Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

12 October 2009

Hak Yahudi Atas Tanah Israel

Banyak orang salah kaprah dgn mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi setelah Kuil Kedua mereka di Yerusalem dihancurkan tahun 70 M. Lalu menurut pengertian sejarah salah kaprah ini; 1.800 tahun kemudian, tiba-tiba orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Faktanya adalah: orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah air mereka selama 3.700 tahun. Bahasa nasional dan kebudayaan khas Yahudi tetap bertahan di wilayah itu.

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan empat hal:
1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham
2. Orang-orang Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu
3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina
4. Penguasaan daerah berdasarkan perang bela diri.

Istilah “Palestina” dipercaya diambil dari kata Filistine, yakni merujuk pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, Pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” diambil dari nama Latin ini.

Sejak th 1000 SM, ke-12 suku Israel sudah membentuk kerajaan pertama di Palestina. Raja kedua, yakni David, menentukan Yerusalem sebagai ibu kota. Meskipun akhirnya Palestina pecah jadi dua kerajaan, kemerdekaan orang Yahudi tetap berlangsung sampai 212 tahun. Jangka waktu ini hampir sama dengan lamanya kemerdekaan Amerika Serikat sekarang.

Bahkan setelah dihancurkannya Kuil Kedua di Yerusalem dan saat awal pengasingan, orang-orang Yahudi tetap hidup di Palestina dan beranak-pinak. Abad ke 9M, terdapat masyarakat Yahudi dalam jumlah besar di Yerusalem dan Tiberias. Abad ke 11M, masyarakat Yahudi berkembang di Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa dan Caesarea.

Abad ke 12, banyak orang Yahudi dibantai oleh para tentara Perang Salib, tapi mereka dapat berkembang lagi dalam dua abad selanjutnya dengan datangnya para rabi dan peziarah Yahudi dalam jumlah besar ke Yerusalem dan Galilea. Para rabi terkemuka membentuk masyarakat Yahudi di Safed, Yerusalem dan di daerah lain selama 300 tahun berikutnya. Awal abad ke 19 sebelum kelahiran gerakan Zionist modern, lebih dari 10.000 orang Yahudi telah hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Israel.

Ketika orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dalam jumlah besar di tahun 1882, kurang dari 250.000 Arab hidup di sana, dan kebanyakan dari mereka datang dalam dekade akhir. Palestina tidak pernah jadi suatu negara Arab yang berdaulat, meskipun perlahan-lahan bahasa Arab jadi bahasa yang paling banyak digunakan setelah penyerangan Muslim di abad ke tujuh. Tidak pernah ada negara Arab atau Palestina yang berdaulat di Palestina.

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo-American Committee di tahun 1946, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada “Palestina” dalam sejarah, sama sekali tidak.” Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an, yang disebut adalah “tanah suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang-orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Yerusalem di bulan Februari 1919 untuk memilih wakil-orang Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris, pernyataan berikut diumumkan: Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Commission yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina: “Tidak ada negara (Palestina)! Kata ‘Palestina’ itu diciptakan oleh Zionist! Tidak ada kata Palestina dalam Alkitab. Tanah air kami sejak berabad-abad merupakan bagian dari Syria.”

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “Palestina merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya,” secara politis, orang-orang Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.”

Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi ketua PLO, mengatakan pada Security Council: “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palestina adalah bagian selatan Syria.”

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

“Surat Tanda Lahir” Israel secara internasional disahkan oleh janji Tuhan dalam Alkitab; masyarakat Yahudi yang tinggal terus menerus di Israel sejak jaman Yoshua sampai saat ini; Deklarasi Balfour di tahun 1817; Mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang berhubungan dengan Deklarasi Balfour; partition resolution PBB tahun1947; diterimanya Israel di PBB tahun 1949; pengakuan atas negara Israel oleh sebagian besar dunia; dan yang terpenting dari semuanya, masyarakat yang diciptakan oleh orang-orang Israel selama berpuluh-puluh tahun berkembang menjadi suatu negara yang dinamis.

