Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 October 2009

Humor : Babi Makan Apa?

Pada suatu hari datang petugas dinas kesehatan untuk memeriksa babi-babi disebuah peternakan. Maka bertanyalah petugas itu kepada pengusaha peternakan, “Tolong dijelaskan babi-babi ini dikasih makan apa saja ?”.

Pengusaha itu menjawab, “You tahulah… babi-babi ini setiap hali owe kasih sisa-sisa makanan sajalah…”.

“Wah , engga boleh donk. Mana sehat ?!?”, gertak petugas.

Pengusaha mulai kesal tahu maksud si petugas ini, “Okelah nanti owe pebaiki. sekalang ini ceban buat you beli loko.”

Petugas pergi dengan senang dapat sepuluh ribu. Sebulan kemudian datang petugas dengan pertanyaan yang sama. Pengusaha itu kali ini menjawab, “You tak pelu takut lah… babi-babi sudah owe kasih makan sedap-sedap setiap hari…”

“Wah gimana sich…rakyat masih banyak yang kelaparan koq babi dikasih makan enak !!!”, kembali petugas menjawab dengan muka garang.

Sekali lagi petugas kena disogok dengan cebanan lalu pergi. Sebulan berikutnya datang lagi si petugas ini, “Sekarang saya musti periksa dengan seteliti-telitinya, babi-babi ini dikasih makan apa saja?”

Dengan tegas dan nada keras si pengusaha menjawab, “Owe puciiing.. dikasih makan ini salah, dikasih makan itu salah…. Sekalang tiap babi owe kasi goceng-goceng sulu cali makan sendili-sendili dilual..”

09 October 2009

Andai Saja...

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf,dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cinta kamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand,dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.


Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

Hati adalah Raja bagi dirimu, untuk itu patuhlah padaNya, Laksanakan perintahNya, Jagalah Dia dan Damailah bersamaNya

Thank's... Jesus Bless You...

08 October 2009

Ambil Bagian Anda !

Yeremia 29:7 - "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 100; Lukas 21; Yehezkiel 4-6

Peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini sangat memedihkan hati setiap kita yang melihat atau mendengarnya. Korban jiwa yang berjumlah ratusan, kerusakan infrakstruktur daerah, bahkan tangisan dari anak-anak yang tidak berdosa adalah kenyataan yang tidak dapat diubah oleh siapa pun juga.

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi setiap manusia di dunia ini. Besar-kecil, tua-muda, pria-wanita, semuanya dikasihinya. Begitu pun dengan bangsa ini; bangsa yang dikenal dengan keragaman budaya dan bahasanya. Hati-Nya ada di negeri ini. Tetapi, apakah hati kita sama dengan hati Tuhan?

Sebagai orang-orang Kristen seharusnya kita mengikuti apa yang firman Tuhan tulis dan katakan dalam hati kita. Seperti Nats hari ini yang berbunyi, "usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan,..." dimana ayat firman Tuhan ini memerintahkan kita untuk menjadi berkat bagi kota/negara di mana kita berada saat ini.

Anda tidak perlu menunggu menjadi kaya atau super pintar agar bisa memberikan kontribusi bagi negeri ini dan Tuhan pun tidak pernah meminta seperti itu. Dia hanya meminta apa yang ada pada Anda sekarang, bukan besok dan juga bukan di masa mendatang.

Tuhan tahu apa yang bisa Anda berikan kepada bangsa ini dan Dia menginginkan hal itu untuk Anda lakukan. Buktikan Anda adalah para pengikut-Nya dengan mengambil bagian menyejahterakan Indonesia.

Kasih memerlukan bukti nyata. Saat Yesus tinggal di dalam Anda, apakah buktinya?

