Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

24 October 2009

Weekly Scripture – 1 Korintus 12:6

“Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” – 1 Korintus 12:6

23 October 2009

Mikroskop Atau Teleskop

I Korintus 13:7 - "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 36-37

Apakah Anda mengingat masa di waktu sekolah ketika pertama melihat menggunakan sebuah mikroskop? Benda-benda yang sangat kecil seperti mikroorganisme atau biji tanaman pasti akan Anda lihat besar ketika menggunakan benda tersebut.

Nah, mari bandingkan mikroskop dengan alat yang biasa manusia gunakan untuk melihat bintang atau benda-benda di angkasa, yakni teleskop. Sistem kerja benda ini sangat berbeda dengan mikroskop. Bila dengan mikroskop seseorang dapat melihat sesuatu yang sangat kecil terlihat besar, teleskop membuat sesuatu yang tampaknya jauh menjadi lebih dekat.

Apakah Anda menyadari bahwa setiap hari dalam kehidupan ini orang-orang sedang menggunakan kedua benda ini, yakni sebuah mikroskop dan sebuah teleskop, tergantung keadaan. Dan mungkin salah satu diantaranya adalah kita sendiri.

Kita dapat begitu cepat memakai sebuah mikroskop untuk melihat kesalahan dan kelemahan orang lain, sedangkan di sisi lain ketika kita melakukan kesalahan, kita menggunakan sebuah teleskop yang menyebabkan kesalahan kita sepertinya begitu kecil.

Dalam Lukas 6:41-42, Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya dengan kata-kata seperti ini, "Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?" dengan bahasa yang lebih sederhana, "Bagaimana seseorang bisa menasihati orang lain akan kesalahannya bila orang tersebut tidak bisa melihat kesalahan yang dalam dirinya sendiri?" jawabannya pastilah tidak bisa.

Oleh karena itu, Allah meminta kita menjadi orang seperti di Mikha 6:8, yakni "untuk bertindak adil dan mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah." Jika kita melihat ini secara serius, kita akan berhenti menggunakan mikroskop untuk memeriksa kehidupan orang lain dan malah memperluas rahmat serta kasih kepada mereka dengan melihat mereka melalui teleskop. Dengan teleskop, kita akan memandang orang lain dengan adil, penuh belas kasihan dan rendah hati seperti yang Yesus lakukan.

Jadi, apakah yang Anda pilih saat ini untuk melihat lingkungan sekitar, sebuah mikroskop ataukah sebuah teleskop?

Hati yang penuh dengan kasih adalah bukti bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sejati.

Sumber: Saduran Artikel Devotional ‘Microscope or Telescope’ oleh Leah Adams

Jawaban.com

A Piece of My Heart

One day a young man was standing in the middle of the town proclaiming that he had the mostbeautiful heart in the whole valley. A large crowd gathered and they all admired his heart for it wasperfect. There was not a mark or a flaw in it. Yes, they all agreed it truly was the most beautiful heart they had ever seen. The young man was very proud and boasted more loudly about hisbeautiful heart.

Suddenly, an old man appeared at the front of the crowd and said "Why, your heart is not nearly as beautiful as mine." The crowd and the young man looked at the old man's heart. It was beating strongly, but it was full of scars. It had places where pieces had been removed and other pieces put in, but they didn't fit quite right and there were several jagged edges. In fact, in some places there were deep gouges where whole pieces were missing. The people stared -- how can he say his heart is more beautiful, they thought? The young manlooked at the old man's heart and saw its state and laughed.

"You must be joking," he said.

"Compare your heart with mine. Mine is perfect and yours is a mess of scars and tears."

"Yes," said the old man, "yours is perfect looking but I would never trade with you. You see, every scar represents a person to whom I have given my love - I tear out a piece of my heart and give it to them, and often they give me a piece of their heart which fits into the empty place in my heart, but because the pieces aren't exact, I have some rough edges, which I cherish, because they remind me of the love we shared."

"Sometimes I have given pieces of my heart away, and the other person hasn't returned a piece of his heart to me. These are the empty gouges -- giving love, is taking a chance. Although these gouges are painful, they stay open, reminding me of the love I have for these people too, and I hope someday they may return and fill the space I have waiting. So now do you see what true beauty is?"

The young man stood silently with tears running down his cheeks. He walked up to the old man, reached into his perfect young and beautiful heart and ripped a piece out. He offered it to the old man with trembling hands. The old man took his offering, placed it in his heart and then took a piece from his old scarred heart and placed it in the wound in the young man's heart. It fit, but not perfectly, as there were some jagged edges. The young man looked at his heart, not perfectanymore but more beautiful than ever, since love from the old man's heart flowed into his.

22 October 2009

Artikel Untuk Natal

Shalom,

Bulan Desember tak terasa sudah hampir tiba, dan perayaan Natal pun semakin dekat. Banyak acara-acara di televisi yang menayangkan acara-acara seputar Natal dan event-event off air lainnya.