---------------------

The Jewish Claim To The Land Of Israel

A common misperception is that the Jews were forced into the diaspora by the Romans after the destruction of the Second Temple in Jerusalem in the year 70 A.D. and then, 1,800 years later, suddenly returned to Palestine demanding their country back. In reality, the Jewish people have maintained ties to their historic homeland for more than 3,700 years. A national language and a distinct civilization have been maintained.

The Jewish people base their claim to the land of Israel on at least four premises: 1) God promised the land to the patriarch Abraham; 2) the Jewish people settled and developed the land; 3) the international community granted political sovereignty in Palestine to the Jewish people and 4) the territory was captured in defensive wars.

The term "Palestine" is believed to be derived from the Philistines, an Aegean people who, in the 12th Century B.C., settled along the Mediterranean coastal plain of what is now Israel and the Gaza Strip. In the second century A.D., after crushing the last Jewish revolt, the Romans first applied the name Palaestina to Judea (the southern portion of what is now called the West Bank) in an attempt to minimize Jewish identification with the land of Israel. The Arabic word "Filastin" is derived from this Latin name.

The Twelve Tribes of Israel formed the first constitutional monarchy in Palestine about 1000 B.C. The second king, David, first made Jerusalem the nation's capital. Although eventually Palestine was split into two separate kingdoms, Jewish independence there lasted for 212 years. This is almost as long as Americans have enjoyed independence in what has become known as the United States.

Even after the destruction of the Second Temple in Jerusalem and the beginning of the exile, Jewish life in Palestine continued and often flourished. Large communities were reestablished in Jerusalem and Tiberias by the ninth century. In the 11th century, Jewish communities grew in Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa and Caesarea.

Many Jews were massacred by the Crusaders during the 12th century, but the community rebounded in the next two centuries as large numbers of rabbis and Jewish pilgrims immigrated to Jerusalem and the Galilee. Prominent rabbis established communities in Safed, Jerusalem and elsewhere during the next 300 years. By the early 19th century-years before the birth of the modern Zionist movement-more than 10,000 Jews lived throughout what is today Israel.

When Jews began to immigrate to Palestine in large numbers in 1882, fewer than 250,000 Arabs lived there, and the majority of them had arrived in recent decades. Palestine was never an exclusively Arab country, although Arabic gradually became the language of most the population after the Muslim invasions of the seventh century. No independent Arab or Palestinian state ever existed in Palestine. When the distinguished Arab-American historian, Princeton University Prof. Philip Hitti, testified against partition before the Anglo-American Committee in 1946, he said: "There is no such thing as 'Palestine' in history, absolutely not." In fact, Palestine is never explicitly mentioned in the Koran, rather it is called "the holy land" (al-Arad al-Muqaddash).

Prior to partition, Palestinian Arabs did not view themselves as having a separate identity. When the First Congress of Muslim-Christian Associations met in Jerusalem in February 1919 to choose Palestinian representatives for the Paris Peace Conference, the following resolution was adopted:

We consider Palestine as part of Arab Syria, as it has never been separated from it at any time. We are connected with it by national, religious, linguistic, natural, economic and geographical bonds.

In 1937, a local Arab leader, Auni Bey Abdul-Hadi, told the Peel Commission, which ultimately suggested the partition of Palestine: "There is no such country [as Palestine]! 'Palestine' is a term the Zionists invented! There is no Palestine in the Bible. Our country was for centuries part of Syria."

The representative of the Arab Higher Committee to the United Nations submitted a statement to the General Assembly in May 1947 that said "Palestine was part of the Province of Syria" and that, "politically, the Arabs of Palestine were not independent in the sense of forming a separate political entity." A few years later, Ahmed Shuqeiri, later the chairman of the PLO, told the Security Council: "It is common knowledge that Palestine is nothing but southern Syria."

Palestinian Arab nationalism is largely a post-World War I phenomenon that did not become a significant political movement until after the 1967 Six-Day War and Israel's capture of the West Bank.

Israel's international "birth certificate" was validated by the promise of the Bible; uninterrupted Jewish settlement from the time of Joshua onward; the Balfour Declaration of 1917; the League of Nations Mandate, which incorporated the Balfour Declaration; the United Nations partition resolution of 1947; Israel's admission to the UN in 1949; the recognition of Israel by most other states; and, most of all, the society created by Israel's people in decades of thriving, dynamic national existence.