Sedlec Ossuary

Sedlec Ossuary adalah kapel Katolik Roma kecil di Sedlec, suburban Kutná Hora di Ceko.Ossuary ini terdiri dari kira-kira 40.000-70.000 tulang manusia yang telah disusun untuk membentuk dekorasi kapel. tulang-tulang tersebut merupakan tulang prajurit Turki ottoman dan masyarakat yg menjadi korban perang salib pada abad ke 14. Gereja ini juga pernah masuk acara tv populer Ripley's Believe It Or Not













07 October 2009

Ilmuwan Atheis Yang Berubah

Alkitab dapat mengubah hidup manusia, seperti yang disaksikan di bawah ini oleh seorang bernama Dr. N. Jerome Stowell, seorang pakar dan ilmuwan nuklir, yang sampai sekarang ini selalu memberikan kesaksiannya kepada ribuan orang di California Selatan. Dalam pembicaraan radionya baru-baru ini, beliau mengatakan bahwa, “Di dalam jaringan syaraf otak kita, terdapat tempat emosi kita. Dengan alat yang sangat peka yang kami rancang, kita dapat mengukur panjang gelombang otak. Baru-baru ini kami mengadakan pemeriksaan otak seorang wanita yang akan mati. Dia senantiasa berdoa, dan yang kami peroleh tentang dirinya ialah bahwa pada saat ia lebih dekat kepada Tuhan, maka jarum penunjuk menunjukkan angka 500 positif.” “Pada rumah sakit yang sama saya mengukur gelombang otak seorang yang mengutuk Tuhan, ternyata saya dapatkan jarum menunjukkan angka 500 negatif. Ini adalah dua ekstrem yang telah diindikasikan oleh alat tersebut.”

“Kita sekarang ini adalah dalam batas penemuan rohani. Tidak seorang pun yang dapat mengukur dalamnya tarikan seseorang Kristen apabila ia berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang nyata.”

Dr. N. Jerome Stowell mengakui, “Pengalaman ini telah membawa saya berpaling kepada Tuhan. Saya telah menjadi seorang Kristen hanya dalam waktu singkat walaupun saya tahu sedikit saja tentang jalan Kekristenan. Namun yang saya ketahui ialah perkara yang berhubungan dengan Tuhan itu adalah sesuatu yang positif. Saya akan berusaha untuk memlihara hidup saya jauh di atas indikator nol. Dunia sedikit sekali menyadari tentang pengaruh doa yang penuh kepercayaan. Ini adalah sesuatu yang bergerak dari sumber-sumber yang pasti.”

Lebih lanjut Dr. Stowell menjelaskan tentang percobaannya yang telah mengubah dia dari seorang ateis menjadi seorang yang mempercayai Tuhan dengan sepenuhnya: “Saya bisa dikenal seorang ateis yang sungguh-sungguh. Saya tidak mempercayai Tuhan lebih dari sekadar satu kumpulan pikiran semua orang yang digabung menjadi satu, serta kebaikan mereka masing-masing. Dan saya tidak percaya bahwa Tuhan ada, berkuasa, dan mencintai kita semua. Mempunyai kuasa yang melebihi segala sesuatu.”

“Tetapi suatu kali saya membuat percobaan yang benar-benar telah membuat saya berpikir. Saya berada dalam laboratorium Patologi yang besar dan kami mencoba untuk menemukan panjangnya gelombang otak. Kami mendapatkan bukan hanya panjangnya gelombang otak, melainkan satu kenyataan bahwa panjangnya gelombang setiap otak manusia berbeda daripada sidik jari setiap manusia. Ini adalah satu perkara yang harus diingat: Sesungguhnya Tuhan dapat memelihara catatan pikiran pribadi kita di surga sebagaimana FBI Washington DC dapat mencatat sidik jari kita.

Kami ingin membuat percobaan untuk menemukan apa yang terjadi di otak pada saat seseorang dalam masa transisi dari kehidupan kepada kematian. Kami pilih seorang wanita yang telah dikirimkan keluarganya ke rumah sakit jiwa, namun telah dikeluarkan dari sana. Para dokter tidak mendapat apapun yang salah padanya kecuali suatu fakta bahwa ia memiliki kanker otak. Hal ini telah mengganggu keseimbangan badannya saja, sedangkan kesadaran pikiran dalam keadaan yang sangat baik. Kami mengetahui bahwa ia akan meninggal dan kami sampaikan padanya bahwa ia akan meninggal.

