Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

20 November 2009

Lupakah Anda?

Saya kenal seorang teman yang membenci bosnya karena bosnya itu tidak pernah memberinya kenaikan gaji. Ia pulang ke rumahnya dari kantor dengan kemarahan pada bosnya. Dan, karena tak mampu mengontrol kejengkelannya sewaktu-waktu, ia melemparkan kemarahan itu pada istri dan anak perempuannya. Ia ke tempat tidur tapi tidak dapat tidur karena sementara itu ia merencanakan cara-cara membunuh bosnya. Pagi hari ia bangun dengan keputusan untuk mendamprat bosnya; kemudian ia duduk di kursinya dan mengubur kemarahannya untuk sementara waktu.

Akan datang saatnya ketika Anda datang ke tempat tidur dan membanting bantal. Anda sama sekali sendirian dengan pikiran-pikiran Anda sendiri, aset-aset Anda dan kekurangan-kekurangan Anda. Kemudian tanyakan pada diri Anda apa yang Anda lupa lakukan selama hari yang telah berlalu tadi.

Apakah Anda lupa tersenyum, setidak-tidaknya sekali sehari?

Apakah anda lupa untuk memuji seseorang atas perbuatan baiknya? Atas kata-kata baik yang ia ucapkan?

Lupakan bahwa Anda dapat bahagia, bahwa Anda dapat membiasakan kebahagiaan?

Apakah Anda melupakan kemarahan, kekesalan, perasaan-perasaan negatif ini yangmenjauhkan Anda dari diri Anda dan membuat Anda menjadi kerdil dari sesungguhnya?

Lupakah Anda dilahirkan untuk sukses dalam hidup?

Apakah Anda lupa bahwa Anda memiliki aset-aset dalam diri Anda yang Tuhan Anda berikan?

Apakah Anda lupa bahwa Anda bermartabat karena anda diciptakan sebagai Citra Allah?

Apakah Anda lupa untuk bersikap tulus?

Apakah Anda lupa untuk memahami kebutuhan orang lain?

Apakah Anda lupa untuk berbelaskasihan ?

Apakah Anda lupa untuk percaya diri?

Apakah Anda lupa untuk menerima diri Anda apapun Anda dan tidak mencoba menjadi orang lain?

Apakah yang Anda lupakan hari ini?

Pikirkanlah satu hal yang tidak Anda ingin lupakan besok. Ini akan membuat Anda relaks danlebih baik. Adakanlah pemeriksaan terhadap diri Anda setiap hari. Hal ini menyumbangkan citra diri Anda dan memberi Anda kedamaian pikirin untuk meraih cita-cita esok hari. Lakukan sesuatu yang berarti buat diri anda sendiri maupun orang lain dan Anda akan menpunyai makna buat hidup orang lain.