Sumber : jewishvirtuallibrary.org

11 October 2009

Humor : Topik Pembicaraan Dalam Kencan

Seorang pemuda ingin mengadakan kencan pertamanya dengan seorang gadis. Pemuda ini agak gelisah dan bingung mencari topik pembicaraan waktu kencan itu. Ia meminta nasihat ayahnya.

Ayahnya menjawab, “Anakku, ada tiga topik pembicaraan yang selalu berhasil, yaitu tentang makanan, keluarga dan filosofi.”

Pemuda itu kemudian menjemput pacarnya dan mereka pergi ke sebuah kedai es krim. Mereka saling memandang untuk beberapa saat, sementara kegelisahan pemuda itu menjadi-jadi.

Tiba-tiba ia ingat akan nasihat ayahnya. Lalu memilih topik yang pertama.

Ia bertanya kepada gadis itu, “Apakah kamu suka sayur bayam?” Gadis itu menjawab, “Tidak,” kemudian keheningan berlanjut.

Setelah melewati beberapa saat yang tidak nyaman, pemuda itu ingat akan nasihat ayahnya dan mencoba topik yang kedua. Ia bertanya, “Apa kamu mempunyai saudara laki-laki?”
Lagi-lagi gadis itu menjawab, “Tidak!”. Dan keheningan berlanjut lagi.

Kemudian pemuda itu memainkan kartunya yang terakhir. Ia ingat akan nasihat ayahnya dan mengajukan pertanyaan ini, “Bila kamu mempunyai saudara laki-laki, apakah ia suka makan sayur bayam?”

* Download as PDF, please visit : http://www.ziddu.com/download/6851392/topikpembicaraandalamkencan.pdf.html

10 October 2009

Berlibur

I Yohanes 1:3 - "Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 102; Lukas 23; Yehezkiel 9-10

Adakah di dunia ini orang Kristen yang dapat berkata kepada Tuhan, "Tuhan, bolehkah saya berlibur sebentar saja untuk tidak berhubungan dengan Engkau? Saya kan sudah melayani Engkau selama ini, jadi boleh kan saya meminta satu hari saja untuk melakukan apa yang saya mau"? Saya percaya mungkin saja ada orang-orang seperti itu, tetapi saya hanya dapat berkata itu adalah sebuah pendapat yang sungguh konyol.

Mungkin mendengar hal ini, beberapa dari Anda mengapa saya mengapa saya mengatakan itu? salah satu alasan saya mengatakan itu adalah pendapat yang konyol adalah karena sesungguhnya perjalanan hidup kita bersama dengan Allah harus berlangsung terus menerus, setiap hari, bahkan lebih tepatnya lagi setiap saat. Jadi, tidak lah mungkin bila kita harus meminta izin kepada Tuhan untuk berlibur sementara.

Seorang pemain basket NBA, Grant Hill sempat mengutarakan mengenai bagaimana dia bisa menjadi seorang pemain yang profesional dan inilah salah tipsnya: "Saya tidak dapat libur berlatih selama satu minggu, sebab sehari saja saya berlibur, saya merasa keahlian saya semakin berkurang".

Begitu juga dengan kehidupan kerohanian kita. Jika kita sebagai orang-orang mengasihi Tuhan menginginkan untuk berlibur dari-Nya maka kita pun pasti akan merasakan sesuatu yang "berkurang" dari diri kita. Kita akan kehilangan tuntunan Firman-Nya dan persekutuan dengan-Nya yang kita rasakan melalui doa-doa kita. Bahkan bahayanya lagi, kita akan melangkah kepada kejatuhan.

Saya tidak tahu sudah berapa lama Anda menjadi anak Allah yang beriman dalam Kristus, tetapi yang jelas Anda haru selalu menjaga hubungan dengan Dia. Bukan hanya dengan Anda melakukan aktivitas-aktivitas rohani yang terlihat oleh orang-orang di sekitar seperti pergi ke gereja setiap minggu atau bersaat teduh setiap hari, tetapi juga dengan memelihara hubungan itu secara kontinu. Jadi, jika Anda ingin "berlibur" dalam memelihara hubungan Tuhan, ingatlah bahwa hal itu akan melemahkan langkah hidup Anda.

