Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

13 November 2009

Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan kemana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita.

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum.  Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah, “Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

“Tahu, jangan kuatir ...”, jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya?”

“Tahu, jangan kuatir ...”

“Benar, tidak kesasar Ayah?”

“Benar, jangan kuatir ...”, jawab Ayah tetap dengan sabar.

“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?”

“Tenang, nanti Ayah beli air mineral ...”

“Terus kalau lapar?”

“Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ...”

“Emang ayah tahu tempat restorannya?”

“Tahu, sayang ...”

“Emang ayah bawa cukup uang?”

“Cukup, sayang ...”

“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?”

“Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ...”

“Emang di musium ada toiletnya?”

“Ada, jangan kuatir ...”

“Ayah bawa tissue juga?”

“Bawa, jangan kuatir ...”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”

“Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ...”

Tidak berapa lama,  Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung, “Kenapa Asa diam, sayang?”

“Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini.  Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita.  Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi.  Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. 

Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain.  Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya.  Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

12 November 2009

Dilarang Memancing

Ada sebuah legenda mengenai seorang pendeta di sebuah paroki kecil di daerah Midwestern yang sebagai seorang muda telah melakukan apa yang menurutnya adalah sebuah dosa yang amat besar. Sekalipun ia telah meminta pengampunan Tuhan, sepanjang hidupnya ia menanggung beban dari dosanya itu. Sekalipun ia telah menjadi seorang pendeta, ia tetap tak dapat dengan tuntas meyakini bahwa Tuhan telah mengampuninya. Tetapi ia mendengar mengenai seorang wanita tua dijemaatnya yang kadangkala mendapatkan penglihatan. Di saat mendapat penglihatan tersebut, sang wanita seringkali saling berkata-kata dengan Tuhan.
Suatu hari sang pendeta berhasil mendapat cukup keberanian untuk mengunjungi wanita tersebut. Sang wanita mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan secangkir teh. Pada akhir kunjungannya, si pendeta menaruh cangkirnya diatas meja dan memandang pada sang wanita.
“Benarkah kadang kala ibu mendapat penglihatan?”, tanyanya.
“Ya”, ia menjawab.
“Apakah juga benar, bahwa saat penglihatan tersebut, ibu seringkali berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya”, jawabnya.
“Mmm... jika anda mendapatkan penglihatan lagi dan berkata-kata dengan Tuhan, maukah ibu tanyakan satu pertanyaan bagi saya?”.
Sang wanita memandang sedikit heran pada si pendeta. Belum pernah ia mendapat permintaan seperti itu. “Ya, dengan senang hati,” jawabnya. “Apa yang bapak ingin saya tanyakan?”
“Mmm..” sang pendeta memulai, “Tolong tanyakan pada Tuhan, dosa apakah yang pernah dilakukan pendetanya ini di masa mudanya.”
Sang wanita, benar-benar heran sekarang, segera saja setuju. Beberapa minggupun berlalu, dan sang pendeta sekali lagi mengunjungi wanita itu. Setelah menikmati secangkir teh, dengan hati-hati dan malu-malu ia bertanya, “Sudahkah ibu mendapatkan penglihatan baru-baru ini?”
“Oh ya, saya mendapatkannya”, jawab sang wanita.
“Apakah anda saling berkata-kata dengan Tuhan?”
“Ya.”
“Apakah ibu bertanya kepada Tuhan dosa apakah yang pernah saya lakukan dimasa muda saya?”
“Ya,” sang wanita menjawab, “Saya menanyakannya.”
Sang pendeta, gelisah dan takut, ragu-ragu sejenak dan kemudian bertanya, “Lalu,apa yang Tuhan katakan?”
Sang wanita mengangkat wajahnya dan memandang si pendeta dan kemudian menjawab dengan lembut, “Tuhan mengatakan Ia tidak dapat lagi mengingatnya.”
Tuhan tidak hanya mengampuni dosa, Ia juga memilih untuk melupakannya. Alkitab menyatakan pada kita bahwa Ia mengambil dosa-dosa kita dan membenamkannya di bagian laut yang terdalam. Dan kemudian, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Corrie ten Boom, “Sesudah itu ia memasang sebuah papan bertuliskan, Dilarang Memancing.”
Jika Tuhan mengampuni kita, dapatkah kita melakukan sesuatu yang  kurang dari itu?

