Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 December 2009

Kasih Bapa

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang duda yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat ia kasihi dan memiliki kegemaran yang sama dengannya yaitu mengkoleksi lukisan-lukisan terkenal. Mereka berkeliling dunia untuk mencari dan mengumpulkan lukisan-lukisan itu. Karya-karya tak ternilai dari Picasso, Van Gogh, Monet dan banyak lainnya menghiasi dinding rumah mereka. Duda itu sangat bangga dengan keahlian anaknya memilih karya-karya bermutu.

Ketika musim dingin tiba, perang melanda negeri mereka. Anak muda itu pergi untuk membela negerinya. Setelah beberapa minggu, ayahnya menerima telegram bahwa anaknya telah hilang. Kolektor seni itu dengan cemas menunggu berita berikutnya, dan ternyata yang dicemaskan terjadi, anaknya telah tewas ketika sedang merawat seorang temannya yang terluka. Keinginan untuk merayakan Natal bersama anaknya sirna sudah. Ia merasa sedih dan kesepian.

Pada hari Natal pagi hari, terdengar ketokan di pintu yang membangunkan orang tua itu. Ketika ia membuka pintu, seorang serdadu berdiri di depannya dengan membawa bungkusan besar. Serdadu itu memperkenalkan diri, "Saya adalah teman anak bapak. Saya adalah orang yang sedang diselamatkannya ketika ia tewas. Bolehkah saya masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan." Serdadu itu menuturkan bahwa anak orang tua itu telah menceritakan padanya kecintaannya, juga ayahnya, pada barang-barang seni.

"Saya adalah seorang seniman," kata serdadu itu, "dan saya ingin memberikan pada Anda barang ini." Dibukanya bungkusan yang dibawanya itu dan ternyata di dalamnya ada lukisan foto anak orang tua itu. Memang bukan karya yang sangat bagus dibandingkan dengan lukisan-lukisan yang telah dimilikinya. Tetapi lukisan itu cukup rinci menggambarkan wajah anaknya. Dengan terharu orang tua itu memajang lukisan itu di atas perapian, menyingkirkan lukisan-lukisan lain yang bernilai ribuan dolar.

Pada hari-hari berikutnya, orang tua itu menyadari bahwa walaupun anaknya tak berada lagi di sisinya ia tetap hidup dihatinya. Ia bangga mendengar anaknya telah menyelamatkan puluhan serdadu yang terluka sampai sebuah peluru merobek jantungnya. Lukisan foto anaknya itu menjadi miliknya yang paling berharga.

Pada musim semi berikutnya, orang tua itu sakit dan meninggal. Koleksi lukisannya akan dilelang. Dalam surat wasiatnya orang tua itu mengatakan bahwa lukisan-lukisan itu akan dilelang pada hari Natal, hari orang tua itu menerima lukisan yang paling disayanginya itu. Penggemar seni di seluruh dunia menunggu saat pelelangan itu.

Saat yang dinantikan itu pun tiba. Penggemar seni berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Lelang dimulai dengan lukisan yang tak ada dalam daftar di museum di seluruh dunia, yaitu lukisan anak orang tua itu.

Juru lelang bertanya, "Siapa yang akan mulai dengan penawaran?" Ruangan itu sunyi. Juru lelang melanjutkan, "Siapa yang akan mulai penawaran dengan $100?"

Menit-menit berlalu dan tak ada seorang pun yang berbicara. Terdengar suara protes, "Siapa yang berminat pada lukisan tak bermutu itu? Itu hanya lukisan foto anak orang tua itu. Lupakan saja lukisan itu dan lanjutkan dengan lukisan-lukisan lain yang bermutu."

Terdengar suara-suara yang menyetujui usul itu.

"Tidak, kita harus menjual ini terlebih dahulu," kata juru lelang. Akhirnya, seorang tetangga orang tua itu berkata, "Bagaimana kalau saya menawarnya sepuluh dolar. Saya hanya punya uang sebanyak itu. Karena saya kenal baik anak itu, saya ingin memilikinya."