Untuk menyambut datangnya Natal di bulan Desember nanti yang sudah semakin dekat. Rumahrenungan.com ingin menampilkan selama bulan Desember artikel-artikel yang berbau Natal, jadi siapa saja yang mempunyai cerita, artikel, tips, kesaksian, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Natal dan ingin menampilkan di Rumahrenungan.com, kami membuka kesempatan itu mulai dari hari ini, dan kirim ke samuel@rumahrenungan.com, karena kami butuh banyak artikel Natal untuk di tampilkan selama bulan Desember nanti. Setiap cerita yang masuk akan kami proses terlebih dahulu dan kemudian akan kami tampilkan. Jika artikel tersebut mempunyai sumber, cantumkan juga sumbernya.

Kami tunggu kiriman artikel dari Anda semua. Terima kasih

Tuhan Yesus Memberkati…

Samuel MS
+ Moderator +

The Secret Of Happiness

The old man shuffled slowly into the restaurant. With head tilted, and shoulders bent forward, he leaned on his trusty cane with each unhurried step.

His tattered cloth jacket, patched trousers, worn out shoes, and warm personality made him stand out from the usual Saturday morning breakfast crowd. Unforgettable were his pale blue eyes that sparkled like diamonds, large rosy cheeks, and thin lips held in a tight, steady smile.

He stopped, turned with his whole body, and winked at a little girl seated by the door. She flashed a big grin right back at him. A young waitress named Mary watched him shuffle toward a table by the window.

Mary ran over to him, and said, "Here, Sir. Let me give you a hand with that chair."

Without saying a word, he smiled and nodded a thank you. She pulled the chair away from the table. Steadying him with one arm, she helped him move in front of the chair, and get comfortably seated. Then she scooted the table up close to him, and leaned his cane against the table where he could reach it.

In a soft, clear voice he said, "Thank you, Miss. And bless you for your kind gestures."

"You're welcome, Sir." She replied.

"And my name is Mary. I'll be back in a moment, and if you need anything at all in the mean time, just wave at me!"

After he had finished a hearty meal of pancakes, bacon, and hot lemon tea, Mary brought him the change from his ticket. He left it lay. She helped him up from his chair, and out from behind the table. She handed him his cane, and walked with him to the front door.

Holding the door open for him, she said, "Come back and see us, Sir!"

He turned with his whole body, winked a smile, and nodded a thank you. "You are very kind." he said softly.

When Mary went to clean his table, she almost fainted. Under his plate she found a business card and a note scribbled on a napkin. Under the napkin was a one hundred dollar bill.

The note on the napkin read...

"Dear Mary, I respect you very much, and you respect yourself too. It shows by the way you treat others. You have found the secret of happiness. Your kind gestures will shine through those who meet you."

The man she had waited on was the owner of the restaurat where she worked. This was the first time that she, or any of his employees had ever seen him in person. (Steve Brunkhorst)

Mencoba, Apa Salahnya?

Markus 5:34 - "Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 114; 2 Petrus 1; Yehezkiel 33-35

Suatu ketika seorang guru berkata kepada muridnya seperti ini, "Ayo kerjakan. Jangan takut gagal bila belum mencobanya." Tidak tahu apakah perkataan itu benar-benar dari hatinya, tetapi kata-kata tersebut berhasil membuat muridnya untuk mengerjakan soal mata pelajaran yang ia berikan walaupun hasilnya masih salah.

Sang guru tidak mempersoalkan hasil yang didapat oleh anak didiknya benar atau salah. Baginya keinginan untuk berusaha memecahkan soal yang ia berikan adalah sebuah langkah yang tepat daripada mendengar muridnya tersebut berkata, "saya tidak bisa pak". Demikian juga sebenarnya yang Allah inginkan dalam kehidupan kita.

Seringkali kita pasrah dengan keadaan yang menyesakkan kehidupan kita. Tanpa melakukan apapun, kita sudah berkata kepada Tuhan "saya sudah tidak sanggup" atau "masalah ini begitu berat, pasti saya tidak bisa keluar dari hal ini". Semua pikiran dan kata-kata negatif keluar hingga diri kita dikuasai dan akhirnya kita pun kalah.

Rancangan-Nya bagi setiap kita adalah menjadi pemenang dan itu tidaklah berubah sampai sekarang ini dan karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah buktinya. Namun, semuanya ini tidak akan terjadi dalam kehidupan kita bila kita tidak mengambil langkah untuk mempercayai firman Tuhan.

Gunakan iman Anda dan mulai berjalanlah selangkah demi selangkah dalam janji perkataan-Nya. Ketika Anda melakukan hal itu, kemenangan yang sudah Tuhan janjikan tersebut akan Anda raih.

Ketakutan adalah cara termudah yang iblis pakai untuk membuat Anda tidak berjalan dalam rancangan indah Tuhan.

Jawaban.com

21 October 2009

Second Album “Harmony” from The Priests

Second album “Harmony” from The Priests. Enjoy the sneak peak : Amazing Grace or please visit The Priests for further informations.

