerah yang terpencil bernama Joe. Layaknya seorang yang sudah mengalami akil balig, badannya mulai meninggi, suaranya mulai memberat, bahkan otot-otot pada lengannya juga besar. Namun, ia memiliki kelemahan karena ia mempunyai kelemahan dalam berbicara.

Suatu hari teman Joe yang baru datang dari kota, Draino mengunjungi rumahnya. Draino merupakan teman semasa kecilnya. Kedatangannya ke kota tersebut pun karena ia sudah sudah begitu dengan kota tersebut dan ingin melihat keadaanya sahabat yang sudah ditinggalkannya belasan tahun.

Kedua pria dewasa tersebut larut dalam perbincangan hangat, walaupun mereka menggunakan bahasa-bahasa isyarat. Draino yang melihat perubahan yang sangat banyak dari Joe dalam satu perbincangan menyatakan niatnya untuk mengajak sahabatnya untuk pergi bersamanya ke kota. "Hai Joe, apakah kamu tidak berkeinginan untuk keluar dari daerah ini dan pergi ke kota. Uang yang berlimpah, rumah yang nyaman, serta mobil yang bagus," kata Draino dengan bahasa isyarat. Joe hanya tersenyum dan menjawab dalam bahasa isyarat juga, "Ya, saya mau. Namun, Tuhan menyuruh saya tetap disini dan memberkati orang-orang di daerah ini. Tahukah kamu, saat saya menaati-Nya, ada banyak mukjizat yang terjadi disini tidak hanya bagi para warga sekitar, tetapi dalam hidup saya juga? Saya percaya ada rencana indah yang Dia lakukan dalam hidup saya ke depan nanti untuk daerah ini, walaupun saya adalah seorang tuna wicara."

Tidak sedikit manusia kuatir dengan kehidupannya di dunia, bukan karena masalah/tantangan yang akan dihadapinya, tetapi apa yang dikatakan orang mengenai dirinya. Mereka takut karena kekurangan yang ia miliki. Mereka ingin terlihat sempurna dan tanpa cacat cela. Akan tetapi, akankah itu terwujud? Tentu tidak akan pernah bisa. Hanya Tuhanlah yang sempurna dan kita akan menjadi sempurna ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya ke dunia ini dan mengangkat kita ke surga.

Bersyukurlah dengan kehidupan yang Anda miliki dan jalani saat ini. Walaupun ada kekurangan yang Anda miliki, janganlah mengurangi rasa terima kasih atas anugerah yang Anda terima dari Allah. Lakukan dan selesaikan bagian yang Dia telah berikan untuk Anda jalani baik di dalam keluarga, masyarakat, kantor, sekolah, maupun negara.

Lihatlah ke depan saat kehidupan rohani Anda merasa goyah, yakni bahwa rencana Allah yang indah dan luar biasa sudah disediakan bagi Anda untuk Anda genapi. Biarlah lirik lagu pujian berikut menjadi doa dan ucapan syukur Anda kepada Allah di hari ini bahwa Dia adalah Tuhan yang baik : "Smua baik, Smua baik, apa yang tlah kau perbuat di dalam hidupku. Smua baik, Sungguh teramat baik, Kau jadikan hidupku berarti."

Rencana Allah bagi setiap anak-anakNya di muka bumi ini adalah rancangan kebaikan dan tak akan pernah berubah sampai kapanpun juga.

Sumber: Jawaban.Com

Kasih Bapa

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang duda yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat ia kasihi dan memiliki kegemaran yang sama dengannya yaitu mengkoleksi lukisan-lukisan terkenal. Mereka berkeliling dunia untuk mencari dan mengumpulkan lukisan-lukisan itu. Karya-karya tak ternilai dari Picasso, Van Gogh, Monet dan banyak lainnya menghiasi dinding rumah mereka. Duda itu sangat bangga dengan keahlian anaknya memilih karya-karya bermutu.

Ketika musim dingin tiba, perang melanda negeri mereka. Anak muda itu pergi untuk membela negerinya. Setelah beberapa minggu, ayahnya menerima telegram bahwa anaknya telah hilang. Kolektor seni itu dengan cemas menunggu berita berikutnya, dan ternyata yang dicemaskan terjadi, anaknya telah tewas ketika sedang merawat seorang temannya yang terluka. Keinginan untuk merayakan Natal bersama anaknya sirna sudah. Ia merasa sedih dan kesepian.