Juru lelang itu bertanya, "Ada yang menawar lebih tinggi?" Kembali ruangan sunyi. "Kalau begitu saya hitung, satu, dua, . tiga, jadilah."

Tepuk tangan terdengar riuh di ruangan itu, dan terdengar suara, "Nah, akhirnya kita sampai pada pelelangan harta yang sebenarnya." Tetapi juru lelang itu mengumumkan pelelangan telah selesai. Seseorang memprotes dan bertanya, "Apa maksud Anda? Di sini ada koleksi lukisan yang bernilai jutaan dolar dan Anda mengatakan telah selesai. Kita datang kesini bukan untuk lukisan anak orang tua itu. Saya ingin ada penjelasan."

Juru lelang itu menjawab, "Ini sangat sederhana. Menurut surat wasiat orang tua itu, siapa yang memilih anaknya. akan mendapat semuanya."

Memang, pesan pada hari Natal itu sama seperti yang disampaikan pada kita selama berabad-abad: Kasih seorang Bapa pada Anak-Nya yang telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain. Dan karena kasih Bapa itu, siapa yang menerima Anak-Nya akan menjadi ahli waris-Nya dan menerima seluruhnya.

Yohanes 1:12 - Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Galatia 4:7 - Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Christmas Quiz

image I think it is safe to say that one of the most celebrated days of the year in our country is Christmas. It is such a popular holiday that often those not of the Christian faith participate in the festivities. It is also safe to say that this day is widely celebrated around the world, even in cultures that are not Christian in culture or persuasion, such as Japan and China. They too call it "Christmas".

Despite the widespread recognition of this holiday, Christians the world over lament how commercialized Christmas has become and how convoluted the reason and meaning. We see signs hanging in department stores that say "remember the reason for the season", but it seems the author of this Yule-time slogan had customer spending in mind rather than something spiritual.

There are myriad examples we could site regarding the world's commercialization of this sacred Christian holiday and the loss of festive understanding, but too often we Christians come up short ourselves in this theological arena. As our Lord said, sometimes we need to remove the beam from our own eye.

How much do you really know about Christmas? How much of what you think about Christmas is Bible and how much is world? Could you pass the following quiz on this topic? Test your knowledge. There are no trick questions, but you might be surprised by some of the answers. Score 5 points for each correct answer. I will leave it up to you to decide whether you passed or not. The answers are at the end of the quiz.

1. Christmas (the day Jesus was born) probably actually occurred on:
a. December 25th
b. March 29th
c. April 1st
d. We do not know

2. How many angels spoke to the shepherds?
a. 2
b. a multitude
c. 1
d. it cannot be determined

3. A manger is:
a. a feeding trough
b. a barn
c. a stable
d. a room behind an Inn

4. Where was Joseph's family from?
a. Bethlehem
b. Nazareth
c. Jerusalem
d. Galilee

5. How were the shepherds to find and recognize the Lord?
a. by following a star
b. by asking at the Inn
c. by looking for a babe in a manger
d. by looking for the Magi

6. How many wise men came to see Jesus in the manger?
a. two
b. the Bible doesn't say
c. three
d. none

7. How did Joseph and Mary get to Bethlehem?
a. walked
b. by cart
c. Joseph walked/Mary rode a donkey
d. The Bible doesn't say

8. When Mary was found to be with child, she and Joseph were:
a. married
b. companions
c. engaged
d. The Bible does not say

9. Who told Joseph what to name the baby?
a. Mary
b. An angel
c. God
d. Jewish elders

10. Where did the wise men find Jesus?
a. In the manger
b. On a donkey with Mary
c. In the field
d. In a house

11. Who saw the star over Bethlehem?
a. Joseph and Mary
b. The shepherds
c. The three kings
d. Everyone
e. None of the above

12. The Innkeeper told Joseph:
a. There is no room
b. We don't allow children
c. You can use the stable out back
d. None of the above