11 November 2009

Peka Akan Suara Tuhan

Seorang anak muda berdoa pada Tuhan karena ingin melihat mujizatNya dinyatakan. “Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa turunkanlah api dari langit seperti yang Kau lakukan pada Elia. Tuhan apabila Engkau benar-benar berkuasa redakanlah semua badai yang terjadi di bumi saat ini juga seperti yang telah Engkau lakukan saat menyeberang danau Galilea.”

Setelah menunggu lama, anak muda itu tidak melihat satupun dari doanya itu terjadi. karena itu dia mulai bertanya-tanya pada Tuhan. “Tuhan dimanakah kuasaMu yang dulu? Mengapa Engkau hanya diam tanpa menjawab doaku? Apakah Engkau sudah tidak sanggup melakukannya lagi? Atau barang kali Engkau sudah terlalu tua sehingga tidak bisa melakukan hal-hal yang besar seperti dulu lagi...”

Sebulan kemudian pemuda itu mendapat sebuah surat. Di amplop surat itu terdapat tulisan “YHWH - arsitek alam semesta”. Karena penasaran dengan cepat dia membuka suratnya. Sesaat kemudian sambil membaca surat itu dia mulai meneteskan air mata penyesalan karena kebodohannya selama itu.

Surat itu berisi :
Anakku mengapa engkau buta dan tuli... Bukankan aku telah menjawab semua doamu... Aku menurunkan api dari langit, bukan untuk membakar korban bakaran yang mati, tapi untuk membakar semangat orang-orang yang telah memberikan dirinya sebagai korban yang hidup, untuk menyalakan roh mereka sehingga mereka dapat menjadi saksiKu di dunia ini. Aku meredakan semua badai di bumi, bukan badai yang mengamuk di lautan atau angin puyuh di daratan, tapi Aku meredakan semua badai yang mengamuk di kehidupan anak-anak yang Kukasihi termasuk Engkau...

Salam,
Bapa yang sangat mengasihimu

10 November 2009

Mukjizat di Sepanjang Masa

Yohanes 14:12 - "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 132; Yohanes 9; Yeremia 40-42

Suatu kali seorang anak datang kepada ayahnya untuk minta diajarkan sulap. Awalnya sang ayah enggan untuk memenuhi permintaan sang anak karena dia sedang sibuk memperbaiki mobil. Namun, putranya itu tidak bergeming dan terus memaksa sang ayah agar mau mengabulkan permintaannya. Tak sampai menunggu lama, hati sang ayah pun luluh dan akhirnya mau juga mengajarkan permainan sulap kepada putranya tersebut.

Sang ayah mulai mengambil koin dari kantong celananya. Dengan sedikit permainan kata-kata, ia mulai menunjukkan aksinya di depan buah hatinya tersebut. Anaknya itu pun hanya bisa terkagum-kagum melihat permainan sulap ayahnya. Baginya, apa yang dilihatnya tersebut merupakan sebuah keajaiban.

Sepuluh menit kemudian, sang ayah mengakhiri permainan kecepatan tangan itu dan mulai meminta anaknya meniru apa yang telah dilakukannya. Seperti layaknya seorang pemula, anaknya itu pun masih terlihat kaku mengikuti gerakan sang ayah. Pria kecil ini tidak menyerah begitu saja. Berkat ketekunan dan dorongan yang kuat, ia pun bisa melakukan aksi sulap seperti yang diajarkan ayahnya. Sekarang, ia dapat menunjukkan keajaiban itu kepada orang-orang di sekitarnya.

Tuhan Yesus memiliki kerinduan yang sama bagi murid-muridNya di bumi ini. Dia ingin setiap kita menjadi alat kemuliaan nama-Nya dalam dunia yang gelap dan memerlukan jawaban. Yesus tidak mau kita hanya menjadi penikmat mukjizat dari-Nya saja, tetapi Dia rindu kita melakukan mukjizat itu juga di tengah-tengah orang-orang yang percaya dan belum percaya kepada-Nya.

Apa yang pernah Petrus, Yohanes, Lukas, Paulus lakukan ketika mereka masih hidup, Dia ingin itu terjadi dalam hidup kita. Orang sakit disembuhkan, makanan yang tadinya berkekurangan menjadi berlimpah, dan perkara-perkara ajaib lainnya dinyatakan oleh Allah hari-hari ini melalui kita.