Agar kerohanian Anda tetap sehat, berjalanlah selalu bersama Yesus.

Jawaban.com

Weekly Scripture – Kolose 4:6

"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." - Kolose 4:6

Humor : Babi Makan Apa?

Pada suatu hari datang petugas dinas kesehatan untuk memeriksa babi-babi disebuah peternakan. Maka bertanyalah petugas itu kepada pengusaha peternakan, “Tolong dijelaskan babi-babi ini dikasih makan apa saja ?”.

Pengusaha itu menjawab, “You tahulah… babi-babi ini setiap hali owe kasih sisa-sisa makanan sajalah…”.

“Wah , engga boleh donk. Mana sehat ?!?”, gertak petugas.

Pengusaha mulai kesal tahu maksud si petugas ini, “Okelah nanti owe pebaiki. sekalang ini ceban buat you beli loko.”

Petugas pergi dengan senang dapat sepuluh ribu. Sebulan kemudian datang petugas dengan pertanyaan yang sama. Pengusaha itu kali ini menjawab, “You tak pelu takut lah… babi-babi sudah owe kasih makan sedap-sedap setiap hari…”

“Wah gimana sich…rakyat masih banyak yang kelaparan koq babi dikasih makan enak !!!”, kembali petugas menjawab dengan muka garang.

Sekali lagi petugas kena disogok dengan cebanan lalu pergi. Sebulan berikutnya datang lagi si petugas ini, “Sekarang saya musti periksa dengan seteliti-telitinya, babi-babi ini dikasih makan apa saja?”

Dengan tegas dan nada keras si pengusaha menjawab, “Owe puciiing.. dikasih makan ini salah, dikasih makan itu salah…. Sekalang tiap babi owe kasi goceng-goceng sulu cali makan sendili-sendili dilual..”

09 October 2009

Andai Saja...

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf,dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand,dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.


Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

Hati adalah Raja bagi dirimu, untuk itu patuhlah padaNya, Laksanakan perintahNya, Jagalah Dia dan Damailah bersamaNya

Thank's... Jesus Bless You...

08 October 2009

Ambil Bagian Anda !

Yeremia 29:7 - "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 100; Lukas 21; Yehezkiel 4-6

Peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini sangat memedihkan hati setiap kita yang melihat atau mendengarnya. Korban jiwa yang berjumlah ratusan, kerusakan infrakstruktur daerah, bahkan tangisan dari anak-anak yang tidak berdosa adalah kenyataan yang tidak dapat diubah oleh siapa pun juga.

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi setiap manusia di dunia ini. Besar-kecil, tua-muda, pria-wanita, semuanya dikasihinya. Begitu pun dengan bangsa ini; bangsa yang dikenal dengan keragaman budaya dan bahasanya. Hati-Nya ada di negeri ini. Tetapi, apakah hati kita sama dengan hati Tuhan?

Sebagai orang-orang Kristen seharusnya kita mengikuti apa yang firman Tuhan tulis dan katakan dalam hati kita. Seperti Nats hari ini yang berbunyi, "usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan,..." dimana ayat firman Tuhan ini memerintahkan kita untuk menjadi berkat bagi kota/negara di mana kita berada saat ini.

Anda tidak perlu menunggu menjadi kaya atau super pintar agar bisa memberikan kontribusi bagi negeri ini dan Tuhan pun tidak pernah meminta seperti itu. Dia hanya meminta apa yang ada pada Anda sekarang, bukan besok dan juga bukan di masa mendatang.

Tuhan tahu apa yang bisa Anda berikan kepada bangsa ini dan Dia menginginkan hal itu untuk Anda lakukan. Buktikan Anda adalah para pengikut-Nya dengan mengambil bagian menyejahterakan Indonesia.

Kasih memerlukan bukti nyata. Saat Yesus tinggal di dalam Anda, apakah buktinya?