“Dalam kamarnya kami mengatur sebuah peralatan khusus untuk memastikan apa yang terjadi dengan otaknya dalam masa peralihan dari kehidupan kepada kematian. Kami pun meletakkan sebuah pengeras suara yang kecil, sebesar uang satu sen, dalam ruangan tersebut, supaya kami dapat mengetahui apa yang ia katakan jikalau ia ingin menyampaikan sesuatu.

“Kami semua adalah ilmuwan yang keras kepala, dan mungkin saya yang paling keras kepala dan yang paling atheis dari rombongan dokter; semua dalam keadaan siap dengan alat kami untuk melihat apa yang akan terjadi. Alat penunjuk kami mempunyai angka nol (0) di tengahnya. Menuju ke sebelah kanan terdapat penentuan ukuran menuju ke angka 500 positif; sedangkan untuk ke sebelah kiri terdapat angka menuju 500 negatif. Sebelumnya kami telah menggunakan alat ini untuk mengukur stasiun pemancar radio berkekuatan 50 kilowatt untuk memancar ke seluruh dunia; ternyata jarum menunjukkan angka 9 positif.

“Pada bagian akhir wanita ini, ia mulai berdoa dan memuji Tuhan. Ia meminta kepada Tuhan untuk berbelas kasihan kepada mereka yang telah membencinya. Kemudian ia mulai mengukuhkan imannya kepada Tuhan, dan berkata kepada-Nya bahwa ia mengenal Dia sebagai satu-satunya Kuasa dan Ia adalah Kuasa yang hidup. Ia berkata kepada Tuhan bahwa ia menyadari bahwa selalu ada masa yang lalu dan akan tetap ada masa yang akan datang. Ia memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya untuk kuasa-Nya dan untuk pengetahuan tentang adanya Tuhan. Ia sampaikan kepada-Nya bahwa ia mencintai Dia.

Kami para ilmuwan telah demikian terpesona dengan doa wanita tersebut hingga kami lupa percobaan yang sedang dibuat. Kami melihat satu sama lain, dan melihat air mata mengalir dari wajah seluruh ilmuwan. Saya tidak pernah mengalirkan air mata seperti itu sejak masa kecil.

Tiba-tiba saya mendengar satu bunyi “klik” dari alat percobaan yang kami telah lupakan tersebut. Kami lihat kepada jarumnya yang menunjukkan angka 500, dan kelihatan jarum ingin naik lebih tinggi lagi, namun angka 500 positif adalah angka yang tertinggi.

Dengan percobaan yang nyata ini, kami telah mencatat bahwa otak seorang wanita, yang sendirian dan dalam keadaan hampir mati, dalam komunikasi dengan Tuhan tercatat mempunyai kekuatan 55 kali lebih besar dari alat pemancar radio yang berkekuatan 50 kilowatt yang memancarkan siaran ke seluruh dunia.

Setelah itu kami ambil keputusan untuk mencoba kasus yang bertentangan dengan yang pertama. Kami pilih seorang lelaki yang terbaring sakit dengan penyakit yang mematikan. Otaknya telah menciut sampai kepada titik kematian. Sebenarnya ia sudah benar-benar mengalami gangguan kejiwaan dan dapat dikatakan gila. Segera setelah kami meletakkan peralatan khusus tersebut, kami meminta seorang perawat untuk melawan pasien gila ini. Melalui tipu muslihatnya ia coba menarik perhatian lelaki itu kepadanya, kemudian mengatakan kepadanya bahwa ia tidak mau melakukan apapun untuk dia. Lelaki tersebut kemudian mulai marah kepada perawat tersebut, dan jarum mulai bergerak ke arah negatif. Kemudian ia mulai mengutuknya, dan juga menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia. Secara tiba-tiba terdengar bunyi “klik” dan ternyata jarum telah tiba ke angka 500 negatif.

Dengan percobaan ini kami dapat langsung melihat apa yang terjadi dengan otak seseorang bila ia melanggar salah satu dari Sepuluh Hukum Allah, janganlah menyebut nama Allah denga sia-sia, yaitu keadaan yang negatif.

Jikalau kami sebagai ilmuwan dapat mencatat semua ini, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan dapat pula mencatat semua yang terjadi di dalam pikiran kita. Ia mempunyai lebih banyak kuasa daripada kita dan dapat mencatat jauh lebih teliti daripada pencatat apapun yang ada di dunia ini.