13. Who told Joseph to go to Bethlehem?
a. an angel
b. Herod
c. The tax collector
d. Caesar

14. What is meant by "heavenly host"?
a. an arch angel
b. greeting angels
c. an army of angels
d. an angelic choir or herald

15. What song did the heavenly host sing?
a. "Away in a Manger"
b. "Joy to the World"
c. "Glory to God in the Highest"
d. They did not sing

16. What animals were present at the birth of Jesus?
a. cows and sheep
b. cows, sheep and mules
c. cows, sheep and camels
d. unknown

17. What is the most accurate definition for "Magi"?
a. Magicians
b. Wise men
c. Astrologers
d. Eastern kings

18. Why did Herod want to know when Jesus was found?
a. So he could worship him
b. So he could tell others
c. So he could kill him
d. None of the above

19. How long was the trip for the wise men after they saw Herod?
a. Two years
b. Less than 1 day
c. A little less than two years
d. None of the above

20. How many shepherds were there in the field?
a. 3
b. 4
c. 6
d. We are not told

ANSWERS TO QUIZ
1. d
2. c
3. a
4. a
5. c
6. d*
7. d
8 . c
9. b
10. d
11. e (3 kings are not mentioned - all the wise men saw the star)
12. d (no mention of the Inn Keeper is made)
13. d (see Luke 2:1-3)
14. c
15. d (we are told "a heavenly host saying")
16. d (the Bible does not say what animals were present)
17. c
18. c
19. c (Herod had all the male children under 2 put to death)
20. d

*6 - the Bible says they saw the young child in the house - they were not present at the manger - and no mention is made as to how many Magi there were - we often assume there were three because there were three gifts

30 November 2009

Saya Bisa Lakukan Tanpa Pria

Karena  saya  adalah  anak sulung dalam keluarga yang semua adalah  perempuan,  saya  tumbuh  menjadi  sosok pribadi yang mandiri. Saya tidak pernah membiarkan diri saya bergantung dengan yang namanya pria. Saya merasa  tanpa pria sekalipun saya tetap bisa menjalankan kehidupan saya apa adanya.

Dalam lubuk jiwa Windy tertanam konsep yang salah. Mungkin  karena  latar  belakang  keluarga  yang  lebih  suka  dengan  anak laki-laki,  sehingga  saya merasa seandainya saya menjadi seorang laki-laki maka saya akan lebih berharga bagi keluarga.

Windy  kemudian  tumbuh  menjadi  pribadi  yang  lebih  suka  memimpin  dan mendominasi  orang, termasuk para pria di sekitarnya. Tanpa disadari, sikap ini  ia  bawa  masuk  dalam  bahtera  pernikahannya.  Namun keburukan mulai terjadi  ketika  segala  sesuatunya  haruslah  Windy yang memegang kendali.

Menjadi  wanita  yang  terbiasa  mendominasi  membuat  Windy sulit menerima kelemahan  dan  kekurangan  suaminya. Bagi Windy, Hendrik Hidayat, suaminya harus menjadi suami yang sempurna dan harus mengerti semua keinginannya.

Saya  rindu  sekali  untuk  mendapat kejutan, entah itu di hari ulang tahun saya  atau  di hari ulang tahun pernikahan saya, atau saya bisa mendapatkan setangkai  bunga  mawar  atau  bunga  yang  lain.  Yang membuat saya merasa berarti  sebenarnya  bukan  bunganya, tapi yang membuat saya berarti adalah usaha yang dilakukannya, usaha yang dilakukan oleh dia untuk membayar harga pergi  ke  mall  untuk  membeli  bunga  yang bagus dan membawanya pulang ke rumah.  Tapi  hal  itu  yang saya tidak pernah dapatkan dari Hendrik, suami saya.

Selama  ulang  tahun pertama hingga keenam pernikahan kita yang jatuhnya di bulan  September  yang  bertepatan dengan ulang tahun saya, tidak ada tahun yang  kami  lewati  tanpa konflik yang besar. Selalu kami mengalami konflik dan  yang  menjadi  masalah  adalah hadiah kejutan seperti ini. Kejutan itu tidak pernah saya dapatkan.