Sedlec Ossuary

Sedlec Ossuary adalah kapel Katolik Roma kecil di Sedlec, suburban Kutná Hora di Ceko.Ossuary ini terdiri dari kira-kira 40.000-70.000 tulang manusia yang telah disusun untuk membentuk dekorasi kapel. tulang-tulang tersebut merupakan tulang prajurit Turki ottoman dan masyarakat yg menjadi korban perang salib pada abad ke 14. Gereja ini juga pernah masuk acara tv populer Ripley's Believe It Or Not













07 October 2009

Ilmuwan Atheis Yang Berubah

Alkitab dapat mengubah hidup manusia, seperti yang disaksikan di bawah ini oleh seorang bernama Dr. N. Jerome Stowell, seorang pakar dan ilmuwan nuklir, yang sampai sekarang ini selalu memberikan kesaksiannya kepada ribuan orang di California Selatan. Dalam pembicaraan radionya baru-baru ini, beliau mengatakan bahwa, “Di dalam jaringan syaraf otak kita, terdapat tempat emosi kita. Dengan alat yang sangat peka yang kami rancang, kita dapat mengukur panjang gelombang otak. Baru-baru ini kami mengadakan pemeriksaan otak seorang wanita yang akan mati. Dia senantiasa berdoa, dan yang kami peroleh tentang dirinya ialah bahwa pada saat ia lebih dekat kepada Tuhan, maka jarum penunjuk menunjukkan angka 500 positif.” “Pada rumah sakit yang sama saya mengukur gelombang otak seorang yang mengutuk Tuhan, ternyata saya dapatkan jarum menunjukkan angka 500 negatif. Ini adalah dua ekstrem yang telah diindikasikan oleh alat tersebut.”

“Kita sekarang ini adalah dalam batas penemuan rohani. Tidak seorang pun yang dapat mengukur dalamnya tarikan seseorang Kristen apabila ia berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang nyata.”

Dr. N. Jerome Stowell mengakui, “Pengalaman ini telah membawa saya berpaling kepada Tuhan. Saya telah menjadi seorang Kristen hanya dalam waktu singkat walaupun saya tahu sedikit saja tentang jalan Kekristenan. Namun yang saya ketahui ialah perkara yang berhubungan dengan Tuhan itu adalah sesuatu yang positif. Saya akan berusaha untuk memlihara hidup saya jauh di atas indikator nol. Dunia sedikit sekali menyadari tentang pengaruh doa yang penuh kepercayaan. Ini adalah sesuatu yang bergerak dari sumber-sumber yang pasti.”

Lebih lanjut Dr. Stowell menjelaskan tentang percobaannya yang telah mengubah dia dari seorang ateis menjadi seorang yang mempercayai Tuhan dengan sepenuhnya: “Saya bisa dikenal seorang ateis yang sungguh-sungguh. Saya tidak mempercayai Tuhan lebih dari sekadar satu kumpulan pikiran semua orang yang digabung menjadi satu, serta kebaikan mereka masing-masing. Dan saya tidak percaya bahwa Tuhan ada, berkuasa, dan mencintai kita semua. Mempunyai kuasa yang melebihi segala sesuatu.”

“Tetapi suatu kali saya membuat percobaan yang benar-benar telah membuat saya berpikir. Saya berada dalam laboratorium Patologi yang besar dan kami mencoba untuk menemukan panjangnya gelombang otak. Kami mendapatkan bukan hanya panjangnya gelombang otak, melainkan satu kenyataan bahwa panjangnya gelombang setiap otak manusia berbeda daripada sidik jari setiap manusia. Ini adalah satu perkara yang harus diingat: Sesungguhnya Tuhan dapat memelihara catatan pikiran pribadi kita di surga sebagaimana FBI Washington DC dapat mencatat sidik jari kita.