19 November 2009

Chance

Lainie's career flourished after her move to California. She loved her job, the mild weather, and the circle of close friends she acquired. At 35 years of age, Lainie was content with everything in her life, except the deafening tick of her biological clock!
Lainie's last few birthdays had been dreaded reminders that she was still single and childless. Being the product of a large family, five siblings to be exact, she yearned to have a child of her own. She worried, she stewed, and studied her financial situation. Once sure she could handle all aspects of being a single mother, she discussed the situation with close friends, as well as her mother. After a bit more deliberation, she opted to go for it. As if by design, her first attempt at invitro fertilization was successful. Lainie was thrilled!
The first 27 weeks of Lainie's pregnancy were perfect and each day her excitement soared. At 28 weeks things changed in a heartbeat; the situation became critical and she was terrified. When preeclampsia reared its ugly head, an emergency C-section was the only option. Moreover, it came with no promise of survival for Mother or child. Lainie had already named her unborn son, Chance, and she prayed to God for just that a chance of survival for her child.
Weighing in at 1 pound and 15 ounces, the premature baby boy had been aptly named, for he was given a 50-50 chance of making it through his first night. Should he survive, he faced the probability of numerous health problems: mental retardation, cerebral palsy, blindness, and cystic fibrosis, to name only a few. The doctors were straightforward and not encouraging.
Lainie remained in intensive care for 10 anxiety-ridden days while her tiny son struggled to live. She held him for the first time when he was one week old. After three months in Neonatal Intensive Care, an overjoyed, yet fearful Mother took her still-fragile infant home. Lainie's mother traveled from Kansas to aid her youngest daughter and brand new grandson.
Due to chronic lung disease in premature babies, Chance would not be a daycare candidate for 2 years and Lainie was forced to make several major decisions. She left California and moved into her mother's roomy home in Kansas. Mom was more than willing to provide the emotional support Lainie needed and to help care for her young grandson.
Lainie was unable to continue her established career path in Kansas. Instead, her employment took the route of temporary jobs. Chance's therapy sessions and endless doctor appointments required her schedule to be flexible.
At 18 months of age Chance lags behind developmentally for a child his age, but he makes progress daily. It appears he has avoided all of the possible maladies that once loomed in his future. Furthermore, Chance dodged two additional obstacles that were thrown in his path those being, kidney and heart surgery. Both issues resolved themselves with no logical or scientific explanation! Since birth, it seems Chance has been cradled in God's loving hands.
When I last visited Chance, his bright eyes danced and he giggled while giving grandma high fives one after the other. In addition, the smile that graced grandma's proud face was priceless.
Despite all adjustments and challenges encountered, Chance fills Lainie's life with love, light, and joy daily. With mountains of love, a multitude of prayers, and the grace of God, chances are that Chance will lead a completely normal life..
(Kathleene S. Baker)

18 November 2009

Heavens

Mengapa Ya Tuhan?

Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 140; Yohanes 17; Hagai 1-2

Pada suatu hari ada seorang petani yang terkenal begitu rajin dibandingkan dengan teman-temannya. Saat musim tanam tiba, pergilah ia ke sawah untuk menanam padi. Cuaca yang sangat mendukung dan pikiran untuk mendapat keuntungan yang besar menambah semangatnya untuk terus bekerja. Hingga tibalah satu pekan sebelum musim panen. Tanpa diduga hujan turun dengan lebatnya selama beberapa hari dan tak kunjung reda yang membuat padi-padi yang sudah ditanamnya sudah terendam air. Hancur sudah impiannya untuk memperoleh hasil panen yang besar. Petani tersebut yang sudah kecewa lalu berteriak, "apa kesalahanku Tuhan sehingga aku mengalami kerugian seperti?"

Orang selalu mengajukan pertanyaan "mengapa" bila sedang menghadapi ketidakberuntungan dan kesukaran. Pertanyaan ini penting karena menunjuk pada kenyataan bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan. Namun, bukan berarti kita berhak untuk mengatakan "mengapa" setiap kali datang kepada Tuhan.

Kisah Ayub dalam Alkitab adalah contoh nyata bagaimana karena selalu bertanya tentang kata yang satu ini, hukuman Tuhan datang kepada-Nya. Sering kali Allah menyembunyikan alasan/jawaban untuk diri-Nya sendiri. Bahkan Allah menyembunyikannya jauh melampaui pengertian dan kemampuan kita dengan maksud untuk memperkuat iman kita dan agar kita sepenuhnya bersandar kepada-Nya.

Percayalah kepada Allah dengan penuh ketaatan dalam segala situasi dan kondisi. Jangan ragukan perkataan-Nya dan ketahui sudah banyak hal-hal besar menanti bila Anda setia.

Bersungut-sungut adalah penghalang Anda untuk menerima berkat Allah yang luar biasa.

Sumber: Untaian Kata-kata Bijak; Yayasan Komunikasi Bersama

Jawaban.com

17 November 2009

Pemulihan

Yeremia 33:6 "Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 139; Yohanes 16; Ezra 3-4

Pada 18 Mei 1980, seluruh dunia dikegetkan dengan peristiwa meletusnya Gunung St.Helens. Kejadian itu sangatlah luar biasa sehingga tercatat sebagai salah satu bencana alam terbesar pada zaman modern. Saat meletus, puncak gunung itu menyemburkan batu-batu yang telah hancur menjadi kepingan mulai dari besar sampai kecil setinggi 17 kilometer dan menjadi awan kelabu. Pada saat yang bersamaan, banjir batu, lumpur, dan es melanda lereng gunung itu, menghancurkan semua yang dilaluinya, menutup sungai-sungai, dan menghentikan perahu-perahu.