Pada hari Natal pagi hari, terdengar ketokan di pintu yang membangunkan orang tua itu. Ketika ia membuka pintu, seorang serdadu berdiri di depannya dengan membawa bungkusan besar. Serdadu itu memperkenalkan diri, "Saya adalah teman anak bapak. Saya adalah orang yang sedang diselamatkannya ketika ia tewas. Bolehkah saya masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan." Serdadu itu menuturkan bahwa anak orang tua itu telah menceritakan padanya kecintaannya, juga ayahnya, pada barang-barang seni.

"Saya adalah seorang seniman," kata serdadu itu, "dan saya ingin memberikan pada Anda barang ini." Dibukanya bungkusan yang dibawanya itu dan ternyata di dalamnya ada lukisan foto anak orang tua itu. Memang bukan karya yang sangat bagus dibandingkan dengan lukisan-lukisan yang telah dimilikinya. Tetapi lukisan itu cukup rinci menggambarkan wajah anaknya. Dengan terharu orang tua itu memajang lukisan itu di atas perapian, menyingkirkan lukisan-lukisan lain yang bernilai ribuan dolar.

Pada hari-hari berikutnya, orang tua itu menyadari bahwa walaupun anaknya tak berada lagi di sisinya ia tetap hidup dihatinya. Ia bangga mendengar anaknya telah menyelamatkan puluhan serdadu yang terluka sampai sebuah peluru merobek jantungnya. Lukisan foto anaknya itu menjadi miliknya yang paling berharga.

Pada musim semi berikutnya, orang tua itu sakit dan meninggal. Koleksi lukisannya akan dilelang. Dalam surat wasiatnya orang tua itu mengatakan bahwa lukisan-lukisan itu akan dilelang pada hari Natal, hari orang tua itu menerima lukisan yang paling disayanginya itu. Penggemar seni di seluruh dunia menunggu saat pelelangan itu.

Saat yang dinantikan itu pun tiba. Penggemar seni berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Lelang dimulai dengan lukisan yang tak ada dalam daftar di museum di seluruh dunia, yaitu lukisan anak orang tua itu.

Juru lelang bertanya, "Siapa yang akan mulai dengan penawaran?" Ruangan itu sunyi. Juru lelang melanjutkan, "Siapa yang akan mulai penawaran dengan $100?"

Menit-menit berlalu dan tak ada seorang pun yang berbicara. Terdengar suara protes, "Siapa yang berminat pada lukisan tak bermutu itu? Itu hanya lukisan foto anak orang tua itu. Lupakan saja lukisan itu dan lanjutkan dengan lukisan-lukisan lain yang bermutu."

Terdengar suara-suara yang menyetujui usul itu.

"Tidak, kita harus menjual ini terlebih dahulu," kata juru lelang. Akhirnya, seorang tetangga orang tua itu berkata, "Bagaimana kalau saya menawarnya sepuluh dolar. Saya hanya punya uang sebanyak itu. Karena saya kenal baik anak itu, saya ingin memilikinya."

Juru lelang itu bertanya, "Ada yang menawar lebih tinggi?" Kembali ruangan sunyi. "Kalau begitu saya hitung, satu, dua, . tiga, jadilah."

Tepuk tangan terdengar riuh di ruangan itu, dan terdengar suara, "Nah, akhirnya kita sampai pada pelelangan harta yang sebenarnya." Tetapi juru lelang itu mengumumkan pelelangan telah selesai. Seseorang memprotes dan bertanya, "Apa maksud Anda? Di sini ada koleksi lukisan yang bernilai jutaan dolar dan Anda mengatakan telah selesai. Kita datang kesini bukan untuk lukisan anak orang tua itu. Saya ingin ada penjelasan."

Juru lelang itu menjawab, "Ini sangat sederhana. Menurut surat wasiat orang tua itu, siapa yang memilih anaknya. akan mendapat semuanya."