Perlakuan  dan sikap Windy yang selalu menuntut membuat Hendrik hidup dalam tekanan.  Dengan  alasan  menghindari  konflik  Hendrik  cenderung bersikap pasrah dan menerima semua keputusan yang dibuat istrinya.

Selama   enam   tahun  itu  saya  tidak  pernah  mengambil  keputusan  yang benar-benar  mutlak.  Contohnya  waktu  anak  saya menanyakan kepada saya :

'Papi bolehkah saya makan es krim?'.

Sebenarnya  sebagai  kepala  keluarga  saya  bisa  mengatakan  'boleh' atau 'tidak'. Tapi yang saya lakukan adalah : 'Nak, coba tanya mami'.

Kenapa  saya  mengatakan seperti ini?, sebab ketika saya mengatakan 'boleh' dan istri saya bilang 'tidak boleh' maka kami akan mengalami konflik.

Ada juga beberapa kejadian lain seperti untuk menentukan warna dari pakaian saja saya tidak berani. Ketika saya mau membeli sesuatu, contohnya pakaian, ketika  saya  sudah  pilih  dan akan membelinya, istri saya akan mengatakan bahwa  pilihan  saya  tidak  bagus. Kalau saya tanyakan dia : 'Kenapa tidak bagus?',  istri  saya hanya mengatakan : 'Kalau saya bilang tidak bagus, ya tidak bagus'. Kalau saya teruskan hal ini maka akan terjadi konflik.

Sampai  suatu  ketika  Windy  mengikuti program pelatihan wanita bijak yang membahas  tentang  fungsi dan peranan wanita dalam sebuah keluarga. Melalui program ini Windy baru menyadari bahwa ia harus menerima keberadaan dirinya sebagai  wanita  dan  harus  belajar  untuk  lebih menghargai suami sebagai pemimpin dalam suatu keluarga. Tuhan berkata-kata dalam hati Windy.

Saya  ingat  sekali  hari  itu  Tuhan  bilang  pada saya : 'Apakah saya mau melepaskan apa yang menjadi kerinduan saya selama ini yang akhirnya menjadi ganjalan  dalam  kehidupan  rumah  tangga saya, walaupun mungkin bagi orang lain  hal  seperti itu adalah kecil?. Apakah saya mau serahkan semuanya itu kepada Tuhan'. Waktu itu saya bilang pada Tuhan bahwa saya 'mau'.

Saat  itu  juga  saya  bilang pada Tuhan : 'Ok Tuhan, saya janji. Saya janji bukan  pada  diri  saya  tapi kepada Tuhan. Ok, Tuhan saya janji tidak akan tanyakan  lagi  mengenai  bunga,  saya  tidak  akan  menanyai  lagi tentang kejutan. Saya akan belajar untuk menerima Hendrik itu apa adanya.'

Ketika  Windy  memutuskan  untuk tidak lagi menyatakan keinginannya tentang kejutan yang tidak pernah didapatkannya, tanpa sepengetahuan Windy, Hendrik dan   anak-anaknya  membawakan  bunga  Rose  Belanda  kesukaan  Windy  saat menjemput  Windy  setelah mengikuti program wanita bijak. Momen inilah yang menjadi momen awal pemulihan keluarga. Windy merasakan kesegaran baru dalam hidupnya.

Seperti  ada  air  yang  mengalir di hati saya. Dan itu saya rasakan hingga detik ini. Saya amat hargai apa yang sudah dia lakukan buat saya.

Kini Hendrik Hidayat telah menjadi kepala keluarga sejati. Ketika  istri  saya  dipulihkan,  otoritas  yang  sebelumnya  tidak  pernah dilakukan, menjadi imam dalam keluarga yang tidak pernah saya jalankan, itu dikembalikan dan dipulihkan oleh Tuhan.