Kami ingin membuat percobaan untuk menemukan apa yang terjadi di otak pada saat seseorang dalam masa transisi dari kehidupan kepada kematian. Kami pilih seorang wanita yang telah dikirimkan keluarganya ke rumah sakit jiwa, namun telah dikeluarkan dari sana. Para dokter tidak mendapat apapun yang salah padanya kecuali suatu fakta bahwa ia memiliki kanker otak. Hal ini telah mengganggu keseimbangan badannya saja, sedangkan kesadaran pikiran dalam keadaan yang sangat baik. Kami mengetahui bahwa ia akan meninggal dan kami sampaikan padanya bahwa ia akan meninggal.

“Dalam kamarnya kami mengatur sebuah peralatan khusus untuk memastikan apa yang terjadi dengan otaknya dalam masa peralihan dari kehidupan kepada kematian. Kami pun meletakkan sebuah pengeras suara yang kecil, sebesar uang satu sen, dalam ruangan tersebut, supaya kami dapat mengetahui apa yang ia katakan jikalau ia ingin menyampaikan sesuatu.

“Kami semua adalah ilmuwan yang keras kepala, dan mungkin saya yang paling keras kepala dan yang paling atheis dari rombongan dokter; semua dalam keadaan siap dengan alat kami untuk melihat apa yang akan terjadi. Alat penunjuk kami mempunyai angka nol (0) di tengahnya. Menuju ke sebelah kanan terdapat penentuan ukuran menuju ke angka 500 positif; sedangkan untuk ke sebelah kiri terdapat angka menuju 500 negatif. Sebelumnya kami telah menggunakan alat ini untuk mengukur stasiun pemancar radio berkekuatan 50 kilowatt untuk memancar ke seluruh dunia; ternyata jarum menunjukkan angka 9 positif.

“Pada bagian akhir wanita ini, ia mulai berdoa dan memuji Tuhan. Ia meminta kepada Tuhan untuk berbelas kasihan kepada mereka yang telah membencinya. Kemudian ia mulai mengukuhkan imannya kepada Tuhan, dan berkata kepada-Nya bahwa ia mengenal Dia sebagai satu-satunya Kuasa dan Ia adalah Kuasa yang hidup. Ia berkata kepada Tuhan bahwa ia menyadari bahwa selalu ada masa yang lalu dan akan tetap ada masa yang akan datang. Ia memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya untuk kuasa-Nya dan untuk pengetahuan tentang adanya Tuhan. Ia sampaikan kepada-Nya bahwa ia mencintai Dia.

Kami para ilmuwan telah demikian terpesona dengan doa wanita tersebut hingga kami lupa percobaan yang sedang dibuat. Kami melihat satu sama lain, dan melihat air mata mengalir dari wajah seluruh ilmuwan. Saya tidak pernah mengalirkan air mata seperti itu sejak masa kecil.

Tiba-tiba saya mendengar satu bunyi “klik” dari alat percobaan yang kami telah lupakan tersebut. Kami lihat kepada jarumnya yang menunjukkan angka 500, dan kelihatan jarum ingin naik lebih tinggi lagi, namun angka 500 positif adalah angka yang tertinggi.

Dengan percobaan yang nyata ini, kami telah mencatat bahwa otak seorang wanita, yang sendirian dan dalam keadaan hampir mati, dalam komunikasi dengan Tuhan tercatat mempunyai kekuatan 55 kali lebih besar dari alat pemancar radio yang berkekuatan 50 kilowatt yang memancarkan siaran ke seluruh dunia.

Setelah itu kami ambil keputusan untuk mencoba kasus yang bertentangan dengan yang pertama. Kami pilih seorang lelaki yang terbaring sakit dengan penyakit yang mematikan. Otaknya telah menciut sampai kepada titik kematian. Sebenarnya ia sudah benar-benar mengalami gangguan kejiwaan dan dapat dikatakan gila. Segera setelah kami meletakkan peralatan khusus tersebut, kami meminta seorang perawat untuk melawan pasien gila ini. Melalui tipu muslihatnya ia coba menarik perhatian lelaki itu kepadanya, kemudian mengatakan kepadanya bahwa ia tidak mau melakukan apapun untuk dia. Lelaki tersebut kemudian mulai marah kepada perawat tersebut, dan jarum mulai bergerak ke arah negatif. Kemudian ia mulai mengutuknya, dan juga menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia. Secara tiba-tiba terdengar bunyi “klik” dan ternyata jarum telah tiba ke angka 500 negatif.