Memang, pesan pada hari Natal itu sama seperti yang disampaikan pada kita selama berabad-abad: Kasih seorang Bapa pada Anak-Nya yang telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain. Dan karena kasih Bapa itu, siapa yang menerima Anak-Nya akan menjadi ahli waris-Nya dan menerima seluruhnya.

Yohanes 1:12 - Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Galatia 4:7 - Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Christmas Quiz

image I think it is safe to say that one of the most celebrated days of the year in our country is Christmas. It is such a popular holiday that often those not of the Christian faith participate in the festivities. It is also safe to say that this day is widely celebrated around the world, even in cultures that are not Christian in culture or persuasion, such as Japan and China. They too call it "Christmas".

Despite the widespread recognition of this holiday, Christians the world over lament how commercialized Christmas has become and how convoluted the reason and meaning. We see signs hanging in department stores that say "remember the reason for the season", but it seems the author of this Yule-time slogan had customer spending in mind rather than something spiritual.

There are myriad examples we could site regarding the world's commercialization of this sacred Christian holiday and the loss of festive understanding, but too often we Christians come up short ourselves in this theological arena. As our Lord said, sometimes we need to remove the beam from our own eye.

How much do you really know about Christmas? How much of what you think about Christmas is Bible and how much is world? Could you pass the following quiz on this topic? Test your knowledge. There are no trick questions, but you might be surprised by some of the answers. Score 5 points for each correct answer. I will leave it up to you to decide whether you passed or not. The answers are at the end of the quiz.

1. Christmas (the day Jesus was born) probably actually occurred on:
a. December 25th
b. March 29th
c. April 1st
d. We do not know

2. How many angels spoke to the shepherds?
a. 2
b. a multitude
c. 1
d. it cannot be determined

3. A manger is:
a. a feeding trough
b. a barn
c. a stable
d. a room behind an Inn

4. Where was Joseph's family from?
a. Bethlehem
b. Nazareth
c. Jerusalem
d. Galilee

5. How were the shepherds to find and recognize the Lord?
a. by following a star
b. by asking at the Inn
c. by looking for a babe in a manger
d. by looking for the Magi

6. How many wise men came to see Jesus in the manger?
a. two
b. the Bible doesn't say
c. three
d. none

7. How did Joseph and Mary get to Bethlehem?
a. walked
b. by cart
c. Joseph walked/Mary rode a donkey
d. The Bible doesn't say

8. When Mary was found to be with child, she and Joseph were:
a. married
b. companions
c. engaged
d. The Bible does not say

9. Who told Joseph what to name the baby?
a. Mary
b. An angel
c. God
d. Jewish elders

10. Where did the wise men find Jesus?
a. In the manger
b. On a donkey with Mary
c. In the field
d. In a house

11. Who saw the star over Bethlehem?
a. Joseph and Mary
b. The shepherds
c. The three kings
d. Everyone
e. None of the above

12. The Innkeeper told Joseph:
a. There is no room
b. We don't allow children
c. You can use the stable out back
d. None of the above

13. Who told Joseph to go to Bethlehem?
a. an angel
b. Herod
c. The tax collector
d. Caesar

14. What is meant by "heavenly host"?
a. an arch angel
b. greeting angels
c. an army of angels
d. an angelic choir or herald

15. What song did the heavenly host sing?
a. "Away in a Manger"
b. "Joy to the World"
c. "Glory to God in the Highest"
d. They did not sing

16. What animals were present at the birth of Jesus?
a. cows and sheep
b. cows, sheep and mules
c. cows, sheep and camels
d. unknown

17. What is the most accurate definition for "Magi"?
a. Magicians
b. Wise men
c. Astrologers
d. Eastern kings

18. Why did Herod want to know when Jesus was found?
a. So he could worship him
b. So he could tell others
c. So he could kill him
d. None of the above

19. How long was the trip for the wise men after they saw Herod?
a. Two years
b. Less than 1 day
c. A little less than two years
d. None of the above

20. How many shepherds were there in the field?
a. 3
b. 4
c. 6
d. We are not told

ANSWERS TO QUIZ
1. d
2. c
3. a
4. a
5. c
6. d*
7. d
8 . c
9. b
10. d
11. e (3 kings are not mentioned - all the wise men saw the star)
12. d (no mention of the Inn Keeper is made)
13. d (see Luke 2:1-3)
14. c
15. d (we are told "a heavenly host saying")
16. d (the Bible does not say what animals were present)
17. c
18. c
19. c (Herod had all the male children under 2 put to death)
20. d