Dengan kehadiran Tuhan di dalam diri kita, Ia dapat memberikan kuasa kepada kita, yang mahabesar tanpa pengecualian apapun.” Kemudian Dr. Stowell mengatakan, “Sekarang saya adalah seorang ilmuwan yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Saya mau Anda berdoa untuk saya, agar saya akan selalu berpikir, berkata dan berbuat perkara yang positif yang Tuhan kehendaki aku pikirkan, katakan dan lakukan, dan aku tidak akan berpikir berkata dan berbuat sesuatu perkara yang negatif, yang telah membuat aku dibutakan dan dikurung untuk sekian tahun lamanya.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12).” Dengan kuasa firman Allah itulah yang dapat mengubah manusia. Anda pun bukanlah satu pengecualian!

Diambil dari “Kitab Ajaib”
oleh dr. Kathleen H L Kuntaraf MPH & Jonathan Kuntaraf D. Min.
hal 75-78

Try Again

Mazmur 37:24 - "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 99; Lukas 20; Yehezkiel 2-3

Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh.

Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, "ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?"

Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya.

Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9.

Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda.

Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa "jatuh", Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata "ya" kepada kebenaran firman Tuhan dan "tidak" kepada dosa.

Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, "apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?" jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya.


Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.

06 October 2009

Sung Du

Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus.  Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto.  Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya.  Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.

Lima tahun setelah perang itu, Arch Campbell (salah satu guru misionaris Sung Du) mendatangi adik Sung Du, Sung Ho dan menanyakan apa yang telah terjadi.  “Oh, ia sudah bertobat dihadapan Allah dengan menangis penuh penyesalan”, sang adik menjelaskan.

“Ia berjanji bahwa ia akan mati 2 kali sebelum menyangkali imannya lagi.  Dan ia menepati janjinya.  Ia mati 2 kali,” jelas Sung Ho selanjutnya.

Setelah bertobat, Sung Du belajar di sekolah Alkitab dan memulai pelayanannya di sebuah gereja dekat Suyang-Ch'on. Sewaktu komunis menguasai daerah itu, mereka melempar Sung Du ke pertambangan untuk bekerja sebagai budak. Ketika Sung Du menolak bekerja pada hari Minggu, para penjaga memukulinya sedemikian parah sampai-sampai mereka mengira Sung Du telah mati. Lalu, mereka membuang tubuhnya ke sungai. Beberapa saat setelah penjaga meninggalkan tempat itu, beberapa orang Kristen mengambil tubuhnya, membawanya pulang ke desa dan mulai menyiapkan penguburan.

Tiba-tiba mereka mendapati bahwa Sung Du masih hidup. Setelah berbulan-bulan, Sung Du sehat kembalidan siap menginjil lagi.  Mendengar bahwa Sung Du menginjil lagi, para komunis menangkapnya lagi.  Kali ini mereka menembak mati dirinya dan memastikannya benar-benar telah mati.  Itulah Sung Du.  Ia mati 2 kali untuk menebus ketidak-setiaannya dahulu.

Sama seperti Rasul Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali, Sung Du belajar bahwa pengampunana dapat ditemukan kapan saja di salin Kristus.  Dan seperti Rasul Petrus akhirnya disalib, Sung Du belajar bahwa "KITA LEBIH DARIPADA ORANG-ORANG YANG MENANG, OLEH DIA YANG TELAH MENGASIHI KITA" --- Roma 8:37

05 October 2009

Apa Yang Terjadi, Bila...