Untuk memulihkan Gunung St.Helens dan perbaikan wilayah yang terkena dampak letusan, Pemerintah Amerika Serikat tidak hanya menguras dana kas negara yang tidak sedikit, tetapi juga harus menunggu waktu 25 tahun hingga kondisi sekitar gunung kembali seperti semula. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Dalam proses pemulihan hidup kita, Allah pun sebenarnya melakukan hal yang sama. Dia menunggu dengan sabar kita untuk bertobat dan dipulihkan ketika kita melakukan pemberontakan kepada-Nya. Dia tahu bahwa perlu waktu yang lama agar hidup kita benar-benar berubah dan itu tidak menjadi masalah bagi-Nya.

Zaman akhir ini adalah masa-masa anugerah dimana pengampunan dan kasih setia Allah berlimpah bagi manusia. Masih ada waktu untuk kita berbalik kembali kepada-Nya dan mengizinkan Dia memulihkan kehidupan kita. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini dan ambillah sekarang juga.

Darah Kristus sanggup memutihkan kembali hidup kita yang penuh dengan noda dosa.

Sumber: Kingdom Magazine Edisi Oktober 2009

Jawaban.com

Anak Anjing

Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.

Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil.

"Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda."

"Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."

Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.

"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk membelinya?"

"Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.

Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya. Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing.

Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.

"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yang anak anjing kecil itu.

Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."

Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.

Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya. "

<<<<< ^-^ >>>>>

Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.

"Sebab barangsiapa malu karena Aku, Aku-pun akan malu karena orang itu di hadapan Bapa-Ku" - Lukas 9:26 (diringkas)

16 November 2009

John Wesley

Ayah John Wesley adalah seorang pendeta dan ia  menghidupi keluarganya dari gajiannya yang kecil sebagai pendeta. John wesley melihat betapa miskin dan menderitanya  keluarganya saat  itu. Oleh karena hal inilah maka ketika ia memutuskan untuk terjun di dalam pelayanan, ia tidak pernah mengharapkan akan mendapatkan uang yang banyak dan menjalani kehidupan yang berkecukupan. Ternyata, ia mengalami  kehidupan yang lebih baik daripada ayahnya. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar di  Universitas Oxford dan mulai dari situ keadaan keuangan membaik. kedudukan yang  cukup penting membuatnya mendapatkan bayaran yang lumayan banyak, yaitu 30 poundsterling per tahunnya, gaji yang yang lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya sebagai bujangan pada saat itu. uang yang banyak, membuat John memuaskan dirinya dengan berbagai kesenangan.

Suatu hari di musim dingin setelah John baru selesai memasang lukisan mahal yang dibelinya, seorang pembantu datang untuk  membersihkan kamarnya. Ia melihat bahwa pembantu itu tidak memiliki pakaian  tebal untuk menghangatkan tubuhnya, selain sehelai pakaian tipis yang membungkus tubuhnya di musim dingin itu. John bermaksud memberinya uang untuk membeli baju  hangat, tetapi uangnya di belanjakan untuk lukisan-lukisan mahal.

Saat itulah  John Menyadari bahwa Tuhan pasti tidak berkenan dengan caranya menggunakan  uang.  Peristiwa musin dingin itu, akhirnya mengubah pandangan hidup John. Maka mulailah ia membatasi penggunaan uangnya, agar  bisa memberi kepada mereka yang berkekurangan. setelah mencatat semua kebutuhan hidupnya, ternyata ia hanya membutuhkan 28 poundsterling dan ini berarti ia mempunyai 2 poundsterling untuk disumbangkan kepada orang miskin.
Tahun berikutnya, gajinya menjadi 60 poudsterling  atau dua kali lipat dari gajinya semula, tetapi ia masih dapat menekan kebutuhan hidupnya dengan jumlah semula, yaitu 28 poundsterling dan ia memiliki 32 poundsterling untuk diberikan kepada sesamanya yang benar- benar membutuhkan.