Anda adalah umat-Nya dan telah memiliki otoritas dari-Nya. Pakai itu dan lihatlah mukjizat demi mukjizat terjadi kemana pun dan dimana pun Anda berada.

Perkara-perkara besar yang terjadi dalam hidup Anda adalah bukti bahwa Allah itu berkuasa dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Jawaban.com

God Will

* Download slideshow, please click here or visit
http://www.ziddu.com/download/6990274/God_Will.pps.html

09 November 2009

Artikel Untuk Natal

Natal hampir tiba, kami mengajak siapa saja yang ingin membagikan cerita-cerita / artikel-artikel bertema Natal yang akan kami tampilkan di rumahrenungan.com. Yang ingin membagikan koleksi cerita / artikel-nya bisa kirim kesamuel@rumahrenungan.com atau ke samuelms@ovi.com, tulis "For Christmas" di SUBJECT emailnya.

For more information please visit here.

Thank you... And we waiting... JBU all.. :)

Waktu Yang Berharga

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.

Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.

Ia bahkan tak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah. Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, “Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi.”

Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.

“Halo?”, suara ibunya membangunkannya.

“Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu”, kata Jack

“Tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku”

“Oh tidak, Jack,” kata ibunya,

“Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”

“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini.” kata Jack.

Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser. Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey… Jack terdiam sejenak.

“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Jack.

Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya.

“Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’.”

Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya. Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu,

Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki

Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,

Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser

“Yang ia hargai dariku adalah… waktuku.” serunya perlahan.

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya untuk membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan.

“Mengapa?” tanya Janet, sekertarisnya.

“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Jack

“dan Janet, terima kasih untuk waktumu.”

…………

Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali : Perkataan dan Waktu.

Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu yang lain. Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka?

08 November 2009

Humor : Memancing

Dua orang sedang duduk sambil memancing di tepi danau sepanjang hari di musim dingin yang membeku. Yang seorang tidak beruntung sama sekali dan yang lainnya sedang menangkap ikan sebesar kepalan tangan. Orang yang tidak beruntung tadi bertanya kepada orang yang satunya tentang bagaimana rahasianya memancing selalu sukses.

“Mmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm... mm,” jawab orang di sebelahnya.

“Maaf, tapi kamu berkata apa?”

“Mmmmmmm... mm... mmmm.. mmm... mmm.. mm”, jawab pemancing yang sukses itu sekali lagi.

“Aku betul-betul minta maaf, tapi aku tetap tidak mengerti ucapanmu.” Orang tadi kemudian memuntahkan sesuatu ke telapak tangannya sendiri dan berkata perlahan-lahan, “Kamu harus menjaga cacing umpanmu tetap hangat.”

07 November 2009

Weekly Scripture – Amsal 15:3

"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik" - Amsal 15:3

Humor : Salah Membangunkan

Seorang penumpang naik pesawat terbang dari Jakarta-Surabaya. Ia berpesan kepada salah seorang pramugari agar membangunkannya bila pesawat sudah mendarat di Surabaya. Tetapi penumpang itu baru bangun ketika pesawat sudah jauh sampai di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Tak pelak orang itu amat marah dan memanggil pramugari yang tadi diberi pesan untuk meminta suatu penjelasan. Pramugari itu dengan takut dan gagap memohon maaf sementara penumpang tadi dengan memendam kemarahan turun dari pesawat.

“Ya ampun, betapa gusarnya orang itu”, komentar seorang pramugari lain kepada koleganya yang sedang sial itu.

Kata pramugari tadi, “kamu kira dia marah, kamu’kan tidak tahu orang yang aku bangunkan dan turun di Surabaya tadi!” Ternyata…?!

06 November 2009

Biarkanlah Aku Memberi

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup
Namun, sementara aku masih hidup, Tuhan, biarkanlah aku memberi penghiburan kepada seseorang yang sedang membutuhkan
Entah melalui senyuman, anggukan kepala, tindakan atau sepatah kata keramahan

Dan biarkanlah aku berbuat apa yang mampu kulakukan
Untuk meringankan beban sesamaku
Aku hanya ingin berbuat bagianku
Untuk sekedar meringankan jiwa yang lelah dan putus harapan

Untuk mengubah kerutan dahi menjadi senyuman lagi
Sehingga hidupku tidak sia-sia
Aku tak peduli berapa lama aku masih berada di dunia
Asalkan aku dapat memberi…dan memberi…dan memberi

BJ. Morbitzer