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak ada waktu untuk memberkati kita hari ini,
karena kita tidak mempunyai waktu untuk bersyukur kepada-Nya kemarin hari

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi membimbing kita esok hari,
karena kita tidak mengikuti-Nya hari ini

Apa yang terjadi, bila kita tidak akan pernah melihat setangkai bunga mekar,
karena kita mengomel bila TUHAN mengirim hujan

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi berjalan bersama kita hari ini,
karena kita tidak ingat hari ini adalah hari-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN mengambil Alkitab kita,
karena kita tidak mau membacanya hari ini

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi meninggalkan pesan-Nya,
karena kita tidak mau mendengar kepada utusan-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal
untuk menebus dan membayar harga bagi dosa-dosa kita

Apa yang terjadi, bila pintu-pintu gereja ditutup,
karena kita tidak membuka pintu hati kita

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi mengasihi kita dan memelihara kita,
karena kita tidak mau mengasihi dan mempedulikan orang lain

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mendengar kita hari ini,
karena kita tidak mau mendengar-Nya kemarin

Apa yang terjadi, bila TUHAN menjawab doa-doa kita
dengan cara yang sama kita menjawab panggilan-Nya dalam pelayanan

Apa yang terjadi, bila TUHAN memenuhi kebutuhan kita
dengan cara yang sama kita memberikan hidup kita kepada-Nya?

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak peduli lagi?

KKR dan Seminar Bandung 2009

…Doakan dan Hadirilah…


Kebaktian Kebangunan Rohani
dan
Seminar Bandung 2009

oleh:
Pdt. DR. STEPHEN TONG


29-31 Oktober 2009:
KKR Umum: 29-31 Oktober 2009; Pkl. 18.00
KKR Siswa: 30 Oktober 2009; Pkl. 14.00
Seminar Aktivis: 31 Oktober 2009; Pkl. 09.30
KKR Mandarin: 31 Oktober 2009; Pkl. 15.30

di Aula SABUGA,
Institut Teknologi Bandung (ITB)


Sekretariat:
Paskal Hyper Square C-35, Bandung
Telp.: (022) 70071880


"Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." - 1Kor. 7:22

Anak Yang Hilang

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orang tuanya sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan dalam hati.

“Saya benci Ayah!”, teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri. Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Pada hari kedua ia di sana, ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling besar yang pernah dilihatnya. Pria itu menawarkan untuk mengantarnya, membelikan makan siang, dan mengatur agar ia punya tempat tinggal. Ia memberi gadis ini beberapa pil yang membuatnya belum pernah merasa seenak ini. Ternyata selama ini ia memang benar, pikir gadis itu: orangtuanya melarangnya menikmati segala kesenangan.

Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun. Orang bermobil besar itu, ia memanggilnya BOS, mengajarinya beberapa hal yang disukai pria. Karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuknya. Ia tinggal di apartemen mewah, dan bisa memesan layanan kamar kapan saja. Sesekali ia teringat pada orang-orang di kampung halamannya, tapi hidup mereka sekarang tampak sangat membosankan dan kampungan sampai ia hampir tidak percaya ia tumbuh besar di sana. Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di belakang kemasan susu dengan judul besar, “Apakah Anda pernah melihat anak ini?”.

Tapi sekarang rambutnya sudah pirang, dan dengan semua riasan wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka ia masih anak-anak. Lagipula, kebanyakan temannya adalah remaja yang melarikan diri, dan tidak ada yang berkhianat di Detroit. Setelah setahun, tanda-tanda samar penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepat bosnya menjadi kejam.

“Jaman sekarang kita tidak bisa main-main,” geramnya, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan "pekerjaannya" beberapa kali semalam, tapi bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya. Ketika musim dingin tiba, ia menemukan dirinya tidur di pagar logam di depan pusat pertokoan. "Tidur" adalah kata yang salah, gadis remaja ditengah kota Detroit malam hari tidak pernah bisa mengendorkan kewaspadaannya. Lingkar hitam mengelilingi matanya. Batuknya bertambah parah.

Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki, tiba-tiaba seluruh kehidupannya tampak berbeda. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Ia juga perlu obat terlarang. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran surat kabar yang ditumpuk di atas mantelnya.

Sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya: bulan Mei di Traverse City, ketika jutaan pohon ceri berbuah bersamaan, ia berlarian bersama anjing golden retriever miliknya. Mengejar bola tenis di antara barisan pohon berbunga. Tuhan, mengapa aku pergi, katanya dalam hati, dan rasa perih menghunjam jantungnya. Anjingku saja di rumah makan lebih enak daripada aku sekarang. Ia menangis, dan dalam sekejap ia tahu tidak ada yag lebih ia inginkan di dunia kecuali pulang. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin panjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tapi ketiga kalinya ia berkata, “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada”.

Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam dengan bis dari Detroit ke Traverse City, dan sepanjang jalan ia menyadari cacat-cacat dalam rencananya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang keluar kota dan melewatkan pesan itu? Bukankah seharusnya ia menunggu satu dua hari sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin mereka sudah lama menganggapnya mati. Seharusnya ia memberi waktu agar mereka bisa mengatasi rasa kagetnya. Pikirannya bolak-balik antara rasa khawatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya.

“Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bukan salah Ayah, semuanya salahku. Ayah, bisakah Ayah memaafkan aku?”

Ia mengucapkan pikiran itu berulang-ulang dalam hati, kerongkongannya tercekat bahkan ketika melatihnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapapun. Bis melaju dengan lampu menyala sejak Bay City. Butiran kecil salju yang berjatuhan di trotoar terlindas ribuan ban, dan aspal beruap. Ia lupa segelap apa malam hari disini. Seekor rusa berlari menyeberang jalan dan bis menghindarinya. Sesekali, ada billboard. Tanda yang menunjukkan jaraknya ke Traverse City. Ya, Tuhan. Ketika bis akhirnya berbelok ke stasiun, rem udaranya mendesis memprotes, pengemudi mengumumkan dengan suara serak lewat mikrofon.

“Lima belas menit, saudara-saudara. Kita hanya berhenti selama itu di sini.”

Lima belas menit untuk memutuskan hidupnya. Ia memeriksa dirinya di cermin lipat, merapikan rambutnya, dan menjilat lipstik dari giginya. Ia melihat noda tembakau di ujung-ujung jarinya dan berpikir apakah orangtuanya akan melihatnya. Kalau mereka datang. Ia berjalan ke dalam terminal. Tidak tahu harus mengharapkan apa. Tidak satu pun dari adegan yang ia siapakan di pikirannya  bisa mempersiapkannya untuk apa yang dilihatnya. Di sana, di atas kursi-kursi plastik terminal bis Traverse City, Michigan, berdiri sekitar empat puluh saudara, paman, bibi, sepupu, nenek, nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas pesta dan gulungan kertas yang bisa ditiup, dan di dinding terminal ditempel spanduk yang dibuat dengan komputer bertuliskan, “Selamat pulang kembali!”

Di tengah kerumunan penyambut, muncul ayahnya. Ia memandang dengan mata perih dengan air mata sepanas air raksa, dan memulai sapaan yang sudah dihafalkan, “Yah, aku minta maaf. Aku tahu....”

Ayahnya memotong. “Sst, Nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Tidak punya waktu untuk permintaan maaf. Kau akan terlambat ke pesta. Sebuah jamuan menunggumu di rumah.”

04 October 2009

Humor : Adu Teknologi

Para ahli sejarah meneliti kemajuan teknologi di masa lalu. Objeknya, tiga negara besar yakni, Inggris, Amerika, dan Indonesia.

Di Inggris, pada kedalaman 200 meter ditemukan tembaga. Para ahli berpendapat di Inggris 200 tahun lalu sudah menggunakan kawat tembaga untuk berkomunikasi. (Wuih hebat.., red)

Di Amerika, ditemukan kaca pada kedalaman 300 meter. Lantas, para ahli-pun mengambil kesimpulan.

"Berarti 300 tahun lalu, di Negeri Paman Sam sudah menggunakan fiber optic (serat kaca) untuk berkomunikasi," ujar salah satu peneliti, sambil manggut-manggut.

Nah, sekarang giliran Indonesia. Setelah lelah menggali, para ahli tidak menemukan apapun untuk diteliti.

Para peneliti terus menggali hingga kedalaman 1.000 meter. Hasilnya, tetap nihil. Akhirnya, para ahli menarik kesimpulan. 

Ternyata, Indonesia waktu itu lebih canggih dibandingkan negara manapun. Karena 1.000 tahun yang lalu, Indonesia sudah menggunakan teknologi Wireless. (Iyalah, dari zaman dulu keris sudah bisa diterbangkan dari jarak jauh, red)