Inspiring For A Better Tomorrow

Biarkan Mimpi Anda Tetap Hidup

Efesus 3:20-21 - "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 113; 1 Petrus 5; Yehezkiel 31-32

Ada seorang yang pernah berkata kepada saya, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini awalnya dari mimpi. Entah dia mengambil perkataan dari orang lain atau tidak, tetapi kata-kata ini sungguh-sungguh membuat saya berpikir, "apakah mimpi memang mempunyai kekuatan sehebat itu?"

Awalnya, saya kurang percaya dengan mimpi karena bagi saya yang memiliki prinsip ‘hidup itu seperti air mengalir', mimpi adalah sebuah lelucon yang Tuhan berikan agar menyenangkan manusia. Saya yakin bahwa tanpa mimpi manusia dapat sukses dan bahagia. Tetapi, itu dulu sebelum saya mengenal Tuhan.

Pertobatan saya membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan yang saya jalani. Saya mulai memiliki mimpi seperti apa ke depan saya nanti. Saya mendoakan mimpi-mimpi saya itu dan satu persatu mimpi tersebut mulai digenapi. Dan sejujurnya saya pun kaget melihat itu terjadi.

Saya percaya itulah luar biasanya Allah. Dia memberikan harapan kepada manusia dari sebuah mimpi. Walaupun tidak semua mimpi itu terwujud, tetapi Dia memberikan sebuah gambaran bahwa hari esok itu luar biasa bagi kehidupan kita.

Mungkin diantara Anda ada yang saat ini memiliki kenangan buruk dengan yang namanya ‘mimpi' karena melihat bahwa tidak ada satu pun dari mimpi-mimpi Anda itu yang digenapi, namun janganlah menguburnya. Biarkan mimpi-mimpi itu terus ada dan hidup dalam kehidupan Anda dan taruhkan itu ke dalam tangan Tuhan. Percayalah, akan segera tiba waktunya penggenapan hal-hal itu dalam kehidupan Anda jika Anda tetap setia berjalan dalam rancangan-Nya.

Memiliki impian bukanlah kesalahan, tetapi sebuah anugerah dari Tuhan kepada setiap manusia.

Jawaban.com

20 October 2009

Malaikat

John Paton adalah seorang misionaris di kepulauan New Hybrids. Pada suatu malam, orang-orang pribumi yang fanatik mengepung pusat Misi dan berencana untuk membakar habis semua bangunan serta membunuh keluarga Paton. Keluarga Paton berdoa sepanjang malam yang amat menakutkan itu serta kiranya Tuhan berkenan untuk membebaskan mereka. Ketika pagi hari tiba, mereka merasa heran bahwa para pribumi telah meninggalkan pusat misi itu.

Setahun kemudian, kepala suku itu yang sudah menjadi orang percaya, mengingat akan kejadian yang telah lampau. Paton bertanya kepada kepala suku itu, mengapa mereka tidak jadi menyerbu dan membakar habis serta membunuh mereka pada malam yang menakutkan itu. Kepala suku dengan heran menjawab,” Siapakah orang-orang yang bersama dengan kalian itu?” Paton mengatakan bahwa sama sekali tidak ada orang-orang pada saat itu. Namun kepala suku itu bersikeras, ia takut untuk menyerang karena ia melihat beratus-ratus orang yang tinggi dan besar dalam pakaian perang dan dengan pedang terhunus mengitari pusat misi itu sepanjang malam.

Today in the Word, MBI, October 1991

Ketika Tuhan Berkata

Tuhan Yesus Berkata…

Jika kau tak pernah merasa sakit, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Penyembuh?
Jika kau tak pernah pergi tanpa kesulitan, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Pelepas?
Jika kau tidak pernah menghadapi pencobaan, Bagaimana kau dapat memanggil dirimu pemenang?
Jika kau tidak pernah merasa sedih, Bagaimana kau tahu bahwa Aku Penghibur?
Jika kau tidak pernah berbuat kesalahan, Bagaimana kau tahu Aku Pengampun?
Jika kau tahu segala hal, Bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat menjawab pertanyaan-pertanya anmu.
Jika kau tidak pernah berada dalam kesulitan, Bagaimana kau tahu bahwa Aku akan datang untuk menyelamatkamu?
Jika kau tidak pernah hancur, Lalu bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat memulihkanmu?
Jika kau tidak pernah menghadapi masalah, Bagaimana kau tahu bahwa Aku dapat menyelesaikannya?
Jika kau tidak mengalami beberapa penderitaan, Lalu bagaimana kau tahu bahwa kau dapat melaluinya?
Jika kau tidak pernah melaui api, Lalu bagaimana kau menjadi murni?
Jika Aku memberikan semua barang kepadamu, Bagaimana kau akan menghargainya?
Jika Aku tidak pernah mengoreksimu, Bagaimana kau tahu bahwa Aku mengasihimu?
Jika kau punya semua kemampuan, Bagaimana kau belajar bergantung kepada-Ku?
Jika hidupmu sempurna, Lalu untuk apa engkau memerlukan Aku?

Tuhan Yesus Kristus Memberkati!