Achen, teman Windy menyaksikan perubahan sahabatnya.

Windy  yang  saya  kenal dulunya adalah orang yang sulit sekali tunduk pada suaminya.  Dia  merasa  bahwa dia adalah orang yang paling benar. Saya juga sering melihat Windy marah pada suaminya, Hendrik dan mengelurkan kata-kata yang  menurut  saya  tajam  dan  juga  menyakitkan.  Tetapi  setelah  Windy mengetahui  kebenaran akan Firman Tuhan, saya melihat perubahan yang nyata.

Windy yang sekarang menjadi lebih lembut

Windy menjadi manusia yang baru sama sekali.

Saya sekarang telah jauh lebih mampu menghargai Hendrik sebagai suami saya, sebagai  imam dan kepala dalam rumah tangga saya. Bahwa dia adalah pemimpin dalam  keluarga  saya.  Bahwa  saya  sebagai  istrinya,  tugas  saya adalah mendampingi  dan  menolong  dia  pada  saat dia membutuhkan pertolongan dan dukungan dari seorang istri.

Sumber kesaksian : Windy Hidayat

29 November 2009

Humor : Interview

HRD : “Nama saudara siapa?”

Pelamar : “Budi, pak”

HRD : “Coba ceritakan tentang keluarga saudara!!”

Pelamar : “Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya. Orang Tua saya tinggal di Surabaya. Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo. Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang. Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal.”

HRD : “Apakan saudara dapat berbahasa inggris?”

Pelamar : “Yes, sir”

HRD : “Now tell me about your family in English!!”

Pelamar : “Sorry, sir. I don't have family in English, they're all living in Indonesia”

HRD : “????”

28 November 2009

Humor : Jalan Keselamatan

Seorang anak Sekolah Minggu pulang sekolah pada hari Senin, dimana pada hari Minggu kemarin guru Sekolah Minggu mengatakan bahwa kita harus penginjilan. Sewaktu naik becak anak tersebut dengan semangat mulai menginjili tukang becak :

Si Anak : "Bang..bang becak!!!???"

Tukang Becak : "Mau saya antar kemana, dik??"

Si Anak : "Sampai umur sekian Abang sudah tahu belum 'Jalan Keselamatan' (maksudnya Kristus)???"

Dengan wajah lugu pula, abang becak itu berkata dengan bersemangat dan antusias,

Tukang Becak : "Tahu, dik. Dua ribu rupiah saja!! ....Ayo!!"

Si Anak : "?????!!!!!!"

Weekly Scipture – Roma 12:12

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! – Roma 12:12

27 November 2009

Deliverance

26 November 2009

Cacing, Burung Dan Manusia

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.

Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus "puasa". Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus "berpuasa". Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya "kantor" yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan makanan yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.

Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan epalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing?

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?

Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar banyak dari burung dan cacing.

25 November 2009

Tungguhlah Beberapa Saat Lagi

David dan Lynn mulai merasa kecil hati. Restoran yang mereka miliki tidak laku, bahkan meskipun mereka telah memperpanjang jam buka mereka dan menawarkan makan malam istimewa, berharap dapat menarik lebih banyak pelanggan. Namun tak seorangpun datang. Setelah beberapa minggu tanpa terlihat perubahan apapun, Lynn berkata, "Mungkin kita lebih baik tutup dan pulang saja".

Saat itu hampir jam sebelas malam.

"Kita buka beberapa jam lagi deh," David menyarankan.

"Mengapa?"

Lynn mengerutkan dahi. "Apa gunanya sih?"

"Karena malam ini mungkin adalah malam kita mendapatkan lebih banyak pelanggan". David nyengir, dan istrinya melihat harapan bersinar di mata coklatnya yg besar. Bahkan meskipun Lynn tidak menyukai gagasan itu, ia sependapat bahwa mereka seharusnya tetap membuka restoran itu.