*6 - the Bible says they saw the young child in the house - they were not present at the manger - and no mention is made as to how many Magi there were - we often assume there were three because there were three gifts

30 November 2009

Saya Bisa Lakukan Tanpa Pria

Karena  saya  adalah  anak sulung dalam keluarga yang semua adalah  perempuan,  saya  tumbuh  menjadi  sosok pribadi yang mandiri. Saya tidak pernah membiarkan diri saya bergantung dengan yang namanya pria. Saya merasa  tanpa pria sekalipun saya tetap bisa menjalankan kehidupan saya apa adanya.

Dalam lubuk jiwa Windy tertanam konsep yang salah. Mungkin  karena  latar  belakang  keluarga  yang  lebih  suka  dengan  anak laki-laki,  sehingga  saya merasa seandainya saya menjadi seorang laki-laki maka saya akan lebih berharga bagi keluarga.

Windy  kemudian  tumbuh  menjadi  pribadi  yang  lebih  suka  memimpin  dan mendominasi  orang, termasuk para pria di sekitarnya. Tanpa disadari, sikap ini  ia  bawa  masuk  dalam  bahtera  pernikahannya.  Namun keburukan mulai terjadi  ketika  segala  sesuatunya  haruslah  Windy yang memegang kendali.

Menjadi  wanita  yang  terbiasa  mendominasi  membuat  Windy sulit menerima kelemahan  dan  kekurangan  suaminya. Bagi Windy, Hendrik Hidayat, suaminya harus menjadi suami yang sempurna dan harus mengerti semua keinginannya.

Saya  rindu  sekali  untuk  mendapat kejutan, entah itu di hari ulang tahun saya  atau  di hari ulang tahun pernikahan saya, atau saya bisa mendapatkan setangkai  bunga  mawar  atau  bunga  yang  lain.  Yang membuat saya merasa berarti  sebenarnya  bukan  bunganya, tapi yang membuat saya berarti adalah usaha yang dilakukannya, usaha yang dilakukan oleh dia untuk membayar harga pergi  ke  mall  untuk  membeli  bunga  yang bagus dan membawanya pulang ke rumah.  Tapi  hal  itu  yang saya tidak pernah dapatkan dari Hendrik, suami saya.

Selama  ulang  tahun pertama hingga keenam pernikahan kita yang jatuhnya di bulan  September  yang  bertepatan dengan ulang tahun saya, tidak ada tahun yang  kami  lewati  tanpa konflik yang besar. Selalu kami mengalami konflik dan  yang  menjadi  masalah  adalah hadiah kejutan seperti ini. Kejutan itu tidak pernah saya dapatkan.

Perlakuan  dan sikap Windy yang selalu menuntut membuat Hendrik hidup dalam tekanan.  Dengan  alasan  menghindari  konflik  Hendrik  cenderung bersikap pasrah dan menerima semua keputusan yang dibuat istrinya.

Selama   enam   tahun  itu  saya  tidak  pernah  mengambil  keputusan  yang benar-benar  mutlak.  Contohnya  waktu  anak  saya menanyakan kepada saya :

'Papi bolehkah saya makan es krim?'.

Sebenarnya  sebagai  kepala  keluarga  saya  bisa  mengatakan  'boleh' atau 'tidak'. Tapi yang saya lakukan adalah : 'Nak, coba tanya mami'.

Kenapa  saya  mengatakan seperti ini?, sebab ketika saya mengatakan 'boleh' dan istri saya bilang 'tidak boleh' maka kami akan mengalami konflik.

Ada juga beberapa kejadian lain seperti untuk menentukan warna dari pakaian saja saya tidak berani. Ketika saya mau membeli sesuatu, contohnya pakaian, ketika  saya  sudah  pilih  dan akan membelinya, istri saya akan mengatakan bahwa  pilihan  saya  tidak  bagus. Kalau saya tanyakan dia : 'Kenapa tidak bagus?',  istri  saya hanya mengatakan : 'Kalau saya bilang tidak bagus, ya tidak bagus'. Kalau saya teruskan hal ini maka akan terjadi konflik.