Dengan percobaan ini kami dapat langsung melihat apa yang terjadi dengan otak seseorang bila ia melanggar salah satu dari Sepuluh Hukum Allah, janganlah menyebut nama Allah denga sia-sia, yaitu keadaan yang negatif.

Jikalau kami sebagai ilmuwan dapat mencatat semua ini, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan dapat pula mencatat semua yang terjadi di dalam pikiran kita. Ia mempunyai lebih banyak kuasa daripada kita dan dapat mencatat jauh lebih teliti daripada pencatat apapun yang ada di dunia ini.

Dengan kehadiran Tuhan di dalam diri kita, Ia dapat memberikan kuasa kepada kita, yang mahabesar tanpa pengecualian apapun.” Kemudian Dr. Stowell mengatakan, “Sekarang saya adalah seorang ilmuwan yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Saya mau Anda berdoa untuk saya, agar saya akan selalu berpikir, berkata dan berbuat perkara yang positif yang Tuhan kehendaki aku pikirkan, katakan dan lakukan, dan aku tidak akan berpikir berkata dan berbuat sesuatu perkara yang negatif, yang telah membuat aku dibutakan dan dikurung untuk sekian tahun lamanya.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12).” Dengan kuasa firman Allah itulah yang dapat mengubah manusia. Anda pun bukanlah satu pengecualian!

Diambil dari “Kitab Ajaib”
oleh dr. Kathleen H L Kuntaraf MPH & Jonathan Kuntaraf D. Min.
hal 75-78

Try Again

Mazmur 37:24 - "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 99; Lukas 20; Yehezkiel 2-3

Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh.

Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, "ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?"

Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya.

Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9.

Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda.

Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa "jatuh", Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata "ya" kepada kebenaran firman Tuhan dan "tidak" kepada dosa.

Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, "apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?" jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya.


Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.

06 October 2009

Sung Du

Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus.  Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto.  Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya.  Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.

Lima tahun setelah perang itu, Arch Campbell (salah satu guru misionaris Sung Du) mendatangi adik Sung Du, Sung Ho dan menanyakan apa yang telah terjadi.  “Oh, ia sudah bertobat dihadapan Allah dengan menangis penuh penyesalan”, sang adik menjelaskan.

“Ia berjanji bahwa ia akan mati 2 kali sebelum menyangkali imannya lagi.  Dan ia menepati janjinya.  Ia mati 2 kali,” jelas Sung Ho selanjutnya.

Setelah bertobat, Sung Du belajar di sekolah Alkitab dan memulai pelayanannya di sebuah gereja dekat Suyang-Ch'on. Sewaktu komunis menguasai daerah itu, mereka melempar Sung Du ke pertambangan untuk bekerja sebagai budak. Ketika Sung Du menolak bekerja pada hari Minggu, para penjaga memukulinya sedemikian parah sampai-sampai mereka mengira Sung Du telah mati. Lalu, mereka membuang tubuhnya ke sungai. Beberapa saat setelah penjaga meninggalkan tempat itu, beberapa orang Kristen mengambil tubuhnya, membawanya pulang ke desa dan mulai menyiapkan penguburan.

Tiba-tiba mereka mendapati bahwa Sung Du masih hidup. Setelah berbulan-bulan, Sung Du sehat kembalidan siap menginjil lagi.  Mendengar bahwa Sung Du menginjil lagi, para komunis menangkapnya lagi.  Kali ini mereka menembak mati dirinya dan memastikannya benar-benar telah mati.  Itulah Sung Du.  Ia mati 2 kali untuk menebus ketidak-setiaannya dahulu.

Sama seperti Rasul Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali, Sung Du belajar bahwa pengampunana dapat ditemukan kapan saja di salin Kristus.  Dan seperti Rasul Petrus akhirnya disalib, Sung Du belajar bahwa "KITA LEBIH DARIPADA ORANG-ORANG YANG MENANG, OLEH DIA YANG TELAH MENGASIHI KITA" --- Roma 8:37