Sekitar 30 menit kemudian, suatu mukjizat nampaknya terjadi. Sebuah bus larut malam masuk kedalam komunitas kecil itu dan segera merasakan dinginnya udara musim dingin. Mereka cepat-cepat masuk kedalam kafe yg hangat, karena itu merupakan satu-satunya restoran yg masih buka.

Keuntungan yg diperoleh David dan Lynn malam itu membantu mengkompensasi sebagian kerugian mereka sebelumnya, namun itu baru awalnya. Segera tersebar berita bahwa restoran kecil itu tetap buka larut malam. Pelanggan datang dari semua kalangan, orang-orang yang mengemudi mobil melewati kotaitu larut malam, bus-bus yg lewat, karyawan rel kereta api larut malam. Pasangan itu bahkan harus mempekerjakan pelayan tambahan untuk putaran larut malam.

Kadangkala ketika bekerja larut malam dan siap menyerah, bila kita menunggu dengan sabar, kita akan mencapai sasaran kita. Apa yg kita dambakan mungkin tiba dalam beberapa menit. Tenanglah dalam kenyataan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Mungkin esok merupakan sebuah siang, atau malam yang istimewa bagi kita ( through the night with God )

Simon menjawab : "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga".

“Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak” - Lukas 5:5-6

24 November 2009

Sedikit Demi Sedikit

Keluaran 23:30 - "Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki Negeri itu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 146; Wahyu 2; Zakharia 13-14

Ada seorang anak lelaki dengan sebuah sekop kecil di tangannya. Ia bermaksud menyingkirkan salju tebal yang baru turun dan menutupi jalan depan rumahnya. Seorang pria berhenti dan mengamati pekerjaan berat yang dilakukan oleh anak itu. "Nak" tegur pria itu, "bagaimana anak sekecil kamu dapat menyelesaikan pekerjaan seberat ini?' Anak itu menoleh dan menjawab dengan yakin, " Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" lalu ia menyekop lagi.

Dalam kehidupan ini kita pasti menghadapi yang namanya ujian dan tantangan yang tidak lah sedikit. Bahkan seringkali dalam pandangan kita, hal-hal itu sangatlah berat untuk kita hadapi. Kita memandang rendah kemampuan yang diberikan Allah dalam kehidupan kita. Namun, tahukah Anda, bahwa dengan mengerjakan sedikit demi sedikit ujian maupun tantangan yang ada dalam hidup ini maka kita akan dapat berhasil mengatasi semuanya itu.

Tantangan-tantangan yang dihadapi Israel ketika hendak merebut Tanah Perjanjian tampaknya sulit disingkirkan. Namun, Allah tidak menyuruh menyelesaikannya dalam sekejap. Ingatlah akan hal ini, "Sedikit demi sedikit" adalah strategi untuk meraih kemenangan.

Percayailah Allah untuk menyingkirkan gunung Anda, namun tetaplah mendaki.

Sumber: Kingdom Magazine September 2009

Jawaban.com

Bejana Pilihan

Seorang  Tuan  sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia, manakah  yang  akan  terpilih?

"Pilihlah  aku,"  teriak bejana emas,"Aku mengkilap dan bercahaya. Aku  sangat berharga  dan aku melakukan segala sesuatu dengan  benar. Keindahanku  akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!"

Tuan  itu  hanya  lewat  saja  tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Kemudian ia melihat  suatu  bejana perak, ramping dan tinggi.

"Aku akan melayani engkau Tuanku,  aku  akan  menuangkan  anggurmu  dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu."

Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga.

Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca.

"Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku  tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku."

"Lihatlah  aku!",  panggil  bejana  kristal  yang sangat jernih. Aku sangat transparan,  menunjukkan  betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan  melayani  engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu."

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.

"Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti."

Kemudian  tuan  itu  melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu.

Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai  kebanggaan.  Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di  rak.  Tidak  juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi  yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku.

Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas  yang  perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu."

Demikianlah  halnya  dengan  Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan  mau  berjalan  menurut  kehendak dan kemauan Tuhan.

Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.