Sampai  suatu  ketika  Windy  mengikuti program pelatihan wanita bijak yang membahas  tentang  fungsi dan peranan wanita dalam sebuah keluarga. Melalui program ini Windy baru menyadari bahwa ia harus menerima keberadaan dirinya sebagai  wanita  dan  harus  belajar  untuk  lebih menghargai suami sebagai pemimpin dalam suatu keluarga. Tuhan berkata-kata dalam hati Windy.

Saya  ingat  sekali  hari  itu  Tuhan  bilang  pada saya : 'Apakah saya mau melepaskan apa yang menjadi kerinduan saya selama ini yang akhirnya menjadi ganjalan  dalam  kehidupan  rumah  tangga saya, walaupun mungkin bagi orang lain  hal  seperti itu adalah kecil?. Apakah saya mau serahkan semuanya itu kepada Tuhan'. Waktu itu saya bilang pada Tuhan bahwa saya 'mau'.

Saat  itu  juga  saya  bilang pada Tuhan : 'Ok Tuhan, saya janji. Saya janji bukan  pada  diri  saya  tapi kepada Tuhan. Ok, Tuhan saya janji tidak akan tanyakan  lagi  mengenai  bunga,  saya  tidak  akan  menanyai  lagi tentang kejutan. Saya akan belajar untuk menerima Hendrik itu apa adanya.'

Ketika  Windy  memutuskan  untuk tidak lagi menyatakan keinginannya tentang kejutan yang tidak pernah didapatkannya, tanpa sepengetahuan Windy, Hendrik dan   anak-anaknya  membawakan  bunga  Rose  Belanda  kesukaan  Windy  saat menjemput  Windy  setelah mengikuti program wanita bijak. Momen inilah yang menjadi momen awal pemulihan keluarga. Windy merasakan kesegaran baru dalam hidupnya.

Seperti  ada  air  yang  mengalir di hati saya. Dan itu saya rasakan hingga detik ini. Saya amat hargai apa yang sudah dia lakukan buat saya.

Kini Hendrik Hidayat telah menjadi kepala keluarga sejati. Ketika  istri  saya  dipulihkan,  otoritas  yang  sebelumnya  tidak  pernah dilakukan, menjadi imam dalam keluarga yang tidak pernah saya jalankan, itu dikembalikan dan dipulihkan oleh Tuhan.

Achen, teman Windy menyaksikan perubahan sahabatnya.

Windy  yang  saya  kenal dulunya adalah orang yang sulit sekali tunduk pada suaminya.  Dia  merasa  bahwa dia adalah orang yang paling benar. Saya juga sering melihat Windy marah pada suaminya, Hendrik dan mengelurkan kata-kata yang  menurut  saya  tajam  dan  juga  menyakitkan.  Tetapi  setelah  Windy mengetahui  kebenaran akan Firman Tuhan, saya melihat perubahan yang nyata.

Windy yang sekarang menjadi lebih lembut

Windy menjadi manusia yang baru sama sekali.

Saya sekarang telah jauh lebih mampu menghargai Hendrik sebagai suami saya, sebagai  imam dan kepala dalam rumah tangga saya. Bahwa dia adalah pemimpin dalam  keluarga  saya.  Bahwa  saya  sebagai  istrinya,  tugas  saya adalah mendampingi  dan  menolong  dia  pada  saat dia membutuhkan pertolongan dan dukungan dari seorang istri.

Sumber kesaksian : Windy Hidayat

29 November 2009

Humor : Interview

HRD : “Nama saudara siapa?”

Pelamar : “Budi, pak”

HRD : “Coba ceritakan tentang keluarga saudara!!”

Pelamar : “Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya. Orang Tua saya tinggal di Surabaya. Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo. Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang. Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal.”

HRD : “Apakan saudara dapat berbahasa inggris?”

Pelamar : “Yes, sir”

HRD : “Now tell me about your family in English!!”

Pelamar : “Sorry, sir. I don't have family in English, they're all living in Indonesia”

HRD : “????”