Tahun berikutnya, gajinya naik lagi menjadi 90  poundsterling, namun biaya hidupnya tetap 28 poundsterling dan sisanya 62 poundsterling ia berikan untuk orang-orang miskin. Selanjutnya gajinya terus naik, sehingga ia  mendapatkan jumlah yang semakin banyak untuk diberikan.

John Wesley mengajarkan sesuatu yang sudah semakin sulit kita temukan sekarang , yaitu semakin besar pendapatan, semakin besar pula pemberian kita. ‘Kita sudah terbiasa dengan pola' semakin besar pendapatan, semakin tinggi taraf hidup, semakin besar pengeluaran.

John Wesley berkata, "Bagaimana mungkin saya mengoleksi barang-barang yang mahal yang tidak terlalu penting sementara banyak orang yang membutuhkan roti untuk tetap bertahan hidup?"

Renungkanlah teladan John wesley ini, kita  harus bijaksana di dalam menggunakan uang dan berkat yang Tuhan  berikan. Semakin bijak kita menggunakan uang, semakin  besar yang Tuhan percayakan.

15 November 2009

Humor : Neraka

Seorang warga Indonesia meninggal dan karena amal perbuatannya buruk lalu ia dikirim menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ternyataneraka itu berbeda-beda bagi tiap negara asal. Pertama ia keneraka orang-orang Inggris dan bertanya kepada orang-orang Inggris di situ, “Kalian diapain disini?”

Orang Inggris menjawab, “Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari.”

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju ke neraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Jepang, neraka Rusia dan banyak lagi. Ia mendapati bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka orang Inggris. Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai negara (tidak cuma orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia. Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri, “Apa yang akan dilakukan di sini?”

Ia memperoleh jawaban, “Pertama-tama, kita didudukkan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukkan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari.”

“Tapi itu kan sama persis dengan neraka-neraka yang lain toh.  Lalu kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?”

“Di sini service-nya sangat-sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati... Kursi pakunya nggak ada, tinggal pakunya aja karena kursinya sering diperebutkan... Bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi dan setannya adalah mantan anggota DPR, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang.”

14 November 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Humor : Balada Wadkidjan

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, "Not a play! Not a play!"

Nadine bengong. "Not a play?"

"Yes. Not a play. Bukan main."

Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah.

"Bukan main itu bukan not a play, Djan."

"Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)"

Lalu berpaling ke Nadine. "Lady, let's corner (Mojok yuk). But don't think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together."

"Ngaco kamu, Djan," Tukidjo tambah gemes.

"Don't be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?" Nadine cuman senyum kecil. "I would love to, but ..."

"Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)" sambut Wakidjan ramah.

"Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok (Saya nggak akan macam-macam kok)."

Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. "Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?"

Tukidjo cari kalimat penutup. "Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your belly button." (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, "His name is also effort." (Namanya juga usaha)

13 November 2009

Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum.  Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah, “Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

“Tahu, jangan kuatir ...”, jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?”

“Tahu, jangan kuatir ...”

“Benar, tidak kesasar Ayah?”

“Benar, jangan kuatir ...”, jawab Ayah tetap dengan sabar.

“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?”

“Tenang, nanti Ayah beli air mineral ...”

“Terus kalau lapar?”

“Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ...”

“Emang ayah tahu tempat restorannya?”

“Tahu, sayang ...”

“Emang ayah bawa cukup uang?”

“Cukup, sayang ...”

“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?”

“Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ...”

“Emang di musium ada toiletnya?”

“Ada, jangan kuatir ...”

“Ayah bawa tissue juga?”

“Bawa, jangan kuatir ...”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”

“Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ...”

Tidak berapa lama,  Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, “Kenapa Asa diam, sayang?”

“Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini.  Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita.  Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.  Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. 

Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain.  Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya.  Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.